• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM SPIP

C. Profil Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian adalah unsur pertama dalam Sistem pengendalian Intern Pemerintah menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang

Sistem pengendalian Intern Pemerintah. Dalam PP 60 Tahun 2008 Pasal

4 disebutkan bahwa Pimpinan instansi pemerintah wajib menciptakan dan

memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah dalam lingkungan kerjanya, melalui:

Terhadap lingkungan pengendalian Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah dilakukan penilaian. Penilaian dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran permasalahan-permasalahan atau kelemahan dalam lingkungan pengendalian.

Penilaian tersebut dilakukan secara mandiri dengan reviu dokumen hasil audit Inspektorat BPKP dan metode Control Environment Evaluation (CEE). Hasil penilaian lingkungan pengendalian berdasarkan kedua cara tersebut, adalah sebagai berikut:

1. Reviu Dokumen

Berdasarkan hasil reviu dokumen yaitu hasil audit Inspektorat BPKP, tidak terdapat kelemahan kondisi lingkungan pengendalian pada Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara.

2. Metode CEE

Metode Control Environment Evaluation (CEE), yaitu suatu penilaian mandiri atas

pengendalian/Control Self Assessment (CSA) yang diaplikasikan pada lingkungan

pengendalian. CEE dengan menggunakan kuesioner dilakukan dalam rangka

mendapatkan data persepsi pegawai terhadap gambaran atas profil lingkungan

pengendalian di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara. Kuesioner

persepsi lingkungan pengendalian diisi oleh 45 Pegawai di lingkungan Perwakilan

BPKP Provinsi Maluku Utara sebagai responden, dengan rincian jumlah

responden sebagai berikut:

Simpulan kondisi lingkungan pengendalian Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara berdasarkan persepsi pegawai adalah sudah memadai, hal ini sesuai hasil CEE yang telah dilakukan di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara sebagaimana disajikan dalam Lampiran I

Rincian hasil kuesioner terhadap kondisi pemahaman SPIP dan penerapan unsur lingkungan pengendalian adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan pemberian pemahaman dan kondisi pemahaman terhadap SPIP berdasarkan hasil kuisioner sebagai berikut:

a. Sosialisasi

Sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden telah mendapatkan sosialisasi SPIP, sementara 1 responden belum mendapatkan sosialisasi SPIP.

b. Pendidikan dan Latihan

Sebanyak 25 responden telah mengikuti pelatihan/diklat SPIP, sementara 20 responden belum mengikuti pelatihan/diklat SPIP.

c. Workshop

Sebanyak 25 responden telah mengikuti workshop SPIP, sementara 20 responden belum mengikuti workshop SPIP.

d. Pemahaman

Terkait pemahaman SPIP, sebanyak 1 responden menyatakan tidak

paham, 15 pegawai menyatakan kurang paham, 25 pegawai menyatakan

paham, dan 4 pegawai menyatakan sangat paham.

2. Gambaran penerapan unsur lingkungan pengendalian berdasarkan hasil kuisioner sebagai berikut:

a. Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki aturan perilaku, pesan integritas & nilai etika secara rutin yang telah dikomunikasikan kepada seluruh pegawai, serta terdapat fungsi khusus yang melayani pengaduan masyarakat atas pelanggaran aturan perilaku/kode etik dimana pelanggaran tersebut telah ditindaklanjuti sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait penegakan integritas dan nilai etika, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

b. Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki dan menerapkan strategi peningkatan kompetensi pegawai dimana standar kompetensi tersebut telah ditentukan secara tepat, serta terdapat pelatihan terkait pengelolaan risiko, baik pelatihan khusus maupun pelatihan terintegrasi secara berkala sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait Komitmen terhadap Kompetensi, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

c. Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dengan gaya kepemimpinannya yang dapat mendorong pegawai untuk meningkatkan kinerja, telah menetapkan kebijakan pengelolaan risiko yang memberikan kejelasan arah pengelolaan risiko, menerapkan pengelolaan risiko dan pengendalian dalam pelaksanaan tugas dan pengambilan keputusan, membangun komunikasi yang baik dengan anggota organisasi untuk berani mengungkapkan risiko dan secara terbuka menerima/menggali pelaporan risiko/masalah, berperan serta dan mengikutsertakan pejabat dan pegawai terkait dalam proses pengelolaan risiko, dan menetapkan sasaran strategis yang selaras dengan visi dan misi perwakilan dan telah dijabarkan ke dalam PKPT bidang yang menyajikan informasi mengenai risiko sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait kepemimpinan yang kondusif, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

d. Pegawai Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara merupakan pegawai

tetap dan bukan pegawai yang bersifat ad hoc (sementara) yang telah

memperoleh kejelasan dan memahami peran dan tanggung jawab

masing-masing pada bidang/unit kerja yang tepat dalam pengelolaan risiko disertai dengan transparansi dan ketepatan waktu pelaporan pelaksanaan peran dan tanggung jawab masing-masing sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

e. Kriteria pendelegasian wewenang dan tanggung jawab telah ditentukan dan dilaksanakan secara tepat serta kewenangan tersebut telah direviu secara periodik sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

f. Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah menginternalisasi budaya sadar risiko termasuk adanya pemberian reward dan/atau punishment atas pengelolaan risiko melalui evaluasi kinerja pegawai dan telah dipertimbangkan dalam perhitungan penghasilan sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

g. Inspektorat BPKP telah melakukan reviu atas kepatuhan hukum dan efisiensi/efektivitas pelaksanaan setiap kegiatan pengawasan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara secara periodik dan memberikan layanan fasilitasi penerapan pengelolaan risiko dan penyelenggaraan SPIP. Di samping itu, auditor Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah melaksanakan pengawasan berbasis risiko termasuk dimana temuan dan saran/rekomendasi pengawasan Inspektorat BPKP telah ditindaklanjuti sehingga dapat disimpulkan bahwa terkait hubungan kerja yang baik dengan Inspektorat BPKP yang efektif, telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

h. Hubungan kerja yang baik dengan instansi/organisasi lain yang memiliki

keterkaitan operasional dan terkait atas fungsi pengawasan/pemeriksaan

(Inspektorat dan BPK) telah terbangun sehingga dapat disimpulkan

bahwa terkait hubungan yang baik dengan instansi pemerintah terkait,

telah dibangun atau diterapkan dengan baik, tapi masih dapat ditingkatkan.

Berdasarkan gambaran penerapan unsur lingkungan pengendalian sesuai hasil kuisioner, maka profil lingkungan pengendalian Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dilihat dari delapan sub unsur lingkungan pengendalian, adalah sebagai berikut:

a. Penegakan Integritas dan Nilai Etika

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki dokumen kebijakan/prosedur tentang Aturan Perilaku (Kode Etik) yang mengatur mengenai keteladanan pimpinan, integritas, nilai etika, dan penegakan disiplin dalam rangka penguatan komitmen terhadap integritas dan nilai etika.

Aturan Perilaku tersebut telah disosialisasikan kepada sebagian seluruh pegawai melalui kegiatan doa bersama setiap senin pagi. Selain itu, seluruh pegawai telah menandatangani Pakta Integritas sebagai wujud komitmen penerapan kebijakan/prosedur tentang Aturan Perilaku. Aturan perilaku tersebut telah diimplementasikan di Lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dengan melaporkan setiap bulan kepada Kepala BPKP dalam bentuk laporan GDN. Disamping itu, evaluasi atas implementasi aturan perilaku dan penegakan disiplin telah dilakukan secara berkala.

b. Komitmen terhadap Kompetensi

Perwakilan BPKP Provinsi

Maluku Utara telah memiliki

dokumen kebijakan/prosedur

mengenai standar kompetensi

untuk seluruh jabatan yang

diatur dalam Perka BPKP

nomor 4 Tahun 2017 tentang Pemetaan talenta PFA di lingkungan BPKP

dan Perka BPKP Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas Perka BPKP Nomor PER-1596/K/SU/2011 Tentang Uraian Jabatan Struktural, Jabatan Fungsional Tertentu, dan Jabatan Fungsional Umum pada BPKP.

Sosialisasi mengenai standar kompetensi dan uraian tugas untuk seluruh posisi jabatan tersebut telah dilakukan kepada seluruh pegawai di Lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara. kebijakan/prosedur mengenai standar kompetensi telah diimplementasikan dalam bentuk penempatan pegawai pada suatu formasi jabatan sesuai dengan kompetensinya. Evaluasi atas implementasi komitmen terhadap kompetensi telah dilakukan secara berkala.

c. Kepemimpinan yang Kondusif

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki dokumen kebijakan/prosedur yang mengatur mengenai sistem manajemen kinerja yang diatur dalam Perka BPKP Nomor 18 tahun 2016 tentang Pedoman pengelolaan kinerja di lingkungan BPKP tahun 2015-2019 dan SE Sesma nomor SE-682/SU/01/2016 tanggal 7 Maret 2016 tentang Penggunaan Sistem Informasi New IPMS dan SIMA. Sosialisasi mengenai sistem manajemen kinerja tersebut telah dilakukan kepada seluruh pegawai di Lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara.

Kebijakan/prosedur sistem manajemen kinerja telah diimplementasikan

dalam bentuk LAKIP 2019 dan Laporan Kinerja Triwulanan dan telah

dilakukan evaluasi atas implementasi secara berkala.

d. Pembentukan Struktur Organisasi yang Sesuai dengan Kebutuhan

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki dokumen Struktur Organisasi dan tata laksananya yang diatur dalam Peraturan Kepala BPKP Nomor 20 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Banten, Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, Provinsi Gorontalo, Provinsi Maluku Utara, dan Provinsi Papua Barat, Peraturan Kepala BPKP No 20 tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Kepala BPKP Nomor 13 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPKP, dan Peraturan Kepala BPKP Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Organisasi dan Tata Kerja BPKP.

Peraturan Kepala BPKP tersebut telah disosialisasikan kepada seluruh pegawai di Lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara.

Implementasi struktur organisasi serta tatalaksananya diwujudkan dalam bentuk job desk setiap jenjang jabatan.Evaluasi atas implementasi struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan telah dilakukan secara berkala.

e. Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab yang Tepat

Perwakilan BPKP Provinsi

Maluku Utara telah memiliki

prosedur pendelegasian

wewenang yang diatur dalam

Perka 4 tahun 2013 tentang

Pedoman Tata Naskah Dinas,

Perka No. 8 Tahun 2014

tentang Pendelegasian

Wewenang Pemberian cuti

bagi Pegawai BPKP, dan Perka No. PER-1005/K/SU/2010 tentang Pejabat

yang Berwenang Menjatuhkan Hukuman Disiplin terhadap PNS di

Lingkungan BPKP, serta Perka 112 tahun 2011.

Peraturan Kepala BPKP tersebut telah disosialisasikan kepada seluruh pegawai di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara.

Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat telah diimplementasikan dalam bentuk Surat Perintah dan Laporan pelaksanaan tugas sebagai Plh.

f. Penyusunan dan Penerapan Kebijakan yang Sehat tentang Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM)

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki kebijakan/aturan mengenai pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak rekrutmen sampai dengan pemberhentian yang diatur dalam SOP Kepegawaian Perwakilan BPKP Maluku Utara.

SOP telah dikomunikasikan kepada seluruh pegawai di lingkungan BPKP Provinsi Maluku Utara dan diimplementasikan dalam proses Kenaikan Jabatan, proses pemberian lencana karya satya, dan proses pemberian hukuman disiplin.

g. Peran APIP yang Efektif

Perwakilan BPKP Provinsi

Maluku Utara tidak

melaksanakan tugas

Inspektorat karena tidak

mempunyai unit kerja yang

melakukan peran APIP secara

mandiri. Peran APIP di

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dilaksanakan oleh Inspektorat

BPKP. Sedangkan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dalam peran

APIP yang efektif dalam bentuk menindaklanjuti atas Hasil Pengawasan

yang ditemukan oleh Inspektorat BPKP.

h. Hubungan Kerja yang Baik dengan Instansi Pemerintah Terkait

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara telah memiliki pedoman/kebijakan/ prosedur mekanisme saling uji antar unit organisasi/unit kerja, antara lain dalam pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) terdapat mekanisme saling uji yang mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118 tahun 2018 tentang tata cara rekonsiliasi BMN.

Kebijakan tersebut telah dikomunikasikan kepada seluruh pegawai di

lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dan telah

diimplementasikan. Sebagai contoh dokumen pendukung implementasi

kebijakan tersebut adalah Berita Acara Rekonsiliasi keuangan dan BMN.

BAB III

PENYELENGGARAAN SPIP

Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara merupakan wujud komitmen dalam rangka meningkatkan manajemen pemerintahan dan menguatkan akuntabilitas.

Penyelenggaraan SPIP pada Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dirancang untuk dapat diimplementasikan secara integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Dalam rangka meningkatkan maturitas level penyelenggaraan SPIP, Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara secara berkelanjutan telah berupaya melakukan perbaikan atas proses pengendalian intern dan proses bisnis kegiatan unit kerja melalui pemantauan atas pengendalian intern yang telah dilakukan secara mandiri dengan pendekatan Control Self Assessment (CSA) dalam rangka menguji dan menilai efektivitas pengendalian intern. CSA yang telah dilakukan oleh Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara adalah untuk mengidentifikasi kelemahan lingkungan pengendalian, penilaian risiko dan kegiatan pengendalian melalui pendekatan survei, diskusi, dan reviu dokumen. Hasil CSA atas penilian risiko dan kegiatan pengendalian adalah sebagai berikut:

A. Identifikasi dan Analisis Risiko

Setiap aktivitas yang dilakukan tidak terlepas dari adanya risiko yang dapat berpengaruh dalam pencapaian tujuan. Risiko yang dihadapi oleh Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara jika tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, upaya implementasi manajemen risiko di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara perlu dikembangkan lebih lanjut.

Implementasi manajemen risiko di Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara

dilaksanakan dengan memperhatikan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), yang

secara garis besar menyatakan bahwa setiap instansi pemerintah diwajibkan untuk

menerapkan SPIP. Salah satu unsur SPIP mengharuskan setiap instansi pemerintah

untuk melakukan penilaian risiko (risk assessment) dengan cara mengidentifikasi

dan menganalisis risiko dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Di samping itu,

Implementasi manajemen risiko di Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara juga

berpedoman pada Peraturan Kepala BPKP tentang Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan Maturitas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah dan Surat Edaran Sekretaris Utama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan tentang Rencana Penyelenggaraan SPIP BPKP Tahun 2019.

Pelaksanaan proses manajemen risiko di Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dilaksanakan melalui tahapan:

1. Menetapkan Tujuan

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 menyebutkan bahwa sebelum melakukan penilaian risiko, instansi pemerintah harus menetapkan tujuan terlebih dahulu. Tujuan yang ditetapkan mencakup tujuan entitas (instansi) dan tujuan kegiatan. Tujuan entitas (instansi) umumnya terkait dengan tataran strategis sedangkan pada tujuan kegiatan lebih mengarah kepada

process business yang terjadi pada entitas tersebut.

Tahap pertama pelaksanaan penilaian risiko adalah menetapkan

“konteks/tujuan”. Dalam tahap ini akan ditetapkan tujuan-tujuan tujuan entitas

(instansi) dan tujuan kegiatan yang selanjutnya akan dilakukan penilaian risikonya. Dengan memahami tujuan yang hendak dicapai, risiko dapat diidentifikasi dan dianalisis. Keterkaitan antara tujuan entitas (instansi) dan tujuan kegiatan disajikan pada Gambar di bawah ini.

Pelaksanaan penilaian risiko di Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara

dilaksanakan pada tataran kegiatan (tujuan kegiatan). Proses penilaian risiko

diawali dengan menentukan Program dan Kegiatan yang dilimpahkan BPKP pusat kepada Perwakilan BPKP berdasarkan dokumen renstra BPKP, kemudian sasaran dan indikator kinerja dari program dan kegiatan tersebut di mapping keselarasannya dengan PKPT yang dimiliki seluruh bidang teknis dan kegiatan yang ada di bidang penunjang. Hasil mapping tersebut kemudian dilanjutkan dengan menetapkan tujuan kegiatan dan mengidentifikasikan risiko dari masing-masing kegiatan.

Mapping keselarasan Program dan Kegiatan serta Indikatornya yang

dilimpahkan BPKP kepada Perwakilan BPKP berdasarkan dokumen renstra BPKP dengan kegiatan dalam PKPT Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara, sebagaimana terlampir dalam lampiran II.

2. Mengidentifikasi Risiko

Dalam tahapan ini, berbagai risiko yang mengancam pencapaian tujuan

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara diidentifikasi sesuai dengan tahapan

prosesnya. Identtifikasi risiko tersebut dilakukan oleh masing-masing bidang

dengan cara menginventarisasi risiko dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan

melalui Focus Group Discussion (FGD) oleh kelompok Pejabat Struktural dan

Pejabat Fungsional Auditor (PFA) masing-masing bidang. Berdasarkan hasil

identifikasi risiko, terdapat delapan puluh (80) risiko teridentifikasi pada Unit Kerja

Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara dengan rincian jumlah risiko

masing-masing unit kerja adalah sebagai berikut:

Pada tahap identifikasi risiko ini, selain pernyataan risiko masing-masing tujuan kegiatan, juga disampaikan atribut risiko antara lain kode risiko, frekuensi risiko, dampak risiko, dan nilai risiko berdasarkan tingkat kemungkinan risiko dan tingkat dampak risiko yang telah ditetapkan. Daftar Risiko Unit Kerja sebagaimana terlampir dalam lampiran III.

3. Menganalisis Risiko

Analisis risiko menggunakan kriteria yang telah ditetapkan sesuai Surat Edaran Sekretaris Utama Nomor S-597/SU/02/2019 tanggal 6 Maret 2019 tentang Rencana Penyelenggaraan SPIP BPKP Tahun 2019. Penetapan kriteria penilaian risiko bertujuan memberikan pemahaman yang sama bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan risiko di lingkungan Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara mengenai kriteria dalam melakukan analisis atas risiko-risiko yang telah diidentifikasi, sebagai dasar pengambilan keputusan mengenai tingkat risiko yang dapat diterima (acceptable risk) atau tingkat risiko yang dapat ditoleransi (tolerable risk) maupun tingkat risiko yang tidak dapat diterima (unacceptable risk) dan memerlukan respon penanganan lebih lanjut. Kriteria dalam analisis risiko terdiri dari 3 komponen, yaitu Tingkat Probabilitas (Kemungkinan) Keterjadian Risiko, Tingkat Potensi Dampak Jika Risiko Terjadi, dan Matriks Analisis Risiko, yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat Probabilitas (Kemungkinan) Keterjadian Risiko

Kriteria kemungkinan keterjadian risiko adalah sebagai berikut:

Persentase kemungkinan terjadinya dalam 1 periode

Jumlah frekuensi kemungkinan terjadinya dalam 1 periode

Hampir tidak terjadi (1) x ≤ 5% sangat jarang: < 2 kali dalam 1 tahun Jarang terjadi (2) 5% < x ≤ 10% Jarang: 2 kali s.d. 5 kali dalam 1 tahun Kadang terjadi (3) 10% < x ≤ 20% cukup sering: 6 s.d. 9 kali dalam 1 tahun

Sering terjadi (4) 20% < x ≤ 50% Sering: 10 kali s.d. 12 kali dalam 1 tahun Hampir pasti terjadi (5) x > 50% sangat sering: > 12 kali dalam 1 tahun

Level Kemungkinan

Kriteria Kemungkinan

b. Tingkat Potensi Dampak

Kriteria area dampak dan level dampak risiko adalah sebagai berikut:

c.

Matriks Analisis Risiko

Risk Appetite

Tidak Signifikan (1) Minor (2) Moderat (3) Signifikan (4) Sangat Signifikan (5)

Fraud ≤ 10 Juta > 10 Juta

Non Fraud (Anggaran) ≤0,001% >0,001% - 0,01% >0,01% - 0,1% >0,1% - 1% > 1%

* Jumlah keluhan stakeholder (lisan/tertulis) ≤ 3

* Jumlah keluhan stakeholder (lisan/tertulis) sebanyak 3 s.d

5

* Jumlah keluhan stakeholder (lisan/tertulis) > 5

* Pemberitaan negatif di media massa lokal

* Pemberitaan negatif di media massa nasional dan internasional

* Pemberitaan negatif di media sosial yang sesuai

fakta

* Tingkat kepuasan pengguna layanan (hasil survei) sebesar 4,25 < x ≤ 4

(skala 5)

_ _ Administratif: tergugat

adalah pelaksana

Pidana: x ≤ 2 th Perdata: 5M < x ≤ 25M Administratif: tergugat adalah Pimpinan Eselon III/

IV atau pejabat setara

Pidana > 2 th Perdata > 25 M tergugat adalah Pimpinan Eselon

III/ Korwas

4 Ancaman psikis Cedra fisik dan mental ringan Cedara fisik dan mental

sedang

Cedera fisik dan mental berat

Kematian

5 x ≥ 95% 90% ≤ x < 95% 80% ≤ x < 90% 75% ≤ x < 80% x < 75%

Kecelakaan Kerja

Kinerja Unit Kerja Sanksi pidana, perdata, dan/ atau

administratif adalah Pimpinan Eselon II/

Auditor Utama

Pidana > 3 th Perdata > 50 M tergugat adalah Pimpinan Eselon

II/ Auditor Utama

Area Dampak Level Dampak

Beban Keuangan Negara

Penurunan Reputasi

* Tingkat kepuasan pengguna layanan (hasil survei) sebesar 4,5 < x ≤ 5

(skala 5)

* Tingkat kepuasan pengguna layanan (hasil survei) sebesar

4,25 < x ≤ 4,5 (skala 5)

* Tingkat kepuasan pengguna layanan (hasil survei) sebesar 3,5 < x ≤ 4

(skala 5)

* Tingkat kepuasan pengguna layanan (hasil survei) ≤ 3,5 (skala

5)

Matriks Analisis Risiko

5 x 5

Tingkat Dampak

1 2 3 4 5

Tidak Signifikan

Minor Moderat Signifikan Sangat Signifikan

Sebanyak 80 risiko yang teridentifikasi pada unit kerja/bidang-bidang sebagaimana tercantum dalam Daftar Risiko Unit Kerja yang ada dalam lampiran III, kemudian dilakukan analisis risikonya dengan menetapkan selera risiko (risk appetite) sebesar 13, hasil analisis risiko adalah sebagai berikut:

Berdasarkan analisis risiko tersebut menunjukkan terdapat tiga belas (13) risiko Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara yang tingkat risikonya

lebih besar dari selera risiko (risk appetite), risiko tersebut adalah risiko yang ingin dikendalikan, rincian risiko tersebut adalah sebagai berikut:

1). Risiko ketidak akuratan data kepegawaian pada aplikasi Smile;

2). Risiko perencanaan pembangunan gedung kantor dan rumah susun pegawai terlambat;

3). Risiko hasil audit/consulting tidak mencapai standar yang ditetapkan berupa risiko tidak terdeteksinya permasalahan/temuan yang signifikan;

4). Risiko pengelolaan dokumen pengawasan dan KKA belum mencapai standar yang ditetapkan berupa risiko kertas kerja untuk kegiatan assurance dan consulting tidak memadai;

5). Risiko Kualitas/kompetensi SDM Auditor tidak memenuhi standar berupa risiko keterbatasan kemampuan fasilitator dalam melakukan pendampingan/evaluasi/assesment;

6). Risiko kesulitan memperoleh data/informasi yang dibutuhkan evaluator;

7). Risiko program kerja evaluasi yang telah dibuat tidak dapat diterapkan dalam evaluasi;

9 11

27

10 12 11

2 3 3

1 2 2

7 8

24

9 10 9

0 5 10 15 20 25 30

Bidang Tata

Usaha Bidang IPP Bidang APD Bidang AN Bidag P3A Bidang Investigasi

Risko Per Bidang

Teridentifikasi Dikendalikan Diterima

8). Risiko Pemerintah Daerah kurang antusias mengumpulkan dokumen;

9). Risiko pembuatan dan pengelolaan KKA belum sesuai pedoman;

10). Risiko kualitas asistensi/bimtek kurang optimal;

11). Risiko kegagalan implementasi bimtek pada APIP Daerah;

12). Risiko auditor belum memahami substansi dan teknik penugasan terutama keinvestigasian;

13). Risiko adanya gugatan hukum terhadap hasil audit.

Ketiga belas risiko Perwakilan BPKP Provinsi Maluku Utara yang ingin dikendalikan tersebut kemudian dilakukan identifikasi penyebabnya dengan menggunakan metode Root Cause Analysis (RCA). Berdasarkan hasil RCA tersebut diperoleh akar penyebab yang menimbulkan risiko terjadi, Root

Cause Analysis (RCA) terlampir dalam lampiran IV.

4. Menangani Risiko

Proses penanganan risiko adalah proses memilih dan melaksanakan

pilihan-pilihan penanganan guna menghindari, mengurangi, mengalihkan atau

menerima risiko. Dari hasil analisis dapat disimpulkan beberapa alternatif

penanganan risiko sebagai bahan pertimbangan dalam merancang rencana

tindak penanganan risiko selanjutnya, yaitu:

Berdasarkan hasil RCA, kemudian dirancang mitigasi risiko (pengendalian) untuk menghindari terjadinya akar penyebab risiko. Mitigasi risiko (pengendalian) yang direncanakan tersebut akan diuraikan secara rinci dalam Bab IV tentang Rencana Tindak Pengendalian.

B. Kegiatan Pengendalian

Kegiatan pengendalian intern adalah kebijakan dan prosedur yang dapat

membantu memastikan dilaksanakannya arahan pimpinan instansi pemerintah untuk

Kegiatan pengendalian intern adalah kebijakan dan prosedur yang dapat

membantu memastikan dilaksanakannya arahan pimpinan instansi pemerintah untuk

Dokumen terkait