• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Bimbingan Pribadi-Sosial Untuk Meningkatkan Kontrol diri Remaja yang Mengalami Kecanduan Internet

Program bimbingan pribadi-sosial adalah suatu rencana kegitan untuk memberikan layanan bantuan kepada peserta didik dalam memantapkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik menangani masalah-masalah diri dan

memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menangani masalh-masalah pribadi-sosial (Nurihsan dan Sudianto, 2005: 13).

Layanan bimbingan pribadi sosial ditujukan untuk pencapaian pribadi yang mantap dengan memperhatikan keunikan dan bidang-bidang permasalahan yang dialami oleh peserta didik.

Syamsu yusuf (2004: 209) menjelaskan remaja sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming). yaitu berkembang kearah kematangan atau kemandirian. proses perkembangan remaja tidak selalu berkembang secara mulus, atau bebas dari masalah. Artinya, proses perkembangan tidak selalu berjalan searah dengan potensi, harapan, dan nilai-nilai yang dianut.

Masa remaja dikarakteristikan dalam dua hal yang berbeda. Pertama, masa remaja sebagai suatu periode yang dipenuhi oleh ketertarikan, perkembangan, pengalaman, serta mengarah kepada dewasa muda yang produktif. Kedua, masa remaja merupakan periode yang penuh konflik dan juga bermasalah dalam keluarga yang memungkinkan terjadinya disfungsi dan juga pengasingan diri (Essau, 2008).

Hurlock (1990) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa dimana individu mulai mengembangkan hubungan interpersonal dengan lingkungannya dan mulai melepas diri dari ketergantungan terhadap keluarga. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Namun, komunikasi yang terjadi mengalami perubahan dimana komunikasi yang dahulunya bertatap muka secara langsung kemudian berubah menjadi komunikasi dunia maya atau internet,

yaitu melalui jejaring sosial (Fa, 2009). Saat ini salah satu jejaring sosial yang digermari adalah Facebook.

Facebook menawarkan beberapa jenis fasilitas, mulai dari mengirimkan komentar, berbagi foto, video, dan catatan. Fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh Facebook dianggap lebih lengkap dan memenuhi selera masyarakat sehingga banyak pengguna friendtster beralih ke Facebook (Gunawan, 2009). Melalui Facebook, individu dapat mencari teman-teman yang sudah lama tidak ditemuinya maupun menjalin hubungan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia.

Kebayakan pengguna facebook adalah kaum remaja (Gen, 2009). Banyak alasan remaja memilih Facebook sebagai bagian dari aktivitasnya, di antaranya adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu agar dikatakan gaul dan tidak ketinggalan zaman. Selain itu, berkomunikasi melalui Facebook juga dapat dipandang sebagai strategi coping. Melalui Facebook remaja dapat curhat dengan teman-teman di dunia maya untuk meringankan beban yang dimiliki.

Kemudahan-kemudahan yang diberikan Facebook ternyata membuat beberapa individu mengalami kecanduan internet. Individu yang mengalami kecanduan biasanya akan merasa bahwa dunia maya di layar komputernya lebih menarik dibandingkan dengan kehidupan nyata sehari-hari (Orzack dalam Mukodim, Ritandiyono & Sita, 2004). Durasi waktu yang digunakan bermain internet juga semakin bertambah. Berdasarkan penelitian Young (dalam Essau, 2008), orang yang mengalami kecanduan internet biasanya menghabiskan waktu selama 5 jam dalam sehari, dan biasanya durasi ini akan bertambah agar individu mendapat efek perubahan dari perasaan.

Individu yang telah kecanduan jejaring sosial, seperti Facebook, terlalu asik dengan dunianya sendiri sehingga tidak perduli dengan orang lain dan lingkungan di sekitar. Remaja yang telah mengalami kecanduan akan merasakan ketidaknyamanan dan stress ketika perilaku ditunda atau dihentikan (Mark, Murray, Evans, & Willig, 2004). Remaja yang kecanduan tampak dari kegiatannya setiap hari yang selalu mencari-cari kesempatan agar dapat memainkan Facebook yang dimilikinya, sehingga lupa akan tugas, waktu, sekolah, dan kewajiban-kewajiban lain.

Kecanduan dipandang sebagai kelemahan yang dimiliki remaja karena kurang memiliki motivasi dan kontrol (Griffiths dalam Essau, 2008). Mark, Murray, Evans, & Willig (2004) juga menyatakan bahwa salah satu penyebab individu mengalami kecanduan disebabkan adanya kegagalan dalam melakukan kontrol terhadap perilaku. Kontrol diri merupakan kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif (Goldfried & Merbaum dalam Lazarus, 1976). Pada individu yang mengalami kecanduan, individu mengalami kurangnya kontrol diri sehingga mengabaikan kehidupan sosial maupun kewajiban-kewajiban lainnya. Hal ini sejalan dengan Young (1996) yang menyatakan bahwa penggunaan internet yang berlebihan dihubungkan dengan kerusakan yang signifikan terhadap bidang sosial, psikologis dan pekerjaannya.

Masa-masa remaja ditandai dengan emosi yang mudah meletup atau cenderung untuk tidak dapat mengkontrol dirinya sendiri. Kontrol diri sangat diperlukan karena dorongan-dorongan dan nafsu keinginan-keinginan semakin

menggejolak, terutama dorongan seksual dan agresivitas pada remaja. Jika seorang remaja tidak dapat mengontrol dirinya dengan baik, maka remaja akan dikuasasi oleh dorongan dan keinginan yang menyebabkan timbulnya kenakalan-kenakalan pada remaja. Elijati (dalam Dyah, 2009) berpendapat bahwa gangguan kontrol diri pada remaja yang menimbulkan kecanduan pada internet merupakan gangguan yang dideskripsikan sebagai gangguan kontrol pada hasrat atau keinginan untuk mengakses internet atau internet tanpa melibatkan penggunaan obat atau zat aditif.

Untuk mengatasi masalah remaja dalam hal perilaku kecanduan internet, maka remaja tersebut memerlukan bimbingan dan arahan agar dapat meningkatkan kontrol diri yang positif sehingga tidak terjebak pada perilaku kecanduan internet. Bimbingan ataupun arahan tersebut dapat diperolehnya dari lngkungan sekolah melalui guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah, selain itu juga dapat diperoleh melalui orang tua di lingkungan keluarga.

Sebagian besar remaja menghabiskan banyak waktunya di lingkungan sekolah. Oleh karena itu lingkungan sekolah diharapkan dapat menjalankan fungsinya secara penuh untuk memunkinkan para siswa mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Permasalahan yang dialami siswa disekolah tidak dapat dihindari. dalam kaitan ini permasalahan siswa yang tidak dapat dibiarkan misalnya mengenai rendahnya kontrol diri yang menyebabkan menjadi peningkatan pada perilaku kecanduan internet pada remaja.

salah satu upaya bimbingan dan konseling untuk mencegah dan menanggulangi perilaku kecanduan internet pada remaja adalah dengan meningkatkan kontrol diri yang dimiliki remaja. upaya yang dapat dilakukan adalah:

a. Membuat program bimbingan dan konseling yang menekankan pada aspek kesadaran diri agar remaja dapat memahami, mengarahkan diri dan mengembangkan kemampuannya untuk menesuaikan diri sesuai dengan tuntutan lingkungan.

b. Membimbing dan mengarahkan remaja yang memiliki kecenderungan kontrol diri negatif sehingga dapat berubah kecenderungannya menjadi kontrol diri positif yang pada akhirnya remaja mampu menghadapi pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan, memiliki daya juang yang tinggi serta memiliki sikap yang bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang dialami.

c. Melibatkan para siswa dalam berbagai kegiatan sekolah, dengan demikian remaja dapat belajar memahami posisi dirinya dan orang lain dalam suatu lingkungan.

Remaja yang mengalami kecanduan internet memerlukan upaya bantuan bimbingan pribadi dan sosial yang bersifat responsif. pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan.

Bimbingan Pribadi-sosial adalah untuk membantu para individu melakukan pencegahan dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada pribadi sosialnya. Masalah yang akan muncul misalnya masalah hubungannya dengan teman sebaya, dengan guru, dan para staf, sehingga pemahaman sifat, kemampuan diri, dan penyesuaian diri dengan lingkungan harus tepat, baik dalam lingkungan pendidikan, masyarakat, tempat tinggal, dan penyelesaian konfliknya.

sehingga pada intinya Bimbingan pribadi-sosial diarahkan untuk memantapkan kepribadiannya dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dalam dirinya dan sosialnya ( Yusup dan Nurihsan, 2005:11).

Bimbingan pribadi-sosial merupakan bimbingan yang diberikan kepada individu dalam menghadapi keadaan batin dan mengatasi sebagai pengumulan dalam batin individu itu sendiri serta dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama diberbagai lingkungan atau pergaulan sosialnya.

Program bimbingan pribadi-sosial untuk meningkatkan kontrol diri remaja yang mengalami kecanduan internet merupakan suatu program atau rencana kegiatan untuk memberikan layanan bantuan kepada peserta didik agar mampu mengatasi masalahnya sendiri yang berkaitan dengan kontrol diri dan perilaku kecanduan internet.

Dokumen terkait