II. TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Profil Kabupaten Bogor
Secara geografis Kabupaten Bogor terletak antara 6º18”0” - 6º47”10” Lintang Selatan dan 106º 23”45” - 107º 13”30” Bujur Timur, yang berdekatan dengan Ibukota Negara sebagai pusat pemerintahan. Kabupaten Bogor mempunyai luas sekitar 298.838,304 Ha. Wilayah ini berbatasan dengan : Sebelah Utara : Kabupaten Tangerang (Provinsi Banten), Kabupaten/Kota Bekasi, dan Kota Depok ; Sebelah Barat : Kabupaten Lebak (Provinsi Banten) ; Sebelah Timur : Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta ; Sebelah Selatan : Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur ; Sebelah Tengah: Kotamadya Bogor.
Tipe morfologi wilayah Kabupaten Bogor terdiri dari dataran yang relatif rendah di bagian utara hingga dataran tinggi di bagian selatan, dengan 6 daerah aliran sungai (DAS) yang membentang dan mengalir dari daerah pegunungan di bagian selatan ke arah utara. Sebagian besar morfologi tersebut berupa dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan dengan batuan penyusun didominasi oleh hasil letusan gunung. Jenis tanah yang dimiliki cukup subur untuk kegiatan pertanian, perkebunan dan kehutanan, namun karena jenis tanah penutup didominasi oleh material vulkanik lepas yang agak peka dan sangat peka terhadap erosi sehingga beberapa wilayah rawan terhadap tanah longsor. Kondisi morfologi ini menunjang fungsi sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor sebagai wilayah lindung (non budidaya dan budidaya terbatas) dan wilayah yang dapat digunakan untuk kegiatan budidaya terbatas yakni wilayah dataran rendah bagian utara.
Dilihat dari sisi klimatologis, terdapat kestabilan kualitas lingkungan yang ditandai dengan tidak adanya perubahan yang berarti pada temparatur udara (20º - 30º C) atau rata-rata tahunan sebesar 25º C.
2.6.2 Pemerintahan
Dilihat dari sisi administrasi pemerintahan Kabupaten Bogor relatif sudah mapan. Hal ini disebabkan telah dilaksanakannya beberapa arah kebijakan pemerintahan yang ada, yang dijabarkan dengan Perda maupun Surat Keputusan serta Instruksi Bupati.
Kabupaten Bogor memiliki 411 desa dan 17 kelurahan (428 desa/kelurahan), 3 639 RW dan 14 403 RT yang tercakup dalam 40 kecamatan. Jumlah kecamatan sebanyak 40 tersebut merupakan jumlah kumulatif setelah adanya hasil pemekaran 5 (lima) kecamatan ditahun 2005, yaitu Kecamatan Leuwisadeng (pemekaran dari Kecamatan Leuwiliang), Kecamatan Tanjung Sari (pemekaran dari Kecamatan Cariu), Kecamatan Cigombong (pemekaran dari Kecamatan Cijeruk), Kecamatan Tajurhalang (pemekaran dari Kecamatan Bojonggede), dan Kecamatan Tenjolaya (pemekaran dari Kecamatan Ciampea). Pada akhir tahun 2006 telah dibentuk pula sebuah desa baru, yaitu Desa Wirajaya, sebagai pemekaran dari Desa Curug Kecamatan Jasinga.
2.6.3 Demografi
Menurut data Sensus Daerah (SUSDA) tahun 2006 jumlah penduduk Kabupaten Bogor sebesar 4 215 585 jiwa dan berdasarkan penyempurnaan hasil SUSDA melalui Coklit 2007 jumlah penduduk Kabupaten Bogor telah mencapai 4 237 962 jiwa. Jumlah tersebut mendiami wilayah seluas 2 988.38 km2 sehingga secara rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Bogor adalah 1 418 jiwa per km2. Akibat tingginya laju pertumbuhan alami dan migrasi masuk ke Kabupaten Bogor, laju pertumbuhan penduduk (LPP) di Kabupaten Bogor selama periode 2000 – 2007 rata-rata telah mencapai 4% per tahun.
2.6.4 Kebijakan Penyelenggaraan Pemerintahan 2.6.4.1 Visi dan Misi
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bogor Tahun 2005 – 2025 yang berisi visi, misi, dan arah pembangunan merupakan pedoman bagi pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bogor di dalam penyelenggaraan pembangunan daerah 20 tahun kedepan. Visi pembangunan Kabupaten Bogor tahun 2005 – 2025 adalah ”Kabupaten Bogor Maju dan Sejahtera Berlandaskan Iman dan Takwa”.
Kabupaten Bogor disamping itu memiliki misi pembangunan jangka panjang pertama untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Misi kedua adalah untuk mewujudkan perekonomian rakyat yang maju. Misi ketiga adalah untuk mewujudkan Kabupaten Bogor yang TEGAR BERIMAN (Tertib, Segar, Bersih, Indah, Aman, dan Nyaman) dan berkelanjutan, dan misi keempat adalah untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.
2.6.4.2 Strategi dan Arah Kebijakan a. Sektor Pertanian
Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB pada semester I tahun 2007 sebesar Rp 1 223.01 milyar dan Semester II meningkat menjadi Rp 1 307.20 milyar atau 4.9% terhadap total PDRB Kabupaten Bogor, padahal kontribusi sektor pertanian terhadap total PDRB masih berkisar 9.01% pada tahun 2005. Komposisi sumbangan hasil pertanian terhadap PDRB ini terdiri dari sub sektor
tanaman bahan makanan senilai 52.6%, tanaman perkebunan senilai 4.5%, peternakan dan hasil-hasilnya senilai 36.4%, kehutanan senilai 0.3%, dan perikanan senilai 6.2% terhadap total PDRB sektor pertanian. Sedangkan Jumlah penduduk di Kabupaten Bogor yang bekerja pada sektor pertanian kurang lebih 72 221 orang atau hanya sekitar 5.95%.
Pertanian di Kabupaten Bogor terdiri dari pertanian pangan, sayuran dan hortikultura, dan perkebunan. Tanaman pangan padi menyebar hampir di semua kecamatan, dengan variasi luasan yang berbeda. Padi sawah terdapat di Kecamatan diantaranya di Rumpin, Cigudeg, Sukajaya, Pamijahan, Cibungbulang, Ciampea, Caringin, Jonggol, Sukamakmur, Cariu, dan lainnya. Tanaman padi gogo menyebar hanya di beberapa kecamatan dalam luasan terbatas. Produktivitas tanaman padi sawah adalah berkisar 4 – 5 ton per Ha, sedangkan produktivitas padi gogo 2 – 3 ton per Ha.
b. Sektor Tanaman Pangan dan Holtikultura
Kontribusi sub sektor ini terhadap total PDRB sektor pertanian menduduki peringkat pertama dibanding sub sektor lainnya yakni senilai 52.6%. Sumbangannya sendiri terhadap total PDRB Kabupaten Bogor tahun 2007 senilai 2.6%. Kendala utama dalam komoditas lahan kering (semusim dan tahunan) adalah masih rendahnya produktivitas yang terkait dengan manajemen usaha tani, dan pemasaran. Khususnya untuk tanaman buah, sebenarnya ada varietas lokal yang sudah dikenal tapi produksi masih rendah. Upaya pengembangan komoditas komoditas bersifat lokal perlu dilakukan.
c. Sektor Peternakan
Kabupaten Bogor memiliki potensi cukup baik di bidang peternakan. Kontribusi sub sektor peternakan terhadap total PDRB Kabupaten Bogor tahun 2007 senilai 1.8%. Perkembangan populasi ruminansia dan unggas pada umumnya meningkat setiap tahun, terutama berkembang di Bogor Barat dan Bogor Timur, yang didukung oleh sumber daya alamnya sebagai daerah pertanian yang sangat sesuai untuk berkembangnya kegiatan usaha peternakan, terutama dipandang dari segi ketersediaan pakan, dimana kegiatan usaha tersebut
merupakan kegiatan yang saling bersinergi. Produksi peternakan berupa daging, telur, dan susu pada kurun waktu 5 tahun (2000 – 2005) rata-rata peningkatan per tahun untuk daging 9.25%, telur 1.01% dan susu 5. 90%.
d. Sektor Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten Bogor mempunyai daerah kawasan hutan yang terdiri dari hutan lindung atau produksi. Daerah hutan lindung umumnya terdapat di daerah dataran tinggi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air, sedangkan hutan produksi relatif terbatas dan menyebar terutama di daerah Cigudeg dan Klapanunggal. Luas kawasan hutan di Kabupaten Bogor seluas 84 047.02 Ha atau sebesar 28.12% dari luas seluruh wilayah Kabupaten Bogor. Berdasarkan fungsinya sebesar 8.67% atau sebesar 25 912.29 Ha merupakan Hutan Produksi dan sisanya sebesar 19.45% atau sebesar 58 134.73 Ha merupakan Hutan Lindung. Daerah kawasan hutan tersebut saat ini cenderung berkurang tutupan hutannya. Dari data citra Landsat 1999, diketahui kawasan yang bervegetasi hutan adalah seluas 110 720.03 ha atau 37.05%, sedangkan sisanya sebesar 62.95% atau 188 118.27 Ha merupakan kawasan hutan yang tidak berhutan (non hutan yang merupakan sawah, pemukiman, tegalan, tanah terbuka), semak dan belukar. Jika dilihat kondisi citra landsat 2002 (Marisan 2006), maka daerah kawasan lindung yang berhutan tinggal 60%, sedangkan daerah berhutan di kawasan hutan produksi tinggal 20%. Kontribusi sub sektor kehutanan tidak besar dibanding sub sektor lainnya terhadap total PDRB tahun 2007 hanya senilai 0.01%.
e. Sektor Perikanan dan Kelautan
Usaha perikanan di Kabupaten Bogor cukup potensial untuk dikembangkan, baik budidaya ikan hias, pembenihan, maupun pembesaran ikan konsumsi. Untuk ikan konsumsi antara lain : mas, lele, nila, gurame, dan patin, yang dapat dikembangkan hampir di setiap kecamatan di Kabupaten Bogor. Saat ini perkembangan usaha perikanan terutama di Bogor Barat dan sebagian wilayah Bogor Tengah. Produksi perikanan pada kurun waktu 5 tahun (2000 – 2005) rata-rata peningkatannya per tahun untuk ikan hias 7%, ikan konsumsi 4%, benih ikan 3%. Produksi ikan konsumsi diperoleh dari cabang usaha Kolam Air Tenang
61.74%, Kolam Air Deras 27.89%, Perikanan Sawah 6.84%, Jaring Apung 1.44%, Karamba 0.62% dan Perikanan Tangkap di Perairan Umum 1.34%.
Sumbangan sub sektor perikanan terhadap PDRB sektor pertanian menduduki peringkat ketiga setelah sub sektor tanaman bahan makanan dan peternakan atau 6.2%, sedangkan kontribusinya terhadap total PDRB Kabupaten Bogor tahun 2007 hanya senilai 0.3% saja. Gambaran umum potensi perikanan diatas dapat menjadi pendorong bagi calon investor untuk membuka usaha perikanan, baik komoditas ikan hias, usaha pembenihan maupun pembesaran ikan konsumsi. Untuk usha budidaya pembesaran ikan konsumsi peluang besar terutama masih terdapat pada cabang usaha perikanan Kolam Air Tenang (KAT) dan cabang usaha Karamba Jaring Apung (KJA) di perairan umum (setu).
f. Sektor Industri dan Perdagangan
Pembangunan industri telah mampu mendorong peningkatan laju pertumbuhan ekonomi serta menjadi penggerak perkembangan pembangunan daerah. Hal ini juga membuka peluang perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat. Sektor industri merupakan komponen utama pembangunan daerah yang mampu memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar, tingkat penyerapan tenaga kerja yang banyak, dan terjadinya transformasi kultural daerah menuju ke arah modernisasi kehidupan masyarakat.
Kinerja sektor industri pada tahun 2007, dengan nilai investasi Rp2 158 725 511 039.00 menyerap 80 280 orang tenaga kerja terdiri dari 62 305
orang pada industri menengah dan besar dan 17 975 orang pada industri kecil, dengan kontribusi sebesar 64.41% terhadap PDRB tahun 2007 (merupakan sektor dengan kontribusi tertinggi). Kendala utama dalam pembangunan industri adalah dukungan infrastruktur masih belum memadai terutama jalan, dan terminal (dry port), rendahnya kemampuan dalam pengembangan teknologi, rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya industri serta pencemaran limbah industri. Potensi industri Kabupaten Bogor selama kurun waktu 5 tahun
mengalami peningkatan. Nilai Investasi pada tahun 2001 sebesar Rp1 601 477 936 000.00 sedangkan tahun 2005 meningkat menjadi Rp2 151 193 861 415.00 Jumlah unit usaha di sektor industri hingga tahun 2005
sebesar 1 783 buah terdiri dari 538 buah usaha menengah dan besar serta 1 245 unit usaha kecil.
Sumbangan sektor perdagangan, hotel, dan restoran terhadap PDRB tahun 2007 sebesar 15.5%. Untuk sub sektor perdagangan 82.07% terhadap proporsi PDRB sektor perdagangan, hotel dan restoran tahun 2007. Pengembangan perdagangan di Kabupaten Bogor difokuskan pada pengembangan sistem distribusi barang dan peningkatan akses pasar baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Bila dilihat dari pertumbuhan setiap sektor usaha di Kabupaten Bogor, sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki tingkat pertumbuhan terbesar kedua setelah sektor industri pada tahun 2005, yaitu sebesar 8.01 %. g. Pengembangan Dunia Usaha
Realisasi kegiatan penanaman modal yang telah mendapat persetujuan sampai dengan tahun 2007 adalah sebanyak 388 perusahaan PMA dengan nilai investasi US$ 9 064 562 826 358.00 sedangkan untuk PMDN berjumlah 187 perusahaan dengan nilai investasi Rp5 555 733 117 530.00 Apabila didasarkan pada jenis usahanya, terdapat 33 usaha primer PMA dengan nilai investasi Rp1 045 148 937 200.00 ; 300 usaha sekunder pada PMA dengan nilai investasi sebesar Rp6 819 616 078 958.00 dan US$ 1 795 681.57, sedangkan untuk jenis usaha tersier PMA sebanyak 55 perusahaan dengan nilai investasi sebesar Rp23 881 600 000.00 dan US$ 1 811 400.00 Sedangkan untuk PMDN, terdapat 8 usaha primer dengan nilai investasi sebesar Rp67 942 057 991.00, 162 sekunder dengan nilai investasi sebesar Rp1 390 660 605 025.00 dan 17 usaha tersier dengan nilai investasi sebesar Rp256 303 341 936.00.
h. Sektor Pariwisata
Potensi pariwisata di Kabupaten Bogor cukup menjanjikan, namun belum dikelola secara optimal, proporsional, dan profesional, serta belum ditempatkan sebagai kegiatan industri pariwisata. Potensi pariwisata yang saat ini dimiliki oleh Kabupaten Bogor antara lain : wisata alam, wisata budaya, dan wisata belanja. Kawasan Puncak (di sepanjang koridor jalan) pada waktu-waktu tertentu menjadi daya tarik wisata. Hal ini terlihat dari kunjungan wisatawan domestik (sebagian
besar berasal dari penduduk Kota Jakarta) yang jumlahnya cukup signifikan, terutama pada waktu akhir pekan atau libur nasional. Upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan para pelaku pariwisata belum memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan industri pariwisata Kabupaten Bogor. Jumlah kunjungan wisatawan tahun 2007 sebanyak 2 120 019 orang, yang terdiri dari 96.86% wisatawan nusantara dan 1.13% wisatawan asing.
i. Pertambangan dan Energi
Kabupaten Bogor mempunyai sumberdaya galian baik non logam maupun logam. Untuk bahan non logam terutama untuk galian C, berupa bahan piroklastik dan lava atau batuan terobosan dari gunung berapi, yang menghasilkan bahan seperti pasir gunung, tanah urug, zeolit, dan seterusnya. Sedangkan bahan galian logam yang utama adalah emas. Bahan galian non logam ini menyebar terutama di bagian barat dan timur kabupaten, dan sangat sedikit di bagian tengah. Sedangkan bahan galian logam seperti emas dan besi menyebar di daerah Bogor Barat di sekitar Nanggung dan Leuwiliang.
Kontribusi lapangan usaha pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Kabupaten Bogor tahun 2007 senilai 1.16%, dengan komposisi sub sektor migas 0.2%, pertambangan non migas 50.2%, dan penggalian 49.6% terhadap PDRB sektor pertambangan dan penggalian.
III METODOLOGI
3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
3.1.1 Penentuan Metode Destilasi Minyak Pala a. Penentuan Kriteria dan Alternatif :
Diperlukan data primer berupa kriteria yang digunakan dalam pemilihan produk unggulan dan alternatif produk unggulan atau data produk olahan minyak pala, melalui wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden pakar, serta studi literatur.
b. Pemilihan alternatif
Dilakukan justifikasi melalui penentuan bobot tiap aternatif berdasarkan kepentingannya melalui pengisian kuesioner, dan menyeleksi bobot. c. Pemilihan kriteria
Pengolahan data hasil pengisian kuesioner dengan menggunakan teknik Metode Perbandingan Eksponensial melalui pembobotan kriteria berdasarkan alternatifnya serta penggabungan pendapat pakar.
Pihak-pihak yang dimintakan pendapat dan saran sebagai pakar adalah sebagai berikut :
(1) Kepala Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bogor, (2) Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, (3) Anggota Komisi B di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bogor (4) Staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor, dan (5) Peneliti Utama pada Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. 3.1.2 Penentuan Produk Olahan Unggulan Minyak Pala
a. Penentuan Kriteria dan Alternatif :
Diperlukan data primer berupa kriteria yang digunakan dalam pemilihan lokasi industri, alternatif lokasi sesuai kriteria berupa profil kecamatan, dan data luas dan produksi kebun pala rakyat di Kabupaten Bogor melalui wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden pakar, serta studi literatur.
b. Pemilihan Alternatif
Dilakukan justifikasi melalui penentuan bobot tiap aternatif berdasarkan kepentingannya melalui pengisian kuesioner, dan menyeleksi bobot. c. Pemilihan kriteria
Pengolahan data hasil pengisian kuesioner dengan menggunakan teknik Metode Perbandingan Eksponensial melalui pembobotan kriteria berdasarkan alternatifnya serta penggabungan pendapat pakar.
Pihak-pihak yang dimintakan pendapat dan saran sebagai pakar, sesuai kegiatan penelitian pada point 3.2.1
3.1.3 Penentuan Lokasi Industri Produk Olahan Unggulan Minyak Pala a. Penentuan Kriteria dan Alternatif :
Diperlukan data primer berupa kriteria yang digunakan dalam pemilihan metode destilasi dan alternatif metode sesuai kriteria, melalui wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden pakar, serta studi literatur.
b. Pemilihan alternatif
Dilakukan justifikasi melalui penentuan bobot tiap aternatif berdasarkan kepentingannya melalui pengisian kuesioner, dan menyeleksi bobot. c. Pemilian kriteria
Pengolahan data dengan menggunakan teknik MPE melalui pembobotan kriteria berdasarkan alternatifnya serta penggabungan pendapat pakar. Pihak yang dimintakan pendapat dan saran sebagai pakar untuk mengidentifikasi macam metode destilasi serta pemilihan alternatif metode destilasi paling sesuai, yakni salah seorang peneliti pada Balai Besar Industri Agro (BBIA) dan Peneliti Utama pada Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. 3.1.4 Analisis Kelayakan Industri Produk Olahan Minyak Pala
a. Kelayakan Finansial
Diperlukan data sekunder seperti kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, jumlah tenaga kerja, fasilitas pendukung, dan proyeksi harga-harga, serta asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan proyek, melalui telaah literatur dengan menggunakan teknik analisis finansial terdiri dari
penentuan komponen cashflow industri dan asumsinya, menghitung IRR, NPV, B/C Ratio, BEP, serta analisis sensitivitas.
b. Peluang Pasar, Infrastruktur, dan SDM
Diperlukan data sekunder melalui telaah literatur dengan menggunakan teknik peramalan dan deskriptif.
3.1.5 Penentuan Posisi Industri Produk Olahan Minyak Pala
Diperlukan data primer yaitu faktor-faktor internal kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal peluang dan ancaman melalui pengisian kuesioner oleh Pakar dalam rangka Evaluasi Faktor Internal (IFE) dan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) dan menentukan bobot dan rating.
Pihak yang dimintakan pendapat dan saran sebagai pakar untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, yakni seorang Peneliti pada Balai Besar Industri Agro, Manager Teknik Laboratorium Pengujian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, serta Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri.
3.1.6 Perumusan Strategi Sesuai dengan Posisi Industri
Diperlukan data primer berupa faktor internal dan eksternal industri dari hasil pengisian kuesioner dan analisa peneliti dengan menggunakan metode SWOT (alternatif SO, ST, WO, dan WT), sehingga diperoleh hasil pengolahan IFE dan EFE.
3.1.7 Pemilihan Strategi Prioritas
Diperlukan data primer berupa penentuan sasaran (goal), faktor, tujuan, strategi, dan data penilaian responden pakar terhadap tingkat pengaruh masing-masing elemen, melalui pengisian kuesioner dan wawancara dengan Pakar. Melalui teknik AHP dibantu Expert Choice diperoleh hasil pengolahan berupa prioritas strategi yang diperlukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat Kabupaten Bogor melalui pengembangan industri produk olahan minyak pala. Pihak-pihak yang dimintakan pendapat dan saran sebagai pakar dalam rangka pemilihan prioritas strategi, sesuai kegiatan penelitian pada point 2.1.
Tabel 6 Tahap Penelitian Berdasarkan Target Keluaran
Tujuan Penelitian
Kegiatan Penelitian Tipe dan Sumber Data Teknik Pengolahan Data Target Ouput 1. Penentuan metode destilasi. a. Menentukan
berbagai kriteria dan alternatif metode destilasi minyak pala: Data Primer melalui pengisian kuesioner dengan pakar dan data sekunder melalui telaah literatur Merangkum hasil hasil kuesioner dan menelaah data literatur Kriteria & alternatif metode destilasi minyak pala b. Memilih alternatif dengan pembobotan Data Primer melalui pengisian kuesioner oleh Pakar
Justifikassi Berbagai kriteria dan alternatif memiliki bobot & terseleksi c. Memilih kriteria berdasarkan alternatifnya masing-maing
Data primer dan sekunder melalui pengisian kuesioner, wawancara dan telaah literatur MPE dan penggabungan pendapat pakar Metode destilasi minyak pala terpilih, 2. Penentuan produk olahan unggulan minyak pala a. Menentukan
berbagai kriteria dan alternatif produk olahan minyak pala
Data Primer melalui pengisian kuesioner dengan pakar dan data sekunder melalui telaah literatur Merangkum hasil hasil kuesioner dan menelaah data literatur Kriteria & alternatif produk olahan minyak pala b. Memilih alternatif dengan pembobotan Data Primer melalui pengisian kuesioner oleh Pakar
Justifikassi Berbagai kriteria dan alternatif memiliki bobot & terseleksi c. Memilih kriteria berdasarkan alternatifnya masing-maing
Data primer dan sekunder melalui pengisian kuesioner, wawancara dan telaah literatur MPE dan penggabungan pendapat pakar Produk olahan unggulan minyak pala terpilih. 3. Penentuan lokasi industri yang berpotensi a. Menentukan berbagai kriteria dan alternatif lokasi industri
Data Primer melalui pengisian kuesioner dengan pakar dan data sekunder melalui telaah literatur Merangkum hasil hasil kuesioner dan menelaah data literatur Kriteria & alternatif lokasi industri b. Memilih alternatif dengan pembobotan Data Primer melalui pengisian kuesioner oleh Pakar
Justifikasi Berbagai kriteria dan alternatif memiliki bobot & terseleksi Tujuan 1 Menentukan bahan baku minyak pala yang baik bagi industri produk olahan unggulan minyak pala di lokasi yang potensial di Kabupaten Bogor c. Memilih kriteria berdasarkan alternatifnya masing-maing
Data primer dan sekunder melalui pengisian kuesioner, wawancara dan telaah literatur MPE dan penggabungan pendapat pakar Lokasi industri terpilih.
Tabel 6 Tahap Penelitian Berdasarkan Target Keluaran (lanjutan)
Tujuan Penelitian
Kegiatan Penelitian Tipe dan Sumber Data Teknik Pengolahan Data Target Ouput 4. Menganalisis kelayakan industri produk olahan minyak pala a. Menganalisis kelayakan financial Data sekunder melalui telaah literatur. Cashflow, IRR, NPV, B/C Ratio, BEP, & analisis sensitivitas. Kelayakan financial industri produk olahan minyak pala Tujuan 2 Menganalisis kelayakan dan potensi usaha pengembangan industri produk olahan minyak pala di Kabupaten Bogor. b. Menentukan peluang pasar, infrastruktur dan SDM Data sekunder melalui telaah literatur. Peramalan dan deskriptif Kelayakan non financial industri produk olahan minyak pala 5. Menentukan posisi industri produk olahan minyak pala
Data primer melalui pengisian kuesioner dan wawancara dengan pakar Matrik Internal dan Eksternal Evaluasi faktor internal (IFE) dan eksternal (EFE) dan penentuan bobot rating 6. Merumuskan strategi sesuai dengan posisi industri produk olahan minyak pala
Data primer dari hasil analisa dan intuisi peneliti Metode SWOT (alternatif SO, ST, WO, dan WT) Hasil pengolahan IFE dan EFE Tujuan 3 Merumuskan strategi pengembangan industri produk olahan minyak pala di Kabupaten Bogor. 7. Memilih strategi prioritas dalam pengembangan industri produk olahan minyak pala
Data primer melalui pengisian kuesioner dan wawancara dengan pakar AHP dibantu dengan Expert Choice 2000 Aktor, faktor, tujuan, dan alternatif strategi, pembobotan masing-masing, serta hasil pengolahan SWOT dan hasil wawancara
3.2 Pengumpulan Data
Dalam membahas dan menganalisis masalah pada kajian ini dibutuhkan data primer dan sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data yang digunakan adalah :
1. Data produk olahan minyak pala yang digunakan untuk menentukan pilihan terhadap produk olahan dari minyak pala.
2. Data produksi dan lokasi berupa luas lahan dan potensi lahan kebun pala per kecamatan
3. Data mengenai metode berupa pilihan metode dalam destilasi minyak pala, kelebihan dan kekurangan masing-masing metode.
4. Data finansial berupa biaya investasi industri, biaya-biaya produksi, pemasaran dan administrasi, penyusutan dan sebagainya.
5. Data penduduk wanita usia 15 – 64 tahun di Kabupaten Bogor, data jumlah apotik, salon, dan klinik kecantikan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. 6. Data potensi minyak atsiri di Kabupaten Bogor, data perkembangan industri
dan jumlah penduduk yang bekerja di sektor industri di Kabupaten Bogor. 7. Data kontribusi masing-masing sektor terhadap PDRB atas dasar harga
berlaku dan harga konstan di Kabupaten Bogor.
Pengembangan Kabupaten Bogor
Strategi pengembangan Kab. Bogor
Penentuan alternatif dan kriteria metode destilasi