BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
B. Temuan Penelitian
1. Profesionalisme Guru Setelah Sertifikasi
Profesionalisme guru mengandung pengertian kegiatan atau usaha meningkatkan kompetensi guru ke arah yang lebih baik dalam berbagai aspeknya demi terselenggaranya optimalisasi pelayanan kegiatan atau pekerjaan profesi guru (Asmani, 2011:46).
Dalam penelitian ini menurut peneliti guru profesional dapat dilihat dari empat kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik,
kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi
kepribadian.
2. Mata Pelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman (Majid,2014:11). Rumpun mata pelajaran PAI meliputi: Al-Qur’an Hadis, Aqidah Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
7 3. Sertifikasi Guru
Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik
untuk guru yang telah memenuhi standar kompetensi
guru(Damay,2012:10). Menurut peneliti sertifikasi guru merupakan proses pemberian sertifikat pendidik bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan, dan sebagai bentuk upaya peningkatan professional guru.
F. Metode Penelitian
Untuk memperoleh penelitian yang valid, maka harus digunakan metode yang tepat dan sesuai untuk pengelolaan data sesuai objek yang dibahas. Dalam ini dikemukakan beberapa metode dan sumber data yang berkaitan dengan penelitian yaitu :
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research)
karena peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang sesuatu fenomena dalam suatu keadaan alamiah (Moleong, 2009:26). Peneliti terjun ke lapangan penelitian yaitu MAN Salatiga untuk mengamati fenomena yang berhubungan dengan siswa, guru mata pelajaran PAI, waka kurikulum, dan kepala sekolah dalam profesionalime guru dan upaya pembinaannya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2009:6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh
8
subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Dalam penelitian ini akan dikaji lebih mendalam mengenai, profesionalisme guru mata pelajaran PAI, upaya pembinaan profesionalisme guru mata pelajaran PAI, kendala yang dihadapi dalam pembinaan profesionalisme guru, dan cara mengatasinya. Pada pelaksanaannya dilakukan pencarian gambaran dan data deskriptif di lingkungan MAN Salatiga yang dijadikan subjek penelitian.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan alat pengumpul data utama. Peneliti berperanserta pada situs penelitian dan mengikuti secara aktif kegiatan dan mengumpulkan data dari pengamatannya selama mengikuti kegiatan (Moleong, 2009:3).
Kehadiran peneliti bertujuan untuk melakukan pengamatan dan wawancara secara langsung guna mendapatkan data akurat dari informan yang diperlukan peneliti untuk melengkapi data penelitian. 3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana penelitian akan dilakukan, beserta jalan dan kotanya. Penelitian ini akan dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga dengan alamat jalan K.H. Wahid Hasyim No. 12 Salatiga. Adapun pemilihan MAN Salatiga sebagai
9
tempat penelitian karena di MAN Salatiga semua guru mata pelajaran PAI sudah mengikuti sertifikasi, dan untuk mengetahui apakah guru mata pelajaran PAI di MAN Salatiga sudah melakukan tugasnya secara profesional setelah sertifikasi.
4. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer yakni data yang diperoleh langsung dari tempat penelitian. Menurut Lofland dan Lofland, sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan (Moleong, 2009: 157) Kata-kata dan tindakan diperoleh dari wawancara atau pengamatan berperan serta untuk mengetahui upaya pembinaan profesionalisme guru setelah sertifikasi. Data primer penelitian ini, penulis dapatkan dari kepala sekolah, waka kurikulum, guru mata pelajaran rumpun PAI, dan siswa di MAN Salatiga.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, SMS, dan lain-lain), foto-foto, film, rekaman video, dan benda-benda yang dapat memperkaya data primer (Arikunto, 2010:22). Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara dan observasi.
10
5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun dalam pengkajian skripsi ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data penelitian dengan cara sebagai berikut :
a. Wawancara
Wawancara didefinisikan sebagai diskusi antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu, wawancara adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk mengumpulkan data penelitian kualitatif (Sarosa, 2012:45). Kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan dengan wawancara langsung dan terstruktur karena informan atau narasumber bertatap muka secara langsung dan tahu pula tujuan dari wawancara. Selain itu pada saat wawancara, peneliti sudah menetapkan dan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang tersusun secara sistematis.
Wawancara akan dilakukan kepada narasumber diantaranya adalah siswa, guru mata pelajaran PAI, waka kurikulum, dan kepala sekolah MAN Salatiga . Peneliti menggunakan teknik ini untuk mencari data terkait profesionalisme guru mata pelajaran PAI, upaya pembinaan profesionalisme guru, kendala dalam upaya pembinaan profesionalisme guru, dan cara mengatasinya.
b. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu objek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Observasi dapat dilakukan sesaat atau mungkin dapat diulang. Data observasi
11
melibatkan dua komponen yaitu si pelaku observasi dan objek yang diobservasi (Sukandarrumidi, 2004:69). Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai kondisi MAN Salatiga dan profesionalisme guru rumpun mata pelajaran PAI.
c. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2010:274). Peneliti mencari data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan objek penelitian berupa foto, RPP, karya tulis, data prestasi/ pembinan kinerja guru yang terkait dengan pembinaan profesionalisme guru rumpun mapel PAI di MAN Salatiga.
6. Analisis Data
Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2009:248) mendefinisikan analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Menurut Miles dan Hubeman (dalam Emzir, 2011:129) ada tiga macam kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu:
12
1. Reduksi Data
Reduksi data merujuk pada proses pemilih, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data mentah yang terjadi dalam catatan-catatan lapangan tertulis. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokusan, membuang, dan menyusun data dalam suatu cara dimana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasikan.
2. Display Data
Display data adalah suatu kumpulan informasi tersusun yang membolehkan pendeskripsian dan pengambilan tindakan. Bentuk paling sering dari model data kualitatif adalah teks naratif. Teks naratif adalah tulisan yang berisi rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu yang dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Selain dalam bentuk teks naratif, bentuk lain dari model data kualitatif adalah matrik, grafik, jaringan, kerja dan bagan.
3. Penarikan atau Verifikasi Kesimpulan
Upaya penarikan kesimpulan dilakukan penelitian secara terus menerus selama berada di lapangan. Sejak permulaan pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan pola-pola (dalam catatan teori), penjelasan-penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, adan proposisi.
13
Kesimpulan diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan cara: memikir ulang selama penulisan, tinjauan ulang catatan lapangan, tinjauan kembali dan tukar pikiran antar teman sejawat, dan upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Setelah kesimpulan diperoleh, penulis juga menyajikan data menggunakan metode analisis deskripstif yaitu memaparkan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Menurut Moleong (2009:324) ada empat kriteria yang
digunakan yaitu: kepercayaan (credibility), keteralihan
(transferability), ketergantungan (dependability), dan kepastian
(confirmability).
Pada penelitian ini, peneliti memakai kriteria kepercayaan (credibility). Kriteria kepercayaan ini berfungsi untuk melakukan
penelaahan data secara akurat agar tingkat kepercayaan penemuan dapat dicapai. Peneliti memperpanjang penelitian dengan melakukan observasi secara terus menerus sampai data yang dibutuhkan cukup. Kemudian peneliti menggunakan teknik triangulasi data yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2009:330). Pada teknik ini peneliti melakukan:
a. Triangulasi teknik yaitu dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, data yang peneliti
14
bandingkan berupa hasil wawancara dengan siswa dan guru mata pelajaran lain yang berkaitan dengan profesionalisme guru mata pelajaran PAI
b. Triangulasi sumber yaitu dengan cara membandingkan data hasil wawancara antar narasumber terkait dan membandingkan data hasi observasi, peneliti membandingkan hasil wawancara tentang profesionalisme guru mata pelajaran PAI dengan melakukan observasi langsung di kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
8. Tahap-tahap Penelitian
Pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap yaitu: tahap sebelum ke lapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan yang ditempuh sebagai berikut:
a. Tahap sebelum ke lapangan
Tahap ini meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian paradigma teori, penjajakan alat peneliti, permohonan izin kepada subyek yang diteliti, dan konsultasi fokus penelitian.
b. Tahap Pekerjaan Lapangan
Tahap ini meliputi pengumpulan bahan-bahan yang berkaitan dengan profesionalisme guru, pembinaan profesionalisme guru rumpun mata pelajaran PAI di MAN Salatiga.
15
c. Tahap Analisis Data
Menurut Miles dan huberman yang dikutip Sugiyono (2011:337) aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
d. Tahap Penulisan Laporan
Tahap ini meliputi kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan, saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. G. Sistematika Penulisan
Sistematika diperlukan untuk menata dan mengatur sistematika penulisan sehingga mudah dibaca dan dipahami. Adapun sistematika penulisan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Meliputi: latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: Kajian Pustaka
Pada Kajian Pustaka ini penulis mengemukakan kepada pembaca agar mengetahui dasar-dasar teori yang meliputi profesionalisme guru, mapel PAI, pembinaan profesionalisme guru, dan program sertifikasi.
16
BAB III: Paparan Data dan Temuan Penelitian
Pada bab ini akan dilaporkan hasil pengumpulan data berisi gambaran umum MAN Salatiga yang meliputi sejarah perkembangan sekolah, identitas sekolah, visi dan misi, tenaga pendidik, daftar siswa, ekstrakurikuler, dan temuan hasil penelitian berupa profesionalisme guru rumpun mapel PAI setelah sertifikasi, upaya pembinaan profesionalisme guru, dan kendala dalam pembinaan profesionalisme guru serta cara mengatasinya.
BAB IV: Pembahasan
Bab ini memuat gagasan penelitian, keterkaitan antar pola-pola, kategori-kategori dan dimensi-dimensi, posisi temuan/teori terhadap teori-teori dan temuan-temuan sebelumnya, serta penafsiran dan penjelasan dari temuan/teori yang diungkap dari lapangan (grounded theory). Bab ini
berisi profesionalisme guru rumpun mapel PAI setelah sertifikasi, upaya pembinaan, dan kendala serta cara mengatasinya.
BAB V : Penutup
Meliputi : kesimpulan dan saran yang berhubungan dengan pihak terkait (subjek penelitian).
17 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Profesionalisme Guru
1. Pengertian profesionalisme guru
Istilah profesionalisme berasal dari kata profesion. Dalam
kamus Inggris Indonesia,” profession berarti pekerjan” (John,1996:449).
Dalam buku yang ditulis oleh Kunandar yang berjudul Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disebutkan pula bahwa Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu.
Profesi adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Mudlofir, 2013:35).
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan
18
kompetensi intelektualitas, sikap dan keterampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan secara akademis.
Dengan demikian Kartadinatap mengemukakan dalam
Mahanani(2011:14) profesi guru adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan.
Adapun mengenai kata professional, Uzer Usman (2002:14) memberikan suatu kesimpulan bahwa suatu pekerjaan yang bersifat professional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Kata profesional itu sendiri berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.
Seorang professional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan
19
sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran. Seorang professional akan terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan(Tilaar, 2002:86). Profesionalisme berarti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang professional (Depdiknas, 2007:897).
Profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Sedangkan profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian (Kunandar, 2011:46).
Menurut Asmani (2011:45) profesionalisme guru mengandung pengertian kegiatan atau usaha meningkatkan kompetensi guru kearah yang lebih baik dalam berbagai aspeknya demi terselenggaranya optimalisasi pelayanan kegiatan atau pekerjan profesi guru. Makna penting dari profesionalisme guru adalah sebagai berikut:
a. Profesionalisme akan memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum.
20
b. Profesionalisme guru merupakan cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap rendah oleh sebagian masyarakat.
c. Profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan
pengembangan diri sehingga guru dapat memberikan pelayanan dengan sebaik mungkin, serta dapat memaksimalkan kompetensi yang dimiliki.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan yang memerlukan kemahiran, kecakapan, dan memerlukan pendidikan profesi. Profesionalisme adalah ajaran atau paham yang menekankan bahwa segala sesuatu pekerjaan harus dilakukan dengan professional. Dengan demikian, profesionalisme guru dalam penelitian ini adalah profesioanalisme guru dalam bidang Rumpun mapel PAI, yaitu seorang guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang studi rumpun mapel PAI yang mencakup Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlaq, Fiqh, dan SKI, serta telah berpengalaman dalam mengajar rumpun mapel PAI sehingga ia mampu melakukan tugas dan fugsinya sebagai guru rumpun mata pelajaran PAI dengan kemampuan yang maksimal serta memliki kompetensi sesuai dengan kriteria guru professional, dan profesi itu telah menjadi mata pencaharian.
21
2. Aspek Profesional Guru
Dalam pembahasan profesionalisme guru ini, selain membahas mengenai pengertian profesionalisme guru, terlebih dulu penulis akan menjelaskan mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru pofesional. Karena seorang guru yang professional tentunya harus
memiiki kompetensi professional. Menurut Mulyasa(2011:75)
kompetensi yang harus dimiliki seorang guru mencakup empat aspek, sebagai berikut:
a. Kompetensi pedagogik
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran pesera didik yang meliputi pemahaman peserta terhadap didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembagan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
b. Kompetensi kepribadian
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir b, dikemuakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia (Mulysa, 2011:117).
Menurut Mahanani (2011:51) kompetensi kepribadian adalah kesiapan mental, kepribadian dan moralitas guru untuk
22
mengemban amanah sebagai guru. Kompetensi ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik saat kegiatan pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah. Sejauh mana kompetensi tersebut dimiliki oleh seorang guru tampak dalam kompetensi inti, sebagai berikut: a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan
kebudayan nasional.
b. Menampilkan diri sebagai pribadi jujur, berakhlak mulia, teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, bijaksana, dan berwibawa
d. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab tinggi, rasa bangga menjadi guru dan percaya diri.
e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
c. Kompetensi professional
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir c, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi professional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi setandar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Secara umum dapat diidentifikasi tentang ruang lingkup kompetensi profesional guru,sebagai berikut:
23
1) Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya.
2) Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik.
3) Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang
menjadi tanggung jawabnya.
4) Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi.
5) Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat,
media dan sumber belajar yang relevan.
6) Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program
pembelajaran.
7) Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik.
8) Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik.
d. Kompetensi sosial
Menurut Asmani (2009:141) kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan mampu mengembangkan tugas sebagai anggota masyarakat dan warga Negara.
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir d, dikemuakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari
24
masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam RPP tentang Guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang-kurangnya memiiki kompetensi untuk:
1) Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat.
2) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara
fungsional.
3) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga pendidikan, orang tua/wali peserta didik,
4) Bergaul secara santun dengan masyarakat sektiar.
Guru adalah mahluk sosial, yang dalam kehidupannya tidak bisa terlepas dari kehidupan sosial masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi sosial yang memadai, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan yang tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah tetapi juga pada pendidikan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat.
Menurut Sudijarto (dalam Kunandar,2011:57) kemampuan profesionalime seseorang guru, meliputi:
a.Merancang dan merencanakan program pembelajaran.
b.Mengembangkan program pembelajaran
25
d.Menilai proses dan hasil pembelajaran
e. Mendiagnosis faktor yang mempengaruhi keberhsilan dalam proses pembelajaran
3. Kriteria Guru Professional
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada peserta didik sudah cukup hal ini belum dapat dikategorikan sebagai guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya.
Menurut Hamalik (2003:28), guru profesional harus memiliki persyaratan yang meliputi;
a. Memiliki bakat sebagai guru. b. Memiliki keahlian sebagai guru.
c. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi. d. Memiliki mental yang sehat.
e. Berbadan sehat.
f. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
g. Guru adalah manusia berjiwa pancasila.
h. Guru adalah seorang warga negara yang baik
Kunandar mengemukakan bahwa suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni (1) menuntut
26
adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam; (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya; (3) menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai; (4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya; (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
Menurut Surya dalam buku yang ditulis oleh Kunandar, guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun dalam metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru yang profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spiritual.
4. Pembinaan profesionalisme guru
Profesionalisme, yakni sikap guru untuk mau dan mampu menjadi guru yang profesional melalui upaya pengembangan dan