• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi dan Batasan Operasional

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam mengartikan penelitian ini maka perlu dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut :

1.5.1 Definisi

Definisi operasional merupakan definisi yang diberikan kepada variabel penelitian dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan atau memberikan operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut. Definisi operasional dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Petani padi sawah merupakan petani yang membudidayakan padi menjadi beras

yang merupakan kebutuhan pokok.

2. Biaya produksi merupakan jumlah dari dua komponen biaya yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap yang digunakan dalam produksi.

3. Perilaku petani mempengaruhi hasil produksi padi sawah.

4. Pendidikan merupakan tingkat pengetahuan petani dalam meningkatkan hasil produksi padi sawah.

5. Produksi merupakan hasil yang didapatkan oleh petani padi sawah dalam mengelola usahatani.

6. Umur adalah kurun waktu sejak adanya seseorang dan dapat diukur menggunakan satuan waktu dipandang dari segi kronologia, individu normal dapat dilihat derajat perkembangan anatomis dan fisiologis.

7. Luas lahan adalah luas areal persawahan yang akan ditanami padi pada musim tertentu.

8. Modal adalah kumpulan dari uang atau barang yang digunakan untuk menjalankan suatu usaha.

1.5.2 Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Daerah penelitian adalah Desa Bukit Maradja, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

2. Sampel penelitian merupakan petani yang tergabung dalam kelompok tani Mekar Jaya di Desa Bukit Maradja, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

3. Waktu penelitian adalah tahun 2021.

28 BAB IV

DESKRIPSI DERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1 Letak Geografis, Batas dan Luas Wilayah

Penelitian ini dilakukan di Bukit Maradja yang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Gunung Malela Kabupaten Simalungun. Desa ini berjarak ±4 Km ke ibukota Kecamatan dan berjarak ±70 Km ke ibukota Kabupaten Simalungun.

Desa Bukit Maradja terletak 50 m di atas permukaan laut dengan suhu 27-35°C dan memiliki batas-batas daerah :

o Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Purba Ganda o Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bandar Siantar o Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Syahkuda Bayu o Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Negeri Malela

Desa Bukit Maradja memiliki wilayah yang cukup luas. Berikut tabel luas wilayah menurut penggunanya Desa Bukit Maradja.

Tabel 4.1 Luas Wilayah Menurut Penggunanya Pada Tahun 2020.

No Penggunaan Tanah Luas (Ha) Persentase (%)

1 Luas Pemukiman 47 25,6

2 Luas Persawahan 114 62,2

3 Luas Perkebunan 12 6,5

4 Luas Kuburan 0,28 0,14

5 Luas Pekarangan 10 5,4

6 Perkantoran 0,02 0,01

7 Luas Prasarana Umum 0,3 0,15

Jumlah 183,6 100

Sumber : Profil Desa Bukit Maradja, 2021

Peta Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun :

Gambar 2. Peta Kecamatan Gunung Malela Kabupaten Simalungun

4.1.2 Keadaan Penduduk

Berdasarkan data profil Desa Bukit Maradja pada tahun 2020, jumlah penduduk di Desa Bukit Maradja sebanyak 1761 jiwa dengan total kepala keluarga (KK) sebanyak 431. Berikut merupakan rincian keadaan penduduk di Desa Bukit Maradja menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Bukit Maradja pada tahun 2020.

No Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1 Laki-laki 869 49,34 2 Perempuan 892 50,65

Jumlah 1761 100 Sumber : Profil Desa Bukit Maradja, 2021

Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa di Desa Bukit Maradja, berdasarkan jenis kelamin jumlah penduduk terbanyak pada jenis kelamin perempuan sebanyak 892 jiwa atau 50,65%.

Apabila dilihat dari segi pendidikan, Masyarakat Desa Bukit Maradja belum mengikuti program pemerintah wajib belajar 9 tahun. Penduduk Desa Bukit Maradja

30 masih sedikit mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SLTA dan Sarjana.

Berikut merupakan komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan.

Tabel 4.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Bukit Maradja pada Tahun 2020.

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 SD/Sederajat 74 28,8 Sumber : Profil Desa Bukit Maradja, 2021

Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa di Desa Bukit Maradja tingkat pendidikan yang paling banyak adalah tamatan SLTA sebesar 110 jiwa atau 42,8%.

Dari segi mata pencaharian penduduk di Desa Bukit Maradja memiliki mata pencaharian yang sangat beragam. Berikut merupakan komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian.

Tabel 4.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Bukit Maradja pada Tahun 2020.

No Jenis Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 Petani 479 52,3 Sumber : Profil Desa Bukit Maradja, 2021

Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk yang paling banyak bermata pencaharian sebagai petani yaitu sebanyak 479 jiwa atau 52,3%. Hal ini berarti sektor

pertanian cukup potensial untuk dikembangkan karena dukungan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai.

4.1.3 Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana sangat mempengaruhi kemajuan dan perkembangan masyarakat setempat. Semakin baik sarana dan prasarana akan mempercepat laju pembangunan di suatu daerah. Sarana dan prasarana dapat dikatakan baik apabila dilihat dari segi ketersediaan dan pemanfaatannya sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga dapat mempermudah masyarakat setempat dalam memenuhi segala kebutuhannya dalam kehidupan bermasyarakat. Sarana dan prasarana di Kecamatan Gunung Malela dapat dilihat pada tabel 4.5

Tabel 4.5 Sarana dan Prasarana di Desa Bukit Maradja Pada Tahun 2020.

No Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)

1 Sarana Pendidikan

- TK 3

- SD 1

2 Sarana Kesehatan

- Puskesdes 1

- Posyandu 3

3 Sarana Ibadah

- Mesjid 1

- Gereja 1

4 Sarana Penghubung

- Jembatan batu/permanen 12 Jumlah 22 Sampel : Profil Desa Bukit Maradja, 2021

Dari tabel 4.5 dapat dilihat bahwa sarana dan prasarana di Desa Bukit Maradja dapat dikatakan baik dan memadai karena sesuai dengan penggunaan dan jumlah penduduknya, dimana total dari sarana dan prasarana yang ada yaitu sebanyak 22 unit.

Untuk sarana pendidikan yang tersedia yaitu TK dan SD, yang mendukung pendidikan penduduk yang ada di Desa Bukit Maradja. Selain itu juga, untuk sarana-sarana yang lainnya seperti kesehatan, ibadah dan penghubung juga memadai karena dapat memenuhi jumlah penduduknya yang ada di desa, sehingga nantinya dapat menunjang kegiatan masyarakat untuk meningkatkan sumber daya masyarakat yang tersedia agar desa dapat berkembang menjadi lebih baik lagi.

32 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Petani Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah petani padi sawah irigasi di Kecamatan Gunung Malela yang berjumlah 75 orang. Karakteristik petani yang dijadikan sampel merupakan petani yang menanam padi dan tinggal di daerah Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun. Dimana karakteristik tersebut meliputi tingkat pendidikan, umur, luas lahan dan tenaga kerja. Karakteristik sampel petani dijelaskan pada berikut :

5.1.1 Pendidikan

Pendidikan seseorang dapat mempengaruhi jenis pekerjaan dan bagaimana pembentukan kerangka pemikiran seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin matang untuk memikirkan segala tindakan yang memberikan manfaat terbesar. Selain itu pendidikan juga sangat mempengaruhi petani dalam berperilaku dan mengambil keputusan. Lama pendidikan petani dalam usahatani padi sawah irigasi di Desa Bukit Maradja, dapat dilihat pada Tabel 5.1

Tabel 5.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan.

No

Lama pendidikan jumlah (tahun)

Jumlah

(Jiwa) Presentase (%)

1 1-6 26 60,46

2 7-12 17 39,53

Jumlah 43 100

Sumber : Lampiran I (diolah)

Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa lama pendidikan petani sampel tertinggi petani di Desa Bukit Maradja dalam usahatani padi sawah adalah 1-6 tahun yaitu sebanyak 26 jiwa (60,46%) sedangkan untuk lama pendidikan petani terendah adalah 7-12 tahun yaitu sebanyak 17 jiwa (39,53%)

5.1.2 Umur

Jumlah responden petani padi sawah berdasarkan umur dapat dijelaskan pada tabel 5.2 sebagai berikut.

Tabel 5.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Umur

No Umur Jumlah Petani Presentase (%) Sumber : Lampiran I (diolah)

Dapat dilihat ditabel 5.2 bahwa kelompok umur petani sampel dengan jumlah terbanyak dalam usahatani padi sawah adalah kelompok umur 40-49 tahun yaitu sebanyak 12 jiwa (27,90%), sehingga dapat diketahui petani berada pada usia produktif yang memiliki potensi yang cukup besar. Sedangkan kelompok petani dengan jumlah paling sedikit dalam usahatani padi sawah adalah kelompok umur 70-79 tahun yaitu sebanyak 3 jiwa (6,97%). Hal ini dikarenakan usia petani yang lanjut sehingga ketidakmampuan dari petani dalam melaksanakan kegiatan berusahatani.

5.1.3 Luas Lahan

Dalam suatu kegiatan usahatani lahan merupakan faktor produksi yang sangat penting. Hal ini dikarenakan lahan merupakan tempat dimana proses produksi berlangsung dan sangat berpengaruh terhadap besarnya produksi yang dihasilkan.

Semakin besar luas lahan yang diusahakan maka tentu saja semakin besar peluang untuk menghasilkan produksi yang lebih besar. Lahan yang digunakan oleh petani di Desa Bukit Maradja dalam usahatani padi sawah adalah lahan milik mereka sendiri.

Tabel 5.3 Distribusi Sampel Berdasarkan Luas Lahan

No Luas Lahan (Ha) Jumlah (Jiwa) Presentase (%)

Sumber : Lampiran I (diolah)

34 Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa luas lahan petani sampel paling banyak di Desa Bukit Maradja adalah 0,36-0,61 Ha yaitu sebanyak 18 petani (39,5%), sedangkan petani yang luas lahan paling sedikit di Desa Bukit Maradja adalah 0,62-0,87 Ha yaitu sebanyak 1 petani (2,32%).

5.1.4 Lama Berusahatani

Semakin lamanya pengalaman seseorang dalam menekuni suatu pekerjaan, makan akan menambah kemahiran seseorang tersebut.

Tabel 5.4 Karakteristik petani berdasarkan lama berusahatani padi sawah di Desa Bukit Maradja dapat dilihat pada tabel 5.4

No

Lama Berusahatani Padi

Sawah Irigasi (Tahun) Jumlah (Jiwa) Presentase (%)

1 <10 11 25,58

2 11-20 13 30,23

3 21-30 6 13,95

4 31-40 7 16,27

5 41-50 4 9,30

6 51-60 2 4,65

Jumlah 43 100

Sumber : Lampiran I (diolah)

Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa lama berusahatani petani sampel paling banyak di Desa Bukit Maradja adala 11-20 tahun yaitu sebanyak 13 jiwa (30,23%), sedangkan petani yang lama berusahatani paling sedikit di Desa Bukit Maradja adalah 51-60 tahun yaitu sebanyak 2 jiwa (4,65%).

5.1.5 Jumlah Tanggungan

Perbedaan jumlah tanggungan dari sampel di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.5

Tabel 5.5 Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Tanggungan No Jumlah Tanggungan

(Jiwa)

Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 1 1-2 18 41,86 2 3-5 25 58,13

Jumlah 43 100 Sumber : Lampiran I (diolah)

Dari Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan petani sampel paling banyak di Desa Bukit Maradja adalah 3-5 jiwa yaitu sebanyak 25 jiwa (58,13%), sedangkan petani yang jumlah tanggungan nya paling sedikit di Desa Bukit Maradja adalah 1-2 tahun yaitu sebanyak 18 jiwa (41,86%).

5.1.6 Produksi Padi Sawah Irigasi

Tabel 5.6 Produksi Padi Sawah Irigasi Jenis

Total (Rp) Keterangan

Padi 500kg 4200/kg Rp 2.100.000 Stabil

5.2 Perilaku Petani

Tabel 5.7 Perilaku Petani terhadap Jaringan Kerjasama Individu Sebagai Modal Sosial Bagi Kelompok Tani

No Pertanyaan Apakah saudara melakukan (%)

kerjasama secara individu dengan:

1 Sesama petani dalam pengolahan

tanah? 3 2,8 93

2

Kios sarana produksi dalam pengadaan

benih padi dan pupuk? 3 2,7 88

3 Anggota kelompok tani dalam

penanaman padi secara serempak? 3 3,0 100 4

Sesama petani padakegiatan

pemupukan dan memperoleh pinjaman modal usahatani?

Sumber: Lampiran 2 (diolah)

36 Dari Tabel 5.7 diperoleh bahwa skor tingkat perilaku petani padi sawah irigasi terhadap jaringan kerjasama individu sebagai modal sosial bagi kelompok tani adalah 24 dengan persentase sebesar 89%. Dengan range dan kategori skor sebagai berikut:

Hal ini menunjukkan bahwa perilaku petani terhadap jaringan kerjasama individu sebagai modal sosial bagi kelompok tani dengan rata-rata skor 24 termasuk dalam kategori perilaku terbuka.

Tabel 5.8 Perilaku Petani terhadap Jaringan Kerjasama Kelompok Sebagai Modal Sosial Bagi Kelompok Tani

No Pertanyaan Apakah saudara melakukan (%)

kerjasama secara kelompok dalam :

1 Kegiatan pengolahan tanah? 3 2,3 77

2 Kegiatan pengadaan benih padi dan

pupuk? 3 2,3 77

3 Kegiatan penanaman padi secara

serempak? 3 2,6 87

4 Pemupukan dan pemeliharaan

tanaman padi? 3 2,7 90

5 Kegiatan panen padi? 3 2,1 70

6 Kegiatan pasca panen padi? 3 2,5 83

7 Memperoleh pinjaman modalusahatani

padi dari lembaga simpan pinjam? 3 2 67

8 Kerjasama dengan penyuluh petanian? 3 3 100

Rata-rata 3 19,5 81

Sumber: Lampiran 3 (diolah)

Dari Tabel 5.8 diperoleh bahwa skor tingkat perilaku petani padi sawah irigasi terhadap jaringan kerjasama kelompok sebagai modal sosial bagi kelompok tani adalah 19,5 dengan persentase sebesar 81%. Dengan range dan kategori skor sebagai berikut :

Hal ini menunjukkan bahwa perilaku petani terhadap jaringan kerjasama kelompok sebagai modal sosial bagi kelompok tani dengan rata-rata skor 19,5 termasuk dalam kategori perilaku terbuka.Dapat disimpulkan bahwa petani dapat memperoleh kerja sama yang baik sesama petani dan penyuluh petani.

Tabel 5.9 Perilaku Petani terhadap Saling Percaya dalam Kerjasama Kelompok Tani Padi Dalam hal kerjasama, apakah (%)

saudara percaya bahwa dalam:

1

Membayar iuran bulanan akan meningkatkan kebersamaan dalam kelompok?

3 2,7 90,7

2

Pengadaan benih dan pupuk melalui kelompok tidak diselewengkan oleh pengurus kelompok tani?

3 2,7 90,7

3

Pengelolaan keuangan oleh pengurus kelompok dilakukan secara baik dan terbuka?

3 2,9 95,3

4

Memperoleh informasi teknologi padi dari pengurus kelompok tani adalah benar?

3 2,8 93,0

5

Memperoleh informasi teknologi padi dari petani berhasil dan kontak tani adalah benar?

3 2,9 95,3

6

Memperoleh informasi teknologi padi dari kios sarana produksi adalah benar?

3 2,9 95,3

7 Memperoleh informasi teknologi padi

dari pedagang hasil adalah benar? 3 2,7 88,4 8 Memperoleh informasi teknologi padi

dari perusahaan adalah benar? 3 2,7 88,4

9

Pengadaan benih dan pupuk yang baru dibayar setelah panen akan terjadi saling pecaya dan berlaku jujur antara kedua belah pihak?

3 2,8 93,0

38

Rata-rata 3 24,9 92,2

Sumber: Lampiran 4 (diolah)

Dari Tabel 5.9 diperoleh bahwa skor tingkat perilaku petani padi sawah irigasi terhadap saling percaya dalam kerjasama kelompok tani padi adalah 24,9 dengan persentase sebesar 92,2%. Dengan range dan kategori skor sebagai berikut:

Hal ini menunjukkan bahwa perilaku petani terhadap saling percaya dalam kerjasama kelompok tani padi dengan rata-rata skor 24,9 termasuk dalam kategori perilaku terbuka. Dapat disimpulkan bahwa dalam hal kerjasama kelompok tani padi sawah dapat mengelola keuangan secara baik maupun memperoleh banyak informasi yang penting baik dalam pengadaan pupuk dan informasi teknologi lainnya.

Tabel 5.10 Perilaku Petani terhadap Norma atau Aturan Kerjasama dalam Apakah saudara mentaati aturan (%)

kelompok dalam hal :

1 Pengolahan tanah harus dilakukan

secara berkelompok? 3 2,7 90,7

2 Pengadaan benih dan pupuk dilakukan

secara berkelompok? 3 2,7 90,7

3

Pemeliharaan tanaman padi dilakukan secara gotong royong dalam kelompok tani?

Pengairan dilakukan sesuai jadwal yang telah disepakati bersama dalam kelompok tani?

3 2,7 88,4

8 Pembayaran benih dan pupuk melalui 3 2,6 86,0

kelompok tani sesuai waktu yang disepakati?

9

Pengembalian peminjaman modal usahatani kepada lembaga simpan pinjam sesuai waktu yang disepakati?

3 2,6 86,0

10

Pengembalian peminjaman modal usahatani kepada BANK sesuai waktu yang disepakati?

3 2,7 88,4

11

Penjualan hasil produksi padi harus sesuai mutu yang disepakati dengan pedagang?

3 2,8 93,0

Rata-rata 3 30,1 91,1

Sumber: Lampiran 5 (diolah)

Dari Tabel 5.10 diperoleh bahwa skor tingkat perilaku petani padi sawah irigasi terhadap norma atau aturan kerjasama dalam kelompok tani padi adalah 30,1 dengan persentase sebesar 91,1%. Dengan range dan kategori skor sebagai berikut:

kategori perilaku terbuka.Dapat disimpulkan bahwa perilaku tersebut dapat memperkuat kerjsama petani dalam kegiatan panen,pasca panen, gotong royong maupun pemasaran hasil produksi secara berkelompok dan pengembalian peminjaman modal usahatani secara tepat waktu.

5.3 Analisis Faktor Sosial (Pendidikan dan Umur) dan Faktor Ekonomi (Luas Lahan dan Modal) terhadap Produksi Padi Sawah Irigasi

5.3.1 Uji Asumsi Klasik

Uji Asumsi klasik dilakukan untuk memberikan kepastian bahwa persamaan regresi yang didapatkan memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bias, dan konsisten.

Suatu model harus terbebas dari gejala multikoliniearitas, heteroskedastisitas.

40

1. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.Normalitas diuji menggunakan statistik Kolmogorov Smirnov.

Signifikansi ≥ α (0,05), data berdistribusi normal Signifikansi ≤ α (0,05), data tidak berdistribusi normal

Tabel 5.11 Hasil Uji Normalitas

No Uji Sig.

1 Kolmogorov Smirnov 0,069

Sumber: lampiran 7(diolah), 2021

Pada Tabel 5.11 menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov Smirnov adalah 0,069> 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti distribusi sampel tidak berbeda nyata dengan distribusi normal atau sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Multikolonieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor (VIF).

Tolerance ≥ 0,1 dan nilai VIF ≤ 10, Tidak Terjadi Multikolonearitas Tolerance ≤ 0,1 dan nilai VIF ≥ 10, Terjadi Multikolonearitas

Tabel 5.12 Hasil Uji Multikolinieritas

No Variabel Bebas Tolerance VIF

1 Luas Lahan 0,553 1,808

2 Umur 0,977 1,023

3 Pendidikan 0,981 1,019

4 Modal 0,556 1,799

Sumber: Lampiran 7 (diolah), 2021

Berdasarkan Tabel 5.12 menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi linier pada penelitian ini bebas dari gejala multikolineritas.

3. Uji Heterokedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Dalam Penelitian ini, Heteroskadastisitas diuji dengan menggunakan uji Glejser.

Tabel 5.13 Hasil Uji Heterokedastisitas

No Variabel Bebas Sig.

1 Luas Lahan 0,100

2 Umur 0,802

3 Pendidikan 0,455

4 Modal 0,178

Sumber: lampiran 7 (diolah), 2021

Pada Tabel 5.13 menunjukkan bahwa tingkat signifikansi variabel luas lahan, umur, pendidikan, danmodal, lebih besar dari α (0,05). Signifikansi variabel luas lahan 0,100> α (0,05), umur 0,802> α (0,05), pendidikan 0,455> α (0,05), dan modal 0,178> α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi atau model regresi merupakan homokedastisitas.

5.3.2 Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit)

Setelah diuji menggunakan SPSS diketahui bahwa pengaruh variabel bebas (luas lahan, umur, pendidikan, dan modal) terhadap variabel terikat (produksi) seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.14 Analisis Pengaruh Faktor Luas Lahan, Umur, Pendidikan, dan Modal terhadap Produksi Padi Sawah Irigasi

Variabel Koefisien Regresi

Sig. t-hitung t-tabel

Luas Lahan 2801,421 0,100 3,505 2,020

Umur 3,732 0,802 0,252 2,020

Pendidikan 73,738 0,455 0,755 2,020

Modal -417,124 0,178 -1,373 2,020

R2 = 0,279 Sig. = 3,683

Keterangan α = 0,05

Sumber: lampiran 7 (diolah), 2021

42 Dari Tabel 5.14 dapat dituliskan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :

Pendapatan = 2434,96 + 2801,421 Luas Lahan +3,732 Umur + 73,738 Pendidikan - 417,124 Modal

Y = 2434,96 +2801,421 X1 +3,732X2+ 73,738X3 -417,124X4

1. Hasil Koefisien Determinasi (R2)

Tabel 5.14 memperlihatkan bahwa nilai koefisien determinasi R2 (R Square) yang diperoleh adalah sebesar 0,279. Hal ini menujukkan bahwa sebesar 27,9%

variabel terikat (produksi) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (luas lahan, umur, pendidikan, dan modal). Sedangkan sisanya 72,1% dipengaruhi oleh variabel bebas lainnya yang belum dimasukkan kedalam model.

2. Hasil Uji Serempak (Uji Statistik F)

Setelah diuji dapat signifikansi F sebesar 3,683> α (0,05). Hal ini menujukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti variabel (luas lahan, umur, pendidikan, dan modal) berpengaruh tidak nyata terhadap variabel terikat (Produksi).

3. Hasil Uji Parsial (Uji Statistik t)

a) Pengaruh Luas Lahan Terhadap Produksi Padi Sawah

Dari Tabel 5.14 dapat dilihat bahwa luas lahan berpengaruh positif terhadap produksi padi sawah. Besarnya pengaruh ditentukan oleh besar koefisien regresi dan kuat pengaruh ditentukan oleh uji t. Hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi luas lahan bernilai 2801,421 artinya setiap kenaikan luas lahan sebesar 1 Ha, maka produksi padi sawah akan meningkat sebesar 2.801 Kg dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai signifikansi t luas lahan adalah sebesar 3,505> α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti variabel bebas luas lahan berpengaruh tidak nyata terhadap produksi padi sawah.

b) Pengaruh Umur Terhadap Produksi Padi Sawah

Dari Tabel 5.14 dapat dilihat bahwa umur berpengaruh positif terhadap produksi padi sawah. Besarnya pengaruh ditentukan oleh besar koefisien regresi dan kuat pengaruh ditentukan oleh uji t. Hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi

umur bernilai 3,732 artinya setiap kenaikan luas lahan sebesar 1 tahun, maka produksi padi sawah akan meningkat sebesar 4 Kg dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai signifikansi t umur adalah sebesar 0,252> α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti variabel bebas umur berpengaruh tidak nyata terhadap produksi padi sawah.

c) Pengaruh Pendidikan Terhadap Produksi Padi Sawah

Dari Tabel 5.14 dapat dilihat bahwa pendidikan berpengaruh positif terhadap produksi padi sawah. Besarnya pengaruh ditentukan oleh besar koefisien regresi dan kuat pengaruh ditentukan oleh uji t. Hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi pendidikan bernilai 73,738 artinya setiap kenaikan pendidikan sebesar 1 tahun, maka produksi padi sawah akan meningkat sebesar 74 Kg dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai signifikansi t pendidikan adalah sebesar 0,755> α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti variabel bebas pendidikan berpengaruh tidaknyata terhadap produksi padi sawah.

d) Pengaruh Modal Terhadap Produksi Padi Sawah

Dari Tabel 5.14 dapat dilihat bahwa modal berpengaruh negatif terhadap produksi padi sawah.Besarnya pengaruh ditentukan oleh besar koefisien regresi dan kuat pengaruh ditentukan oleh uji t. Hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi produksi bernilai -417,124, artinya setiap kenaikan jumlah modal sebesar Rp 417, maka produksi padi sawah akan menurun sebesar 417 Kg dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai signifikansi t modal adalah sebesar -1,373 < α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti variabel bebas modal berpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah.

44 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian “ Perilaku Petani Yang Mempengaruhi Hasil Produksi Padi Sawah Irigasi” adalah : Tingkat perilaku petani padi sawah irigasi di Desa Bukit Maradja tergolong tinggi yaitu perilaku terbuka.

2. Faktor sosial (pendidikan dan umur) dan faktor ekonomi (luas lahan dan modal) secara serempak berpengaruh tidak nyata terhadap produksi padi sawah, sedangkan secara parsial yang berpengaruh terhadap produksi padi sawah nyata ialah variabel modal.

6.2 Saran

6.2.1 Kepada Petani

Petani dapat mempertahankan perilaku terbuka yang telah dimiliki sehingga dapat meningkatkan produktivitas padi sawah irigasi.

6.2.2 Kepada Pemerintah

Diharapkan sebaiknya melakukan program pembinaan kelompok tani dan memperhatikan kebutuhan petani agar menjadi lebih baik lagi.

6.2.3 Kepada Peneliti Selanjutnya

Diharapkan membuat metode lain yang tidak terdapat oleh penulis

DAFTAR PUSTAKA

Komarudin, R. 2010. Peningkatan Kinerja Jaringan Irigasi Melalui Penerapan Manajemen Yang Tepat dan Konsisten Pada Daerah Irigasi Ciramajaya.

Linsley, Ray K. 1991. Teknik Sumber Daya Air Edisi Ketiga. Erlangga. Jakarta

Jurnal Teknik Sipil Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil, Vol 17, No 2 Agustus 2010. Universitas Siliwangi. Tasikmalaya

Mawardi, AIT. 2007. Desain Hidraulik Bangunan Irigasi,Alfabeta. BandungTanjung. 2015, Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi Sawah di Kabupaten Deli Serdang. Universitas Sumatera Utara

Pasandaran, E., 1991. Irigasi di Indonesia, Strategi dan Pengembangan. LP3ES, Jakarta

Yanita M, Suryanti M, Farida A, 2011. Kajian Efisiensi EkonomiUsahatani Padi Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci.Fakultas Pertanian, Universitas Jambi Sudjarwadi, 1990. Teori dan Praktek Irigasi. Pusat Antar Universitas Ilmu Teknik,

Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sudjarwadi, 1987. Teknik Sumberdaya Air. Diktat kuliah Jurusan Teknik Sipil Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

46

LAMPIRAN

KUESIONER PERILAKU PETANI PADI SAWAH IRIGASI

PERILAKU PETANI YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PADI SAWAH IRIGASI PADA MASA PANDEMI COVID-19

PERILAKU PETANI YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PADI SAWAH IRIGASI PADA MASA PANDEMI COVID-19

Dokumen terkait