BAB II LANDASAN TEOR
C. Profil SMA WR Supratman 2 Medan
SMA WR Supratman 2 Medan merupakan sekolah swasta nasional yang berkedudukan di Medan, Provinsi Sumatera Utara. SMA WR Supratman adalah sekolah yang berada di naungan yang dulunya bernama Yayasan Perguruan Tri Bukit dan kini berganti nama menjadi Yayasan Perguruan Wage Rudolf Supratman. Pada awal berdiri, sekolah ini diperuntukkan untuk siswa keturunan Tionghoa. Namun pada tahun 1974, sekolah ini mengikuti program pembauran yang dilaksanakan oleh pemerintah sehingga akhirnya membuka kesempatan kepada siswa keturunan non Tionghoa untuk bersekolah di sekolah tersebut (Tentang Kami, dalam wrsupratman.sch.id, 2014.
18 2. Visi dan Misi
Visi yang ditanamkan oleh perguruan WR Supratman adalah menjadikan perguruan WR Supratman Medan diakui keunggulannya di Sumatera Utara, di tingkat nasional dan di tingkat internasional serta dibanggakan masyarakat Indonesia. Sebagai upaya untuk mewujudkan tersebut, SMA WR Supratman memiliki beberapa misi yakni:
1. Melaksanakan pendidikan yang bermutu, efektif, dan dinamis untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter, berkompeten, terdidik, kreatif, cakap, terampil, menguasai bahasa asing, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
2. Melaksanakan pendidikan yang berdasarkan budi pekerti luhur untuk menghasilkan lulusan yang berkepribadian, beretika tinggi, berakhlak mulia, beriman, bertaqwa,dan mengabdi untuk kesejahteraan bangsa dan negara.
Sebagai sekolah dengan konsep pembauran, SMA WR Supratman 2 Medan memiliki siswa-siswi yang berasal dari latar belakang agama dan etnis yang beragam. Dari latar belakang agama terdapat siswa-siswi yang menganut agama Budha, Islam, dan Kristen. Sementara itu, dari latar belakang etnis terdapat siswa-siswi dengan etnis Tionghoa, Batak, Karo, Jawa, India, dan lain sebagainya.
Secara keseluruhan, siswa SMA WR Supratman 2 Medan berjumlah 467 orang dengan proporsi kelas X terdapat 4 kelas (X MIPA 1, X MIPA 2, X IPS 1, X IPS 2), kelas XI terdapat 4 kelas (XI IPA 1, XI IPA
19
2, XI IPS 1, XI IPS 2) serta kelas XII terdapat 4 kelas (XII IPA 1, XII IPA 2, XII IPS 1, XII IPS 2).
Kegiatan ekstrakulikuler yang ada di SMA WR Supratman yakni
robotic club, futsal, pramuka, basket, marching band, dance club, paduan
suara, dan english club. Keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler dapat terlihat dari jumlah siswa yang mengikuti ekstrakulikuler yakni sebanyak 41 % dari jumlah keseluruhan siswa.
D. Gambaran School Connectedness pada Siswa di Sekolah Pembauran (Studi Kasus SMA WR Supratman 2 Medan)
Sekolah pembauran merupakan upaya pemerintah agar kelompok tertentu (dalam konteks ini adalah siswa keturunan Tionghoa) dapat meleburkan dirinya dan budanya kepada kelompok yang lebih dominan yaitu kelompok siswa WNI asli. Sekolah pembauran memiliki beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh pihak sekolah di antaranya adalah sekolah dilaksanakan oleh yayasan baik itu berlatar belakang agama maupun yayasan pendidikan umum (nasional), siswa di dalam sekolah tersebut harus sebanding yakni 50 % siswa WNI asli dan 50 % WNI asing, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional serta menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar (Pelly, 2003).
Banyaknya ketentuan yang berlaku untuk sekolah pembauran, ternyata tidak dapat dipenuhi oleh semua sekolah terutama dalam hal perbandingan siswa WNI asli dengan siswa keturunan Tionghoa. Dalam
20
praktiknya, sekolah pembauran juga mengalami kendala yakni dalam penggunaan bahasa pengantar yang seharusnya bahasa Indonesia namun kerap kali akibat jumlah mayoritas siswa keturunan Tionghoa maka guru Tionghoa cenderung menggunakan bahasa Tionghoa dalam pembelajaran.
Kendala ini menjadi hal yang membuat tidak nyaman bagi siswa WNI asli yang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh guru. Ketidaknyamanan siswa ini akan mengarah pada perasaan siswa apakah ia diterima di sekolahnya atau tidak. Istilah ini dikenal dengan school connectedness.
School connectedness merupakan perasaan positif siswa mengenai
pendidikan, perasaan memiliki akan lingkungan sekolah, serta adanya hubungan yang positif dengan staff sekolah dan teman-temannya (Stracuzzi & Mills, 2010). Setiap siswa penting untuk memliki school
connectedness karena siswa yang merasa menjadi bagian dari sekolahnya
akan lebih menunjukkan kesuksesan baik itu dalam hal perilaku, emosional, maupun akademis.
School connectedness terdiri dari tiga aspek utama yakni dukungan
sosial, rasa memiliki siswa terhadap sekolah serta keterlibatan siswa dalam kegiatan di sekolah (Connell & Wellborn, dalam Stracuzzi & Mills, 2010). Dukungan sosial menekankan pada sejauh mana siswa merasa dekat dan dihargai oleh guru dan staff lainnya di sekolah. Setiap guru atau staff sekolah tidak membedakan antara siswa yang satu dengan yang lainnya berdasarkan jenis kelamin, agama, suku, dan status lainnya.
21
Siswa yang memiliki school connectednesss juga tercermin dari perasaan yang dimiliki oleh siswa bahwa ia merupakan bagian dari sekolah (sense of belonging). Siswa akan merasakan bahwa orang-orang di lingkungan sekolahnya menghormati dirinya, serta memiliki banyak teman. Siswa yang sudah merasakan dukungan sosial dari orang dewasa di sekolah baik itu guru atau staff sekolah serta memiliki rasa bahwa ia merupakan bagian dari sekolah, maka siswa akan menunjukkan keterlibatannya melalui kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah. Keterlibatan siswa dapat terwujud melalui kegiatan akademik maupun non akademik.
Salah satu faktor yang mempengaruhi school connectedness siswa adalah kultur sekolah. Kultur sekolah menunjukkan adanya keseimbangan antara kebutuhan sosial dan pembelajaran artinya sekolah dapat menyeimbangkan antara pembelajaran dengan kebutuhan sosial siswa seperti bersosialisasi dengan teman-temannya, melakukan aktivitas olahraga serta mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Kultur sekolah pada sekolah pembauran menekankan tentang kebutuhan sosialisasi siswa terhadap teman-temannya diluar budayanya agar terciptalah tujuan kebijakan pemerintah tentang Sekolah Nasional Proyek Khusus (SNPK). Kelompok WNI keturunan asing (Tionghoa) melakukan asimilasi total ke dalam budaya nasional (kelompok WNI asli) sedangkan kelompok WNI asli melakukan akulturasi (saling memberi dan menerima unsur budaya masing-masing) di antara siswa WNI asli.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan nasional dari negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini menekankan bahwa negara bertanggung jawab atas pendidikan yang ditempuh oleh setiap warga negaranya. Pendidikan menurut Undang-Undang No.20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Mendapat pendidikan merupakan hak yang dimiliki setiap warga negara Indonesia (UUD tahun 1945 pasal 31 ayat 1). Sebagai negara dengan multikultur, hal ini berarti bahwa setiap warga negara yang dimaksud adalah setiap orang yang berasal dari latar belakang suku, agama bahkan status sosial manapun dengan catatan merupakan warga negara Indonesia berkesempatan untuk mengenyam pendidikan.
2
Beragamnya kultur di Indonesia membentuk sistem pendidikan nasional yang berupaya untuk mengembangkan persatuan dan kebangsaan yang menghormati kemajemukan serta kesetaraan yang disesuaikan dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (Tobing, 2013). Penekanan terhadap sistem pendidikan nasional ini bermula dari kondisi pendidikan Indonesia di masa Orde Baru.
Pada masa Orde Baru, sekolah-sekolah di Indonesia merupakan sekolah yang siswanya berasal dari keturunan Tionghoa dan dianggap berada di bawah pengaruh RRC. Melihat kondisi tersebut, maka pada tahun 1967 pemerintah membuat kebijakan mendirikan sekolah yakni Sekolah Nasional Proyek Khusus (SNPK). Pada tahun 1975, istilah SNPK diubah menjadi sekolah-sekolah asimilasi atau sekolah pembauran. Tujuan adanya kebijakan ini adalah menjadikan sekolah sebagai wadah pembauran atau melting pot.
Melalui pembauran ini, diharapkan agar Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa dapat meleburkan dirinya dan budayanya kepada kelompok yang dominan dimana pada konteks ini adalah WNI asli (Pelly, 2003).
Pada masa tersebut, sekolah pembauran yang terdapat di Sumatera Utara sudah mencapai 32 sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA (Pelly, 2003). Salah satu sekolah yang turut mengikuti kebijakan pemerintah ini adalah Yayasan Perguruan Wage Rudolf Supratman Medan (Tentang Kami, dalam wrsupratman.sch.id, 2014). Yayasan ini semula bernama Yayasan Perguruan Tri Bukit dan diperuntukkan untuk siswa WNI keturunan
3
Tionghoa. Namun sejak diberlakukannya kebijakan pemerintah mengenai sekolah pembauran, sekolah ini mengubah namanya menjadi Perguruan Wage Rudolf Supratman dan membuka kesempatan bagi siswa WNI asli untuk bersekolah di sekolah tersebut.
Salah satu ketentuan yang diberlakukan untuk sekolah pembauran menurut Surat Keputusan Menteri P dan K No.044/P/75 adalah komposisi murid-murid harus 50% WNI asli dan 50% WNI asing (Pelly, 2003). Namun berdasarkan hasil wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan di SMA WR Supratman 2 Medan didapatkan bahwa kelompok mayoritas dalam sekolah tersebut adalah siswa dengan keturunan Tionghoa dan kelompok minoritas adalah siswa WNI asli, dengan perbandingan 60 % dan 40%. Pelly (2003) menjelaskan bahwa di awal dibukanya sekolah pembauran, pihak yayasan berupaya agar dapat memenuhi ketentuan tersebut. Akan tetapi dari tahun ke tahun jumlah siswa WNI asli semakin sedikit dikarenakan adanya berbagai faktor seperti keengganan belajar di satu kelas yang sama dengan murid-murid WNI keturunan Tionghoa, letak sekolah pembauran yang sebagian besar berada di komunitas WNI keturunan Tionghoa, disiplin sekolah yang ketat, dana untuk buku, pakaian, dan uang sekolah yang tinggi.
Selain ketentuan tersebut, ketentuan lain yang diberlakukan adalah menggunakan kurikulum nasional serta menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghantar (Pelly, 2003). Namun penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2015) di salah satu sekolah pembauran di kota Medan
4
menunjukkan bahwa masih adanya kecenderungan kelompok mayoritas yakni keturunan Tionghoa menggunakan bahasa Tionghoa dalam berinteraksi dengan teman serta guru yang juga merupakan keturunan Tionghoa. Fenomena seperti ini juga sering terjadi di SMA WR Supratman 2 Medan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak sekolah, didapatkan bahwa pernah terdapat laporan dari siswa non Tionghoa bahwa mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut.
“Iya pernah memang ada laporan siswa etnis non Tionghoa bahwa masih ada beberapa guru Tionghoa, kalo yang nanya siswa Tionghoa juga cenderung menjawab dengan berbahasa Tionghoa. Ini cukup mengganggu siswa-siswa non Tionghoa ya.. karena mereka merasa ingin tahu juga dengan apa yang disampaikan oleh gurunya…”
(Wawancara Personal, 2015)
Sekolah dengan konsep pembauran tidak hanya cenderung membuat siswa kelompok minoritas saja yang merasa tidak nyaman, tetapi juga kelompok mayoritas yakni siswa keturunan Tionghoa. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sumiati (2000) kepada siswa keturunan Tionghoa di salah satu SMA di kota Cirebon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa keturunan Tionghoa cenderung melakukan interaksi dengan siswa non Tionghoa hanya untuk motif belajar.
Berdasarkan kondisi tersebut dapat diasumsikan bahwa baik siswa kelompok mayoritas maupun kelompok minoritas cenderung masih merasa tidak nyaman dengan kendala yang sering kali dihadapi oleh sekolah dengan konsep
5
pembauran. Nyaman atau tidaknya siswa di sekolah akan mengarahkan kepada perasaan siswa apakah ia diterima di sekolahnya atau tidak. Istilah ini dikenal dengan school connectedness.
School connectedness menurut Bonny (2000) merupakan perasaan
memiliki dan menerima siswa terhadap lingkungan sekolahnya. Sementara itu, Blum (2004) mendefinisikan school connectedness sebagai keyakinan siswa bahwa orang-orang dewasa dan teman sebayanya di sekolah peduli dengan pendidikan mereka serta mempedulikan mereka sebagai individu. Stracuzzi & Mills (2010) menggambarkan school connectedness sebagai perasaan positif siswa mengenai pendidikan, perasaan memiliki akan lingkungan sekolah, adanya hubungan positif dengan staff sekolah dan teman-temannya.
School connectedness merupakan hal penting dalam kehidupan di sekolah.
Centers for Disease Control and Preventive (2009) dalam jurnal publikasi yang
berjudul School Connectedness menyatakan bahwa school connectedness
merupakan faktor protektif bagi siswa untuk tidak menggunakan obat-obatan terlarang, absen dari sekolah, perilaku seksual, kekerasan dan resiko kecelakaan. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Stracuzzi & Mills (2010) menjelaskan bahwa school connectedness akan berdampak pada performa akademik siswa. Siswa yang memiliki school connectedness yang lebih tinggi akan lebih mudah untuk mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, hasil ujian yang lebih tinggi, dan tidak drop out. Hal ini dikarenakan siswa lebih terlibat dalam pendidikan mereka, merasa termotivasi, dan menikmati pembelajaran mereka.
6
School connectedness terdiri dari tiga aspek utama yakni dukungan sosial,
rasa memiliki dan keterlibatan (Connell & Wellborn, dalam Stracuzzi & Mills, 2010). Dukungan sosial merupakan dukungan yang diberikan guru dan staf lainnya yang berada di sekolah terhadap seluruh siswa tanpa membedakan jenis kelamin, ras, maupun etnis. Sementara itu rasa memiliki merupakan perasaan yang dimiliki oleh siswa mengenai dirinya bahwa ia adalah bagian dari sekolah. Aspek keterlibatan merupakan respon yang ditunjukkan siswa ketika sudah mendapatkan dukungan sosial dan juga merasa menjadi bagian dari sekolah.
Dukungan sosial yang diberikan guru maupun staf sekolah siswa juga akan mengarah kepada disiplin sekolah (school discipline) yang dilakukan secara adil atau tidak. Penelitian yang dilakukan oleh Kandace & Forrester (2015) mengenai kaitan antara school discipline dengan school connectedness menunjukkan bahwa siswa yang merasa bahwa disiplin sekolah dilakukan secara diskriminatif, akan cenderung juga merasakan bahwa guru tidak adil, merasa bahwa dia adalah siswa yang bodoh menurut gurunya, dan kurang merasakan hal baik tentang sekolahnya.
Berdasarkan hasil survei peneliti dengan menggunakan kuesioner (terlampir) terhadap 83 siswa SMA WR Supratman 2 Medan mengenai pendapat siswa tentang kepedulian guru baik dalam hal pembelajaran, penampilan siswa, maupun masalah pribadi yang dialami siswa didapatkan bahwa 50,6 % siswa menyatakan bahwa guru peduli, 33,73% menyatakan cukup peduli, 6,02 % menyatakan bahwa guru kurang peduli serta 9,63 % siswa menyatakan bahwa guru tidak peduli. Dari hasil survei tersebut dapat diasumsikan bahwa siswa
7
memiliki perasaan yang berbeda-beda mengenai peduli atau tidaknya guru terhadap mereka.
School connectedness dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dimana
salah satunya adalah lingkungan sekolah (Blum, 2004). Faktor lingkungan sekolah menekankan akan pentingnya peran sekolah untuk menyediakan lingkungan yang nyaman sehingga siswa dapat mengembangkan dirinya baik itu secara akademis, emosional maupun perilaku. Berdasarkan hasil survei peneliti terhadap 83 siswa SMA WR Supratman 2 Medan (terlampir) mengenai pendapat siswa tentang lingkungan sekolahnya didapatkan hasil bahwa 45,78 % siswa menyatakan nyaman, 24,09 % siswa menyatakan cukup nyaman, 15,66 % menyatakan kurang nyaman, dan 14, 45 % menyatakan tidak nyaman. Lingkungan sekolah yang nyaman atau tidak menurut siswa berkaitan dengan fasilitas sekolah, hubungan dengan teman-teman, suhu udara di ruangan kelas serta dinamika saat proses belajar mengajar. Melalui survei tersebut dapat diasumsikan bahwa belum semua siswa merasa nyaman dengan lingkungan sekolahnya dan ini dapat mempengaruhi school connectedness siswa.
Siswa yang merasakan adanya dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya serta merasa bahwa ia adalah bagian dari sekolahnya, akan menunjukkan keterlibatan baik dalam hal akademik maupun non akademik. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti merasa perlu untuk meneliti gambaran
school connectedness siswa di sekolah dengan konsep pembauran dimana yang
menjadi tempat penelitian adalah SMA WR Supratman 2 Medan. Dengan demikian, yang menjadi judul dalam penelitian ini adalah gambaran school
8
connectedness pada siswa di sekolah pembauran (studi kasus SMA WR
Supratman 2 Medan).
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran school
connectedness pada siswa sekolah pembauran khusunya pada SMA WR
Supratman 2 Medan?”
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran school connectedness siswa pada sekolah pembauran khususnya pada SMA WR Supratman 2 Medan.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat untuk menambah literatur di dunia psikologi khususnya di bidang psikologi pendidikan yang berkaitan dengan school connectedness.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan menghasilkan data penelitian mengenai gambaran
school connectedness pada siswa di sekolah pembauran khususnya pada
9
a. Bagi pihak sekolah
Pihak sekolah dapat mengetahui gambaran school connectedness
siswa di sekolah tersebut dan dapat menjadi bahan evaluasi sekolah apakah nantinya meningkatkan school connectedness siswa atau mempertahankan school connectedness siswa yang sudah baik.
b. Bagi peneliti selanjutnya
Peneliti selanjutnya dapat menjadikan hasil penelitian untuk dijadikan sebagai referensi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan school connectedness.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Bab I Pendahuluan
Pada bab ini berisi mengenai latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
2. Bab II Landasan Teori
Bab ini berisi mengenai teori-teori penyusunan variabel yang diteliti serta dinamika dari variabel.