• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Singkat Pesantren Al-Mukmin,

BAB III ABU BAKAR BA’ASYIR DAN NEGARA ISLAM

E. Profil Singkat Pesantren Al-Mukmin,

Berbicara Ba’asyir, tidak terlepas dari latar belakangnya yang membentuk karakter Ba’asyir serta pemikirannya. Ba’asyir sepanjang hidupnya dikelilingi oleh lingkungan yang agamis, sehingga secara perlahan membentuk karakter yang membangun sifatnya sampai sekarang. Lingkungan agamis ini yang kemudian membawanya sampai kepada lingkungan pendidikan dimana Ba’asyir dengan dedikasinya mendirikan tempat pendidikan yang diberi nama pondok pesantren Al-Mukmim, Ngruki.

Pondok Pesantren ini didirikan untuk mentanamkan akidah Islam kepada santrinya dan di dalam kesehariannya di pesantren ini, Ba’asyir menggunakan syariat dalam penerapannya. Karena faktor terakhir ini, sampailah Baasyir di tangkap oleh pihak kepolisian. Dari pesantren ini juga, dihasilkan banyak lulusan yang tersebar di Indonesia, yang mengisi semua bidang keahlian termasuk yang paling ekstrem sebagian lulusan ini juga menjadi tersangka atas aksi peledakan pada sejumlah tempat di Indonesia.

Pesantren Al-Mukmin terletak di Dukuh Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, hanya berjarak 2 kilometer dari kota

Solo. Lokasi pesantren ini juga terletak tidak jauh dari bekas markas Laskar Jihad85.

Awal dari berdirinya pesantren ini dimulai dari adanya pengajian kecil yang diadakan secara rutin selepas dzuhur di Masjid Agung Surakarta. Pengajian ini kemudian berkembang sampai pada akhirnya terbentuk sebuah Madrsah Diniyah yang juga didukung penuh oleh radio lokal, Radio Dakwah Islamiyah Surakarta (RADIS). Madrasah ini kemudian berkembang pesat dan mendapatkan perhatian penuh dari penduduk sekitar sampai pada akhirnya ada inisiatif dari para ulama yang mengisi talim tersebut untuk mengasramakan para murid yang mengikuti pengajian rutin itu.

Realitas sosial masyarakat Solo pasca tahun 1965 dan timbulnya berbagai ancaman yang dianggap membahayakan eksistensi Islam serta umatnya pada waktu itu, semakin memotivasi semangat para mubaligh se-Surakarta untuk segera mewujudkan pendidikan pondok pesantren. Hal ini juga didasarkan pada perspektif dan pertimbangan sejarah bahwa pesantren pada zaman dulu telah memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam membela, memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia86.

Tingkat pendidikan Al-Mukmin terbilang cukup lengkap. Tersedia pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak sampai pendidikan setingkat SMU yang disebut aliyah. Jika terus ingin melanjutkan pendidikan setelah SMU, santri

85

Fadjar & Imron Rosyid, “Pesantren Ngruki dan sejumlah Tuduhan: Jalan Islam tanpa Madzhab” (Jakarta, Tempo, 8 Desember 2002), h. 33. No. 40/XXXI/h. 34

86

“Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki Sukoharjo,” artikel diakses pada tangal

31 Juli 2009 dari http://almukmin-

ngruki.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53:pondok-pesantren-islam-al- mukmin-ngruki-sukoharjo&catid=51:profile-pesantren&Itemid=66.

dapat masuk ke unit Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) untuk santri pria dan Kulliyatul Muallimat Al-Islamiyah untuk santri wanita.

Seperti pada pesantren umumnya, Al-Mukmin ini menggunakan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dengan maksud lulusan pesantren ini dapat melanjutkan ke pendidikan formal. Untuk materi utama pendidikan pesantren ini seperti umumnya juga, mengajarkan bahasa Arab serta cabang ilmunya sepert ilmu Nahwu, Shorof, dan Balaghoh. Untuk bahasa pengantar di pondok ini menggunakan tiga bahasa menurut materi yang diberikan. Bahasa Arab untuk penyampaian materi keagamaan, bahasa Inggris untuk pengantar pelajaran Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia untuk pengantar materi ilmu umum.

Pesantren Al-Mukmin memberikan ilmu tingkat lanjut bagi para santri tingkat lanjut. Menjelang kelulusan santri kelas VI, misalnya, mereka diajari membuka kitab, fikih Bidayah Mujtahid karya Ibnu Rusyd, yang menyuguhkan pemikiran multi mazhab.87 Pengajaran ini ditujukan bagi santri untuk dapat memahami berbagai mazhab yang ada dengan berbagai alasan masing-masing.

Secara garis besar, pesantren Al-Mukmin tidak seperti pesantren tradisional lainnya yang pada umumnya menggunakan paham Ahlussunah wal

Jamaah. Mengikuti tradisi Muhammad dan ijma’ ulama. Al-Mukmin

menggunakan rujukan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedua sumber tersebutlah yang kemudian mewarnai aktifitas dari para santri di pesantren Al-Mukmin.

87

Kitab tafsir yang digunakan tidak sama dengan pesantren lainnya yang pada umumnya menggunakan tafsir Al-Jalalain. Pesantren ini menggunakan kitab klasik Ibnu Katsir (1973) untuk para santri. Bagi para pengajar, mereka memegang tafsir Fi Dhilail Quran karya Sayid Qutub dan tafsir Al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridho.

Dari tata cara pengajaran yang diberikan kepada santri di pesantren Al- Mukmin tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pesantren tersebut termasuk ke dalam kelompok salafi.

Salaf merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-'aqidah, beribadah, berhukum, berakhlaq dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan 'aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabat Radhiyallahu 'anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan88.

Dari awalnya berdiri, pesantren ini kerap bermasalah bagi pemerintah, mereka adalah penentang asas tunggal Pancasila yang diusung oleh Presiden Soeharto pada saat itu. Selanjutnya Ngruki disebut sebagai penyalur orang-orang yang berbahaya. Kaitan antara para tokohnya kemudian tergambar dalam analisis International Crisis Group. Kelompok yang dipimpin Sidney Jones, peneliti dari New York, Amerika Serikat, yang memfokuskan diri pada hak asasi manusia di Indonesia itu, menerbitkan makalahnya yang bertajuk “Al-Qaidah in Southeast Asia: The Case of the Ngruki Network in Indonesia”. Makalah itu memaparkan

88

“Salafus Shalih: Pengertian Salaf,” artikel diambil pada 5 Agustus 2009 dari

bahwa orang-orang tertentu di Ngruki – termasuk Ba’asyir – punya kontak dengan biang aksi teror di kawasan Asia Tenggara89.

Pesantren Ngruki pernah dikaitkan dengan peristiwa peledakan Candi Borobudur (Maret 1985). Tapi tidak ada bukti kuat bahwa peledakan yang merupakan protes terhadap peristiwa Tanjung priuk (1983) itu – yang menurut versi kelompok Islam telah menewaskan lebih dari 100 orang – didalangi oleh tokoh-tokoh di Pondok Ngruki90.

Pesantren ini memang menolak pengaruh Amerika, hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari para santri tersebut. Mereka tidak di perbolehkan melihat televisi melainkan hanya siaran berita dan pendidikan saja. Bagi pesantren ini, ke moderenan tidak harus mengikuti pola Barat, tetapi bagi mereka, kemoderenan adalah bagaimana dapat bersikap dan berprilaku yang benar.

Penghormatan bendera juga tidak dilakukan di lingkungan pondok ini, karena segala penghormatan bagi lambang negara dan bendera negara termasuk ke dalam perbuatan sirik. Hal ini berlaku bagi para santri. Tauhid harus secara murni ditegakkan di dalam lingkungan pondok. Tujuan dari pondok ini adalah menjadikan lulusannya dapat mengamalkan Islam secara murni di masyarakat, mengamalkan syariat Islam dalam aplikasi kehidupan santri di luar pondok. Dengan demikian diharapkan untuk mewujudkan cita-cita pendirian syariat Islam akan segera terwujud melalui individu-individu yang sudah tetanamkan nilai-nilai Islam, bukan dengan bentuk kekerasan.

89 Irfan Budiman, “Jihad Al-Mukmin Sampai ke Kantin,” Jakarta, Tempo, 8 Desember

2009, h. 30. No. 40/XXXI/

90

Bina Bektiati, “ Pesantren Al-Mukmin, Ngruki: Eksklusif tapi Tak Misterius,” Tempo, 3 Februari 2002, h. 27.

Dokumen terkait