“Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak Pertumbuhan dan Daya Saing Ekonomi serta
Pencipta Kemakmuran Rakyat Yang Berkeadilan”
MISI
1. Meningkatkan akses pasar ekspor melalui diplomasi perdagangan;
2. Mengamankan kebijakan perdagangan nasional di forum internasional.
Multilateral
Regional
DITJEN KPI DARI MASA KE MASA
Sebagai salah satu unit kerja yang menangani bidang kerja sama perdagangan internasional, dalam
perjalanannya Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional telah mengalami
beberapa kali pergantian nama yang secara kronologis dapat diuraikan sebagai berikut:
Tahun 1962 - 1996 Seiring dengan kehadiran Departemen Perdagangan Republik Indonesia, pada
periode ini institusi yang menangani hubungan kerja sama internasional adalah Direktorat
Hubungan Perdagangan Luar Negeri yang merupakan salah satu Direktorat dalam lingkungan
Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Tupoksi dari Direktorat Hubungan Perdagangan Luar
Negeri antara lain yaitu menyelenggarakan hubungan kerja sama internasional antara Indonesia
dengan negara - negara mitra dagang, lembaga perdagangan internasional baik di tingkat regional
(ASEAN, APEC), di tingkat multilarteral (GATT/WTO, UNCTAD, QIC/OKI, ESCAP, UNIDO) demikian
pula dengan beberapa asosiasi komoditi pada tataran internasional seperti, International Pepper
Community (IPC), Asia Pacific Coconut Community (APCC), Association of Natural Rubber Producing
Countries (ANPRC), International Textile and Clothing Bureau (ITCB).
Tahun 1996 - 1997 Sebagai konsekuensi penggabungan Departemen Perindustrian dan
Departemen Perdagangan menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Keppres nomor
388/M tahun 1995 tanggal 6 Desember 1995) maka melalui Surat Keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan nomor 92 / MPP / Kep / 4 / 1996, Direktorat Hubungan
Perdagangan Luar Negeri di pecah menjadi dua direktorat yaitu Direktorat Hubungan
Perdagangan Bilateral dan Direktorat Hubungan perdagangan Multilateral dan Regional.
Pemekaran menjadi dua direktorat ini sebagai konsekuensi dari perkembangan di era globalisasi di
mana Indonesia harus ikut dalam berbagai perundingan di kancah internasional baik di forum
bilateral maupun regional dan multilateral.
Tahun 1997 - 2001 Perkembangan kerja sama di bidang perdagangan internasional terus
mengalami perubahan yang pesat yang diikuti dengan perkembangan lingkungan strategis pasca
perang dingin yang ditandai dengan pertarungan ideologi (politik internasional) kearah simbiose
ekonomi politik (perdagangan internasional). Hal ini menuntut Indonesia untuk turut serta
berperan aktif pada fora internasional (bilateral, regional , dan multilateral), maka melalui Surat
Keputusan Menteri Perindustrian dan perdagangan nomor 444 / MPP / Kep / 9 / 1998 maka
dibentuk Direktorat Jenderal Kerja sama Lembaga Industri dan Perdagangan Internasional (Ditjen
KLIPI) yang terdiri dari 4 Direktorat yaitu Direktorat Kerja sama Bilateral I, Direktorat Kerja sama
Bilateral II, Direktorat Kerja sama Regional, Direktorat Kerja sama Multilateral dan 1 Sekretariat.
Tahun 2001 - 2004 Melalui Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 86 /
M / Kep / 3 / 2001 Direktorat Jenderal Lembaga Kerja Sama Industri dan Perdagangan
Internasional (Ditjen KLIPI) mengalami pergantian nama menjadi Direktorat Jenderal Kerja sama
Industri dan Perdagangan Internasional (Ditjen KIPI). Dalam struktur organisasi Ditjen KIPI terdiri
dari 5 Direktorat yaitu Direktorat Kerja sama Bilateral 1, Direktorat Kerja sama Bilateral 2,
Direktorat Kerja sama Regional, Direktorat kerja sama Multilateral, dan Direktorat Pengamanan
Perdagangan serta 1 Sekretariat.
Tahun 2004 - 2005 Kebijakan pemerintah dalam kabinet Indonesia Bersatu telah memisahkan
kembali Departemen Perindustrian dan Perdagangan menjadi Departemen Perindustrian dan
Departemen perdagangan. Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden nomor 187/M tahun 2004
tanggal 20 Okrober 2004 yang selanjutnya keberadaan Direktorat Jenderal Kerja sama Industri dan
Perdagangan Internasional saat ini di bawah Departemen Perdagangan.
Tahun 2005 – Sekarang Berkaitan dengan kebijakan pemerintah tersebut di atas, melalui
Peraturan Presiden nomor 10 tahun 2005 terjadi pergantian nama Direktorat Jenderal Kerja sama
Industri dan Perdagangan Internasional menjadi Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan
Internasional.
TUGAS POKOK DITJEN KPI
Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Ditjen KPI:
1. Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional adalah unsur pelaksana yang
berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Perdagangan.
2. Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional dipimpin oleh Direktur Jenderal.
Direktorat Jenderal Kerja sama Perdagangan Internasional mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang kerja sama perdagangan internasional.
Dalam melaksanaan tugas pokok, Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional
menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan kebijakan di bidang kerja sama perdagangan internasional;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama perdagangan internasional;
3. Penyusunan pedoman, norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang kerja sama
perdagangan internasional;
4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama
perdagangan internasional; dan
II. PERKEMBANGAN KERJA SAMA
PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Ekonomi dunia mulai pulih di awal tahun 2011, namun ternyata pada pertengahan tahun 2011 ekonomi dunia kembali dihantam badai krisis. Badai krisis ekonomi kali ini bermula dari krisis keuangan yang terjadi di Yunani dan berimbas pada kestabilan keuangan Uni Eropa. Di satu sisi krisis ekonomi di Amerika Serikat masih belum pulih sejak tahun 2008. Hal ini tercermin dari revisi pertumbuhan ekonomi dunia yang dikeluarkan oleh International Monetary Fund (IMF), dari 4% di tahun 2011 menjadi 3,3% di tahun 2012. Namun demikian proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diproyeksikan pada kisaran angka 6%.
Untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Kerja Sama Perdagangan Internasional menjalankan strategi diversifikasi tujuan ekspor ke negara-negara pasar nontradisional. Selain itu, Ditjen KPI memiliki kegiatan prioritas nasional yaitu dengan peningkatan peran dan kemampuan diplomasi perdagangan internasional dalam rangka mempertahankan laju ekspor Indonesia.
Strategi ini telah terbukti berhasil pada tahun 2011, dengan indikatornya adalah nilai ekspor Indonesia yang mencapai USD 203 miliar. Nilai ekspor ini telah melampaui target yang telah ditetapkan diawal tahun yakni sebesar USD 200 miliar.
Untuk tahun 2012 target ekspor Indonesia telah ditetapkan sebesar USD 230 Miliar oleh Menteri Perdagangan. Untuk mencapai target ekspor tersebut Direktorat Jenderal Kerja Sama Internasional mengemban tugas untuk membuka akses pasar non tradisional seluas-luasnya seperti kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika. Mengingat pasar tradisional saat ini seperti Amerika Serikat, Uni Erop, RRT, Jepang, dan India diperkirakan akan mengalami perlambatan ekonomi.
Selain membuka akses pasar non tradisional Ditjen KPI juga akan meningkatkan posisi Indonesia pada setiap forum perundingan perdagangan internasional. Dengan meningkatkan posisi dari anggota biasa menjadi koordinator ataupun ketua dalam setiap perundingan secara tidak langsung akan meningkatkan citra Indonesia dalam forum internasional.
A. Direktorat Kerja Sama Multilateral
1. Pertanian/Agriculture Negosiasi isu pertanian di World Trade Organization (WTO) pada awal Januari 2011 adalah terkait tentang Special Safeguard Mechanism (SSM) pada Committee on Agriculture Special Session/COA-SS) yang membahas masalah Draf Teks ke-5 Pertanian. Pembahasan hal ini telah memasuki tahap konsultasi informal baik plurilateral maupun bilateral.
Kemajuan yang telah dicapai dalam rangkaian sidang tersebut adalah adanya indikasi yang kuat dari para anggota untuk terus melakukan konsultasi setelah sidang ini berakhir, baik untuk membahas isu
outstanding maupun isu teknis lainnya. Arah pendekatan pembahasan
isu teknis dan outstanding ke depan akan lebih diserahkan ke negara-negara key players untuk menyelesaikannya, baik dalam format small
groups maupun konsultasi bilateral.
Indonesia sendiri masih terlibat aktif melakukan konsultasi bilateral dan plurilateral mengenai isu SSM dengan beberapa negara yang berkepentingan untuk mengamankan ekspor produk pertanian mereka seperti Australia, Selandia Baru, dan Norwegia.
Indonesia dalam perundingan bidang pertanian akan membahas dan menyelesaikan seluruh isu pending pertanian, diantaranya adalah
technical issues serta beberapa bracketed issues di ketiga pilar Domestic Support, Market Access, dan Export Competition. Indonesia menyatakan
kesiapannya untuk terus berpartisipasi dalam pembahasan problem
solving atas isu SSM.
Pada tahun 2011 Indonesia dapat menyelesaikan dan mengamankan kepentingan nasional dalam beberapa isu diantaranya adalah:
a. Penyusunan database level OTDS Indonesia, yang bermanfaat bagi
Indonesia dalam hal Domestic Support atau subsidi domestik.
b. Penyusunan HS 9 Digit Produk Tropis yang akan diajukan untuk
dihapuskan tarif bea masuknya di negara maju.
c. Penentuan kisaran angka trigger SSM yang berpedoman pada prinsip
posisi defensif dan ofensif.
d. Penentuan Sensitive Product (SPs) apabila hanya ditetapkan zero cut
hanya sebesar 5% dari total SP Indonesia.
e. Simulasi produk-produk sensitif yang akan terpotong tarif bea
2. Non Pertanian/ Non Agriculutural Market Access (NAMA)
Sidang NAMA yang dilaksanakan pada tanggal 14-18 Maret 2011 membahas sejumlah dokumen baru dan pertemuan informal Product
Basket Approach dalam rangka inisiatif sektoral. Adapun
proposal-proposalnya adalah sebagai berikut: Proposal LDCs terkait Rules of
Origin (RoO), Proposal Korea terkait standar internasional dan Conformity Assessment Procedures dalam negosiasi NTB produk
elektronik, Proposal Israel terkait Request-offer approach dalam negosiasi NAMA, Proposal sejumlah negara terutama Singapura terkait negosiasi sektoral, dan Proposal ACP Group terkait transparansi. Diharapkan negara-negara pengusul usulan dalam proposal tersebut dapat segera melakukan konsultasi.
3. Fasilitasi dan Aturan Perdagangan
a. Trade Facilitation Dalam beberapa sidang Negotiating Group on Trade Facilitation (NGTF),
selama tahun 2011 mencatat telah diadakan pertemuan informal, bilateral, dan plurilateral NGTF. Tujuan dari pertemuan informal ini adalah konsolidasi melalui konsultasi intensif di antara anggota WTO untuk men-stream linedraft text. Pertemuan informal ini disebut dengan nama Facilitator Led Informal Consultation yakni anggota WTO yang bertindak sebagai fasilitator mengoordinasikan pertemuan informal ini bertempat di Sekretariat WTO maupun di mission.
Untuk mengantisipasi agar posisi RI atas Draft Consolidated Text Trade
Facilitation dapat terakomodir dengan baik, maka RI telah melakukan
konsolidasi dan koordinasi dengan instansi-instansi terkait dan akan segera menyusun written comment berisi masukan, tanggapan dan posisi runding RI atas Draft Consolidated Text revisi ke 7 dan Draft
proposed text guna mengamankan kepentingan RI pada perundingan
dimaksud. Manfaat dari hal tersebut adalah untuk mempermudah masuknya barang ekspor di negara mitra dagang dengan menciptakan sistem transparansi proses administrasi yang dibutuhkan dalam melaksanakan ekspor.
b. Negotiating Group
on Rules (NG on Rules)
Sidang NG on Rules sampai saat ini masih membahas beberapa isu
utama, antara lain seperti zeroing, circumvention, dan product
underconsideration. Untuk isu ini,Indonesia pada dasarnya keberatan
dengan penerapan zeroing dalam menentukan dumping margin. Karena dengan metode ini akan meningkatkan dumping margin dan dianggap merugikan bagi negara-negara berkembang.
Sedangkan untuk fisheries subsidies, Indonesia tengah mempersiapkan proposal baru dengan tetap berbasis pada proposal Indonesia yang lama serta mengakomodir perkembangan perundingan.
4. Hak Kekayaan Intelektual, Investasi Lingkungan dan Isu Baru a. Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (Trips)
Pada tahun 2011, sebagaimana telah diagendakan secara reguler, TRIPS
Council telah menyelenggarakan sidang sebanyak 3 (tiga) kali. Dalam
setiap sidang TRIPS Council, Indonesia turut menyuarakan kepentingan mayoritas negara berkembang khususnya terkait isu Geographical
Indications (GI) dan TRIPS - Convention on Biological Diversity (CBD).
Pada bulan April 2011, Indonesia bersama beberapa negara berkembang lainnya sepakat untuk mengusulkan proposal terkait dengan amandemen Article 29 TRIPS Agreement. Melalui usulan amandemen ini diharapkan nantinya TRIPS Agreement dapat memfasilitasi pencegahan penyalahgunaan Sumber Daya Genetik (SDG) dan pemberian paten yang tidak tepat serta meningkatkan transparansi dalam pemanfaatan SDG. Hal ini merupakan salah satu kepentingan diplomasi Indonesia yang saling melengkapi dengan perjuangan di berbagai fora lain.
b. Trade and
Environment
Untuk sidang Committee on Trade and Environment (CTE) membahas mengenai beberapa submission baru,yaitu:
1) Proposal draft text memenuhi mandat perundingan para 31 (i) dan
(ii) yang diajukan oleh delegasi US;
2) Simulasi mengenai penurunan tarif terhadap environmental goods
yang disampaikan oleh delegasi China; dan
3) Proposal outcome on Paragraph 31 (iii) yang diajukan oleh delegasi
Singapura dan Meksiko.
Selain itu pada tanggal 22 Maret 2011, Indonesia dan Amerika Serikat telah melakukan bilateral meeting untuk membahas proposal Amerika Serikat mengenai Paragraf 31 (i) dan 31 (ii) terkait dengan dimasukkannya Sanitary and Phytosanitary Agreement dalam preambul. Selain itu juga mengenai concern Indonesia terhadap AS yang menginginkan perlunya share domestic experience. Diharapkan pembahasan tidak hanya pada trade data and technical data saja tetapi diperluas juga terhadap Non Tariff Barriers (NTBs) serta cross cutting
issue seperti Technical Assistance and Capacity Building misalnya issue technology transfer.
c. Trade and
Development
Regional Review Meeting on Aid for Trade Asia Pacific berlangsung pada
tanggal 14 Juni 2011 di Jakarta. Pertemuan ini bertujuan untuk mengambil pelajaran dan membagi pengalaman positif dari skema aid
for trade sebagai complementary Doha Development Agenda terhadap
liberalisasi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi khususnya negara-negara Asia Pasifik, efektivitasnya saat ini, dan tantangannya di masa yang akan datang.
Dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-8 WTO pada tanggal 16-17 Desember 2011 dilaksanakan Working Sessions untuk membahasTrade
and Development. Pentingnya pembangunan baik dalam konteks
perundingan DDA dan perdagangan maupun kegiatan WTO secara umum. Sebagai contoh, pentingnya Aid for Trade dan perannya dalam perdagangan ke dalam strategi pembangunan nasional, serta kebutuhan pendanaan perdagangan dan peningkatan Committe on Trade and
Development.
Dalam hal ini para menteri juga menekankan bahwa untuk mencapai tingkat pembangunan yang ideal, hambatan non-tarif seperti standar teknis dan keamanan perlu dihapuskan untuk meningkatkan ekspor
Least Developed Countries (LDCs). Akses pasar duty free quota free telah
diberikan oleh sebagian negara maju dan dalam hal ini perlu diikuti oleh negara berkembang yang lebih mampu.
5. Ketentuan Perdagangan dan Notifikasi
Terkait Dispute Settlement Body (DSB) Indonesia - AS (Tobacco Act) Proses terakhir yang telah dilaksanakan oleh Indonesia dan Amerika
Serikat adalah dengan menyampaikan jawaban atas 2nd Set of Question
from Panel yang dikeluarkan panel pada saat Second Substantive
Meeting Panel DSB-WTO terkait sengketa Family Smoking Prevention
and Tobacco Control Act antar Indonesia dan Amerika Serikat pada
tanggal 10 Maret 2011. Kemudian Panel memberikan beberapa
additional question yang harus dijawab oleh kedua belah pihak.
Diharapkan dengan terselesaikannya sengketa ini, akses rokok kretek Indonesia ke Amerika Serikat akan tetap terbuka sehingga menghidupkan kembali industri rokok kretek dan petani tembakau Indonesia.
B. Direktorat Kerja Sama ASEAN
1. Internal ASEAN
a. ASEAN Economic Community 2015
Tahun 2011 ASEAN menggarisbawahi 4 (empat) hal penting yang perlu dipastikan pelaksanaannya dalam rangka mewujudkan AEC 2015 yakni: (i) percepatan implementasi AEC Blueprint; (ii) ASEAN Centrality sebagai prinsip ASEAN dalam membangun regional architecture; (iii) pengembangan ekonomi yang merata di ASEAN; dan (iv) penguatan
ASEAN Secretariat dalam melaksanakan peran dan tugasnya dalam
mengawal perkembangan integrasi ekonomi ASEAN.
Khusus tahun 2011 Indonesia mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan 2 sidang ASEAN Summit dan 1 sidang tingkat Menteri Ekonomi. Dengan terselenggaranya sidang tersebut maka implementasi ASEAN Economic Community 2015 diharapkan dapat segera terwujud. Untuk Ketua ASEAN di tahun 2012 adalah Cambodia, diharapkan ketua selanjutnya dapat meneruskan semua komitmen yang telah disepakati di tahun 2011.
b. ASEAN Economic
Community (AEC)
Scorecard
AEC Scorecard merupakan alat yang digunakan oleh ASEAN Secretariat
untuk mengukur tingkat implementasi AEC Blueprint pada setiap periode implementasi.
Pada tahun 2011 Indonesia ditargetkan oleh ASEAN untuk memenuhi 178 measures pada AEC Scorecard, namun melihat kondisi yang ada maka target yang dapat dipenuhi oleh Indonesia sebanyak 154 measures.
Berdasarkan pemenuhan measures tersebut maka terlihat bahwa capaian Ditjen KPI untuk Pemenuhan Asean Economic Community (AEC)
Scorecard adalah 64,61% atau 115 measures (as of Desember 2011) dari
target yang telah di tetapkan yaitu 87% atau 154 measures, dengan kata lain telah Indonesia telah mencapai 74,24% dari target yang telah di tetapkan sebelumnya. Pemenuhan pelaksanaan AEC Blueprint sesuai target waktu masih menjadi tantangan tersendiri bagi anggota ASEAN, terutama adanya keterlambatan ratifikasi, penyesuaian ketentuan domestik dengan kesepakatan yang dicapai dan hambatan lainnya. ASEAN menegaskan kembali komitmennya untuk melaksanakan AEC
Blueprint secara konsisten dan mendorong masing-masing anggota
untuk membentuk sistem pemantauan implementasi AEC Blueprint di tingkat nasional, yang nantinya bersinergi dengan mekanisme pemantauan di tingkat regional melalui ASEAN Integration Monitoring
Office (AIMO) yang berada di Sekretariat ASEAN.
ASEAN
Comprehensive Investment Agreement (ACIA)
Berkaitan dengan ratifikasi ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA), Indonesia telah meratifikasi ACIA melalui Perpres No. 49/2011 pada tanggal 8 Agustus 2011 dan telah menyampaikan notifikasinya ke
ASEAN Secretariat. Sampai saat ini ACIA belum dapat berlaku efektif
(enter into force/EIF), oleh karena ACIA Reservation List belum disahkan oleh ASEAN Investment Area (AIA) Council. Sekretaris Jenderal ASEAN akan segera menyampaikan surat kepada para Menteri AIA Council untuk mendapatkan persetujuan secara ad-referendum atas ACIA Reservation
List.
Diharapkan final endorsement dapat dilakukan pada saat AEM Retreat bulan Februari 2012 sehingga ACIA dapat berlaku efektif sebelum KTT ASEAN ke-20 pada bulan April 2012. Dewan AIA juga mensahkan Modalitas Penghapusan/Perbaikan Hambatan Investasi (“Modality for
the Elimination/Improvement of Investment Restrictions and Impediments”) pada pertemuan CCI ke 52 bulan Februari 2011.
meliberalisasikan investasi yang diatur dalam AIA Agreement yakni sektor maupun sub-sektor yang berada di dalam Temporary Exclusion
List (TEL). Semua negara ASEAN telah menghapuskan sektor dan
subsektor TEL sesuai dengan jadwal yang disepakati, yaitu tahun 2010. 2. ASEAN Mitra
a. ASEAN-China Free
Trade Area (ACFTA) ACFTA merupakan kesepakatan antara negara-negara anggota ASEAN dengan China bertujuan untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerja sama ekonomi untuk mendorong hubungan perekonomian para Pihak ACFTA dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China.
Dalam perdagangan Indonesia - China, pemanfaatan preferensi tarif oleh kedua pihak cukup tinggi dan perdagangan antara kedua pihak terus ditingkatkan. b. ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP),
Indonesia dan Jepang saat ini sedang melakukan proses penyelesaian transposisi HS, sehingga Indonesia dapat segera mengimplementasikan Persetujuan AJCEP. Persetujuan Perdagangan Jasa dan Investasi masih dalam tahap perundingan, dan dijadwalkan akan diselesaikan pada pertemuan AEM – Minister for Economy, Trade and Industry (METI) ke-17 bulan Agustus 2011.
Negosiasi persetujuan di bidang jasa dan investasi praktis belum dapat diselesaikan karena kedua pihak melakukan pendekatan negosiasi yang berbeda, namun kedua pihak sepakat untuk tetap menyelesaikan negosiasi di kedua bidang ini pada tahun 2012.
c. ASEAN-Korea Free
Trade Agreement (AKFTA),
Di sela-sela KTT ASEAN ke-19 telah dilakukan penandatanganan the
Second Protocol to Amend the Agreement on Trade in Goods under the Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation among the Governments of the Member Countries of the Association of Southeast Asian Nations and the Republic of Korea pada tanggal 16
November 2011 oleh para Menteri Ekonomi ASEAN. Penandatanganan protoko tersebut dilakukan oleh Menteri Perdagangan Korea yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri Korea pada tanggal 17 November 2011 di Nusa Dua-Bali, Indonesia. Protokol tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi pemindahan komitmen produk jalur sensitif ke jalur normal dan perubahan Operational Certification Procedures (OCP).
d. ASEAN-India Free
Trade Agreement (AIFTA)
Pada KTT ASEAN ke- 19, ASEAN – India, pada tanggal 16-17 November 2011 di Nusa Dua-Bali, Indonesia, Senior Economic Official Meeting (SEOM) mendapatkan updates dari Malaysia sebagai ASEAN Country
Coordinator untuk perundingan ASEAN - India FTA. Updates tersebut
antara lain mengenai perkembangan negosiasi antara ASEAN dan India di tiga bidang, yaitu: (i) Products Specific Rules (PSR); (ii) Services; dan (iii)
Investment.
Terkait isu PSRs, ASEAN belum mencapai kesepakatan terkait dengan 40 PSR dan 10 PSR tambahan yang diusulkan oleh India pada pertemuan
ASEAN - India Trade Negotiating Committee (AITNC) ke-29. Saat ini,
Indonesia baru dapat menyetujui 28 dari 40 daftar PSR tersebut, dan mengusulkan 10 PSR tambahan tapi di luar usulan India.
Perundingan di bidang investasi ASEAN – India FTA juga belum dapat difinalisasi, oleh karena sikap India yang selalu bersyarat terhadap posisi ASEAN terkait pendekatan negative list, serta kecenderungan
backtracking terhadap isu yang sudah dibahas dan disepakati.
e.
ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZ-FTA)
Semua anggota ASEAN beserta Australia dan Selandia Baru telah meratifikasi dan mengimplementasikan Trade in Goods ASEAN-Australia
and New Zealand. Indonesia telah mengimplemtasikan ANNZFTA sejak
tanggal 10 Januari 2012 melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK No. 166/PMK.011/2011).
Australia dan Selandia Baru sangat concern terhadap isu Economic
Cooperation. Kerja sama ekonomi tersebut dilaksanakan dengan
Economic Cooperation Support Programme (AECSP) untuk jangka waktu 5 tahun (2010-2014) dengan estimasi biaya AUD 20 - 25 Juta.
Proyek-proyek kerja sama ekonomi yang didanai selama ini antara lain adalah: (i) in-country training on ROO for Cambodia and Laos; (ii) ASEAN
Regional Diagnostics Network on Sanitary and Phytosanitary Measures;
(iii) Forum on ASEAN Regional Qualifications Framework to support
education services; dan (iv) Workshop on Accession to the WIPO Madrid Protocol.
Peluncuran CER-ASEAN Integration Partnership Forum (IPF) telah dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2011 di Kuala Lumpur, Malaysia. Forum tersebut menginformasikan pengalaman Australian dan Selandia Baru dalam membangun CER dan “Single Economic Market” kedua negara. Forum ini diharapkan dapat mendorong dilakukannya dialog antara ASEAN dan CER berkaitan dengan isu integrasi ekonomi dan connectivity. f. ASEAN - US Trade and Investment Framework Arrangement (ASEAN-US TIFA)
ASEAN - US Trade and Investment Framework Arrangement (ASEAN-US
TIFA) telah ditandatangani oleh para Menteri Ekonomi ASEAN dan United
State Trade Representatif (USTR) pada tanggal 25 Agustus 2006 di Kuala
Lumpur Malaysia. ASEAN-US TIFA didirikan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi.
Program/ Kegiatan 1) ASEAN-US Work Plan 2010 telah disetujui oleh AEM pada bulan Oktober 2009 di Hua Hin – Thailand yang terdiri dari 6 inisiatif dan