DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.2 Profil Pasien Penderita Kanker Payudara dikota Medan
4.2.1 IMFORMAN 1
Nama : Zuraidah
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Sei Sikambing
Umur : 46 thn
Etnis : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga Penghasilan : -
Pendidikan Terakhir : SMA
Anak ke : 1 dari 3 Bersaudara Zuraidah : Seorang Ibu Yang Gesit
Ketika pertama sekali ingin menanyakan tentang proses pengobatan kanker payudara ibu Zuraidah menolak, alasannya proses pengobatannya tidak menarik, Ibu Zuraidah sudah ke tiga kalinya ke RS ini pasca Operasi, ia bercerita mengenai pengalaman penyakitnya yang menurut ibu ini sangat lucu, ibu dari tiga anak ini mengatakan kalau ia sangat terkejut ketika ia disuruh dokter untuk operasi kerena penyakit yang dideritanya tergolong kanker jinak, berikut penuturan ibu Zuraidah, saya tidak pernah menyangka akan penyakit yang saya derita, bisa dikatakan saya hanyalah seorang ibu rumah tangga, anak saya 3 orang, anak saya yang pertama
sudah kuliah juga dek di USU, fakultas Petanian, anak saya yang kedua SMA kelas dua, dan anaknya yang ketiga masih kelas satu SMP, saya merasa anak-anak saya masih banyak yang membutuhkan biaya, kenapa saya harus menderita sakit seperti ini, tapi ya mungkin sudah kehendak yang diatas ya, harus diterima juga, saya kan tidak bisa berbuat apa-apa, ibu ini sering sekali terlihat mengeluh karena Ibu Zuraidah merupakan seorang ibu rumah tangga yang cepat menangani masalahnya sendiri, pada awalnya ibu 3 orang anak ini enggan untuk diwawancarai karena ia menganggap bahwa proses pengobatan yang ia lakukan tidak menarik dan berlangsung sangat singkat, namun bagi peneliti proses pengobatan ibu Zuraidah ini unik, berawal dari chek up yang secara tidak sengaja, pada saat itu ibu Zuraidah sebagai anak pertama diKeluarganya menjaga dan merawat ibunya yang sedang sakit di Rumah Sakit, ketika ibunya sudah mulai sembuh dan di izinkan oleh dokter pulang, sebelum pulang dokter memeriksa kondisi ibunya ibu Zuraidah, dan ia pun sambil iseng menanyakan benjolan yang ada pada payudaranya kepada dokter yang merawat ibunya pada saat itu, sebelumnya ibu Zuraidah tidak menghiraukan benjolan itu, kemudian dokter menyarankan agar ibu Zuraidah chek up lebih lanjut lagi tentang benjolan itu, setelah chek up yang kedua dokter yang sama menyarankan agar benjolan pada payudar ibu Zuraidah diangkat, mendengar itu ibu Zuraidah sangat terkejut, dan akhirnya ia pun pasrah dan menyetujui saran dokter dengan alasan agar cepat sembuh.
Proses pengobatan ibu Zuraidah sangat lah singkat karena dia juga tidak mau bertele-tele,proses pengobatannya berlangsung sekitar 2 bulan lamanya, pada awalnya ibu ini chek up dua kali, 3 hari setelah chek up ibu Zuraidah disarankan untuk operasi, saat itu juga ibu ini mengetahui penyakit kanker payudara yang
dideritanya. Ibu Zuraidah memilih pengobatan medis sebagai pengobatan yg pertama sekali karena secara kebetulan saja, artinya karena dokter yang merawat ibunya kebetulan juga mau merawat ibu Zuraidah, ia sebenarnya mempertimbangkan biaya pengobatan, karena penanganan yang tepat menurutnya secara medis, saya berobat ke dokter karena saya tidak mau bertele-tele dalam proses pengobatan, saya ingin cepat sembuh, makanya ketika dokter menyarankan operasi saya langung oke aja.tetapi ibu Zuraidah juga mengesalkan beberapa hal dari pengobatan Modern ( Medis), ia merasa tidak nyaman dengan pelayanan rumah sakit yang menurutnya tidak efisien baik dari segi waktu, bisa molor hingga satu hari, dokter ahli yang jarang di tempat, namun ia merasa itulah yang kebanyakan terjadi di rumah sakit negeri di kota medan. Saya tidak suka dengan pelayanan Rumah Sakit Negeri di kota Medan yang kebanyakan tidak Profesional, sebagai masyarakat biasa saya hanya bisa mengeluh, bagaimana tidak, sudah untuk ketiga kalinya saya kesini dari kemarin saya belum ada dapat pelayanan dan masih menunggu hingga saat ini, sebenarnya saya kesini mau konsul dengan dokter ahlinya, tapi ya seperti ini menuggu hingga berhari-hari, kalau mau cepat konsultasi lebih baik langsung ke Praktek dokternya , tapi biayanya sangat mahal, untuk orang seperti saya mungkin agak sulit untuk setiap konsul ke dokter ahli, jadi dek lebih baik adek mengkaji tentang pelayanan rumah sakit saja. Akan banyak adek dapat imformasinya.
4.2.2 IMFORMAN 2
Nama : Lisda Sagita
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl.H.M Said Gg. Yahya no.43 Kampung baru Medan
Umur : 33 thn
Etnis : Melayu
Agama : Islam
Pekerjaan : - Penghasilan : -
Pendidikan Terakhir : Sarjana Sastra Inggris
Anak ke : Tunggal
Lisda Perempuan yang Kuat
Ketika berada di ruang tunggu pasien poliklinik Rumah Sakit Adam Malik, Lisda terlihat begitu tenang dengan menunggu panggilan dari perawat di Poliklinik tersebut, pada saat itu saya datang menghampiri Lisda, dia dengan baik menyambut saya, Lisda bercerita tentang riwayat penyakitnya yang bukan hanya kanker Payudara tetapi juga penyakit yang merupakan keturunan dari keluarganya, yaitu penyakit Jiwa, penyakit ini sudah ada sejak ia smp kelas 1, dari kecil Lisda adalah anak yang yang kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya, mungkin dengan penyakit yang ia derita ia merasa berat untuk menanggungnya sendiri, ayahnya tidak pernah memperdulikannya, ibu nya yang sebagai single parent ibu lisda mempunyai kesibukan sendiri, hingga lisda pun memilih kehidupannya sendiri dengan berteman
dengan banyak orang, hingga akhirnya lisda mempunyai seorang kekasih, ia pun menjalin sebuah hubungan hingga dua tahun lamanya, ketika ingin ke jenjang yang lebih serius kekasih lisda pergi meninggalkan dia karena keluarga kekasihnya tidak menyetujui hubungan mereka karena penyakit keturunan yang Lisda punya, saya sangat terpukul pada saat itu karena ketika saya sudah mendapatkan seseorang yang dapat memahami saya dan di pergi begitu saja kepada perempuan pilihan orang tuanya, dan beberapa tahun kemudian ia merasa ada yang lain dengan payudaranya, seperti ada benjolan yang membesar dan keluar cairan yang aneh, lisda mengetahui penyakit kanker payudara yang dideritanya sejak tahun 2006, begitu ia mengetahuinya ia langsung berobat ke dokter Spesialis Tumor. lisda merupakan anak tunggal yang tinggal bersama saudaranya, kakak dari ibunya yang ia panggil uwak, beban perasaan lisda pun bertambah berat setelah kejadian setahun yang lalu, yaitu kepergian ibunya yang meninggal , sementara ayahnya tidak pernah tau tentang keadaannya, karena ayahnya juga sakit jiwa, untuk ada uwaknya yang selalu memberi ia semangat, lisda adalah perempuan yang sangat kuat menghadapi cobaan hidup yang dilaluinya, walaupun kadang-kadang penyakit yang keturunannya sering kambuh, ia tetap bisa seperti orang normal ketika sudah sembuh kembali, sementara lisda ada masa-masanya dia sehat dan ada masanya penyakit jiwanya kambuh. Perempuan lulusan sarjana Sastra Inggris dari salah satu Perguruan Tinggi di kota Medan ini pada saat diwawacarai dalam keadaan sehat mentalnya, ia dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan jelas, ia menuturkan “Ketika saya merasa sakit dan ada perubahan dengan payudara saya, pengobatan yang pertama sekali saya lakukan adalah ke praktek dokter spesialis tumor, namun untuk sekali konsul terkena
Rp.200.000 belum termasuk tebusan obatnya yang sangat mahal. akhirnya ia beralih ke pengobatan lain, kemudian keluarga lisda menyarankan berobat alternatif “Akupuntur Serumpun Bambu”, pengobatan akupuntur ini tidak terlalu mahal, untuk sekli pengobatan hanya bayar seikhlasnya saja, lisda kandang untuk pengobatan Akupuntur hanya membayar Rp 25.000, tapi ini harus dilakukan secara rutin, namun lisda sulit melakukannya karena jarak yang menurut lisda jauh dari rumah dan tentunya memakan biaya juga, berikut penuturan Lisda, saya sebenarnya suka berobat di pengobatan Akupuntur, tapi masalahnya saya dengan kondisi yang sakit seperti ini akan sering merasa kelelahan karena jauhnya tempat pengobatan yang akan ditempuh, kemudian untuk kesana juga memakan biaya yang besar,saya dapat mengeluarkan biaya hampr Rp.100.000 sudah termasuk makannya,transfortasi dan lain-lainnya, kemudian setelah itu ada teman lisda yang menyarankan untuk mencoba “pengobatan Alternatif Ceragem”, namun belum menunjukkan perkembangan yang baik untuk kanker payudara yang diderita lisda, ia merasa sakitnya semakin menjadi, hingga akhirnya tetangga lisda menyarankan untuk ke rumah sakit umum, karena penyakit Lisda yang semakin hari semakin terlihat agak parah, pernah juga lisda mendapat tawaran dari temannya untuk mengikuti pengobatan “Haryono” yang diadakan di Hotel Tiara,ungkapan Lisda “pernah juga saya ditawarkan teman saya untuk mencoba pengobatan “Haryono” di Hotel Tiara beberapa hari yang lalu,namun karena acaranya kan diadakan di Hotel untuk sekali pengobatan terkena Rp 250.000,uwak saya tidak punya uang segitu pada saat itu.” Hingga akhirnya lisda mencoba untuk pengobatan modern (medis) dengan memeriksakan kondisi kanker payudara yang dideritanya untuk penanganan
selanjutnya, karena kanker yang dideritanya sudah menyebar ke leher dan perutnya. Sudah terlihat benjolan di bagian leher Lisda. Dan ia ingin mencoba kemoterapi dulu sebelum dioperasi.
4.2.3 IMFORMAN 3
Nama : Sutiyem Tarigan
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Perumahan Milala blok 6 Medan
Umur : 47 Thn
Etnis : Batak Karo
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Anak : 3 dari 4
Sutiyem Tarigan Seorang Ibu yang Penyabar
Ibu ini dipanggil ibu pinem, ibu pinem adalah ibu yang orangnya ceria, meskipun ia sudah terkena kanker payudara selama 13 thn, dan ketika ditanya perjalanan nya untuk menyembuhkan penyakitnya, ia tidak sadar air matanya keluar,ibu pinem ini bercerita tentang keluarga yang mendukungnya pada saat-saat sulit melalui proses pengobatan, berikut penuturan ibu pinem,” saya memiliki tiga anak perempuan, yang pertama sudah menikah dan tinggal di Aceh bersama suaminya, yang kedua kuliah disini di Medan, dan yang ketiga tinggal dikampung saya bersama saudara saya, saya takut penyakit yang saya derita menurun kepada ketiga putri saya, makanya saya menyuruh mereka untuk selalu mewaspadai penyakit
seperti saya dengan menjaga makanan dan memeriksa payudara jika ada benjolan segera diperiksa,” sudah sangat banyak biaya yang dikeluarkan ibu Pinem untuk proses pengobatannya, ibu yang murah senyum ini sudah banyak mencoba berbagai jenis pengobatan, terutama pengobatan alternatif, pertama sekali berobat ia ke pengobatan tradisional, berobat dukun, sekian banyak pengobatan tradisional yang ia coba hingga ia tidak ingat lagi semuanya, sudah banyak biaya yang dikeluarkan ibu Pinem untuk pengobatan Alternatif yang ia lakukan,tapi ia ingat ketika ia pindah dan mengontrak selama 1 thn di Jakarta untuk menjalani proses pengobatan Alternatif “Gus Muh”, pengobatan ini adalah pengobatan yang paling banyak mengeluarkan biaya, pertama sekali ia berobat di Gus Muh ia panjar 4 juta, namun menurut ibu ini hasilnya minim, ia bercerita sudah 1 tahun lebih ia berobat di pengobatan Alternatif “Gus muh” bahkan ketemu dengan Gus muh secara langsung sekalipun ia tidak pernah, pernah suatu ketika ia pendarahan, banyak darah yang keluar dari penyakit kanker payudara yang diderita Ibu Pinem, hingga mengenai lantai tempat pengobatan Gus Muh, namun tidak satu pun yang dapat menangani karena banyaknya antrian pasien dibalai pengobatan tersebut, bahkan sudah banyak habis hartanya untuk pengobatan-pengobatan yang di cobanya, ia sudah menjual kerbaunya yang dikampung, ladang, hingga ia berpikir untuk mencoba pengotan lain, ia pun berobat ke Klinik Vina Estetika , kemudian oleh dokter disarankan Operasi, namun setelah operasi dokter juga menyarankan untuk kemoterapi, namun ibu pinem takut karena pengaruh dari teman-teman ibu pinem yang juga berobat kanker Payudara di Klinik Vina Estetika, hingga pada akhirnya rasa sakit itu muncul lagi, ibu pinem pun takut akhirnya ia berobat ke RS Bunda Thamrin, disini oleh
dokter ia di suruh kemoterapi, hingga saat ini ia sudah 3 kali menjalani kemoterapi, dan tidak menakutkaan seperti yang ia bayangkan, keadaan sudah mulai membaik, dokter juga menyarankan ibu pinem untuk berobat memakai askes karena sudah banyak habis biaya perobatan yang ibu pinem keluarkan selama kurang lebih 13 Thn ini. Ia pun berobat jalan dan kemoterapi di RS negeri di kota Medan dengan memakai Askes. Permasalahan yang ibu pinem rasakan sebelumnya adalah ia merasa banyak mencoba pengobatan namun tidak memberi perkembangan yang lebih baik, hingga akhirnya ia pasrah untuk dioperasi, dan ia merasa lebih membaik. Ketika ibu pinem berobat ia selalu di antar oleh suaminya tercinta dan tiga orang putrinya yang sangat menyayanginya, ibu Pinem berkata “ mereka ini lah (keluarga) harta saya yang paling berharga, mereka selalu memberi saya semangat dan cinta di saat saya jatuh dan terbaring, kalau harta materi hilang masih bisa di cari tapi kalau kasih sayang anak-anak dan suami saya sulit didapatkan, karena mereka saya bisa bertahan hingga saat ini, kalau masalah uang saya tetap bersyukur untuk bisa makan apa adanya setiap hari, dan anak-anak saya kuliah dan sekolah masih bisa dicukup-cukupkan biayanya, mereka juga tidak pernah mengeluh dengan itu semua, mereka hanya berharap saya bisa sembuh.”, ibu Pinem bercerita sambil tersenyum dan mengeluarkan air mata, ibu Pinem terkenal ramah di kalangan teman-temannya yang sesama penyakit kanker, karena orangnya terbuka dan lebih bersifat apa adanya.
4.2.4 IMFORMAN 4
Nama : Aprilianti
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jln.Kapten Sumarsono no. 81 Medan Helvetia
Umur : 22 Thn
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi
Etnis : Jawa
Anak ke : 2 dari 4 Lia Gadis yang Ceria
Lia merupakan Mahasiswi tingkat akhir di sebuah kampus di kota Medan, lia adalah anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya merupakan perempuan, tapi penyakit kanker payudara jinak ini hanya terkena kepada lia, Ayah Lia bekerja sebagai Pegawai negeri Sipil di kota Medan, lia merupakan anak kesayangan Ayahnya, lia merupakan gadis yang sangat ceria dikalangan teman-temannya dikampus, ia memiliki banyak teman dan tidak semua teman-temannya mengetahui penyakitnya, karena keceriaan lia, tidak ada yang menyangka kalau lia memiliki penyakit kanker payudara jinak, yang tinggal di Medan Helvetia ini mengetahui penyakitnya sekitar 2 tahun yang lalu, proses pengobatan yang pertama sekali ia keluti adalah pengobatan alternatif yaitu pengobatan “Akupresure” di Perumahan Graha Tanjung Sari, Setia Budi, ia mengatakan “tidak ada anggota keluarga sebelumnya yang terkena kanker Payudara, kalau untuk proses penyembuhan saya
sebenarnya lebih percaya ke Pengobatan Medis (Modern), karena Prosesnya lebih pasti, namun yang saya takutkan adalah dampak nya yang ditimbulkan dari pengobatan medis, biasanya dampaknya terhadap kesehatan lebih besar, saya takut akan ada penyakit lain lagi yang saya derita, pengobatan Alternatif lebih Alami dan biayanya juga lebih murah. Begitu juga dukungan dari keluarga Lia juga terhadap pengobatan saat ini Lia lakukan, dalam proses pengobatan tidak ada mitos yang saya percayai namun kalau pantangan lebih banyak tentunya, terutama pada makanan yang mengandung pengawet, penyedap rasa, dll. Dalam proses pengobatan tidak mengganggu kuliah saya, justru dengan begini saya semakin semangat kuliah. Pengobatan yang lebih sering saya lakukan adalah pengobatan Alternatif “Akupresur” hingga saat ini saya masih menjalaninya, mungkin alasannya ya karena biayanya yang lebih ringan dan saya mencari yang lebih natural,dukungan orang tua dan keluarga sangat kuat dalam proses pengobatan saya, seperti yang saya jalani saat ini. Saya sudah 30 kali berobat ke Alternatif Akupresur, ada kekurangan dan kelebihannya dari masing-masing jenis pengobatan pada perobatan Alternatif pelayanannya lebih bagus, biayanya yang ringan sekali perobatan totalnya hanya Rp 125.000 sementara untuk Medis minimal Rp.300.000 untuk sekali pengobatan, adapun pengobatan Alternatif yang saya jalani saat ini adalah pengobatan Alternatif yang mirip dengan Akupuntur, hanya pengobatan ini tidak memakai Jarum tetapi memakai kayu-kayu kecil yang agak kuncup, pengobatan ini juga memakai semacam tenaga dalam yang diberikan yang mengobati kepada Pasien, pengobatan Akupresur juga memiliki banyak pasien yang menderita kanker payudara, tidak hanya pasien dari kota Medan bahkan lebih banyak pasien dari luar kota Medan sehingga, mereka
mendapat imformasi pengobatan dari media cetak dan media elektronik, Akupresur sudah memiliki dua tempat pengobatan tidak hanya di setia budi tetapi sudah buka cabang di Jln. Gembira dekat Jln. Sisingamangaraja, pengobatan ini barasal dari Bandung, saya merasa nyaman dengan pengobatan Akupresur ini, disini saya sudah dekat dengan orang-orang yang mengobati, saya tidak hanya dianggap sebagai pasien tetapi sudah seperti saudara sendiri, saya sudah sangat dekat dengan mereka, saya juga sering membawa makanan kepada mereka dan mereka sering memberi saya makanan, pada saat ulang tahun saya, mereka memberi saya kado, dan saya sangat, senang.” Itu yang membuat Lia merasa betah dan berfikir lagi untuk pindah ke Pengobatan lain, karena hubungan yang baik atau interaksi yang baik dari pelayanan pengobatan kepada Pasien, Lia selalu rutin melakukan Pengobatan Terapi di Akupresur, namun untuk mengetahui perkembangan penyakitnya ia juga ke Dokter, hanya untuk memastikan kondisi kanker payudara yang di deritanya apakah membaik atau semakin parah, dan ternyata dari pengobatan terapi, kondisi penyakit Lia lebih baik, saat ini Lia dapat dikatakan hampir sembuh. Ia merasa dengan pengobatan Alternatifnya yang rutin dan kontrol ke dokter beberapa kali, ia merasa lebih efektif, tidak terlalu memakan biaya besar dan tidak terlalu berdampak pada kondisi tubuh.
4.2.5 IMFORMAN 5
Nama : Sumi fratiwi
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. Pembangunan no. 13 Medan
Umur : 22 Tahun
Etnis : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswi Anak ke : 2 dari 4
Sumi Fratiwi Gadis Yang Supel
Mahasiswi yang sedang menyusun Skripsi ini sering disapa oleh teman- temannya Tiwi, Tiwi merupakan gadis yang mudah bergaul, tiwi mempunyai banyak teman dan tiwi juga asyik diajak ngobrol, begitu penuturan teman-teman tiwi, tiwi merupakan anak kedua dari empat bersaudara, Ayahnya seorang wiraswasta ditempat Tiwi tinggal, tiwi mempunyai seorang Abang yang sudah bekerja, ibu Tiwi merupakan seorang ibu rumah tangga, Tiwi anak perempuan paling besar di keluarganya, dan Tiwi merasa sedih ketika mengetahui penyakit yang dideritanya, Ia mengetahui sakitnya sekitar 1 setengah tahun yang lalu, tiwi melakukan pengobatan Alternatif dari awal pengobatan hingga saat ini, ia belum pernah berobat medis karena pengobatan Alternatif yang saat ini ia jalani ia rasa cocok dengan kesembuhan penyakitnya, dari kecil tiwi sering sakit, dan dia selalu berobat ke pengobatan Alternatif tempat ia berobat saat ini, keluarga tiwi pun sangat mendukung
pengobatan Alternatif yang dilakukan Tiwi, tiwi juga mengatakan” tidak ada keturunan sebelumnya yang sakit kanker payudara, saya merasa sudah cocok dengan satu jenis pengobatan, jadi tidak perlu mencoba pengobatan lain lagi, ntar jadi gak sembuh-sembuh kalau banyak yang dicoba,kalau pantangan saya banyak terutama makanan seperti rempelo,terong belanda, makanan berminyak, dll, kalau mitos atau kepercayaan tidak ada, saat ini sudah 1 tahun saya berobat Alternatif dengan minum Jamu, proses pengobatan Alternatif yang saya keluti yaitu dengan cara memakai Infra merah dan Plaster ditaruh ditempat atau bagian mana yang sakit, kemudian untuk pengobatan selanjutnya ditentukan waktunya dan harus rutin berobat dan minum Jamu, dan saya merasa ada perkembangan dari sebelumnya”.
4.2.6 IMFORMAN 6
Nama : Suryati
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. Seksama no.5 B Simpang Limun Medan
Umur : 40 Thn Etnis : Jawa Agama : Islam Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan : SMEA Anak ke : 2 dari 7
Suryati Ibu yang Ramah
Suryati ibu satu Anak ini tinggal di Jln.Seksama Simpang Limun Medan, ketika dikunjungi ke rumahnya ibu ini sangat ramah menyambutnya, kegiatan sehari- hari ibu Ati adalah berjualan, ia membuka warung di rumahnya, Ibu Ati sangat serius menjawab ketika ditanya tentang Proses pengobatan yang ia lakukan selama sakit kanker Payudara, saat ini dapat dikatakan ia sudah sembuh dari penyakit itu , ibu Ati bersal dari keluarga yang besar, ibu Ati sendiri merupakan anak kedua dari 7 bersaudara, dnamun ia heran dari ketujuh saudaranya Cuma dia yang mengidap penyakit kanker dan Cuma ibu Ati sendiri yang mempunyai anak satu, Ayah ibu Ati dulunya bekerja sebagai karyawan perkebunan dan ibunya sebagai ibu rumah tangga, Ibu Ati merasa sebagai putrid kedua semasa gadisnya dulu ia termasuk anak yang sering tidak mendengar perkataan orang tua, ia mengakui kesalahannya saat ini hingga ia menyadari itu juga yang mengingatkan ibu Ati dengan penyakit yang dideritanya saat ini, ibu Ati mempunyai satu putri yang bernama Desi, Desi putri semata wayang ibu Ati sekarang sudah bekerja dan membantu keluarga, “Desi putri