• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENERTIBAN PEMANFAATAN

D. Strategi Kebijakan Penertiban Pemanfaatan Ruang

Berkenaan dengan berbagai hal di atas, diperlukan strategi baru agar agenda penertiban pemanfaatan ruang dapat berjalan efektif dan berkontribusi dalam terwujudnya tertib pemanfaatan ruang. Berdasarkan permasalahan umum yang dijumpai pada berbagai wilayah yang menjadi objek audit tata ruang terpilih, maka strategi kebijakan penertiban pemanfaatan ruang dibedakan ke dalam aras regulasi, SDM dan kelembagaan serta pembiayaan.

1. Penguatan Regulasi. Penguatan regulasi merupakan strategi utama untuk mendorong terselengaranya agenda penertiban pemanfaatan ruang. Audit tata ruang yang menjadi titik masuk dalam penindakan dan penertiban pemanfaatan ruang belum secara masif ditindaklanjuti.

Kondisi ini terjadi karena secara nasional maupun daerah belum ada regulasi yang dijadikan dasar operasional penindakan dan penertiban.

Oleh karena itu, perlu adanya regulasi pada level peraturan Menteri dan peraturan daerah pada level daeragh terkait pedoman teknis penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;

2. Penguatan SDM PPNS Penataan Ruang. Secara teknis kapasitas dan kompetensi PPNS Penataan Ruang dapat dikatakan sudah memadai, tetapi secara politis belum. Kedudukan PPNS Penataan Ruang sebagai bagian dari OPD di wilayah kabupaten/kota maupun provinsi berada pada posisi sub ordinat dari kepala daerah. Kondisi seperti ini menyebabkan PPNS Penataan Ruang tidak dapat menjalankan tugas, fungsi dan kewenangannya secara optimal;

3. Penataan Kelembagaan. Dalam hal ini penataan kelembagaan dilakukan diprioritaskan pada pengelolaan SDM, baik SDM PPNS Penataan Ruang maupun SDM penataan ruang secara umum. PPNS Penataan Ruang secara kelembagaan lebih tepat menjadi organ

pemerintah pusat yang ditugaskan di daerah. Untuk memperkuat kinerja PPNS tersebut, pada level provinsi juga ada SDM penataan ruang yang bersifat vertical. Dalam hal ini fungsi penataan ruang (pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan) dapat dimasukkan pada organ pemerintah pusat yang ada di daerah, yakni pada kantor wilayah BPN;

4. Pengalokasian Anggaran Penertiban Pemanfaatan Ruang pada APBD. Selama ini kegiatan terkait penertiban pemanfaatan ruang selalu tergantung alokasi anggaran pada pemerintah pusat melalui Direktorat Penertiban Pemanfaatan Ruang. Oleh karena itu, dibutuhkan political will dari kepala daerah untuk menempatkan agenda penertiban pemanfaatan ruang sebagai agenda prioritas sekaligus mengalokasikan anggaran yang memadai dalam rangka pelaksanaan agenda penertiban.

65 PENELITIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG

6

PENUTUP

67 PENELITIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kondisi kebijakan penertiban pemanfaatan ruang masih berupa regulasi terkait dengan audit tata ruang dan Penyidik Pengawai Negeri Sipil (PPNS), belum menyentuh pada operasionalisasi kegiatan penertiban dan penindakan pelanggaran pemanfaatan ruang;

2. Implementasi kebijakan penertiban pemanfaatan ruang dalam beberapa aspek sudah cukup memadai, seperti dalam dalam bentuk sosialisasi, pembinaan maupun alokasi anggaran kepada beberapa pemerintah daerah untuk kegiatan audit tata ruang. Namun beberapa aspek masih berupa implementasi simbolik, terutama dalam implementasi penertiban pasca audit tata ruang.

3. Agar dapat berjalan dengan baik, agenda penertiban pemanfaatan ruang perlu diperkuat melalui berbagai kebijakan yang lebih operasional sebagai tindaklanjut hasil audit tata ruang serta penataan kelembagaan terkait penertiban pemanfaatan ruang.

Beberapa strategi yang dapat dikedepankan agar agenda penertiban pemanfaatan ruang dapat berjalan dengan baik adalah: (a) penguatan regulasi; (b) penguatan SDM yang terkait dengan agenda penertiban dan penindakan pelanggaran tata ruang; (c) penataan kelembagaan, baik terkait PPNS maupun penempatan fungsi penataan ruang pada Kanwil BPN Provinsi; serta (d) pengalokasian anggaran penertiban pemanfaatan ruang, baik melalui APBN maupun APBD.

B. Rekomendasi

1. Berdasarkan hasil riset ini perlu dilakukan kajian atau langsung dilakukan penataan kelembagaan terkait agenda penertiban pemanfaatan ruang, utamanya keberadaan PPNS Penataan Ruang;

2. Hasil riset ini belum merepresentasikan implementasi kebijakan penertiban pemanfaatan ruang, mengingat cakupan wilayah dan

ketersediaan datanya sangat terbatas. Oleh karena itu hasil penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan dengan lingkup wilayah yang lebih luas dan dengan data yang lebih beragam.

3. Penguatan regulasi untuk mendorong terselenggaranya agenda penertiban pemanfaatan ruang perlu dibuat dalam bentuk Peraturan Menteri dan peraturan pada level daerah terkait pedoman teknis penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;

4. Penguatan SDM PPNS Penataan Ruang bisa dilakukan dengan penataan kelembagaan, yaitu dengan adanya penempatan PPNS dan fungsi penataan ruang pada Kanwil BPN Provinsi. PPNS Penataan Ruang secara kelembagaan lebih tepat menjadi organ pemerintah pusat yang ditugaskan di daerah;

5. Pengalokasian Anggaran Penertiban Pemanfaatan Ruang pada APBD perlu dilakukan karena selama ini kegiatan terkait penertiban pemanfaatan ruang selalu tergantung alokasi anggaran pada pemerintah pusat melalui Direktorat Penertiban Pemanfaatan Ruang.

69 PENELITIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG

DAFTAR PUSTAKA

71 PENELITIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG

DAFTAR PUSTAKA

Ahluwalia, I. J., & Kanburand, R. (2011). Planning for urban development in India. ICRIER Paper, Indian Council for Research on International Economic Relations (ICRIER), New Delhi.

Ahsan, R., & Quamruzzaman, J. M. (2009). Informal housing and approaches towards the low-income society in developing countries (Doctoral dissertation, TASA).

Alterman, R. (2014). Planning laws, development controls, and social equity:

Lessons for developing countries. World Bank Legal Rev., 5, 329.

Dethier, J. J. (2017). Trash, cities, and politics: Urban environmental problems in Indonesia. Indonesia, (103), 73-90.

Dinas Tata Ruang dan Pertanahan Kabupaten Gunung Kidul, (2019). Laporan Akhir Audit Tata Ruang. Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul. Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ditjend Penataan Ruang. tt. Manual Membaca Rencana Tata Ruang Wilayah.

Kementerian

Freire, M. (2006, August). Urban planning: Challenges in developing countries.

In International congress on human development, Madrid.

Hadimoeljono, B. (2013). “Pengendalian Pemanfaatan Ruang: Mencari Kelembagaan Pemanfaatan Ruang yang Efektif” dalam Buletin Tata Ruang dan Pertanahan. Edisi II Tahun 2013. Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas. Jakarta.

Hadi Sabari Yunus, (2000). Struktur Tata Ruang Kota. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta.

Mutaáli, L. (2013). Penataan Ruang Wilayah dan Kota. Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG) Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

___________, (2014). Perencanaan Pengembangan Wilayah Berbasis Pengurangan Resiko Bencana. BPFG UGM. Yogyakarta

Roy, A. (2009). Why India cannot plan its cities: Informality, insurgence and the idiom of urbanization. Planning theory, 8(1), 76-87.

Server, O. B. (1996). Corruption: A major problem for urban management:

Some evidence from Indonesia. Habitat International, 20(1), 23-41.

Sutaryono, (2007). Dinamika Penataan Ruang dan Peluang Otonomi Daerah.

TuguJogja Grafika. Yogyakarta.

________, (2016). “Quovadis Integrasi Agraria dan Tata Ruang”. Opini Harian KOMPAS, 29 Agustus 2016, Jakarta.

________, (2017). Alternatif Penyelesaian Permasalahan Penataan Ruang Berbasis Land Management. Jurnal Pertanahan Volume Nomor 1, November 2017, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

_________, (2017). “Tata Ruang Vs Tata Uang”. Analisis Harian Kedaulatan Rakyat, 9 November 2017. Yogyakarta.

________, (2019). “Percepatan RDTR”. Opini Harian Kedaulatan Rakyat, 11 Nopember 2019. Yogyakarta.

SUTARYONO ARSAN NURROKHMAN

PENELITIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG

PUSLITBANG ATR/BPN PRESS 2020

PENELITIAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG