• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Informan Penelitian

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 62-67)

Penelitian ini mengenai Interpretasi Pemilih Etnis Melayu Atas Pesan Politik Calon Kepala Daerah Kota Pekanbaru tahun 2017. Dengan demikian, subjek pada penelitian adalah pemilih etnis Melayu. Subjek pemilih etnis Melayu menjadi informan penelitian yang penentuannya dilakukan secara purpose sampling dengan kriteria sebagaimana dijelaskan pada bab 3 metode penelitian. Kriteria yang dimaksud meliputi Informan adalah pemilih dari etnis Melayu Kota Pekanbaru; Informan tercatat sebagai pemilih dan menggunakan hak pilih pada Pilkada Kota Pekanbaru tahun 2017; Informan merupakan tokoh masyarakat dan aktivis Melayu; Informan memiliki tingkat pendidikan sarjana; Informan mengetahui pesan politik kandidat Kepala Daerah Kota Pekanbaru tahun 2017;

Informan bukan tim sukses ataupun pendukung kandidat Kepala Daerah Kota Pekanbaru tahun 2017; serta Informan bukan pengurus ataupun simpatisan partai

210 politik. Berdasarkan kriteria tersebut ada 2 (dua) orang yang peneliti jadikan sebagai informan penelitian yaitu Drs. H. Al Azhar, MA dan Ibnu Hajar, A.Md.

Pertama Informan, Drs. Al Azhar, MA lahir di dalu-dalu, 17 Agustus 1961.

Sebuah kampung pada waktu itu yang sekarang merupakan ibu kota Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Daerah ini merupakan salah wilayah Kerajaan Melayu yang bernama Kerajaan Tambusai. Di daerah tersebut, informan dilahirkan tumbuh dan berkembang dalam keluarga dan kehidupan masyarakat Melayu. Pendidikan dasar (SD) ditempuh di kampungnya, Dalu-Dalu tahun 1972. Kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pasir Pengarayan tahun 1975, yang terletak sekitar 30 Km dari Dalu-Dalu. Selanjutnya, informan pindah ke Pekanbaru melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas tahun 1979. Setelah itu melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Riau tahun 1985. Pendidikan Strata Dua (S2) pada Program Bahasa dan Budaya Asia Tenggara dan Oseania, di Universitas Negeri Leiden Belanda tahun 1992.

Informan tinggal di Jalan Sungai Mintan 1, nomor 4A, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Pada saat menempuh pendidikan di Belanda tahun 1989 s/d 1998, informan bekerja sebagai Dosen dan peneliti di Program Bahasa dan Budaya Asia Tenggara dan Oseania di Universitas Negeri Leiden Belanda. Kemudian, 1985 s/d sekarang sebagai Dosen Sastra dan Seni di Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

211 Publikasi yang pernah informan lakukan yaitu sebagai penulis (bersama Jan van der Putten) buku In Everlasting Friendship: surat-surat dari Raja Ali Haji ke von de Wall tahun 1995. Penulis artikel tentang Bahasa Melayu di Riau: studi dan revitalisasi identitas, di BKI-Leiden tahun 1997. Editor di Kandil Akal di Pelantar Budi (Yayasan Kata) tahun 2003. Penulis (salah seorang) buku Ensiklopedi Kebudayaan Melayu tahun 2005. Penulis (salah seorang) buku: Sungai Rokan:

menyusuri kepedihan tahun 2006, serta penulis (salah seorang) buku: Dermaga Sastra tahun 2012.

Informan adalah peneliti senior di Pusat Studi Masyarakat dan Kebudayaan Universitas Riau (P2KK-Unri) tahun 2005 s/d2013. Di lembaga tersebut, informan memprakarsai proyek penelitian multi-years Ekspedisi Empat Sungai:

Rokan, Kampar, Siak, dan Indragiri. Proyek penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan sejarah lisan dan aspek-aspek budaya orang-orang di daerah-daerah itu, dengan menggali kisah-kisah mereka dan kisah-kisah para maestro mereka dan memetakan perspektif, pengalaman, dan harapan mereka di lingkungan mereka. Penelitian ini menghasilkan buku-buku komprehensif tentang manusia dan budaya yang hidup di empat sungai, ribuan foto, dan ratusan jam rekaman video digital. Informan mempresentasikan artikelnya dibeberapa seminar yang kebanyakan tentang budaya secara umum, budaya Melayu, tradisi lisan, dan isu-isu lingkungan. Seminar-seminar itu dilakukan di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Selain itu, informan juga aktif di organisasi profesi dan sosial kemasyarakatan. Informan adalah pendiri sekaligus pengurus Masyarakat

212 Manuskrip Achipelago (Manassa) Provinsi Riau, 1998 s/d sekarang. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Provinsi Riau sebagai ketua dan ATL Indonesia sebagai anggota anggora Dewan Penasehat tahun 2009 s/d sekarang. Di organisasi sosial kemasyarakat, informan aktif di Lembaga Adat Melayu (LAMR) Provinsi Riau sebagai Ketua Dewan Pimpinan Harian tahun 2012-2018 dan sebagai Ketua Majelis Kerapatan Adat tahun 2018 s/d sekarang.

Kedua informan, Ibnu Hajar, A.Md. Seorang pemilih dari etnis melayu Pekanbaru yang lahir di Kota Tengah, 10 Nopember 1970. Daerah ini dahulunya merupakan wilayah Kerajaan Melayu Kepenuhan yang saat ini merupakan ibu kota Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Informan lahir, tumbuh dan berkembang dalam keluarga dan suasana kehidupan masyarakat Melayu. Pendidikan dasar (SD Negeri 1) tahun 1984 dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP Negeri 1) tahun 1987 ditempuhnya di Kota Tengah.

Kemudian pindah ke Kota Pekanbaru melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SMA N 1) Pekanbaru tahun 1990. Pendidikan sarjana Diploma Tiga (D.III) ditempuhnya di Akademi Ilmu Komputer (AMIK) Riau pada tahun 1995. Informan tinggal di Jl. Tanjung Jati, nomor 25A, Kelurahan Tanjung Rhu, Kecamatan Lima Puluh, Kota Pekanbaru.

Riwayat profesi informan dimulai sebagai Guru Komputer SMA Annur Pekanbaru tahun 1991 s/d 1998. Guru Tehnik Informasi dan Komunikasi di SMP Annur tahun 1995 s/d sekarang dan sekarang sebagai Wakil Kepala. Kemudian informan pernah bekerja sebagai staf sekretariat di ICMI Orwil Riau tahun 1992 s/d 1994. Direktur CV. Fajar Ramadhan tahun 1994 s/d 1995. Wartawan di Media

213 Riau tahun 1995 s/d 1996 dan Taploid Melenium tahun 1994 s/d 1995. Kepala Tata Usaha UEK-SP Bunga Tanjung Kelurahan Pesisir Kecamatan Lima Puluh.

Ketua RW 008 Kelurahan Pesisir Kecamatan Limapuluh. Panwaslu Lapangan pada Pilkada Pekanbaru tahun 2017.

Informan aktif diberbagai organisasi kepemudaan, sosial kemasyarakatan, dan politik meliputi Komisaris Kelurahan (KOMLUR) Golongan Karya Kelurahan Pesisir, Kecamatan Lima Puluh, Kota Pekanbaru pada 1992 s/d 1997. Anggota Bakorda Pemuda Partai Golkar Kota Pekanbaru pada 1998 s/d 2000. Sekretaris AMPI Rayon Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru pada 1995 s/d 2003. Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru pada 2000 s/d 2003. Wakil Sekretaris Barisan Muda Melayu Riau (BMMR) Kecamatan Limapuluh pada 2002 s/d 2005. Pengurus Laskar Hulu Balang Melayu Riau (LHMR), Kota Pekanbaru pada 2002 s/d 2005. Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah KNPI Kota Pekanbaru pada 2003 s/d 2006. Wakil Ketua DPD KNPI Provinsi Riau tahun 2016. Wakil Ketua Bidang Agama LAM Riau Kota Pekanbaru pada 2018 s/d sekarang.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa informan (penasir) yaitu pemilih etnis Melayu lahir dan tumbuh di daerah yang secara historis adalah bekas Kerajaan Melayu. Sistem sosial dan adat istiadat di daerah tersebut adalah Melayu dengan mayoritas beragama Islam. Kemudian pindah dan menetap di Kota Pekanbaru cukup lama yaitu 32 dan 42 tahun. Dari segi usia, penafsir sudah 49 dan 58 tahun, usia yang cukup tua dan tentunya telah mengetahui dan menjalani kehidupan bermasyarakat orang Melayu.

214 Penafsir memiliki tingkat pendidikan sarjana Diploma Tiga (D.III) dan Strata Dua (Master) dengan bidang ilmu pada manajemen pendidikan serta sastra dan bahasa. Berprofesi sebagai dosen sastra dan seni; menjadi beberapa kali narasumber berkaitan kajian budaya Melayu di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Kemudian penafsir juga seorang guru atau tenaga pendidik.

Aktivitas rutin setiap hari penafsir adalah di Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Riau. Penafsir lainnya adalah Aktivis Melayu, tokoh masyarakat ditempat tinggalnya dan salah seorang tokoh pemuda di Kota Pekanbaru.

Identitas penafsir tersebut menunjukkan tradisi yang dianut dan mempengaruhi aktivitasnya adalah adat istiadat Melayu. Kebutuhan atau kepentingan yang diperjuangkan tentunya hak-hak sebagai anak Melayu. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Melayu dengan beragam dialeg khas Riau. Kemudian kultur seperti berpakaian selalu menggunakan pakaian Melayu, karena rutinitas aktivitasnya berada di Lembaga Adat Melayu.

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 62-67)

Dokumen terkait