BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Profil Responden
Dalam penelitian yang menyebarkan angket kepada 80 responden, dapat diperoleh gambaran bahwa dari sisi usia responden yang mendapatkan angket dan mengisinya, dapat di lihat pada grafik 4.1 di bawah ini:
Melihat grafik 4.1 di atas bahwa responden yang mengisi angket memiliki usia yang beragam, mulai dari 18 tahun sampai dengan 70 tahun. Namun demikian dari data di atas dapat diperoleh gambaran dominasi usia responden pada usia 29-38 tahun, usia yang memiliki motivasi yang kuat untuk partisipasi politik dalam berbagai tingkatan.
Selain dilihat dari sisi usia, responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
17% 36% 24% 13% 10% Grafik 4.1
Keadaan Responden Berdasarkan Usia
18-28 29-38 39-48 49-58 59-70
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 37
Walaupun jenis kelamin bukan salah satu yang determinan dalam menentukan terhadap preferensi politik dalam Pemilu, akan tetapi yang sering menjadi persoalan adalah keterlibatan gender dalam kepolitikan bahkan konon menjadi keprihatinan yang cukup besar, Bahkan selalu menjadi perbincangan serius manakala dalam kepolitikan tidak ada kaum perempuan, yang akhirnya dalam berbagai peraturan perundangan-undangan keterlibatan perempuan menjadi hal yang harus dipertimbangkan, termasuk dalam penyelenggara Pemilu dan peserta Pemilu.
Dalam survei kehadiran dalam Pemilu terlihat bahwa yang memberikan pendapat sebanyak 33% perempuan atau 26 responden, dan 67% laki-laki atau 54 orang. Hal ini menunjukan bahwa keinginan untuk memberikan pendapat tentang pelaksanaan Pemilu di Indonesia umumnya, khususnya di Kabupaten Ciamis begitu besar, bahkan menurut hasil wawancara dalam survei ini, ternyata untuk hadir ke tempat pemungutan suara sangat tinggi.
67% 33%
Grafik 4.2
Keadaan Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 38
Berdasarkan grafik 4.3 dapat diperoleh informasi bahwa responden yang banyak memberikan pendapat dalam survei ini adalah responden yang kebanyakan sudah menikah, yaitu sebanyak 85%, sedangkan yang belum menikah sebanyak 15%. Responden yang belum menikah rata-rata berasal dari organiasai kepemudaan yang aktif di daerah masing-masing.
Berdasarkan grafik 4.4 tentang keadaan responden berdasarkan pendidikan, dapat diketahui bahwa lebih dari 50% responden memilik pendidikan SMA, walaupun dari masih ada yang berpendidikan Sekolah Dasar (6%), SMP (6%), tetapi masih banyak pula yang berpendidikan sarjana (14%) dan ahli madya
85% 15%
Grafik 4.3
Keadaan Responden Berdasarkan Status Perkawinan Kawin Belum Kawin 19% 6% 55% 6% 14% Grafik 4.4
Keadaan Responden Berdasarkan Pendidikan
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 39
(6%). Walaupun faktor pendidikan bukan satu-satunya penentu terhadap partisipasi politik masyarakat, akan tetapi dengan tingkat pendidikan yang lebih dari menengah (SMA), hal ini sudah cukup baik untuk mengdongrak partisipasi di masyarakat.
Biasanya masalah pendidikan akan sangat berdampak terhadap status pekerjaan yang dimiliki masyarakat. Dan status pekerjaan sendiri akan berdampak pula terhadap partisipasi politik, berikut ini keadaan responden dilihat dari status pekerjaan responden, seperti terligat pada grafik 4.5 di bawah ini:
Sesuai dengan data pada grafik 4.5, terlihat bahwa kebanyakan responden yang memberikan pedapat mengenai kehadiran warga negara dalam Pemlihan Umum adalah wiraswasta dan pekerjaan lainnya, walaupun untuk pekerjaan lainnya pun pada umumnya termasuk dalam wiraswasta, 40% pekerjaan lainnya dan 41% pekerjaan wiraswasta.
Dari keadan responden seperti di atas, tentunya dalam kaitan dengan pemilihan umum, ternyata dari data yang diberikan responden, tidak semua
PNS 2% PENSIUNAN 3% PEGAWAI SWASTA 14% WIRASWASTA 41% LAINNYA 40% Grafik 4.5
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 40
responden dapat di hadir di TPS dalam Pemilihan anggota legislatif dan presiden, seperti pada grafik 4.6 di bawah ini:
Dari 80 orang yang memberikan pendapat tentang kehadiran di TPS mengenai kehadiran di TPS, ternyata 91% menyatakan kehadiran di TPS dan sisanya 9% menyatakan tidak hadir di TPS. Hal ini menggambarkan bahwa dalam lingkup masyarakat kecil pun yang dijadikan responden dalam survei ini, masih ada 9% yang tidak hadir, walaupun alasannya belum diketahui.
Sebelum melihat alasan yang tidak hadir ke TPS, berikut ini digambarkan tentang alasan mereka yang hadir di TPS saat pemilu dilaksanakan:
Untuk yang hadir di TPS kebanyakan beralasan karena kesadaran sendiri, yaitu sebesar 71%, karena fanatik dan suka terhadap calon masing-masing sebesar 15% dan 2%, sedangkan yang suka terhadap salah satu calon dan ikut pilihan
91% 9%
Grafik 4.6
Hadir dalam Pemilihan Umum Calon anggota DPR, DPD, dan DPRD dan Pemilihan Presiden
Hadir Tidak Hadir
71% 2%
15%3% 9%
Grafik 4.7
Alasan apa yang mendorong Datang ke TPS
kesadaran sendiri
fanatik trhadap salah satu calon
suka terhadap salah satu calon diminta untuk memilih salah satu calon
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 41
orang lain, masing-masing 15% dan 9%. Bukan hanya yang tertarik untuk datang ke TPS, yang tIdak datangke TPS pun mempunyai alasan-alasan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Dari data pada grafik 4.9 di atas, ternyata warga negara yang mempunyai hak pilih tidak datang ke TPS kebanyakan beralasan karena tidak percaya terhadap calon, baik untuk calon anggota legislatif maupun untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, ketidak percayaan ini lebih banyak diakibatkan oleh calon-calon yang telah menduduki jabatan tidak menepati janjinya, sehingga masyarakat tidak percaya terhadap calon, walaupun orangnya berbeda.
Sementara itu bukan hanya ketidakmauan hadir di TPS, sikap terhadap calon yang menjadi kandidat dalam pemilihan umum pun berbeda-beda, seperti terlihat pada grafik di bawah ini:
40%
34%
20% 6%
Grafik 4.8
Alasan Tidak Datang ke TPS
tidak percaya pada janji calon
tidak ada calon yang sesuai dengan Bapak/Ibu/Saudara bingung karena banyaknya calon
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 42
Dari tanggapan terhadap hadir atau tidaknya ke TPS, sikap terhadap calon, ternyata banyak pilihan dari warga negara yang dianggap paling cocok untuk menjadi pemimpin, di legislatif ataupun di eksekutif, pendapatnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
1%
26%
72%
1%
Grafik 4.9
Sikap Terhadap Calon yang dipilih
Sangat simpati Simpati Biasa saja tidak simpati 15% 31% 7% 14% 29% 4% Grafik 4.10
Latar Belakang Paling Cocok untuk Seorang Pemimpin
birokrat militer politisi pengusaha akademisi kalangan praktisi lainnya
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 43
Ternyata menurut pendapat responden, yang paling cocok untuk pemimpin di negara kita, yang paling cocok adalah kalangan militer dan akademisi, terlihat dari grafik sebesar 31% memilih militer dan 29 % memilih kalangan akademisi. Sementara dari kalangan politisi memiliki angka 7%. Keadan ini setelah dilihat melalui wawancara dengan beberapa orang, adalah telah bosan nya janji-janji politisi dalam kampanye. Dari hasil angket ternyata kalangan pengusaha dan birokrasi dan pengusaha memiliki nilai lebih baik, yaitu sebesar 14% dan 15%, jauh lebih baik di banding dengan politisi.
Selanjutnya tentang janji yang sering diberikan oleh politisi dalam kampanye, terlihat pula dari pendapat responden mengenai keterlibatan masyarakat dalam kampanye, seperti di bawah ini:
Dari data pada grafik 4.12 terlihat sekali bahwa sebanyak 78% responden menyatakan tidak pernah ikut serta dalam kampanye. Angka nilai menggambarkan bahwa ketertarikan untuk ikut kampanye sangat kecil sekali. Padahal media kampanye adalah saat yang tepat calon untuk menyampaikan visi dan misi mereka.
12%
10%
78%
Grafik 4.11
Partisipasi dalam Kampanye
Selalu Sering
Kadang-kadang Jarang
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 44
Kegiatan-kegiatan bentuk partisipasi politik warga negara tentunya tidak berdiri sendiri, akan tetapi memiliki kaitan dengan variabel lain. Seperti hasil wawancara dengan beberapa orang, bahwa daripada mengikuti kampanye lebih baik bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Penghasilan yang merupakan salah satu faktor dalam status sosial ekonomi ternyata memliki kaitan erat dengan partisipasi politik masyarakat. Untuk melihat besarnya penghasilan dari responden yang mengisi angket, dapat dilihat dari grafik di bawah ini:
Dari data yang diperoleh, ternyata kebanyakan atau 36% memperoleh penghasilan di bawah Rp. 1.000.000,00. Jika dibandingkan dengan data di atas mengenai status responden yang sudah menikah sebanyak 85%, maka penghasilan tersebut kebanyakan untuk menghidupi setiap keluarga. Jika dihitung untuk biaya hidup setara dengan Rp. 33.300,00 per hari. Biaya hidup yang cukup kecil untuk setiap keluarga. Tentunya data ini bukan ingin melihat kemampuan ekonomi saja, akan tetapi akan menjadi alasan manakala, masyarakat yang menjadi pemilih lebih mengutamakan pekerjaanny di banding hadir di tempat pemungutan suara.
36% 9% 35% 10% 10% Grafik 4.12 Penghasilan Responden <Rp 1.000.000,00 Rp 1.000.000,00-Rp 1.500.000,00 Rp 2.000.000,00-Rp 3.000.000,00 Rp 4. 000.000,00-Rp 5.000.000,00 >Rp 5.000.000,00
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 45
Data ini sangat terkait sekali dengan jawaban responden, yang menyatakan bahwa penghasilan yang mereke peroleh tidak mencukupi untuk biaya hidup setiap bulannya, sebesar 77,5% menyatakan kurang dan tidak cukup. Untuk lebih jelasnya mengenai kecukupan penghasilan dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Melihat data mengenai kecukupan penghasilan responden tentunya dapat digambarkan pulan mengenai dimana responden bertempat tinggal, sebanyak 84% di perkampungan penduduk dan 15% di perumahan. Preferensi dan tingkat kehadiran pemilih di dua tempat tinggal penduduk tentunya akan berbeda pula, data ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
0 5 10 15 20 25 30 35 40 mencukupi kurang mencukupi tidak mecukupi sangat tidak mencukupi Series1 18 32 17 13 Series2 22,5 40 21,25 16,25 A xi s Ti tl e Grafik 4.13 Kecukupan Penghasilan
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 46
Tingkat kehadiran pemilih di TPS pada Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilihan Presiden dan wakil Presiden tahun 2014, salah satunya ditentukan letak TPS yang ada di masyarakat. Dari data yang diperoleh responden diketahaui bahwa yang kurang dari 100m jarak ke tempat tinggal sebesar 17%, antara 100-500m sebanyak 65%, dan lebih dari 500m sebesar 18%. Dari data tersebut tentunya penempatan TPS di masing-masing wilayah sudah sesuai dengan jarak tempat tinggal pemilih, namun demikian jarak antara tempat tinggal dengan TPS tidak bisa di jadikan patokan yang tegas, mengingat jumlah TPS dibatasi oleh kriteria-kriteria yang mengedepankan asas efesiensi dan yang lainnya. Adapun data yang menggambarkan jarak tempat tinggal dengan TPS dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
0%
15% 1%
84%
Grafik 4.14
Tempat Tinggal Responden
perumahan/kompek asrama perkampungan 17% 65% 18% Grafik 4.15
Jarak Tempat Tinggal ke TPS
Dekat kurang dari 100m Sedang antara 100 – 500m Jauh lebih dari 500m
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 47
Dengan melihat jarak yang digambarkan dalam grafik di atas, tentunya pemilih pergi ke tempat pemungutan suara kebanyakan berjalan kaki (85%) artinya jarak yang relatif dengan TPS, walaupun sebagian yang memanfaatkan alat transportasi seperti motor/mobil, ojeg atau angkutan umum lainnya.
Data mengenai alat transportasi yang digunakan untuk pergi ke TPS, dapat dilihat pada grafik di bwah ini:
Selanjutnya diuraikan mengenai hal-hal di atas, tentunya peneliti juga ingin melihat sejauh mana persepsi masyarakat tentang penyelanggaraan Pemilu, terutama dengan pelaksanaan Pemilu yang sering dilaksanakan, mulai Pemilihan Kepala Daerah yang dilaksanakan pemilihan Gubernur dan wakil gubernur serta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, Pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD propinsi dan kabupaten, maupun pemilihan Presiden dan wakil Presiden.
Dari hasil penyebaran angket diperoleh data bahwa responden berpendapat bahwa Pemilu yang dilaksanakan membosankan tidak sesuai dengan janji, sebesar
jalan kaki 85% Motor/mobil 7% ojek 5% Angkutan umum 3% Grafik 4.16 Alat Transportasi ke TPS
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 48
44%, sebagai pembelajaran politik 44%, menyenangkan karena pesta demokrasi 6%, dan masa bodoh 4%.
Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada grafik di bawah ini:
Walaupun dengan persepsi yang berbeda-beda mengenai pelaksanaan Pemilu seperti pada data di atas, ternyata dalam rangka meningkatkan kualitas Pemilu dengan cara mengetahui peserta Pemilu/calon kebanyakan dari spanduk/baligo selebihnya yang paling besar dengan cara lain.
Keadaan ini tentunya baik untuk dijadikan bahan bagi peserta pemilu dan penyelenggara untuk menggambil langkah yang strategis dalam memilih metode sosialisasi kepada masyarakat, agar leih efektif dan efesien serta seuai dengan sasaran.
Data mengenai cara mengenal peserta atau calon dapat dilihat pada grafik di bawah ini: 44% 6% 6% 44% Grafik 4.17
Persepsi terhadap Pelaksanaan Pemilu
Membosankan hasilnya tdk sesuai dengan janji
Menyenangkan karena pesta demokrasi
Masa bodoh
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 49
Hanya mengenal calon saja tidak cukup untuk meningkatkan pengetahun politik masyarakat, tentunya harus didukung pula oleh media lain dalam rangka meningkatkan pengetahuan politik. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini warga negara dituntut untuk membaca media cetak, baik lokal maupun media nasional.
Data mengenai frekuensi membaca media dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Ternyata dengan banyaknya media, baik media lokal maupun nasional tidak diiringi oleh peningkatan minat baca terhadap masyarakat. Responden yang menyatakan tidak pernah membaca paling dominan sebesar 43% dan yang hanya 1 kali dalam seminggu sebesar 23% saja.
5% 56% 1% 5% 33% Grafik 4.18
Cara Kenal dengan Calon
Koran Spanduk/baliho Radio Teman lainnya
setiap hari 27% 4 kali seminggu 2% 2 kali seminggu 5% 1 kali seminggu 23% tidak pernah 43% Grafik 4.19 Membaca Berita Massa
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 50
Baru 27% pemilih yang selalu membaca media massa, tetapi itu pun belum tentu membaca persoalan politik atau persoalan-persoalan lokal yang berkembang di masyarakat.
Dari responden yang menyatakan pendapatnya, baru 5% yang selalu membaca media lokal setiap hari, selebihnya yang 55% tidak pernah membaca koran lokal
Selanjutnya apa yang mereka baca dari media yang tersebar di masyarakat, tentunya belum tentu yang di bacanya berita politik ata mungkin sama sekali berita politik itu sangat membosankan. Pendapat yang menyatakan tidak pernah membaca berita politik sebesar 54% dan sekali-kali sebesar 37% dan selalu membaca berita politik sebesar 5%.
Mengenai responden membaca berita politik dapat dilihat pada grafik di bawah ini: setiap hari 5% 4 kali seminggu 1% 2 kali seminggu 6% 1 kali seminggu 33% tidak pernah 55% Grafik 4.20
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ciamis 2015
Kehadiran dan Ketidakhadiran Pemilih (Voter Turnout) 51