BAB II
PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL DAN KONTROL DIRI REMAJA YANG MENGALAMI KECANDUAN INTERNET
A. Program Bimbingan Pribadi-Sosial
1. Pengertian Bimbingan Pribadi–Sosial
Menurut pandangan Shertzer dan Stone (Winkel, 1997: 1), bimbingan diartikan sebagai proses membantu orang perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya (the process of helping individuals to understand themselves and their world). Sunaryo Kartadinata (Nurihsan dan Yusuf, 2005: 6), mengartikan bimbingan semembantu sebagai proses individu untuk mencapai perkembangan optimal. Menurut Rochman Natawidjaja, bimbingan adalah suatu proses pemeberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memehami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, masyarakat, dan kehidupan pada umumnya ( Nurihsan dan yusuf, 2005:6).
Nurihsan dan Yusuf (2005:6) mengemukakan bahwa bimbingan merupakan suatu proses, yang berkesinambungan, bukan kegiatan yang seketika atau kebetulan. Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan. Bimbingan merupakan “helfing”, yang identik dengan “aiding, assisting, atau availing”, yang
berarti bantuan atau pertolongan. makna bantuan dalam bimbingan menunjukan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah individu.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu untuk dapat berkembang secara optimal melalui tahapan yang berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan.
Bimbingan pribadi-sosial adalah salah satu dari empat ragam bimbingan.
Menurut Winkel ( 1997: 142), bimbingan pribadi sosial berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagi pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam mengatur dirinya sendiri dibidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya; serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama diberbagai lingkungan (pergaulan sosial).
Dalam perkembangan perilaku kecanduan internet pada remaja yang kaitannya juga dengan rendahnya kontrol diri, layanan yang diberikan termasuk ke dalam layanan bimbingan pribadi-sosial. Bimbingan pribadi-sosial membantu individu dalam menenyelesaikan masalah-masalah pribadi-sosial dalam mementapkan dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya (Yusuf dan Nurihsan, 2005: 10-12). Bimbingan pribadi- sosial membantu individu untuk mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah- masalah pribadi-sosial yang berkaitan dengan perilaku kecanduan internet.
Layanan bimbingan pribadi-sosial mengarah pada pencapaian pribadi yang mantap dengan memperhatikan keunikan dan bidang-bidang permasalahan yang dialami individu. Bimbingan pribadi-sosial berupaya mengembangkan kemampuan individu untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah pribadi- sosial dengan cara menciptakan lingkungan interaksi pendidikan yang kondusif, mengembangkan sistem pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan pribadi-sosial (Nurihsan dan Sudianto,2005:13).
2. Tujuan Bimbingan Pribadi- Sosial
Secara umum, tujuan bimbingan adalah perkembangan inividu yang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Menurut Nurihsan dan Yusuf (2005: 13), tujuan pemberian layanan bimbingan adalah agar individu dapat:
a. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang.
b. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinga seoptimal mungkin.
c. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
d. Mengatasi hambatan diri dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Secara khusus tujuan bimbingan pribadi-sosial hyang dikemukakan oleh Nurihsan dan Yusuf ( 2005 : 14) adalah sebagi berikut.
a. Memilki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah tempat kerja, maupun tempat kerja pada umumnya.
b. Memilki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
d. Memilki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan;
baik fisik maupun psikis.
e. Memiliki sikap positif atau resfek terhadap diri sendiri dan orang lain.
f. Memilki kemampuan melakukan pilihan secara sehat.
g. Memilki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
h. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan atau silaturahmi dengan sesama manusia.
i. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik konflik yang bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun konflik dengan orang lain.
j. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara sehat
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, remaja harus mendapatkan kesempatan untuk:
a. Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembagannya.
b. Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya.
c. Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut.
d. Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri.
e. Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya dan masyarakat.
f. Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.
g. Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara tepat dan teratur secara optimal.
3. Fungsi Bimbingan
Ada tujuh fungsi bimbingan menurut Nurihsan dan Yusuf ( 2005: 16-17) yaitu:
a. Pemahaman, yaitu membantu peserta didik agar memiliki pemahan terhadap dirinya dan lingkungannya.
b. Preventif, yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya unruk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik (siswa).
c. Pengembangan, yaitu konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan siswa.
d. Perbaikan (penyembuhan), yaitu upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
e. Penyaluran, yaitu membantu individu memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
f. Adaptasi, yaitu membantu para pelaksana pendidikan khususnya konselor, guru atau dosen untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa.
g. Penyesuaian, yaitu membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan, peraturan sekolah atau norma agama.
4. Prinsip-Prinsip Bimbingan
Terdapat enam prinsip dasar sebagai landasan pemberian layanan bimbingan (Nurihsan dan Yusuf, 2005: 17-18). Prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut:
a. Bimbingan diperuntukan bagi semua individu
Bimbingan diberikan kepada semua individu, baik yang bermasalah maupun yang tidak bermasalah; baik pria maupun wanita. Pendekatan yang digunakan dalam bimbingan pun lebih bersifat preventif dan pengembangan daripada penyembuhan; dan lebih diutamakan menggunakan teknik kelompok daripada perseorangan.
b. Bimbingan bersifat individualisasi
Fokus sasaran bantuan adalah individu, meskipun layanan bimbingannya merupakan teknik kelompok.
c. Bimbingan menekankan hal positif
Bimbingan merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
d. Bimbingan merupakan usaha bersama
Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor sekolah, tetapi juga tugas semua unsur yang ada di sekolah, sebagai teamwork.
e. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan
Bimbingan diarahkan untuk membantu individu agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan individu untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan sendiri.
f. Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting kehidupan
Pemberian layanan bimbingan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dilingkungan keluarga, perusahaan/industry, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya.
5. Jenis Layanan Bimbingan
Berdasarkan fungsi dan prinsip bimbingan, terdapat empat jenis layanan utama dalam bimbingan dan konseling (Nurihsan, 2005: 27), yaitu:
a. Layanan dasar bimbingan
Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh peserta didik mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan peserta didik.
b. Layanan responsif
Layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini bersifat preventif atau mungkin kuratif.
c. Layanan perencanaan individual
Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu seluruh peserta didik membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan sosial-pribadinya.
d. Dukungan sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan.
6. Program Bimbingan Pribadi-Sosial
Dalam masalah perilaku kecanduan internet pada remaja karena rendahnya kontrol diri, layanan yang diberikan adalah lebih pada bimbingan pribadi-sosial.
Bimbingan pribadi-sosial membantu individu dalam menyelesaikan masalah- masalah pribadi-sosial dalam mementapkan dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya ( Yusuf dan Nurihsan, 2005:
10-12 ). Menurut Winkel (1997: 142), bimbingan pribadi-sosial berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri, serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan (pergaulan sosial).
Program adalah rencana kegiatan yang disusun secara operasional dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan pelaksanaannya (Suherman dan Sudrajat, 1998: 1). Program yang berkaitan dengan dengan
pembinaan siswa di sekolah adalah program bimbingan. Program bimbingan (guidance program), yaitu suatu rangkaian kegiatan bimbingan yang terencana, yang terorganisir, dan terorganisasi selama periode waktu tertentu, misalnya satu tahun ajaran (Winkel, 1997: 119). Jadi, program bimbingan pribadi-sosial adalah suatu rencana kegiatan untuk memberikan layanan kepada peserta didik dalam memantapkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik menangani masalah-masalah diri dan masalah sosial yang dihadapinya untuk dilaksanakan selama periode waktu tertentu.
Menurut Suherman dan Sudrajat (1998: 33) penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah harus memperhatikan beberapa dimensi, yaitu:
a. Dimensi kebutuhan atau masalah siswa
Program bimbingan disusun sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi siswa. Dalam penelitian ini, kebutuhan dan masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan kontrol diri dan perilaku kecanduan internet dalam lingkup masalah pribadi-sosial.
b. Dimensi fungsi pelayanan
Program bimbingan di sekolah hendaknya disusun sesuai dengan fungsinya.
c. Dimensi jenis pelayanan
Dalam penyusunannya program bimbingan hendaknya memperhatikan batas-batas kemungkinan pelayanan. Sehingga jenis layanan yang diprogramkan dapat mendukung fungsi dan pencapaian tujuan bimbingan.
d. Dimensi sarana atau fasilitas
Sarana dan fasilitas merupakan salah satu faktor yang mendukung pelaksanaan program bimbingan di sekolah. Sarana-sarana tersebut diantaranya adalah sarana fisik, seperti ruang bimbingan dan perlengkapannya; sarana teknis, seperti alat pengumpul data, alat penyimpan data, sarana teknis pelayanan layanan, dan sarana tata laksana bimbingan; dan anggaran pelaksanaan program bimbingan.
e. Dimensi personel
Pelaksanaan program bimbingan di sekolah merupakan tanggungjawab seluruh unsur yang ada di sekolah. Bimbingan ini menjadi tugas dan tanggungjawab semua staf yang ada di sekolah. Program bimbingan dalam teamwork akan berhasil apabila setiap personel mengetahui posisi masing- masing berikut wewenang dan tanggungjawabnya.
f. Dimensi organisasi
Program bimbingan akan berjalan dengan baik dan mencapai tujuannya jika dilaksanakan dalam organisasi yang teratur, mekanisme yang mantap, jelas dan tegas diantara pihak-pihak yang terlibat.
Program bimbingan yang baik adalah suatu bentuk program bimbingan apabila dilaksanakan di sekolah memiliki efisiensi dan efektifitas yang optimal.
Sehubungan dengan hal itu, Miller (Su) mengemukakan bahwa:
a. Program bimbingan hendaknya dikembangkan secara bertahap dengan melibatkan semua unsur atau staf sekolah dalam perencanaannya.
b. Program bimbingan hendaknya memiliki tujuan yang ideal dan realitas dalam pelaksanaannya.
c. Program bimbingan hendaknya mencerminkan komunikasi yang kontinyu antara semua unsur atau staf sekolah yang bersangkutan.
d. Program bimbingan hendaknya menyediakan atau memiliki fasilitas yang diperlukan.
e. Program bimbingan hendaknya hendaknya memberikan pelayanan kepada semua siswa.
f. Program bimbingan hendaknya menunjukan peranan yang signifikan dalam menghubungkan dan memadukan sekolah dan masyarakat.
g. Program bimbingan hendaknya memberikan kesempatan untuk melaksanakan penilaian terhadap diri sendiri.
h. Program bimbingan hendaknya menjamin keseimbangan pelayanan bimbingan dalam hal:
1) Pelayanan kelompok dan perorangan
2) Pelayanan yang diberikan oleh berbagai jenis petugas bimbingan 3) Studi perorangan dan konseling perorangan
4) Penggunaan instrumentasi atau teknik pengumpul data yang objektif dan subjektif
5) Pemberian jenis-jenis bimbingan
6) Pemberian bimbingan tentang berbagai program sekolah
7) Penggunaan sumber-sumber di dalam maupun di luar sekolah yang bersangkutan
8) Kebutuhan perorangan dan kebutuhan masyarakat luas 9) Kesempatan untuk berpikir, merasakan dan berbuat
Menurut Suherman dan Sudrajat (1998: 55), bimbingan sebagai kegiatan besar yang bertujuan membantu perkembangan siswa dalam mencapai tujuan hidup dan kehidupannya, memerlukan perencanaan yang matang. Untuk itulah penyusunan program bimbingan dapat dilakukan dengan langkah-langkah:
a. Pendataan
Langkah pertama dalam penyusunan program bimbingan. Analisa data yang dilakukan dalam pendataan ini, berdasarkan hasil evaluasi, aspirasi, ataupun hasil analisis kebutuhan siswa saat ini.
b. Penyusunan rumusan rencana
Penyusunan rumusan rencana ini mencakup tujuan dan sasaran kegiatan;
ruang lingkup kegiatan, penyususnan staf, koordinasi, pengarahan, pengawasan dan pelaporan; waktu pelaksanaan; dan penyiapan anggaran.
c. Pengajuan rumusan rencana
Rumusan rencana tersebut diajukan kepada semua staf sekolah, termasuk orang tua dan masyarakat.
d. Pelaksanaan program
Bila rencana program telah disetujui dan dapat dijadikan program, maka pelaksanaan program harus sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan tidak menyimpang dari garis kebijaksanaan.
B. Konsep Kontrol Diri 1. Definisi Kontrol Diri
Calhoun dan Acocella (1990) mendefinisikan kontrol diri (self-control) sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang;
dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Goldfried dan Merbaum (dalam Lazarus, 1976), mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Selain itu kontrol diri juga menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan (Lazarus, 1976).
Harter (dalam Sarafino, 2006) menyatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat suatu sistem pengaturan diri (self-regulation) yang memusatkan perhatian pada pengontrolan diri (self-control). Proses pengontrolan diri ini menjelaskan bagaimana diri (self) mengatur dan mengendalikan perilaku dalam menjalani kehidupan sesuai dengan kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku.
Jika individu mampu mengendalikan perilakunya dengan baik maka ia dapat menjalani kehidupan dengan baik baik.
Menurut Goldfiled dan merbaum (dalam Sarafino, 2006) kontrol diri diartikan sebagai kemampuan individu untuk menyususn, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. kontrol diri juga dapat diartikan sebagai perasaan bahwa seseorang dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk menghasilkan akibat yang diinginkan dan menghindari yang tidak diinginkan.
Chaplin (2002 : 405) meyatakan bahwa kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri, kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku impulsive. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Burger (1989) yang mendefinisukan kontrol diri sebagai kemampuan yang dirasakan dapat mengubah kejadian secara pasti Karena individu dianggap mempunyai kemampuan dalam mengelola perilakunya.
Kontrol diri diartikan Papalia (2004) sebagai kemampuan individu untuk menyesuaikan tingkah laku dengan apa yang dianggap diterima secara sosial oleh masyarakat. Wallston (dalam Sarafino, 2006) menyatakan bahwa kontrol diri adalah perasaan individu bahwa ia mampu untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan.
Ketika berinteraksi dengan orang lain, individu akan berusaha menampilkan perilaku yang dianggap paling tepat bagi diri individu. Calhoun dan Acocella (1990), mengemukakan dua alasan yang mengharuskan individu untuk mengontrol diri secara kontinyu. Pertama, individu hidup dalam kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya individu harus mengontrol perilakunya
agar tidak menggangu kenyamanan orang lain. Kedua, masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya.
Sehingga dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut dibutuhkan pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang.
Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dari dalam dirinya (Hurlock, 1990). Menurut konsep ilmiah, pengendalian emosi berarti mengarahkan energi emosi ke saluran ekpresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial.
Ada dua kriteria yang menentukan apakah kontrol emosi dapat diterima secara sosial atau tidak. Kontrol emosi dapat diterima bila reaksi masyarakat terhadap pengendalian emosi adalah positif. Namun reaksi positif saja tidaklah cukup. Karenanya perlu diperhatikan kriteria lain, yaitu efek yang muncul setelah mengontrol emosi terhadap kondisi fisik dan psikis. Kontrol emosi seharusnya tidak membahayakan fisik dan psikis individu. Artinya, dengan mengontrol emosi kondisi fisik dan psikis individu harus membaik (Hurlock, 1990).
Hurlock (1990) menyebutkan tiga kriteria emosi yang masak sebagai berikut :
a. Dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial.
b. Dapat memahami seberapa banyak kontrol yang dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat.
c. Dapat menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya dan memutuskan cara beraksi terhadap situasi tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kontrol diri adalah kemampuan individu dalam menyusun, membimbing, mengatur , mengarahkan dan mengubah bentuk perilaku melalui pertimbangan kognitif sehingga perilakunya tersebut menuju kea rah yang lebih positif dari sebelumnya.
2. Manifestasi Kontrol Diri
Dalam kehidupan remaja, terdapat tuntutan moral yang harus dilakukan remaja pada umumnya antara lain mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompoknya lalu menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan sosial tanpa bimbingan, pengawasan, motivasi dan ancaman sebagaimana sewaktu kecil.
Remaja juga dituntut mampu mengendalikan tingkah lakunya karena mereka bukan lagi menjadi tanggung jawab orang tua dan guru. Oleh karena itu kontrol diri diperlukan agar remaja dapat mengatur segala bentuk perilakunya.
Kontrol diri dianggap sebagai lawan dari kontrol eksternal. Kontrol diri mengandung pengertian bahwa individu menentukan standar perilaku, ia akan member ganjaran bila memenuhi standard dan sebaliknya ia akan memberi hukuman bila tidak memenuhi standar tersebut. Pada kontrol eksternal, orang lain yang menentukan standard an member ganjaran atau hukuman (Calhoun dan Acocella, 1990: 117).
Theorsen dan Mahoney (Calhoun dan Acocella, 1990) menggambarkan seseorang menggunakan kontrol diri ketika dia dengan sengaja menghindari perilakunya yang biasa dilakukan atau memberikan kepuasan yang lebih sedikit untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Menurut Calhoun dan Acocella (1990 : 131) kontrol diri diperlukan dengan dua alasan yaitu:
a. Alasan sosial, yaitu individu tidak hidup sendiri tetapi dalam kelompok masyarakat. Individu harus mengontrol perilakunya agar tidak menggangu ketentraman sosial atau melanggar kenyamanan dan keamanan orang lain.
b. Alasan personal, yaitu bahwa kontrol diri dibutuhkan individu untuk belajar mengenal kemampuan, kebaikan dan hal-hal lain yang diinginkan dari kebudayaannya. Masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih tinggi untuk dirinya sendiri.
Individu harus terus menerus belajar mengontrol dorongan-dorongan dalam dirinya.
Menurut Logue (1995) cirri-ciri orang yang mampu mengendalikan dirinya adalah sebagai berikut:
a. Memegang teguh atu tetap bertahan dengan tugas yang seharusnya ia kerjakan, walaupun ia menghadapi banyak gangguan.
b. Mengubah perilakunya sendiri melalui perubahan dari beberapa pengaruh atau norma yang ada.
c. Tidak menunjukan atau melibatkan perilaku yang dipengaruhi oleh kemarahan atau emosional.
d. Bersifat toleran terhadap stimulus yang berlawanan.
3. Perkembangan Kontrol Diri
Sejak individu dilahirkan, mulai dari bayi, menginjakan remaja sampai dewasa, individu tersebut mempelajari banyak hal mengenai dunia sekitarnya.
Dalam melakukan itu, individu berusaha untuk bisa memahami hal-hal penting tentang dirinya. Hal penting dari perkembangan diri adalah diri (self) yang merupakan bagian dari proses terbentuknya kontrol diri (kontrol diri).
Vasta et al (Dyah, 2009) menyatakan bahwa perilaku anak pertama kali dikendalikan oleh kekuaatn eksternal. tindakan mereka diatur oleh perintah dan konsekuensi-konsekuensi dari orang tua dan lingkungannya. Secara perlahan- lahan kontrol eksternal diinternalisasikan sehingga menjadi kontrol internal.
Saat memasuki usia remaja, kemampuan mengontrol diri berkembang seiring dengan kematangan emosi. Remaja dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada akhir masa remaja emosinya tidak meledak dihadapan orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih diterima dan tidak mengganggu orang lain (Hurlock, 1980 : 213).
Berdasarkan teori Piaget, remaja telah mencapai tahap pelaksanaan formal dalam kemampuan kognitif (Hurlock, 1980). Oleh karena itu, remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya.
Kemampuan mengontrol diri yang dimiliki individu berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok darinya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa
harus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam seperti hukuman yang dialami sewaktu anak-anak.
Ketika seorang individu mulai memasuki masa dewasa, ia menjadi individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat (Hurlock, 1980).
4. Jenis-Jenis Kontrol Diri
Block dan Block (Lazarus, 1976: 238) menjelaskan ada tiga jenis kualitas kontrol diri, yaitu:
a. Over control, yaitu kontrol diri yang dilakukan oleh individu secara berlebihan yang menyebabkan individu banyak menahan diri dalam beraksi terhadap stimulus.
b. Under control, merupakan suatu kecenderungan individu untuk melepaskan impuls dengan bebas tanpa perhitungan yang masak.
c. Appropriate control, merupakan kontrol individu dalam upaya mengendalikan impuls secara tepat.
Selanjutnya Sarafino (2006) mengemukakan kontrol diri yang digunakan individu dalam menghadapi suatu stimulus meliputi:
a. Behavioral control, yaitu kemampuan untuk mengambil tindakan konkrit untuk mengurangi akibat dari stressor. Tindakan ini dapat berupa pengurangan intensitas kejadian atau memperpendek durasi kejadian.
b. Cognitive control, yaitu kemampuan untuk menggunakan proses berpikir atau strategi untuk memodifikasi akibat dari stressor. Strategi dapat berupa
penggunaan cara yang berbeda dalam memikirkan kejadian tersebut atau memfokuskan pada pemikiran yang menyenangkan atau netral.
c. Declaration control, yaitu kesempatan memilih antara prosedur alternatif atau tindakan yang dilakukan.
d. Informational control, yaitu kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai kejadian yang menekan, kapan akan terjadi, mengapa, dan apa konsekuensinya. Kontrol informasional dapat memprediksi dan mempersiapkan apa yang akan terjadi dan mengurangi ketakutan seseorang dalam menghadapi sesuatu yang tidak diketahuinya.
e. Retrospective control, yaitu menyinggungkepercayaan mengenai apa atau siapa yang menekan setelah kejadian tersebut terjadi.
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kontrol Diri
Gufron dalam (Dyah, 2009) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol diri terdiri dari faktor internal yaitu dalam diri individu dan faktor eksternal yaitu lingkungan individu.
a. Faktor internal
Faktor internal yang ikut berperan terhadap kontrol diri adalah usia.
Semakin bertambah usia seseorang maka semakin baik kemampuan menggontrol dirinya.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal ini diantaranya adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga terutama orang tua menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang.
Persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orang tua yang semakin demokratis cenderung diikuti tingginya kemampuan mengontrol dirinya. Bila orang tua menerapkan disiplin kepada anaknya secara intens sejak dini dan orang tua tetap konsisten terhadap semua konsekuensi yang dilakukan anak bila ia menyimpang dari apa yang sudah ditetapkan, maka sikap konsisten ini akan diinternalisasi oleh anak dan kemudian akan menjadi kontrol diri baginya.
6. Aspek-Aspek Kontrol Diri
Ada berbagai macam aspek dari kontrol diri. Menurut Averill (Dyah, 2009 : 22) ada tiga aspek kontrol diri, yaitu:
a. Behavioral control, Merupakan kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku ini terbagi menjadi dua komponen, yaitu mengatur pelaksanaan (regulated administration) dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability). Kemampuan mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu diluar dirinya. Individu yang kemampuan mengontrol dirinya baik akan mampu mengatur perilaku
dengan menggunakan kemampuan dirinya dan bila tidak mampu individu akan menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, yaitu mencegah atau menjauhi stimulus, menempatkan tenggang waktu di antara rangkaian stimulus yang sedang berlangsung, menghentikan stimulus sebelum waktunya berakhir, dan membatasi intensitasnya.
b. Cognitive control, Merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri atas dua komponen, yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki oleh individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan.
Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif.
c. Decisional control, Merupakan kemampuan individu untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik
dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.
Berdasarkan uraian dan penjelasan di atas, maka untuk mengukur kontrol diri digunakan aspek-aspek sebagai berikut :
a. Mampu mengontrol perilaku
Kemampuan untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan, dimana terdapat keteraturan untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, apakak oleh dirinya atau orang lain. Individu yang mampu mengontrol dirinya dengan baik akan mampu mengatur perilakunya sesuai dengan kemampuan dirinya dan bila tidak maka individu akan menggunakan sumber eksternal.
b. Mampu mengontrol stimulus
Kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang dapat dikehendaki muncul. Ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu mencegah atau menjauhi stimulus, menghentikan stimulus sebelum berakhir, dan melakukan kegiatan yang dapt mengalihkan perhatian dari stimulus
c. Mampu mengantisipasi peristiwa
Kemampuan individu dalam mengolah informasi dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif. Informasi yang dimiliki individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akan membuat individu mampu mampu mengantisipasi keadaan melalui pertimbangan objektif.
d. Mampu menafsirkan peristiwa
Penilaian yang dilakukan seorang individu merupakan suatu usaha untuk menilai dan menafsirkan suatu keadaan dengan memperhatikan segi-segi positif secara subjektif.
e. Mampu mengambil keputusan
kemampuan seseorang untuk memilih suatu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kemampuan dalam mengontrol keputusan akan berfungsi dengan baik apabila terdapat kesempatan dan kebebasan dalam diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan.
C. Konsep Kecanduan Internet 1. Definisi Kecanduan
Kecanduan menurut Plantinga (dalam Elia, 2009) adalah kelekatan yang kompleks, progresif, berbahaya, dan sering juga melumpuhkan terhadap zat psikoaktif (alkohol, heroin, zat adiktif lainnya) atau perilaku (seks, kerja, judi) dimana individu secara kompulsif mencari perubahan perasaan. Carpenter (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan suatu kondisi dimana individu membutuhkan obat-obatan (misalnya, obat bius) yang meliputi ketergantungan
Griffiths (Essau, 2008) menyatakan bahwa kecanduan merupakan aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol. Sarafino (2006) mendefinisikan kecanduan sebagai suatu kondisi yang diakibatkan karena adanya konsumsi obat-obatan yang berulang-ulang, yang membuat individu tergantung secara fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik terjadi ketika tubuh
telah beradaptasi dengan obat-obatan dan jaringan tubuh tidak lagi berfungsi secara normal. Sedangkan pada ketergantungan psikologis, individu merasa didorong menggunakan obat-obatan untuk mendapatkan efeknya.
Kecanduan merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketergantungan yang dimiliki individu baik secara fisik dan psikologis dalam sebuah aktivitas, meminum minuman keras atau obat-obatan yang berada dibawah kontrol kesadaran. Kecanduan terjadi disebabkan adanya (Mark, Murray, Evans, & Willig, 2004):
a. Keinginan yang kuat untuk selalu terlibat dalam perilaku tertentu (terutama ketika kesempatan untuk terlibat dalam perilaku tertentu tidak dapat dilakukan).
b. Adanya kegagalan dalam melakukan kontrol terhadap perilaku, individu merasakan ketidaknyamanan dan stress ketika perilaku ditunda atau dihentikan.
c. Terjadinya perilaku yang terus-menerus walaupun telah ada fakta yang jelas bahwa perilaku mengarah kepada permasalahan.
Berdasarkan uraian diatas maka kecanduan dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana individu mengalami ketergantungan terhadap perilaku tertentu.
akibat kurangnya kontrol terhadap perilaku sehingga menyebabkan ketidaknyamanan dan stress ketika perilaku tersebut ditunda atau dihentikan.
2. Kecanduan Internet
Kecanduan internet diartikan Young (1998) sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online.
Young (Essau, 2008) juga menyatakan bahwa kecanduan internet sama seperti perilaku kecanduan lainnya, yang berisi tingkah laku yang kompulsif, kurang tertarik terhadap aktivitas-aktivitas yang lain, dan meliputi symptom- symptom fisik dan mental ketika berusaha untuk menghentikan tingkah laku tersebut.
Griffiths (1998) mendefinisikan kecanduan internet sebagai tingkah laku kecanduan yang meliputi interaksi antara manusia dengan mesin tanpa adanya penggunaan obat-obatan. Orzack (dalam Mukodim, Ritandiyono & Sita, 2004) menyatakan bahwa kecanduan internet merupakan suatu kondisi dimana individu merasa bahwa dunia maya di layar komputernya lebih menarik daripada kehidupan nyata sehari-hari.
Kecanduan internet pada anak-anak merupakan simtom psikologis dan berkaitan dengan gangguan fisiologis yang muncul dalam bentuk ketergantungan yang berlebihan terhadap World Wide Web (www). Kecanduan internet disebabkan oleh penggunaan Web jangka panjang, secara bertahap seseorang menjadi terobsesi, sehingga akan mengurangi kemampuannya untuk menghindar dari godaan, dan peningkatan keingininan untuk mengakses internet secara berulangulang.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kecanduan internet adalah tingkah laku kompulsif, kurang tertarik dengan aktivitas lain, merasa bahwa dunia maya di layar komputer lebih menarik sehingga menghabiskan banyak waktu dalam menggunakan internet serta meliputi symptom-symptom fisik dan mental ketika tingkah laku tersebut ditunda atau dihentikan.
3. Dimensi Kecanduan Internet
Griffiths (1998) telah mencantumkan enam dimensi untuk menentukan apakah individu dapat digolongkan sebagai pecandu internet. Dimensi-dimensinya adalah sebagai berikut:
a. Salience. Hal ini terjadi ketika penggunaan internet menjadi aktivitas yang paling penting dalam kehidupan individu, mendominasi pikiran individu (pre- okupasi atau gangguan kognitif), perasaan (merasa sangat butuh),dan tingkah laku (kemunduran dalam perilaku sosial). Individu akan selalu memikirkan internet, meskipun tidak sedang mengakses internet.
b. Mood modification. Hal ini mengarah pada pengalaman individu sendiri, yang menjadi hasil dari bermain internet, dan dapat dilihat sebagai strategi coping.
c. Tolerance. Hal ini merupakan proses dimana terjadinya penigkatan jumlah penggunaan internet untuk mendapatkan efek perubahan dari mood.
d. Withdrawal symptoms. Hal ini merupakan perasaan tidak menyenangkan yang terjadi karena penggunaan internet dikurangi atau tidak dilanjutkan (misalnya, mudah marah, cemas, tubuh bergoyang).
e. Conflict. Hal ini mengarah pada konflik yang terjadi antara pengguna internet dengan lingkungan sekitarnya (konflik interpersonal), konflik dalam tugas lainnya (pekerjaan, tugas, kehidupan sosial, hobi) atau konflik yang terjadi dalam dirinya sendiri (konflik intrafisik atau merasa kurangnya kontrol) yang diakibatkan karena terlalu banyak menghabiskan waktu bermain internet.
f. Relapse. Hal ini merupakan kecenderungan berulangnya kembali pola penggunaan internet setelah adanya kontrol.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan apakah individu dapat dinyatakan mengalami kecanduan internet adalah dengan menggunakan dimensi-dimensi kecanduan internet, yaitu salience, mood modification, tolerance, withdrawal symptom, conflict, dan relapse.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecanduan Internet
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecanduan internet (Young, Pistner, O‟Mara & Buchanan, 1998) adalah:
a. Gender
Gender mempengaruhi jenis aplikasi yang digunakan dan penyebab individu tersebut mengalami kecanduan internet. Laki-laki lebih sering mengalami kecanduan terhadap game online, situs porno, dan perjudian online, sedangkan
perempuan lebih sering mengalami kecanduan terhadap chatting dan berbelanja secara online.
b. Kondisi psikologis
Survey di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 50% individu yang mengalami kecanduan internet juga mengalami kecanduan pada hal lain seperti obat-obatan terlarang, alkohol, rokok dan seks. Kecanduan internet juga timbul akibat masalah-masalah emosional seperti depresi dan gangguan kecemasan dan sering menggunakan dunia fantasi di internet sebagai pengalihan secara psikologis terhadap perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan atau situasi yang menimbulkan stress. Berdasarkan hasil survey ini juga diperoleh bahwa 75% individu yang mengalami kecanduan internet disebabkan adanya masalah dalam hubungannya dengan orang lain, kemudian individu tersebut mulai menggunakan aplikasi-aplikasi online yang bersifat interaktif seperti chat room dan game online sebagai cara untuk membentuk hubungan baru dan lebih percaya diri dalam berhubungan dengan orang lain melalui internet.
c. Kondisi sosial ekonomi
Individu yang telah bekerja memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kecanduan internet dibandingkan dengan individu yang belum bekerja. Hal ini didukung bahwa individu yang telah bekerja memiliki fasilitas internet di kantornya dan juga memiliki sejumlah gaji yang memungkinkan individu tersebut memiliki fasilitas komputer dan internet juga dirumahnya.
d. Tujuan dan waktu penggunaan internet
Tujuan menggunakan internet akan menentukan sejauhmana individu tersebut akan mengalami kecanduan internet, terutama dikaitkan terhadap banyaknya waktu yang dihabiskannya sendirian di depan komputer. Individu yang menggunakan internet untuk tujuan pendidikan, misalnya pada pelajar dan mahasiswa akan lebih banyak menghabiskan waktunya menggunakan internet.
Umumnya, individu yang menggunakan internet untuk tujuan pendidikan mengalami kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami kecanduan internet.
Hal ini diakibatkan tujuan penggunaan internet bukan digunakan sebagai upaya untuk mengatasi atau melarikan diri dari masalah-masalah yang dihadapinya di kehidupan nyata atau sekedar hiburan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecanduan internet, yaitu gender, kondisi psikologis, kondisi sosial ekonomi, tujuan dan waktu penggunaan internet.
5. Jenis- Jenis Kecanduan internet Pada Remaja
Kecanduan internet secara umum dapat digolongkan dalam 5 jenis :
a. Kecanduan terhadap situs porno : situs porno biasanya terang-terangan, mudah diakses, kadang-kadang gratis sulit dihindari apalagi jika anak sedang dalam periode kematangan seksual (puber – remaja).
b. Kecanduan terhadap situs „gaul‟ : adalah umum jika seorang anak/remaja dalam memperluas pergaulannya kemudian memanfaatkan internet untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.
c. Kecanduang terhadap situs belanja : belanja, jual- beli atau berjudi melalui internet merupakan jebakan yang sekalipun orang dewasa agak sulit untuk menghindarinya, apalagi seorang anak/remaja yang tidak berpengalaman dan belummatang.
d. Informasi yang berlebihan : „surfing‟ informasi yang berlebihan tanpa tujuan yang jelas.
e. Kecanduan terhadap „game on line‟ : dengan kemampuan untuk berhubungan dengan siapa saja/dimana saja secaramaya, pengalaman bermain „game on line‟ membuat seseorang menjadi tidak peka.
Penggunaan internet yang patologis (Pathological Internet Use/ PIU) merujuk pada ketergantungan psikologis terhadap internet. Hal ini ditandai dengan meningkatnya waktu yang digunakan, uang, usaha dan lain-lain untuk kegiatan yang berkaitan dengan internet, merasa cemas/sedih/gelisah jika tidak bisa mengakses internet, dan menyangkal akan adanya masalah perilaku. Pada dasarnya penggunaan internet menjadi patologis ketika hal itu mengganggu satu dari beberapa area kehidupan (misalnya relasi, pekerjaan, sekolah, kesehatan fisik dan atau mental.
Ada 2 macam Penggunaan Internet yang patologis yaitu :
a. Bersifat spesifik :Biasanya, sebelum kecanduan, seseorang sudah memiliki kecenderungan untuk menjadi kecanduan. Internet hanya mempermudah akses untuk menjadi ketagihan.
b. Bersifat umum :Merupakan simtom kecanduan sebagai hasil dari penggunaan internet. Kecanduan timbul karena adanya cara bersosialisasi yang unik, yang hanya dapat diperoleh dari internet.
6. Tingkat Kecanduan Internet
Young (1996) membagi kecanduan internet dalam 3 tingkatan, yaitu:
a. Mild. Pada tingkatan ini individu termasuk dalam pengguna online rata-rata. Individu menggunakan internet dalam waktu yang lama, tetapi individu memiliki kontrol dalam penggunaannya.
b. Moderate. Pada tingkatan ini individu mulai sering mengalami beberapa permasalahan dari penggunaan internet. Internet merupakan hal yang penting, namun tidak selalu menjadi yang utama dalam kehidupan.
c. Severe. Pada tingkatan ini individu mengalami permasalahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Internet merupakan hal yang paling utama sehingga mengabaikan kepentingan-kepentingan yang lain.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 tingkat kecanduan internet, yaitu mild, moderate, dan severe.
D. Remaja
1. Definisi Remaja
Istilah remaja atau adolescence berasal dari bahasa latin adolscere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescene (dari bahasa Inggris) yang dipergunakan saat ini memiliki arti yang cukup luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1990).
Piaget (dalam Hurlock, 1990) mengatakan bahwa masa remaja adalah usia dimana individu mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Indivdu tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak, integrasi dalam masyarakat, mempunyai banyak aspek afektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk di dalamnya juga perubahan intelektual yang mencolok, transformasi yang khas dari berpikir remaja memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.
Selanjutnya, Kartono (1990) mengatakan bahwa masa remaja juga sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada masa remaja terdapat tugas-tugas perkembangan yang sebaiknya dipenuhi. Menurut Hurlock (1990), seluruh tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Adapun tugas perkembangan remaja adalah:
a. Mencapai peran sosial pria dan wanita
b. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
e. Mempersiapkan karir ekonomi untuk masa yang akan datang.
f. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
g. Memperoleh nilai-nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku dan mengembangkan ideologi.
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “storm and stress”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan emosi dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru (Hurlock, 1990).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa remaja adalah individu yang mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa dimana indivdu tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak, integrasi dalam masyarakat,dan juga memiliki tugas-tugas perkembangan yang sebaiknya dipenuhi. Tugas perkembangan remaja yang paling mendasari dalam penelitian ini adalah tugas perkembangan dimana remaja meulai mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
2. Ciri-ciri Remaja
Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1990), terdapat 8 ciri masa remaja, antara lain:
a. Masa remaja sebagai periode yang penting.
Remaja mengalami perkembangan fisik dan mental yang cepat dan penting dimana semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai, dan minat baru.
b. Masa remaja sebagai periode yang peralihan.
Peralihan tidak berarti putus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan perpindahan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang, serta mempengaruhi pola perilaku dan sikap yang baru pada tahap berikutnya.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan.
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Perubahan fisik yang terjadi dengan pesat diikuti dengan perubahan perilaku dan sikap yang juga berlangsung pesat.
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah.
Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki- laki maupun anak perempuan. Ada dua alasan bagi kesulitan ini, yaitu:
1) Sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.
2) Remaja merasa mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, sehingga menolak bantuan dari orang tua dan guru-guru.
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
Pencarian identitas dimulai pada akhir masa kanak-kanak, dan pada masa ini lebih menekankan pada penyesuaian diri dengan standar kelompok dibandingkan bersikap individualistik. Adanya keinginan menjadi pribadi yang berbeda dengan orang lain.
f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan.
Adanya anggapan stereotype budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, sehingga menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja.
g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik.
Remaja pada masa ini melihat dirinya sendiri dan orang lain sesuai dengan apa yang ia inginkan dan bukan sesuai dengan apa adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil tujuan yang ditetapkannya sendiri.
h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Semakin mendekatnya usia kematangan, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan streotype belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka hampir dewasa, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
3. Batasan Usia Remaja
Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga tahap, yaitu:
a. Remaja awal (12-15 tahun)
Pada tahap ini, remaja mulai beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan tersebut. Individu berusaha untuk menghindari ketidaksetujuan sosial atau penolakan dan mulai membentuk kode moral sendiri tentang benar dan salah. Individu menilai baik terhadap apa yang disetujui orang lain dan buruk apa yang ditolak orang lain. Pada tahap ini, minat remaja pada dunia luar sangat besar dan juga tidak mau dianggap sebagai kanak-kanak lagi namun belum bisa meninggalkan pola kekanakannya. Selain itu, pada masa ini remaja masih belum tahu apayang diinginkannya, remaja sering merasa sunyi, ragu-ragu, tidak stabil dan tidak puas (Kartono, 1990).
b. Remaja pertengahan (15-18 tahun)
Pada tahap ini, remaja berada dalam kondisi kebingungan dan terhalang dari pembentukan kode moral karena ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keraguan semacam ini juga jelas dalam sikap terhadap masalah mencontek, pada waktu remaja duduk di sekolah menengah atas. Karena hal ini dianggap umum, remaja menganggap bahwa teman-teman akan memaafkan perilaku ini, dan membenarkan perbuatan mencontek bila selalu ditekan untuk mencapai nilai yang baik agar dapat diterima di sekolah tinggi dan yang akan menunjang keberhasilan dalam kehidupan sosial dan ekonomi di masa-masa mendatang. Pada tahap ini, mulai tumbuh semacam kesadaran akan kewajiban untuk mempertahankan aturan-aturan yang ada, namun belum dapat mempertanggungjawabkannya secara pribadi.
c. Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Pada tahap ini, individu dapat melihat sistem sosial secara keseluruhan.
Individu mau diatur secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih tinggi. Alasan mematuhi peraturan bukan merupakan ketakutan terhadap hukuman atau kebutuhan individu, melainkan kepercayaan bahwa hukum dan aturan harus dipatuhi untuk mempertahankan tatanan dan fungsi sosial. Remaja sudah mulai memilih prinsip moral untuk hidup. Individu melakukan tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab
batin sendiri. Pada tahap ini, remaja mulai menyadari bahwa keyakinan religius penting bagi mereka.
Batasan usia remaja yang dipakai penelitian ini adalah remaja awal , yaitu 12-15 tahun, sebab Pada tahap ini, minat remaja pada dunia luar sangat besar dan juga tidak mau dianggap sebagai kanak-kanak lagi namun belum bisa meninggalkan pola kekanakannya. Selain itu, pada masa ini remaja masih belum tahu apayang diinginkannya, remaja sering merasa sunyi, ragu-ragu, tidak stabil dan tidak puas (Kartono, 1990).
4. Remaja yang Mengalami Kecanduan Internet
Remaja yang mengalami kecanduan internet adalah remaja yang memiliki pengetahuan akan internet. Penggunaan internet oleh remaja lebih kepada sarana hiburan dibandingkan dengan untuk tujuan pendidikan. Beberapa ciri remaja mengalami kecanduan internet adalah remaja yang menghabiskan waktu minimal selama 5 jam dalam sehari dan juga telah menggunakan internet minimal selama 6 bulan (Young dalam Essau, 2008).
Dampak yang timbul akibat kecanduan internet pada remaja (Young, 2004):
a. Permasalahan akademik. Remaja yang mengalami kecanduan internet akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas rumahnya, belajar untuk ujian, dan kurang tidur sehingga mengganggu aktivitas sekolah.
b. Permasalahan dalam hubungan dengan keluarga dan teman. Remaja yang mengalami kecanduan internet, menghabiskan waktu yang sedikit dengan orang-orang yang ada di kehidupan nyata. Remaja lebih banyak berkomunikasi lewat dunia maya sehingga kurang perhatian terhadap keluarga dan teman-teman di sekitarnya.
c. Permasalahan fisik dan psikologis. Remaja yang mengalami kecanduan internet mengalami gangguan pola tidur, dimana remaja banyak menghabiskan waktu bermain internet pada malam hari sehingga akhirnya pada saat pagi remaja merasakan kelelahan. Hal ini juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Kecanduan internet juga membawa dampak terhadap psikologis remaja, dimana remaja menjadi merasa bosan, cemas, dan depresi ketika bermain internet ditunda atau dihentikan.
Berdasarkan uraian di atas, maka remaja yang mengalami kecanduan adalah remaja yang memiliki pengetahuan tentang penggunaan internet, bermain internet minimal selama 5 jam dalam sehari, dan telah menggunakan internet minimal 6 bulan. Ada beberapa permasalahan yang dapat dialami oleh remaja yang kecanduan internet, yaitu permasalahan akademis, permasalahan dalam hubungan keluarga dan teman, serta permasalahan dalam fisik dan psikologis.
E. Karakteristik Siswa Sekolah Menengah Pertama
Masa usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) bertepatan dengan masa remaja. Istilah adolesence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh
menjadi dewasa.” (Hurlock, 1980 : 206). Istilah adolescence, seperti yang dipergunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.
Harold Alberty (Makmun, 2000: 130) menyatakan periode masa remaja dapat didefinisikan secara umum sebagai suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seorang individu yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai datangnya awal masa dewasanya. Konopka (Yusuf, 2006: 3) mengemukakan masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu dan merupakan masa transisi (dari masa anak ke masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.
Pandangan mengenai remaja dikemukakan oleh Piaget (Hurlock, 1980: 206) secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orangorang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurangkurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok.
Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan.
Masa remaja (adolescence) menurut sebagian ahli psikologi terdiri atas sub-sub masa perkembangan, sebagai berikut: 1) subperkembangan pre-puber selama kurang lebih dua tahun sebelum masa puber; 2) subperkembangan postpuber, yakni saat perkembangan biologis sudah lambat tapi masih terus
berlangsung pada bagian-bagian organ tertentu. Saat ini merupakan akhir masa puber yang mulai menampakkan tanda-tanda kedewasaan (Syah, 2004: 51).
Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 pada wanita dan 13-22 tahun pada pria.
Masa perkembangan remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi remaja sendiri melainkan bagi para orang tua, guru, dan masyarakat sekitar. Bahkan tidak jarang penegak hukum turut direpotkan oleh ulah dan tindak-tanduk remaja yang dipandang menyimpang.
Hurlock (1980) mengungkapkan bahwa sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Sehubungan dengan masalah remaja, dapat dipastikan bahwa segala sesuatu yang sedang mengalami atau dalam keadaan transisi dari suatu keadaan ke keadaan lainnya selalu menimbulkan gejolak, goncangan, dan benturan yang kadangkadang
berakibat sangat buruk bahkan fatal (mematikan).
F. Program Bimbingan Pribadi-Sosial Untuk Meningkatkan Kontrol diri Remaja yang Mengalami Kecanduan Internet.
Program bimbingan pribadi-sosial adalah suatu rencana kegitan untuk memberikan layanan bantuan kepada peserta didik dalam memantapkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik menangani masalah-masalah diri dan
memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menangani masalh-masalah pribadi-sosial (Nurihsan dan Sudianto, 2005: 13).
Layanan bimbingan pribadi sosial ditujukan untuk pencapaian pribadi yang mantap dengan memperhatikan keunikan dan bidang-bidang permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
Syamsu yusuf (2004: 209) menjelaskan remaja sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming). yaitu berkembang kearah kematangan atau kemandirian. proses perkembangan remaja tidak selalu berkembang secara mulus, atau bebas dari masalah. Artinya, proses perkembangan tidak selalu berjalan searah dengan potensi, harapan, dan nilai-nilai yang dianut.
Masa remaja dikarakteristikan dalam dua hal yang berbeda. Pertama, masa remaja sebagai suatu periode yang dipenuhi oleh ketertarikan, perkembangan, pengalaman, serta mengarah kepada dewasa muda yang produktif. Kedua, masa remaja merupakan periode yang penuh konflik dan juga bermasalah dalam keluarga yang memungkinkan terjadinya disfungsi dan juga pengasingan diri (Essau, 2008).
Hurlock (1990) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa dimana individu mulai mengembangkan hubungan interpersonal dengan lingkungannya dan mulai melepas diri dari ketergantungan terhadap keluarga. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Namun, komunikasi yang terjadi mengalami perubahan dimana komunikasi yang dahulunya bertatap muka secara langsung kemudian berubah menjadi komunikasi dunia maya atau internet,
yaitu melalui jejaring sosial (Fa, 2009). Saat ini salah satu jejaring sosial yang digermari adalah Facebook.
Facebook menawarkan beberapa jenis fasilitas, mulai dari mengirimkan komentar, berbagi foto, video, dan catatan. Fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh Facebook dianggap lebih lengkap dan memenuhi selera masyarakat sehingga banyak pengguna friendtster beralih ke Facebook (Gunawan, 2009). Melalui Facebook, individu dapat mencari teman-teman yang sudah lama tidak ditemuinya maupun menjalin hubungan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia.
Kebayakan pengguna facebook adalah kaum remaja (Gen, 2009). Banyak alasan remaja memilih Facebook sebagai bagian dari aktivitasnya, di antaranya adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu agar dikatakan gaul dan tidak ketinggalan zaman. Selain itu, berkomunikasi melalui Facebook juga dapat dipandang sebagai strategi coping. Melalui Facebook remaja dapat curhat dengan teman-teman di dunia maya untuk meringankan beban yang dimiliki.
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Facebook ternyata membuat beberapa individu mengalami kecanduan internet. Individu yang mengalami kecanduan biasanya akan merasa bahwa dunia maya di layar komputernya lebih menarik dibandingkan dengan kehidupan nyata sehari-hari (Orzack dalam Mukodim, Ritandiyono & Sita, 2004). Durasi waktu yang digunakan bermain internet juga semakin bertambah. Berdasarkan penelitian Young (dalam Essau, 2008), orang yang mengalami kecanduan internet biasanya menghabiskan waktu selama 5 jam dalam sehari, dan biasanya durasi ini akan bertambah agar individu mendapat efek perubahan dari perasaan.
Individu yang telah kecanduan jejaring sosial, seperti Facebook, terlalu asik dengan dunianya sendiri sehingga tidak perduli dengan orang lain dan lingkungan di sekitar. Remaja yang telah mengalami kecanduan akan merasakan ketidaknyamanan dan stress ketika perilaku ditunda atau dihentikan (Mark, Murray, Evans, & Willig, 2004). Remaja yang kecanduan tampak dari kegiatannya setiap hari yang selalu mencari-cari kesempatan agar dapat memainkan Facebook yang dimilikinya, sehingga lupa akan tugas, waktu, sekolah, dan kewajiban-kewajiban lain.
Kecanduan dipandang sebagai kelemahan yang dimiliki remaja karena kurang memiliki motivasi dan kontrol (Griffiths dalam Essau, 2008). Mark, Murray, Evans, & Willig (2004) juga menyatakan bahwa salah satu penyebab individu mengalami kecanduan disebabkan adanya kegagalan dalam melakukan kontrol terhadap perilaku. Kontrol diri merupakan kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif (Goldfried & Merbaum dalam Lazarus, 1976). Pada individu yang mengalami kecanduan, individu mengalami kurangnya kontrol diri sehingga mengabaikan kehidupan sosial maupun kewajiban- kewajiban lainnya. Hal ini sejalan dengan Young (1996) yang menyatakan bahwa penggunaan internet yang berlebihan dihubungkan dengan kerusakan yang signifikan terhadap bidang sosial, psikologis dan pekerjaannya.
Masa-masa remaja ditandai dengan emosi yang mudah meletup atau cenderung untuk tidak dapat mengkontrol dirinya sendiri. Kontrol diri sangat diperlukan karena dorongan-dorongan dan nafsu keinginan-keinginan semakin
menggejolak, terutama dorongan seksual dan agresivitas pada remaja. Jika seorang remaja tidak dapat mengontrol dirinya dengan baik, maka remaja akan dikuasasi oleh dorongan dan keinginan yang menyebabkan timbulnya kenakalan- kenakalan pada remaja. Elijati (dalam Dyah, 2009) berpendapat bahwa gangguan kontrol diri pada remaja yang menimbulkan kecanduan pada internet merupakan gangguan yang dideskripsikan sebagai gangguan kontrol pada hasrat atau keinginan untuk mengakses internet atau internet tanpa melibatkan penggunaan obat atau zat aditif.
Untuk mengatasi masalah remaja dalam hal perilaku kecanduan internet, maka remaja tersebut memerlukan bimbingan dan arahan agar dapat meningkatkan kontrol diri yang positif sehingga tidak terjebak pada perilaku kecanduan internet. Bimbingan ataupun arahan tersebut dapat diperolehnya dari lngkungan sekolah melalui guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah, selain itu juga dapat diperoleh melalui orang tua di lingkungan keluarga.
Sebagian besar remaja menghabiskan banyak waktunya di lingkungan sekolah. Oleh karena itu lingkungan sekolah diharapkan dapat menjalankan fungsinya secara penuh untuk memunkinkan para siswa mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan.
Permasalahan yang dialami siswa disekolah tidak dapat dihindari. dalam kaitan ini permasalahan siswa yang tidak dapat dibiarkan misalnya mengenai rendahnya kontrol diri yang menyebabkan menjadi peningkatan pada perilaku kecanduan internet pada remaja.
salah satu upaya bimbingan dan konseling untuk mencegah dan menanggulangi perilaku kecanduan internet pada remaja adalah dengan meningkatkan kontrol diri yang dimiliki remaja. upaya yang dapat dilakukan adalah:
a. Membuat program bimbingan dan konseling yang menekankan pada aspek kesadaran diri agar remaja dapat memahami, mengarahkan diri dan mengembangkan kemampuannya untuk menesuaikan diri sesuai dengan tuntutan lingkungan.
b. Membimbing dan mengarahkan remaja yang memiliki kecenderungan kontrol diri negatif sehingga dapat berubah kecenderungannya menjadi kontrol diri positif yang pada akhirnya remaja mampu menghadapi pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan, memiliki daya juang yang tinggi serta memiliki sikap yang bertanggung jawab atas peristiwa- peristiwa yang dialami.
c. Melibatkan para siswa dalam berbagai kegiatan sekolah, dengan demikian remaja dapat belajar memahami posisi dirinya dan orang lain dalam suatu lingkungan.
Remaja yang mengalami kecanduan internet memerlukan upaya bantuan bimbingan pribadi dan sosial yang bersifat responsif. pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangan.
Bimbingan Pribadi-sosial adalah untuk membantu para individu melakukan pencegahan dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada pribadi sosialnya. Masalah yang akan muncul misalnya masalah hubungannya dengan teman sebaya, dengan guru, dan para staf, sehingga pemahaman sifat, kemampuan diri, dan penyesuaian diri dengan lingkungan harus tepat, baik dalam lingkungan pendidikan, masyarakat, tempat tinggal, dan penyelesaian konfliknya.
sehingga pada intinya Bimbingan pribadi-sosial diarahkan untuk memantapkan kepribadiannya dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dalam dirinya dan sosialnya ( Yusup dan Nurihsan, 2005:11).
Bimbingan pribadi-sosial merupakan bimbingan yang diberikan kepada individu dalam menghadapi keadaan batin dan mengatasi sebagai pengumulan dalam batin individu itu sendiri serta dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama diberbagai lingkungan atau pergaulan sosialnya.
Program bimbingan pribadi-sosial untuk meningkatkan kontrol diri remaja yang mengalami kecanduan internet merupakan suatu program atau rencana kegiatan untuk memberikan layanan bantuan kepada peserta didik agar mampu mengatasi masalahnya sendiri yang berkaitan dengan kontrol diri dan perilaku kecanduan internet.
G. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Adapun kajian temuan terdahulu yang menyajikan data yang berhubungan dengan penelitian yang berjudul Program Bimbingan Pribadi Sosial Untuk