BAB III METODE PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
1. Profil dan Gambaran Umum SMP Negeri 2 Jatiroto
SMP Negeri 2 Jatiroto berdiri pada tahun 1994 dengan luas tanah 15.100 m2 dan luas bangunan 2.083,5 m2 yang terletak di bagian timur kecamatan Jatiroto,
60
tepatnya di desa Cangkring, kecamatan Jatiroto yang berada pada lingkungan kehidupan yang beraneka ragam dengan tingkat perekonomian yang heterogen pula. Letak sekolah yang tidak strategis karena berada di pinggiran kota atau berada di pedesaan yang juga minim dengan transportasi umum telah menambah persoalan bagi SMP negeri 2 Jatiroto, sehingga upaya mempublikasikan harus dilakukan dengan kerja keras. Selain itu juga sarana transportasi umum yang minim sangat menyulitkan peserta didik untuk pergi ke sekolah. Letak sekolah yang kurang strategis tersebut pada kenyataannya sangat mempengaruhi input yang masuk ke SMP negeri 2 Jatiroto.
Pada kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa input yang masuk tergolong rendah, bahkan seadanya saja. Pihak sekolah tidak bisa memilih input yang bagus atau yang memiliki nilai bagus, dan hal tersebut terjadi setiap tahunnya. Disisi lain latar belakang pendidikan orang tua yang kebanyakan adalaha SD dan SMP, bahkan ada sebagian yang orang tuanya tidak lulus SD sehingga sangat berpengaruh terhadap motivasi peserta didik di daerah kecamatan Jatiroto karena kepedulian terhadap dunia pendidikan dirasa masih sangat kurang.
Kecamatan Jatiroto memiliki 2 SMP Negeri dan 2 SMP Swasta. Tingkat persaingan terjadi sangat kompetitif dalam upaya peningkatan mutu. Melalui manajemen sekolah yang bagus sampai saat ini SMP Negeri 2 Jatiroto mampu mencetak siswa yang mempunyai daya kompetitif tinggi baik ditingkat kecamatan atau tingkat kabupaten. Hal ini dibuktikan dengan hasil prestasi akademik maupun
61
non akademik dari tingkat kecamatan, kebupaten bahkan tingkat propinsi yang diperolah.
SMP Negeri 2 Jatiroto memiliki visi yaitu “Berkecakapan Hidup,
Berwawasan Lingkungan, Berdasarkan Iman dan Taqwa ” Untuk mewujudkan visi tersebut SMP Negeri 2 Jatiroto memiliki misi yaitu :
a.Melaksanakan proses belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
b.Mengintegrasikan pendidikan kecakapan hidup dalam keseluruhan proses pendidikan
c.Menunmbuh kembangkan budi pekerti luhur berdasarkan ajaran agama yang dianut
d.Memberdayakan sekuruh komponen sekolah dalam rangka mewujudkan sekolah efektif
e.Mewujudkan sekolah yang berwawasan lingkungan
Untuk mendukung visi dan misi tersebut, maka sekolah yang berdiri sejak tahun 1994 tersebut memiliki sumber daya manusia yaitu tenaga pendidik yang berkompeten dibidangnya dan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memajukan dan mengolah peserta didik sesuai dengan visi, misi sekolah yang telah ditetapkan. Tersedianya sumber daya yang cukup dan komponen akan mendukung efektifitas proses pembelajaran maupun program-program lainnya. JDS selaku guru di SMP Negeri 2 Jatiroto yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah urusan kurikulum menjelaskan dalam wawancara dengan peneliti sebagai berikut:
“Ya kita punya 39 orang tenaga pendidik baik PNS maupun non PNS dan 15 orang tenaga kependidikan baik PNS maupun non PNS. Tenaga pendidik di sini dibagi menjadi beberapa guru bidang studi yang mengampu pelajaran sesuai dengaan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Tapi ya ada beberapa guru ya yang nggak sesui sama latar belakang pendidikannya, tapi saya rasa tidak begitu dipermasalahkan, asal semua dengan tanggung jawab.” (wawancara tanggal 3 Oktober 2014, pukul 08.53 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto )
62
Tenaga pendidik di SMP Negeri 2 Jatiroto terbagi menjadi beberapa guru bidang studi yang mengampu pelajaran sesuai dengaan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Namun ada beberapa guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki walaupun dalam jumlah yang sedikit. Berikut merupakan rincian tabel jumlah tenaga pendidik atau guru bidang studi di SMP Negeri 2 Jatiroto.
Tabel 1. Jumlah guru dan tugas mengajar dengan latar belakang pendidikan.
No Guru
Jumlah guru dengan latar belakang pendidikan
sesuai dengan tugas mengajar
Jumlah guru dengan latar belakang pendidikan yang TIDAK sesuai dengan tugas
mengajar Jml D1/ D2 D3 S1 S2/ S3 D1/ D2 D3 S1 S2/ S3 1 IPA - - 7 - - - - - 7 2 Matematika - - 5 - - - - - 5 3 B. Indonesia - - 4 - - - - - 3 4 B. Inggris - - 5 - - - - - 5 5 Pend. Agama - - 2 - - - - - 2 6 IPS - - 4 - - - - - 4 7 Penjasorkes - - 2 - - - - - 2 8 Seni Budaya - - - - - - 1 - 1 9 Pkn - - 2 - - - - - 2 10 TIK/Keterampilan - - - - - - 1 - 1 11 BK - - 1 - - - 1 - 2 12 Lainnya... a. Bhs. Jawa b. Elektronika - - - - - - - - 1 - - - - - - - - - - 1 - - - - - 1 1 Jumlah - - 35 - - - 4 - 39
Sumber : Dokumen SMP Negeri 2 Jatirot
Tenaga pendidik yaitu guru di SMP Negeri 2 Jatiroto sebagaian besar memiliki latar belakang pendidikan keguruan, sehingga secara teori berkualitas dan mampu menangani proses pendidikan. Sampai dengan tahun pelajaran 2013/2014, SMP Negeri 2 Jatiroto didukung oleh tenaga teknis pendidik yang terdiri dari 25 orang guru tetap PNS dan 14 orang guru bantu. Dibawah ini
63
merupakan tabel rincian pendidikan terakir guru dan pegawai/karyawan di SMP Negeri 2 Jatiroto.
Tabel 2. Kualifikasi Pendidik, Status, Jenis Kelamin, dan Jumlah
No. Tingkat Pendidikan
Jumlah dan status Guru Jml GT/PNS GTT/Guru Bantu L P L P 1 S3/S2 - - - - 2 S1 11 14 7 7 39 3 D4 - - - - - 4 D3/Sarjana Muda - - - - - 5 D2 - - - - - 6 D1 - - - - - 7 ≤ SMA/ Sederajat - - - - - Jumlah 11 14 7 7 39
Sumber : Dokumen SMP Negeri 2 Jatiroto
Peneliti melakukan wawancara terhadap JDS yang menjelaskan bahwa secara umum latar belakang dan tingkat pendidikan para pengajar di SMP Negeri 2 Jatiroto sudah sesuai dengan disiplin ilmu yang menjadi bidang tugasnya. Berdasarkan kualifikasi pendidikan guru, guru berpendidikan sarjana strata 1 kependidikan sebanyak 39 orang guru, itu artinya bahwa semua guru di SMP Negeri 2 Jatiroto telah memiliki latar belakang pendidikan S1 kependidikan yang mengajar sesuai dengan bidangnya masing-masing. Namun ada beberapa guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnnya walaupun dalam jumlah yang kecil.
Guru sebagai warga sekolah yang secara langsung berhubungan dengan peserta didik berada pada posisi yang strategis dalam upaya membangun dan mengembangkan budaya sekolah yang positif. Oleh karena itu guru sebagai sosok
64
sentral dalam proses belajar mengajar di sekolah, harus bisa menjadi teladan bagi peserta didik dalam setiap tindakannya. Perwujudan guru sebagai teladan bagi siswa di SMP Negeri 2 Jatiroto, telah ditunjukan dengan pola tindakan dan tingkah laku, kepatuhan dan ketaatan terhadap tata tertib sekolah serta disiplin dalam melaksanakan tugas. Bagi para guru di SMP Negeri 2 Jatiroto, hal ini sangat diperhatikan. Jika terpaksa harus terjadi jam pelajaran kosong, guru di SMP Negeri 2 Jatiroto wajib meninggalkan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Guru piket wajib berkewajiban mengisi dan mengawasi kegiatan siswa dalam mengerjakan tugas hingga jam pelajaran berikutnya. Hal ini sangat positif untuk menanamkan kesan kepada peserta didik bahwa tidak pernah terjadi kekosongan jam mengajar. Hal tesebut diutarakan oleh S pada saat wawancara sebagai berikut:
“Terus tidak ada jam kosong di SMP ini, diusahakan tidak ada jam kosong, terpaksa ada jam kosong wajib meninggalkan tugas, tugasnya harus yang bisa mengaktifkan siswa, jadi kecuali kalau guru ada kepentingan yang penting sekali, mendadak, rapat ke Dinas, ke Wonogiri kita tidak akan meninggalkan kelas, dengan alasan yang tidak jelas, maaf mungkin gag tau kalau disekolah lain, ada mungkin guru yang meninggalkan kelas, jam kosong dibiarkan saja ndak tau gurunya kemana. Kalau kita ndak seperti itu. Kita harus meninggalkan tugas, atau diganti dengan guru lain yang sama-sama menguasai pelajaran.” (Wawancara tanggal 2 Oktober 2014, pukul 09.21 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto)
Dalam kondisi apapun, jam pelajaran harus diisi dengan kegiatan belajar bagi peserta didik. Kebiasaan ini telah menjadi komitmen bersama diantara guru untuk selalu mengefektifkan jam pelajarn di sekolah. Mengenai disiplin guru dalam memanfaatkan waktu belajar peserta didik, RDA salah seorang peserta didik mengemukakan sebagai berikut :
65
“Bapak ibu guru disini disiplin sekali, mulai dan mengakiri pelajarannya tepat waktu. kalau tidak rawuh (datang) pasti dikasih tugas mas, harus diselesaikan. Gag boleh rame juga. Soalnya ada guru lain yang ngawasin. Ditunggu oleh guru lain, kadang malah diisi guru lain yang ngajarnya sama.” (Wawancara tanggal 15 Oktober 2014, pukul 10.23 WIB, di ruang tamu SMP Negeri 2 Jatiroto)
Sejalan dengan RDA, salah seorang peserta didik lain AR juga mengemukakan sebagai berikut:
“Jarang mas ada jam kosong ki (itu). Malah hampir gag ada jam kosong. Padahal seneng mas nek (kalau) ada jam kosong. Tapi gag pernah mas. Kalo ada jam kosong pasti ada tugas. Jadi siswa tetep didalem, nggak ada yang di luar. Takut dimarahin mas.” (Wawancara tanggal 15 Oktober 2014, pukul 10.23 WIB, di ruang tamu SMP Negeri 2 jatiroto)
Dengan keteladan disiplin dalam menjalankan tugas dan kepatuhann terhadap tata tertip sekolah, guru menjalin hubungan yang baik dan harmonis terhadap peserta didik.
Dalam upaya meningkatkan pengalaman dan kompetensi guru dalam mengajar, guru di SMP Negeri 2 Jatiroto juga dituntut untuk mengambangkan kemampuan diri dan meningkatkan profesionalisme sebagai tenaga pendidik yang berkualitas. Sebagian besar guru di SMP Negeri 2 Jatiroto diisi oleh guru-guru muda dengan asumsi bahwa guru yang masih muda akan selalu berupaya dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengembangkan potensi dirinya untuk selalu memberikan pengajaran yang terbaik bagi peserta didik. Sebagaimana yang diutarakan oleh S dalam wawancara berikut ini :
“Jadi kalau ada guru yang masuk kalau kita disuruh milih, kita lebih milih yang muda, apapun warnanya pilih guru yang muda tetep, kalau muda kita kondisikan seperti ini nanti bisa cepat menyesuaikan dan ikut berkembang, cepat berkembang dan mengembangkan dirinya. Nek yang tua, wes lah, opo onone (apa adanya). Itu ya, maaf tidak memberikan yang lebih lagi.”
66
(Wawancara tanggal 02 Oktober 2014, pukul 09.21 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 jatiroto)
Adapun jenis pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru yang diikuti oleh tenaga pendidik di SMP Negeri 2 Jatiroto Sebagai berikut.
Tabel 3. Pengembangan kompetensi / profesionalisme guru
No
Jenis pengembangan kompetensi Jumlah Guru
L P Juml. Ket.
1 Penataran KBK/KTSP 8 2 10
2 Penataran Metode Pembelajaran (CTL) 16 23 39
3 Penataran PTK 16 23 39
4 Penataran Karya Tulis Ilmiyah 3 - 3
5 Sertifikasi Profesi/Kompetensi 5 6 11
6 Penataran PTBK - - -
7 Penataran lainnya:... - -
Sumber : Dokumen SMP Negeri 2 Jatiroto
Selain hal tersebut diatas yang telah disajikan dalam bentuk tabel, pengembangan profesionalisme guru di SMP Negeri 2 Jatiroto juga diwujudkan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (DIKLAT). Sekolah juga memberikan training maupun out bond maupun seminar-seminar terhadap guru sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi guru, motivasi maupun sikap tanggung jawab yang tinggi untuk selalu meningkatkan prestasi peseta didik.
Selain diklat, pengembangan kompetensi guru di SMP Negeri 2 Jatiroto juga dilakukan dengan cara mengikuti seminar. Kegiatan seminara diikuti oleh guru yang sesuai dengan undangan seminar yang diterima oleh sekolah dan dibiayai oleh sekolah. Namun tidak menutup kemungkinan banyak seminar yang diikuti oleh guru berdasarkan inisiatif guru sendiri dengan biaya mandiri, hal merupakan bentuk upaya guru dalam berkomitmen tinggi mengmbangkan dirinya
67
yang selanjutnya dapat diterpakan didalam pembejalaran terhadap peserta didik. Usaha ini ternyata telah membuahkan hasil walaupun belum sepenuhnya. S kembali menjelaskan peran sekolah dalam upaya mengembangkan potensi guru sebagai berikut ;
“Murid yang baik karena diajar oleh guru yang baik, guru yang baik karena dihargai oleh sekolah yang baik. Seperti pisau itu kalau gag pernah dipakai kan tumpul, gag tajem, seperti itu. Kita juga pernah out bond, dengan tujuan meningkatkan kebersamaan, tanggung jawab bersama, disini tu gag ada guru yang gap-gapan ( jaga jarak), musuhan, itu gag ada. Kalau enggak seperti itu sekolah juga selalu menghadirkan pakar pendidikan seperti kemarin mendatangkan spiritual question lerning dari jogja tiga hari berturut-turut. Jadi sekolah itu menghargai guru luar biasa. Kita berkeyakinan bahwa motivasi yang tinggi, keyakinan pada anak yang luar biasa akhirnya bisa mmberikan penghargaan kepada anak, dulu kepala sekolah berkeyakinan, anak yang istimewa dibimbing oleh guru yang istimewa, jadi tu kita sebagai guru, sekolah mengadakan training, sudah dua kali kita training. Dulu ada pakar pendidikan di Malang mengadakan seminar pendidikan disana, dikirim guru-guru sini ke sana, selain itu juga ada seminar pembelajaran efektif, kita hadir itu di Jogja.” (Wawancara tanggal 02 Oktober 2014, pukul 09.21 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto)
Upaya sekolah dalam menghargai guru untuk selalu memngembangkan potensi yaitu dengan memberikan perhatian yang besar terhadap perkembangan kinerja guru, perhatian sekolah terhadap guru diwujudkan dalam bentuk pelatihan-pelatihan, seminar maupun diklat seperti yang telah diutarakan S dalam petikan wawancara diatas.
Salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pelatih atau guru yang menangani kegiatan pembinaan prestasi pada peserta didik baik akademik maupun non akademik adalah pengusaan tentang bermacam-macam metode mengajar/melatih maupun gaya mengajar. Dalam wawancara yang penelitii lakukan terhadap S mengemukakan sebagai berikut :
68
“Jadi kesulitannya cuma membuat metodenya tadi, kalau metodenya seperti ini terus, anak jenuh nati. Nah itu kelemahan kita kan disitu. Jadi harus banyak-banyak metode. Kalau dulu kan dikelas ceramah, mendengarkan, sekarang kan dituntut untuk anak yang aktif gitu lho. ya saya berikan apresiasi saja, baik dalam bentuk nilai, tepuk tangan, terus apa namanya.. kita buat misalnya model, salah satu contoh penguatan model yang terbaik, ini lho temenmu yang baik, ini lho karakter yang baik itu seperti ini. Jadi anak termotivasi, anak diberi penghargaan seperti itu kan luar biasa jadi termotivasi mereka. Kemudian kita jadikan model, jadi anak tadi kita jadikan model. Lha seperti ini lho contohnya. kita tuntut, semua harus aktif, yang aktif kita nilai, kan sekarang juga ada penilaian sikap, jadi sikap itu juga kita nilai salah satunya keaktifan itu. yang gag aktif ya kita dorong, kalau kamu gag katif gag dapat nilai nanti. Jadi semua harus dituntut, misalnya setiap anak harus membuat satu pertanyaan. Anak wajib bertanya.” (Wawancara tanggal 02 Oktober 2014, pukul 09.21 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto)
Dengan adanya hambatan-hambatan yang terjadi dalam setiap proses pembelajaran, maka guru memberikan solusi dalam setiap hambatannya. Hal tersebut selanjutnya menjadi perhatian sekolah, agar guru selalu mengembangkan dirinya. Seperti yang dijelaskan SHM yang menjelaskan upayanya dalam memeberikan pembelajaran terhadap peserta didik sebagai berikut :
“Upaya untuk menarik anak itu dengan metode pembelajarannya yang berubah-ubah, diganti-ganti menyesuaikan kondisi, itu.. terus diselingi dengan permainan, curhat-curhatan, karena anak kan juga puber to mas, gimana caranya anak itu supaya tertarik. Contohnya metodenya ya pake metode pembelajaran langsung ke alam, dunia nyata, jadi intinya anak diteken supaya tau trus bisa menarik kesimpulan dengan apa yang mereka tangkap.” (Wawancara tanggal 03 Oktober 2014, pukul 10.03 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto)
Semangat belajar yang ditunjukan oleh peserta didik tidak terlepas dari terciptanya iklim belajar yang kondusif. Secara umum guru di SMP Negeri 2 Jatiroto mengajar dengan menggunakan berbagai variasi metode mengajar. Suasana yang menyenangkan menyebabkan peserta didik menjadi lebih
69
bersemangat. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan RDA siswa kelas VIII yang mengatakan:
“Teman-teman kalau di kelas serius mas. Tapi kadang ya bosen (jenuh) dan capek, ngantuk. Tapi bapak ibu guru pandai membangkitkan semangat lagi.kadang cerita yang humor gitu, menarik. Kita kan jadi seneng, nggak bosen, capeknya juga hilang mas. Kalau bapak guru ngajarnya mboseni (membosankan) ya kita jadi malas, pengen geg cepet pulang.” (Wawancara tanggal 15 Oktober 2014, pukul 10.23 WIB, di ruang tamu SMP Negeri 2 jatiroto)
SMP Negeri 2 Jatiroto sebagai institusi pendidikan dan juga merupakan wadah pendidikan bagi manusia merupakan target utama untuk dilibatkan dalam upaya pengelolaan lingungan hidup lewat implementasi dalam setiap mata pelajaran. Pemahaman akan pentingnya lingkungan hidup telah dimasukan dalam salah satu mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup. Jadi peserta didik dituntut untuk selalu berperan aktif dalam usaha melestarikan lingkan sekolah, menjaga dan merawat lingkungan khususnya lingkungan sekolah dan umunya lingkungan di masyarakat. Pembiasaan program jumat sehat, sabtu bersih yang diadakan sekolah terhadap peserta didik akan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan yang terprogram kedalam pendidikan lingkungan hidup yang wajib dilakukan dan dilaksanakan peserta didik.
Untuk menunjang hal tersebut, pihak sekolah merupaya untuk mengubah mindset warga sekolah bagaimana mengelola sampah. Upaya nyata yang dilakukan dimulai dari tiap-tiap kelas dengan pemilahan sampah dilanjutkan dengan pembuatan pupuk kompos dasa dan sebagainya. Sehingga pada tahun 2014 SMP Negeri 2 Jatiroto menerima penghargaan pelaksana Adiwiyata terbaik kedua se Provinsi Jawa Tengah. Penghargaan tersebut merupakan wujud aksi
70
kerja keras dari seluruh warga sekolah. Keunggulan Adi Wiyata SMP Negeri 2 Jatiroto adalah “ Biodiversity School” yaitu sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan serta menjaga keanekaragaman hayati. Seperti kegiatan pengelolaan lingkungan yakni penghijauan, pengelolaan sampah oleh para peserta didik. Pencapaian prestasi ini tidak luput dari dukungan oleh kepala sekolah, seluruh guru, seluruh karyawan, para siswa dan wali siswa. Penghargaan tersebut merupakan wujud aksi kerja keras dari seluruh warga sekolah terutama peserta didik yang secara langsung dituntut untuk mengelola dan merawat lingkungan sekitar sekolah. Seperti yang diutarakan JDS dalam wawancara yang dilakukan dengan peneliti sebagai berikut :
“Terus ngene lho (jadi begini lho), pembiasaan-pembiasaan mulai dari disiplin, pembiasaan cinta lingkungan yang ada pada pendidikan lingkungan hidup, kan kaya pagi tadi wes mulai kebersihan, ngrawat tanaman, itu kan bentuk rasa tanggung jawab yang kita kedepankan dulu. Lingkungan kita sampai seperti ini itu kan anak-anak semuanya.
Ngandalke karyawan sekolah kan ndak mungkin. Ngrawat tanduran sak mene mbane (merawat tanaman sebanyak ini) kan anak-anak semua. Itu bentuk tanggung jawab mereka, dari situ kan secara otomatis begitu kita melakukan hal seperti itu kan anak-anak gampang gur karek nyetel
(tinggal mudah untuk mengolah).” (Wawancara tanggal 03 Oktober 2014, pukul 08.56 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto)
Jumlah peserta didik yang ada di SMP Negeri 2 Jatiroto dari tahun ajaran 2006/2007 sampai dengan tahun ajaran 2013/2014 menunjukan adanya peningkatan jumah maupun penurunan jumlah peserta didik atau dapat dikatakan jumlah peserta didik di SMP Negeri 2 Jatiroto naik turun. Keadaan siswa selengkapnya sebagaimana disajikan dalam tabel berikut ini:
71 Tabel 4. Data siswa
Th. Pelajaran Jml. Pendaftar (cln siswa baru)
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jumlah (Kls
VII+VIII+IX) Jml siswa Rom bel Jml siswa Rom Bel Jml siswa Rom bel siswa Rom Bel 2006/2007 234 200 5 202 5 195 5 597 15 2007/2008 225 201 5 198 5 199 5 598 15 2008/2009 263 200 5 197 5 198 5 595 15 2009/2010 233 198 6 199 6 193 6 590 18 2010/2011 236 194 6 194 6 195 6 583 18 2011/2012 248 194 6 196 6 190 6 580 18 2012/2013 260 204 6 194 6 186 6 576 18 2013/2014 263 204 6 202 6 195 6 601 18
Sumber : Dokumen SMP Negeri 2 Jatiroto
Pada tahun ajaran 2009/2010 mengalami perubahan rombongan belajar (rombel) yang pada tahun ajaran sebelumnya terbagi menjadi 5 rombel disetiap kelasnya menjadi 6 rombel disetiap kelasnya. Keadaan siswa baru yang masuk heterogen atau bervariasi. Siswa yang heterogen disebabkan oleh tidak adanya seleksi penerimaan siswa baru secara ketat. Hal ini dikarenakan pihak sekolah tidak bisa memilih siswa yang memiliki nilai SD bagus, sehingga cenderung seadanya saja. Sehingga untuk pengelompokan kelas VII diratakan. Dari nilai-nilai SD yang sudah valid tersebut diratakan dan dibagi atau disebar ke enam kelas sesuai rombel yang ada. Masuk ke kelas VIII pihak sekolah mulai membentuk pengelompokkan kelas dan mulai menyeleksi peserta didik untuk dikelompokkan ke kelas yang menjadi unggulan berdasarkan nilai-nilai baik nilai rapot mapun nilai ulangan harian selama kelas VII, serta bakat maupun nilai olah raga selama kelas VII dan minat dalam mengikuti ektrakurikuler yang selanjutnya akan dikelompokkan kedalam kelas VIIIA dan kelas VIIIF.
72
Selain hal tersebut pihak sekolah juga mengadakan wawancara terhadap peseta didik dan orang tua secara langsung sebelum peserta didik tersebut ditempatkan dikelas khusus yaitu kelas VIIIF. Sehingga anak-anak yang mempunyai kemampuan lebih dari rata-rata dalam bidang akademik dikelompokkan ke dalam satu kelas yaitu kelas VIIIA dan yang memiliki kemampuan non akademik datas rata-rata juga dikelompokan menjadi satu kelas juga yaitu kelas VIIIF dan untuk kelas yang lain diratakan. Adanya dua kelas yang diunggulkan pada kelas VIII yaitu VIIIA yang ditujukan untuk bidanya bidang akademik dan VIIIF untuk non akademik ini bertujuan untuk memudahkan pembinaan terhadap peserta didik yang nantinya dapat ditunjuk sebagai wakil sekolah dalam berbagai kompetisi kejuaraan sebelum peserta didik tersebut naik kekelas IX. Seperti yang diungkapkan oleh JDS selaku guru yang sekaligus menjabat sebagai wakil kepala sekolah urusan kesiswaan sebagai berikut :
“Kelas 1 itu pengelompokan kelasnya itu kita ratakan, heterogen. Dari nilai-nilai SD itu kita ratakan, kita sebar ke 6 kelas, patokane nilai-nilai SD, dengan asumsi nilai-nilai SD udah valid ya. Terus naik kelas 8 nanti kita kelompokan mulai dari 8A yang apik (yang bagus) sampai kelas khusus di 8F, seng (yang) potensi olahraganya bagus, gitu. Jadi tidak hanya akademik,tapi yang non akademik di 8F. Nanti kelas 9 kita kembalikan lagi ke seperti kelas 7 itu asumsi kita kan, kenapa kita kembalikan, kan ngurutke (mengurutkan) nomor induk nasional hanya pemudahan pengelolaan saja.” (Wawancara tanggal 03 Oktober 2014, pukul 08.56 WIB, di ruang guru SMP Negeri 2 Jatiroto)
Untuk kelas IX pengelompokan kelas dikembalikan lagi seperti kelas VII dengan asumsi untuk memudahkan pengurutan nomor induk nasional peserta