Urutan FKK
PROGRAM, KEGIATAN, DAN KELUARAN
4.1. Program Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha
Program pembangunan perkebunan Tahun 2011 – 2014
adalah : “Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu
tanaman perkebunan berkelanjutan” Program ini
dimaksudkan untuk lebih meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu hasil tanaman perkebunan melalui rehabilitasi, intesifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang didukung oleh penyediaan benih bermutu, sarana produksi, perlindungan perkebunan dan penanganan pascapanen dan pembinaan usaha. Bertitik tolak dari program pembangunan perkebunan tersebut, Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha mempunyai program yaitu “Program Peningkatan Penanganan Pascapanen dan Pembinaan
Usaha Perkebunan Berkelanjutan” yang mendukung
peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil tanaman perkebunan.
4.2. Kegiatan Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha
Direktorat Jenderal perkebunan mempunyai sembilan kegiatan pembangunan perkebunan :
1. Peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu tanaman semusim;
2. Peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu tanaman rempah dan penyegar;
3. Peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu tanaman tahunan;
4. Dukungan Penanganan Pascapanen dan Pembinaan Usaha;
5. Dukungan Perlindungan Perkebunan;
68 7. Dukungan pengujian, pengawasan, mutu benih dan penerapan teknologi proteksi tanaman perkebunan BP2TP Medan;
8. Dukungan pengujian, pengawasan, mutu benih dan penerapan teknologi proteksi tanaman perkebunan BP2TP Surabaya;
9. Dukungan pengujian, pengawasan, mutu benih dan penerapan teknologi proteksi tanaman perkebunan BP2TP Ambon;
Sebagai penjabaran dari kegiatan Direktorat Jenderal Perkebunan tersebut diatas, Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha menetapkan kegiatan sebagai berikut : (1) Fasilitasi Penanganan Pascapanen Tanaman Komoditas
Perkebunan
(2) Fasilitasi Bimbingan Usaha dan Perkebunan Berkelanjutan
(3) Fasilitasi Pencegahan dan Penanganan Gangguan Usaha Perkebunan.
69
4.3. Fokus Kegiatan Penanganan Pascapanen dan
Pembinaan Usaha
Mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada (SDM, sarana prasarana serta dana) maka kegiatan penanganan pascapanen dan pembinaan usaha perkebunan dilaksanakan berdasarkan skala prioritas, dengan sumberdaya yang ada diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal (efisien dan efektif). Berdasarkan skala pioritas tersebut, maka fokus kegiatan penanganan pascapanen komoditas perkebunan tahun 2011 – 2014 adalah “Memfasilitasi peningkatan penanganan pascapanen tanaman semusim, tanaman rempah penyegar dan tanaman tahunan, bimbingan usaha dan
perkebunan berkelanjutan serta memfasilitasi
penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan”.
4.3.1. Fasilitasi Penanganan Pascapanen Komoditas Perkebunan Fasilitasi penanganan pascapanen Komoditas perkebunan dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan penanganan pascapanen melalui dukungan sarana pascapanen dan peningkatan kapabilitas petani. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kehilangan hasil, memperpanjang daya simpan, meningkatkan nilai tambah produk, serta meningkatkan mutu produk sesuai dengan standar keamanan pangan baik nasional maupun internasional. Fokus kegiatannya adalah :
a. Penanganan pascapanen komoditas perkebunan untuk mendukung prioritas pengembangan penanganan pascapanen tanaman semusim, tanaman rempah dan penyegar dan tanaman tahunan,
- Penyediaan bantuan sarana pendukung pascapanen,
- Peningkatan keterampilan petani dalam penanganan pascapanen,
70
- Penyusunan pedoman teknis pascapanen/inovasi teknologi pascapanen,
- Pertemuan teknis penanganan pascapanen.
b. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran penanganan pascapanen komoditas perkebunan setiap tahun anggaran.
c. Penyusunan renstra dan lakip yang terkait dengan penanganan pascapanen komoditas perkebunan.
4.3.2. Fasilitasi Bimbingan Usaha dan Perkebunan Berkelanjutan Kegiatan fasilitasi bimbingan usaha dan perkebunan berkelanjutan merupakan kegiatan pembinaan dan pengawasan perkebunan yang diperlukan untuk mewujudkan penyelenggaraan usaha perkebunan yang optimal, berdaya saing, dan berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Fokus kegiatan fasilitasi bimbingan usaha dan perkebunan berkelanjutan antara lain :
a. Pembinaan dan penilaian usaha perkebunan;
b. Pemantauan dan evaluasi, bimbingan teknis, dan penilaian PIRBUN dan PIR-TRANS/KKPA;
c. Kegiatan pembangunan perkebunan berkelanjutan seperti pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO), dan pengembangan komoditi perkebunan lainnya secara berkelanjutan :
- Sosialisasi penerapan sistem pertanian konservasi pada wilayah perkebunan termasuk lahan kritis, lahan miring/terjal, lahan gambut, DAS hulu dan pengembangan perkebunan di kawasan penyangga yang mempunyai nilai konservasi tinggi (HCV) sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air,
71
- Kampanye peran perkebunan dalam kontribusi penyerapan karbon dan penyedia oksigen dan peningkatan peran serta fungsi hidro-orologis dan peningkatan penerapan paket teknologi ramah lingkungan.
d. Pemberian rekomendasi teknis usaha perkebunan dan kegiatan pembangunan perkebunan berkelanjutan seperti pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO), dan pengembangan komoditi perkebunan lainnya secara berkelanjutan.
e. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran Fasilitasi Bimbingan Usaha dan Perkebunan berkelanjutan setiap tahun anggaran.
f. Penyusunan renstra dan lakip yang terkait dengan Fasilitasi Bimbingan Usaha dan Perkebunan Berkelanjutan.
g. Pembinaan Kemitraan Usaha Perkebunan
Kemitraan yang saling menguntungkan, saling menghargai, saling bertanggungjawab, saling memperkuat, dan saling ketergantungan antara petani, pengusaha, karyawan, dan masyarakat di sekitar perkebunan antara lain :
- Bimbingan dan pemantauan pembangunan perkebunan masyarakat sekitar perusahaan dengan luas areal minimal 20 % dari total luas lahan Inti,
- Bimbingan dan pemantauan pelaksanaan (Corporate Social Responsibility/CSR) perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitar perusahaan,
- Bimbingan dan pemantauan pelaksanaan kesepakatan (MoU) yang telah disepakati oleh Inti dan plasma pada perkebunan dengan pola Perkebunan Inti Rakyat/PIR.
72 4.3.3. Fasilitasi Pencegahan dan Penanganan Gangguan Usaha
dan Konflik Perkebunan
Kegiatan Fasilitasi Pencegahan Gangguan Usaha dan Penanganan konflik Perkebunan bertujuan untuk mengurangi terjadinya gangguan yang dapat mempengaruhi penurunan kinerja usaha di bidang perkebunan yang dapat menimbulkan kerugian material dan non material; ketidak pastian iklim berusaha, ketegangan dan keresahan masyarakat . Fokus kegiatan Fasilitasi penanganan gangguan usaha dan konflik antara lain :
a. Pembinaan dalam ranka pencegahan terjadinya gangguan usaha dan konflik perkebunan kepada perusahaan terutama dalam pelaksanaan kemitraan dengan masyarakat sekitar perusahaan.
- Pertemuan koordinasi penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan.
b. Meningkatkan upaya penanganan gangguan usaha diprioritaskan melalui musyawarah untuk mufakat untuk mencapai win – win solution, jika dengan cara musyawarah tidak mencapai kesepakatan dilakukan melalui proses pengadilan sebagai upaya terakhir.
- Inventarisasi dan identifikasi serta penanganan kasus gangguan usaha perkebunan;
- Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penanganan gangguan usaha di daerah;
- Fasilitasi penyelesaian masalah/kasus PIR-BUN dan PIR-TRANS/KKPA;
- Pertemuan koordinasi penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan (GUKP);
c. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran Fasilitasi Pencegahan gangguan usaha dan konflik perkebunan penanganan setiap tahun anggaran.
73 d. Penyusunan renstra dan lakip yang terkait dengan Fasilitasi pencegahan gangguan usaha dan konflik Perkebunan.
4.3.4. Pelaksanaan dukungan administrasi dan keuangan
Untuk menunjang kelancaran kegiatan Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha perlu dukungan administrasi dan keuangan yang difokuskan untuk :
a. Terlaksananya pengelolaan administrasi keuangan dan asset yang berkualitas.
b. Terlaksananya pelayanan organisasi, tatalaksana, kepegawaian dan administrasi perkantoran yang berkualitas.
4.4 Keluaran (output) dan Sub-Output
Sesuai dengan restrukturisasi program dan kegiatan, indikator kinerja yang harus dipertanggungjawabkan unit eselon II adalah output kegiatan, maka keluaran ( output ) dari kegiatan penanganan pascapanen dan pembinaan usaha adalah :
4.4.1 Fasilitasi Penanganan Pascapanen Komoditas perkebunan Keluaran (output) dari kegiatan tersebut adalah :
Terfasilitasinya pembinaan dan pengawalan penanganan pascapanen komoditas perkebunan Tanaman Semusim, Tanaman Rempah dan Penyegar;Tanaman Tahunan
Sub-Output :
- Terfasilitasinya ketersediaan sarana pendukung dan penanganan pascapanen komoditas perkebunan.
- Terfasilitasinya penerapan teknologi pascapanen komoditas perkebunan.
- Tersusunnya pedoman penanganan pascapanen komoditas perkebunan.
74
- Terlaksananya kegiatan peningkatan kapabilitas pelaku usaha perkebunan komoditas perkebunan.
4.4.2. Fasilitasi Bimbingan Usaha dan Perkebunan Berkelanjutan Keluaran (output) dari kegiatan tersebut adalah :
a. Terlaksananya pembinaan usaha perkebunan dan terfasilitasinya penilaian usaha perkebunan;
Sub-Output :
- Tersusunnya pedoman penilaian usaha perkebunan.
- Terlaksananya fasilitasi penilaian usaha perkebunan tanaman.
b. Terlaksananya pemantauan dan evaluasi, bimbingan teknis, dan penilaian PIRBUN dan PIR-TRANS/ KKPA; Sub-Output :
- Tersusunnya pedoman pemantauan dan evaluasi, bimbingan teknis, dan penilaian PIRBUN.
- Terlaksananya pemantauan dan evaluasi, bimbingan teknis, dan penilaian PIR-TRANS/ KKPA;
c. Terlaksananya kegiatan pembangunan perkebunan berkelanjutan seperti Pengembangan Perkebunan Berkelanjutan terutama untuk kelapa sawit (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).
Sub-Output :
- Tersusunnya pedoman pembangunan perkebunan berkelanjutan.
- Terlaksananya sosialisasi dan pembinaan pembangunan perkebunan berkelanjutan.
- Terlaksananya Identifikasi Jumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang layak mengajukan permohonan sertifikat ISPO
75
- Tersusunnya laporan pembangunan perkebunan berkelanjutan.
d. Terlaksananya pemberian rekomendasi teknis usaha perkebunan.
Sub-Output :
- Tersusunnya pedoman rekomendasi teknis usaha perkebunan.
- Terlaksananya penilaian rekomendasi teknis usaha perkebunan.
4.4.3. Fasilitasi Penanganan Gangguan Usaha dan konflik Perkebunan.
a. Terlaksananya inventarisasi dan identifikasi serta fasilitasi penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan.
Sub-Output :
- Tersusunnya pedoman penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan.
- Terlaksananya inventarisasi, identifikasi dan penanganan gangguan usaha dan konflik perkebunan.
- Terlaksananya monitoring dan evaluasi pelaksanaan penanganan gangguan usaha di daerah;
- Terlaksananya pertemuan koordinasi penanganan gangguan usaha perkebunan dan konflik.
b. Terlaksananya Fasilitasi penyelesaian masalah/kasus PIR-BUN dan PIR-TRANS/KKPA.
Sub-Output :
- Tersusunnya pedoman penyelsaian masalah/kasus PIRBUN dan PIR-TRANS/ KKPA;
76
- Terlaksananya penyelsaian masalah/kasus PIRBUN dan PIR-TRANS/ KKPA;
4.4.4. Pelaksanaan Dukungan Administrasi dan Keuangan
a. Terlaksananya pengelolaan administrasi keuangan dan asset yang berkualitas.
Sub- Output :
- Terlaksananya pelayanan administrasi pelaksanaan anggaran
- Terlaksananya penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan anggaran.
- Terlaksananya pelayanan penyediaan sarana kerja yang berkualitas.
- Terlaksananya penyusunan laporan penggunaan sarana kerja yang berkualitas.
b. Terlaksananya pelayanan organisasi, tatalaksana, kepegawaian dan administrasi perkantoran yang berkualitas.
Sub- Output :
- Terlaksananya pelayanan kepegawaian yang berkualitas.
- Terlaksananya penyusunan laporan perkembangan kepegawaian.
- Terlaksananya pelayanan penyediaan ATK dan tatalaksana yang berkualitas.
- Terlaksananya penyusunan laporan penggunaan ATK dan tata laksana.
77
Adapun rincian target dari masing – masing kegiatan dalam tabel 10 Tabel 10 Target Masing-Masing Kegiatan
NO KEGIATAN TARGET PELAKSANAAN