• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produk Tambahan ( Augmented products )

Yang dibeli konsumen dari suatu produk adalah manfaat yang diperoleh dari

produk tersebut bukan semata wujud fisiknya. Salah satu perhatian penting dari

para pemasaran dalam menawarkan suatu produk adalah tingkat produk, dimana

salah satu tingkatannya adalah produk tambahan (augmented products).

Terdapat beberapa defenisi augmented products menurut para ahli:

Augmented products merupakan kombinasi yang baik antara core products dengan

suplementary services (Lovelock dan Cristoper, 2001:98).

Augmented products yaitu produk fisik, jasa dan manfaat tambahan

yang disertakan pada penawaran produk untuk memuaskan kebutuhan

tambahan dan/atau untuk mendiffrensiasikan produk dari produk pesaing

(Tjiptono,2005:92).

Augmented products merupakan penawaran layanan dan manfaat yang

rumit yang dapat memuaskan kebutuhan mereka. Ketika merancang produk,

para pemasar harus mengidentifikasi kebutuhan inti konsumen yang akan

dipenuhi. Kemudian mereka mendesain produk aktual dan mencari cara untuk

menambah manfaat produk tersebut untuk menciptakan paket manfaat yang

paling memuaskan konsumennya.`

Dalam aplikasinya, augmented products yang di tawarkan berbeda beda

sesuai dengan produk inti (core products) yang ditawarkan suatu perusahaan.

Berdasarkan pendekatan multi level yang dikembangkan oleh kothler dananderson

(dalam Tjiptono, 2006:192)

Core product level, berupa kebutuhan dasar yang dipuaskan suatu produk.

1. Tangible product level. Produk inti (core products) direalisasikan dan

ditawarkan kepada konsumen dalam berbagai bentuk fisik yang tercermin

dalam karakteristik, model, kemasan, nama merk dan tingkat kualitas

produk.

2. Augmented products level, yaitu produk fisik, jasa, dan manfaat tambahan

yang disertakan pada penawaran produk untuk memuaskan kebutuhan

tambahan dan/atau untuk mendiffrensiasikan produk dari produk pesaing.

Banyak diantara karakteristik produk tambahan ini sebagian besar berupa

jasa seperti layanan pembelian, purna beli, garansi dan lain-lain.

Sebagian besar analisis terhadap penawaran jasa mendapati bahwa faktor

intangibility dan inseparability menyebabkan aplikasi tiga level generik penawaran

produk kurang bermanfaat pada penawaran jasa,

Alternatif lain pada penawaran jasa menggunakan dua komponen utama

(Tjiptono:2005:93):

Jasa inti (Core service) yang mencerminkan manfaat inti

Jasa sekunder (Secondary services) yang mencerminkan tangible dan augmented

products level.

Augmented products membutuhkan kombinasi antara unsur-unsur berwujud

dan tidak berwujud, agar manfaat inti yang ditawarkan dapat dikenali dan dipahami

dengan mudah oleh konsumen. Dalam praktiknya, unsur-unsur berwujud jauh lebih

konsumen. Masalah lain dalam pemasaran jasa menyangkut karakteristik tidak

terpisahkannya antara produksi dan konsumsi.

Augmented products dapat dianalisis berdasarkan sejumlah elemen (Tjiptono,

2005:94) sebagai berikut:

1. Fitur (Features)

Dalam produk fisik, fitur merupakan komponen-komponen spesifik produk

yang dapat ditambahkan atau dikurangi tanpa mengubah karakteristik esensial

produk tersebut. Fitur ditambahkan atau dikurangi sedemikian rupa sehingga

perusahaan dapat menghasilkan serangkaian produk yang memiliki daya tarik

yang berbeda, bagi sejumlah segmen pasar yang berbeda.

2. Styling

Styling berarti memberikan penampilan unik pada produk. Styling pada jasa

tidak hanya penampilan pada unsur-unsur berwujud, tetapi termasuk pula

unsur-unsur tidak berwujud. Dalam kaitannya dengan karakteristik

inseparability, relasi dan interaksi antara pelanggan dengan penyedia jasa

sangat penting dalam menentukan keberhasilah pemasaran jasa. Sebagai

contoh ada beberapa perbedaan style antara restoran Mcdonald, KentuckyFried

Chicken, dan Burger King, meskipun ketiganya berkecimpung dalam bisnis

makanan siap saji.

3. Kemasan

Unsur tidak berwujud dalam jasa tidak bisa dikemas seperti halnya produk fisik

yang menggunakan pembungkus untuk melindungi produk dan sekaligus

dapat dikemas seperti halnya produk fisik. Kemasan yang baik dapat

memudahkan konsumsi jasa, misalnya desain wadah bisa mempermudah

penanganan jasa dalam kemasan jasa perhotelan juga bisa dikemas seperti hotel

menyediakan pemesanan kamar, ball room via telepon, pemesanan online.

4. Merek

Pada prinsipnya, tujuan penggunaan merek untuk mengidentifikasikan produk

sebagai hak milik atau kepunyaan organisasi tertentu dan untuk memfasilitasi

diferensiasi suatu produk dari produk pesaing.

5. Bukti fisik

Bila para produsen barang cenderung memasukkan jasa/layanan tambahan

dalam augmented products mereka, maka sebaliknya tidak sedikit pemasar jasa

justru mendiferensiasikan jasanya daru para pesaing dengan jalan

menambahkan karakteristik fisik, seperti desain brosur, seragam karyawan, dan

outlet jasa yang ekslusif dan unik.

6. Penyampaian jasa

Seperti halnya pada pemasaran barang, faktor pengiriman/penyampaian produk

juga merupakan diferensitor penting dalam jasa. Dalam konteks jasa,

aksesibilitas dipandang lebih tepat daripada konsep distribusi yang biasa

dijumpai dalam pemasaran barang.

7. Proses

Selain hasil akhir, proses produksi/operasi juga merupakan faktor penting

producers dalam bisnis jasa yang bersangkutan, oleh karena itu desain jasa

harus benar-benar memperhitungkan aspek proses dan cara interaksi antara

karyawan perusahaan jasa dengan konsumen selama proses tersebut.

8. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia terlibat dalam proses penyampaian jasa sangat penting

peranannya dalam menentukan jasa yang dihasilkan dan dalam menentukan

persepsi pelanggan terhadap jasa bersangkutan. Oleh sebab itu, sumber daya

manusia menjadi unsur penting dalam penawaran jasa.

9. Kualitas

Tingkat kualitas jasa merupakan aspek krusial dalam penawaran jasa total.

Kualitas merupakan salah satu faktor penting yang digunakan pelanggan untuk

mengevaluasi jasa suatu organisasi dibandingkan penawaran dari perusahaan

lain. Dalam praktiknya, konsumen mungkin saja lebih mengutamakan

penilaian terhadap kualitas penyedia jasa dari pada kualitas penawaran jasa

tersebut. Hal seperti ini banyak terjadi dalam pengambilan keputusan dalam

memilih universitas, rumah sakit, hotel, dan sebagainya.

Semua komponen augmented products yang diuraikan tersebut sangat

penting dalam bidang perhotelan sebagai penyedia jasa terhadap tamu hotel yang

bertujuan untuk memberikan kepuasan atas jasa yang dikonsumsi oleh tamu.

2.3 Jasa

2.3.1 Pengertian Jasa

Jasa dapat didefenisikan sebagai suatu kegiatan yang memiliki beberapa

melibatkan beberapa interaksi dengan konsumen atau dengan property dalam

kepemilikannya, dan tidak menghasilkan transfer kepemilikannya ( Payne, 2009:8).

Menurut Yoeti (2004:1) yang dimaksud dengan jasa (sevice) adalah suatu

produk yang tidak nyata (intangible) dari hasil kegiatan timbal balik antara pemberi

jasa (producer) dan penerima jasa (customer) melalui suatu atau beberapa aktivitas

untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Tidak jauh berbeda dengan defenisi

tersebut Gronroos dalam Tjiptono dan Chandra (2005:11) mendefenisikan jasa

adalah proses yang terdiri atas serangkaian aktivitas intangible yang biasanya

(namun tidak harus selalu) terjadi pada interaksi antara pelanggan dan karyawan

jasa dan atau sumber daya fisik atau barang dan atau sistem penyedia jasa, yang

disediakan sebagai solusi atas masalah pelanggan.

Pada dasarnya jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak

merupakan produk dalam bentuk fisik atau konstruksi, yang biasanya dikonsumsi

pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberi nilai tambah

(seperti misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, atau kesehatan) atau

pemecahan masalah yang di hadapi konsumen (Lupiyoadi, 2001:5). Menurut Kotler

dan Keller (2008:36) jasa adalah semua tindakan atau kinerja yang dapat

ditawarkan satu pihak kepada pihak lain yang pada intinya tidak berwujud dan tidak

menghasilkan kepemilikan apapun.

2.3.2 Karakteristik Jasa

Menurut Kotler dan Keller (2008:39), Jasa memiliki beberapa karakteristik

1. Intangibility (Ketidakberwujudan)

Jasa merupakan sesuatu yang tidak berwujud, artinya tidak dapat dilihat,

dirasa, diraba, dicium sebelum dibeli. Hal ini mengakibatkan pelanggan

tidak dapat memprediksi hasilnya sebelum membeli jasa tersebut. Kesulitan

untuk memprediksi suatu jasa membuat seseorang mencari bukti-bukti yang

dapat menunjukkan kualitas suatu jasa. Kualitas suatu jasa dapat

diprediksikan melalui tempat jasa tersebut diproduksi atau dihasilkan, orang

yang menghasil jasa, peralatan, bahan komunikasi, simbol dan harga jasa

tersebut.

2. Inseparability (Ketidakterpisahan)

Berbeda halnya dengan barang-barang fisik yang diproduksi, disimpan

dalam persediaan, didistribusi, melalui berbagai perantara, dan dikonsumsi

kemudian, jasa umunya diproduksi dan dikonsumsi sekaligus. Hal ini

mengakibatkan kualitas jasa ditentukan oleh interaksi produsen jasa dengan

pelanggannya. Oleh sebab itu, efektivitas individu dalam menyampaikan

jasa merupakan unsur yang penting dalam pembelian jasa.

3. Variability (Keberubah-ubahan)

Jasa sangat bervariasi karena kualitas jasa tergantung pada siapa yang

menyediakannya, kapan, dimana, dan untuk siapa jasa tersebut dihasilkan.

Pembeli jasa menyadari tingginya variabilitas jasa dan biasanya mencari

informasi atau membicarakannya dengan orang lain sebelum memilih suatu

4. Perishability (Ketidaktahanlamaan)

Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.

Dengan demikian, bila suatu jasa tidak digunakan, maka jasa tersebut akan

berlalu begitu saja. Hal ini mengakibatkan kapasitas produksi menjadi

faktor yang kritikal. Perishability juga berakibat pada manajemen

permintaan atau

manajemen hasil. Jasa yang tepat harus disediakan untuk pelanggan yang

tepat pada tempat yang tepat di saat yang tepat dan harga yang tepat untuk

memaksimalkan profitabilitas.

Sumber: Kotler dan Amstrong (2004:368)

Gambar 2.2 : Karateristik Jasa

Dokumen terkait