PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Profil Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Dan Pondok Pesantren Sunan Drajat Pesantren Sunan Drajat
1. Profil Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah
Secara geografis Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah terletak di antara dua pusat penyebaran dan pengembangan agama. Pada sisi barat kira-kira 30 km, terdapat makam Sunan Bonang Tuban dan di sebelah timur kira-kira 5 Km, terdapat makam sunan Drajat dan kira-kira 50 km lagi ke timur, terdapat pula makam Sunan Giri di Gresik.1
Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah terletak didaerah
persawahan yang berada di desa Paciran bagian selatan bahkan hampir semua bangunan Pondok berada diatas lahan persawahan. Lokasi tersebut memang berdekatan dengan perkampungan nelayan yang menggantungkan mata pencahariannya dari hasil perikanan laut dan darat yang berjarak kurang lebih ½ Km dari jalan raya Daendles. Dari pusat kecamatan berjarak kurang lebih 1 Km dan dengan ibukota Kabupaten Lamongan melalui Laren dan Pucuk berjarak kurang lebih 55 Km dan sekitar 45 Km jika melalui Karanggeneng dan Sukodadi.
Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah sampai dengan tahun 2010 memiliki areal tanah seluas 52.425 M2 atau sekitar 5,24 Ha,
1
Departemen Agama RI, Direktori Pesantren Jilid 2, (Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dirjen Pendidikan Islam, 2007), hal. 185 dan Drs. Ihsan Ahmad Fauzan, Pondok Karangasem Muhammadiyah; Perspektif Kesejarahan dan Kelembagaan, (Lamongan, Biro Administrasi dan Lembaga Pendidikan Komputer Karangasem Muhammadiyah, 1993), hal. 5
147
dengan rincian 10 % untuk lahan pertanian atau perkebunan mangga (Tanah di dekat SDN Kandang Semangkon) dan sisanya adalah untuk bangunan Pondok yang terdiri dari tempat tinggal santri (asrama) putra dan putri, ruang belajar dan madrasah, Masjid dan Musholla, Aula, Panti Asuhan, Pusat Kesehatan Umat (RS Abd. Rahman Syamsuri), apotik, Kantor KBIH dan unit kegiatan ekonomi lainnya. Akan tetapi areal tanah tersebut, dimungkinkan akan semakin bertambah luas seiring dengan kemajuan dan perkembangan yang dicapai oleh Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah.2
Secara geografis, Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran terletak ditempat yang sangat baik – dekat area persawahan yang oleh penduduk Paciran sering disebut dengan ”Gayaran”. Di tempat tersebut para santri dapat menghirup udara yang relatif bersih karena jauh dari jalan raya Daendles. Jika suatu saat para santri mengalami problem psikologis, misalnya kejenuhan atau ingin mencari suasana baru dalam proses pembelajaran, maka mereka dapat pergi kepersawahan dan hutan lontar3 yang berada di sebelah timur Pondok Pesantren untuk sekedar menghilangkan ketegangan mental. Lebih dari itu, ia menyediakan sumber mata air yang tidak ada habisnya.
2Data Profil ponpes Karangasem KH. Drs. Abd. Hakam Mubarok, Lc. Pengasuh Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan pada tanggal 10 Mei 2015 pukul 09.00 di Kantor Yayasan Pondok Pesantren Karangasem.
3
Lontar adalah sejenis pohon Palm atau Sagu yang darinya dapat dihasilkan air nira sebagai bahan gula merah, minuman segar ”legen” dan gula cair atau juroh. Juga menghasilkan buah siwalan sebagai bahan baku minuman dawet. Daun lontar biasa digunakan sebagai bahan baku ketupat dan jumbrek (Peneliti).
148
Hal tersebut terasa sangat berbeda dengan wilayah Paciran bagian utara yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Udara yang demikian kencang dan terkadang kering memberikan imbas pada perilaku masyarakat yang lebih keras baik dalam berbicara maupun perilaku sehari-hari. Keadaan tersebut barangkali kurang cocok kalau didirikan lembaga pendidikan semacam Pondok Pesantren, mengingat tujuan utama pendirian Pondok Pesantren adalah menamamkan sikap kehalusan budi baik dalam bertutur maupun bertindak. Kekerasan kultural yang diakibatkan oleh faktor geografis juga dapat mengganggu suasana belajar santri.
Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Abd Rahman pada tanggal 18 Oktober 1948, merupakan pengembangan dari berdirinya musholla kecil yang dikenal dengan langgar duwur. Musholla teersebut didirikan oleh KH Idris (kakek KH. Abd. Rahman Syamsuri) pada tahun 1930. Langgar duwur atau langgar panggung sampai saat ini masih terawat rapi dan masih tetap digunakan sebagai kegiatan keagamaan. Pada tahun 1939 Kyai Idris meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji di Mekkah. Sepeninggal KH Idris pengelolaan langgar panggung dilanjutkan oleh KH Ridwan Sarqowi dan KH Syamsuri. Pada tahun 1944, ketika Abd. Rahman masih belajar di Kedung Lo Bandar Kidul Kediri, Jawa Timur, tiba-tiba beliau diperintahkan pulang oleh Kyai Syamsuri (ayah KH. Abd. Rahman
149
Syamsuri) dan selanjutnya diserahi tugas mengelola mushola Al Idris dan mengajar ilmu keagamaan di Paciran.
Pondok Pesantren yang baru didirikan oleh K.H. Abd. Rahman tersebut diberi nama ”Karangasem” – lengkapnya ”Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah (Al Ma’hadul Islami Karangasem Muhammadiyah). Asal usul nama ”Karangasem” menjadi berbincangan yang cukup serius berkaitan dengan asal usul kata dan siapa yang pertama kali memberi nama tersebut. Salah satu riwayat menjelaskan bahwa nama ”Karangasem” berasal dari dua kata yaitu ”karang” dan ”asem”. Karang adalah batu yang biasa ditemukan didaerah pesisir pantai, sedangkan Asam (asem) adalah sebuah pohon yang buahnya berasa asam. Gabungan dari dua kata tersebut melahirkan pemahaman bahwa nama Karangasem berkembang dari sekumpulan batu karang dan pohon asam yang berada dilingkungan asrama al Hijroh pada waktu itu.4
Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah didirikan oleh KH. Abd. Rahman Syamsuri sebagai upaya Kyai mencetak kader umat dan bangsa dengan visi keagamaan yang murni. Hal tersebut selaras dengan model pemikiran Kyai yang terinspirasi oleh gerakan Wahabi yang kalau di Indonesia terwujud dalam gerak langkah persyarikatan Muhammadiyah.
Secara khusus, terdapat tiga hal penting yang mendasari dan mendorong KH. Abd. Rahman Syamsuri mendirikan Pondok Pesantren
4 Hanafi Noer, Gerakan Pembaharuan di Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan Jawa Timur; Pengaruh Unsur-Unsur Wahabi di Pesantren, hal. 34
150
Karangasem Muhammadiyah, yaitu disebabkan pantulan keprihatinan terhadap pemahaman dan pengamalan nilai keagamaan masyarakat, keprihatinan akan nasib bangsa, dan kepentingan pendidikan umat dan bangsa.5
Secara sosio kultural, masyarakat Paciran sebenarnya memiliki kualitas pemahaman keagamaan yang baik, mengingat daerah ini merupakan tempat penyebaran agama Islam oleh Sunan Drajat (Raden Qosim putra Sunan Ampel). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua area di wilayah Jawa dan khususnya wilayah Paciran, pemahaman keagamaan yang terinternalisasi dalam bentuk pengamalan dan ritual keagamaan banyak dipengaruhi oleh tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, misalnya sedekah bumi, melakukan nadzar untuk sesuatu yang lain selain Allah,6 slametan, manganan untuk membuang ”bala'” dan menghidup-hidupkan (ngurip-nguripi) kuburan aulia sebagai tempat meminta berkah serta lebih menyukai pertimbangan dukun dari pada keluasaan Rahman dan Rahim Allah.
Misi Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah. Untuk mewujudkan visi sebagaimana yang dikemukan di atas, maka Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah menetapkan misi-misi :
a. Mewujudkan pola hidup yang religius
b. Mencetak genarasi yang memilki semangat jihad dan dakwah
5
Drs. Ihsan Ahmad Fauzan, Pondok Karangasem Muhammadiyah; Perspektif Kesejarahan dan Kelembagaan, hlm. 12
6 Abdur Rahman Bin Hasan Bin Muhammad Bin Abdul Wahab, Fathul Madjid li Syarh Kitab al Tauhid, (Jami'ah al Huquq al Mahfudhah, Riyadh, 1428 H/2008 M), hlm 181.
151
c. Mewujudkan generasi yang patuh dan taqwa
d. Menciptakan generasi yang gemar beramal dan Ihlas
e. Menghasilkan lulusan yang memiliki kompentensi dan berdaya saing tinggi.
f. Membiasakan pola hidup sederhana dan bergotong-royong dalam kebaikan
g. Membentuk generasi yang mandiri dan berakhlaqul karimah.7