BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.6 Produk Perusahaan
PT. Prima Karya Manunggal bergerak pada industri semen yang menghasilkan diantaranya:
1. Penjualan / Distributor Semen Bag dan Curah 2. Penjualan Ready Mix Concrete
3. Unit usaha Transportasi
4. Unit usaha Workshop dan Pabrikasi
5. Unit usaha kontraktor / Sipil dan Cleaning Service 6. Unit usaha alat berat dan Tambang.
KONSTRUKSI DIVISI OPERASI DIVISI READY MIX
SEI PAJAK SEI PENJUALAN SEMEN SUL SEL
10
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Batching plant dan Ready Mix
Ready mix concrete adalah istilah beton yang siap pdigunakan tanpa perlu lagi proses pengolahan dilapangan. Beton adalah campuran antara semen Portland atau semen Hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar, dan air dengan atau tanpa bahan tambah membentuk massa padat. Pelaksanaan produksi beton read y mix tak lepas dari sebuah perencanaan. yaitu perlu diperhatikan perhitungan untuk memperoleh adukan beton yang baik dan sesuai dengan mutu yang diinginkan.
Sebelum melakukan produksi besar dilakukan Perencanaan campuran beton yaitu Trail mix berdasarkan SNI 03-2834-2000 tentang Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Pelaksanaan campuran beton (trial mix) bertujuan untuk menyederhanakan variasi komposisi campuran yang dilakukan dalam percobaan nanti dan menentukan penggunaan kebutuhan air pencampur sehingga mudah untuk dikerjakan.
Batching plant merupakan alat yang mencampur atau memproduksi beton ready mix dalam produksi besar. Batching plant digunakan agar produksi beton tetap dalam kualitas baik sesuai standar, nilai slumpt test dan strength ability sesuai apa yang diharapkan. Pengadukan beton ready mix dilakukan pada concrete mixer truck. Semua material yang akan diaduk sebelumnya ditimbang sesuai mix design dengan memperhitungkan kandungan air dalam material, baik dalam agregat kasar (chipping dan split) maupun agregat halus (pasir).
11 3.1.1 Bagian-bagian Batching Plant
Adapun bagian-bagian batching plant antara lain:
1. Cement silo, untuk menyimpan semen. Dengan demikian, kualitas semen dapat terjaga.
2. Belt conveyor, untuk menarik material agregat kasar dan halus dari bin menuju ke storage bin untuk kemudian akan diolah dan diaduk bersama material lainnya.
3. Bin, tempat pengumpulan material dari base camp memakai wheel louder.
Jadi, agregat kasar dan halus akan di tarik
4. Storage bin, pemisah agregat menjadi butir kasar (split), butir menengah (chipping), dan butir halus (pasir).
5. Timbangan, ada 3 yaitu untuk agregat, semen dan air.
6. Dosage pump, pompa untuk penambahan bahan admixture seperti retarder (zat kimia untuk memperlambat proses ikatan campuran beton)
7. Water tank , tempat penampungan air.
8. Crusher, adalah mesin penghancur batu
3.1.2 Alat-Alat Berat Yang Dibutuhkan Dalam Batching Plant Adapun alat-alat yang dibutuhkan dalam batching plant yaitu:
1. Dump Truck, Alat ini berfungsi unluk mengangkut bahan atau material, yaitu agregat kasar dan agregat halus dari tambang menuju ke batching plant.
2. Wheel Loader, Hampir sama dengan fungsi dump truck, wheel loader juga untuk mengangkut bahan material agregat kasar dan halus dari tempat penumpukkan material menuju ke bin. Wheel loader memiliki buket untuk
12
membawa material dan bergerak dengan menggunakan roda karet. Alat ini memiliki mobilitas yang cepat.
3. Cement Truck, Sesuai dengan namanya, alat ini berfungsi sebagai pengangkutan semen curah dari pabrik ke base camp.
4. Concrete Mixer Truck, Alat ini berupa kendaraan truk khusus yang dilengkapi dengan concrete mixer yang berfungsi untuk mengaduk atau mencampur beton ready mix. Alat ini sering pula disebut molen, karena bentuknya yang hampir mirip dengan kue molen. Selama pengangkutan mixer akan terus berputar dengan kecepatan 8-12 putaran per menit agar beton tetap homogen, dan beton tidak mudah mengeras. Kinerja concrete mixer truck diawali dengan berputarnya drum yang didalamnya terdapat bilah-bilah baja. Drum ini akan selalu berputar perlahan dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam baik saat menuju lokasi proyek. Perputaran ini bertujuan agar tidak mengalami pergeseran atau pemisahan agregat, sehingga adukan tetap homogen. Sehingga mutu beton akan selalu terjaga sesuai dengan kebutuhan dan standar.
3.2 Alur Proses Produksi dibagian Batching Plant
Proses produksi adalah suatu kegiatan yang menggabungkan berbagai faktor produksi yang ada dalam upaya menciptakan suatu produk, baik itu barang dan jasa yang memiliki manfaat bagi konsumen. Sehingga alur produksi dapat diartikan tahapan atau urutan dalam suatu kegiatan yang menggabungkan berbagai faktor produksi yang ada dalam upaya menciptakan suatu produk baik barang ataupun jasa yang memiliki manfaat bagi konsumen.
13 3.2.1 Bahan Baku Material
Bahan baku yang tepat untuk digunakan dalam proses produksi cor beton curah siap pakai, adalah: chipping dan split (agregat kasar), pasir (agregat halus), aditif, air dan semen.
1. Material Agregat chipping, split, dan pasir diperoleh dari tambang dan bank agregat yang mengisi paling banyak sekitar 60% sampai 75% dari volume Ready mix concrete.
2. Bahan kimia Additive adalah zat kimia padat atau cair yang dapat ditambahkan ke Ready mix concrete sebelum atau selama persiapan pengolahan. Yang biasa digunakan untuk meningkatkan daya tahan beton, mengeraskan atau mengurangi kadar air dalam beton.
3. Material Air, Air ini adalah cairan campuran yang sangat penting untuk menetapkan reaksi kimia ketika semen telah dicampurkan.
4. Material Semen, tidak ada bahan lain yang melebihi pentingnya dari bahan semen dalam proses produksi readymix concrete ini, karena semen ini yang memberikan ketahanan pada beton nantinya. Dan semen yang digunakan adalah Semen Tonasa.
3.2.2 Pengolahan Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan adalah batu gunung dan batu sungai, adapun tahap pengolahannya sebagai berikut:
1. Proses Basah (pencucian pasir)
a. Sirtu (pasir dan batu) diambil di storage kemudian dipindahkan ke mesin pencuci menggunakan dump truck.
14
b. Sirtu (pasir dan batu) kemudian disaring dipisahkan dari batu besar dan kerikil.
c. Hasil saringan dicuci dari sirtu menjadi kerikil dan pasir.
d. Hasil saringan batu besar selanjutnya diproses di mesin crusher.
e. Disimpan ke stock pile.
2. Proses Pemecahan batu besar (Stone crusher)
a. Batu berukuran besar akan masuk ke pemecah batu pertama melalui vibrating feeder.
b. Kemudian dikirimkan ke mesin crusher pemecah impact.
c. Hasil batu yang dipecah kemudian akan dikirim ke mesin getar berputar untuk kemudian menjadi batu kecil sesuai ukuran dan dikirimkan ke tumpukan (pile) yang berbeda-beda.
d. Batu besar dipecah menjadi tiga bagian yaitu Split ukuran 2,5 - 3 cm, Chipping ukuran 2cm, dan Pasir
e. Selebihnya hasil pembuangan menjadi lumpur kemudian dialirkan ke danau buatan khusus penanganan limbah cair yang telah dibuat.
3.2.3 Tahapan-Tahapan Pelaksanaan Ready Mix 1. Tahap pertama operator menyalakan mesin.
2. Operator menakar dan memasukkan bahan agregat ke tungku berjalan yang telah disiapkan kemudian dimasukkan ke concrete mixer.
3. Menambahakan material semen pada concrete mixer yang telah di sediakan.
15
4. Menambahkan material air dan zat adiktif. Didalam concrete mixer semua bahan dicampurkan dan menjadi cor beton.
5. Ready mix concrete sudah jadi. Kemudian dikirim ke lokasi proyek cor beton.
3.2.4 Komposisi Takaran
Adapun takaran komposisi yang digunakan pada ready mix, sebagai berikut:
Tabel 3.2 Data Komposisi Jenis Mutu Ready Mix
3.2.5 Tahap Pelaksanaan Trial Mix
Trial mix ini dilakukan sesuai dari permintaan konsumen jika ingin menguji kualitas mutu dari produk itu sendiri. Maka perusahaan menyediakan tempat untuk melakukan pengujian ini. Dalam pelaksanaan trial mix benda uji dibuat dengan komposisi yang berbeda sesuai dengan jenis mutu. Untuk perbandingan di buat beberapa buah benda uji agar dapat diketahui perbandingannya. Pengujian kuat tekan beton yang paling sesuai dilakukan pada umur 3, 7, 14 dan 28 hari. Berikut adalah proses pelaksanaannya ;
16 1. Bahan yang digunakan :
a. Semen b. Pasir c. Split d. Chipping e. Zat adittive f. Air
2. Alat yang digunakan :
a. Cetakan silinder, 15 x 30 cm
b. Tongkat pemadat, diameter 16 mm dan panjang 60 cm dengan ujung dibulatkan.
c. Gerobak pengaduk beton kedap air d. Timbangan
e. Palu karet f. Sekop g. Ember
h. Sendok perata i. Mistar perata
j. Cetakan berupa kerucut terpancung 3. Tahapan Pelaksanaan
a. Material diambil menggunakan sekop dan dimasukkan ke dalam ember.
b. Material di timbang sesuai dengan takaran komposisi dan jenis mutu.
c. Material dimasukkan dan dicampurkan ke dalam mesin molen.
17
d. Setelah itu campuran material beton dipindahkan ke gerobak.
e. Melakukan Pengujian tinggi slump dengan menggunakan cetakan kerucut (ketentuan tinggi slump bisa berubah tergantung permintaan konsumen).
Jika saat pengukuran tinggi slump tidak sesuai maka ditambahkan zat additive.
f. Setelah campuran beton memenuhi syarat uji slump yang telah ditetapkan, kemudian campuran beton tersebut dituangkan ke dalam cetakan.
g. Mengisi cetakan silinder sampai penuh dengan campuran beton dalam 3 lapis. Setiap lapis dipadatkan dengan menggunakan tongkat pemadat sebanyak 25x tusukan secara merata.
h. Setelah selesai pemadatan, ketuklah sisi takaran perlahan-lahan dengan menggunakan palu karet sampai tidak tampak gelembung-galembung udara pada permukaan serta rongga-rongga bekas tusukan tertutup.
i. Ratakan permukaan benda uji dengan mistar perata.
j. Diamkan selama 24 jam.
k. Lepaskan beton curah dari cetakan silinder
l. Beton silinder direndam sampai umur 7, 14, 28 hari.
m. Setelah direndam beton silinder diberi capping cetakan/pengalas pada bagian atas yang berbahan sulfur/belerang.
n. Kemudian melakukan uji daya tekan beton silinder (strength test) dengan cara :
1) Ambillah benda uji/beton silinder yang akan diuji.
2) Bersihkan dari kotoran yang menempel dengan kain lembab.
18 3) Tentukan berat dan ukuran benda uji.
4) Lapisi permukaan atas bawah benda uji.
5) Letakkan benda uji pada mesin tekan.
6) Jalankan mesin tekan dengan penambahan beban yang konstan berkisar antara 2 - 4kg/cm² per detik
7) Lakukan pembebanan sampai uji menjadi hancur dan catatlah beban maximum selama pemeriksaan benda uji.
3.3 Perawatan Pada Batching Plant
Perawatan di suatu industri merupakan salah satu faktor yang penting dalam mendukung suatu proses produksi yang mempunyai daya saing di pasaran.
Oleh karena itu proses produksi harus didukung oleh peralatan yang siap bekerja setiap saat dan handal. Untuk mencapai hal itu maka peralatan-peralatan penunjang proses produksi ini harus selalu dilakukan perawatan yang teratur dan terencana.
Adapun perawatan yang dilakukan pada mesin-mesin yang ada pada batching plant: Perawatan secara preventif yaitu pemberian oli dan pembersihan setiap selesai menggunakan mesin untuk mencegah kemacetan dalam proses produksi dan mencegah sebelum terjadi kerusakan.
Perawatan korektif, dilakukan setelah kerusakan terdeteksi dan bertujuan untuk memulihkan mesin ke kondisi prima untuk beroperasi sesuai fungsinya.
Perbaikan tepat waktu atas kesalahan yang diketahui akan mengurangi kemungkinan kerusakan darurat dan biasanya diwajibkan oleh peraturan.
19 3.4 Flow Chart Proses Produksi
1. Diagram Alir Proses Produksi Ready Mix
B.
Gambar 3. 3 Diagram Alir Proses Ready Mix Sirtu
20 2. Diagram Alir Proses Produksi Trial Mix
Gambar 3. 4 Diagram Alir Proses Trial mix Dimasukkan ke
dari cetakan Beton direndam
Beton dikeringkan
21
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil kerja kuliah praktek atau KKP dapat kami simpulkan bahwa, proses yang dilakukan dalam pembuatan cor/beton yang berkualitas mulai dari pemilihan bahan baku cor hingga pemaksimalan ketahan pada cor.
1. PT. Prima Karya Manunggal adalah salah satu anak perusahaan dari PT.
Semen Tonasa yang semula hanya bergerak di bidang pendistribusian semen dan pada akhirnya telah berkembang dan saat ini telah memilki 6 bidang usaha yaitu; Batching plant dan Ready mix, perdagangan, transportasi, pertambangan, kontraktor dan pengembang, juga fabrikasi.
2. Dalam pembuatan produk di bagian batching plant, bahan baku utamanya adalah semen, split, chipping, pasir, adiktif dan air yang dicampur menjadi satu sesuai takaran dan komposisi yang kemudian dimasukkan kedalam Truck Mixer yang kemudian melakukan pengantaran ke konsumen atau tujuan pengecoran.
3. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk menjaga ketahanan umur mesin mesin pada bagian batching plant yaitu perawatan preventif dan perawatan korektif dan proses yang dilakukan dalam pembuatan cor\beton yang berkualitas mulai dari pemilihan bahan baku cor hingga pemaksimalan ketahan pada cor.
22 4.2 Saran
1. Untuk menjaga keselamatan kerja dilapangan, terutama dibagian mesin crusher sangat perlu menggunakan APD.
2. Perlunya ada bimbingan atau pantauan dalam rangka melaksanakan praktek kerja industri agar mahasiswa diberi petunjuk dan dan paham akan langkah kerja pada tiap area pabrik.
23
DAFTAR PUSTAKA
Basiron, Y. 2005. Palm Oil. In: Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. 6th ed.
Ed. F. Shahidi. A John Wiley & Sons, Inc. New Jersey.
Kartika, D. 2016. Pengantar Input Output
Belladwiblog.worpress.com/2016/05/08/pengantar-input-output/
Diakses pada tanggal 19 April 2021.
Ryan, T. 2018. Batching Plant. http://etd.repository.ugm.ac.id/home/
Diakses pada 12 Mei 2021.
Wiratmahayadi, A. 2017. SDM. Information Book PT. Prima Karya Manunggal : Pangkep.
Risdaa, I. D. 2017. Proposal PKL pada PT. Prima Karya Manunggal, Sekolah Tinggi Teknik Dharmayadi Makassar : Makassar.
24
LAMPIRAN
Area Pabrik PT. Prima Karya Manunggal
Lampiran 1 Batching Plant Lampiran 2 Area Pabrik
Lampiran 3 Mesin Crusher Lampiran 4 Bahan Baku Material
Lampiran 5 Quality Control
25
Proses Trial Mix
Lampiran 6 Proses Pencampuran Lampiran 7 Proses Penuangan
Bahan Kedalam Cetakan
Lampiran 8 Sampel Beton
26
Pengukuran Material Lampiran 9 Pengkuran Sisa Material