BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Profil pasien ISK berdasarkan data pemeriksaan kultur, tes
tahun 2011
Pasien dengan diagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap
RSUD Dr. Moewardi tahun 2011 berjumlah 313 kasus, tetapi yang memiliki
data pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas hanya 103 kasus, kemudian yang
memiliki data pemeriksaan kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis hanya 59
pasien sedangkan sisanya tidak mempunyai data uji urinalisis. Dari 59 pasien
yang tercantum data pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas, 25 pasien
diketahui hasil kultur yang dilakukan tidak tumbuh sehingga tes sensitivitas
tidak dapat dilakukan.
1. Profil karakteristik pasien ISK berdasarkan jenis kelamin dan
umur di instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Profil karakteristik pasien ISK meliputi jenis kelamin dan umur.
Penggolongan jenis kelamin ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan
jumlah pasien perempuan dan pasien laki-laki yang menderita ISK karena
pada penderita ISK biasanya lebih sering terjadi pada perempuan
dibandingkan dengan laki-laki.
Tabel II. Profil
Instalasi Rawat Inap RS
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Dari data yang diperoleh
perempuan dan 23
kalamin pasien ISK
dan urinalisis dapat dilihat di
Gambar 2
Dari gambar
terkena ISK daripada
bahwa dari data ya
perempuan dan laki
Wirawan (2005)
Profil karakteristik pasien ISK berdasarkan jenis
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Jumlah Persentase (%)
23 pasien 38,98
36 pasien 61,02
59 pasien 100
data yang diperoleh terdapat 36 pasien (61,02%) berjenis kelami
dan 23 pasien (38,98%) berjenis kelamin laki-laki. Distribusi
pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan kultur, tes
dapat dilihat di diagram 1 berikut.
Gambar 2. Distribusi pasien ISK berdasarkan jenis kelamin
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa perempuan lebih
ISK daripada laki-laki. Hasil penelitian Wirawan (2005
data yang diteliti sebanyak 67 pasien (68,36%) berjenis
dan laki-laki sebanyak 31 pasien (31,63%). Jadi, pada
(2005) juga menunjukkan bahwa jumlah pasien perempuan
61% 39% Perempuan
Laki-jenis kelamin di
Persentase (%)
erjenis kelamin
laki. Distribusi jenis
kultur, tes sensitivitas,
berdasarkan jenis kelamin
perempuan lebih banyak
(2005) didapatkan
(68,36%) berjenis kelamin
Jadi, pada penelitian
pasien perempuan lebih
Perempuan -laki
banyak terkena ISK dibandingkan pasien laki-laki. Pasien perempuan lebih
sering terkena ISK berulang dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok
kurang dari 3 episode dalam setahun dan kelompok lebih dari 3 episode dalam
setahun (Dipiro et al., 2005), dengan demikian perlu dilakukannya tes
laboratorium kultur dan tes sensitivitas. Penggolongan berdasarkan umur
pasien ISK yang memiliki data hasil kultur dan tes sensitivitas dapat dilihat
dalam tabel berikut.
Tabel III. Profil karakteristik pasien ISK berdasarkan umur di Instalasi
Rawat Inap Rumah Sakit Dr. Moewardi tahun 2011
Penggolongan umur Jumlah kasus Persentase
(%)
Umur <1 tahun 2 pasien 3,39
Umur 1-4 tahun 4 pasien 6,78
Umur 5-14 tahun 7 pasien 11,86
Umur 14-24 tahun 6 pasien 10,17
Umur 25-65 tahun 26 pasien 44,07
Umur >65 tahun 14 pasien 23,73
Total 59 pasien 100
Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah pasien ISK
yang memiliki data hasil kultur, tes sensitivitas, dan urinalisis paling banyak
yaitu pasien dengan golongan umur 25-65 tahun yaitu 26 pasien (44,07%)
dan golongan umur >65 tahun yaitu 14 pasien (23,73%). Hasil penelitian
Yudasmoro (2008) mengenai Evaluasi Kesesuaian Pemilihan Antibiotika
Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Hasil Kultur dan Tes
Sensitivitas Dengan Parameter Angka Leukosit Urin di Instalasi Rawat Inap
Rumah Sakit Panti Rapih Periode Januari-Juni 2006. Pasien dengan kelompok
umur 1-10 tahun dan 51-60 tahun memiliki jumlah pasien ISK yang memiliki
data hasil kultur dan tes sensitivitas paling banyak yaitu 2 pasien, dengan
demikian dapat diketahui bahwa pada tiap rumah sakit memiliki golongan
umur yang berbeda-beda pada pasien ISK.
Pada usia produktif kejadian ISK meningkat karena adanya
peningkatan aktivitas seksual. Pada usia tua selisih kejadian infeksi bakteri
pada laki-laki dan perempuan berubah pesat dan diperkirakan sama pada
masing-masing orang tua di atas 65 tahun. Faktor risiko ISK meningkat secara
mendasar pada usia dini. Penyakit ini meningkat lebih jauh pada lansia yang
dirawat di rumah atau di rumah sakit. Peningkatan ini kemungkinan
berhubungan dengan beberapa faktor termasuk obstruksi dari hipertropi
prostat pada laki-laki, berhubungan dengan saluran pembuangan pada
perempuan (Coyle dan Prince, 2008).
2. Profil hasil kultur di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi
tahun 2011
Kultur urine merupakan bahan yang paling penting untuk menangani
infeksi saluran kemih. Penilaian yang dilakukan dalam kultur urine meliputi
jenis kuman, kualitas koloni, dan tes sensitivitas. Pada penelitian ini, penilaian
hasil kultur dan tes sensitivitas meliputi jenis kuman, angka kuman, hasil tes
sensitivitas antimikrobial
laboratorium mikrobiologi RS
Gambar 3. Diagram
di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moeward
Berdasarkan
golongan bakteri
dan 7% kuman ya
demikian jumlah golongan bakteri
kultur kuman pasien
tumbuh pada satu
dua atau tiga jenis
disajikan dalam tabel di bawah ini.
41%
antimikrobial, serta daftar cakram antimikrobial yang
laboratorium mikrobiologi RSUD Dr. Moewardi tahun 2011.
. Diagram golongan bakteri hasil kultur urine pada
Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Berdasarkan diagram di atas, ditunjukkan sebanyak 52%
bakteri gram negatif, 41% diketahui kultur kuman tidak
kuman yang tumbuh termasuk golongan bakteri gram positif,
demikian jumlah golongan bakteri yang paling banyak pada hasil
kuman pasien ISK adalah golongan bakteri gram negatif.
pada satu pasien bisa tidak hanya satu jenis bakteri, melainkan
tiga jenis bakteri. Jenis kuman yang tumbuh pada 59
n dalam tabel di bawah ini.
7% 52% 41% Gram positif Gram negatif Tidak tumbuh
yang diujikan di
urine pada pasien ISK
sebanyak 52% termasuk
kuman tidak tumbuh,
gram positif, dengan
yak pada hasil pemeriksaan
negatif. Kuman yang
bakteri, melainkan bisa
pada 59 pasien ISK
Gram positif Gram negatif Tidak tumbuh
Tabel IV. Tabel hasil pemeriksaan kultur urine di Instalasi Rawat Inap
RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
No Jenis kuman Golongan kuman Jumlah Persentase
(%)
1 Proteus mirabilis Gram negatif batang 1 2,78
2 Enterobacter cloacae Gram negatif batang 4 11,1
3 Escherichia coli Gram negatif batang 17 47,2
4 Klebsiella sp. Gram negatif batang 1 2,78
5 Providencia rettgeri Gram negatif batang 1 2,78
6 Klebsiella oxytoca Gram negatif batang 1 2,78
7 Enterobacter aerogenes Gram negatif batang 1 2,78
8 Enterococcus faecalis Gram positif kokus 1 2,78
9 Staphylococcus
haemolyticus
Gram positif kokus 1 2,78
10 Acinetobacter baumannii
complex
Gram negatif batang 2 5,56
11 Morganella morganii ssp
morganii
Gram negatif batang 1 2,78
12 Staphylococcus aureus Gram positif kokus 1 2,78
13 Pseudomonas aeruginosa Gram negatif batang 1 2,78
14 Burkholderia cepacia Gram negatif batang 1 2,78
15 Staphylococcus coagulase Gram positif kokus 1 2,78
16 Pseudomonas sp. Gram negatif batang 1 2,78
Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa jenis kuman pada
pasien ISK paling banyak adalah Escherichia coli yaitu 47,2% dan
Enterobacter cloacae yaitu 11,1%. Hasil penelitian Samirah et al. (2006)
memperlihatkan bahwa kuman yang terbanyak ditemukan pada pasien ISK
ialah Escherichia coli yaitu 39,4% dan di urutan kedua terbanyak ialah
Klebsiella pneumoniae yaitu 26,3%. Biasanya infeksi saluran kemih
disebabkan oleh kuman gram negatif yang berasal dari saluran intestinal.
Escherichia coli merupakan kuman penyebab ISK yang paling banyak
dijumpai yaitu sekitar 75-90% dan Staphylococcus saprophyticus sekitar
5-20%, sedangkan untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi biasanya
disebabkan oleh mikroorganisme tunggal (Fish, 2009).
3. Profil angka kuman di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi
tahun 2011
Angka kuman yang diperoleh dari hasil pemeriksaan kultur dapat
digunakan untuk menentukan apakah pasien memang benar mengalami ISK
atau tidak. Hasil angka kuman dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel V. Profil angka kuman pasien ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD
Dr. Moewardi tahun 2011
Angka kuman Jumlah kasus
(n=59)
Persentase (%)
≥ 10
5CFU/ml 59 100%
10
5CFU/ml 0 0%
≤ 10
5CFU/ml 0 0%
Data diatas menunjukkan bahwa angka kuman pada pasien ISK yang
lebih dari 10
5CFU/ml adalah sebanyak 59 kasus (100%). Pada penelitian
Samirah et al. (2006) hasil yang diperoleh dari kultur, kuman yang tumbuh
adalah 159 (72,3%) dengan 60 (37,7%) merupakan kuman pencemaran dan 99
(62,3%) didiagnosis sebagai ISK, sedangkan yang tidak ada pertumbuhan 61
(27,7%) dari jumlah sampel sebanyak 220 sampel. Pada penderita yang
didiagnosis ISK (jumlah koloni ≥ 10
5CFU/ml air kemih). Umumnya
seseorang dianggap menderita ISK apabila terdapat lebih dari 100.000 kuman
dalam 1 mL urinenya (Tjay dan Rahardja, 2007). Dikatakan bakteriuria
bermakna bila ditemukan bakteri patogen lebih atau sama dengan 100.000 per
ml air kemih (urine) porsi tengah (UPT). Istilah bakteriuria lebih bermakna
dipakai untuk membedakan antara bakteri yang benar-benar berkembang biak
di dalam air kemih bakteri yang merupakan cemaran. Bakteri cemaran
biasanya berada dalam jumlah antara 1.000 sampai dengan 100.000 koloni per
ml UPT (Samirah et al.,2006).
4. Profil hasil
ISK di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moeward
Gambar 4. Hasil
Instalasi Raw
Diagram diatas
kasus (100%) yang
jernih. Dalam pemeriksaan
kuning muda dan kuning tu
seperti urochrom,
menyebabkan warna
urine yaitu: suplemen
beberapa macam un
keruh, atau sangat
0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 100.00% 120.00%
hasil laboratorium urinalisis yang dilakukan
di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Hasil laboratorium makroskopis urinalisis pasien
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Diagram diatas menunjukkan bahwa dari 59 kasus ISK
(100%) yang hasil urinalisisnya berwarna dan 42 kasus
pemeriksaan makroskopik, warna normal urine berkisar
kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam z
urochrom, urobilin, dan porphyrin. Urobilin dalam jumlah
menyebabkan warna coklat. Ada beberapa obat yang mempengaruhi
itu: suplemen zat besi, klorokuin, fenitoin, dan riboflavin
macam untuk menyatakan kejernihan urine yaitu jernih,
sangat keruh. Urine segar yang telah keruh dapat disebabkan
Warna Kejernihan
dilakukan pada pasien
i tahun 2011
pasien ISK di
kasus ISK terdapat 59
kasus (71%) tidak
berkisar antara
h beberapa macam zat warna
dalam jumlah besar
mempengaruhi warna
dan riboflavin. Ada
jernih, agak keruh,
dapat disebabkan oleh
bakteri, jamur, sel
2005).
Gambar 5. Hasil
Rawat Inap RSUD Dr
Diagram diatas
kasus (74,58%) ya
(30,51%) mengandung
(15,25%) mengandung
(5,08%) mengandung
53 kasus (89,83%) mengandung eritrosit
Pemeriksaan
pita/strip yang meliputi
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%
amur, sel-sel, mukus dan sperma (Simerville, Maxted,
Hasil laboratorium kimia urinalisis pasien ISK
Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Diagram diatas menunjukkan bahwa dari 59 kasus ISK
(74,58%) yang hasil urinalisisnya mengandung leukosit,
engandung nitrit, 49 kasus (83,05%) mengandung protein,
mengandung glukosa, 27 kasus (46%) mengandung keton,
engandung urobilinogen, 14 kasus (23,73%) mengandung
53 kasus (89,83%) mengandung eritrosit.
Pemeriksaan kimia urine dilakukan dengan pemakaian
ng meliputi pemeriksaan leukosit, nitrit, protein, glukosa,
Maxted, dan Pahira
pasien ISK di Instalasi
kasus ISK terdapat 44
leukosit, 18 kasus
engandung protein, 9 kasus
mengandung keton, 3 kasus
gandung bilirubin,
pemakaian reagen
protein, glukosa, keton,
urobilinogen, bilirubin,
adanya eritrosit dalam
saluran kemih atau
2005). Protein dapat m
adanya penyakit
bermakna, karena
untuk mendeteksi
Untuk memastikan
kemudian diperiksakan
dan Taylor, 2001).
Gambar 6.
Instalasi Raw
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%urobilinogen, bilirubin, dan eritrosit. Pada kondisi normal tidak
eritrosit dalam urine, jika ada mungkin disebabkan oleh
kemih atau pada wanita yang sedang menstruasi (Simerville
Protein dapat mengindikasikan urine yang terkontaminasi,
penyakit ginjal. Hasil tes yang positif sementara biasan
bermakna, karena adanya sejumlah kecil albumin dan globulin di
mendeteksi jumlah protein yang lebih besar diperlukan
memastikan kemungkinan infeksi, harus diambil urine
diperiksakan ke laboratorium untuk dianalisis (bila perlu)
Taylor, 2001).
. Hasil laboratorium mikroskopis urinalisis pasien
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
normal tidak ditemukan
disebabkan oleh pendarahan
(Simerville et al.,
terkontaminasi, infeksi, atau
sementara biasanya tidak
dan globulin di dalam urine;
diperlukan urine pagi.
diambil urine tengah,
(bila perlu) (Johnson
Berdasarkan diagram diatas memperlihatkan bahwa dari hasil
urinalisis 59 kasus ISK terdapat 52 kasus (88,13%) mengandung sedimen
eritrosit, 54 kasus (91,52%) mengandung sedimen leukosit, 45 kasus
(76,27%) mengandung sedimen ep. squamus, 2 kasus (3,39%) mengandung
sedimen ep. transisional, 10 kasus (17%) mengandung sedimen ep. bulat, 13
kasus (22,03%) mengandung silinder hyline, 38 kasus (64,41%) mengandung
silinder granulated, 7 kasus (11,86%) mengandung silinder lekosit, 55 kasus
(93,22%) urinenya mengandung bakteri, 39 kasus (66,10%) urinenya
mengandung kristal, dan 5 kasus (8,47%) urinenya mengandung jamur.
Pemeriksaan mikroskopis merupakan pemeriksaan sedimen urine yang
penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih
serta berat ringannya penyakit. Bakteri pada penderita ISK ditemukan 100.000
colony forming unit (CFU) per ml sedangkan untuk gejala ISK ditemukan
100 colony forming unit (CFU) per ml (Simerville et al.,2005).
5. Profil pengobatan antimikrobial yang digunakan pada pasien ISK
di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Pasien ISK biasanya diberi antimikrobial empirik sebelum diketahui
hasil kultur dan tes sensitivitas, setelah hasil kultur dan tes sensitivitas
diketahui maka perlu dilakukan penggantian antimikrobial yang sesuai dengan
hasil kultur dan tes sensitivitas.
a. Golongan
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 20
Gambar 7. Golongan
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 201
Berdasarkan
banyak digunakan
tes sensitivitas, dan
tahun 2011 adalah
golongan antibiotika lainn
Golongan sefalos
hal ini dikarenakan
diekskresikan terutama
urine sehingga dapat digunakan untuk m
2% 11% 6% 4%
4%
Golongan antimikrobial yang digunakan pada pasien
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
. Golongan antimikrobial yang digunakan pada pasien
Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi tahun 2011
Berdasarkan diagram diatas dapat dilihat antimikrobial
digunakan untuk pasien ISK yang memiliki data pemeriksaan
sensitivitas, dan urinalisis di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.
2011 adalah golongan sefalosporin yaitu 52 antimikrobial
antibiotika lainnya yaitu 15 antimikrobial (14%).
Golongan sefalosporin paling banyak diberikan yaitu 52 antim
dikarenakan antimikrobial golongan sefalosporin merupakan
diekskresikan terutama pada filtrasi glomerulus dan sekresi tubulus
ingga dapat digunakan untuk mengobati ISK (Jawetz, et al.
10%
49% 14%
Penicillin Sefalosporin Beta laktam lainnya Kuinolon Aminoglikosida Sulfonamida Antimikotika Antibiotika lainnya
pasien ISK di
pada pasien ISK di
antimikrobial yang paling
pemeriksaan kultur,
RSUD Dr. Moewardi
antimikrobial (49%) dan
yaitu 52 antimikrobial,
merupakan obat yang
sekresi tubulus ke dalam
et al., 2004).
Beta laktam lainnya