B. Sistem Program Layanan ;
6.1. Profil dan Kegiatan IFS
6.1.1. Kelompok Tani Padusi, Desa Tanjung Bungo
Kelompok Tani (Poktan) Padusi berada di Desa Tanjung Bungo (sampai akhir tahun 2008 bernama Desa Kampar), Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar. Poktan Padusi merupakan salah satu kelompok tani wanita dampingan CECOM Foundation yang seluruh anggotanya adalah berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Sebelum terbentuk Poktan Padusi pada tahun 2006, di salah satu dusun di Desa Kampar telah ada Poktan Pinatan yang menjadi dampingan program IFS. Proses pendampingan dan penguatan kelembagaan kepada Poktan Pinatan oleh CECOM Foundation telah menarik perhatian masyarakat Desa Kampar, termasuk mengundang simpati bagi komunitas ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi arisan dan pengajian wirid mingguan di desa tersebut. Selain sebagai ibu rumah tangga dan aktif di kegiatan sosial keagamaan di desa.
Selanjutnya para wanita ini berinisiatif mendatangi pendamping komunitas
(field CD officer) CECOM Foundation yang berada di Desa tersebut, Abdi Abadi Pelawi, dan menyampaikan minat untuk dapat menjadi kelompok tani dampingan. Akhirnya pada awal tahun 2006, berdiri Poktan Padusi dengan anggota berjumlah 12 orang wanita tani. Dapat disimpulkan bahwa berdirinya Poktan Padusi merupakan efek bola salju (snow balling effect) dari proses pendampingan program IFS oleh CECOM Foundation kepada Poktan Pinatan di Desa Kampar. Yang menarik, keberadaan Poktan Pinatan juga merupakan efek bola salju dari performa Poktan Sehati, di Desa Pulau Birandang.
Program IFS yang dijalankan pada Poktan Padusi pada tahun pertama pendampingan (fase persiapan) adalah melakukan pengorganisasian komunitas dan mengembangkan kelembagaan kelompok tani seperti merumuskan aturan main, pelatihan SDM pengurus, mengaktifkan pertemuan kelompok dan pelatihan dasar budidaya tanaman (pangan dan hortikultura). Komoditas yang dikembangkan adalah tanaman hortikultura. Orientasi praktek bisnis Poktan
Padusi lebih ditujukan sebagai pendukung pendapatan rumah tangga (supporting income), dan area budidaya diawali dengan luasan terbatas yakni lebih kurang 1000 meter persegi untuk setiap anggota. Pendapatan utama rumah tangganya bersumber dari kebun getah (kebun karet) yang lebih dominan dikelola oleh suaminya.
Pada tahun kedua dan ketiga pendampingan, input fisik yang diberikan adalah modal usaha tani bagi anggota melalui unit simpan pinjam kelompok tani. Sumber modal berasal dari CECOM Foundation yang disalurkan melalui KSP Mitra Madani sebagai kredit program dengan bunga 6 persen setahun. Dengan adanya pembiayaan dalam bentuk bersubsidi tersebut, anggota kelompok tani memperluas lahan budidayanya menjadi rata-rata 2500 meter persegi (0.25 Ha).
Dalam kaitan pengembangan budidaya pertanian, Poktan Padusi menghidupkan kembali kearifan lokal bergotong royong yang dinamakan
”batobo”. Setiap hari seluruh anggota Poktan bekerja bersama-sama pada satu lahan milik satu anggota. Hari berikutnya dan seterusnya secara bergilir mereka bekerja bersama-sama pada lahan anggota yang lain.
Kecuali pada hari minggu mereka tidak bekerja ke ladang karena mereka berjualan hasil produksinya maupun produk lain di pasar lokal.
6.1.2. Kelompok Tani Berkat Bersama, Desa Kualu Nenas
Kelompok Tani (Poktan) Berkat Bersama berada di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar. Poktan Padusi merupakan salah satu kelompok tani dampingan CECOM Foundation yang seluruh anggotanya adalah berprofesi sebagai petani nenas dan home industri pengolahan keripik nenas.
Sebelum didampingi oleh CECOM Foundation mereka telah mengembangkan budidaya nenas secara turun temurun dan Poktan Berkat Bersama merupakan salahsatu dari delapan kelompok tni yang ada di desa tersebut. Proses pendampingan Poktan ini sebagai mitra dampingan CECOM diawali ketika pengurus Poktan yang dipimpin Muslimin tertarik dengan pola kelembagaan dan kemajuan usaha Poktan Sehati dampingan CECOM yang bearada di Desa Pulau Birandang. Selanjutnya pada tahun 2006 secara resmi
Poktan Berkat Bersama menjadi mitra dampingan CECOM Foundation dengan pendamping lapangan Abdi Abadi Pelawi. Anggota Poktan Berkat Bersama berjumlah 12 petani dengan luas lahan pertanian berkisar tiga sampai dengan empat hektar setiap petani. Dari jumlah anggota diatas ada empat petani yang juga memiliki usaha pengolahan pasca panen (keripik nenas).
Program IFS yang dijalankan pada Poktan Berkat Bersama pada tahun pertama pendampingan (fase persiapan) adalah melakukan pengorganisasian komunitas dan mengembangkan kelembagaan kelompok tani seperti merumuskan aturan main, pelatihan SDM pengurus, mengaktifkan pertemua kelompok dan penguatan sarana input produksi Poktan bagi peningkatan produktifitas tanaman maupun pengolahan hasil nenas yang dilakukan para anggotanya. Komoditas nenas dan produk pasca panen/ pengolahan hasil merupakan sumber pendapatan utama bagi keluarga anggota Poktan.
Pada tahun kedua pendampingan (fase penumbuhan), input fisik yang diberikan adalah modal usaha tani bagi anggota melalui unit simpan pinjam kelompok tani. Sumber modal berasal dari CECOM Foundation yang disalurkan melalui KSP Mitra Madani sebagai kredit program dengan bunga 6% setahun.
Pada tahun ketiga pendampingan (fase pengembangan) fasilitasi yang dilakukan CECOM adalah memperluas area tanam dan meningkatkan produksi, packaging dan pemasaran kripik nenas. Untuk itu diperlukan penguatan pembiayaan usaha untuk pembukaan lahan baru, pengadaan saprodi pertanian, dan penambahan mesin teknologi tepat guna. Teknologi vacuum drying untuk mengolah buah nenas segar menjadi keripik nenas dikembangkan oleh BPTP Dinas Pertanian Propinsi Riau. Pada tahun 2008 – 2009, sentra budidaya dan home industri berbasis nenas menarik minat Bank Perkreditan rakyat (BPR) Sari Madu, BUMD Pemkab Kampar dan PT. Permodalan Ekonomi Rakyat (PT. PER), BUMD Pemprop Riau untuk mulai menyalurkan kredit usaha bagi anggota Poktan Berkat Bersama.
Pada tahun 2009, Poktan Berkat Bersama bersama tujuh kelompok tani nenas lainnya di desa Kualu Nenas membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Melalui Gapoktan tersebut Pemerintah Kabupaten Kampar
menyalurkan pupuk bersubsidi kepada para anggota Poktan sesuai dengan RDKK (Rencana Dasar Kebutuhan Kelompok).
6.1.3. Kelompok Tani Tunas Sehati, Desa Pulau Birandang
Kelompok Tani (Poktan) Tunas Sehati berada di Dusun V (Pematang Kulim), Desa Kampar, Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar. Poktan Tunas Sehati berdiri pada tahun 2006. Tahun-tahun sebelumnya anggota Poktan bukan merupakan dampingan CECOM Foundation tapi mereka berprofesi sebagai petani perkebunan yang bekerja secara individual.
Sebelum terbentuk Poktan Tunas Sehati, di dusun Pematang Kulim telah ada Poktan Sehati yang menjadi dampingan program IFS CSR PT. RAPP sejak tahun 2001 dan dilanjutkan oleh CECOM Foundation sejak tahun 2005. Sejak tahun 2004 Poktan sehati telah memasuki fase kemandirian dan pada tahun tersebut Poktan Sehati menginisiasi terbentuknya kelembagaan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya) ”Sehati Jaya” yang sertifikasinya dikeluarkan oleh Deptan RI.
Keberadaan Poktan Sehati dan aktivitas pengembangan kapasitas petani yang dilaksanakan oleh CECOM Foundation dan P4S Sehati Jaya telah mendorong para petani lain di Dusun Pematang Kulim untuk mengikuti jejak Poktan Sehati dan melalui fasilitasi pengurus Poktan Sehati maka para petani tersebut mengajukan diri untuk didampingi oleh CECOM Foundation dibawah kelembagaan baru ”Poktan Tunas Sehati”. Jadi dapat disimpulkan bahwa keberadaan Poktan Tunas Sehati juga merupakan efek bola salju dari eksistensi Poktan Sehati, di Desa Pulau Birandang.
Program IFS yang dijalankan pada Poktan Tunas Sehati pada tahun pertama pendampingan (fase persiapan) adalah melakukan pengorganisasian komunitas dan mengembangkan kelembagaan kelompok tani seperti merumuskan aturan main, pelatihan SDM pengurus, mengaktifkan pertemua kelompok dan pelatihan dasar integrated farming system. Komoditas yang dikembangkan adalah tanaman pertanian hortikultura dan penggemukan sapi bali. Orientasi praktek bisnis Poktan Tunas sehati lebih ditujukan sebagai pendukung pendapatan rumah tangga (supporting income), sedangkan pendapatan utama rumah tangganya
bersumber dari perkebunan getah (karet) dan sawit. Pada fase persiapan ini pola bantuan input fisik berupa saprodi pertanian hortikultura yang diberikan sebagai hibah kepada anggota kelompok. Kegiatan penggemukan sapi merupakan program penggaduhan sapi bali jantan yang diberikan kepada anggota Poktan yang telah lulus pelatihan dasar IFS dan mampu secara swadaya membangun kandang ternak dan mengembangkan budidaya rumput sebagai sumber hijauan makanan ternak (HMT). Produk harian yang didapatkan dari penggemukan sapi ini adalah veses ternak yang selanjutnya diolah menjadi pupuk organik (kompos) yang digunakan sendiri oleh anggota Poktan sebagai pupuk bagi tanaman hortikultura maupun perkebunan yang dimilikinya.
Pada tahun kedua pendampingan (fase penumbuhan), input fisik yang diberikan adalah modal usaha tani bagi anggota melalui unit simpan pinjam kelompok tani. Sumber modal berasal dari CECOM Foundation yang disalurkan melalui KSP Mitra Madani sebagai kredit program dengan bunga 6 persen setahun. Pada fase ini mulai diperkenalkan teknologi tepat guna untuk mengembangkan pakan ternak berbasis limbah pertanian maupun teknologi pembuatan fine compost, sehingga orientasi produksi pengolahan kompos juga untuk dipasarkan ke masyarakat umum. Sebagai contoh, pada fase ini Muhammad Rasyidin, ketua Poktan Tunas Sehati sudah kewalahan melayani pesanan kompos sehingga dia harus membeli bahan baku veses ternak ke para peternak lain di luar desa Pulau Birandang.
Pada tahun 2008, melalui kerjasama CECOM Foundation dengan Dinas Peternakan Propinsi Riau, maka anggota Poktan Tunas Sehati memperoleh input fisik berupa sapi bali untuk program penggemukan dimana setelah tiga tahun program berjalan maka sapi-sapi tersebut menjadi aset Poktan yang dapat digunakan sebagai modal bergulir (revolving fund) bagi calon anggota Poktan lain yang butuh pengembangan skala usahanya. Pada tahun ketiga pendampingan (fase pengembangan) ini, orientasi pengembangan usaha tani Poktan Tunas Sehati melalui program IFS berubah dari supporting income (pendapatan sampingan) menjadi main income (pendapatan utama) bagi keluarga yang berarti pendapatan yang dihasilkan dari program IFS sudah seimbang dengan pendapatan yang dihasilkan dari sektor perkebunan (karet dan atau sawit). Pada akhir tahun 2008 –
awal tahun 2009, anggota Poktan Tunas Sehati sudah dapat mengkases pinjaman PKBL dari PT. Telkom di Pekanbaru. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) ini merupakan program CSR BUMN yang memberikan pinjaman lunak (bunga 6 persen setahun) dengan plafon berkisar 12 – 30 juta rupiah bagi setiap petani dengan masa pengembalian selama 36 bulan.