• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM UNIT SYARIAH PT. ASURANSI

C. Produk Asuransi

Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 mempunyai berbagai macam produk asuransi, diantaranya produk korporasi, produk khusus dan produk perorangan. Penulis memfokuskan pada produk perorangan yang salah satu dari produk tersebut adalah RumahKoe Syariah. Produk tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 3.1

Produk RumahKoe Syariah

Jaminan

Rumah Koe

Idaman Asri

Kerugian sesuai Polis Standar Asuransi

Kebakaran indinesia (PSAKI) Dijamin Dijamin

Plus

1 Risiko Kerusuhan (4.1A) Dijamin Dijamin 2 Santunan Sewa Rp 1,5 s/d

Rp 8,5 Juta

Rp 1,5 s/d Rp 8,5 Juta 3 Santunan Kecurian Akibat

Kebongkaran

Rp 500 rb s/d Rp 8 Juta

Rp 750 rb s/d Rp 8,5 Juta 4 Santunan Meninggal Dunia untuk

Pesera* karena Terbakar saat Rumahnya Mengalami Kebakaran

5 Santuan Meninggal Dunia bagi Satu Orang Pembantu Rumah Tangga karena Terbakar saat Rumah Peserta yang diasuransikan Mengalami Kebakaran

Rp 5 Juta Rp 5 juta

6 Santunan Banjir (Ketinggian Air >30cm)

Rp 500 rb s/d Rp 1,5 Juta

Rp 750 rb s/d Rp 1,5 Juta 7 Biaya Pembersihan Puing-puing

akibat Kebakaran Rp 2,5 Juta Rp 2,5 Juta 8 Tanggung Jawab Hukum terhadap

Pihak Ketiga (TJH) akibat Kebakaran

Rp 2,5 Juta Rp 2,5 Juta

9 Biaya Administrasi Gratis Gratis

10 Periode jaminan Standar

1 (satu) Tahun

Standar 1 (satu) Tahun 11 Insentif Surplus Dana Peserta Sesuai Ketentuan Sesuai Ketentuan

Risiko Sendiri

1 Risiko Sendiri akibat Kerugian sesuai

PSAKI Niil Niil

2 Risiko Sendiri akibat Kerusuhan 4.1 A (RSMD) 15% of Claim Min Rp 10 Juta 15 % of Claim Min Rp 10 Juta

Sumber: Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 Dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Bangunan bersifat permanen, dinding beton/tembok dan atas genteng/asbes. 2. Bangunan hanya digunakan untuk tempat tinggal (tidak ada usaha lain)

dengan kanan, kiri, belakang adalah rumah tinggal permanen seperti point 1 (satu).

3. Untuk penggantian kerugian yang disebabkan karena risiko banjir harus disertai dengan surat keterangan dari Kelurahan setempat.

48

4. Depan rumah terdapat jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat/kendaraan pemadam kebakaran.

5. Pada saat diasuransikan, pemilik/pengguna rumah tinggal belum memiliki polis kebakaran atas rumah tinggal yang akan diasuransikan.

6. Untuk bangunan tingkat, maka luas bangunan merupakan jumlah dari luas bangunan masing-masing lantai.

7. Nilai santunan yang diberikan pada table diatas point 3 sampai dengan point 7 merupakan nilai maksimal yang diterima nasabah selama satu tahun periode asuransi.

8. Periode dimungkinkan lebih dari satu tahun dengan persetujuan Kantor Pusat cq Bagian Syariah.

Pada point (a) dan point (b), termasuk dalam physical hazard karena berhubungan dengan aspek phisik atau aspek yang nyata dari subject matter of

insurance dan sesuai dengan konstruksi kelas 1. Jika bangunan tersebut

digunakan sebagi tempat usaha, maka premi yang akan nasabah keluarkan akan semakin besar dari premi yang telah ditetapkan. Ketentuan ini juga berlaku untuk jarak pemisah dengan obyek lain sesuai dengan faktor-faktor underwriting yang terdiri dari: Risiko berdampingan, risiko berbatasan, dan risiko dalam satu kompleks.

Pada point (c) dan point (e), termasuk dalam moral hazard yaitu suatu keadaan yang menambah kemungkinan terjadinya peril (kerugian) yang menyangkut diri seseorang yang mengandung unsur subyektif. Untuk penggantian

kerugian yang disebabkan oleh risiko banjir yang harus disertai dengan surat keterangan dari kelurahan setempat, hal ini disebabkan agar perusahaan yakin bahwa bangunan yang telah nasabah asuransikan benar-benar terkena banjir. Dan pada saat diasuransikan, pemilik/pengguna rumah tinggal belum memiliki polis kebakaran atas rumah tinggal, karena jika nasabah sudah mempunyai polis kebakaran atas rumah tinggal pada perusahaan lain maka nasabah tidak boleh mengasuransikan kembali rumah tinggalnya dan ini tertera pada prinsip-prinsip asuransi syariah.

Pada point (d), merupakan salah satu cara untuk memudahkan nasabah dalam menanggulangi kebakaran agar risiko kebakaran lebih ringan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Pada point (f), sudah jelas bahwa luas bangunan dihitung berdasakan lantai yaitu bukan berdasarkan berapa buah lantai yang berada didalam setiap lantai.

Pada point (g), bahwa premi yang akan diterima nasabah merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan. Pada point (h), apabila telah jatuh tempo (masa perjanjian dalam kontrak telah habis) maka nasabah boleh memperpanjang masa kontraknya.

Penulis menganalisa bahwa manfaat/benefit yang diberikan calon peserta oleh Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967, cukup menarik. Sehingga banyak diminati oleh masyarakat yang membutuhkan, karena pada umumnya masyarakat hanya mengetahui bahwa asuransi kebakaran hanya menjamin sebagian risiko yang terdapat pada PSAKI. Tetapi dalam produk ini

50

risiko-risiko yang dijamin sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan kebanyakan masyarakat ingin mendapatkan manfaat yang besar.

D. Dukungan Reasuransi dan Mitra Asuransi

Didukung oleh beberapa Perusahaan Reasuransi dalam negeri meliputi: 1. Reasuransi Internasional Indonesia (Reindo) Syariah.

2. Reasuransi Nasional Indonesia (Nesre) Syariah. 3. Maskapai Reasuransi Indonesia (Marein) Syariah.

51

A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produk Asuransi Kebakaran Syariah

Faktor-faktor underwriting pada asuransi kebakaran syariah yang terdapat pada Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 adalah:

1. Kelas konstruksi dan okupasi objek

Tabel 4.2

No. Konstruksi Penjelasan

1. Kelas I Bangunan dengan dinding, lantai, dan semua komponen penunjang strukturnya serta penutup atap seluruhnya dari bahan-bahan yang tidak dapat terbakar.

2.

Kelas II

Bangunan yang kriterianya seperti disebutkan dalam konstruksi kelas I tetapi dengan kelonggaran-kelonggaran sebagai berikut:

a. Penutup atap terbuat dari sirap kayu keras.

b. Dinding-dinding mengandung bahan-bahan yang dapat terbakar sampai maksimum 20% dari luas dinding.

c. Lantai dan struktur penunjangnya terbuat dari kayu. 3. Kelas III Semua bangunan-bangunan lainnya.

Sumber: PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 Catatan:

a. Bangunan yang termasuk konstruksi kelas I tetapi tanpa dinding dianggap termasuk bangunan konstruksi kelas II.

b. Bangunan konstruksi kelas II tanpa dinding termasuk bangunan konstruksi kelas III.

52

Setiap jenis okupasi (penggunaan) dari obyek pertanggungan juga menentukan besarnya suku premi yang dapat di kelompokkan menjadi:1

a. Risiko-risiko industri, seperti pabrik baja, pabrik semen, pabrik tekstil, dan lain-lain.

b. Risiko-risiko non industri, seperti rumah tinggal, gudang, hotel, dan lain-lain.

c. Risiko-risiko perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit, cokelat, dan karet.

2. Jarak Pemisah dengan obyek lain

Jarak obyek pertanggungan dengan obyek lain akan mempengaruhi besarnya suku premi yang akan dikenakan atas obyek pertanggungan tersebut. Dalam hal ini terdapat 3 kategori risiko dilihat dari jarak obyek pertanggungan dengan obyek lain, yaitu:2

a. Risiko Berdampingan (Adjacent Risks)

Yaitu dua risiko/bangunan atau lebih yang saling berdekatan atau berdampingan dan mempunyai atap masing-masing, dengan dipisahkan oleh jarak (bangunan-bangunan tersebut tidak saling menempel/menyatu).

b. Risiko Berbatasan (Adjoining Risks)

Yaitu dua risiko/bangunan atau lebih yang saling berbatasan dengan dibatasi oleh dinding pemisah/pembatas (separation wall) tunggal atau ganda dan

1

Ibid, h.7. 2

berada dibawah satu atap yang merupakan satu kesatuan atau dibawah atap masing-masing dimana pengenaan tarif adalah menggunakan tarif risiko teringgi.

c. Risiko dalam Satu Kompleks (Compound Risks)

Untuk jenis risiko yang menempati lebih dari satu bangunan dalam satu kompleks (compound) dibawah satu pengelola berlaku suku premi jenis risiko (okupasi utama) tersebut, bila banguan dimaksud dipisahkan oleh jarak sekurang-kurangnya 7,5 (tujuh koma lima) meter dari okupasi utama, maka untuk bangunan-bangunan itu boleh digunakan suku premi masing-masing. 3. Jumlah Barang Berbahaya Api yang Disimpan dalam Bangunan3

Jumlah barang berbahaya api yang disimpan dalam bangunan akan mempengaruhi suku premi. Atas obyek-obyek berbahaya api ini harus dilekatkan Klausula Kewajiban Tertanggung (warranty) A, B, atau C. Dalam tiap-tiap warranty ini, jumlah barang-barang berbahaya api dalam bangunan dibatasi sampai jumlah tertentu.

4. Jangka Waktu Pertanggungan

a. Jangka waktu pertanggungan maksimal 1 (satu) tahun.

b. Untuk pertanggungan jangka pendek dikenakan premi short period. c. Pertanggungan lebih dari 1 (satu) tahun harus izin kantor pusat.

3

54

5. Harga Pertanggungan

a. Harga pertanggngan pada dasarnya merupakan batasan maksimum tanggung jawab penanggung apabila terjadi kerugian. Harga pertanggungan yang tercantum pada polis sebaiknya mendekati harga sebenarnya/nilai wajar dari obyek yang dipertanggungkan untuk menghindari pertanggungan under

insured maupun over insured.

b. Standar harga pertanggungan yang dipakai dapat mengacu pada harga harga yang dikeluarkan oleh pemerintah dan disesuaikan dengan kondisi bangunan yang dipertanggungkan.

c. Harga pertanggungan untuk barang-barang (inventory) dapat mengacu pada harga pasar/nilai perolehan.

Secara umum yang menjadi faktor-faktor penilaian Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 diatas tidak jauh berbeda dengan teori yang ada, namun pada teori yang ada konstruksi bangunan kelas S, dan kelas I yang penjelasannya bisa dilihat pada bab II bangunannya tahan api selama beberapa menit. Pada Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 sudah disesuaikan dengan kebijakan aktuaria dalam proses pembuatan premi pada perusahaan tersebut.

Faktor konstruksi kelas I yang sudah dijelaskan diatas pada tabel IV.2, bahwa hal ini disebabkan karena konstrukasi kelas 1 merupakan konstruksi yang ditujukan untuk bangunan-bangunan permanen yang memiliki nilai risiko akan terjadinya kebakaran lebih rendah dibandingkan dengan konstruksi kelas ke II, adapun faktor-faktor untuk konstruksi kelas II yang sudah dijelaskan pada tabel IV.2, yaitu faktor-faktor

konstruksi kelas II memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan dengan konstruksi kelas I. Hal ini disebabkan karena atap yang digunakan berupa kayu yang apabila terjadi kebakaran dapat terbakar habis sehingga membuat perusahaan asuransi harus membayar lebih untuk kerugian yang ditanggung oleh calon peserta. Hal lain yang dapat mempengaruhi yaitu jarak pemisah dengan obyek lain. Jarak pemisah dengan obyek lain harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku pada ketentuan perusahaan. Seorang underwriter harus benar-benar teliti dalam menganalisis risiko tersebut karena hal ini sangat berpengaruh terhadap uang pertanggungan yang akan dikeluarkan oleh perusahaan, serta premi yang harus dibayarkan oleh calon peserta, jumlah barang berbahaya api yang disimpan dalam bangunan juga merupakan salah satu faktor yang ditetapkan oleh perusahaan, karena barang-barang berbahaya api dapat mempercepat terjadinya kebakaran. Faktor lain tidak kalah penting seperti jangka waktu dan harga pertanggungan. Berdasarkan penilaian terhadap faktor-faktor tersebut, Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 dapat menentukan jumlah premi dan uang pertanggunan yang harus dibayarkan oleh calon peserta, selain itu juga Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 dapat meminimalisir risiko yang akan dihadapi karena penilaian risiko dilakukan secara ketat.

Ketentuan underwriter dalam menyeleksi sebuah risiko sangatlah diperlukan, karena akan berakibat fatal pada premi yang akan dihasilkan serta uang pertanggungan yang dikeluarkan.

Perusahaan akan kesulitan mendapatkan calon peserta baru, apabila para calon peserta banyak yang tidak memenuhi semua aspek penilaian dalam hal ini,

56

perusahaan harus lebih bijak dalam menentukan faktor menerima atau menolak calon peserta agar Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 dapat menarik nasbah sebanyak-banyaknya. Ketertarikan masyarakat terhadap asuransi tidak hanya sebatas pada iklan, promosi ataupun bujukan dari para agen asuransi, tetapi kemudahan dalam memenuhi syarat-syarat dibutuhkan juga menjadi salah satu faktor penentu. Banyak masyarakat yang ingin menjadi peserta asuransi tetapi mereka tidak dapat diterima karena syarat-syarat dari faktor-faktor yang ditetapkan oleh perusahaan sulit untuk dipenuhi.

Underwriter harus selalu update informasi dan pendidikan tentang

faktor-faktor dan pentingnya underwriting. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses seleksi risiko, kalau seorang underwriter tidak mempunyai pengetahuan yang luas tentang underwriting, dan perkembangan yang terjadi dimasyarakat. Misalnya, banyak tabung gas yang bocor dan mengakibatkan rumah, restaurant, hotel dan lain sebagainya terbakar. Maka dengan underwriter mengetahui hal tersebut, seorang

underwriter sudah bisa memastikan atau menerka-nerka faktor-faktor apa saja yang

bisa dijadikan tolak ukur untuk menyeleksi risiko dengan kejadian seperti itu dan berapa uang pertanggungan yang dikeluarkan oleh calon nasabah. Dengan begitu Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967, bisa mendapatkan keuntungan yang sesuai.

B. Proses Underwriting dalam Penyeleksian Risiko pada Produk Asuransi Kebakaran Syariah

Dalam dunia bisnis, terutama pada perusahaan yang bergerak dalam bidang asuransi konvensional maupun asuransi syariah memiliki sebuah divisi

underwriting yang merupakan bagian yang sangat berperan penting dalam

menentukan diterima atau tidaknya sebuah risiko asuransi. Tanpa underwriting

yang efisien, baik perusahaan asuransi konvensional maupun asuransi syariah tidak akan mampu bersaing. Proses underwriting yang ditetapkan oleh Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 adalah sebagai berikut:

a. Proses Umum

Yaitu proses secara umum dimana proses akseptasi dapat berjalan lancar tanpa menemui kendala atau memerlukan proses tambahan hingga polis diterbitkan.

Gambar IV.1 Alur Proses Underwriting

58

1) Alur proses dimulai melalui agen/ unit pemasaran dalam mendapatkan prospek / calon peserta dengan menjelaskan Term of Condition (T/C), pengecualian, deductible, serta penggunaan objek pertanggungan secara syariah.

2) Order asuransi dapat berasal dari penawaran langsung ke calon peserta,

surat, telepon, atau faksimili untuk kemudian agen/unit pemasaran

menerima calon peserta dan mengarahkannya mengisi SPPA (From Renual untuk perpanjangan polis atau From Endorsment untuk perubahan polis) kebakaran syariah dengan huruf cetak, lengkap, dan benar serta ditandatangani. Kemudian meminta dokumen pendukung, antara lain: a. Copy Surat Bukti Kepemilikan Bangunan

b. Copy KTP

c. Copy Fisik Bangunan

3) Underwriting memeriksa kembali SPPA yang telah diisi oleh calon peserta, seperti:

a. Bagian-bagian yang harus diisi oleh calon peserta, seperti: peserta (alamat polis), nomor telepon peserta (rumah/kantor/hp), dan cara pembayaran.

b. Kelengkapan dokumen pendukung yang harus dilampirkan. c. Apakah data sudah sesuai dengan dokumen yang dilampirkan. d. Kode dan nama agen/unit pemasaran.

ketentuan syariah.

4) SPPA kebakaran syariah dapat diproses lebih lanjut bila dokumen yang tersebut diatas sudah lengkap dan memenuhi ketentuan syariah, bila tidak maka langkah kerja berikutnya menuju ke (point 3.a) atau proses perbaikan atau penolakan SPPA.

5) Untuk dokumen yang sudah lengkap, underwriter menganalisa risiko atas pertanggungan yang tertera di SPPA berdasarkan Pedoman Underwriting

Cabang Syariah (PUCS), dengan memperhatikan:

a. Data dari objek Pertanggungan

b. Penggunaan dan jangka waktu pertanggungan c. Harga/nilai pertanggungan

d. Lokasi pertanggungan

e. Apakah objek sudah diasuransikan ditempat lain?

f. Apakah penggunaan objek sudah sesuai dengan rule syariah? Bila ada hal-hal yang meragukan maka underwriting menyiapkan proposal ke Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk dianalisa lebih lanjut.

6) Underwriter menilai akseptasi dari hasil analisa, bila lengkap prasyarat

awal maka diteruskan ke proses berikutnya dan bila tidak maka langkah kerja berikutnya menuju ke (A) proses perbaikan/penolakan akseptasi. Apabila Kantor Cabang/Perwakilan mendapatkan penutupan/akseptasi diluar wilayah pemasarannya maka harus ditanyakan dulu ke Kantor

60

Cabang/Perwakilan lainnya yang berada diwilayah pemasarannya mengenai kemungkinan akumulasi penutupan dalam satu wilayah, maka Kantor Cabang/Perwakilan harus mengajukan ke Kantor Pusat. Dan setiap ada akumulasi risiko, Kantor Cabang harus menuliskan hal tersebut dilaporan bulanan pada item keterangan dengan menyebutkan nomor polis dan total akumulasi.

7)Mengacu pada PUCS, apakah diperlukan survey pada objek pertanggungan? Bila diperlukan, maka underwriter membuat surat permintaan survey kemudian didistribusikan ke surveyor.

8) Bila tidak diperlukan survey, mengacu ke PUCS underwriter menganalisa apakah nilai objek Pertanggungan termasuk limit cabang? Jika tidak, langkah kerja berikutnya ke (C) atau proses persetujuan Kantor Pusat. 9) Kepala Cabang menganalisa risiko apakah layak untuk diaksep atau

tidak? Sehingga dapat dihasilkan kesimpulan akseptasi yang berupa: a. Ditolak, bila T/C dan rate menyimpang terlalu jauh serta risiko yang

terlalu besar. Maka langkah kerja berikutnya ke (A) atau proses Perbaiakan/ Penolakan. Risiko yang biasanya tidak diaksep adalah: 1. Premi jauh dari standar kebijakan.

2. Rate terlalu rendah (tidak sebanding dengan tingkat risiko). 3. Bila perpanjangan dengan L/R tertinggi.

b. Diterima dengan pertimbangan, bila T/C dan rate kompetitif serta akomodatif bisnis. Dalam hal ini untuk proses penutupannya harus sudah mendapat izin dari Kantor Pusat. Apabila Kantor Pusat

menolak izin dari Cabang/Perwakilan maka Cabang berhak mengajukan banding yang disertai analisa yang menguatkan atau analisa harus akurat (misal; akomodatif bisnis, L/R, tingakat risiko, estimasi surplus, dan sebagainya).

10) Diterima, bila T/C dan rate standar. Selanjutnya untuk proses penerbitan polis dapat langsung dilakukan oleh Kantor Cabang/Perwakilan, bila harga pertanggungan tidak melebihi limit Cabang. Setelah itu, Kepala Cabang/Perwakilan atau Kasie Teknik menandatangani persetujuan akseptasi tersebut.

11)Bila diaksep, selanjutnya underwriter mencetak polis. Pencetakan polis harus dengan program komputer dan ditandatangani sesuai dengan limit atau kewenangan . Selain itu, dicetak juga Debit dan Credit Note secara Kwitansi Polis. Setelah polis dicetak, diteliti kembali oleh Kasie Teknik dan dilekatkan klausula-klausula yang dibutuhkan dan tambahan klausula oleh Kasie Teknik. Kemudian polis diterbitkan setelah adanya persetujuan otorisasi dengan mencantumkan klausula dan kondisi polis (sesuai dengan PUCS yang berlaku). Untuk peralatan non standar yang dipertanggungkan harus ditulis secara tegas dan terinci. Polis yang telah dicetak diregister dan didistribusikan oleh bagian teknik kepada bagian pemasaran dengan bukti tanda terima. Setiap polis dan kwitansi yang diterbitkan harus mengandung data yang benar dan sama antara lain:

1. Polis dan kwitansi yang asli. 2. Polis dan kwitansi tembusan/copy.

62

Apabila terjadi perubahan T/C polis, maka wajib untuk dilakukan

endorsement, kecuali berkas polis belum beredar dilakukan dengan

mengganti polis baru dan untuk polis yang lama dinyatakan rusak.

12) Polis yang telah dicetak didistribusikan oleh bagian teknik kepada bagian untuk diserahkan kepada peserta dengan bukti tanda terima. Nota Debit

diberikan ke bagian keuangan Cabang secara harian. Copy polis warna kuning diserahkan kebagian keuangan dan umum, sedangkan warna merah untuk file teknik.

13) Rangkaian proses akseptasi asuransi kebakaran selesai setelah peserta menerima polis.

b. Proses Survey

Yaitu proses meganalisa obyek pertanggungan dilapangan untuk mengkroscek data obyek pertanggungan di SPPA kebakaran syariah yang bertujuan menggali informasi tentang moral hazard dan insurable interest

calon peserta.

14)Underwriter berdasarkan analisa terhadap risiko yang akan

dipertimbangkan lebih lanjut membuat surat permintaan survey dan didistribusikan ke surveyor.

15)Surveyor membuat jadwal survey dan dikonfirmasikan dengan calon peseta, mempersiapkan tim dan peralatan survey.

16)Tim survey melakukan proses survey dengan membawa SPPA kebakaran syariah, form survey dan kamera.

memuat informasi: a. Analisa Risiko. b. Kelayakan Risiko. c. Foto survey bertanggal.

d. Informasi lain tentang moral hazard dan insurable calon peserta. e. Apakah penggunaan objek sudah ketentuan syariah.

f. Informasi lain yang dianggap perlu.

Kemudian laporan hasil survey didistribusikan ke bagian underwriting

untuk proses akseptasi (kembali ke point i).

c. Proses Perbaikan/Penolakan

Yaitu proses dimana calon peserta harus memperbaiki atau melengkapi informasi tambahan atau dokumen lain yang harus dilampirkan. Ataupun sebagai proses penolakan akseptasi SPPA kebakaran syariah karena tidak sesuai dengan pedoman underwriting Cabang syariah.

Gambar IV.2 Alur Proses Underwriting

64

18)Hasil analisa Cabang ataupun Kantor Pusat (bila sudah sampai ke Kantor Pusat) mengenai akseptasi SPPA kebakaran syariah calon peserta kurang/tidak memenuhi syarat.

19)Underwriter menilai, apakah permintaan akseptasi tersebut, masih bisa

diperbaiki? Bila ya, langkah kerja berikutnya ke (B) atau proses umum pada (point b), yaitu menginformasikan ke calon peserta untuk dapat memenuhi informasi atau kelengkapan dokumen yang dibutuhkan oleh pengelola sebagai prasyarat akseptasi.

20)Bila tidak bisa diperbaiki lagi karena tidak sesuai dengan pedoman

underwriting Cabang syariah, maka permintaan akseptasi ditolak, maka

underwriting membuat surat penolakan disertai dengan alasan penolakan

akseptasi. Kemudian mengirimkannya kepada calon peserta.

21)Calon peserta menerima surat penolakan beserta alasan penolakan akseptasi.

22)Proses akseptasi asuransi kebakaran syariah selesai diakhiri dengan surat penolakan akseptasi yang diterima oleh calon peserta.

d. Proses Persetujuan Kantor Pusat

Yaitu dimana limit akseptasi bukan merupakan limit Cabang atau tidak terakomodasi pada pedoman underwraiting Cabang syariah.

Gambar IV.3 Alur Proses Underwriting

Sumber: Unit Syariah PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967

23)Underwriter membuat pemintaan persetujuan ke Kantor Pusat secara

tertulis dan ditandatangani Kasie/Kacab, izin sebelumnya, data kompetitor, dan sebagainya beserta analisa Kasie Teknik, berdasarkan:

a. Cabang mendapatkan penutupan diluar wilayah pemasarannya. b. Risiko tidak termasuk limit cabang.

c. Bila Kantor Pusat menolak akseptasi, Cabang dapat mengajukan banding dengan disertai analisa yang menguatkan, seperti; akomodatif bisnis, L/R, dan lain-lain.

24)Dasar persetujuan akseptasi di Kantor Pusat adalah sebagai berikut:

a. Permohonan izin akseptasi dari Cabang yang dilengkapi analisa Cabang ditandatangani oleh Kasie/Kancab.

b. Data kelengkapan akseptasi (SPPA kebakaran syariah, izin sebelumnya, data kompetitor, dan sebagainya).

66

Kemudian staf underwriting di Kantor Pusat melakukan analisa awal terhadap kelengkapan berkas izin akseptasi dan kondisi permintaan tersebut apakah standar sesuai dengan kapasitas treatry atau tidak. Setelah itu, staf underwriting memberikan report dan analisa akseptasi tersebut meliputi:

a) Data permohonan Cabang yang menyimpang dari Pedoman

underwriting Cabang Syariah (PUCS) yang berlaku.

b) Kondisi standar untuk akseptasi tersebut.

c) Rekomendasi permintaan akseptasi disertai dengan analisa dan alasannya.

d) Rekomendasi tersebut dibuat dalam secarik kertas tanpa perlu diketik namun harus ditandatangani. Dalam hal rekomendasi ini tidak

Dokumen terkait