B. Kegiatan Pendidikan di Program Studi Bimbingan dan Konseling,
2. Profesi Konselor dan Konselor Sekolah
a. Pengertian Profesi
Pengertian Profesi (Prayitno, 2004 : 338) adalah suatu perkerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya pekerjaan yang disebut profesi itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. Profesi ialah perkerjaan yang dipegang oleh orang-orang yang mempunyai dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap khusus tertentu dan pekerjaan itu diakui oleh masyarakat sebagai suatu keahlian. Menurut Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling (Thantawy, 2005:92) profesi adalah suatu
pekerjaan yang mempunyai ciri-ciri keahlian karena ada pendidikan formal, tanggung jawab, dan mempunyai etika kerja, kesejawatan.
b. Profesi Konselor
Profesi konselor adalah pendidik yang berkerja dalam setting pendidikan, yang memiliki keahlian tertentu dalam bidang BK. Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 mendefinisikan pendidikan sebagai :
“usaha sadar mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, Masyarakat, Bangsa dan Negara”.
Definisi ini membangun cara pandang baru tentang praktik pendidikan yang lebih menekankan kepada pembelajaran alih-alih kepada proses belajar mengajar. Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran menjadi fokus utama proses pendidikan. Fokus kegiatan pendidikan tidak lagi terletak sebatas kegiatan mengajar dengan mengutamakan peran guru, melainkan secara sengaja dan terancam melibatkan berbagai profesi pendidik, untuk menangani ragam aspek perkembangan peserta didik.
Suasana belajar dan proses pembelajaran yang dikembangkan harus menyentuh berbagai ragam dan aspek perkembangan peserta didik. Pengetahuan, keterampilan, sistem nilai, dan perilaku yang dipelajari peserta didik di kelas, secara klasikal, perlu diperhalus dan diinternalisasikan. Ini adalah sebuah proses individualisasi
pendidikan yang harus menyentuh dunia kehidupan peserta didik secara individual. Proses ini tidak cukup hanya dilakukan oleh guru, tetapi perlu dibantu profesi pendidikan lain yaitu konselor.
Aspek legal keberadaan konselor juga dipayungi UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 6 yang menyatakan bahwa:
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor pamong belajar, widyaiswra, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisifasi dalam penyelengaraan pendidikan .
Menurut Undang-undang Republik Indonsesia mengenai guru dan dosen (Nomor 14 tahun 2005 pasal 1), konselor sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan / Guru yaitu pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Kebijakan pengembangan profesi bimbingan dan konseling di Indonesia difokuskan pada upaya (ABKIN, 2005 : 4-5) :
1) Mengokohkan dan mempromosikan identitas, kelayakan dan akuntabilitas konselor profesional secara nasional maupun internasional.
2) Memantapkan kerjasama antar Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan sebagai penyelenggara pendidikan
konselor dengan organisasi profesi (ABKIN) dalam mendidik dan menyiapkan konselor profesional.
3) Menegaskan identitas profesi bimbingan dan konseling dan masyarakat konselor yang secara nasional maupun internasional. 4) Mendorong perkembangan profesi konselor sesuai dengan
tuntutan dinamika perkembangan masyarakat.
5) Memberikan perlindungan kepada profesi konselor serta para pengguna layanan bimbingan dan konseling.
c. Identitas Profesi
Identitas profesi menyangkut standar profesi. Ada tiga hal utama dalam standar profesi yaitu etik, sertifikasi, akreditasi dan kredensialisasi ( ABKIN, 2005 : 6).
1). Kode Etik
Kode Etik adalah pola/aturan/ketentuan/acuan/tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan kreaktivitas suatu profesi. Dalam Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling Kode Etik (Thantawy, 2005:54) adalah serangkaian peraturan, berupa norma dan asas secara tertulis yang telah disepakati dan dipatuhi oleh setiap petugas bimbingan. Kode etik itu merupakan pedoman yang mengatur tingkah laku konselor dalam menjalankan tugannya. Kode etik yang melindungi profesi dari campur tanggan pemerintah, melindungi atau mencegah para pratisi dari perilaku-perilaku malpraktek.
2). Sertifikasi dan akreditasi
Predikat konselor didasarkan atas sertifikasi yang dimiliki seseorang. Sertifikasi diberikan oleh lembaga pendidikan, tenaga kependidikan dalam program yang disiapkan secara khusus untuk itu. Program studi yang ada di LPTK adalah program yang terakreditasi dan berwewenang menyiapkan tenaga konselor profesional. Akreditasi adalah kegiatan memberikan derajat penilaiaan kelayakan terhadap program dalam suatu pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Sertifiaksi adalah pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kemampuan dan kewewenangan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling pada jenjang dan seting tertentu. Akreditasi diberikan oleh Diktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
3). Kredensialisasi.
Kredensialisasi adalah penganugrahan kepercayaan kepada konselor profesional yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memiliki kewenangan dan memperoleh lisensi untuk menyelenggarakan layanan profesional secara indenpenden kepada masyarakat maupun di dalam lembaga tertentu.
d. Konselor Sekolah
1). Pengertian Konselor Sekolah
Konselor sekolah adalah suatu istilah yang digunakan bagi konselor yang berkerja di lingkungan sekolah, yang menerima tanggung jawab untuk menolong semua murid di sekolah itu dan perhatian utamanya terarah pada perkembangan, kebutuhan-kebutuhan dan masalah anak sekolah (Winkel, 1997:184). Tenaga profesional adalah tenaga/orang yang ahli menjalankan tugasnya dalam suatu profesi tertentu, dalam hal ini konselor adalah suatu contoh tenaga profesional oleh karena itu tenaga/orang yang menjadi konselor haruslah merupakan tenaga profesional. Tenaga profesional mempunyai tugas pada tingkat top menajemen, mempunyai tanggung jawab secara mandiri, dapat membuat keputusan pada tingkat menajemen, telah memperoleh pendidikan sesudah sarjana (Thantawy, 2005: 114). Konselor sekolah adalah tenaga profesional yang mendapat pendidikan khusus bimbingan dan konseling, secara ideal berijazah sarjana dari FIP-FKIP Program Studi Bimbingan Dan Konseling. Tenaga ini di sebut Full Time Guidance And Counselor , karena seluruh waktu dan perhatiaannya dicurahkan pada pelayanan bimbingan dan karena dialah menjadi penyuluh utama di sekolah.
Prayitno (1998 : 99) mengatakan bahwa konselor sekolah adalah anggota staf yang berkerja secara professional dengan administrator, dan personel penunjang lainnya serta orang tua untuk memungkinkan perkembangan siswa secara total. Partowisastro (1985:53) mendefinisikan konselor sekolah sebagai orang yang berkerja dalam lingkungan sekolah, yang menerima tanggung jawab untuk menolong semua murid dari dalam sekolah itu dan perhatian utamanya terarah pada perkembangan, kebutuhan-kebutuhan dan problem-problem dari anak sekolah. Menurut Schmidt (dalam Winkel, 1997) alasan pokok di sekolah terdapat Konselor sekolah adalah mendampingi siswa agar berkembang menjadi orang yang lebih mampu dan lebih manusiawi. Perkerjaan sebagai konselor sekolah termasuk apa yang disebut Helping Profesion. Secara tegas oleh Winkel (1997) dinyatakan bahwa profesi ini memfokuskan diri pada bantuan psiko-pedagosis kepada siswa agar berkembang secara mandiri dalam bidang karir, personal, sosial dan belajar.
Segala penjabaran mengenai definisi konselor sekolah di atas memungkinkan ditarik benang merah bahwa konselor sekolah adalah salah satu tenaga bimbingan yang memfokuskan pada pengembangan siswa agar berkembang secara mandiri
dalam bidang karir, pribadi, sosial dan belajar. Bantuan yang diberikan kepada siswa tersusun dalam program bimbingan.
2). Tugas Konselor Sekolah
Tugas Konselor Sekolah adalah membantu individu atau siswa mengembangan diri secara optimal dalam bidang Pribadi, Sosial, Akademik dan Karir. Bimbingan Pribadi dan sosial adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri, mengatasi pergumulan-pergumulan dalam hatinya sendiri dan permasalahan bersosialisasi dengan orang lain. Bimbingan Akademik adalah bimbingan dalam menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di sekolah. Bimbingan Karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan siswa menghadapi dunia perkerjaan, memilih lapangan perkerjaan atau profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu dan dalam menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan perkerjaan yang akan digelutinya.
Bilamana siswa yang dilayani hanya satu orang maka akan diberikan pelayanan bimbingan individual / perseorangan. Bilamana siswa yang dilayani lebih dari satu orang maka akan diberikan pelayanan bimbingan kelompok. Selain itu BK menyelengarakan layanan konseling kepada siswa.
Dewasa ini konselor sekolah diharapkan mampu memberikan layanan bimbingan konsultasi. Dalam rangka kegiatan konsultasi ini konselor akan menghubungi sendiri atau dihubungi oleh berbagai pihak. Konsultasi dengan berbagai pihak sebagai berikut :
a) Dengan Sesama Tenaga Bimbingan
Kerja sama ini terjadi bila ada kasus-kasus yang menyangkut siswa dan konselor tertentu mungkin menganggap perlu menghubungi salah seorang di antara para rekan tenaga bimbingan, rekan ini bertindak sebagai konsultan.
b) Dengan Tenaga Pengajar
Konselor menghubungi seorang tenaga pengajar untuk membicarakan masalah siswa.
c) Dengan Pejabat Sruktural
Konselor sekolah dapat menghubungi seorang pejabat strukural atas inisiatifnya sendiri, bila dia mengetauhi ada permasalahan yang menyangkut suasana lingkungan sekolah dan menimbulkan efek yang sangat negatif. Pembicaraan ini dapat menjadi titik awal dari proses perubahan terhadap sistem sosial sekolah di mana konselor sekolah terlibat sebagai konsultan.
d) Dengan Orang Tua Siswa
Hal yang dibicarakan antara konselor sekolah dan orang tua siswa menyangkut banyak hal misalnya : kemajuan anak dalam belajar, pilihan sekolah lanjutin, perilaku anak di sekolah, sikap dan perilaku anak di rumah, dll. Hasil yang diharapkan adalah pengetahuan dan pemahaman lebih luas dan mendalam tentang keadaan siswa.
Dalam Buku Standar Kompetensi Konselor Indonesia, Bimbingan dan Konseling / konselor sekolah memegang tugas dan tanggung jawab untuk (ABKIN, 2005)
a) Membangun kemampuan siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan sebaya dengan cara meningkatkan mutu perilaku supaya siswa dapat memfungsikan diri secara tepat dalam lingkungannya (Abkin, 2005 : 1)
b) Meningkatkan interaksi antara siswa dan lingkungan hidupnya (ABKIN, 2005 : 2)
c) Membantu siswa untuk memperbaiki perilaku yang kurang baik menjadi perilaku yang lebih yang menyempurnakan perilaku sebelumnya (ABKIN, 2005 : 2)
d) Membantu meningkatkan prestasi akademis dan keberhasilan siswa di sekolah dengan cara meningkatkan motivasi belajar
siswa, memberikan pemahaman bahwa belajar berguna bagi dirinya, berkerja sama dengan guru mata pelajaran dan orang tua untuk mengamati cara belajar siswa (ABKIN, 2005 : 7) e) Konselor membantu siswa dalam mengambil keputusan.
Bantuan ini diberikan kepada siswa yang mempunyai masalah pribadi, sosial, belajar dan karier (ABKIN, 2005 : 6) f) Menciptakan situasi lingkungan belajar yang positif, seperti
situasi yang tenang, lingkungan sosial yang mendukung, lingkungan keluarga mendukung dan fasilitas yang memadai dan sebagainya (ABKIN, 2005 : 8 )
g) Konselor sekolah harus proaktif dan mempunyai program dalam membantu siswa untuk mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi, pengembangan perilaku efektif, dan peningkatan keberfungsian siswa dalam lingkungannya. Misalnya dengan membuat program Bimbingan kelompok, konseling kelompok/individual, studi kasus danTalk showdll (ABKIN, 2005 : 2).
3). Asumsi dan Prinsip Konselor
a) Konselor adalah pengampu layanan ahli bimbingan dan konseling
b) Konselor adalah pendidik yang memiliki tugas dan ekspektasi (penerimaan) kinerja yang spesifik dibanding
pendidik lainnya. Konselor Membantu siswa bertumbuh dalam semua asfek, yaitu kognitif, afektif dan behavior. c) Konselor dididik pada program studi bimbingan dan
konseling, melalui program Sarjana (S1) dan PPK (Pendidikan Profesi Konselor) dalam Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
d) Setting layanan bimbingan dan konseling yang diampu konselor adalah setting pendidikan, terutama pendidikan formal dan nonformal.
e) Konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor adalah memfasilitasi peserta didik (konseli) untuk mengembangkan kemandirian dalam memilih dan mengambil keputusan (pendidikan, karir, pribadi, sosial), dengan mengedepankan kemaslahatan dan dampak jangka panjang bagi perkembangan peserta didik.
f) Individu (konseli) yang memperoleh layanan ahli bimbingan dan konseling adalah individu yang sedang berkembang dengan segala masalah yang dihadapi di dalam kenormalan perkembangan dan potensinya.
g) Penanganan konseli dapat dilakukan secara kolaboratif dengan ahli lain dan/atau referal
h) Pelaksanaan pelayanan ahli bimbingan dan konseling didasarkan pada kode etik profesi bimbingan dan konseling.