ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN INTERNAL
6.2 Analisis Lingkungan Internal .1 Pemasaran
6.2.2 Produksi dan Operasi
Luas bangunan yang digunakan oleh KUB Hurip Mandiri secara keseluruhan adalah 72 meter persegi. Bangunan tersebut terdiri dari rumah seluas 42 meter persegi, termasuk gudang penyimpanan seluas 9 meter persegi dan luas tempat produksi 25 meter persegi. Tempat produksi terdiri dari ruang produksi, rumah pencucian, dan gudang peralatan.
Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan abon ikan adalah ikan Jangilus atau Marlin (Istiophorus sp). Selain itu dapat pula digunakan ikan tuna
131
(Ethynus aletrates). Bahan baku yang dipilih adalah ikan yang masih segar, warna dagingnya cerah, daging terasa kenyal dan tidak berbau busuk. Harga ikan marlin saat ini adalah Rp 27.000 per kg dan ikan tuna mencapai Rp 18.000 per kg.
Proses produksi abon ikan juga memerlukan bahan baku penolong. Bahan baku tersebut adalah rempah-rempah, gula, garam, dan penyedap rasa. Rempah-rempah yang digunakan dalam pembuatan abon ikan adalah bawang putih, ketumbar, lengkuas, sereh, dan daun salam. Rempah-rempah tersebut digunakan saat perebusan. Gula yang digunakan adalah gula pasir. Pemberian gula dimaksudkan untuk memberi rasa lembut sehingga dapat menghindari pengerasan.
Pembuatan abon ikan membutuhkan garam dapur. Garam berfungsi untuk menarik air keluar dari jaringan. Semakin berkurang kadar air pada bahan baku utama akan berpengaruh terhadap peningkatan daya awet abon ikan. Penyedap rasa digunakan untuk menambah cita rasa abon ikan. Komposisi bahan dalam pembuatan abon ikan dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Komposisi Bahan Pembuatan Abon Ikan KUB Hurip Mandiri Per Sepuluh Kilogram Ikan
No Jenis Bumbu Jumlah Satuan
1 Ikan 10 Kilogram
2 Gula Pasir 2 Kilogram
3 Minyak Goreng 2 Kilogram
4 Kelapa 2 Butir
5 Bawang Putih 150 Gram
6 Lengkuas 1 Kilogram
7 Ketumbar 250 Gram
8 Garam 2 Kotak
9 Penyedap Rasa 1000 Gram
10 Daun Salam 5 Helai
11 Serai 2 Batang
132
Proses produksi dalam pembuatan abon ikan tergolong mudah dan sederhana. Proses produksi sebagian besar dilakukan secara tradisional. Proses kegiatan yang menggunakan mesin hanyalah pada proses penggilingan, pengepresan, dan pemarutan kelapa. Bahkan pada proses perebusan dan penggorengan dilakukan dengan menggunakan tungku dengan kayu bakar. Tahapan dari proses produksi pembuatan abon ikan adalah sebagai berikut dan skema proses pembuatan abon ikan dapat dilihat pada Gambar 8 (hal 78).
1. Tahap pertama dalam pembuatan abon ikan adalah pengadaan bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku utama, yaitu ikan, kemudian dipotong-potong dan dicuci hingga bersih.
2. Setelah dicuci ikan disusun dalam badeng dan direbus selama 30-60 menit sampai ikan menjadi lunak. Selama proses perebusan ditambahkan pula daun salam dan garam.
3. Ikan yang telah direbus kemudian dipres. Pengepresan dilakukan untuk mengurangi air pada daging ikan dengan menggunakan alat pengepres.
4. Setelah kadar air berkurang, selanjutnya dilakukan penggilingan daging ikan menjadi serat-serat.
5. Serat-serat tersebut kemudian ditambahkan bumbu yang terdiri dari bawang putih, ketumbar, lengkuas, gula, garam dan santan.
6. Setelah bumbu tercampur rata, kemudian dilakukan penggorengan selama kurang lebih 60 menit. Selama proses penggorengan, dilakukan pengadukan secara terus-menerus agar abon matang secara merata dan bumbu dapat meresap dengan baik. Abon digoreng hingga memperlihatkan warna kuning kecoklatan.
133
7. Setelah penggorengan, dilakukan pengepresan kembali agar kadar minyak dalam abon berkurang.
8. Abon yang telah dipres kemudian dicabik-cabik agar tidak menggumpal dan menghasilkan tekstur seragam. Pengemasan dilakukan dengan menambah bawang goreng.
Pembagian tugas ditemukan pada proses produksi. Aktivitas produksi sering dilakukan pada sore hari sampai malam hari dan dilanjutkan pada pagi hari. Hal ini berimplikasi pada pembagian kerja pada setiap kegiatan produksi. Jumlah tenaga kerja dalam setiap proses produksi berkisar antara 5-10 orang. Pada setiap proses produksi, tenaga kerja yang terlibat diberikan tugas yang berbeda-beda. Kelebihan dari pembagian tugas di KUB Hurip Mandiri adalah pembagian tugas dilakukan secara fleksibel. Tugas yang diberikan pada masing-masing anggota akan digilir pada setiap proses produksi sehingga setiap anggota mampu melakukan semua tugas pada proses produksi.
Kapasitas maksimum untuk satu kali proses produksi pada usaha ini adalah 500 kilogram ikan yang dilakukan dalam 2 hari. Namun, KUB Hurip Mandiri sering berproduksi tidak pada kapasitas maksimalnya. Hal yang disebabkan oleh keterdsediaan bahan baku. Usaha ini menyesuaikan kapasitas produksi dengan banyaknya ikan yang diperoleh.
134
Ikan jangilus (marlin)/Tuna
Pemotongan dan Pencucian Ikan
Perebusan Pengepresan I Penggilingan Pemberian Bumbu Penggorengan Pengepresan II Pencabikan
Penambahan Bawang Goreng
Pengemasan
Gambar 8. Skema Proses Pembuatan Abon Ikan KUB Hurip Mandiri (2008)
6.2.3 Manajemen
Kegiatan manajemen dapat berupa kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengendalian. Kualitas sumber daya manusia yang rendah menyebabkan manajemen dalam usaha ini berlangsung sederhana. Hal ini dapat dilihat dari proses produksi pembuatan abon ikan dan proses pencatatan serta pembukuan.
135
Kegiatan produksi abon ikan dilakukan berdasarkan pesanan yang telah disetujui dengan konsumen, tanpa adanya kegiatan perencanaan terlebih dahulu. Pada KUB Hurip Mandiri tidak ditemui proses produksi dengan estimasi jumlah permintaan. Seluruhnya dilakukan berdasarkan pesanan dan ketersediaan bahan baku. Abon ikan yang diproduksi tanpa ada yang memesan akan dijadikan stok untuk mengantisipasi ketidaktersediaan bahan baku utama di waktu-waktu tertentu.
KUB Hurip Mandiri hanya melakukan pencatatan sederhana. Transaksi yang dilakukan tidak pernah dicatat. Akibatnya penjualan per periode tidak dapat diketahui dengan pasti. Begitu pula dengan pencatatan keuangan. Usaha ini hanya mencatat total biaya yang dikeluarkan tiap kali berproduksi.
Pada KUB Hurip Mandiri tidak ditemui adanya divisi atau bagian yang memiliki tugas spesifik seperti pemasaran ataupun penelitian dan pengembangan. Pada manajemen kelompok ini hanya terdapat pembagian tugas antara ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota.
Sistem kompensasi KUB Hurip Mandiri menggunakan sistem bagi hasil yang dilakukan dua hingga tiga kali setahun (tidak rutin). Perhitungan bagi hasil dilakukan dengan cara membagi keuntungan bersih dengan jumlah tenaga kerja yang mengikuti kegiatan produksi. Masing-masing anggota mendapat satu bagian dari bagi hasil, kecuali ketua. Ketua mendapat dua bagian dari bagi hasil. Setiap anggota mendapat uang makan tiap proses produksi yaitu sebesar Rp 3.000. Keuntungan bersih yang diperoleh dipergunakan untuk uang kesehatan anggota sebesar 10 persen, cadangan modal 40 persen, dan untuk bagi hasil 50 persen.
136
Pengorganisasian di dalam perusahaan juga berlangsung sederhana. Bentuk struktur organisasi yang sederhana memungkinkan komunikasi antara ketua dan anggota berlangsung dengan mudah. Selain itu, rasa kekeluargaan yang sangat kuat di dalam KUB Hurip Mandiri menjadikan setiap anggotanya senantiasa termotivasi untuk memajukan usaha ini. Hal inilah yang menjadikan usaha ini tidak pernah sekali pun berhenti berproduksi sejak pertama didirikan. Bahkan saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 usaha ini tetap berjalan walaupun dengan keuntungan yang sangat kecil.
Aktivitas pengendalian dilakukan oleh ketua. Ketua senantiasa memantau proses produksi apakah telah berlangsung baik dan produk yang dihasilkan telah sesuai dengn standar perusahaan. Ketua juga memastikan pesanan yang dipesan oleh konsumen sesuai dengan pesanan dan sampai pada tempat dan waktu yang tepat.
6.2.4 Keuangan
Modal awal KUB Hurip Mandiri diperoleh dari Pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi sebesar satu juta rupiah. Ketebatasan dana merupakan salah satu masalah utama yang menghambat usaha pengembangan KUB Hurip Mandiri. Padahal untuk menjalankan usaha ini diperlukan dana cukup besar mengingat bahan baku utama yang dipakai adalah ikan segar yang memiliki harga cukup tinggi, apalagi bila pasokannya sedikit.
Sejak tahun 2001 KUB Hurip Mandiri tidak lagi mendapatkan bantuan dan pinjaman dari lembaga manapun. Pihak KUB Hurip Mandiri merasa enggan
137
mengikuti program-program kredit yang ditawarkan beberapa instansi pemerintah. Alasannya karena pinjaman yang diberikan relatif kecil sehingga tidak sebanding dengan panjangnya proses mendapatkan pinjaman tersebut. Untuk mengatasi keterbatasan dana, KUB Hurip Mandiri mengandalkan sumbangan modal para anggotanya.