• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nomor varietas dan galur padi Tabela

PRODUKSI PADI TAPIN DAN TABELA PENDAHULUAN

Percobaan III dilakukan untuk mengatasi kendala pengembangan budidaya padi Tabela sebar yaitu kerebahan yang tinggi, kesulitan menyiang secara manual dan kurang sesuai ditanam dengan persiapan lahan TOT daripada OTS dan OTM, karena dengan TOT terdapat tunggul/jerami padi dan sisa gulma yang telah mengering dipermukaan tanah (belum terdekomposisi) bertindak sebagai penghalang fisik sehingga banyak benih tidak tumbuh.

Jumlah benih yang disebar sebanyak 40 kg/ha tidak berperan banyak mengurangi kerebahan padi Tabela sebar khususnya varietas/galur padi yang mudah rebah, tetapi justru mengurangi hasil GKG sehingga perlu dilakukan modifikasi cara tanam Tabela mengarah pada pengurangan jumlah benih, mengurangi tingkat kerebahan, mendapatkan hasil gabah yang tinggi dan sesuai untuk lahan TOT.

Budidaya padi Tapin (Tanam pindah) adalah suatu teknik menam padi melalui pembibitan atau persemaian dan dipindahkan ke lapang (transplanting) setelah bibit atau semai tersebut dianggap mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat tumbuh. Pada budidaya tanam dipindah, paling sedikit ada tiga akibat yang timbul yaitu: (1) sistem perakarannya menjadi rusak, (2) tanaman induk mati, (3) tanaman mengalami stagnasi (De Datta 1981).

Budidaya padi Tapin selama ini dikembangkan dengan persiapan lahan OTS. Pengalaman menunjukkan, budidaya padi Tapin OTS diketahui memiliki banyak kelemahan terutama aspek produktivitas tanaman dan lahan yang belum optimal, biaya produksi yang tinggi dan kesuburan tanah makin rendah, sehingga perlu dikembangkan suatu teknik budidaya padi Tabela alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan lahan sawah. Hasil penelitian diberbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa budidaya padi OTS dan TOT memberikan hasil gabah relatif sama (Ardjasa et al. 1996; Bangun, 1996). Hasil penelitian Ardjasa et al. (1996) bahwa budidaya Tabela dan Tapin TOT serta Tapin OTS yang diairi secara terus-menerus dan intermitten menunjukkan hasil padi Tabela cenderung lebih tinggi daripada Tapin TOT dan Tapin OTS. Selanjutnya dikemukakan, kualitas pengolahan tanah menentukan populasi

gulma setelah benih padi disebar. Pengolahan tanah yang baik akan mengurangi populasi gulma dan tingkat kerebahan tananam padi dapat dikurangi terutama menjelang fase pembungaan (heading).

Kerebahan tanaman padi Tabela sebar, kehilangan hasil dan penurunan mutu gabah sebagaimana yang diketahui dari hasil percobaan sebelumnya adalah kasus umum yang seringkali terjadi. Kerebahan padi Tapin tidak sebesar yang dialami Tabela sebar yang bisa terjadi lebih awal yaitu setelah malai padi keluar (kerebahan dini) dan terutama menjelang panen. Varietas atau galur padi mudah rebah dan bulirnya mudah rontok berakibat gagal panen. Oleh karena itu untuk mendukung keberhasilan budidaya padi Tabela, digunakan varietas/galur yang baik, kerapatan tanaman sesuai dan cara tanam padi Tabela yang tepat.

Budidaya padi Tabela kuadrat belum pernah ada selama ini dan perlu dikembangkan karena diperkirakan dapat memberikan kontribusi besar dalam peningkatan produktivitas tanaman padi karena Tabela kuadrat membutuhkan benih lebih sedikit, mudah pemeliharaan padi dan lebih cocok dikembangkan pada berbagai cara persiapan lahan terutama pada lahan TOT.

Tujuan percobaan adalah untuk mendapatkan cara tanam padi Tabela dan varietas/galur padi yang tahan rebah, waktu panen lebih cepat, mudah pemeliharaannya dan sesuai dengan berbagai persiapan lahan.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu. Percobaan dilaksanakan di R & D Station PT. Syngenta, Cikampek, Jawa Barat, Jenis tanah adalah Regosol, dan dilaksanakan pada MH 1999/2000, mulai bulan Desember 1999 hingga MK bulan April 2000.

Bahan dan Alat. Bahan yang digunakan adalah jenis padi berumur genjah hingga sedang, yakni IR 64, galur S.3294-d-Jkn-Si-17-1-1 dan S.3383-1d-Pn-41- 3-1; pupuk urea, TSP, dan KCl; insektisida Regent 0.3 G (Fipronil 0.3%) dan Dursban 200 EC (Klorpirifos: 200 g/l), fungisida Score 250 (Difenokonazol: 250 g/l). Herbisida Sofit 300 EC (Pretilaklor: 300 g/l), Logran 20 WDG (Triaslfuron: 20%) dan Polaris 240 AS(Isopropil amina glifosat 240 g/l).

Alat yang digunakan: traktor mini, knapsack sprayer, penakar curah hujan, oven, seed counter, seed moisture tester, timbangan dan meteran.

Metode Percobaan. Percobaan ini disusun menurut rancangan petak terpisah-pisah (split-split plot design) dengan tiga ulangan kemudian diacak dalam kelompok sebagai ulangan. Dasar pertimbangan adalah: (1)

65 mengutamakan ketelitian cara tanam dan varietas daripada persiapan lahan, (2) memudahkan untuk menyusun rancangan untuk percobaan tahap IV dan (3) memudahkan pengaturan tataletak perlakuan dengan kondisi lingkungan dan pelaksanaan percobaan yang diharapkan.

Perlakuan yang dicobakan terdiri atas tiga faktor yakni: A. Petak utama adalah persiapan lahan mencakup:

1. OTS(1,2) (OTS musim tanam 1,2) 2. OTM(1,2) (OTM musim tanam 1,2) 3. TOT(1,2) (TOT musim tanam 1,2)

B. Anak petak adalah jenis galur atau varietas padi mencakup: 1. Varietas IR 64, tidak tahan rebah

2. Galur S.3294-d-Jkn-Si-17-1-1, tahan rebah 3. Galur S.3383-1d-Pn-41-3-1, tidak tahan rebah C. Anak-anak petak adalah cara tanam padi mencakup:

Tapin, jarak tanam 25 cm x 25 cm Tabela sebar

3. Tabela Kuadrat 25 cm x 25 cm 4. Tabela sebar 1 m

Tata letak petak perlakuan didasarkan pada kondisi lingkungan tempat percobaan, yang diatur menurut arah masuk-keluarnya air irigasi dan penanaman serta pengamatan.

Model matematik untuk percobaan ini adalah sebagai berikut: Yijkl=µ+ρi+Pj+γij+Vk+(PV)jk+δijk+Tl+(PT)jl+(VT)kl+(PVT)jkl+εijkl

Yijkl = hasil pengamatan kelompok ke i, perlakuan ke j, ke k dan ke l

µ dan ρi = rataan umum dan pengaruh kelompok ke i Pj, Vk dan Tl = Pengaruh perlakuan ke j, ke k, dan ke l

γij = galat dari kelompok ke i dengan perlakuan ke j

(PV)jk, (PT)jl dan (VT)kl= pengaruh interaksi ke jk, ke jl, dan ke kl (PTV)jkl= pengaruh interaksi dari perlakuan ke j, ke k, dan ke l

εijkl= galat dari kelompok ke i pada perlakuan ke j, ke k, dan ke l.

Untuk menguji nilai tengah perlakuan yang berbeda digunakan metode yang disarankan Gomez dan Gomez (1984), sebagaimana digunakan pada percobaan II (Tabel 10).

a. Persiapan Lahan

Petak-petak percobaan untuk perlakuan pengolahan tanah (sebagai perlakuan PU) masing-masing seluas 72 m x 5 m sebanyak 3 x 3 unit (9 unit). Petak perlakuan varietas (sebagai perlakuan AP) berukuran 24 m x 5 m sebanyak 3 x 3 x 3 unit (27 unit). Cara tanam (sebagai perlakuan AAP) berukuran 6 m x 5 m sebanyak 3 x 3 x 3 x 4 (108 unit). Cara persiapan lahan dan waktu tunggu hingga musim tanam berikutnya disajikan pada Tabel 11.

Untuk perlakuan TOT, gulma dikendalikan dengan herbisida Polaris 240 AS dengan dosis 6 l/ha, bahan organik dari jerami padi dan gulma dibiarkan dipermukaan tanah. Sedangkan untuk perlakuan OTM dan OTS, jerami padi dan gulma dibenamkan ke dalam tanah.

b. Persemaian Benih untuk Tanam Pindah

Petak persemaian dibuat sebanyak 3 unit (untuk 3 jenis varietas) berukuran masing 1 m x 5 m). Tanah diolah secara OTS. Benih direndam selama 24 jam dan dikering-anginkan (inkubasi) selama 24 jam, kemudian benih dari tiap verietas disebar pada masing-masing petak yang telah disiapkan. Setelah semai padi berumur 21 hari kemudian dipindahkan ke dalam petak-petak percobaan yang sudah ditentukan. Bersamaan dengan persemaian benih untuk Tapin, dilakukan penanaman padi Tabela pada petak percobaan sehingga waktu tanam padi Tapin dan Tabela secara bersamaan.

c. Persiapan Tanam Tabela

Petak-petak perlakuan cara tanam Tabela telah disiapkan sesuai dengan kondisi perlakuan persiapan lahan. Setiap petak diberikan pupuk urea, TSP, dan KCl sesuai dengan dosis yang ditetapkan. Benih direndam dalam air selama 24 jam sebelum disebar kemudian diinkubasi selama 24 jam agar perkecambahan dan pertumbuhan benih padi diharapkan lebih cepat daripada perkecambahan biji gulma. Banyaknya benih padi yang disemai pada kondisi macak-macak untuk Tapin 25 kg/ha, Tabela sebar 60 kg/ha, Tabela kuadrat 25 kg/ha dan Tabela 1 m adalah 50 kg/ha.

d. Pemupukan dan Pemeliharaan

Pupuk urea, TSP, KCl diberikan sesuai dosis anjuran, yakni 300 kg urea/ha, 100 kg SP-36/ha, dan 36 kg KCl/ha.

67 Pada saat dilakukan pemupukan, petak percobaan dalam kondisi macak- macak. Pengaturan waktu pemberian dan dosis pupuk, penggenangan serta waktu pengendalian hama dan gulma pada budidaya Tapin dan Tabela sesuai prosedur dalam Tabel 16.

Tabel 16. Waktu penggenangan dan pemeliharaan padi No. Umur di lapang (hari) Pemupukan Tinggi

genangan

Bahan pengendali

Tabela Tapin (cm) gulma/hama

1 2 3 4 5 6 7 -1 1-10 15-30 21 35-60 42 45-80 -20 21-30 36-51 42 56-80 62 65-80 dasar (1/3 urea, TSP, KCl) - - 1/3 urea + (susulan 1) - 1/3 urea + (susulan 2) - macak-macak 2-6 cm (semua petak) 2-6 cm (semua petak) - 10-15 cm (semua petak) - 10-15 cm (semua petak) Sofit 300 EC Regent 0.3 G Logran 20 WG Dursban 250 EC Logran 20 WG* & fisik (gulma) Dursban 250 EC Score 250 EC Regent 0.3 G Regent 0.3 G Dursban 250 EC Score 250 EC +

40 hst, fase anakan aktif, 60 hst. memasuki fase inisiasi malai. *

aplikasi bila diperlukan

Untuk mencegah dan mengendalikan serangan hama, digunakan insektisida Dursban 200 EC (Klopirifos: 200 g/l) dosis 2 l/ha dengan volume semprot 500 l/ha, sedangkan untuk penyakit digunakan fungisida Score 250 EC (Difenokonazol 250 g/l) dosis 2 l/ha dan volume semprot 500 l/ha.

Pengamatan

Peubah yang diamati adalah karakter agronomis tanaman padi yang menunjang peningkatan produksi dalam budidaya Tabela, yakni:

1. Kerebahan (%). Kerebahan ditentukan berdasarkan kriteria: (1) sangat rendah, 0-10 %, (2) rendah, 10-20 %, (3) sedang, 20-40 %, (4) tinggi, 40-60 %, dan (5) sangat tinggi, >60 %, diamati pada 80 Hss.

2. Tinggi tanaman (cm). Tinggi tanaman diukur mulai pangkal batang diatas tanah hingga ujung daun tertinggi, diamati pada umur 80 hari.

3. Bobot kering total jerami (g/m2). Pengamatan dilakukan pada saat panen. Bahan bagian atas tanaman diambil pada petak contoh berukuran 1 m2, kemudian gabah dikeluarkan dan selanjutnya dikeringkan selama 3 minggu. 4. Bobot GKG (ton/ha). Diamati saat panen, pada petak contoh berukuran 4 x 4

m dan ditimbang setelah kadar air mencapai 14%.

5. Indeks panen (%). Diamati pada saat panen, yakni perbandingan bobot GKG terhadap bobot bahan kering total (IP= Hasil gabah/Hasil biologi).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait