GERAYOKUR merupakan gerakan
4.4.3. Program Donggala Nasana Ngatata
Kabupaten Donggala memiliki potensi pariwisata yang besar, beragam, unik, dan tersebar di wilayahnya. Namun, lokasi yang strategis, dukungan sarana dan prasarana pendukung, dirasakan belum sepenuhnya memberikan hasil yang optimal, khususnya terkait dengan kontribusi sektor ini terhadap perekonomian wilayah, maupun aspek lingkungan. Dalam pengembangan kepariwisataan, Destinasi wisata Kabupaten Donggala lebih banyak berkembang pada Kota Antik Donggala sebagai Kota Tua sekaligus ibukota pemerintahan Kabupaten Donggala, Sehingga untuk pengembangan destinasi wisata Kota Donggala memerlukan acuan sekaligus mengatasi permasalahan yang dihadapinya, agar dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat yang bermukim di wilayah Donggala khususnya Banawa dan sekitarnya.
Untuk mengoptimalkan pengembangan dan pengelolaan potensi pariwisata tersebut pemerintah daerah menetapkan sektor pariwisata menjadi sektor unggulan dengan konsep NASANA NGATATA sebagaimana telah dimuat dalam RPJMD tahun 2014-2019 dan merupakan program prioritas yang dilaksanakan secara lintas sektor atau lintas SKPD. Menindak lanjuti konsep NASANA NGATATA diatas maka telah disusun Masterplan Pengembangan Pariwisata Kota Donggala yang berfungsi sebagai arahan dan pedoman bagi keseluruhan rencana dan program pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata. Untuk terciptanya kesatuan gerak dan langkah serta memudahkan seluruh pemangku kepentingan khususnya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam mengoperasionalkan program/kegiatan sesuai kebijakan yang diperlukan pedoman pelaksanaan pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata (NASANA NGATATA). Ruang lingkup Proram/kegiatan pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata mencakup:
a. Kebijakan dan program/kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD dan para pemangku kepentingan lainnya;
b. Pencapaian tujuan dan target program/kegiatan mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengendalian program/kegiatan;
c. Keterpaduan pelaksanaan antar SKPD dan pemangku kepentingan lainnya; d. Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata meliputi Kawasan Wisata
Panta Kapal, Kawasan Wisata Jalan Lingkar (anjungan Gonenggati), Kawasan Wisata Kota Tua, Kawasan Wisata Bantaran Sungai, dan Kawasan Wisata Tanjung Karang.
Prinsip yang harus dipedomani oleh seluruh SKPD dan pemangku kepentingan dalam proses pelaksanaan program/kegiatan sebagai berikut:
a. Transparansi
Pelaksanaan program/kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh semua stakeholder terkait serta memberikan akses kepada semua pihak yang membutuhkan informasi mengenai program Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata (NASANA NGATATA);
Wajib menginformasikan dan mempublikasikan rencana serta pelaksanaan program/kegiatan kepada masyarakat melalui papan pengumuman, pertemuan dan lain sebagainya;
b. Akuntabiltas
Pelaksanaan program/kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan kemasyarakat maupun pemerintah dengan membuat perencanaan dan pelaporan anggaran baik secara tekhnis maupun adminstratif;
c. Partisipatif
Pelaksanaan pogram/kegiatan sedapat mungkin keterlibatan anggota masyarakat secara optimal mulai dari perencanaan, peaksanaaan dan pengawasan program/kegiatan;
d. Keterpaduan
Menjamin keterpaduan antar sektor dan antar pemangku kepentingan dalam satu kesatuan perencanaan dan penganggaran;
e. Taat azas;
Menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan anatara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan serta menjunjung tinggi hak azasi manusia, keragaman budaya dan kearifan lokal ;
f. Azas manfaat ;
Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, berkeadilan, kesetaraan dan proporsionalitas;
g. Berwawasan lingkungan;
Harus mempertimbangkan dampak program/kegiatan terhadap kondisi lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang;
h. Berkelanjutan.
Bahwa pengelolaan program/kegiatan harus dapat memperhatikan kesinambungan program baik manfaat maupun hasil-hasil pembangunan.
Upaya mengintegrasikan perencanaan dan mensinkronisasikan pelaksanaan kebijakan program/kegiatan Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata yang mengacu pada RPJMD 2014-2019 dan master plan. Dengan adanya koordinasi kebijakan untuk menyelaraskan setiap keputusan maka benturan atau inkonsistensi antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya tidak terjadi.
Hal-hal yang dikoordinasikan untuk kegiatan pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata adalah:
1) Penyusunan dan penetapan rencana kegiatan dan anggaran SKPD TA. 2016 berbasis E-planning;
Setiap SKPD terkait wajib memasukkan kegiatan pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata beserta pendanaan indikatif mengacu pada menu kegiatan yang tercantum dalam masterplan. Pilihan terhadap kegiatan lain (diluar menu) dapat dilakukan sepanjang telah dibahas bersama dan diputuskan dalam rapat koordinasi. Kegiatan tersebut diinput dalam sistem E-planning dan merupakan salah satu prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2016 dan dibahas dalam KUA, PPAS dan RAPBD T.A. 2016.
2) Penyusunan Design Enginering Detail (DED) 5 (lima) kawasan wisata;
Sebagai acuan pelaksanaan dilapangan tahun 2016 khususnya pembangunan fisik maka perlu menyusun Design Engineering Detail (DED) untuk lima kawasan wisata yang dianggarkan pada Perubahan APBD TA 2015.
3) Pembentukan Tim Koordinasi dan Kelompok Kerja Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata (Nasana Ngatata) serta pembagian tugas masing- masing.
Demi terjaminnnya integritas dalam perencanaan, sinkronisasi dalam pelaksanaan dan harmonisasi dalam pengendalian perlu membentuk Tim Koordinasi Kegiatan Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata. Tim Koordinasi ini sebagai wadah koordinasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Bupati. Selanjutnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas Tim Koordinasi perlu dibentuk Kelompok Kerja (Pokja). Keanggotaan kelompok kerja terdiri dari unsur SKPD, Kecamatan, Kelurahan, masyarakat, dunia usaha serta pemangku kepentingan lainnya yang diusulkan oleh lembaganya masing-masing dan selanjutnya ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
4) Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Sosialisasi dilakukan secara terpadu oleh lintas SKPD terkait, Kecamatan dan Kelurahan yang dikoordinasikan oleh Bappeda dengan sasaran para pelaku usaha industri pariwisata dan masyarakat di 9 (Sembilan) kelurahan di Kecamatan Banawa. Setiap SKPD, kecamatan dan kelurahan menyiapkan materi sosialisasi sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing dan materi tersebut berorientasi untuk mendorong akselerasi Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata khususnya upaya untuk menjadi tuan rumah yang baik serta menciptakan budaya Sapta Pesona yaitu lingkungan perkotaan yang bersih, indah, teratur, sejuk, aman dan kenangan (Berita Senang). Budaya Sapta Pesona harus dibiasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan Setiap SKPD yang dikoordinasikan oleh Bappeda, Badan Lingkungan Hidup Daerah bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata wajib melakukan pemantauan dan pendampingan kepada masyarakat tentang pelaksanaan Budaya Sapta Pesona.
Pelaksana Program Pengambangan Pariwisata Kota Donggala adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah terdiri dari Bappeda, Dinas PU, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan, Badan Lingkungan Hidup Daerah, Dunia Usaha serta masyarakat.
Sumber dana Pengembangan Pariwisata Kota Donggala berasal dari APBD Kabupaten Donggala, APBD Provinsi dan APBN serta sumbangan pihak ketiga yang sifatnya tidak mengikat. Pengalokasian dana yang bersumber dari APBD Kabupaten Donggala dibagi berdasarkan SKPD melalui pos belanja langsung. Besaran alokasi yang bersumber dari APBD Kabupaten Donggala yang dialokasikan untuk SKPD terkait, Kecamatan Banawa dan 9 Kelurahan.
Dengan dilaksanakannya Program Pengembangan Kota Donggala sebagai Kota Wisata (NASANA NGATATA) dapat menjadi stimulan yang memiliki daya ungkit untuk meningkatkan ekonomi masyarakat yang berbasis potensi dan kearifan lokal menuju masyarakat Kabupaten Donggala yag maju dan sejahtera