• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prognosis pada gigi yang mengalami intrusi

Intrusi merupakan salah satu trauma luksasi gigi yang paling sulit dan jarang terjadi. Jarangnya kasus intrusi mengakibatkan terbatasnya penelitian-penelitian yang mendukung metode perawatan yang tepat. Sampai saat ini perawatan yang optimal dari luksasi intrusi selalu menjadi kontroversi, dan keberhasilannya masih diperdebatkan karena kompleksnya komplikasi yang terjadi pasca perawatan.

Intrusi yang berat dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan pulpa, jaringan periodontium, neurovaskular, dan keadaaan ini mengakibatkan komplikasi pasca perawatan seperti nekrosis pulpa, resorbsi akar eksternal, resorbsi inflamasi, resorbsi pengganti, kalsifikasi pulpa, dan hilangnya tulang marginal. Terdapat beberapa penelitian menyatakan bahwa intrusi mencapai 3 mm masih mempunyai prognosis yang baik, tetapi apabila lebih dari 6 mm memiliki prognosis yang buruk (Punta dkk, 2013).

Pada kasus ini, disebutkan intrusi yang terjadi mencapai 5 mm maka dapat dikatakan prognosisnya baik karena belum lebih dari 6mm. Pada kasus juga menyebutkan bahwa pasien telah melakukan follow-up selama 8 tahun, yang menujukkan pasien tersebut kooperatif sehingga dapat membawa ke prognosis baik.

22 4.5.2 Prognosis pada gigi yang mengalami fraktur akar horizontal

Menurut Andreasen dan Hjorting — Hansen, fraktur akar dapat mengalami penyembuhan dengan cara berikut (Garg dkk, 2010; Malhotra dkk, 2011):

1. Penyembuhan dengan kalsifikasi pada jaringan, dimana fragmen fraktur berada berdekatan (Gambar 3A). Penyembuhan ini jarang terjadi.

2. Penyembuhan dengan interposisi jaringan ikat, dimana secara radiografi fragmen tampak dipisahkan oleh garis radiolusen (Gambar 3B).

penyembuhan jenis ini lebih sering terjadi

3. Penyembuhan dengan interposisi tulang dan jaringan ikat. Fragmen yang retak terlihat dipisahkan oleh jembatan tulang yang nyata secara radiografis (Gambar 3C).

4. Interposisi jaringan granulasi tanpa penyembuhan, secara radiografi menunjukkan pelebaran pada garis fraktur (Gambar 3D).

Gambar 5. A) Penyembuhan dengan kalsifikasi pada jaringan, B) penyembuhan dengan jaringan ikat, C) penyembuhan dengan interposisi tulang dan jaringan ikat,

D) interposisi jaringan granulasi tanpa penyembuhan (Garg dkk, 2010)

23 Apabila dikaitkan dengan laporan kasus, berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa jenis penyembuhan yang terjadi pada fraktur akar horizontal gigi insisivus lateral maksila kiri adalah penyembuhan dengan interposisi tulang dan jaringan ikat. Pada penyembuhan ini tulang baru akan berkembang di antara segmen-segmen yang fraktur jika terjadi pemisahan dan mobilitas. Permukaaan fraktur dibatasi oleh sementum dengan ligament periodontal baru yang berkembang di antara gigi dan tulang baru.

Hasil pengamatan secara histologis menunjukkan bahwa perbaikan yang terjadi terdiri dari deposisi jaringan keras. Terdapat bukti resorpsi dentin pada permukaan fraktur, dilanjutkan dengan aposisi jaringan keras termineralisasi seluler yang tampak berasal dari ligament periodontal. Pada kasus dimana fragmen-fragmen yang letaknya berdekatan, jaringan ikat yang rapat akan menempati ruang fraktur. Ketika fragmen terpisah lebih jauh lagi, ruang fraktur akan diisi dengan sel mineral jaringan ikat atau tulang yang dikelilingi dengan jaringan ikat. Fragmen gigi menunjukkan terjadi sejumlah besar pengurangan saluran pulpa karena aposisi jaringan keras termineralisasi seluler pada dinding saluran. Jaringan pulpa tampak vital dan tidak mengalami inflamasi dalam kasus penyembuhan, meskipun tidak ada lapisan odontoblas di sebagian besar bagian (Herweijer, et al., 1992).

Prognosis pada gigi yang mengalami fraktur horizontal tergantung pada (Garg dkk, 2010; Malhotra dkk, 2011):

1. Jumlah dislokasi dan tingkat mobilitas segmen koronal

24 Jarak pergeseran dan derajat mobilitas mempengaruhi prognosis. Semakin berat dislokasi maka prognosis semakin buruk, karena fraktur semakin sulit diperbaiki dan pulpa telah rusak

2. Tahap perkembangan gigi

Semakin immature gigi, semakin baik kemampuan pulpa untuk pulih dari trauma karena banyak suplai darah pada gigi yang muda atau immature.

3. Status pulpa

Pulpa yang vital dan sensibilitas pulpa positif pada saat trauma berhubungan dengan cepatnya penyembuhan dan perbaikan jaringan keras yang fraktur.

Hampir pada semua kasus, pulpa pada segmen apikal gigi yang fraktur tetap vital.

4. Posisi garis fraktur

Fraktur pada sepertiga tengah merupakan fraktur yang memiliki prognosis terbaik. Tetapi, prognosis penyembuhan dengan jaringan keras buruk jika garis fraktur sangat dekat dengan puncak gingiva.

5. Hubungan dengan rongga mulut

Jika terdapat celah antara sulkus gingiva dan daerah yang mengalami fraktur, maka prognosis buruk karena adanya kontaminasi bakteri.

6. Jenis kelamin

Penyembuhan dengan jaringan keras lebih sering terjadi pada perempuan daripada laki-laki karena perempuan jarang mengalami trauma.

25 Berdasarkan urairan di atas, fraktur akar horizontal yang terjadi pada kasus memiliki prognosis yang baik karena terjadi di daerah sepertiga tengah akar, tidak ada resorpsi akar, dan adanya respon positif terhadap tes sensibilitas pulpa.

26 BAB V

KESIMPULAN

Kasus ini menunjukkan stabilitas selama 8 tahun, dengan estetika dan fungsi gigi tetap terjaga. Tindak lanjut klinis dan radiografi jangka panjang diperlukan untuk prognosis pasca trauma. Pemeliharaan gigi pasca trauma memiliki dampak langsung pada kualitas hidup pasien, memulihkan keadaan psikologis dan emosional pasien.

27 DAFTAR PUSTAKA

Aghdash, S.A., Azar, F.E., Azar, F.P., Rezapour, A., Joo, M.M., Moosavi, A., Oskouei, S.G., 2015, Prevalence, Etiology, and Types of Dental Trauma in Children and Adolescents: Systematic Review and Meta-Analysis, Med J Islam Repub Iran, 29(234):1-13.

DiAngelis, A. J., dkk, 2012, International association of dentaltraumatology guidelines for the managementof traumatic dental injuries: fractures andluxations of permanent teeth, Dental Traumatology, 28: 2-12.

Dorland, W. A.N. 2002, Kamus kedokteran Dorland. 29th ed. Terjemahan H.

Hartanto dkk. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal. 12.

Garg, N., dkk. 2010. Text book of Endodontics. 2th Ed. Jaypee Brother Medical Publisher : New Delhi. hal. 422.

Herweijer, dkk. 1992. Healing of Horizontal Root Fractures. Journal of Endodontics, 18(3), 118-122.

Malhotra, N., Kundabala, M., Acharaya, S., 2011, A Review of Root Fractures:

Diagnosis, Treatment, and Prognosis, Restorative Dentistry, hal. 615-628.

Pagadala, Sasikala, Deepti, C.T., 2015. An Overview of Classification of Dental Trauma. Maharashtra, India, hal. 157-164.

28 Punta, B., Silvy, D. M., 2013, Endodontic Treatment of Surgical Repositioned Traumatically-Intruded Maxillary Incisors Permanent Teeth, Journal of Dentistry Indonesia, 2013, 20(2): 51-56.

Riyanti, E., 2010, Penatalaksanaan Trauma Gigi Pada Anak, Bagian Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Pustaka Unpad, Sumedang, hal. 14.

Schuurs, A.H.B. dkk. 1992, Patologi gigi-geligi: Kelainan-Kelainan Jaringan Keras Gigi. Terjemahan S. Suryo. Yogyakarta : Gadjah Mada University

Press. hal. 20.

Syarifah, T. R., 2008, Perawatan Ekstruksi dan Intrusi Gigi Permanen Anak Akibat Traumatik Injuri, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, USU e-Respository, Medan, hal. 17.

Zaleckiene, V., Peciuliene, V., Brukiene, V., Drukteinis, S., 2014, Traumatic Dental Injuries: Etiology, Prevalence, and Possible Outcomes, Baltic Dental and Maxillofacial Journal, 16(1): 7-14.

Dokumen terkait