• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil pasien ISK berdasarkan data pemeriksaan kultur, tes

tahun 2011

Pasien dengan diagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap

RSUD Dr. Moewardi tahun 2011 berjumlah 313 kasus, tetapi yang memiliki

data pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas hanya 103 kasus, kemudian yang

memiliki data pemeriksaan kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis hanya 59

pasien sedangkan sisanya tidak mempunyai data uji urinalisis. Dari 59 pasien

yang tercantum data pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas, 25 pasien

diketahui hasil kultur yang dilakukan tidak tumbuh sehingga tes sensitivitas

tidak dapat dilakukan.

1. Profil karakteristik pasien ISK berdasarkan jenis kelamin dan

umur di instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Profil karakteristik pasien ISK meliputi jenis kelamin dan umur.

Penggolongan jenis kelamin ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan

jumlah pasien perempuan dan pasien laki-laki yang menderita ISK karena

pada penderita ISK biasanya lebih sering terjadi pada perempuan

dibandingkan dengan laki-laki.

Tabel II. Profil

Instalasi Rawat Inap RS

Jenis kelamin

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Dari data yang diperoleh

perempuan dan 23

kalamin pasien ISK

dan urinalisis dapat dilihat di

Gambar 2

Dari gambar

terkena ISK daripada

bahwa dari data ya

perempuan dan laki

Wirawan (2005)

Profil karakteristik pasien ISK berdasarkan jenis

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Jumlah Persentase (%)

23 pasien 38,98

36 pasien 61,02

59 pasien 100

data yang diperoleh terdapat 36 pasien (61,02%) berjenis kelami

dan 23 pasien (38,98%) berjenis kelamin laki-laki. Distribusi

pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes

dapat dilihat di diagram 1 berikut.

Gambar 2. Distribusi pasien ISK berdasarkan jenis kelamin

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa perempuan lebih

ISK daripada laki-laki. Hasil penelitian Wirawan (2005

data yang diteliti sebanyak 67 pasien (68,36%) berjenis

dan laki-laki sebanyak 31 pasien (31,63%). Jadi, pada

(2005) juga menunjukkan bahwa jumlah pasien perempuan

61% 39% Perempuan

Laki-jenis kelamin di

Persentase (%)

erjenis kelamin

laki. Distribusi jenis

kultur, tes sensitivitas,

berdasarkan jenis kelamin

perempuan lebih banyak

(2005) didapatkan

(68,36%) berjenis kelamin

Jadi, pada penelitian

pasien perempuan lebih

Perempuan -laki

banyak terkena ISK dibandingkan pasien laki-laki. Pasien perempuan lebih

sering terkena ISK berulang dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok

kurang dari 3 episode dalam setahun dan kelompok lebih dari 3 episode dalam

setahun (Dipiro et al., 2005), dengan demikian perlu dilakukannya tes

laboratorium kultur dan tes sensitivitas. Penggolongan berdasarkan umur

pasien ISK yang memiliki data hasil kultur dan tes sensitivitas dapat dilihat

dalam tabel berikut.

Tabel III. Profil karakteristik pasien ISK berdasarkan umur di Instalasi

Rawat Inap Rumah Sakit Dr. Moewardi tahun 2011

Penggolongan umur Jumlah kasus Persentase

(%)

Umur <1 tahun 2 pasien 3,39

Umur 1-4 tahun 4 pasien 6,78

Umur 5-14 tahun 7 pasien 11,86

Umur 14-24 tahun 6 pasien 10,17

Umur 25-65 tahun 26 pasien 44,07

Umur >65 tahun 14 pasien 23,73

Total 59 pasien 100

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah pasien ISK

yang memiliki data hasil kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis paling banyak

yaitu pasien dengan golongan umur 25-65 tahun yaitu 26 pasien (44,07%)

dan golongan umur >65 tahun yaitu 14 pasien (23,73%). Hasil penelitian

Yudasmoro (2008) mengenai Evaluasi Kesesuaian Pemilihan Antibiotika

Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Hasil Kultur dan Tes

Sensitivitas Dengan Parameter Angka Leukosit Urin di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rapih Periode Januari-Juni 2006. Pasien dengan kelompok

umur 1-10 tahun dan 51-60 tahun memiliki jumlah pasien ISK yang memiliki

data hasil kultur dan tes sensitivitas paling banyak yaitu 2 pasien, dengan

demikian dapat diketahui bahwa pada tiap rumah sakit memiliki golongan

umur yang berbeda-beda pada pasien ISK.

Pada usia produktif kejadian ISK meningkat karena adanya

peningkatan aktivitas seksual. Pada usia tua selisih kejadian infeksi bakteri

pada laki-laki dan perempuan berubah pesat dan diperkirakan sama pada

masing-masing orang tua di atas 65 tahun. Faktor risiko ISK meningkat secara

mendasar pada usia dini. Penyakit ini meningkat lebih jauh pada lansia yang

dirawat di rumah atau di rumah sakit. Peningkatan ini kemungkinan

berhubungan dengan beberapa faktor termasuk obstruksi dari hipertropi

prostat pada laki-laki, berhubungan dengan saluran pembuangan pada

perempuan (Coyle dan Prince, 2008).

2. Profil hasil kultur di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi

tahun 2011

Kultur urine merupakan bahan yang paling penting untuk menangani

infeksi saluran kemih. Penilaian yang dilakukan dalam kultur urine meliputi

jenis kuman, kualitas koloni, dan tes sensitivitas. Pada penelitian ini, penilaian

hasil kultur dan tes sensitivitas meliputi jenis kuman, angka kuman, hasil tes

sensitivitas antimikrobial

laboratorium mikrobiologi RS

Gambar 3. Diagram

di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moeward

Berdasarkan

golongan bakteri

dan 7% kuman ya

demikian jumlah golongan bakteri

kultur kuman pasien

tumbuh pada satu

dua atau tiga jenis

disajikan dalam tabel di bawah ini.

41%

antimikrobial, serta daftar cakram antimikrobial yang

laboratorium mikrobiologi RSUD Dr. Moewardi tahun 2011.

. Diagram golongan bakteri hasil kultur urine pada

Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Berdasarkan diagram di atas, ditunjukkan sebanyak 52%

bakteri gram negatif, 41% diketahui kultur kuman tidak

kuman yang tumbuh termasuk golongan bakteri gram positif,

demikian jumlah golongan bakteri yang paling banyak pada hasil

kuman pasien ISK adalah golongan bakteri gram negatif.

pada satu pasien bisa tidak hanya satu jenis bakteri, melainkan

tiga jenis bakteri. Jenis kuman yang tumbuh pada 59

n dalam tabel di bawah ini.

7% 52% 41% Gram positif Gram negatif Tidak tumbuh

yang diujikan di

urine pada pasien ISK

sebanyak 52% termasuk

kuman tidak tumbuh,

gram positif, dengan

yak pada hasil pemeriksaan

negatif. Kuman yang

bakteri, melainkan bisa

pada 59 pasien ISK

Gram positif Gram negatif Tidak tumbuh

Tabel IV. Tabel hasil pemeriksaan kultur urine di Instalasi Rawat Inap

RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

No Jenis kuman Golongan kuman Jumlah Persentase

(%)

1 Proteus mirabilis Gram negatif batang 1 2,78

2 Enterobacter cloacae Gram negatif batang 4 11,1

3 Escherichia coli Gram negatif batang 17 47,2

4 Klebsiella sp. Gram negatif batang 1 2,78

5 Providencia rettgeri Gram negatif batang 1 2,78

6 Klebsiella oxytoca Gram negatif batang 1 2,78

7 Enterobacter aerogenes Gram negatif batang 1 2,78

8 Enterococcus faecalis Gram positif kokus 1 2,78

9 Staphylococcus

haemolyticus

Gram positif kokus 1 2,78

10 Acinetobacter baumannii

complex

Gram negatif batang 2 5,56

11 Morganella morganii ssp

morganii

Gram negatif batang 1 2,78

12 Staphylococcus aureus Gram positif kokus 1 2,78

13 Pseudomonas aeruginosa Gram negatif batang 1 2,78

14 Burkholderia cepacia Gram negatif batang 1 2,78

15 Staphylococcus coagulase Gram positif kokus 1 2,78

16 Pseudomonas sp. Gram negatif batang 1 2,78

Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa jenis kuman pada

pasien ISK paling banyak adalah Escherichia coli yaitu 47,2% dan

Enterobacter cloacae yaitu 11,1%. Hasil penelitian Samirah et al. (2006)

memperlihatkan bahwa kuman yang terbanyak ditemukan pada pasien ISK

ialah Escherichia coli yaitu 39,4% dan di urutan kedua terbanyak ialah

Klebsiella pneumoniae yaitu 26,3%. Biasanya infeksi saluran kemih

disebabkan oleh kuman gram negatif yang berasal dari saluran intestinal.

Escherichia coli merupakan kuman penyebab ISK yang paling banyak

dijumpai yaitu sekitar 75-90% dan Staphylococcus saprophyticus sekitar

5-20%, sedangkan untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi biasanya

disebabkan oleh mikroorganisme tunggal (Fish, 2009).

3. Profil angka kuman di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi

tahun 2011

Angka kuman yang diperoleh dari hasil pemeriksaan kultur dapat

digunakan untuk menentukan apakah pasien memang benar mengalami ISK

atau tidak. Hasil angka kuman dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel V. Profil angka kuman pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD

Dr. Moewardi tahun 2011

Angka kuman Jumlah kasus

(n=59)

Persentase (%)

≥ 10

5

CFU/ml 59 100%

10

5

CFU/ml 0 0%

≤ 10

5

CFU/ml 0 0%

Data diatas menunjukkan bahwa angka kuman pada pasien ISK yang

lebih dari 10

5

CFU/ml adalah sebanyak 59 kasus (100%). Pada penelitian

Samirah et al. (2006) hasil yang diperoleh dari kultur, kuman yang tumbuh

adalah 159 (72,3%) dengan 60 (37,7%) merupakan kuman pencemaran dan 99

(62,3%) didiagnosis sebagai ISK, sedangkan yang tidak ada pertumbuhan 61

(27,7%) dari jumlah sampel sebanyak 220 sampel. Pada penderita yang

didiagnosis ISK (jumlah koloni ≥ 10

5

CFU/ml air kemih). Umumnya

seseorang dianggap menderita ISK apabila terdapat lebih dari 100.000 kuman

dalam 1 mL urinenya (Tjay dan Rahardja, 2007). Dikatakan bakteriuria

bermakna bila ditemukan bakteri patogen lebih atau sama dengan 100.000 per

ml air kemih (urine) porsi tengah (UPT). Istilah bakteriuria lebih bermakna

dipakai untuk membedakan antara bakteri yang benar-benar berkembang biak

di dalam air kemih bakteri yang merupakan cemaran. Bakteri cemaran

biasanya berada dalam jumlah antara 1.000 sampai dengan 100.000 koloni per

ml UPT (Samirah et al.,2006).

4. Profil hasil

ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moeward

Gambar 4. Hasil

Instalasi Raw

Diagram diatas

kasus (100%) yang

jernih. Dalam pemeriksaan

kuning muda dan kuning tu

seperti urochrom,

menyebabkan warna

urine yaitu: suplemen

beberapa macam un

keruh, atau sangat

0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00%

hasil laboratorium urinalisis yang dilakukan

di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Hasil laboratorium makroskopis urinalisis pasien

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Diagram diatas menunjukkan bahwa dari 59 kasus ISK

(100%) yang hasil urinalisisnya berwarna dan 42 kasus

pemeriksaan makroskopik, warna normal urine berkisar

kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam z

urochrom, urobilin, dan porphyrin. Urobilin dalam jumlah

menyebabkan warna coklat. Ada beberapa obat yang mempengaruhi

itu: suplemen zat besi, klorokuin, fenitoin, dan riboflavin

macam untuk menyatakan kejernihan urine yaitu jernih,

sangat keruh. Urine segar yang telah keruh dapat disebabkan

Warna Kejernihan

dilakukan pada pasien

i tahun 2011

pasien ISK di

kasus ISK terdapat 59

kasus (71%) tidak

berkisar antara

h beberapa macam zat warna

dalam jumlah besar

mempengaruhi warna

dan riboflavin. Ada

jernih, agak keruh,

dapat disebabkan oleh

bakteri, jamur, sel

2005).

Gambar 5. Hasil

Rawat Inap RSUD Dr

Diagram diatas

kasus (74,58%) ya

(30,51%) mengandung

(15,25%) mengandung

(5,08%) mengandung

53 kasus (89,83%) mengandung eritrosit

Pemeriksaan

pita/strip yang meliputi

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%

amur, sel-sel, mukus dan sperma (Simerville, Maxted,

Hasil laboratorium kimia urinalisis pasien ISK

Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Diagram diatas menunjukkan bahwa dari 59 kasus ISK

(74,58%) yang hasil urinalisisnya mengandung leukosit,

engandung nitrit, 49 kasus (83,05%) mengandung protein,

mengandung glukosa, 27 kasus (46%) mengandung keton,

engandung urobilinogen, 14 kasus (23,73%) mengandung

53 kasus (89,83%) mengandung eritrosit.

Pemeriksaan kimia urine dilakukan dengan pemakaian

ng meliputi pemeriksaan leukosit, nitrit, protein, glukosa,

Maxted, dan Pahira

pasien ISK di Instalasi

kasus ISK terdapat 44

leukosit, 18 kasus

engandung protein, 9 kasus

mengandung keton, 3 kasus

gandung bilirubin,

pemakaian reagen

protein, glukosa, keton,

urobilinogen, bilirubin,

adanya eritrosit dalam

saluran kemih atau

2005). Protein dapat m

adanya penyakit

bermakna, karena

untuk mendeteksi

Untuk memastikan

kemudian diperiksakan

dan Taylor, 2001).

Gambar 6.

Instalasi Raw

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%

urobilinogen, bilirubin, dan eritrosit. Pada kondisi normal tidak

eritrosit dalam urine, jika ada mungkin disebabkan oleh

kemih atau pada wanita yang sedang menstruasi (Simerville

Protein dapat mengindikasikan urine yang terkontaminasi,

penyakit ginjal. Hasil tes yang positif sementara biasan

bermakna, karena adanya sejumlah kecil albumin dan globulin di

mendeteksi jumlah protein yang lebih besar diperlukan

memastikan kemungkinan infeksi, harus diambil urine

diperiksakan ke laboratorium untuk dianalisis (bila perlu)

Taylor, 2001).

. Hasil laboratorium mikroskopis urinalisis pasien

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

normal tidak ditemukan

disebabkan oleh pendarahan

(Simerville et al.,

terkontaminasi, infeksi, atau

sementara biasanya tidak

dan globulin di dalam urine;

diperlukan urine pagi.

diambil urine tengah,

(bila perlu) (Johnson

Berdasarkan diagram diatas memperlihatkan bahwa dari hasil

urinalisis 59 kasus ISK terdapat 52 kasus (88,13%) mengandung sedimen

eritrosit, 54 kasus (91,52%) mengandung sedimen leukosit, 45 kasus

(76,27%) mengandung sedimen ep. squamus, 2 kasus (3,39%) mengandung

sedimen ep. transisional, 10 kasus (17%) mengandung sedimen ep. bulat, 13

kasus (22,03%) mengandung silinder hyline, 38 kasus (64,41%) mengandung

silinder granulated, 7 kasus (11,86%) mengandung silinder lekosit, 55 kasus

(93,22%) urinenya mengandung bakteri, 39 kasus (66,10%) urinenya

mengandung kristal, dan 5 kasus (8,47%) urinenya mengandung jamur.

Pemeriksaan mikroskopis merupakan pemeriksaan sedimen urine yang

penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih

serta berat ringannya penyakit. Bakteri pada penderita ISK ditemukan 100.000

colony forming unit (CFU) per ml sedangkan untuk gejala ISK ditemukan

100 colony forming unit (CFU) per ml (Simerville et al.,2005).

5. Profil pengobatan antimikrobial yang digunakan pada pasien ISK

di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Pasien ISK biasanya diberi antimikrobial empirik sebelum diketahui

hasil kultur dan tes sensitivitas, setelah hasil kultur dan tes sensitivitas

diketahui maka perlu dilakukan penggantian antimikrobial yang sesuai dengan

hasil kultur dan tes sensitivitas.

a. Golongan

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 20

Gambar 7. Golongan

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 201

Berdasarkan

banyak digunakan

tes sensitivitas, dan

tahun 2011 adalah

golongan antibiotika lainn

Golongan sefalos

hal ini dikarenakan

diekskresikan terutama

urine sehingga dapat digunakan untuk m

2% 11% 6% 4%

4%

Golongan antimikrobial yang digunakan pada pasien

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

. Golongan antimikrobial yang digunakan pada pasien

Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

Berdasarkan diagram diatas dapat dilihat antimikrobial

digunakan untuk pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan

sensitivitas, dan urinalisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

2011 adalah golongan sefalosporin yaitu 52 antimikrobial

antibiotika lainnya yaitu 15 antimikrobial (14%).

Golongan sefalosporin paling banyak diberikan yaitu 52 antim

dikarenakan antimikrobial golongan sefalosporin merupakan

diekskresikan terutama pada filtrasi glomerulus dan sekresi tubulus

ingga dapat digunakan untuk mengobati ISK (Jawetz, et al.

10%

49% 14%

Penicillin Sefalosporin Beta laktam lainnya Kuinolon Aminoglikosida Sulfonamida Antimikotika Antibiotika lainnya

pasien ISK di

pada pasien ISK di

antimikrobial yang paling

pemeriksaan kultur,

RSUD Dr. Moewardi

antimikrobial (49%) dan

yaitu 52 antimikrobial,

merupakan obat yang

sekresi tubulus ke dalam

et al., 2004).

Beta laktam lainnya

b. Jenis antimikrobial yang digunakan pada pasien ISK di Instalasi

Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011

1) Golongan penicillin

Antimikrobial golongan penicillin yang digunakan pada pasien ISK

yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis sebesar

11 antimikrobial (10,38%). Penggunaan antimikrobial golongan ini

kemungkinan karena harganya yang relatif murah daripada antibiotika yang

lain, tetapi juga paling banyak yang sudah menjadi resisten sehingga

pemilihannya harus berhati-hati dan harus dipertimbangkan pula sifat

resistensi kuman terhadap obat golongan ini. Golongan penicillin yang

digunakan untuk pengobatan pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan

kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011 antara lain amoxicillin 2 antimikrobial, ampicillin 8

antimikrobial, dan amoxicillin clavulanic acid 1 antimikrobial.

Tabel VI. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan penicillin yang

digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Persentase (%)

1. Amoxicillin 2 antimikrobial 18,18

2. Ampicillin 8 antimikrobial 72,73

3. Amoxicillin clavulanic acid 1 antimikrobial 9,09

Jumlah 11 antimikrobial 100

Golongan penicillin yang paling banyak digunakan adalah ampicillin

sebanyak 8 antimikrobial (72,73%). Ampicillin merupakan prototipe

golongan aminopenisilin. Ampicillin diabsorpsi baik setelah pemberian oral.

Asupan makanan sebelum konsumsi ampicillin mengurangi absorpsinya.

Sebagian infeksi saluran kemih tanpa komplikasi disebabkan oleh

Enterobacteriaceae dan E. coli adalah spesies yang paling umum; ampisilin

sering menjadi obat yang efektif, walaupun resistensinya meningkat. Infeksi

saluran kemih akibat enterokokus dapat diobati secara efektif dengan

ampisillin tunggal (Brunton et al., 2008). Ampicillin diekskresikan dalam

urine dan empedu oleh karena itu cocok untuk pengobatan infeksi saluran

kemih.

2) Golongan sefalosporin

Antimikrobial golongan sefalosporin merupakan antimikrobial

terbanyak yang diberikan untuk pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan

kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis yaitu sebesar 52 antimikrobial (49,06%).

Sefalosporin dihasilkan dari asam 7-aminosefalosporanat dengan adisi pada

rantai samping yang berbeda. Sefalosporin dan sefamisin menghambat

sintesis dinding sel bakteri dengan cara yang sama seperti penicillin (Brunton

et al., 2008). Antimikrobial ini yang digunakan antara lain cefixime 2

antimikrobial, cefotaxime 9 antimikrobial, ceftazidime 3 antimikrobial, dan

ceftriaxone 38 antimikrobial.

Tabel VII. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan sefalosporin yang

digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Presentase (%)

1. Cefixime 2 antimikrobial 3,85

2. Cefotaxime 9 antimikrobial 17,30

3. Ceftazidime 3 antimikrobial 5,77

4. Ceftriaxone 38 antimikrobial 73,08

Jumlah 52 antimikrobial 100

Golongan sefalosporin yang paling banyak digunakan adalah

ceftriaxone yaitu sebanyak 38 antimikrobial (73,08%). Ceftriaxone

mempunyai aktivitas yang sangat mirip dengan ceftizoksim dan cefotaxime,

tetapi t

1/2

nya 8 jam. Dosis tunggal ceftriaxone (125-250 mg) efektif untuk

terapi gonorea ureter, serviks, rektal, atau faringeal, termasuk mikroorganisme

penghasil penisilinase (Brunton et al., 2008). Golongan sefalosporin yang

digunakan pada kasus ini terdiri dari sefalosporin generasi III yaitu cefixime,

cefotaxime, ceftazidime, dan ceftriaxone (Tjay dan Rahardja, 2007).

3) Golongan beta laktam lainnya

Antimikrobial golongan beta laktam lainnya yang digunakan untuk

pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes sensitivitas, dan

urinalisis sebanyak 2 antimikrobial (1,89%), yang terdiri dari meropenem.

Tabel VIII. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan beta laktam lainnya

yang digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Persentase (%)

1. Meropenem 2 antimikrobial 100

Jumlah 2 antimikrobial 100

Golongan beta laktam lainnya yang paling banyak digunakan adalah

meropenem yaitu sebanyak 2 antimikrobial (100%). Meropenem adalah suatu

derivat tienamisin yang tidak membutuhkan pemberian bersama silastatin

karena tidak sensitif terhadap dipeptidase ginjal. Toksisitas dan efikasi

klinisnya mirip dengan imipenem, kecuali bahwa meropenem lebih kecil

menyebabkan seizure(Brunton et al., 2008).

4) Golongan kuinolon

Antimikrobial golongan kuinolon yang digunakan untuk pengobatan

pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes sensitivitas, dan

urinalisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011 sebanyak

12 antimikrobial (11,32%) yang terdiri dari ciprofloxacin 11 antimikrobial

dan levofloxacin 1 antimikrobial.

Tabel IX. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan kuinolon yang

digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Persentase (%)

1. Ciprofloxacin 11 antimikrobial 91,67

2. Levofloxacin 1 antimikrobial 8,33

Golongan kuinolon yang paling banyak digunakan adalah

ciprofloxacin sebanyak 11 antimikrobial (91,67%). Ciprofloxacin adalah

derivat siklopropil dari kelompok fluorkuinolon, ini berkhasiat lebih luas dan

kuat daripada naladiksinat yang berkhasiat bakterisid terhadap kuman gram

negatif termasuk E.coli, Proteus, dan Klebsiella dan pipemidinat yang

memiliki spektrum kerja lebih luas dengan efek bakterisid terhadap kuman

yang sedang membelah 2 kali lebih kuat (Tjay dan Rahardja, 2007).

5) Golongan aminoglikosida

Aminoglikosida adalah terapi lini pertama untuk sejumlah terbatas

infeksi yang sangat spesifik dan sering terlihat jelas seperti pes, tularemia, dan

tuberkulosis; juga sering digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan

bakteri gram negatif aerob. Aminoglikosida bersifat bakterisida (Brunton et

al., 2008). Obat ini mempunyai indeks terapi sempit, dengan toksisitas serius

pada ginjal dan pendengaran, khususnya pada pasien anak dan usia lanjut

(Menteri Kesehatan RI, 2011). Penggunaan antimikrobial golongan

aminoglikosida untuk pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes

sensitivitas, dan urinalisis sebanyak 6 antimikrobial (5,66%), terdiri dari

amikacin sebanyak 2 antimikrobial dan gentamicin 4 antimikrobial.

Tabel X. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan aminoglikosida yang

digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Persentase (%)

1. Amikacin 2 antimikrobial 33,33

2. Gentamicin 4 antimikrobial 66,67

Jumlah 6 antimikrobial 100

Golongan aminoglikosida yang terbanyak digunakan adalah

gentamicin sebanyak 4 antimikrobial. Gentamicin adalah obat penting untuk

pengobatan banyak infeksi basil gram negatif yang serius dan biasanya

aminoglikosida sebagai pilihan pertama karena biayanya rendah dan

aktivitasnya dapat diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap

bakteri aerob gram negatif yang paling resisten. Gentamicin diberikan secara

parenteral, oftalmik, dan topikal (Brunton et al., 2008).

6) Golongan sulfonamida

Penggunaan antimikrobial golongan sulfonamida untuk pasien ISK

yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis

sebanyak 4 antimikrobial (3,77%), yang hanya terdiri dari cotrimoxazol yang

merupakan kombinasi dari sulfametoxazol & trimetoprim.

Tabel XI. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan sulfonamida yang

digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Persentase

(%)

1. Kombinasi

sulfametoxazol+trimetoprim

(Cotrimoxazol)

4 antimikrobial 100

Jumlah 4 antimikrobial 100

Golongan sulfonamida yang digunakan pada kasus ISK ini hanya

cotrimoxazol sebanyak 4 antimikrobial (100%). Spektrum antibakteri

trimetoprim mirip dengan sulfametoxazol. Sebagian besar mikroorganime

gram negatif dan gram positif sensitif terhadap trimetoprim, tetapi ada variasi

regional yang signifikan dalam kerentanan Enterobacteriaceae terhadap

trimetoprim karena penyebaran resistensi. Terapi infeksi saluran kemih

bagian bawah yang tidak komplikasi dengan trimetoprim-sulfametoxazol

sering sangat efektif untuk bakteri yang sensitif, biasanya minimal selama 3

hari. Kombinasi ini berguna khususnya pada infeksi kronis dan kambuhan

pada saluran kemih. Trimetoprim juga ditemukan dalam konsentrasi

terapeutik pada sekresi prostatik, dan trimetoprim-sulfametoxazol sering

efektif untuk prostatitis bakteri (Brunton et al., 2008).

7) Golongan antimikotika

Golongan antimikotika adalah obat-obat yang berdaya

menghambatkan pertumbuhan atau mematikan jamur yang menyerang

manusia. Antimikotika yang digunakan sebanyak 4 antimikrobial (3,77%),

terdiri dari ketokonazol 2 antimikrobial dan nystatin 2 antimikrobial.

Tabel XII. Jenis dan jumlah antimikrobial golongan antimikotika yang

digunakan untuk pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi tahun 2011

No. Antimikrobial Jumlah Persentase (%)

1. Ketokonazol 2 antimikrobial 50

2. Nystatin 2 antimikrobial 50

Golongan antimikotika yang paling banyak digunakan adalah

ketokonazol dan nystatin masing-masing sebanyak 2 antimikrobial.

Ketokonazol merupakan fungistatikum imidazol pertama yang digunakan

secara per oral. Obat ini mempunyai spektrum kerja mirip dengan mikonazol

dan meliputi banyak fungi patogen (ragi, dermatofit, termasuk Pityrosporum

ovale) (Tjay dan Rahardja, 2007).

Nistatin adalah makrolida tetraena yang secara struktur mirip dengan

amfoterisin B dan memiliki mekanisme kerja yang sama. Nistatin tidak

diabsorpsi melalui saluran GI, kulit, dan vagina. Nistatin hanya digunakan

untuk kandidiasis dan tersedia dalam sediaan untuk penggunaan kutan,

vagina, oral untuk tujuan ini (Brunton et al., 2008).

8) Golongan antimikrobial lainnya

Golongan antimikrobial lainnya yang digunakan untuk pasien ISK

Dokumen terkait