BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA
4.2 Profil informan
4.2.1 Profil Informan Lansia
Nama : Tiolo Siregar
Umur : 70 Tahun
Suku : Batak angkola
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SD
Status : Janda
Asal : Tano Bato
Oppung Tiolo Siregar adalah salah satu penghuni pondok Lansia Ma’arif Muslimin , berusia 70 tahun. Asal daerahnya dari Tanobato padangsidimpuan . Pendidikan terakhir Tamat SD. Dia sudah menjadi Janda kurang lebih 27 tahun. tinggal di pndok kira-kira 2 tahun 8 bulan. Oppung ini memilih tinggal di pondok dari pada
ibadah dari pada dirumah. Di pondok lebih senang suasananya, hati tenang, serta fikiran pun tenang.
Oppung ini memiliki 10 anak dimana pada saat ini Oppung Tiolo di biayai oleh anak-anaknya selama tinggal di pondok, anak-anaknya ada yang memberi beras, uangyang bisa mencapai Rp 1.000,000,-. Oppung tiolo tidak pernah tahan di rumahnya , apabila di rumah ia sakit, Oppung Tiolo meminta kepada anak-anaknya untuk di antar pulang ke pondok, karena di pondok dia lebih sehat dan merasa penyakitnya akan membaik jika sudah berada di pondok. Seperti menjalang Bulan suci Ramadhan Oppung Tiolo Lebih memilih melaksanakan Puasa Ramadhan di Pondok dari pada di rumah berasama anak-anakanya, seminggu menjelang lebaran idul fitri Oppung Tiolo kembali kerumahnya sendiri di Tanobato.
Di pondok Oppung Tiolo menggunakan listrik di kamar, memakai magicom memamasak nasi, memakai lampu listrik, dan air PAM, sehingga di pondok Oppung Tiolo mendapat pungutan biaya perbulan pada pihak pondok 40 ribu, dan Oppung ini mearasa ikhlas, karena Oppung ini berpandapat biaya yang dikeluarkan belum seberapa di banding dengan biayaiuran mengkontrak rumah, jadi pungutan yang di lakukan oleh pihak pondok bagi beliau membayarnya dengan keikhlasan oleh Oppung Tiolo, karena Oppung Tiolo juga berkata, kalau kita memliki uang lebih, boleh juga kita berikan kepada Tuan guru (Pimpinan Pondok) yang berada di pondok yang memberikan pengajian, ceramah selama berada di pondok.
Oppung Tiolo juga bercerita kalau hanya memasak pakai kompor dan tidak menggunakan listrik, hanya terjadi pungutan sebesar 12 ribu. Oppung tiolo berkata bahwa kehiduapan di pondok bersama penghuni pondok yang lainnya hubungannya
baik-baik saja , dan saling menghargai dan juga saling bertukaran ilmu selama di pondok, dan meninggalkan kebiasaan buruk yang berasaral dari rumah masing-masing, saling mengingatkan ketika hendak melaksanakan sholat, khususnya ibadah sunnah lainnya. dan meningkatkan ibadah lainnya secara terusmenerus, seperti melaksanakan puasa Sunnah senin-kamis, yang di laksanakan para penghuni pondok secara bersama-sama, tanpa ada paksaan dari teman-teman satu pondok lainnya, ini lah yang membedakan kehidupan dipondok dengan kehidupan dirumah, kalau di rumah, tidak ada yang mengajak dan mengingatkan untuk melaksanakan ibadah sunnah lainnya, kita hanya melaksanakan ibadah wajib saja, seperti shalat 5 waktu, dan kadang-kadang lupa waktu .
Dalam pondok hanya satu orang per kamar dan pertama kali berada di pondok, Oppung Tiolo langsung nyaman dan senang berada di Pondok, tidak ada yang penghuni pondok yang sombong. Kebutuhan yang paling utama di butuhkan berada di pondok yaitu, terutama air, dan listrik, karena air sangat berguna untuk berwuduk, dan listrik untuk mengaji, atau membaca Al-Quran. Selain hanya untuk beribadah selama di pondok, Oppung Tiolo tidak mampu lagi melaksanakan kegiatan lainnya, Oppung Tiolo berada di pondok hanya untuk mendekatkan ke khusukan beribadah kedapa Allah Swt, karena anak-anaknya mampu memenuhi biayanya selama ber-Pondok, dan Oppung Tiolo hanya memilih untuk beriabadah saja, karena kurangnya kempuan dan tenaga buat bekerja atau bercocok tanam di sekitar pondok, Oppung Tiolo hanya mampu menuci baju dan membersihkan keperluannya sendiri di pondok, dan melakukan penghematan penghematan biaya hidup selama di Pondok
Selama di pondok Oppung Tiolo sering sakit, tetapi tidak begitu parah, masih bisa sembuh, dan tetap bisa melaksanakan ibadah wajib dan ibadah sunnah di pondok, sakit
yang sering kambuh, berupa, turun tensi, sakit pinggang, tetapi Oppung Tiolo tetap sabar, katanya penyakit itu sebagai cobaan saja, dan kalau memang penyakit itu membuatnya meninggal, dia akan tetap menahan sakit itu dan tetap berada di pondok, karena dia lebih memilih meninggal di pondok dari pada di rumahnya.
4.2.2 Profil informan Lansia
Nama : Lawin Harahap
Umur : 74 Tahun
Suku :Batak angkola
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SD (tidak tamat)
Status : Janda
Status Pekerjaan Terakhir : Petani
Asal daerah : Desa Mompang
Lawin Harahap merupakan salah satu penghuni pondok Lanjut Usia(Lansia)yang memiliki usia 74 tahun, beliau keturunan dari suku Batak angkola yakni bermarga harahap yang berasal dari harahap palopat. Pendidikan terakhir Oppung Lawin Harahap hanya merasakan pendidikan sampai kelas 2 SD tidak sampai Tamat, karena kondisi orang tuanya yang tidak sanggup, dan orangtua Oppung Lawin yang cepat berpulang kerahmatullah (Wafat) pada saat beliau masih kecil, sehingga hanya merasakan pendidikan sampai kelas 2 SD.
Ompung Lawin berasal dari daerah Mompang yakni suatau kawasan di daerah kaki gunung Lubukraya dipinggiran kota padangsidimpuan . Selama tingal di kampung
halaman ompung Lawin bekerja sebagai petani sama seperti kebanyakan warga desanya, oppung menjadi petani dengan menyewah tanah kerabatnya di desa untuk ditanami padi, beliau bercerita bahwa bertani pada saat jaman dahulu dan sekarang sangat berbeda itu bisa dilihat dari hasil produksi dan pemakaian pupuk, kalau dahulu pakai pupuk kompos sudah mendapatkan hasil yang bagus tetapi sekarang kita harus membeli pupuk demi keberhasilan tanamannya. Setelah ompung Lawin ditinggal mati oleh suaminya sehingga membuatnya berstatus janda ada rasa yang membuat beliau merasa kurang berarti untuk menjalankan hidup di dunia, ada timbul rasa kesepian dan tidak semangatdan atas inisiatif sendiri ompung Lawin mengusulkan kepada anak-anaknya untuk tinggal di Pondok Lansia Ma’arif muslimin.
Ompung Lawin pun di antar oleh anaknya ke pondok tetapnya empat tahun silam, ketika pertama kali berada di pondok, ompung Lawin merasa baik dan di sambut oleh teman-teman satu pondok dengan penuh kekeluargaan dan beliau merasa nyaman tinggal di Pondok. Ompung Lawin tinggal di pondok berkisar kurang lebih 4 tahun.Ompung Lawin lebih memilih tinggal di pondok dibanding tetap menetap di rumah sendiri, di karenakan usia yang sudah tua, jadi berfikir kalau usia untuk hidup hanya sebentar lagi, berusaha atau bekerja di kampung tidak sanggup lagi, sehingga lebih baik berpondok untuk beribadah sebagai bekal di akhirat kelak.
Padahal di kampung halaman Oppung Lawin memiliki rumah sendiri, dengan kondisi seadanya, dan sekarang hanya di tempati oleh anak-anaknya. Ompung Lawin memiliki jumlah anak sepuluh anak yang kesemuanya nasib hidup nya sama dengannya. Sedangkan di kampung ompung lawin hanya bekerja di Sawah yang bukan miliknya
dirumah, dan di rumah juga kurang sekali keinginan untuk mengerjakan ibadah sunnah, dan dirumah juga suasananya sepi, karena anak-anaknya juga pada kerja, sehingga perasaan tidak tenang.
Selama di pondok Ompung Lawin di biayai oleh anak-anaknya, dengan biaya seadanya dan semampu anak-anaknya memberinya. Biaya yang diberikan anaknya tidak tentu diterima perbulan, kadang berjumlah Rp. 500.000 dan kadang lebih juga di kasih oleh anaknya.Biaya yang diberikan oleh anaknya di gunakan sebaik-baiknya untuk keperluan selama berpondok, tidak boros, mana tau kita sakit selama di pondok supaya kita ada biaya untuk berobat, ucap Ompung Lawin. Selama di pondok Oppung Lawin juga tidak memiliki pekerjaan sampingan beliau hanya fokus untuk ber ibadah di pondok. Pekerjaan yang dilakukan oleh teman-temannya seperti, membayu atau menganyam, dan juga bercocok tanam di kebun masyarakat setempat tidak dilakukannya, tetapi ompung hanya menanam sayur untuk dikonsumsi sendiri di depan kamarnya. Menurut ompung bercocok tanam lebih menyehatkan dan membuat segar untuk badan, tetapi apa daya dirinya sudah tidak sanggup lagi seperti teman-temannya yang berkebun sayuran di tanah milik warga di sekitar Pondok.
Selama tinggal di pondok Ompung Lawin mearasa nyaman, baik dan tenang. Anak-anaknya juga tiap Bulan mengunjungi Ompung lawin. Seperti menjelang Bulan Suci Ramadhan beliau lebih memlih tinggal di pondok dibandingkan tinggal dirumah, dan seminggu menjelang Idul Fitri barulah Ompung Lawin kembali kerumah sendiri tanpa di jemput anaknya ke pondok. Di Pondok Lanjut Usia (Lansia) Fasilitas yang diberikan tergantung kondisi masing-masing penghuni pondok, tetapi tidak boleh
menonton Televisi. Di pondok juga terjadi pungutan bagi pemondok yang memiliki fasilitas listrik, dan air PAM. Pungutan perbulan kira Rp. 40.000.
Oppung Lawin berpandapat bahwa pungutan perbulan itu tidak jadi beban, karena itu sudah kewajiban, dari pada kita mengkontrak rumah atau memilih pondok lain selain yang sekarang, pondok ini lebih nyaman dan baik bagi usia Lansia. Karena di pondok ini hanya biaya listrik dan air Pdam yang kita bayar, sementara di kita sudah diberikan kamar sendiri dengan kamar yang sudah memiliki tempat tidur di dalamnya.
Oppung Lawin juga sudah memnuhi Rukun Islam yang ke-5, yaitu Naik Haji bagi yang mampu, untuk itulah Oppung Lawin lebih memilih tinggal di pondok, supaya lebih khusuk lagi dan tenang dalam melaksanakan ibadah wajib dan ibadah sunnah lainya, Oppung Lawin naik Haji tahun 2003. Selama di pondok Lansia Oppung Lawin tidak pernah berantam dan bertengkar dengan pemondok lannya. Semua dilakukan dengan kekeluargaan dan menanmbah silaturahmi, sesuai dengan kata "PONDOK" hati juga harus Pondok roa bahasa bataknya atau disebut dengan RENDAH HATI".Selama di pondok Oppung lawin pernah sakit, tetapi tidak begitu parah dan masih bisa untuk melakukan aktivitas di pondok. Sakit yang di alami Oppung Lawin seperti, badan pegal, magh, tetapi tetap memilih tinggal di pondok.
4.2.3 Profil informan Lansia
Nama : Masdalena
Umur : 66 Tahun
Suku : Batak Angkola
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SD (sekolah dasar)
Status : Janda
Status Pekerjaan Terakhir : Petani
Asal : Appolu, Tapsel
Masdalena Harahap merupakan salah satu penghuni Pondok Lanjut Usia (Lansia), yang berasal dari daerah pedalaman Kabupaten Tapanuli Selatan yang sering disebut daerah appolu Kecamatan Sipirok sebelah Danau Marsagu . Nenek Masdalena di antar jemput oleh anak nya jika hendak mau kembali ke pondok atau pun kembali kerumahnya atau kampung tempat tinggalnya, karena kampungnya yang begitu jauh, sehingga anaknya harus mengantar jemputnya ke pondok.
Oppung Masdalena saat ini berusia 66 tahun, menganut suku batak, dan merasakan pendidikan terakhir di kelas VI sekolah dasar (SD), karena waktu zaman dahulu, Nenek Masdalena kehidupan keluarganya kurang mampu, tamat SD saja sudah syukur, ucap oppung Masdalena. Oppung Masdalena berstatus Janda, atau ditinggal mati oleh suami tercinta, kurang lebih 5 tahun. Setelah suaminya meninggalkan nya Oppung Masdalena disuruh oleh anak-anaknya untuk tinggal ke pondok, dan dia pun di antar oleh anaknya sendiri ke pondok, Oppung Masdalena pun setuju saja untuk tinggal di pondok, dia sama sekali ikhlas dan tidak membantah anaknya.
Oppung Masdalena berada di pondok kurang lebih 3 tahun, dan selama di pondok, Oppung Masdalena merasa baik, nyaman, serta senang berada di pondok. Alasan Oppung masdalena tinggal di pondok Lansia dari pada tetap tinggal dirumah adalah, hanya untuk beramal, karena di pondok Lansia beribadah itu bisa dilakukan secara berjama'ah, lebih khusuk dan tenang, mengaji dan belajar mengaji secara mendengar ceramah, serta melaksanaan ibadah sunnah lainnya.
Oppung Masdalena memiliki jumlah anak 3, dan semua itu sudah menikah dan sudah bekerja. Oppung Masdalena lebih memlih tinggal di pondok juga karena di pondok lebih merasa hati dan fikiran tenang, sedangkan dirumah suasana sepi dan tidak tenang, sehingga ibadah wajib sering lupa melaksanakannya, apa lagi untuk melaksanakan ibadah sunnah lainnya, tidak ada orang untuk mengingatkan waktu ketika dirumah. Selama di pondok Oppung Masdalena senang, seperti saat menjelang Bulan Suci Ramadhan, Oppung Masdalena lebih memilih tinggal di pondok untuk melaksanakan Puasa Ramadhan, dari pada di kampung halaman, Oppung Masdalena akan pulang ke kampung halaman, 3 hari sebelum menjelang hari raya Idul Fitri nanti, dan dia pun akan di jemput oleh anaknya sendiri. Ketika di pondok, Oppung Masdalena mendapat uang kiriman dari anaknya perbulan, Rp. 300.000 dari anak laki-laki dan Rp. 300.000 dari anak perempuannya, dan Oppung Masdalena pun tidak menghabiskan uang kiriman dari anaknya begitu saja, dia tetap menghemat, dan hanya membeli dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan sebaiknya. Kadang-kadang juga anak saudara Oppung Masdalena yang memberi nya kebutuhan berupa beras, dan kadang uang. Seandainya Oppung Masdalena di anjurkan untuk menetap tinggal di pondok selamanya, Oppung Masdalena
mampu membiayai kebutuhannya selama di pondok, Oppung Masdalena menyuruh anaknya untuk menjual tanah, kebunya di kampung dia tinggal.
Selama di pondok Lansia, Oppung Masdalena Alhamdulillah tidak pernah sakit, jika pun ia sakit, dia tidak akan mengeluh katanya kepada siapapun termasuk anak-anaknya sendiri, dia mampu untuk pergi berobatsendiri bahkan ke rumah sakit sekalipun. Serta selama dipondok Oppung Masdalena juga mendapat bantuan dari pemerintah berupa beras, dan alat mandi, dan kadang-kadang mendapat mukenah dan sarung.
Oppung Masdalena selama di pondok, memliki pekerjaan sampingan, yakni dengan berkebun sayur, alasan bekerja hanya untuk menyehatkan badan juga, supaya berkeringat dan sehat, selain makin sehat Oppung masdalena juga bisa mendapatkan biaya tambahan atau uang masukdi pondok, tetapi hanya untuk mengeluarkan keringat semata, Oppung Masdalena bekerja seperti, menanam jagung, sayuran di tanah masyarakat dekat pondok Lansia, dan dari bercocok tanam tersebut Oppung Masdalena mendapat uang jika panen, dia kadang menjual hasilnya jika ada orang yang ingin membeli hasil panennya, biasanya perbulan panen dengan hasil Rp. 200.000 perbulan dan kadang sebagai sayurnya untuk dimasak di pondok, dan kadang Oppung Masdalena kadang membagi hasil panennya pada rekan sepondok.
Hubungan Oppung Masdalena dengan pemondok lainnya baik-baik saja, dan saling kekeluargaan, tidak ada sifat ingin berantam dan saling mengucilkan antar sesama, karena memiliki kamar pondok masing-masing juga. Di hari senin kamis, para pemondokmendapat masakan gratis dari dapur pondok, khusus di hari senin kamis,
karena senin kamis, dianjurkan melaksanakan puasan sunnah senin kamis secara bersama-sama di pondok.
Selama tinggal di pondok Lansia, tidak pernah ada kebutuhan yang tidak terpenuhi untuk Oppung Masdalena dan tidak pernah terbengkalai sama sekali. Selanjutnya para pemondok di perbolehkan untuk keluar masuk pondok, terkhusus jika ada urusan keluarga dekat yang meninggal, boleh saja pergi untuk melihatnya. Serta boleh berbelanja kebutuhan pondok ke pasar atau ke kedai sekitar pondok Lansia. Selain dari pemerintah pemondok juga mendapat bantuan dari masyarakat dari luar,seperti ada masyarakat yang ingin bersedekah, apa lagi seperti bulan suci Ramadhan yang akan datang sering mendapat berupa Ta'jil bukaan dari masyarakat.
4.2.4 Profil informan Lansia
Nama : Siti Kholijah
Umur : 88 tahun
Suku : batak angkola
Agama : islam
Pendidikan Terakhir : Tidak sekolah
Status : janda
Status Pekerjaan Terakhir : Petani
Daerah asal : Rimba Shoping
Oppung Siti Kholijah Sudah 6 tahun lamanya, beliau berasal dari desa Rimba Shoping , alasan awal nenek Siti tinggal di Pondok karena ingin fokus beribadah, sebelummnya nenek siti mempunyai rumah sendiri dan sekarang tidak ada yang menempatinya di daerah asalnya, oppung sendiri memilih tinggal disini karena dia merasa kesepian di rumah, awal mulanya tinggal di pondok beliau merasa senang, karna baginya dipondok oppung bisa mendaptkan keamanan dan kenyamanan, selama di pondok oppung hanya di pungut biaya sebesar Rp 12.000,- per bulan karena beliau tidak menggunakan listrik dan hanya menggunakan fasilitas air PDAM untuk masak , mencuci piring dan pakaiannya.
Sekarang anak anaknya sudah merantau semua, otomatis oppung hidup sendiri di rumahnya, oleh sebab itu beliau memilih tinggal di pondok daripada di rumah, beliau merasa senang di pondok, selain mendapatkan banyak kawan sesama Lansia beliau juga bisa lebih fokus beribadah dan juga memperdalam ilmu agama karena menurut beliau kalau di pondok dia dengan Lansia lainnya melakukan ibadah sama-sama menjadi lebih
erat rasa persaudaudaraannya, dengan keadaan dan umur yang sudah tua beliau selalu di bantu oleh sesama Lansia yakni sering mendapatkan kayu bakar gratis yang di cari di sekitaran pondok untuk memasak, oppung tinggal di kamar sendiri dengan di fasilitasi tempat tidur saja dan meja.
Anak anaknya sudah merantau semua keluar propinsi, terkadang sesekali oppung mendapatkan kiriman dari anaknya yang di Jambi dan yang di jakarta, oleh karenanya ompung melakukan kegiatan mengayam pembuatan tas, tempat sirih, dan tempat dodol yang di ajarkan oleh pihak Pondok kepadanya dan dari sinilah ompung bisa mendapatkan uang, beliau juga mendapatkan bantuan sedekah dan infak dari masyarakat dan pemerintah, dari sinilah tambahan uang di dapatkan ompung selain dari kiriman anaknya, biasanya oppung mendapatkan uang dari masyrakat dan ada juga telekung, makanan, obat-obatan dan kalau dari pemerintah biasanya mendaptkan pengobatan gratis dan juga bantuan sembako, tetapi kalau pengobatan gratis sekarang sudah membayar Rp 15.000,- sekali berobat. Bagi ompung hidup di pondok merupakan pilihan yang harus dia jalani, sebab kalau memilih tinggal di rumah maka oppung akan hidup terlantar tidak ada yang memperhatikannya dan merawatnya. Sementara kalau di pondok ada yang memperhatikannya yakni sesama Lansia yang ada dan juga saling beridah bersama- sama .
4.2.5 Profil informan Lansia
Nama : Dinamirah Harahap
Umur : 60 tahun
Suku : Batak Angkola
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SD
Status : Janda
Status Pekerjaan Terakhir : Petani
Asal : Batu Nadua
Ompung Dimariah sudah hampir dua tahun tinggal di pondok, ompung berasal dari daerah batunadua yakni di kawasan pinggiran Kota Padangsidimpuan, ompung merupakan seorang janda dan memiliki empat orang anak laki-laki dan pada saat ini ompung masih memiliki rumah pribadi, yang pada saat ini di tempati oleh anak sulungnya, alasan awal ompung memilih tinggal di pondok yakni ingin memperdalam ilmu mengenai ajaran agama islam dan juga ingin mencari suasana yang baru, pada awal tinggal di pondok ompung langsung bisa berbaur dengan penghuni yang lainnya dan pada saat ini ompung sudah betah berada di pondok.
Pada saat ini ompung hanya membayar RP. 40.000,- kepada pihak pondok selama perbulannya, ompung sangat berterima kasih kepda pihak pondok karena dengan biaya sebesar itu beliau sudah dapat tinggal di pondok dan juga mendapatkan bimbingan agama. Selama tinggal di pondok secara otomatis ompung jarang berjumpa dengan anak-anaknya tetapi komukasi selalu di jaga yakni dengan cara berkomunikasi melalui hanphone, anak ompung memberikan Hp kepada ompung agar dapat berkomunikasi kapan saja.
Kegiatan ompung di pondok sama seperti Lansia yang lainnya, yakni dengan kegitatan ibadah yang paling utama, tetapi ompung Dimariah juga memilih kegitan yang lain yaitu bertani sehabis shlat duha, di samping bisa mendapatkan uang bertani juga membuat badan menjadi sehat, ompung mempunyai kebun di belakang pondok dimana jarak antara pondok ke kebunnya sekitar 4 Km berjalan kaki, ompung menanami cabe rawit, daun ubi, tomat, bawang pre dari tanah yang disewahnya dari masyrakat, dari hasil tanaman sayuran tersebut ompung bisa mendapatkn tambahan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Ompung mengatakan anaknya juga memberikan uang kepadanya setiap bulannya yakni ompung bisa mendapatkan antara Rp 300,000,- sampai 500,000,- setiap bulannya yang dimana uang tersebut digunakan juga sebagai jaga-jaga apabila ada kebutuhan yang tak terduga seperti biaya kesehatan, ompung mengatakan karena kondisinya yang sudah tua yang rentan terkena penyakit makanya harus ada tabungan sebagai jaga-jaga, Lansia yang tinggal di pondok kebanyakan sering mengalami gangguan kesehatan seperti terkena flu,rematik,batuk, darah tinggi dan ompung mengatakan beliau mempunyai penyakit darah tinggi dimana kalau kumat kepalanya sangat pusing badan lemas, apabila sudah kumat ompung langsung pergi berobat sendiri ke puskesmas.
4.2.6 Profil informan Lansia
Nama : Mariana Siregar
Umur : 74 tahun
Suku : Batak Angkola
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SD (sekolah dasar)
Status : Janda
Status Pekerjaan Terakhir : Petani
Ompung mariana adalah salah seorang penghuni pondok Lansia Maarif Muslimin Kota Padangsidimpuan,ompung berasal dari daerah batang angkola Tapanuli selatan ompung sudah enam tahun lamanya tinggal di pondok, pada awalnya ompung berpondok dikarenakan di tinggal mati oleh suaminya, ompung merasa kesepian, atas dasar itulah ompung memilih tinggal di pondok