• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

1

MENANGGULANGI KEMISKINAN

DI DAERAH

Upaya Penanggulangan Kemiskinan Pemerintah Kabupaten dan Kota di Sulawesi Selatan

Dr. AKHMAD, S.E., M.Si AMIR, SE., M.Si., M.Pd., Ak., CA

Azkiya Publishing 2020

(2)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

2

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

Penulis : Dr. Akhmad, S.E., M.Si

Amir, SE., M.Si., M.Pd., Ak., CA.

Editor : Masud Muhammadiah Abdul Kodir | Abdul Munir Desain Cover : Zul

Diterbitkan Oleh : Azkiya Publishing

Prum Bukit Golp Arcadia Housing F6 No 10 Leuwinaggung Gunung Putri Bogor Bekerjasama dengan Colli Puji’e FKIP Sastra UNIBOS

Didistribusikan Oleh:

Pustaka AQ

Nyutran MG II 14020 Yogyakarta [email protected]

HP 0895603733059

ISBN : 978-623-7952-27-5 14x21 cm = xii+140 halaman Cetakan Pertama Mei 2020

Sanksi pelanggaran pasal 44, Undang-undang No. 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undag No.6 Tahun 1982 tentang hak cipta.

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

ii

(3)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan izin dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat Membuat laparan kemajuan hibah bersaing ini dengan judul: Menanggulangi Kemiskinan di Daerah

Pada kesempatan ini penulis dengan hati yang tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada, Bapak Dr. Prof. Dr. Abdul Rahman Rahim, S.E., MM. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Ismail Rasulong, S.E, M.M. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Dr. Ir Dr.

Ir.Abubakar Idhan, MP, selaku Ketua LP3M Unismuh Makassar, yang membeli kesampatan dan motivasi kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian menulisan buku referensi ini.

Ucapkan terima kasih juga penulis sampaikan kepada: Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah bersedia membiayai penelitian ini. Kepala L2DIKTI Wilayah IX Sulawesi yang senantiasa memberi dorongan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

Para responden yang telah bersedia memberikan iii

(4)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

4

data dan keterangan yang dibutuhkan dalam karya ini.

Semua pihak yang telah membetu peneliti yang tidak sempat penuilis sebut satu per santau namanya dalam tulisan ini.

Penulis berharap agar karya ini dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi masyarakat, pemerintah dan peneliti-peneliti lainnya. Penulis menyadari bahwa laporan kemujuan masih ini masih membutuhkan penyempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan di masa yang akan datang.

Makassar, Nopember 2019 Penulis

iv

(5)

5 DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ...ix

Daftar Gambar ...xi

Bagian 1 Dilema Masyarakat Miskin ... 13

Bagian 2 Kebijakan Fiskal dan Desentralisasi Fiskal ... 19

A. Kebijakan Fiskal ... 19

B. Desentralisasi Fiskal ... 26

Bagian 3 Kemiskinan ... 33

A. Pengertian Kemiskinan ... 33

B. Teori Kemiskinan ... 36

C. Cara Pandang Terhadap Kemiskinan ... 37

Bagian 4 Metode Penelitian ... 43

A. Lokasi Penelitian ... 43

B. Jenis dan Sumber Data ... 43

C. Spesifikasi Model ... 44

I. Blok Fiskal ... 45

II. Blok Permintaan Agregat Daerah ... 47

II. Blok Kinerja Prekonomian ... 47

D. Indentifikasi Model ... 49

E. Metode Pendugaan Model ... 51

F. Validasi Model ... 52

G. Simulasi Model ... 54

v

(6)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

6

Bagian 5

Gambaran Umum Lokasi ... 55

A. Kondisi Geografis ... 55

B. Penduduk dan Tenaga Kerja ... 56

C. Kondisi Fiskal Daerah ... 60

D. Penerimaan Daerah ... 60

E. Pendapatan Asli Daerah ... 60

F. Transfer Dana dari Pemerintah Daerah ... 64

G. Pengeluaran Daerah ... 67

H. Belanja Pegawai ... 67

I. Belanja Barang dan Jasa ... 68

J. Belanja Modal ... 69

K. Belanja Pendidikan ... 70

L. Belanja Sosial ... 72

M. Kondisi prokonimian ... 73

N. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto ... 73

O. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin ... 74

Bagian 6 Hasil Estimasi ... 76

A. Hasil Estimasi Blok Fiskal Daerah ... 76

B. Penerimaan Pemerintah Daerah ... 76

C. Pajak Daerah ... 77

D. Retribusi Daerah ... 79

E. Dana Alokasi Umum ... 81

F. Dana Bagi Hasil ... 82

G. Pengeluaran pemerintah Daerah ... 84

H. Belanja Pegawai ... 84

I. Belanja Barang dan Jasa ... 86

J. Belanja Modal ... 87

K. Belanja Sosial ... 88

L. Kerangka Blok Permintaan Agregat ... 90

vi

(7)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

7

M. Komsumsi Swasta ... 90

N. Investasi Swasta ... 92

O. Ekspor Daerah ... 95

P. Impor Daerah ... 96

Q. Krangka Blok Kinerja Perekonomian ... 97

R. Produk Domestik Regional Bruto Sektor Tani. 97 S. Produk Domestik Regional Bruto Sektor Industri dan Perdagangan ... 99

T. Produk Domestik Regional Bruto Sektor Industri dan Perdagangan ... 101

U. Produk Domestik Regional Bruto Sektor Lain 103 V. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian .... 105

W. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Non Pertanian ... 108

Bagian 7 Simulasi Model Pengeluaran Pemerintah Daerah . 113 A. Validasi Model ... 113

B. Simulasi Kebijakan ... 115

C. Dampak Peningkatan Belanja Moal 20% ... 115

D. Dampak peningkatan Total Pengeluaran Pemerintah 20% ... 117

E. Dampak Peningkatan Investasi 20% ... 120

Bagian 8 Efektivitas Pengeluaran Pemerintah Daerah Terhadap Perekonomian dan Kemiskinan ... 122

A. Analisis Belanja Modal Terhadap Produk Domestik Regional Bruto ... 123

B. Analisis Belanja Modal Terhadap Kemiskinan 126 C. Analisis Belanja Modal Terhadap Pengangguran ... 129

vii

(8)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

8

D. Analisis Produk Domestik Regional Bruto

Terhadap Kemiskinan ... 131

E. Analisis Produk Domestik Regional Bruto Terhadap Pengangguran ... 133

Bagian 9 A. Kesimpulan ... 138

B. Implikasi Kebijakan ... 141

C. Saran ... 143

Daftar Pustaka ... 145

Profil Penulis ... 150

viii

(9)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

9 DAFTAR TABEL

1. Deskripsi Teori Utama Tentang Kemiskinan -37 2. Perkembangan Penduduk Kabupaten Kota di

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 57 3. Perkembangan Angkatan Kerja Kabupaten Kota di

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 58 4. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Kabupaten

Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007- 2014 - 59

5. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007- 2014- 61

6. Perkembangan Pajak Daerah Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-20014 -62 7. Perkembangan Retribusi Daerah Kabupaten Kota

di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 63 8. Perkembangan Dana Alokasi Umum Kabupaten

Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007- 2014 - 64

9. Perkembangan Dana Bagi Hasil Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 65 10. Perkembangan Dana Alokasi Khusus Kabupaten

Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 66

ix

(10)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

10

11. Perkembangan Belanja Pegawai Kabupaten Kota di ProvinsiSulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 67

12. Perkembangan Belanja Barang dan Jasa Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014- 68 13. Perkembangan Belanja Modal Kabupaten Kota di

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 69 14. Perkembangan Belanja Pendidikan Kabupaten Kota di

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 71

15. Perkembangan Belanja Sosial Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 73

16. Perkembangan PDRB Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2007-2014 - 74

17. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2014 - 75 18. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Fiskal Daerah - 78 19. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Permintaan

Agregat Daerah - 92

20. Hasil Estimasi Parameter Persamaan Kinerja Perekonomian - 105

21. Hasil Validasi Model Dampak Pengeluaran Pemerintah terhadap Kemiskinan Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Selatan - 114

22. Dampak Kenaikan Belanja Modal 20 Persen - 116 23. Dampak Kenaikan Total pengeluaran pemerintah 20

Persen - 119

24. Dampak Kenaikan Investasi Pemerintah 20 Persen - 120

x

(11)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

11 DAFTAR GAMBAR

1. Dampak Kebijakan Pemerintah dalam Jangka Pendek - 24

2. Dampak Kebijakan Pemerintah dalam Jangka Panjang - 25

3. Skema Penanggulangan Kemiskinan Dalam Era Desentralisasi - 41

4. Keterkaitan antar Variabel Model Pengeluaran Pemerintah Daerah terhadap Kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan - 49 5. Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata

Belanja Modal dengan Pertumbuhan Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto Tahun 2007- 2010 - 124

6. Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Pertumbuhan Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto Tahun 2011- 2014 - 124

7. Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Rata-rata Penduduk Miskin Tahun 2007-2010 - 127

8. Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Rata-rata Penduduk Miskin Tahun 2011-2014 - 128

9. Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Rata-rata Pengangguran xi

(12)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

12

Tahun 2007-2010 - 130

10. Pola Hubungan antara Pertumbuhan Rata-rata Belanja Modal dengan Rata-rata Pengangguran Tahun 2011-2014 - 131

11. Pola hubungan Pertumbuhan Rata-rata Produk Domestik RegionalBruto dengan Tingkat Rata- rata Kemiskinan Tahun 2007-2010 - 133

12. Pola hubungan Pertumbuhan Rata-rata Produk Domestik RegionalBruto dengan Tingkat Rata- rata Kemiskinan Tahun 2011-2014 - 133

13. Pola hubungan Pertumbuhan Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto dengan Tingkat Rata- rata Pengangguran Tahun 2007-2010 - 136

14. Pola hubungan Pertumbuhan Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto dengan Tingkat Rata- rata Pengangguran Tahun 2011-2014 - 136

xii

(13)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

13 BAGIAN 1

DILEMA MASYARAKAT MISKIN

emiskinan di Indonesia hingga saat ini masih dianggap sebagai persoalan yang serius, meskipun jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan yang cukup besar terutama selama tahun 1970-an hingga pertengahan tahun 1990-an. Badan pustat statistik mengatakan bahwa pada tahun 1976, jumlah menduduk miskin diperkirakan sebesar 54,2 juta jiwa atau 40.08 persen dari jumlah penduduk, dan telah berkurang menjadi 22,5 juta jiwa atau 11,34 pesen dari total penduduk tahun 1996. Hal tersebut menujukkan bahwa selama kurang waktu 1976 sampai 1996, jumlah penduduk miskin Indonesia mengalami penurunan rata-rata 6,5 persen per tahun

Krisis ekonomi yang terjadi sejak juli 1997 membawa dampak negatif bagi kehidupan

K

(14)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

14

masyarakat, yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi prasarana dan sarana umum. Menurut Badan Pusat Statistik jumlah penduduk meskin meningkat menjadi 49,6 juta jiwa (24,3 persen) pada tahun 1998.

Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian yang diikuti oleh terkendalinya harga barang dan jasa, dan meningkatnya pendapatan masyarakat, maka jumlah penduduk miskin menurun secara bertahap menjadi 30,02 juta jiwa atau 12,49 persen pada tahun 2011. Dari jumlah penduduk miskin tersebut 18,97 juta jiwa atau 15,72 persen berada di persedesaan dan 11,05 juta jiwa atau 9,23 persen perada di perkotaan (Badan Pusat Statistik, 2012).

Dengan jumlah penduduk miskin yang masih cukup besar ini, maka kemiskinan di Indonesia masih dianggap sebagai persoalan serius dan karenanya diperlukan upaya-upaya pemecahan yang lebih serius di masa yang datang.

Untuk memecahkan masalah kemiskinan pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan baik yang bersifat umum maupun yang khusus untuk menangani masalah kemiskinan itu seperti PNPM Mandiri.

Todaro dan Smith (2009) mendeskripsikan dengan sangat baik siapa sesunggunya kaum miskin (the foor) yaitu mereka ini berjumlah lebih

(15)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

15 dari 6 milyar jiwa, nasibnya jauh kurang beruntung karena sehari-harinya harus hidup dalam kondisi kekurangan. Mereka tidak memiliki rumah sendiri, dan kalaupun punya, ukurannya begitu kecil. Persediaan makanan juga acapkali tidak memadai. Kondisi kesehatan mereka umumnya tidak begitu baik atau bahkan buruk, dan banyak dari mareka yang buta huruf, serta menganggur. Masa depan mereka untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik biasanya suram, atau sekurang-kurangnya tidak menentu.

Dengan demikian jelas bahwa masalah kemiskinan sesungguhnya bukanlah semata-mata masalah kekurangan pendapatan dan harga, akan tetapi lebih dari pada itu. Masalah kemiskinan adalah masalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia, kemiskinan adalah masalah sandang, pangan, dan papan; kemiskinan adalah masalah lapangan kerja. Intinya kemiskinan adalah masalah serba kekurangan dan merupakan fenomena yang banyak terjadi daerah perdesaan dan pada umumnya bergerak sektor pertanian.

Sejak tahun 2001 bangsa Indonesia memulai babak baru penyelenggaraan pemerintahan, ketika diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah, yaitu Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah kemudian direvisi dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, dan Undang- Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan

(16)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

16

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang selajutnya direvsisi dengan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004

Dalam era otonomi daerah dewasa ini, pemerintah daerah memiliki wewenang yang hampir penuh atas penggunaan sumber-sumber fiskal mereka.

Pemerintah provinsi dan kabupaten kota, saat ini mengelola sekitar 36 persen dari total pengeluaran publik, dibandingkan dengan kondisi pada pertengahan 1990-an yang hanya berjumlah sekitar 24 persen (World Bank. 2007).

Kebijakan fiskal adalah bentuk intervensi pemerintah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian dengan maksud agar keadaan perekonomian tidak terlalu menyimpang dari keadaan yang diinginkan dengan alat (policy instrument variable) berupa Pajak (T), Transfer Pemerintah (Tr), dan Pengeluaran Pemerintah (G). Kebijakan fiskal disebut kebijakan anggaran (budgetary policy), dilakukan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), (Romer, 2001).

Provinsi Sulawesi Selatan adalah provinsi yang terletak di sebelah selatan Pulau Sulawesi dengan luas daratan 45 574.48 km persegi, meliputi 21 kabupaten dan tiga kota, dengan jumlah penduduk sebesar 8 032 551 jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan timur Indonesia. Sekaligus merupakan provinsi penghasil pengan terbesar yang ada di luar di

(17)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

17 Pulau Jawa. Kondisi perekonomian kabupaten kota di Propinsi Sulawesi Selatan dewasa ini masih didominasi oleh sektor pertanian, kerena menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk. Pada tahun 2011 tenaga kerja yang terserap pada sektor pertanian sebesar 49.20 persen, dan penyumbang 29 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Provinsi Sulawesi Selatan sebagi provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan timur Indonesia, dengan sebagian besar penduduknya hidup pada sektor pertanian, belum dapat melepaskan diri dengan persoalan kemiskinan.

Data badan pusat statistik Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa angka kemiskinan di daerah ini masih tinggi yaitu 10,29 persen atau sebesar 832.910 jiwa pada tahun 2011, dari jumlah tersebut lebih dari dan 80 persen atau sebesar 695.890 jiwa berada di perdesaan dengan mata pencaharian utama sektor pertanian, dan sisanya 137.020 jiwa berada di perkotaan. Walaupun angka kemiskinan ini di bawah tingkat rata-rata kemiskinan nasional 12.49 persen, namun tetap menjadi persoalan serius dan membutuhkan keberpihakan dari pemerintah kabupaten dan kota dalam upaya menanggulangi kemiskinan di Provinsi Sulawesi Selatan.

Hasil penelitian tahun pertama dan kedua telah diperoleh model dampak pengeluaran pemerintah

(18)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

18

daerah terhadap kemiskinan kabupaten dan kota di provinsi Sulawesi Selatan. Di samping itu hasil simulasi kebijakan diperoleh bahwa belanja sosial dan belanja pendidikan dapat menurunkan angka kemiskinan meskipun penurunan tersebut relatif sangat kecil.

Meskipun demikian hasil penelitian tahun pertama dan kedua, masih bersifat umum dalam arti belum diketahui kabupaten atau kota mana yang telah melakukan keberpihakan terhadap masyarakat miskin, dalam arti kabupaten mana yang telah melakukan pengeluaran yang cukup berarti dalam menurunkan angka kemiskinan di daerahnya. Oleh karena penelitian pada tahun ketiga ini lebih ditujukan untuk mengetahui kabupaten dan kota yang telah melakukan keberpihakan yang berarti dan belum berarti. Hal ini penting dilakukan agar rekomendasi kebijakan yang dihasilkan lebih tajam untuk masing-masing daerah kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam era otonomi daerah dewasa ini, maka peran dan tanggung jawab pemerintah daerah semakin besar termasuk di dalamnya bagaimana menanggulangi kemiskinan di daerahnya.

(19)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

19 BAGIAN 2

KEBIJAKAN FISKAL DAN DAN DESENTRALIASI FISKAL

A. Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal adalah bentuk tindakan pemerintah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian, dengan tujuan agar perekonomian tidak terlalu menyimpang dari keadaan yang diinginkan dengan alat (policy instrument variable) berupa pajak (T), transfer pemerintah (Tr), dan pengeluaran pemerintah (G) sebagai levels of spending and taxation (Romer, 2001; Samuelson dan Nordhaus, 2005).

Kebijakan fiskal disebut juga kebijakan anggaran (budgetary policy) yang dilakukan melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), (Muhammad, 2004).

Kebijakan fiskal atau anggaran memiliki tiga fungsi yaitu, (1) fungsi alokasi (allocation function), (2) fungsi distribusi (distribution function), dan (3) fungsi stabilisasi (stabilization function). Fungsi alokasi berkaitan dengan penyediaan barang sosial

(20)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

20

(social goods), atau proses penggunaan sumberdaya keseluruhan yang dibagi di antara barang privat (private goods), dan barang sosial (social goods) serta kombinasi barang sosial yang dipilih. Fungsi distribusi berkaitan dengan pembagian pendapatan dan kekayaan yang lebih adil dan merata kepada masyarakat.

Sedangkan fungsi stabilisasi untuk mempertahankan tingkat pekerjaan yang tinggi (high employment), stabilitas tingkat harga-harga, dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sesuai, serta berpengaruh pada neraca perdagangan dan pembayaran, (Musgrave, 1991;

Kementrian Keuangan RI, 2010).

Instrumen kebijakan fiskal adalah variabel belanja pemerintah (G) atau pajak (T). Bersama-sama dengan variabel konsumsi masyarakat (C), Investasi Swasta (I) dan net ekspor (X-M), merupakan komponen yang mempengaruhi output atau pendapatan nasional (Y). Dalam keseimbangan makro ekonomi dirumuskan:

Sementara itu Cullis dan Joness, (1992) mengatakan bahwa instrumen kebijakan fiskal yang dapat dilakukan oleh pemerintah terdiri atas instrumen belanja pemerintah dan pajak. Kedua jenis instrumen ini secara langsung berpengaruh kepada sektor riil, dalam hal ini mempengaruhi pengeluaran agregat yang berdampak pada permintaan agregat. Kebijakan

(21)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

21 belanja pemerintah berpengaruh posistif terhadap permintaan agregat dan pendapatan nasional.

Sementara kebijakan pajak berpengaruh negatif terhadap permintaan agregat dan pendapatan nasional.

Besarnya pengaruh kedua kebijakan tersebut ditentukan oleh

efek pengganda (multiplier effect), dimana besarannya tergantung pada besaran kecenderungan untuk mengkonsumsi (marginal propensity to consume, MPC).

Permintaan agregat dapat dinaikkan dengan cepat hanya melalui kebijakan fiskal (Romer, 2001, Dornbusch at al. 2008). Anggaran pemerintah (government budget) adalah bagian penting dalam model makroekonomi. Keynes mengatakan apabila perekonomian berada di bawah full employment, maka permintaan agregat dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah (G) atau menurunkan pajak (T) (McCann, 2001). Dalam pandangan Keynes, pemerintah mempunyai peran penting untuk mengatur permintaan agregat (AD), dalam rangka mempertahankan atau menjaga agar perekonomian mendekati tingkat kesempatan kerja penuh (full employment level).

Besaran multiplier pengeluaran pemerintah dapat diturunkan dari persamaan pendapatan nasional dari sisi pengeluaran:

(22)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

22

Untuk ini kita membuat persamaan konsumsi menjadi:

dimana

a = konsumsi autonomous b = MPC

T = pajak penghasilan

Dengan mensubtitusi persamaan 3.2 ke persamaan 3.1 kita dapat menulis persamaan pendapatan nasional menjadi:

dengan melakukan transformasi, maka diperoleh:

Y(1-b) = a-bT + I +G+(X-M) ………….

dengan melakukan difrensiasi terhadap G dan T akan diperoleh persamaan 2.5 dan persamaan 2.6.

Persamaan 2.5 menunjukkan besaran multiplier dari pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan nasional, merupakan fungsi dari MPC. Jadi semakin tinggi MPC, maka multiplier effec-nya semakin besar.

Dengan cara yang sama diperoleh pula multiplier effec dari kebijakan pajak yang juga merupakan fungsi dari MPC:

(23)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

23 Pertanyaan yang muncul, adalah kebijakan manakah yang sebaiknya digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan kebijakan fiskal. Dornbusch at al. (2008) mengatakan bahwa tujuan pemerintah dalam kebijakan fiskal adalah meningkatkan pendapatan nasional, penyerapan tenaga kerja, dan stabilisasi ekonomi. Oleh karena itu kebijakan pengeluaran pemerintah lebih efektif dibanding dengan kebijakan pajak. Keynesian berpendapat bahwa besarnya respon para pelaku ekonomi lebih besar pada pengeluaran pemerintah dibanding dengan pemotongan pajak.

Pengeluaran pemerintah berdampak langsung pada permintaan agregat dan multiplier-nya, melalui konsumsi dan investasi pemerintah. Sementara kebijakan pengurangan pajak bekerja secara tidak langsung, melalui pajak pendapatan, dan investasi pada pajak industri. Oleh karena itu, penelitian ini fokus pada pengeluaran pemerintah. Jadi model yang dibangun fokus pada perubahan kebijakan pengeluaran pemerintah dan dampaknya terhadap kinerja perekonomian.

Kaum klasik memandang perilaku perekonomian dalam jangka panjang. Sementara Keynesian melihat perilaku perekonomian dalam jangka pendek, karena dalam jangka pendek harga- harga bersifat kaku. Apabila terjadi ekspansi fiskal dalam jangka pendek, misalnya pemerintah meningkatkan pengeluarannya atau pemerintah

(24)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

24

memotong pajak, maka dalam jangka pendek akan menggeser kurva permintaan agregat ke kanan dari AD1 menjadi AD2, sehingga akan meningkatkan output dari Y1 ke Y2. Apabila terjadi kontraksi fiskal, misalnya pemerintah mengurangi pengeluarannya atau pemerintah meningkatkan pajak, maka dalam jangka pendek akan menggeser kurva permintaan agregat ke kiri dari AD1 menjadi AD0 seperti pada Gambar 1.

Sumber: Dornbusch at al., 2008; Romer, 2001.

Gambar 1: Dampak Kebijakan Pemerintah dalam Jangka Pendek

Dalam jangka panjang, kebijakan ekspansi ataupun kontraksi fiskal akan mempengaruhi harga dalam jangka panjang tetapi tidak akan mempengaruhi output (Y) dalam jangka panjang. Misalkan perekonomian dimulai dalam ekuilibrium jangka panjang pada titik A, kebijakan ekspansi pemerintah

(25)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

25 menyebabkan kurva permintaan agregat bergeser ke atas dari AD1 menjadi AD2, dimana perekonomian bergeser dari titik A ke titik D (output berada di atas tingkat alamiah). Ketika harga naik, output secara berangsur-angsur kembali ke tingkat alamiah, dan perekonomian bergerak dari titik D ke E. Seperti pada gambar 2 di bawah ini:

Sumber: Dornbusch at al. 2008; Romer, 2001.

Gambar 2: Dampak Kebijakan Pemerintah dalam Jangka Panjang

Sedang kebijakan kontraksi pemerintah menyebabkan kurva permintaan agregat bergeser ke bawah dari AD1 menjadi AD0, dimana perekonomian bergeser dari titik A ke titik B (output berada di bawah tingkat alamiah). Ketika harga turun, perekonomian secara perlahan-lahan pulih dari resesi, perekonomian bergerak dari titik B ke C seperti pada Gambar 2.

(26)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

26

B. Desentralisasi Fiskal

Konsep desentralisasi fiskal yang selama ini dikenal dengan money follow function (Bahl, 1994) mensyaratkan bahwa pembagian tugas dan tanggungjawab kepada pemerintah daerah akan diiringi dengan pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah dalam hal penerimaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah perlu dilakukan pengaturan sedemikian rupa sehingga kebutuhan pengeluaran yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dapat dibiaya dengan sumber-sumber pembiayaan yang ada.

Sejalan dengan hal tersebut kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia diwujudkan dalam bentuk pemberian transfer kepada pemerintah daerah berupa dana perimbangan, dana otonomi khusus dan penyesuaian, serta dalam bentuk instrumen peningkatan potensi pendapatan asli daerah (PAD).

Selain kedua kebijakan tersebut pemerintah pusat juga mengalokasikan anggran kementrian dalam upaya pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas perbantuan, (Simanjuntak, 2002; Basri, 2004;

Mardiasmo, 2009)..

Pemberian tanggung jawab yang semakin besar kepada daerah, harus diikuti oleh kemampuan daerah untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang semakin baik.

(27)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

27 Untuk meningkatkan kemampuan daerah dalam mendanai kebutuhan pengeluarannya, dan sekaligus meningkatkan akuntabilitas daerah, perlu upaya penguatan kemampuan pemungutan pajak dan retribusi daerah, (Suparmoko, 2002; Alisjahbana, 2000; Subiyantoro dan Rifat, 2004; Mardiasmo, 2009).

Kebijakan desentralisasi fiskal sesuai Undang- Undang Nomor 25 tahun 1999, diarahkan untuk:

(1) meningkatkan ketahanan fiskal berkesinambung-an (fiscal sustainability), (2) memperkecil ketimpangan keuangan pusat dan daerah (vertical imbalance), (3) mengkoreksi ketimpangan kemampuan keuanganantar daerah (horizontal imbalance), (4)meningkatkan akutanbilitas,

efektivitas, dan efisiensi kinerja pemerintah daerah, dan (5) meningkatkan kualitas pelayanan dan partisipasi masyarakat di sektor publik (Mahi, 2000).

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 mengatur desentralisasi pelimpahan wewenang dan tanggung jawab di bidang administrasi dan di bidang politik kepada pemerintah daerah. Dengan adanya pelimpahan wewenang kepada pemerintahan daerah, dengan diikuti perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, diharapkan pengelolaan dan penggunaan anggaran sesuai dengan prinsip, money follows function yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004.

Tetapi mengingat desentralisasi di bidang administrasi

(28)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

28

juga berarti transfer personal (pegawai negeri sipil) yang penggajiannya menjadi tanggung jawab daerah, prinsip money follows function, atau sebut saja penggunaan anggaran sesuai fungsinya, tidak mungkin berlangsung. Menurut Lewis, (2001), Siregar , (2001).

hal ini terjadi karena dana alokasi umum (DAU) yang menjadi sumber utama pendapatan daerah, sebagian besar digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin, sehingga anggaran untuk pembangunan menjadi kecil.

Alasan yang mendasari pemikiran bahwa pengelolaan keuangan negara secara terdesentralisasi lebih baik dibanding dengan pengelolaan secara sentralistik adalah karena akan terjadi efisiensi dalam pengalokasian sumber daya. Desentralisasi membuat pemerintah lebih responsif terhadap aspirasi dan preferensi kebutuhan masyarakat dibanding dengan pemerintah yang terpusat (Lin dan Liu, 2000; Alm dan Bahl, 2001).

Secara umum, penerimaan pemerintah termasuk pemerintah daerah dapat bersumber dari pajak (taxes), retribusi (user charges) dan pinjaman (Musgrave dan Musgrave, 1991). Hal ini secara eksplisit diatur pada pasal 79 Undang-Undang Nomor 22/1999. Khusus untuk pinjaman daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 107 tahun 2000 telah memuat ketentuan-ketentuan yang terkait dengan kapasitas keuangan daerah untuk meminjam. Semua pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah harus lewat dan seijin pemerintah pusat, baik itu pinjaman dalam negeri maupun

(29)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

29 pinjaman luar negeri. Tetapi, meskipun perundang- undangan memperbolehkan daerah melakukan pinjaman, hingga beberapa tahun ke depan, hal ini belum diperkenankan oleh pemerintah pusat.

Oleh karena itu, sumber pemerintah daerah bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD) berupa penerimaan dari restribusi, dan pajak daerah, maupun dari bagi hasil dari pajak dan bukan pajak. Pola transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah merupakan inti dari kebijakan desentralisasi fiskal. Sistem transfer ini mempunyai arti yang sangat penting karena pengeluaran pemerintah daerah sebagian besar, berasal dari transfer pemerintah pusat. Pada masa sebelum desentralisasi, program bantuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagian besar dilakukan dalam bentuk specific grant. Penentuan alokasi anggaran sudah ditentukan dari pemerintah pusat dengan format yang kaku (rigid), sehingga seringkali implementasi di lapangan banyak terkendala pada urusan administratif. Dengan desentralisasi pola penyaluran bantuan pemerintah pusat berubah menjadi block grant, sehingga perencanaan program, implementasi dan monitoring serta evaluasi dilakukan oleh pemerintah daerah. Bentuk block

grant dalam kerangka desentralisasi fiskal berupa dana alokasi umum (DAU) (Simanjuntak, 2002).

(30)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

30

Secara konseptual desentralisasi fiskal berhubungan dengan perumusan kewenangan atas sumber-sumber dana yang ada, atau akses terhadap dana transfer dan pembuatan berbagai keputusan, baik yang menyangkut pengeluaran rutin maupun pengeluaran investasi pembangunan (Braun and Grote dalam Ridyanti, 2009; Ritonga, 2002).

Transfer fiskal merupakan inti dari suatu hubungan fiskal antar pemerintahan dan memiliki peran penting dalam mendukung program desentralisasi fiskal, karena pengeluaran pemerintah daerah dua per tiganya merupakan dana transfer dari pemerintah pusat. Dana transfer berupa dana block grant akan memberikan pengaruh yang lebih efisien terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dibanding dengan dana transfer berupa spesific grant (Simanjuntak, 2002; Poque dan Sgontz, 1978).

Desentralisasi fiskal di Indonesia tentunya akan berpengaruh terhadap peranan pemerintah daerah dari sisi penerimaan dan pengeluaran keuangan daerah.

Sumber-sumber keuangan daerah yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 meliputi : (1) pendapatan asli daerah (PAD) terdiri atas: (a) pajak daerah, (b) restribusi daerah, (c) hasil perusahaan daerah (BUMD), (d) hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan (e) lain-lain pendapatan asli daerah, dan (2) dana perimbangan dari pemerintah pusat yang terdiri dari: (a) bagi hasil pajak dan bukan pajak, (b) dana alokasi umum (DAU), dan

(31)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

31 (c) dana alokasi khusus (DAK) (Departemen Dalam Negeri, 2001).

Pada implementasi desentralisasi fiskal pemerintah daerah berperan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah dari berbagai sumber seperti pajak daerah, retribusi daerah, badan usaha milik daerah dan penerimaan daerah lainnya. Kontribusi PAD relatif kecil dibandingkan dengan penerimaan yang berasal dari pusat. Pajak yang memberi kontribusi terbesar pada PAD masih memiliki kelemahan di daerah, karena bagian yang paling besar dari pajak, seperti pajak pendapatan dan pajak penghasilan masih didominasi oleh pemerintah pusat.

Pada tingkat Provinsi terdapat hanya dua jenis pajak daerah yang diperkirakan signifikan terhadap penerimaan daerah seperti Pajak kepemilikan kendaraan bermotor dan pajak perpanjangan kendaraan bermotor, sedangkan dua jenis pajak lain seperti pajak minyak dan pajak eksploitasi air bawah tanah memberi kontribusi yang tidak signifikan. Pada tingkat kabupaten kota terdapat tujuh jenis pajak daerah, tetapi hanya beberapa jenis pajak yang memberi kontribusi signifikan terhadap penerimaan daerah. Pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan dan pajak iklan memberi kontribusi besar di kota, sedang penerimaan penting di kabupaten yang berasal dari jenis pajak adalah pajak bahan galian tipe C (Brojonegoro, 2001; Bahl dan Lin, 1994).

(32)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

32

Keberhasilan meningkatan penerimaan pajak dan restribusi daerah tergantung kepada badan pemungut pajak di daerah yang dikenal dengan dinas pendapatan daerah (Dispenda). Kemampuan administratif dinas tersebut akan menentukan apakah penerimaan daerah dari pajak sama besarnya dengan besarnya potensi pajak. Walaupun sulit mengharapkan besarnya penerimaan daerah sama dengan potensi pajak, tetapi diharapkan selisihnya tidak terlalu signifikan.

Beberapa permasalahan yang krusial dalam hal pemungutan pajak adalah kelemahan data dan sistem informasi serta lemahnya tindakan dalam pelaksanaan undang-undang yang telah ditetapkan. Adminitrasi harus diperbaiki mulai dari proses pendaftaran hingga proses pengumpulan. Selanjutnya tindakan yang tegas dalam mengimplementasikan undang-undang menjadi prioritas yang menjamin bahwa setiap orang mempunyai perlakuan yang sama dalam hukum dan undang-undang (Mahi, 2000; Brodjonegoro dan Vazques, 2002).

(33)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

33 BAGIAN 3

KEMISKINAN

A. Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan menurut Bappenas, (2008) adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang laki- laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi tersebut, menunjukkan bahwa kemiskinan tidak lagi dipandang hanya sebatas ketidak mampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perilaku bagi seorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakaui secara umum, meliputi:

terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan atau hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik, baik perempuan maupun laki- laki.

Sejalan dengan hal tersebut Gemmel, (1992);

dan Sen, (2002) melihat kemiskinan dari perspektif yang lebih luas yaitu minimnya penghasilan, tidak

(34)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

34

tersedianya akses kepada pengetahuan, sumber daya, serta layanan sosial dan kesehatan, keterasingan dari arus utama pembangunan dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok. Dengan perspektif ini minimnya penghasilan hanyalah merupakan salah satu unsur, yang lebih mendasar adalah ketidakmampuan untuk mengakses sumber-sumber ekonomi.

Untuk mengukur kemiskinan dapat digunakan beberapa ukuran, badan pusat statisik (BPS) menggunakan tiga jenis ukuran dalam mengukur kemiskinan di Indonesia yaitu:

1. Head Count Index (HCI-P0) adalah persentase penduduk miskin yang berada di bawah garis kemiskinan.

2. Poverty Gap Index (PGI-P1) indeks kedalaman kemiskinan, merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Oleh karena itu semakin tinggi nilai indeks, maka semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

3. Poverty Saverity Index (PSI-P2), indeks keparahan kemiskinan, memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.

Makin tinggi nilai indeks, maka makin tinggi nilai ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

(35)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

35 Foster-Greer-Thorbecke merumuskan suatu ukuran yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan:

q a

i z

yi

z



 

 n 1

Pa 1 ...

dimana:

a = 0,1,2,

z = Garis kemiskinan

yi = Rata-rata pengeluaran perkapita penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, yi

<z.

q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan

n = Jumlah penduduk

Apabila a=0, maka diperoleh head count index (HCI), apabila a=1, maka diperoleh poverty gap index (PGI), dan apabila a=2, maka diperoleh poverty saverity index (PSI).

Dalam penelitian ini penulis mengacu para konsep yang digunakan oleh badan pusat statistik (BPS) dalam mengukur kemiskinan, dimana BPS mengukur kemiskinan dengan menggunakan ukuran kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidak mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan dan garis

(36)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

36

kemiskinan non makanan.

B. Teori Kemiskinan

Cheyne, O’Brien dan Belgrave mengemukakan bahwa ada dua teori utama (grand theory) tentang kemiskinan, yaitu: (1) teori neo-liberal, dan (2) teori sosial demokrat. Teori neo-liberal pada intinya mengatakan bahwa komponen penting dari sebuah masyarakat adalah kebebasan individu. Menurut Sherraden (2006) teori tersebut memfokuskan diri pada tingkah laku individu yang merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan kapital manusia (human capital). Para pendukung teori neo-liberal berargumen bahwa, kemiskinan merupakan persoalan individual yang disebabkan oleh kelemahan- kelemahan individu atau pilihan-pilihan individu yang bersangkutan. Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya jika kekuatan-kekuatan pasar diperluas sebesar-besarnya dan pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Strategi penanggulangan kemiskinan bersifat “residual”, sementara, dan hanya melibatkan keluarga, kelompok-kelompok swadaya atau lembaga keagamaan.

Sebaiknya, teori sosial demokrat memandang bahwa kemiskinan bukanlah persoalan individual, melainkan struktural. Kemiskinan disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat akibat tersumbatnya akses-akses kelompok

(37)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

37 tertentu terhadap berbagai sumber-sumber kemasya- rakatan. Meskipun tidak setuju sepenuhnya terhadap sistem pasar bebas, kaum sosial demokrat tidak memandang sistem ekonomi kapitalis sebagai sesuatu yang jahat. Kapitalis masih dipandang sebagai bentuk pengorganisasian ekonomi yang paling efektif.

Kapitalisme perlu dilengkapi dengan sistem negara kesejahteraan agar lebih berwajah manusiawi.

Perbedaan antara kedua teori tersebut disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1: Perbedaan antara teori

C. Cara Pandang Terhadap Kemiskinan

Ada tiga cara pandang untuk memahami suatu

(38)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

38

ideologi, yaitu paham: (1) konservatisme, (2) liberalisme, dan (3) radikalisme (Swasono, 1987).

Kaum konservatif memandang bahwa kemiskinan bermula dari karakteristik orang miskin itu sendiri.

Orang miskin karena tidak mau bekerja keras, boros, tidak mempunyai rencana, kurang memiliki jiwa wiraswasta, fatalis, dan tidak ada hasrat untuk berprestasi. Orang miskin karena memiliki budaya kemiskinan yang mencakup karakteristik psikologis, sosial dan ekonomi (Lewis, 1983). Kaum liberal memandang manusia sebagai makhluk yang baik, tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan; sedangkan kaum radikal menekankan peranan struktur ekonomi, sosial dan politik dan memandang sebagai manusia makhluk yang kooperatif, produktif dan kreatif.

Menurut Keban (1994) pandangan konservatif cenderung melihat bahwa program-program pemerintah yang dirancang untuk mengubah sikap mental masyarakat miskin merupakan usaha yang sia- sia karena akan memancing manipulasi kenaikan jumlah kaum miskin. Kaum liberal memandang orang miskin sebagai pihak yang mengalami kekurangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelatihan, pekerjaan dan perumahan yang layak, cenderung merasa optimis dengan kaum miskin dan menganggap mereka sebagai sumberdaya yang dapat berkembang seperti orang-orang kaya. Kaum radikal memandang bahwa kemiskinan disebabkan struktur kelembagaan ekonomi dan politik.

(39)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

39 Cara pandang yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil konvergensi ketiganya karena berbasis pada ilmu penyuluhan pembangunan yang bersifat multidisipliner dan interdisipliner (Slamet, 2003), berpikir sistemik (menyeluruh, mendasar dan mendalam) dan menggunakan kombinasi pende-katan kualitatif dan kuantitatif.

1. Pendekatan Penanggulangan Kemiskinan

Kikis (2003) mengatakan aktivitas utama dari penanggulangan kemiskinan selama ini didominasi oleh dua pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pemenuhan konsumsi perkapita; dan (2) pendekatan yang berbasis keluarga. Pendekatan ini memiliki patokan 8 (delapan) ciri rumahtangga miskin, yaitu: (1) luas lantai rumah kurang dari 8 m2; (2) jenis lantainya tanah; (3) menggunakan air hujan atau dari sumber air tak terlindung sebagai pasokan air bersih; (4) tidak memiliki jamban; (5) tidak memiliki asset; (6) tidak ada ketersediaan lauk pauk, atau ada sedikit lauk pauk tapi tidak bervariasi; (7) tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosial; dan (8) tidak pernah membeli pakaian.

Kedua pendekatan di atas banyak memiliki kelemahan mendasar, yaitu: (1) tidak membuka peluang bagi suara dan aspirasi orang miskin; (2) menimbulkan konsekuensi operasionalisasi teknis kegiatan penanggulangan kemiskinan menjadi pendekatan ekonomi yang bersifat kedermawanan; (3) tidak memiliki kepekaan terhadap keragaman konteks

(40)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

40

wilayah, sektoral maupun kedalaman kemiskinan; (4) tidak bisa diharapkan dapat menyumbang proses demokratisasi; (5) mengingkari persoalan yang menjadi akar masalah.

Suharto (2003) mengemukakan bahwa paradigma baru studi kemiskinan, antara lain: (1) kemiskinan sebaiknya tidak hanya dicermati dari karakteristik orang miskin yang statis, melainkan dilihat secara dinamis; (2) indikator untuk mengukur kemiskinan sebaiknya tidak tunggal, melainkan komposit; (3) konsep kemampuan sosial dipandang lebih lengkap dari pendapatan dalam memotret dinamika kemiskinan; dan (4) pengukuran kemampuan sosial keluarga miskin pada beberapa indikator kunci yang mencakup kemampuan keluarga miskin dalam memperoleh mata pencarian, memenuhi kebutuhan dasar, mengelola aset, berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, serta kemampuan dalam menghadapi guncangan dan tekanan.

Menurut Kikis (2003) paham apapun tentang kemiskinan dan pende-katan apapun dalam penanggulangan kemiskinan tidak akan ada manfaatnya jika tidak menyediakan jaminan bagi penghormatan, perlindungan dan peme-nuhan hak-hak dasar kaum miskin. Dalam perspektif hak, kaum miskin dilihat sebagai manusia yang bermartabat.

Perspektif hak memberi prinsip dasar pendekatan berbasis hak-hak dasar kaum miskin (Dandan dan Rubens, 2001). Hal ini menjadi inisiatif grand-strategy

(41)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

41 dari paradigma baru dalam penanggu-langan kemiskinan. Laode Ida (2002) mengemukakan bahwa, di era desen-tralisasi perlu diintroduksikan skema penanggulangan kemiskinan alternatif terhadap akar penyebab kemiskinan (Gambar 3).

Gambar 3 : Skema Penanggulangan Kemiskinan Dalam Era Desentralisasi

Mencermati beberapa kelemahan paradigma modernisasi dan realitas tingginya jumlah penduduk miskin walaupun telah banyak dilakukan intervensi program penanggulangan kemiskinan, maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini merupakan

(42)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

42

konvergensi paradigma pembangunan berpusat pada manusia (Chamber, 1993) dan paradigma pendidikan kritis (Freire, 2000).

(43)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

43 BAGIAN 4

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8°

lintang selatan dan 116°48' - 122°36' bujur timur. Luas wilayahnya 62 482.54 km². Provinsi Sulawesi Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah dan Provinsi Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat, dan Laut Flores di selatan.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, Provinsi Sulawesi Selatan terbagi atas 21 kabupaten dan 3 kota dengan jumlah penduduk sebanyak 8 032 551 jiwa. Dalam penelitian ini Provinsi Sulawesi Selatan dibagi ke dalam 23 kabupaten kota. Kabupaten Tana Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja dimasukkan dalam kabupaten induknya yaitu Kabupaten Tana Toraja.

B. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat II, pemerintah daerah tingkat II, pakar otonomi daerah, lembaga sosial masyarakat, praktisi

(44)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

44

pembangunan, dan tokoh masyarakat. Sementara data sekunder diperoleh dari BPS Nasional, BPS Provinsi Sulawesi Selatan, BPS Kabupaten dan Kota, Kementrian Keuangan, dan pemerintah daerah tingkat dua.

C. Spesifikasi Model

Model merupakan suatu penjelasan dari fenomena aktual sebagai suatu sistem atau proses, sehingga fenomena aktual direpresentasikan oleh model untuk menjelaskan, memprediksi dan mengontrolnya. Model ekonometrika merupakan gambaran dari hubungan masing-masing variabel penjelas (explanatory variables), terhadap peubah endogen (dependent variables) khususnya yang menyangkut tanda dan besaran (magnitude and sign) dari penduga parameter, sesuai dengan harapan teoritis secara apriori.

Model yang baik haruslah memenuhi kriteria teori ekonomi (theoritically meaningful), kriteria statistika yang dilihat dari suatu derajat ketepatan (goodness of fit) yang dikenal dengan koefisien determinasi (R2) serta nyata secara statistik (statistically significant), serta kriteria ekonometrika yang menetapkan apakah suatu taksiran memiliki sifat- sifat yang dibutuhkan seperti unbiasedness, consistency, sufficiency, dan efficiency. Statistik Dw adalah suatu kriteria ekonometrika yang digunakan untuk menguji taksiran, yaitu menguji validitas dari asumsi autocorrelation (Koutsoyiannis, 1977).

(45)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

45 Model ekonometrika dibedakan atas persamaan tunggal dan persamaan simultan. Persamaan tunggal adalah persamaan dimana peubah terikat dinyatakan sebagai sebuah fungsi dari satu atau lebih peubah bebas, sehingga hubungan sebab akibat antara peubah terikat dan peubah bebas merupakan hubungan satu arah. Sedangkan persamaan simultan adalah suatu persamaan yang membentuk suatu sistem persamaan yang menggambarkan ketergantungan diantara berbagai peubah dalam persamaan tersebut.

Penelitian ini menggunakan model ekonometrika dengan sistem persamaan simultan.

Model sistem persamaan simultan yang dibangun terdiri atas 26 persamaan meliputi; 18 persamaan struktural dan 8 persamaan identitas. Model tersebut dibagi ke dalam tiga blok meliputi blok (1) fiskal, (2) permintaan agregat, dan (3) kinerja perekonomian.

Model ekonometrika dengan sistem persamaan simultan yang dibangun adalah:

I. Blok Fiskal Penerimaan Daerah 1. Pendapatan Asli Daerah

PADit = PAJDit + RETDit + BUMDit + PADLit (1) 2. Pajak Daerah

PAJDit = a0 + a1TPGPDit + a2INVSit + +a3LPAJDit + u1 (2) parameter estimasi yang diharapkan: a1, a2, a3, a4 > 0 3. Retribusi Daerah

RETDit = b0 + b1PDRBit + b2TPGPDit + b3POPit + b4LRETDit + u2 (3)

parameter estimasi yang diharapkan: b1, b2, b3, b4>0

(46)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

46

4. Dana Alokasi Umum

DAUit = c0 + c1PNSit + c2LDKit + c3POPit +c4INFLit + u3 (4)

parameter estimasi yang diharapkan: c1, < 0 ; c2, c3, c4, c5 >0 5. Dana Bagi Hasil

DBHit = d0 + d1POPit ++ d2TRENit + d3INFLit + d4LDBH + u4 (5)

parameter estimasi yang diharapkan: d1, d2, d3 >0

6. Total Penerimaan Daerah

TPDit = PADit + DAUit + DBHit + DAKit + PLDit (6)

Pengeluaran Daerah

7. Pengeluaran Belanja Pegawai

BPGWit = e0 + e1PNSit + e2DAUit + e3TRENit + t + e4LBPGWit+ u 5 (7)

parameter estimasi yang diharapkan: e1, e2, e3, e4 >0 8. Pengeluaran Belanja Barang dan Jasa

BBJit = f0 + f1DAUit + f2DBHit + f3LBBJit + u6 (8) parameter estimasi yang diharapkan: f1, f2, f3, f4 >0 9. Pengeluaran Belanja Modal

BMDit = g0 + g1PADit + g2DBHit + g3DAK it + g4LBMDit u7

(9)

parameter estimasi yang diharapkan: g1, g2, g3, g4 >0 10. Belanja Sosial (BSOS)

BSOSit = h0 + h2PADit + h2LDKit + h3MISKit+ h4TRENit + h5LBLLit + u8 (10)

Parameter estimates of the expected: h1, h2, h3, h4> 0 11. Total Pengeluaran Pemerintah Daerah

TPGPDit = BPGWit + BBJit + BMDit +BSOSit (11)

(47)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

47 II. Blok Permintaan Agregat Daerah

1. Pengeluaran Konsumsi Swasta

KONSit = i0 + i1PDRBit + i2BPGWit + i3INFLit +

i4LKONSit + u9 (12)

parameter estimasi yang diharapkan: i1, i2, i3 , i4 , > 0; i4 < 0 2. Investasi Swasta

INVSit = i0 + i1 BMDit + i2PAJDit + i3 KONSit + i4SBIit + i5LINVSWit + u10 (13)

parameter estimasi yang diharapkan: i1, i3, i5 > 0; i2, i4< 0 3. Ekspor Daerah

EXPDit = j0 + j1NTRPit + j2INFL + j34LEXPDit + u11 (14) parameter estimasi yang diharapkan: j1, j3 < 0; j2, j4 > 0 4. Impor Daerah

IMPDit = k0 + k1NTRPit + k2INVSit + k3LIMPDit + u12 (15) parameter estimasi yang diharapkan: k1, k2, k3 > 0

5. Ekspor bersih

NEXP = EXPDit - IMPDit (16)

III. Blok Kinerja Perekonomian

1. PDRB Sektor Pertanian

PDRBSPit = m0+ m1 INVSit + m2KONSit+ m3LPDRBSPit + u13 (17)

parameter estimasi yang diharapkan: m1, m2 , m3, > 0 2. PDRB Sektor Industri dan Perdagangan

PDRBIPit = n0+ n1 INVSit + n2NEXPit+ n3LPDRBIPit + u14 (18)

parameter estimasi yang diharapkan: n1, , n3, > 0; n2 < 0 3. PDRB Sektor Lainnya

PDRBSLit = o0+ o1PTKNPit + o2INVSit +o3BBTBL it + o4INFit +

o4LPDRBSL it + u15 (19)

parameter estimasi yang diharapkan: o1, o2 , o3, o4, > 0

(48)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

48

4. Produk Domestik Regional Bruto PDRBit

= PDRBSPit + PDRBIP it + PDRBSLit (20) 5. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian

PTKSPit = p0+ p1AKKit + p2INVSit + p3LPTKSPit +u16 (21) parameter estimasi yang diharapkan: p1, p2, p3 > 0

6. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor non Pertanian

PTKNPit = q0+ q1INVSit + q2UMPit + q3SBIit + q4INFLit + q3LPTKNPit + u17 (22)

parameter estimasi yang diharapkan: q1, q5 ,> 0; q2, q3, q4, <0 7. Total Penyerapan Tenaga Kerja

PTKit = PTKSPit + PTKNP (23) 8. Pengangguran

UNEPit= AKKit - PTKit (24) 9. Kemiskinan

MISKit = r

0 + r1IPMit + r2INVSit + r3BSOSit + r4ITKit + r5LMISKit + u

18 (25)

parameter estimasi yang diharapkan: r2, r5> 0; r1, r3, r4 < 0 Keterkaitan antara variabel dalam model dapat dilihat pada Gambar 4.

(49)

MENANGGULANGI KEMISKINAN DI DAERAH

49 Gambar 4 : Keterkaitan antar Variabel Model

Pengeluaran Pemerintah Daerah terhadap Kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan

D. Identifikasi Model

Identifikasi model ditentukan atas dasar ”order condition” sebagai syarat keharusan dan ”rank condition” sebagai syarat kecukupan. Menurut Koutsoyiannis (1977), rumusan identifikasi model persamaan struktural berdasarkan order condition ditentukan oleh:

Gambar

Gambar 1: Dampak Kebijakan Pemerintah dalam  Jangka Pendek
Gambar 2: Dampak Kebijakan Pemerintah dalam  Jangka Panjang
Gambar 3 : Skema Penanggulangan Kemiskinan  Dalam Era Desentralisasi
Tabel 3 Perkembangan Angkatan Kerja  Kabupaten  Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun  2007-2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah, Pertumbuhan Belanja Modal dan Pertumbuhan Ekonomi/PDRB Terhadap Fiscal Stress pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara

Rata-rata modal yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer kelapa sampel perbulan di Pasar Kota Langsa dapat dilihat pada tabel V-3 berikut.. Rata-rata modal tertinggi dikeluarkan

Dengan demikian, asumsinya adalah jika pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran pemerintah berupa belanja modal meningkat akan berdampak pada meningkat pula kesempatan

Dalam penelitian ini pertumbuhan ekonomi Propinsi Jawa Tengah sebagai (Y); stok modal fisik dan modal manusia dilihat melalui : (1) realisasi belanja modal

langsung daerah Kota Semarang, terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa. dan belanja modal.. Proporsi penggunaan belanja tidak langsung

Perbedaan rata-rata aloksi belanja langsung antara kabupaten/kota penghasil migas dengan bukan penghasil migas, tidak menyebabkan kinerja penurunan kemiskinan dan

Analisis Pengaruh Belanja Modal Pemerintah Daerah, Tenaga Kerja Terserap dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Studi Kasus 35 Kabupaten/Kota di

Pengaruh pertumbuhan ekonomi, upah minimum, dan rata-rata lama pendidikan terhadap tingkat pengangguran terbuka kebupaten/kota di Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014, dengan menggunakan