• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Profil UMK (Informan)

Usaha yang dimiliki pasangan suami istri atas nama bapak Sahri dan ibu Puji adalah produksi sandal wanita (lihat lampiran 5). Ibu Puji memberi nama UD. Peach untuk usahanya. Omset penjualan sandal wanita UD. Peach mampu mencapai 19.200 pasang per tahun dengan

nominal sebesar Rp 643.200.000 (enam ratus empat puluh tiga juta dua ratus ribu rupiah) (lihat lampiran 3). Perjuangan bapak Sahri dan ibu Puji dimulai pada tahun 1991. Pada waktu itu Bapak Sahri bekerja sebagai tukang jahit sandal pada seorang pengusaha sandal wanita. Setelah beberapa lama kemudian, timbullah keinginan dari bu Puji untuk membuka usaha sendiri. Pada mulanya bapak Sahri tidak begitu berminat menanggapi keinginan istrinya. Ia sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya ketika itu. Namun ibu Puji terus memotivasi bapak Sahri untuk terus maju, dengan jalan membuka usaha sendiri demi kelangsungan hidup putra putrinya yang berjumlah 3 (tiga) orang.

Tidak lama kemudian ada seorang bos (pemilik toko sandal) yang menawarkan pinjaman modal sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) kepada bapak Sahri. Pertama kali memulai usahanya, bapak Sahri mendapat order 100 (seratus) pasang sepatu anak – anak. Setelah dikirim ke toko milik bos yang memberi pinjaman tersebut, ternyata sepatu anak buatan bapak Sahri tidak bisa dijual karena desain sepatu yang kurang bagus. Sepatu – sepatu tersebut kemudian dikembalikan oleh pemilik toko kepada ibu Puji melalui sales. Namun sales tersebut tidak mengembalikan sepatu anak – anak tersebut kepada ibu Puji, melainkan menjualnya sendiri. Sales itu meminta ibu puji untuk mengirim contoh sepatu dengan desain yang lebih bagus agar mendapat order yang besar. Pak Sahri dan ibu Puji lalu mencoba memperbaiki desain pada sepatu anak dan mengirimkan desain sandal wanita yang ia

produksi. Setelah itu ibu Puji mengirimkan contoh desain sandal buatannya tersebut kepada toko sandal. Ternyata produknya diterima dengan baik dan ibu Puji mendapat pesanan seratus pasang sandal. Tidak berapa lama kemudian mendapat pesanan seratus pasang sandal lagi, dan order pun terus berdatangan hingga saat ini. Menurut ibu Puji jumlah sandal yang telah diproduksi mulai dari tahun 1997 hingga tahun 2010 mencapai kurang lebih 6.000 (enam ribu) pasang.

Perjuangan ibu Puji dalam merintis usahanya mulai dari nol tidaklah mudah. Jatuh bangun dalam membangun usahanya telah dirasakan pak Sahri dan ibu Puji selama enam tahun sejak awal berdiri, yaitu tahun 1991. Baru pada tahun 1997, pak Sahri dan ibu Puji menikmati keberhasilan.

Menginjak tahun 1998, ketika terjadi krisis moneter, usaha milik pak Sahri dan ibu Puji pun terkena dampaknya. Harga bahan baku melonjak tinggi. Untuk mengatasinya, ibu Puji menaikkan harga sandal. Hingga saat ini, usaha pak Sahri dan ibu Puji tetap lancar meskipun harus jatuh bangun. Mereka mempunyai motto “biar untung sedikit, asalkan order tetap lancar”.

4.2.2 UMK Milik Bapak Su’udi

Bapak Su’udi merupakan pemilik dan pelaksana UMK di bidang produksi sepatu wanita dewasa (lihat lampiran 15). Omset penjualan sepatu wanita produksi bapak Su’udi mencapai 24.000 pasang per tahun

dengan nominal sebesar Rp 264.000.000 (dua ratus enam puluh empat juta rupiah) (lihat lampiran 3). Namun tidak menutup kemungkinan bapak Su’udi juga memproduksi sepatu anak – anak. Hal itu tergantung dari permintaan pasar atau toko yang memberi pesanan. Usaha milik bapak Su’udi tidak mempunyai nama tertentu. Bapak Su’udi hanya mempunyai merek untuk sepatu hasil produksinya. Nama mereknya adalah “Ciniko”. Bapak Su’udi telah mendaftarkan merek tersebut di Disperindag Jawa Timur, untuk dipatenkan. Namun hingga tahun 2011, pengajuan hak paten tersebut masih dalam proses.

Usaha produksi sepatu ini merupakan usaha turun temurun yang dijalani oleh keluarga bapak Su’udi sejak tahun 1954. Bapak Su’udi sendiri merupakan generasi ke empat dan mulai meneruskan usaha ini pada tahun 1993, setelah lulus SMA.

Untuk mendapatkan modal sebelum meneruskan usaha ini, bapak Su’udi menggadaikan kalung emas milik ibunya senilai Rp. 60.000 pada orang yang dikenal. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1989. Saat memulai usahanya pada tahun 1993, bapak Su’udi mendapat order pertamanya, yaitu sepatu anak yang berjumlah seratus pasang senilai Rp 160.000.

Bapak Su’udi merupakan anggota dari koperasi Semiwangi, yang ada di jalan Tambak Osowilangun, Surabaya dan bergabung sejak tahun 2009. Koperasi Semiwangi ini menyediakan bahan – bahan yang digunakan oleh pengrajin sepatu yang ada di wilayah Tambak

Osowilangun, terutama untuk para anggota termasuk bapak Su’udi. Namun koperasi ini tidak untuk memasarkan produk – produk UMK. Selain koperasi Semiwangi, ada empat buah toko yang fungsinya sama yaitu hanya menyediakan bahan baku saja. Salah satu diantara empat toko itu bernama UD. Langgeng.

Untuk bisa mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan, para pengrajin bisa membelinya lansung. Apabila belum memiliki dana, maka para pengrajin bisa mendapatkan bahan baku tersebut dengan cara berhutang tanpa agunan. Namun hanya pengrajin yang sudah dikenal saja yang boleh berhutang. Meskipun demikian, menurut bapak Su’udi, biasanya pengrajin tidak meminjam semua bahan baku yang dibutuhkan namun hanya sebagian saja. Misalnya seorang pengrajin mendapat order sepatu sebanyak lima puluh kodi. Pengrajin tersebut hanya meminjam bahan baku untuk dua puluh kodi sepatu saja. Itupun tidak semua bahan bisa didapat, karena tergantung dari persediaan bahan baku yang ada di toko. Jangka waktu pembayaran hutang umumnya antara satu sampai dua minggu. Sistem hutang yang diterapkan oleh koperasi Semiwangi dan empat toko tersebut hanya mengandalkan kepercayaan semata.

4.2.3 UMK Milik Ibu Yulitisnawati

Pasangan suami istri atas nama bapak Mas Muhammad Didik dan ibu Yulitisnawati merupakan pemilik dan pelaksana usaha di bidang produksi sandal, sepatu anak – anak dan sepatu untuk ukuran dewasa (lihat lampiran 18). Omset penjualan usaha produksi bapak Mas

Muhammad Didik dan ibu Yulitisnawati mencapai 14.400 pasang per tahun dengan nominal sebesar Rp 165.600.000 (seratus enam puluh lima juta enam ratus ribu rupiah) (lihat lampiran 3). Usaha ini tidak mempunyai nama tertentu. Ibu Yulitisnawati hanya mempunyai merek untuk hasil produksinya. Nama mereknya adalah “Zpatoez Collection, Sola Gratia, dan Yuliez”. Ibu Yulitisnawati telah mendaftarkan salah satu nama merek yaitu “Yuliez”, untuk dipatenkan di Disperindag provinsi Jawa Timur. Namun hingga tahun 2011 masih dalam proses.

Usaha produksi sandal dan sepatu ini merupakan usaha turun temurun yang dijalani oleh keluarga dari suami ibu Yulitisnawati, yaitu bapak Mas Muhammad Didik. Bapak Mas Muhammad Didik merupakan generasi ke dua yang meneruskan usaha keluarga ini. Setelah menikah di tahun 2002, maka usaha tersebut diteruskan oleh bapak Mas Muhammad Didik bersama istrinya, ibu Yulitisnawati. Pendidikan terakhir bapak Mas Muhammad Didik adalah Madrasah Aliyah demikian halnya dengan ibu Yulitisnawati.

Bapak Mas Muhammad Didik memulai usaha bersama istrinya dengan modal awal sebesar Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah). Modal tersebut berasal dari tabungan sendiri. Kemudian bapak Mas Muhammad Didik mendapat order pertama berupa sepatu remaja sebanyak dua kodi, dengan harga Rp 210.000 (dua ratus sepuluh ribu rupiah) per kodinya. Bapak Mas Muhammad Didik dan ibu Yulitisnawati merupakan anggota dari koperasi Semiwangi yang ada di Tambak Osowilangun Surabaya.

Namun bapak Mas Muhammad Didik tidak pernah membeli bahan di koperasi tersebut melainkan langsung membeli di Jalan Kramat Gantung. Hal itu dikarenakan tidak lengkapnya bahan – bahan yang ada di koperasi tersebut.

4.2.4 UMK Milik Ibu Musarofah

Bapak Muhammad Rofiq dan ibu Musarofah merupakan pasangan suami istri sebagai pemilik dan pelaksana usaha di bidang produksi sepatu wanita dewasa (lihat lampiran 22). Omset penjualan usaha produksi bapak Muhammad Rofiq dan ibu Musarofah mencapai 19.200 pasang per tahun dengan nominal sebesar Rp 211.200.000 (duaratus sebelas juta dua ratus ribu rupiah) (lihat lampiran 3). Usaha ini tidak mempunyai nama tertentu. Ibu Musarofah hanya mempunyai merek untuk sepatu hasil produksinya. Nama mereknya adalah “Virtsa”. Ibu Musarofah telah mendaftarkan merek tersebut untuk dipatenkan, di Disperindag provinsi Jawa Timur. Namun hingga tahun 2011 masih dalam proses.

Usaha produksi sepatu ini merupakan usaha turun temurun yang dijalani oleh keluarga bapak Muhammad Rofiq sejak tahun 1965. Bapak Muhammad Rofiq merupakan anak ke lima dari lima bersaudara, yang semuanya berprofesi sebagai pengrajin sepatu. Pendidikan terakhir bapak Muhammad Rofiq adalah STM PGRI 7 Surabaya. Sedangkan pendidikan terakhir ibu Musarofah adalah SMP.

Bapak Muhammad Rofiq termasuk dalam generasi ke tiga yang meneruskan usaha ini. Bapak Muhammad Rofiq mulai menjalankan usahanya pada tahun 1995. Pada mulanya bapak Muhammad Rofiq membuat sepatu anak – anak, namun karena kurang berkembang kemudian beralih membuat sepatu wanita untuk dewasa. Pada saat memulai usahanya, modal awal yang dimiliki bapak Muhammad Rofiq sebesar Rp 2.000.000 (dua juta rupiah). Modal tersebut berasal dari orang tuanya. Kemudian bapak Muhammad Rofiq mendapatkan order pertama berupa sepatu anak – anak sebanyak sepuluh kodi. Pada saat itu harga per kodi sepatu anak – anak sebesar Rp 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah).

Bapak Muhammad Rofiq merupakan anggota dari koperasi Semiwangi. Terkadang bapak Muhammad Rofiq memang membeli bahan secara kredit di koperasi ini tetapi lebih sering membeli bahan di toko milik saudaranya, yang memang menyediakan bahan – bahan untuk keperluan produksi sepatu.

4.2.5 UMK Milik Bapak M. Nasir

Bapak M. Nasir dan ibu Nurmah merupakan pasangan suami istri sebagai pemilik dan pelaksana usaha di bidang produksi sepatu wanita dewasa (lihat lampiran 24). Omset penjualan usaha produksi bapak M. Nasir dan ibu Nurmah mencapai 14.400 pasang per tahun dengan nominal sebesar Rp 172.800.000 (seratus tujuh puluh dua juta delapan

ratus ribu rupiah) (lihat lampiran 3). Usaha bapak M. Nasir ini tidak mempunyai nama tertentu. Merek sepatu yang digunakan pun bermacam – macam, bergantung kepada merek apa yang dijual di toko bahan baku sepatu yang ada di Jalan Kramat Gantung Surabaya ataupun yang ada di Wedoro. Namun merek yang sering digunakan oleh Bapak M. Nasir untuk sepatu hasil produksinya adalah “Vario”.

Bapak M. Nasir masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Bapak Su’udi. Bahkan tinggal dalam satu rumah. Bapak M. Nasir adalah kakak ipar dari Bapak Su’udi. Pada mulanya Bapak M. Nasir tidak mempunyai keahlian apapun dibidang pembuatan sepatu. Namun setelah menikah dengan Ibu Nurmah yang merupakan kakak kandung dari Bapak Su’udi, Bapak M. Nasir mulai belajar membuat sepatu.

Bapak M. Nasir mulai belajar membuat sepatu dengan cara menjadi tukang pembuat sepatu di tahun 1993. Sepatu yang beliau buat adalah sepatu anak – anak. Setelah cukup lama membuat sepatu anak – anak, beliau lalu mencoba membuat sepatu untuk ukuran dewasa. Bapak M. Nasir kemudian mengumpulkan uang dari hasilnya bekerja. Setelah terkumpul sebanyak Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah), beliau mulai mencoba untuk membangun usahanya sendiri. Bapak M. Nasir membeli sendiri bahan baku untuk membuat sepatu. Hingga tahun 1999 Bapak M. Nasir terus membuat sepatu anak – anak. Barulah pada tahun 2000 beliau membuat sepatu wanita untuk dewasa. Harga jual yang lebih

tinggi menjadi alasan tersendiri bagi Bapak M. Nasir untuk beralih ke sepatu wanita dewasa.

Tahun 1998 merupakan tahun keemasan bagi Bapak M. Nasir. Menurut keterangan Bapak M. Nasir, dalam jangka waktu satu tahun saja, beliau mampu meraup untung hingga Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah). Namun harga bahan baku yang tinggi dan ketatnya persaingan usaha membuat keuntungan yang didapat saat ini tidak sebanyak tahun – tahun sebelumnya. Meskipun demikian hingga tahun 2011 ini, usaha produksi Bapak M. Nasir masih tetap berjalan dengan lancar.

Dokumen terkait