3. Kondisi Demografi
4.2. Profil Masyarakat Miskin di 3 Desa Lokasi Studi
Kebijakan pemberantasan kemiskinan dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu; (1) kebijakan yang bertujuan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi peningkatan pendapatan masyarakat miskin dan (2) kebijakan yang bertujuan menyediakan pelayanan sosial dasar kepada masyarakat miskin untuk membantu mengatasi akibat negatif dari kemiskinan yang mereka alami. Kegiatan yang telah dilakukan identifikasi masyarakat miskin dipusatkan pada 3 (tiga) kelurahan, yaitu; Desa Bedahan, Desa Leuinanggung dan Desa Pondok Jaya hal tersebut dikarenakan bahwa PEMDA Kota Depok menetapkan tiga desa tersebut sebagai prioritas target pengentasan kemiskinan.
Kegiatan ini berupa pemetaan (pengamatan langsung) keadaan fisik rumah warga miskin calon penerima bantuan, serta pengumpulan informasi dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan, antara lain; nama dan alamat jelas warga miskin, jenis kelamin, umur, pekerjaan, status rumah, status pembayaran PBB, pendidikan terakhir, jumlah tanggungan jiwa (dengan data umur serta jumlah), jumlah wanita subur, jumlah balita (berserta data keikutsertaan kegiatan Posyandu), penyebab kematian, sumber pendapatan, jumlah pendapatan, sumber bantuan modal, data jumlah makan/hari dengan lauk yang dipakai, pakaian (dengan jumlah), luas bangunan, jenis lantai, jenis dinding, sumber listrik, bahan bakar masak, MCK, sumber air minum, sumber dana untuk biaya berobat, asset,
sarana peribadatan, kondisi kesehatan, jumlah anggota keluarga yang ikut bekerja, kondisi pendidikan (baca/tulis), kegiatan masyarakat, sumber informasi, kondisi memberi sumbangan, status keikutsertaan dalam kepengurusan organisasi, kepemilikan Jamkesmas/SKTM, Status penerima BLT atau Raskin, identifikasi kebutuhan pelatihan (keterampilan khusus/ bidang tertentu) dan permasalahan pendidikan. Profil masyarakat miskin di tiga Desa lokasi studi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Profil Masyarakat Miskin di Tiga Desa Lokasi Studi
4.2.1 Profil Masyarakat Miskin di Bedahan
Masyarakat miskin di Bedahan yang disurvei adalah masyarakat miskin yang berdasarkan data baseline yang dimiliki oleh Bappeda Depok, kemudian didasarkan kepada masyarakat miskin yang mendapatkan program bantuan sesuai dengan pengajuan dari RT dan RW di wilayahnya. Data tersebut dilakukan survey yang akan disusun sebagai profil masyarakat miskin di Kota Depok. Profil
Profil Bedahan (92 KK) Leuwinanggung (20 KK) Pondok jaya (25 KK) Jenis kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 71% 29% 50% 50% 76% 24% Pekerjaan a. Bekerja b. Bekerja serabutan c. Pengangguran 46% 34% 20% 55% 15% 30% 28% 52% 20% Pendapatan a. < Rp. 500.000,- b. > Rp. 500.000,- 73% 27% 80% 20% 92% 8% Aset Rumah
a. Milik pribadi & Bersertifikat
b. Tidak Bersertifikat c. Tinggal milik keluarga d. Sewa /Kontrak 67% 18% 13% 2% 80% 5% 15% -80% 20% - -Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA d. Tidak bersekolah 42% 24% 5% 29% 40% 10% - 50% 48% 12% 8% 32% Kesehatan dan keluarga
berencana a. Program KB b. Tidak mengikuti program KB 54% 46% 54% 46% 52% 48%
masyarakat miskin di Bedahan adalah 71% yang didata adalah pria dan 29% adalah perempuan dari data tersebut diketahui bahwa 46% masyarakat miskin tersebut bekerja, 34% masyarakat miskin tersebut bekerja serabutan dan 20% adalah pengangguran, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin tersebut adalah orang yang bekerja, artinya pekerjaannya belum mampu memberikan kemampuan untuk menafkahi keluarga dan juga perlu diperhatikan bahwa masyarakat miskin yang menganggur juga cukup besar.
Profil yang menarik adalah masalah kepemilikan rumah di masyarakat miskin menunjukkan bahwa 67% milik sendiri dan bersertifikat, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin memiliki asset pribadi dan 18% rumah hak milik namun belum bersertifikat, 13% rumah yang masih tinggal di milik keluarga dan 2% yang yang menyewa rumah atau kontrak. Profil masyarakat miskin di Bedahan juga menunjukkan bahwa jumlah jiwa di dalam keluarga masyarakat miskin rata-rata adalah 4,7 jiwa artinya minimal dalam keluarga miskin ada 4 orang yang harus dibiayayai/dihidupi dengan pendapatan mayoritas masyarakat miskin (73%) dibawah Rp 500.000/KK/bulan tentunya hal ini akan menjadi bahan pemikiran untuk meningkatkan masyarakat miskin. Mayoritas kepala keluarga miskin berpendidikan sekolah dasar sebesar 42%, 29% tidak sekolah, lulusan SMP sebesar 24% serta lulus SMA sebesar 5%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berkontribusi terhadap kemiskinan di Bedahan. Profil mengenai kesehatan dan keluarga berencana menunjukkan hasil yang cukup menarik. Sebesar 46% masyarakat miskin di Bedahan tidak mengikuti program KB atau menggunakan kontrasepsi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat miskin berpotensi tidak keluar dari masalah dan bahkan menambah populasi orang miskin.
4.2.2 Profil Masyarakat Miskin di Leuwinanggung
Masyarakat miskin di Leuwinanggung yang disurvei adalah masyarakat miskin yang berdasarkan data baseline yang dimiliki oleh Bappeda Depok, kemudian didasarkan kepada masyarakat miskin yang mendapatkan program bantuan sesuai dengan pengajuan dari RT dan RW di wilayahnya. Data tersebut kemudian dilakukan survey yang akan disusun sebagai profil masyarakat miskin di Kota Depok. Profil masyarakat miskin di Leuwinanggung adalah 50% yang
didata adalah pria dan 50% adalah perempuan, dari data tersebut diketahui bahwa 55% masyarakat miskin tersebut bekerja, 15% masyarakat miskin tersebut bekerja serabutan dan 30% adalah pengangguran. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin tersebut adalah orang yang bekerja, artinya pekerjaannya belum mampu memberikan kemampuan untuk menafkahi keluarga yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat miskin yang menganggur juga cukup besar.
Profil yang menarik adalah masalah kepemilikan rumah di masyarakat miskin menunjukkan bahwa 80% milik sendiri dan bersertifikat, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin memiliki asset pribadi. Serta 5% rumah yang hak milik namun belum bersertifikat, 15% rumah yang masih tinggal di milik keluarga dan tidak ada yang menyewa rumah atau kontrak. Profil masyarakat miskin di Leuwinanggung juga menunjukkan bahwa jumlah jiwa di dalam keluarga masyarakat miskin rata-rata adalah 3,4 jiwa artinya minimal dalam keluarga miskin ada 3 orang yang harus dibiayayai/dihidupi dengan pendapatan mayoritas masyarakat miskin (80%) dibawah Rp 500.000/KK/bulan tentunya hal ini akan menjadi bahan pemikiran untuk meningkatkan masyarakat miskin. Mayoritas kepala keluarga.miskin sebesar 50% tidak sekolah, sedangkan kepala keluarga miskin berpendidikan sekolah dasar, yaitu sebesar 40% sedangkan lulusan SMP sebesar 10%. Kepala keluarga yang lulus SMA tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berkontribusi terhadap kemiskinan di Leuwinanggung. Profil mengenai kesehatan dan keluarga berencana menunjukkan hasil yang cukup menarik. Sebesar 46% masyarakat miskin di Leuwinanggung tidak mengikuti program KB atau menggunakan kontrasepsi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat miskin berpotensi tidak keluar dari masalah dan bahkan menambah populasi orang miskin.
4.2.3 Profil Masyarakat Miskin di Pondok Jaya
Masyarakat miskin di Pondok Jaya yang disurvei adalah masyarakat miskin yang berdasarkan data baseline yang dimiliki oleh Bappeda Depok, kemudian didasarkan kepada masyarakat miskin yang mendapatkan program bantuan sesuai dengan pengajuan dari RT dan RW di wilayahnya. Data tersebut kemudian dilakukan survey yang akan disusun sebagai profil masyarakat miskin di Kota Depok. Profil masyarakat miskin di Pondok Jaya adalah 76% yang didata
adalah pria dan 24% adalah perempuan, dari data tersebut diketahui bahwa 28% masyarakat miskin tersebut bekerja, 52% masyarakat miskin tersebut bekerja serabutan dan 20% adalah pengangguran. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin tersebut adalah orang yang bekerja, artinya pekerjaannya belum mampu memberikan kemampuan untuk menafkahi keluarga yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat miskin yang menganggur juga cukup besar,
Profil yang menarik adalah masalah kepemilikan rumah di masyarakat miskin adalah 80% milik sendiri dan bersertifikat. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin memiliki asset pribadi. Rumah hak milik namun belum bersertifikat 20% serta 0% rumah yang masih tinggal di milik keluarga dan 0% yang yang menyewa rumah atau kontrak. Profil masyarakat miskin di Pondok Jaya juga menunjukkan bahwa jumlah jiwa di dalam keluarga masyarakat miskin rata-rata adalah 4,6 jiwa artinya minimal dalam keluarga miskin ada 4 orang yang harus dibiayayai/dihidupi dengan pendapatan mayoritas masyarakat miskin (92%) dibawah Rp 500.000/KK/bulan tentunya hal ini akan menjadi bahan pemikiran untuk meningkatkan masyarakat miskin. Mayoritas kepala keluarga miskin berpendidikan sekolah dasar, yaitu sebesar 48%. Sebanyak 32% tidak sekolah sedangkan lulusan SMP sebesar 12%. Kepala keluarga yang lulus SMA sebesar 8%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berkontribusi terhadap kemiskinan di Pondok Jaya. Profil mengenai kesehatan dan keluarga berencana menunjukkan hasil yang cukup menarik. Sebesar 48% masyarakat miskin di Pondok Jaya tidak mengikuti program KB atau menggunakan kontrasepsi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat miskin berpotensi tidak keluar dari masalah dan bahkan menambah populasi orang miskin.