• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produk Domestik Regional Bruto Sektor Lain 103

Dalam dokumen MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH (Halaman 103-0)

Produk domestik regional bruto sektor lainnya dalam penelitian ini meliputi, PDRB sektor bangunan, sektor pertangan, sektor listrik gas dan air, sektor transportasi dan komunikasi, sektor keuangan, dan sektor jasa-jasa.

Hasil pendugaan model persamaan produk domestik regional bruto sektor lainnya menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.9808. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel-variabel penjelas; penyerapan tenaga kerja non pertanian, investasi swasta, dana dekonsentrasi tugas pembantuan dan lainnya, inflasi, serta produk domestik regional bruto sektor lainnya tahun sebelumnya secara bersama-sama dapat menjelaskan 96.08 persen fluktuasi variabel produk domestik regional bruto sektor lainnya pada taraf nyata (α) 0.0001, ditunjukkan oleh F dengan nilai 289.82, dapat dilihat pada Tabel 19.

Hasil estimasi model juga menunjukkan bahwa variabel penyerapan tenaga kerja non

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

104

pertanian, dana dekonsentrasi tugas pembantuan dan lainnya, berpengaruh positif dan nyata serta sesuai harapan terhadap PDRB sektor lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila penyerapan tenaga kerja non pertanian, dan dana dekonsentrasi tugas pembantuan dan lainnya, meningkat maka PDRB sektor lainnya akan meningkat. Koefisien elastisitas jangka pendek penyerapan tenaga kerja non pertanian, investasi swasta, dan dana dekonsentrasi tugas pembantuan dan inflasi terhadap PDRB sektor lainnya, berturut-turut sebesar 0.2026, 0.0454, 0,0350, dan 0.0401 dalam jangka pendek, serta 1,5975, 0,3575, 0,2757, dan 0,3160 dalam jangka panjang. Berarti apabila penyerapan tenaga kerja non pertanian, investasi swasta, dana dekonsentrasi tugas pembantuan dan inflasi meningkat sebesar 100 persen, maka PDRB sektor lainnya meningkat masing-masing sebesar 20,26 persen, 4.54 persen, 3,50 persen, dan 4.01 persen dalam jangka pendek, serta 159,75 persen, 35,75 persen, 27,57 persen, dan 31,60 persen dalam jangka panjang. Hasil ini sesuai dengan teori bahwa peningkatan tenaga kerja, investasi swasta, serta dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan mendorong peningkatan PDRB pada sektor lainnya.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

105 Tabel 20. Hasil estimasi parameter persamaan kinerja

perekonomian

V. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian Hasil pendugaan model persamaan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.92174. Hal tersebut menunjukkan bahwa

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

106

variabel-variabel penjelas; jumlah angkatan kerja, investasi swasta, dan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun sebelumnya, secara bersama-sama dapat menjelaskan 92.17 persen, fluktuasi variabel penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun berjalan pada taraf nyata (α) 0.0001, yang ditunjukkan oleh F dengan nilai 232,62, dapat dilihat pada Tabel 20.

Hasil estimasi model juga menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja, dan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun sebelumnya, berpengaruh positif dan nyata terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun berjalan.

Koefisien elastisitas jumlah angkatan kerja adalah 0.110 dalam jangka pendek dan 2.1587 dalam jangka panjang. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila angkatan kerja, meningkat 10 persen, maka penyerapan tenaga kerja sektor pertanian meningkat sebesar 1.10 persen dalam jangka pendek dan 21.587 persen dalam jangka panjang. Hasil tersebut sesuai dengan teori bahwa apabila angkatan kerja meningkat, maka mereka dapat memilih bekerja pada sektor pertanian dengan upah rendah dibanding mereka menganggur.

Investasi swasta, berpengaruh positif namun tidak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila investasi swasta meningkat, maka penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian akan naik.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

107 Koefisien elastisitas investasi swasta adalah 0.0418 dalam jangka pendek, dan 0.3339 dalam jangka panjang. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila investasi swasta meningkat sebesar 100 persen, maka penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian naik sebesar 4.18 persen dalam jangka pendek, dan naik 33.39 persen dalam jangka panjang. Hal ini cukup wajar mengingat para investor menanamkan modalnya pada sektor pertanian, maka secara otomatis lapangan kerja pada sektor pertanian akan meningkat, yang berdampak pada meningkatnya tenaga pada sektor pertanian.

Angkatan kerja, berpengaruh positif namun tidak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila angkatan kerja meningkat, maka penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian akan naik. Koefisien elastisitas investasi swasta adalah 0.0985 dalam jangka pendek, dan 0.7865 dalam jangka panjang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila angkatan kerja meningkat sebesar 100 persen, maka penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian naik sebesar 9.85 persen dalam jangka pendek, dan naik 78,65 persen dalam jangka panjang. Hal ini cukup wajar mengingat para angkatan kerja dapat dengan mudah terserap pada sektor pertanian,

Penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun sebelumnya, menunjukkan angka positif dan berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

108

kerja tahun berjalan. Hal ini cukup wajar mengingat tenaga kerja yang telah terbiasa bekerja pada sektor pertanian umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sehingga sangat sulit untuk keluar dari sektor pertanian.

W. Penyerapan Tenaga Kerja non Sektor Pertanian

Hasil pendugaan model persamaan penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.9642. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel-variabel penjelas; investasi swasta, upah minimum provinsi, suku bunga bank Indonesia, inflasi, dan penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian tahun sebelumnya, secara bersama-sama dapat menjelaskan 96.64 persen, fluktuasi variabel penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian tahun berjalan pada taraf nyata (α) 0.0001, yang ditunjukkan oleh F dengan nilai 318,46, dapat dilihat pada Tabel 20.

Hasil estimasi model juga menunjukkan bahwa investasi swasta, dan inflasi serta penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian tahun sebelumnya, berpengaruh positif dan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian tahun berjalan. Koefisien elastisitas jumlah angkatan kerja adalah 0.110 dalam jangka pendek dan 2.1587 dalam jangka panjang. Hal tersebut menunjukkan

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

109 bahwa apabila investasi swasta, meningkat 100 persen, maka penyerapan tenaga kerja sektor pertanian meningkat sebesar 7.45 persen dalam jangka pendek dan 268.57 persen dalam jangka panjang. Hasil tersebut sesuai dengan teori bahwa apabila investasi swasta, maka mereka kesempatan kerja meningkat.

Upah minimum provinsi dan suku bunga Bank Indonesia, berpengaruh negatif namun terhadap penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila upah minimum provinsi dan suku bunga bank Indonesia meningkat, maka penyerapan tenaga kerja pada sektor non pertanian akan turun. Koefisien elastisitas upah minimum provinsi dan suku bunga Bank Indonesia berturutturut adalah 0.4622 dan -0,4294 dalam jangka pendek, serta 16,6602 dan 15,4802 persen dalam jangka panjang. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila upah minimum provinsi dan suku bunga Bank Indonesia meningkat sebesar 100 persen, maka penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian turun berturut-turut sebesar 46,22 persen dan 42,94 persen dalam jangka pendek, turun berturut-turut 1666,02 persen dan 1548,02 persen dalam jangka panjang. Hal ini cukup wajar mengingat dengan naiknya upah dan suku bunga Bank Indonesia mendorong para investor untuk menahan investasinya sehingga kebutuhan akan tenaga kerja akan berkurang.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

110

Penyerapan tenaga kerja sektor non pertanian tahun sebelumnya, menunjukkan angka positif dan berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga kerja tahun berjalan. Hal ini cukup wajar mengingat tenaga kerja yang telah terbiasa bekerja pada sektor non pertanian senantiasa berusaha untuk bertahan dalam perusahaan di mana mereka telah bekerja, yang memberikan upah yang lebih tinggi dibanding bekerja pada sektor pertanian.

Hasil pendugaan model persamaan kemiskinan menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.9787. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel-variabel penjelas; indeks pembangunan manusia, investasi swasta, belanja sosial, penyerapan tenaga kerja, dan jumlah penduduk miskin tahun sebelumnya, secara bersama-sama dapat menjelaskan 97.87 persen fluktuasi variabel kemiskinan pada taraf nyata (α) 0.0001, yang ditunjukkan oleh F dengan nilai 543.63, dapat dilihat pada Tabel 20.

Hasil pendugaan model menunjukkan bahwa indeks pembangunan manusia, investasi swasta, dan penyerapan tenaga kerja, memiliki tanda negatif dan sesuai harapan, namun hanya indeks pembangunan manusia yang berpengaruh nyata terhadap kemiskinan pada 10 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan.

Koefisien elastisitas indeks pembangunan manusia terhadap kemiskinan, sebesar -1,6108 dalam jangka pendek dan sebesar -75.6372 dalam jangka panjang.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

111 Artinya apabila variabel indeks pembangunan manusia, meningkat 100 persen, maka kemiskinan akan turun sebesar 161.08 persen dalam jangka pendek dan 7563,72 persen dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan indeks pembangunan manusia 10 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat mengurangi angka kemiskinan yang ada.

Investasi swasta dan penyerapan tenaga kerja memiliki tanda negatif dan sesuai harapan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kemiskinan. Hal tersebut menunjukkan bahwa apabila investasi swasta dan penyerapan tenaga kerja, maka jumlah penduduk miskin pada kabupaten kota di Provinsi Sulawesi Selatan akan menurun. Koefisien elastisitas investasi swasta dan penyerapan tenaga kerja, berturut-turut adalah sebesar -0.0089 dan -0,0428 dalam jangka pendek dan sebesar 0,4194 persen dan -2,011 dalam jangka panjang. Berarti apabila variabel investasi swasta dan penyerapan tenaga, meningkat 100 persen, maka kemiskinan akan turun masing-masing sebesar 0,8 persen dan 4,28 dalam jangka pendek serta 41,94 201,1 persen dalam jangka panjang. Temuan ini cukup rasional karena apabila investasi meningkat maka penyerapan tenaga kerja meningkat, yang tentunya tidak sedikit orang miskin yang terserap dalam lapangan kerja sehingga angka kemiskinan menurun.

Belanja sosial memiliki tanda positif dan tidak sesuai harapan namun tidak berpengaruh nyata

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

112

terhadap kemiskinan. Temuan ini cukup kontradiktif, di mana belanja sosial yang pada dasarnya ditujukan untuk menjaga agar dampak sosial dari suatu bencana atau guncangan ekonomi dapat diatasi, maka kemiskinan akan meningkat. Meskipun demikian hasil wawancara dengan beberapa anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPDR) kabupaten Gowa, Maros, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba, diperoleh informasi bahwa pada dalam beberapa tahun terakhir pemda kabupaten yang ada umumnya mengurangi belanja sosial yang ada, disebabkan karena keterbatasan anggaran, namun pengawasan terhadap penggunaan belanja sosial lebih diperketat agar tepat sasaran. Berdasarkan uraian tersebut maka penggunaan belanja sosial dalam mengurangi kemiskinan pada 3 (tiga) tahun terakhir cukup efektif.

Jumlah penduduk miskin tahun sebelumnya, memiliki tanda positif dan sesuai harapan serta berpengaruh nyata terhadap kemiskinan. Berarti jumlah penduduk miskin tahun berjalan mengikuti pola jumlah penduduk miskin tahun sebelumnya. Dengan kata lain penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah kabupaten kota di Provinsi Sulawesi Selatan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

113 BAGIAN 7

SIMULASI MODEL PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH

ntuk melihat dampak kebijakan fiskal terhadap perekomian 10 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, maka dilakukan simulasi kebijakan. Simulasi kebijakan pada dasarnya bertujuan untuk menganalisis dampak dari berbagai alternatif kebijakan atau skenario kebijakan dengan cara mengubah variabel atau instrumen kebijakan (policy instrument). Dalam penelitian ini simulasi kebijakan dilakukan untuk mengetahui dampak perubahan dari variabel pengeluaran pemerintah daerah terhadap perekonomian 10 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan.

A. Validasi Model

Validasi model digunakan untuk mengetahui apakah model cukup valid digunakan untuk simulasi alternatif kebijakan atau tidak. Hal ini penting dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh

U

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

114

mana model tersebut dapat mewakili dunia nyata.

Dalam model ini indikator validasi statistik yang digunakan adalah R Square (R2) dan Theils Inequality Coeficient (U). Sitepu dan Siregar (2006) mengatakan suatu model dikatakan baik daya prediksinya apabila Theils Inequality Coeficient (U) mendekati nilai nol.

Tabel 21 menunjukkan bahwa secara umum hasil validasi menunjukkan bahwa model yang dibangun cukup valid untuk digunakan dalam simulasi kebijakan. Berdasarkan indikator R Square, semua parameter dalam model menunjukkan nilai R Square yang cukup tinggi, hanya dua parameter yang R Square di bawah 0.50, sehingga model dapat dengan baik menjelaskan prilaku besarannya. Sementara berdasarkan kriteria Theils Inequality Coeficient (U), hanya satu parameter yangU nya berada di atas 0.20.

Tabel 21. Hasil Validasi Model Dampak Pengeluaran Pemerintah terhadap Kemiskinan 10

Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

115 B. Simulasi Kebijakan

Dalam tulisan ini, simulasi dilakukan berdasarkan pertimbangan ekonomi, sebagaimana isu-isu kebijakan fiskal yang banyak diperbincangkan dikalangan para ekonom dewasa ini. Adapun simulasi kebijakan yang terpilih adalah:

1. Meningkatkan belanja modal, sebesar 20 persen.

2. Meningkatkan total pengeluaran pemerintah sebesar 20 persen.

3. Meningkatkan investasi swasta 20 persen C. Dampak Peningkatan Belanja Modal 20

Persen.

Dalam era otonomi daerah dewasa ini pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam menentukan besarnya besaran prioritas pada masing-masing jenis pengeluaran. Salah satu jenis pengeluaran yang cukup penting dalam mendorong tumbuh kembangnya ekonomi baik di perkotaan maupun di perdesaan adalah belanja modal. Belanja modal yang pada dasarnya ditujukan untuk membangun infrastruktur berupa jalan dan lainnya baik di kota maupun diperdesakan sangat dibutuhkan untuk memperlancar arus barang dari desa kota maupun dari kota ke desa. Oleh karena itu simulasi pertama yang dilakukan yaitu, apabila pemerintah daerah dapat meningkatkan belanja modal sebesar 20 persen, maka

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

116

dampaknya terhadap perekonomian dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Dampak Kenaikan Belanja Modal 20 Persen

Dampak simulasi ini terhadap permintaan agregat adalah konsumsi masyarakat naik kurang dari 0.01 persen, investasi swasta naik 3,40 persen dan total pengeluaran pemerintah daerah naik sebesar 0.12 persen, ekspor daerah naik, 0.04 persen, dan impor daerah juga naik dari 0.20 persen, dan akibatnya ekspor bersih turun 0,62 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan belanja modal 20

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

117 persen berdampak positif terhadap permintaan agregat secara keseluruhan.

Apabila dilihat dari sisi produk domestik regional bruto berdasarkan sektor, maka terjadi kenaikan pada PDRB sektor pertanian 0.06 persen, sektor industri dan perdagangan 0,14 persen, dan sektor lainnya naik 0,18. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan belanja modal memberi dampak positif pada semua sektor yang, meskipun dampak relatif sangat kecil karena kurang 1 persen.

Apabila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, maka terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian meningkat 0.14 persen, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja non pertanian naik 0,25 persen, sehingga pengangguran turun sebesar 1,84 persen. Dampak akhir dari kebijakan ini adalah jumlah penduduk miskin, turun sebesar 0.03 persen.

D. Dampak Peningkatan Total Pengeluaran Pemerintah 20 Persen

Simulasi kedua yang dilakukan adalah asumsi bahwa pemerintah kabupaten dapat meningkatkan total pengeluarannya sebesar 20 persen. Asumsi ini pada pasarnya agak sulit dilakukan, karena keterbatasan sumber penerimaan dari pemerintah daerah, namun peneliti sengaja melakukan dengan tujuan mengetahui

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

118

dampak dari kenaikan total pengeluaran pemerintah kabupaten terhadap perekonomian daerah. Dampak simulasi ini terhadap perekonomian dapat dilihat pada Tabel 23.

Dampak simulasi ini terhadap permintaan agregat adalah konsumsi masyarakat naik kurang dari 0.01 persen, investasi swasta naik 5,09 persen, ekspor daerah naik, 0.04 persen, dan impor daerah juga naik dari 0.31 persen, dan akibatnya ekspor bersih turun 0,91 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan total pengeluaran pemerintah sebesar 20 persen berdampak positif terhadap permintaan agregat secara keseluruhan.

Apabila dilihat dari sisi produk domestik regional bruto berdasarkan sektor, maka terjadi kenaikan pada PDRB sektor pertanian 0.09 persen, sektor industri dan perdagangan 0,21 persen, dan sektor lainnya naik 0,26. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa total pemerintah daerah memberi dampak positif pada semua sektor yang ada, meskipun dampak relatif sangat kecil karena kurang 1 persen.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

119 Tabel 23. Dampak Kenaikan Total pengeluaran

pemerintah 20 Persen

Apabila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, maka terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian meningkat 0.21 persen, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja non pertanian naik 0,38 persen, sehingga pengangguran turun sebesar 2,73 persen. Dampak akhir dari kebijakan ini adalah jumlah penduduk miskin, turun sebesar 0.04persen.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

120

E. Dampak Peningkatan Investasi 20 Persen.

Simulasi ketiga yang dilakukan adalah simulasi non fiskal dalam bentuk peningkatan investasi swasta sebesar 20 persen. Apabila pemerintah daerah dapat menciptakan kondisi ekonomi yang sehat di daerah, serta melakukan promosi investasi dengan gencar, maka diasumsikan bahwa investasi swasta dapat ditingkatkan sampai 20 persen. Dampak simulasi ini terhadap perekonomian dapat dilihat pada Tabel 23 di bawah ini.

Tabel 24. Dampak Kenaikan Investasi Pemerintah 20 Persen

Dampak simulasi ini terhadap permintaan agregat adalah konsumsi masyarakat naik kurang dari 0.05 persen, total pengeluaran pemerintah naik 0,01

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

121 persen, ekspor daerah naik, 0.54 persen, dan impor daerah juga naik dari 0.18 persen, dan akibatnya ekspor bersih turun 0,52 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan investasi swasta 20 persen berdampak positif terhadap permintaan agregat secara keseluruhan.

Apabila dilihat dari sisi produk domestik regional bruto berdasarkan sektor, maka terjadi kenaikan pada PDRB sektor pertanian 0.37 persen, sektor industri dan perdagangan 0,83 persen, dan sektor lainnya naik 1,04. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan investasi swasta 20 persen memberi dampak positif pada semua sektor, dan memberi dampak yang cukup baik dibanding dengan simulasi 1 dan 2.

Apabila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, maka terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian meningkat 0.84 persen, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja non pertanian naik 1,49 persen, sehingga pengangguran turun sebesar 10,81 persen. Dampak akhir dari kebijakan ini adalah jumlah penduduk miskin, turun sebesar 0.23 persen.

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

122

BAGIAN 8

EFEKTIFITAS PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP PEREKONOMIAN DAN

KEMISKINAN

ada bagian ini, penulis menganalisis pola hubungan antara variabel pengeluaran pemerintah kabupaten dan kota terutama belanja modal dengan pertumbuhan PDRB, belanja modal dengan kemiskinan, dan belanja modal dengan pengangguran kabupaten kota. Hal ini menarik karena dengan gambaran ini memungkinkan untuk mengetahui posisi masing-masing kabupaten kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan.

Di samping itu juga akan diuraikan dianalisis pola hubungan PDRB dengan kemiskinan dan PDRB dengan pengangguran masing-masing kabupaten kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Pola hubungan yang dimaksud dibuat dalam dua periode yaitu periode yaitu tahun 2007-2010 dan periode tahun 2011-2014.

P

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

123 A. Analisis Belanja Modal terhadap Produk

Domestik Regional Bruto

Pola hubungan antara persentase rata-rata pertumbuhan belanja modal dengan persentase rata-rata pertumbuhan produk domestik regional bruto menunjukkan angka positif namun tidak nyata yaitu 0.193 pada periode tahun 2007-2010 dan 0.180 untuk periode tahun 2011-2014. Hal tersebut menunjukkan bahwa belanja modal yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah belum sepenuhnya dapat mendorong pertumbuhan PDRB di daerahnya.

Untuk jelasnya pola hubungan antara persentase rata-rata pertumbuhan belanja modal dengan persentase rata-rata pertumbuhan produk domestik regional bruto dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6.

Gambar 5 dan 6menunjukkan bahwa pada periode tahun 2007-2010 hanya ada empat kabupaten kota yang berada pada kuadran I pada kondisi terbaik, empat berada di kuadran II, tujuh berada di kuadran IV, dan enam berada pada kuadran III kondisi terburuk. Sementara pada periode tahun 2011-2014 terjadi pergeseran, dimana terdapat 6 kabupaten kota berada pada kuadran I kondisi terbaik, empat di kuadran II, enam pada kuadran IV, dan 6 pada kuadran III kondisi terburuk

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

124

Gambar 5: Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Pertumbuhan Rata-Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto Tahun 2007-2010

Gambar 6: Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Pertumbuhan Rata-Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto Tahun 2011-2014

Kuadran III, dengan kondisi terburuk meliputi enam kabupaten yaitu Jeneponto, Luwu, Bantaeng,

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

125 Pinrang, Enrekang dan Tana Toraja. Jika membandingkan rata-rata pertumbuhan belanja modal dengan rata-rata pertumbuhan PDRB periode tahun 2007-2010 dan periode tahun 2011-2014, maka terdapat dua kabupaten yang konsisten berada pada kuadran III, yaitu Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja, dan tidak satupun kabupaten kota yang konsisten berada pada kondisi terbaik di Kuadran I.

Kabupaten Jeponto dan Kabupaten Tana Toraja adalah dua kabupaten dengan tingkat pendapatan perkapita yang relatif kecil dibanding dengan kabupaten lain dengan jumlah penduduk cukup besar.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua kabupaten tersebut memiliki keterbatasan belanja modal dalam membangun infrastruktur, sehingga investor swasta kurang tertarik, akibatnya membuat pertumbuhan PDRB kedua kabupaten tersebut relatif kecil dibanding dengan kabupaten lainnya.

Sementara Kota Makassar yang sebelumnya berada pada kuadran I bergeser ke kuadran IV menujukkan bahwa pertumbuhan PDRB di Kota Makassar lebih banyak didorong oleh investasi swasta mengingat keberadaan kota makassar, sebagai ibu kota provinsi dengan infrastuktur yang cukup bangus, dibanding daerah lainnya.

Pada sisi lain Kabupaten Luwu Timur sebagai satu-satunya Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki perusahaan tambang yang cukup besar dimana total PDRB lebih 80 persen disumbangkan

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

126

oleh sektor pertambangan. bergeser dari kuadran I ke kuadran II. Pergeseran disebabkan karena pertumbuhan PDRB sektor pertambangan relatif tetap.

B. Analisis Belanja Modal terhadap Kemiskinan Pola hubungan antara persentase rata-rata pertumbuhan belanja modal dengan persentase rata-rata penduduk miskin menunjukkan angka negatif dan nyata pada periode tahun 2005-2009 yaitu -0.370, dan negatif tidak nyata pada untuk periode tahun 2010-2014 yaitu -0.047. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada periode tahun 2010-2014 turun di banding pada periode tahun 2007-2010. Dalam arti bahwa belanja modal yang dikeluarkan oleh pemerintah pada

B. Analisis Belanja Modal terhadap Kemiskinan Pola hubungan antara persentase rata-rata pertumbuhan belanja modal dengan persentase rata-rata penduduk miskin menunjukkan angka negatif dan nyata pada periode tahun 2005-2009 yaitu -0.370, dan negatif tidak nyata pada untuk periode tahun 2010-2014 yaitu -0.047. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada periode tahun 2010-2014 turun di banding pada periode tahun 2007-2010. Dalam arti bahwa belanja modal yang dikeluarkan oleh pemerintah pada

Dalam dokumen MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH (Halaman 103-0)