Bab II : Landasan Teori
PROFIL PT. BPR SYARIAH HARTA INSAN KARIMAH
D. Produk dan Jasa PT. BPRS Harta Insan Karimah
PT. BPR Syariah Harta Insan Karimah merupakan suatu jenis usaha Lembaga Perbankan Syariah denga sistem bagi hasil yang mempunyai beberapa produk, di antaranya:
36
1. Produk Penghimpunan Dana a. Tabungan Hikmah
Tabungan umum bagi perorangan yang tidak diasuransikan. b Tabungan Anak Sholeh
Tabungan khusus pelajar dan mahasiswa, memperoleh bagi hasil dan mendapatkan santunan asuransi syariah sebesar Rp. 1.000.000,- sekiranya pelajar / mahasiswa meninggal dunia karena kecelakaan.
c. Tabungan Karimah
Tabungan untuk perorangan , memperoleh bagi hasil dan mendapatkan santunan asuransi syariah sebesar Rp. 1.000.000,- jika penabung meninggal dunia karena kecelakaan.
d. Tabungan Lembaga Islam
tabungan khusus bagi perusahaan, yayasan, dan lembaga Islam lainnya. e. Tabungan Qurban
Tabungan yang dirancang bagi nasabah yang berkeinginan merencanakan ibadah qurban secara teratur setiap tahunnya. Pembelian hewan qurban dan penyalurannya dapat dipercayakan kepada Bank. f. Tabungan Haji
Tabungan yang dirancang khusus bagi nasabah yang berkeinginan merencanakan ibadah haji.
g. Deposito Hasanah
Dana yang disimpan oleh nasabah dan hanya dapat ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan (1 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan). Deposito hasanah juga memberikan perlindungan asuransi syariah (bebas premi) kepada nasabah sehingga jika nasabah meninggal dunia maka ahli waris nasabah deposito yang ditempatkan samapi jumlah maksimal pertanggungan Rp. 50.000.000.
h. Deposito Mudharabah
Dana yang disimpan oleh nasabah dan hanya dapat ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan (1 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan). Deposito mudharabah ini untuk perorangan dan lembaga Islam, perusahaan, yayasan, koperasi dan tidak diasuransikan.
2. Produk Penyaluran Dana (Pembiayaan) a Murabahah
Akad jual beli suatu barang di mana bank (penjual) menyebutkan harga jual yang terdiri dari harga pokok barang dan tingkat keuntungan tertentu atas barang tersebut yang disetujui oleh nasabah (pembeli). Murabahah sangat berguna bagi nasabah yang membutuhkan barang secara mendesak tetapi kekurangan dana pada saat nasabah kekurangan likuiditas, maka nasabah meminta kepada bank agar membiayai pembelian barang tersebut dan nasabah membayarnya secara angsuran.
Tabel 3.1
Pembiayaan Murabahah yang disalurkan Pada Tahun 2005 Pembiayaan Bermasalah No Jenis Pembiayaan Jumlah Pembiayaan yang disalurkan (Ribuan Rp) Pos-pos Ribuan (Rp) % 1 Murabahah 25.354.012 Lancar 24.614.012 97.1 Non Lancar 740.000 2.9 - Kurang Lancar 415.216 1.6 - Diragukan 258.497 1.0 - Macet 66.287 0.3
Sumber: Laporan Keuangan PT. BPRS Harta Insan Karimah Tahun 2005
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah produk pembiayaan murabahah pada tahun 2005 jumlah pembiayaan yang dikategorikan lancar sebesar Rp.24.614.012.000 (97.1%) sedangkan yang dikategorikan non lancar sebesar Rp.740.000.000 (2.9%), namun yang dikategarikan non lancar terbagi tiga kategori yaitu kurang lancar sebesar Rp.415.216.000 (1.6%), diragukan sebesar Rp..258.497.000 (1.0%), dan macet sebesar Rp.66.287.000 (0.3%), dengan begitu dapat dilihat ternyata tingkat pembiayaan yang bermasalah pada skim murabahah ini sangat kecil, namun harus ditingkatkan lagi.
b. Istishna’
Kontrak penjualan antara nasabah (mustashni’) dengan bank (shani’), dalam kontrak ini bank menerima pesanan dari nasabah dan bank berusaha melalui pihak lain untuk membuat atau membeli pokok
kontrak (mashnu’) menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada nasabah, kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran.
Istishna’ biasanya diaplikasikan pada pembiayaan kontruksi di mana bank menerima pesanan dari nasabah untuk membangun suatu bangunan dan bank menyerahkan kepada kontraktor untuk membangunnya, bank membayar untuk kontruksi itu kemudian menjual bangunan tersebut kepada nasabah.
Pada produk pembiayaan istishna jumlah pembiayaan yang disalurkan adalah sebesar Rp.3.502.000 yang dikategarikan lancar, karena pada produk pembiayaan ini tidak terdapat pembiayaan yang bermasalah. c. Musyarakah
Perjanjian kerjasama usaha antara bank dan nasabah di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atas usaha tersebut dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan.
Musyarakah sangat tepat bagi nasabah yang kekurangan dana untuk penyelesaian suatu proyek/usaha di mana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek/usaha tersebut. Setelah proyek/usaha selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati kepada bank.
Tabel 3.2
Pembiayaan Musyarakah yang disalurkan Pada Tahun 2005 Pembiayaan Bermasalah No Jenis Pembiayaan Jumlah Pembiayaan yang disalurkan (Ribuan Rp) Pos-pos Ribuan (Rp) % 1 Musyarakah 6.851.045 Lancar 6.731.040 98.3 Non Lancar 120.005 1.7 - Kurang Lancar 80.295 1.1 - Diragukan 24.668 0.4 - Macet 15.039 0.2
Sumber: Laporan Keuangan PT. BPRS Harta Insan Karimah Tahun 2005
Berdasarkan tabel di atas, bahwa jumlah produk pembiayaan musyarakah pada tahun 2005 yang dikategorikan lancar sebesar Rp.6.731.040.000 (98.3%) sedangkan yang dikategorikan non lancar sebesar Rp.120.005..000 (1.7%), itu pun yang dikategorikan non lancar terbagi ke dalam tiga bagian yaitu kurang lancar sebesar Rp.80.295.000 (1.1%), diragukan sebesar Rp.24.668.000 (0.4%), dan macet sebesar Rp.15.039.000 (0.2%), ternyata tingkat pembiayaan musyarakah yang bermasalah sangat kecill. Itu pun faktor yang menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah pada pembiayaan ini karena adanya keterlambatan nasabah dalam menyelesaikan pekerjaan proyek/usaha yang sudah diberikan, atau keterlambatan pembayaran dari pihak ketiga yaitu orang yang memberikan proyek/usaha terhadap nasabah.
d. Mudharabah
Perjanjian kerjasama usaha antara bank (shahibul mal) dan nasabah (mudharib) di mana bank menyediakan modal (100%) sedangkan nasabah menjadi pengelola. Keuntungan usaha dibagi sesuai kesepakatan bersama berupa nisbah bagi hasil yang dituangka di dalam akad perjanjian. Apabila terjadi kerugian, maka kerugian itu ditanggung oleh bank selama bukan akibat kelalaian nasabah. Sedangkan jika kerugian tersebut akibat kelalaian nasabah, maka nasabah wajib menanggung kerugian tersebut. Mudharabah sangat tepat bagi nasabah yang membutuhkan modal kerja untuk pemgembangan usahanya.
Tabel 3.3
Pembiayaan Mudharabah yang disalurkan Pada Tahun 2005 Pembiayaan Bermasalah No Jenis Pembiayaan Jumlah Pembiayaan yang disalurkan (Ribuan Rp) Pos-pos Ribuan (Rp) % 1 Mudharabah 2.240.098 Lancar 1.965.077 87.7 Non Lancar 275.021 12.3 - Kurang Lancar 164.695 7.3 - Diragukan 85.413 3.8 - Macet 24.913 1.2
Sumber: Laporan Keuangan PT. BPRS Harta Insan Karimah Tahun 2005
Berdasarkan tabel di atas, bahwa jumlah produk pembiayaan mudharabah pada tahun 2005 yang dikategorikan lancar sebesar
Rp.1.965.077.000 (87.7%) sedangkan yang dikategorikan non lancar sebesar Rp.275.021..000 (12.3%), itu pun yang dikategorikan non lancar terbagi ke dalam tiga bagian yaitu kurang lancar sebesar Rp.164.695.000 (7.3%), diragukan sebesar Rp.85.413.000 (3.8%), dan macet sebesar Rp.24.913.000 (1.2%), ternyata pada pembiayaan mudharabah ini terdapat pembiayaan yang bermasalah dengan nilai presentase yang sangat besar dibandingkan dengan pembiayaan-pembiayaan yang lain.
e. Ijarah
Kontrak pemindahan hak guna atas barang/jasa melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Ijarah dapat digunakan bagi nasabah yang kekurangan dana untuk menyewa bangunan (misalnya ruko) yang harus dibayar secara tunai tanpa diangsur, lalu nasabah meminta bank untuk membayar sewa ruko secara tunai dan bank menyewakan kembali kepada nasabah ruko tersebut dengan cara diangsur.
Tabel 3.4
Pembiayaan Ijarah yang disalurkan Pada Tahun 2005 Pembiayaan Bermasalah No Jenis Pembiayaan Jumlah Pembiayaan yang disalurkan (Ribuan Rp) Pos-pos Ribuan (Rp) % 1 Ijarah 2.876.847 Lancar 2.872.747 99.85 Non Lancar 4.100 0.15 - Kurang Lancar 3.425 0.12 - Diragukan 675 0.03 - Macet -
-Sumber: Laporan Keuangan PT. BPRS Harta Insan Karimah Tahun 2005
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah produk pembiayaan ijarah pada tahun 2005 yang dikategorikan lancar sebesar Rp.2.872.747.000 (99.85%) sedangkan yang dikategorikan non lancar sebesar Rp.4.100..000 (0.15%), itu pun yang dikategorikan non lancar terbagi ke dalam tiga bagian yaitu kurang lancar sebesar Rp.3.425.000 (0.12%), diragukan sebesar Rp.675.000 (0.03%), dan yang dikategorikan macet ternyata tidak ada. Dengan begitu pada pembiayaan ijarah yang bermasalah ini sangat kecil sekali yaitu hanya 0.15% dibandingkan dengan pembiayaan-pembiayaan yang lain, oleh karena itu harus lebih ditingkatkan lagi.
• Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
Perpaduan antara sewa menyewa (ijarah) dan jual beli (hibah) di akhir masa sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan
pemindahan kepemilikan barang dari bank (pemilik barang) kepada nasabah (penyewa).
Ijarah Muntahiya Bit Tamlik dapat diaplikasikan bagi nasabah yang meembutuhkan barang (misalnya motor), bank terlebih dahulu membeli barang yang dibutuhkan nasabah dan kemudian bank menyewakan barang tersebut kepada nasabah dengan cara diangsur disertai janji penjualan/hibah di akhir periode angsuran (lunas) dari bank kepada nasabah sehingga barang itu menjadi milik nasabah. f. Rahn
Menahan suatu barang (misalnya emas) milik nasabah dengan baik (dengan cara yang dibenarkan) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya dari bank dan nasabah dapat menarik kembali barang tersebut. Barang yang ditahan harus memiliki nilai ekonomi sehingga bank memperoleh jaminan untuk dapat mengambil seluruh atau sebagian piutangnya.
Rahn secara sederhana disebut gadai, bedanya dengan pengadaian biasa adalah dalam rahn nasabah tidak dikenakan bunga tetapi melainkan hanya biaya penitipan, pemeliharaan, penjagaan, serta penaksiran yang pembayarannya dilakukan di muka.
Pada produk pembiayaan rahn ternyata para nasabah tidak terlalu berminat, ditambah produk ini pun tidak berjalan lancar karena pihak Bank sendiri merasa keberatan dengan banyaknya barang-barng untuk
disimpan dan untuk sementara produk pembiayaan ini di non aktifkan terlebih dahulu.
g. Qardh
Pemberian dana dari bank kepada nasabah yang dapat ditagih atau ditarik kembali. Dalam literatur fiqih, qardh dikategorikan dalam akad saling membantu dan bukan transaksi komersial.
Bagi bank, qardh dapat dijadikan sebagai produk pelengkap bagi nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya yang membutuhkan dana talangan segera untuk masa yang relatif pendek. Nasabah akan mengembalikan secepatnya dana tersebut.
Untuk produk dana qard ini PT. BPR Syariah Harta Insan Karimah cukup menaruh andil, sekalipun yang mendapatkan produk ini tidak terlalu banyak tetapi produk ini cukup meringankan beban nasabah, ketika nasabah sangat membutuhkan dana tersebut untuk keperluan konsumtif.
Dana qard juga banyak diberikan kepada orang yang tidak mampu, yang ingin membuka usaha tetapi dengan nominal yang tidak banyak, hanya berkisar dari nominal Rp. 2.000.000 - Rp. 20.000.000. Dengan adanya dana qard tersebut diharapkan orang yang tidak mampu dapat mengembangkan usahanya. Selain itu juga dana qard diberikan kepada staf dan karyawan PT. BPR Syariah Harta Insan Karimah, untuk
keperluan seperti, pernikahan, dana tambahan lebaran, dan lain-lainnya.37
Pada produk pembiayaan qard jumlah pembiayaan yang disalurkan adalah sebesar Rp. 76.509.000 yang dikategarikan lancar, karena pada produk pembiayaan ini tidak terdapat pembiayaan yang bermasalah. Dari produk-produk pembiayaan di PT. BPR Syariah Harta Insan Karimah seperti murabahah Rp.740.000.000 (2.9%), mudharabah Rp.275.021.000 (12.3%), musyarakah Rp.120.005.000 (1.7%), ijarah Rp.4.100.000 (0.15%), istishna, qard, dan rahn ternyata yang paling banyak mengalami pembiayaan bermasalah adalah jenis pembiayaan murabahah. Meskipun presentase dari skim pembiayaan mudharabah (12.3%) lebih besar dari skim pembiayaan murabahah (2.9%) namun secara professional dan secara nominal bahwa skim pembiayaan murabahah mendominasi seluruh total pembiayaan yang bermasalah. Hal ini membuat PT. BPR Syariah Harta Insan Karimah harus lebih berhati-hati (prudent) dalam menyalurkan pembiayaannya, dengan cara melakukan studi kelayakan yang komprehensif agar pembiayaan yang disalurkan tersebut tidak mengalami kemacetan.
37
BPRS Harta Insan Karimah, CompanyProfile, (Tangerang, BPRS Harta Insan Karimah, 2007), hal. 8.