• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produk

Dalam dokumen SKRIPSI F BOGOR (Halaman 27-77)

proses pemanasan atau hot holding, produk didinginkan dari suhu 57.220C ke suhu 50C maksimal selama enam jam. Produk pangan segar, seperti telur, daging, atau produk yang mengandung kedua bahan tersebut harus dimasak minimal pada suhu 68.330C selama 15 menit. Untuk produk pangan segar, seperti daging unggas dan produk perikanan atau produk yang mengandung kedua bahan tersebut harus dimasak minimal pada suhu 73.890C selama 15 menit. Walaupun demikian, penggunaan suhu lain dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.

5. Perlindungan terhadap Kontaminasi

Semua produk pangan yang diproduksi, disiapkan, dikemas, disimpan, ditransportasikan, dipajang, dan disajikan harus terhindar dari sumber-sumber kontaminasi. Karyawan juga tidak boleh melakukan tindakan penyalahgunaan atau pemalsuan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Bentuk tindakan penyalahgunaan, yaitu penggunaan bahan beracun dan berbahaya pada produk. Bentuk tindakan pemalsuan, yaitu penukaran, penggunaan, atau pencampuran produk yang tidak layak konsumsi ke dalam produk layak konsumsi.

Karyawan harus melakukan pengecekan terhadap produk dari pemasok terkait sumber perolehan produk, mutu produk, dan kemungkinan terjadinya kontaminasi oleh hama dan kotoran. Beberapa contoh tindakan yang dilarang antara lain penyajian ulang produk pangan dari kemasan aslinya (original packaging), penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang melebihi batas maksimum, dan penggunaan es dari sumber yang tidak higienis.

Peralatan yang kontak langsung dengan makanan merupakan sumber cemaran baik fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Ketiga bahaya tersebut meliputi mikroorganisme, potongan bagian

tumbuhan dan hewan, sisa makanan yang masih melekat, kotoran atau debu, logam yang lepas, minyak pelumas, bahan bakar, dan lain-lain. Karena itu, upaya pembersihan dan sanitasi peralatan memerlukan fasilitas penunjang (bahan sanitaiser dan alat kebersihan) dan metode pembersihan agar dapat berjalan efektif. Kegiatan pembersihan bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa proses pengolahan dan kotoran yang melekat (debu, tanah, dan sebagainya). Untuk mencegah kemungkinan adanya mikroorganisme, setelah proses pembersihan dilakukan tindakan sanitasi menggunakan bahan sanitaiser yang sesuai. Mengingat pentingnya kedua proses ini, maka dapat disusun suatu program pembersihan dan sanitasi yang bersifat rutin dan spesifik berdasarkan bahan dan peralatan yang digunakan, metode dan frekuensi, serta perencanaan tindakan monitoring. Obyek sanitasi sebaiknya dimonitor secara rutin melalui kegiatan inspeksi, pengambilan sampel produk dan peralatan untuk uji mikrobiologi, serta mengkaji hasil uji yang diperoleh untuk mengetahui kondisi lingkungan di sekitar area penanganan produk.

6. Produk Pangan dari Sumber yang Telah Disetujui

Penerimaan produk pangan oleh ritel harus dalam kondisi aman untuk dikonsumsi manusia, tidak mengganggu kesehatan, dan diperoleh dari sumber yang sesuai dengan regulasi keamanan pangan. Produsen pangan perlu memperhatikan hal-hal berikut selama produksi primer berlangsung, seperti pemakaian lahan budidaya yang tidak berpotensi bahaya pada produk, pengendalian sumber kontaminan (termasuk saat penanganan, penyimpanan, dan transportasi produk), penggunaan pestisida yang aman, pencegahan penyakit asal hewan dan tanaman, serta perlakuan pembersihan, pemeliharaan, dan higiene personal selama produksi primer berlangsung (CAC 2003).

7. Kesesuaian dengan Prosedur yang Telah Disetujui

Seluruh proses penanganan produk pangan perlu disusun suatu standar prosedur operasi (SOP) yang telah disetujui manajemen perusahaan. Prosedur tersebut berisi tata cara yang baik dan benar mengenai tahap-tahap kegiatan yang akan dilakukan. SOP perusahaan dapat diterapkan bersamaan dengan prosedur baku lain, seperti HACCP, panduan spesifik terkait metode penanganan produk pangan, dan lainnya. Pelaksanaan prosedur yang tepat dapat meningkatkan mutu produk yang dihasilkan termasuk keefektifan penerapan GRP di dalam gerai.

8. Pemberitahuan Konsumen

Informasi mengenai produk pangan harus disampaikan dengan jujur kepada konsumen agar tidak terjadi penyalahgunaan dan dampak buruk lainnya. Pemberitahuan dapat disampaikan secara lisan oleh karyawan atau melalui tulisan dalam bentuk label atau leaflet. Gerai yang menyediakan jasa pengolahan produk siap konsumsi atau ready to eat wajib memberitahu konsumen terkait tingkat kematangan, proses pengawetan produk (pasteurisasi, sterilisasi, dan sebagainya), penggunaan BTP, serta cara penanganan dan konsumsi produk yang benar.

Tata cara pelabelan tercantum dalam UU Nomor 69 Tahun 1999 dan khusus produk yang dikemas sendiri (prepackaged) tercantum dalam pedoman internasional, yaitu CODEX STAN 1-1985. Label yang tertera dalam bahan pengemas berisi informasi antara lain nama produk, berat produk, tanggal pengemasan, asal pemasok atau distributor, catatan penanganan (kondisi penyimpanan, aturan penanganan yang tepat, dan nama bahan pengawet produk), keterangan sertifikasi produk (HACCP), dan sertifikasi halal untuk produk tertentu. Informasi produk sangat dibutuhkan oleh pihak yang akan menangani atau menyajikan produk, termasuk

konsumen. Tujuannya agar tidak terjadi penyalahgunaan penanganan maupun penggunaan produk yang dapat menurunkan mutu dan membahayakan konsumen.

9. Populasi yang Sangat Rentan

Peredaran produk pangan di industri ritel harus atas izin atau lisensi dari badan pemerintahan atau unit pelayanan kesehatan yang berwenang. Selain itu, penyediaan produk pangan yang akan dijual didasarkan pada pertimbangan khusus mengenai siapa calon konsumennya. Produk yang memiliki risiko tinggi sebaiknya tidak disediakan bagi konsumen antara lain produk siap saji yang menggunakan daging kurang matang, susu dan jus tanpa pasteurisasi, produk yang mengandung telur mentah atau kurang matang, dan produk pangan yang dibuka dari kemasan aslinya.

10. Ketersediaan Air

Ketersediaan air bersih yang cukup untuk kebutuhan gerai ritel harus disediakan dari sumber yang telah dibangun, dipelihara, dan dioperasikan menurut peraturan yang berlaku. Semua sumber air yang berasal dari sumber lain yang belum disetujui pemerintah, harus melewati uji bakteriologi minimal setiap tahun sekali. Uji bakteriologi dilakukan oleh laboratorium terakreditasi dan hasil laporan ditinjau ulang setiap saat. Jika hasil laporan laboratorium menunjukkan bahwa air tidak aman dikonsumsi, pihak gerai harus segera membuat tindakan koreksi atau menyediakan pasokan air yang aman dari sumber lain yang disetujui pemerintah (CAC 2003).

Air bersih yang digunakan oleh industri pengolahan makanan harus bersifat potable atau memenuhi standar air minum. Suplai air terdiri dari dua jenis, yaitu air dingin dan air panas. Air dingin dibutuhkan untuk berbagai keperluan, sedangkan air panas dibutuhkan untuk proses sanitasi peralatan. Suhu air panas minimal sekitar 48.890C (1200F). Selain itu, fasilitas air hangat juga dapat disediakan untuk keperluan cuci tangan dengan suhu air sebesar 37.780C (1000F).

11. Pembuangan Limbah

Hampir sebagian besar limbah padat dan cair dihasilkan selama proses penanganan produk pangan dan kegiatan pembersihan fasilitas dan peralatan pangan. Limbah harus dibuang melalui sistem pembuangan yang dibangun, dipelihara, dan dioperasikan menurut peraturan yang berlaku. Apabila limbah mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun, maka sistem pembuangannya harus terpisah dari sistem pembuangan umum.

12. Pencegahan dan Pengendalian Hama

Hama merupakan binatang atau serangga yang tidak dikehendaki keberadaanya dalam jumlah sedikit atau pun banyak di lingkungan industri pangan. Hama sering kali menyebabkan kontaminasi yang membahayakan dan berpotensi menyebabkan penyakit bahkan kematian. Tindakan pencegahan yang dapat mengurangi risiko infestasi hama antara lain, pembersihan dan sanitasi, inspeksi rutin terhadap penerimaan bahan baku produksi, pengecekan atau pengawasan terhadap sumber pemicu adanya hama, dan menutup segala akses yang dapat dimasuki hama seperti lubang, pintu, jendela, dan ventilasi pada area produksi. Deteksi awal keberadaan hama merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keefektifan langkah pengendalian. Apabila keberadaan hama tidak dapat dihindarkan, perlu dilakukan upaya pembasmian agar hama tidak sempat mengkontaminasi produk.

Tindakan pencegahan dan pengendalian hama saling terkait satu sama lain. Semakin besar tingkat keberhasilan tindakan pencegahan, maka semakin kecil tindakan pengendalian yang dibutuhkan. Dengan ini, industri ritel dapat membatasi penggunaan bahan kimia beracun dan berbahaya untuk membasmi hama. Manfaat lain adalah turut serta menjaga keseimbangan lingkungan.

13. Tindakan Supervisi

Supervisi adalah suatu aktivitas pengawasan yang biasa dilakukan untuk memastikan bahwa suatu proses pekerjaan telah sesuai dengan prosedur baku. Dalam supervisi ini pihak yang melakukan supervisi disebut supervisor. Seorang supervisor dituntut untuk dapat menguasai paling tidak dua hal penting agar proses supervisi bernilai tambah. Hal pertama adalah kemampuan teknis sesuai proses pekerjaan yang ditangani. Hal kedua adalah kemampuan manajemen.

Seluruh kegiatan operasional yang dilakukan di dalam gerai harus dengan sepengetahuan karyawan dan sesuai mandat yang diperintahkan oleh supervisor dan manajer. Walapun proses berjalan otomatis, karyawan tetap tidak boleh meninggalkan lokasi proses. Bersama-sama dengan manajer dan supervisor, karyawan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap seluruh kegiatan operasional. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan proses atau hal-hal lain yang tidak diinginkan.

14. Kebersihan Personal

Manusia merupakan obyek alami yang signifikan bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen. Bagian tubuh yang umum berpotensi mengkontaminasi makanan antara lain kulit, tangan, rambut, mata, hidung, nasofaring, saluran pernapasan, mulut, dan organ ekskresi. Risiko kontaminasi silang dapat dikurangi melalui praktik kebersihan atau higiene personal. Higiene personal berperan penting dalam sanitasi pangan dan menjadi langkah dasar yang harus dilakukan oleh karyawan sebelum bekerja. Higiene personal mengacu pada kebersihan tubuh seseorang selama proses penanganan hingga penyajian makanan. Praktik-praktik higiene personal yang harus dipenuhi karyawan antara lain mandi, potong kuku, merapikan rambut, kumis, dan jenggot sebelum bekerja. Selain itu, seluruh bagian yang kontak langsung dengan makanan juga perlu dilindungi oleh pakaian maupun atribut pelengkap yang bersih.

15. Persyaratan Umum Keamanan Pangan

Ada empat hal yang termasuk persyaratan umum keamanan pangan menurut County of San Bernardino Environmental Health Service. Pertama, tata cara penanganan produk pangan terkait suhu menjadi sangat penting khususnya pada produk pangan segar. Proses pencairan atau thawing produk pangan beku harus dilakukan secara tepat. Thawing dapat dilakukan dengan cara pemanasan, perendaman produk di dalam air yang mengalir, dan penyimpanan pada suhu refrigerasi. Kedua, semua produk pangan yang berbeda jenis (meliputi produk nabati dan hewani, produk segar dan produk olahan, produk pangan dan non pangan) harus dipisahkan satu sama lain untuk mencegah kontaminasi silang. Ketiga, semua produk pangan segar harus dicuci dengan air bersih tepat sebelum proses persiapan untuk diolah. Keempat, bahan-bahan beracun atau toksik diletakkan terpisah pada lemari atau kompartemen penyimpanan. Hal ini bertujuan untuk menghindari tercampurnya kedua bahan tersebut.

Bahan beracun yang digunakan oleh gerai umumnya dibutuhkan untuk proses pemeliharaan fasilitas, pembersihan, sanitasi, dan pengendalian hama. Bahan yang digunakan

untuk pembersihan dan sanitasi antara lain deterjen, sabun, soda kaustik, dan bahan kimia lainnya, sedangkan untuk pengendalian hama antara lain insektisida dan rodentisida. Bahan-bahan tersebut harus diberi label secara jelas dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penggunaan bahan pembersih dan sanitasi pada permukaan yang kontak dengan produk boleh digunakan selama tidak meninggalkan residu yang berbahaya bagi karyawan maupun konsumen. Sedangkan, penggunaan bahan toksik yang berbahaya bagi kesehatan harus berhati-hati agar tidak mencemari peralatan, perlengkapan, dan makanan.

16. Penyimpanan pangan, Pemajangan, atau Pelayanan

Produk pangan segar yang tidak terlindung oleh cangkang atau kemasan dan dimaksudkan untuk dikupas, ditumbuk, atau dikonsumsi langsung oleh konsumen, harus terlindung dari berbagai kontaminasi. Kondisi penyimpanan produk pangan segar, termasuk produk prepackaged perlu diawasi secara ketat. Masing-masing produk tersebut harus disimpan secara terpisah dalam ruangan yang bersih, kering, bebas serangga, infestasi hama, cukup penerangan, peredaran udara, dan suhu yang sesuai. Produk yang disimpan dalam kontainer atau wadah tertentu harus diberi label yang berisi keterangan produk, minimal mencakup nama produk, satuan jumlah atau berat, tanggal penerimaan, dan nama produsen. Produk yang telah di-reject atau recall dan produk “rusak” tidak boleh disimpan bersama dengan produk yang masih baik kondisi mutunya. Khusus produk prepackaged, penyimpanan dengan menimbun produk dalam es tidak boleh dilakukan. Tujuannya untuk menghindari perembesan air ke dalam kemasan produk.

Pemajangan produk pangan segar curah memerlukan tempat atau showcase yang bersih dan telah tersanitasi dengan baik. Produk pangan segar diletakkan secara terpisah dengan produk non pangan. Bagi produk daging segar, tempat pemajangan harus tertutup dan tidak bersifat “self-service”. Penggunaan peralatan pangan, seperti penjepit, garpu, dan sendok untuk mengambil produk pangan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengenai bagian yang kontak dengan makanan.

Industri ritel umumnya menyediakan ruang persiapan di sekitar area penjualan produk pangan segar. Fungsi ruang persiapan, yaitu untuk melayani kebutuhan pelanggan secara cepat terhadap produk-produk yang memerlukan proses tertentu, misalnya pengecilan ukuran atau pembuatan produk olah minimal. Ruang persiapan dilengkapi dengan meja beserta peralatan penunjang antara lain aneka jenis pisau, alas, wadah stirofoam, dan beberapa mesin pengolahan skala rumah tangga (misalnya meat grinder, meat slicer, mesin wrapping, dan meat-bone saw). Untuk mencegah kontaminasi silang, seluruh fasilitas termasuk peralatan pangan harus dibersihkan dan disanitasi secara rutin sesuai prosedur yang berlaku (SOP).

17. Peralatan, Perlengkapan, dan Kain

Peralatan dan perlengkapan untuk memproduksi makanan harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan higiene, antara lain sesuai dengan jenis produksi, permukaan alat yang berhubungan dengan makanan harus mudah dibersihkan, tidak menyerap air, tidak berlubang atau bercelah, tidak mengelupas, tidak mudah berkarat, mudah dibongkar pasang, dan mudah dalam pengoperasiannya.

Alat penerangan, ventilasi, dan alat pengukur suhu merupakan bagian penting suatu industri. Intensitas pencahayaan atau penerangan disesuaikan berdasarkan kebutuhan penggunaan. Area persiapan dan pengolahan produk pangan memiliki kebutuhan penerangan tertinggi, yaitu sekitar 215 lux. Kebutuhan penerangan di suatu tempat semakin besar seiring

dengan banyaknya kegiatan yang melibatkan proses penanganan produk. Ventilasi yang tersedia harus cukup menjamin sirkulasi udara dengan baik sehingga dapat menghilangkan uap, gas, asap, dan panas yang dapat merugikan kesehatan. Pada lokasi tertentu, penggunaan ekshauster dan alat pengatur suhu ruangan dapat digunakan sebagai pengganti fungsi utama ventilasi. Untuk mengendalikan suhu produk selama proses operasi dan pengangkutan, fasilitas pendingin atau pemanas harus dilengkapi dengan alat pengukur suhu atau termometer yang akurat dan mudah terbaca.

Peralatan, perlengkapan, dan kain harus disimpan secara benar di tempat yang bersih dan terlindung dari kontaminasi. Kain yang digunakan untuk menyeka permukaan peralatan perlu diperhatikan kebersihannya sebelum digunakan bekerja. Apabila kain terlihat kotor, lengket, basah, dan terkena material produk atau kotoran, kain harus segera dicuci untuk menghindari kontaminasi silang ke dalam produk pangan.

18. Fasilitas Fisik Bangunan

Lokasi bangunan menentukan seberapa besar kemungkinan terjadinya risiko kontaminasi pada produk pangan. Syarat penting lokasi bangunan adalah harus bebas atau jauh dari pencemaran (polusi). Pencemaran yang dimaksud dapat bersumber dari daerah pembuangan kotoran atau sampah, rawa, perusahaan lain yang menghasilkan limbah berbahaya, rumah atau tempat tinggal padat penduduk, saluran pembuangan air yang tidak baik, dan lain-lain. Seluruh fasilitas fisik bangunan juga harus bersih, terpelihara, dan tidak mudah diakses oleh hama.

Beberapa contoh fasilitas fisik yang berpotensi mengganggu keamanan pangan, yaitu pipa penyaluran air dan limbah, tempat sampah, dan toilet. Pipa penyalur air bersih dan limbah harus memiliki ukuran atau diameter yang sesuai dengan kebutuhan serta dipasang dan dipelihara dengan benar. Konstruksi dan desain pipa dirancang sedemikian rupa agar pipa penyalur air bersih dan pembuangan limbah terpisah satu sama lain. Pasokan air bersih tidak boleh terkontaminasi oleh sumber air lain yang tidak jelas asalnya, limbah, dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Untuk mencegah terjadinya penyumbatan, seluruh bagian saluran pembuangan limbah cair harus dipastikan berfungsi dengan baik dan terbebas dari sampah.

Pengelolaan sampah atau limbah padat dialokasikan di tempat terpisah dari area penanganan bahan baku dan produk. Selain itu, lokasi pengelolaan sampah dirancang agar tidak mudah diakses oleh hama. Wadah penampung limbah padat atau sampah harus yang bersifat tahan lama, mudah dibersihkan, tahan hama, tidak bocor, dan tidak menyerap cairan. Wadah juga harus tertutup rapat untuk mencegah timbulnya bau yang tidak sedap dan infestasi hama. Penggunaan tas plastik dapat dikombinasikan di dalam wadah penampung sampah. Pembuangan sampah harus dilakukan secara rutin sehingga akumulasi sampah yang berlebihan tidak terjadi di dalam wadah penampung.

Toilet merupakan salah satu fasilitas vital yang harus disediakan oleh gerai dalam jumlah yang memadai. Fasilitas toilet harus menunjang kebutuhan karyawan, mudah diakses, dan mudah dibersihkan. Ruang toilet sebaiknya dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan selalu dalam keadaan tertutup. Pembersihan fasilitas toilet perlu dilakukan secara rutin untuk mencegah timbulnya bau yang tidak sedap.

19. Fasilitas Makanan Permanen

Fasilitas makanan permanen harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan higiene, yaitu sesuai dengan jenis makanan yang diproduksi, mudah dibersihkan, mudah dilaksanakan tindakan sanitasi, dan mudah dipelihara. Desain dan tata letak

diatur sesuai dengan urutan proses produksi agar lalu lintas kerja tidak simpang siur dan memudahkan proses pengecekan selama kegiatan operasional berlangsung.

Dinding, langit-langit, dan lantai merupakan faktor penting yang mempengaruhi kebersihan ruangan dan keamanan pekerja. Menurut BPOM RI (1996), konstruksi dinding harus memenuhi syarat sebagai berikut: permukaan halus, rata, berwarna terang, tahan lama, dan mudah dibersihkan. Pertemuan antara dinding dengan dinding dan antara dinding dengan lantai tidak boleh membentuk sudut mati, harus melengkung, dan kedap air. Persyaratan untuk langit-langit antara lain tinggi langit-langit dari lantai minimal 3 meter, permukaan halus dan rata, berwarna terang, dan tidak mudah mengelupas. Lantai dipilih yang tahan terhadap air, garam, basa, asam, atau bahan kimia lainnya, permukaannya halus, tidak licin, dan mudah dibersihkan.

Secara umum, pemilihan desain dan materi didasarkan pada kemudahan dalam pembersihan dan tindakan sanitasi, serta upaya pemeliharaan. Tindakan pembersihan dan sanitasi secara rutin merupakan suatu upaya pemeliharaan yang bertujuan untuk menghindari akumulasi kotoran, debu, dan infestasi hama.

20. Syarat Tanda (Signs Requirements)

Syarat tanda yang termasuk penerapan GRP adalah tanda pengenal yang dikenakan karyawan selama bekerja dan hasil laporan inspeksi sebelumnya. Tanda pengenal (ID Card) diberikan kepada karyawan yang telah menjalani masa pelatihan atau training selama waktu tertentu.

21. Pemenuhan dan Pelaksanaan (Compliance and Enforcement)

Kegiatan ini mencakup beberapa hal antara lain penyediaan surat izin bagi pendirian bangunan gerai dan prosedur tata cara penggunaan gerai (misal: penutupan seluruh fasilitas gerai saat tidak beroperasi); penyediaan toilet bagi gerai yang dilengkapi area sejenis kantin atau restoran; peninjauan rencana perbaikan atau pengadaan fasilitas gerai yang baru; prosedur pemusnahan produk pangan yang disalahgunakan atau cacat; penyitaan produk, peralatan, atau perlengkapan yang diduga sebagai penyebab kontaminasi, tidak dipelihara, tidak tersanitasi, atau mengeluarkan residu berbahaya; dan pencabutan izin dengan sistem pengskorsan bagi ritel yang berkategori “closure”

E. PEDOMAN INSPEKSI GRP

Pedoman pemeriksaan merupakan “guide line” bagi aktivitas pemeriksaan. Dalam kaitannya dengan keinginan perusahaan untuk menerapkan Pengendalian Mutu Terpadu, pedoman pemeriksaan merupakan satu bagian dari pedoman mutu perusahaan. Pedoman ini harus diikuti oleh semua tingkatan karyawan di bagian pemeriksaan dan harus disetujui oleh manajemen yang bertanggung jawab atas kegiatan ini (biasanya Manajer Quality Control atau Manajer Quality Assurance). Umumnya, pedoman pemeriksaan berisi organisasi (struktur organisasi, deskripsi tugas, dan tata kerja), konsep umum pemeriksaan yang digunakan perusahaan (acuan standar yang digunakan, seperti SNI atau teknik yang telah dikembangkan sendiri), klasifikasi cacat, standar sampling, dan prosedur-prosedur (SOP). Aturan atau teknik dokumentasi yang baik sangat diperlukan supaya tidak timbul permasalahan berkaitan dengan pelaksanaan pedoman (Kadarisman dan Muhandri 2008).

Food and Drug Administration (FDA) telah menyediakan suatu standar keamanan pangan yang berguna bagi program inspeksi di industri ritel. Standar tersebut dikenal dengan nama Food Code. Tujuannya untuk meningkatkan keamanan pangan dan mencapai derajat keseragaman yang

tinggi terkait hasil inspeksi di seluruh negara bagian di Amerika serikat. Keseragaman yang dimaksud mencakup persyaratan dan cara penegakan hukum di pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal yang mengatur sanitasi dalam industri ritel pangan.

Berbagai metode inspeksi telah dikembangkan oleh inspektor pangan. Parameter penilaian mengacu pada praktik-praktik sanitasi yang dijelaskan sesuai Food Code. Penyusunan metode inspeksi perlu mempertimbangkan kondisi kebanyakan industri ritel yang ada. Kini, metode inspeksi yang tersedia di Amerika Serikat merupakan hasil pengembangan dari departemen masing-masing negara bagian beserta dinas-dinas di wilayah tersebut. Sebagai contohnya adalah metode inspeksi milik County of San Bernardino Environmental Health Service dan Departemen Pertanian Negara Bagian Tennessee.

1. County of San Bernardino Environmental Health Service

San Bernardino merupakan salah satu kota di negara bagian California, Amerika Serikat yang telah menjalankan kegiatan inspeksi bagi industri ritel. Program inspeksi dilaksanakan oleh dinas kesehatan masyarakat setempat dalam upaya penjaminan keamanan produk pangan eceran. Dinas kesehatan masyarakat bekerjasama dengan industri makanan dalam rangka menciptakan mutu hidup yang baik, meningkatkan kesehatan dan keselamatan publik, serta mencegah bahaya

Dalam dokumen SKRIPSI F BOGOR (Halaman 27-77)

Dokumen terkait