2. Sasaran Strategis
2.3 Program dan Kegiatan
Sesuai dengan rencana strategis Badan Karantina Pertanian dalam program Peningkatan Kualitas Perkarantinaan dan Pengawasan Keamanan Hayati, maka kegiatan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh dapat dijabarkan sebagai berikut :
Peningkatan Kualitas Pelayanan Karantina Pertanian dan Pengawasan Keamanan Hayati.
A. Meningkatnya tindakan karantina
1. Jumlah sertifikat karantina import, eksport dan antar area terhadap media pembawa OPTK dan HPHK melalui pelaksanaan tindakan karantina;
2. Jumlah dukungan operasional pemantauan HPHK/OPTK;
3. Jumlah Pengujian Laboratorium;
4. Jumlah dukungan operasional koordinasi pengawasan;
5. Dukungan Internal Administrasi pengelolaan sertifikasi karantina pertanian.
B. Terwujudnya good governance and clean government
1. Dukungan aparatur pegawai dan layanan perkantoran.
C. Tersedianya sarana dan prasarana perkarantinaan yang memadai
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 48 1. Jumlah dan jenis sarana, teknologi informasi yang sesuai
kebutuhan dan memadai;
2. Pengembangan infrastruktur tanah,
gedung/bangunan/instalasi.
Untuk mencapai sasaran tersebut, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh melakukan kegiatan penting sebagai berikut :
1. Pelaksanaan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan Media Pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK)
2. Pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK/OPTK 3. Pelaksanaan pembuatan koleksi HPHK/OPTK
4. Pelaksanaan pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati 5. Pelaksanaan pemberian pelayanan operasional karantina hewan
dan karantina tumbuhan
6. Pengelolaan sistem informasi, dokumentasi dan sarana teknik karantina hewan dan karantina tumbuhan
7. Pelaksanaan pengawasan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan, karantina tumbuhan dan keamanan hayati hewani dan nabati.
8. Peningkatan kualitas manajemen kinerja penyelenggara karantina pertanian dan pengawasan keamanan hayati , melalui beberapa kegiatan yang mendukung yaitu penyusunan rencana kerja, rencana kerja anggaran, laporan keuangan, Indeks Budaya Kerja melalui pembinaan pegawai, pengembangan dan peningkatan kapasitas SDM.
2.4 Analisis Lingkungan Strategik
Perubahan Lingkungan strategis yang sangat cepat dan pesat akan mempengaruhi kinerja penyelenggaraan perkarantinaan pertanian.
Pengaruh lingkungan strategis tersebut berhubungan dengan kondisi internal Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh dan pengaruh lingkungan eksternal sebagai tantangan yang dihadapi serta
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 49 peluang yang dapat diraih dalam menyusun rencana strategis Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh.
a) Faktor Internal Kekuatan :
Beberapa kekuatan yang dimiliki oleh Stasiun Karantina Pertanian dalam mewujudkan visi, misi, tujuan dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Keberadaan karantina harus ada di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran, hal ini disebabkan karantina merupakan salah satu dari 3 (tiga) unsur teknis (custom, Imigration and quarantine).
2. Melaksanakan tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan perkarantinaan hewan dan tumbuhan serta pengawasan keamanan hayati.
3. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, karantina pertanian memiliki landasan hukum yang kuat dalam operasionalnya, yang terdiri dari UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina hewan, Ikan dan tumbuhan, Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2000 tentang karantina hewan, Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002 tentang karantina tumbuhan, Peraturan Menteri Pertanian, serta juklak/juknis lainnya.
4. Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh memiliki SDM yang berkompeten dalam penyelenggaraan perkarantinaan dan pengawasan keamanan hayati, yang terdiri dari tenaga fungsional karantina hewan (Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner), tenaga fungsional karantina tumbuhan (pengendali Organisme Penganggu Tumbuhan /POPT), penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), Polsus dan intelijen karantina.
5. Memiliki sarana dan prasarana operasional guna mendukung terlaksananya operasional, pengawasan dan pelayanan karantina.
Kelemahan :
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 50 Berdasarkan hasil evaluasi dan kondisi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh saat ini terdapat beberapa permasalahan yang setelah dianalisis merupakan faktor kelemahan UPT yang mungkin akan mempengaruhi kinerja UPT.
Dari hasil identifikasi, ada beberapa kelemahan tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Jumlah SDM fungsional POPT Ahli dan Terampil untuk saat ini telah ada penambahan sebanyak 3 POPT Ahli, 3 POPT Pelaksana Pemula dan 1 Paramedik Veteriner, namun belum seluruhnya mengikuti diklat Teknis Dasar Perkarantinaan POPT dan Paramedik Veteriner, sehingga penyelenggaraan operasional karantina tumbuhan belum optimal pada wilayah kerja lingkup Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh.
2. Minimnya pengetahuan Sumber Daya Manusia di Wilayah Kerja yang menangani Pelaporan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sehingga dibutuhkan peningkatan SDM dibidang pelaporan PNBP di seluruh wilayah kerja lingkup Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh.
3. Masih kurang sample pemeriksaan laboratorium Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan dan masih dibutuhkan peningkatan kompetensi SDM/petugas laboratorium Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh.
4. Masih dibutuhkan pelatihan internal maupun eksternal untuk meningkatkan kemampuan penyelia dan analis dalam melakukan pengujian di Laboratorium Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan.
5. Belum adanya tempat pengolahan limbah bahan kimia baik padat dan cair dari Laboratorium Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan yang memadai dan sesuai dengan standar laboratorium.
6. Masih kurangnya SDM yang berkompeten dibidang pengawasan dan penindakan dan sarana/prasarana
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 51 karantina tidak sebanding dengan luas pengawasan sehingga batas darat dan laut tidak terawasi dengang maksimal;
7. Belum terkoordinir dengan baik pengawasan dengan instansi terkait baik CIQ (custom, Imigration and quarantine) dan Securitas (Polri, TNI);
8. Belum memiliki sarana khusus untuk kegiatan patroli di wilayah kerja yang dapat melibatkan instansi terkait dalam melakukan pengawasan dan penindakan;
9. Maraknya penyeludupan bawang merah di sepanjang pesisir Pantai Timur Aceh yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia.
10. Penumpang selalu membawa buah segar dalam bentuk tentengan untuk oleh-oleh dalam setiap penerbangan sehingga sering terjadi bentrok di lapangan.
11. Masih banyaknya pemasukan benih atau bibit tumbuhan atau hewan oleh para pejabat atau peneliti tanpa prosedur karantina
12. Sosialisasi selalu dilakukan di bandara namun penumpang tetap membawa dengan alasan tidak mengetahui karena berdomisili di Malaysia
13. Dalam kasus bawang illegal, tenaga fungsional POPT yang menjadi saksi ahli tidak berbasis/berkompetensi dibidang hukum.
14. Belum adanya Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) yang sesuai untuk importasi bawang/buah segar di Pelabuhan Bebas Sabang.
15. Rentan kendali yang sangat luas yang menjadi pengawasan pada 23 kabupaten/kota, dikarenakan letak Aceh strategis yang berbatasan dengan selat malaka, sehingga arus lalu lintas orang,barang menjadi padat. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan tingkat resiko terhadap masuknya
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 52 HPHK dan OPTK sangat besar, terutama dipantai timur dan utara karena berbatasan langsung dengan selat malaka 16. Dalam pelaksanaan tindakan karantina hewan beberapa
persyaratan yang menyangkut peraturan daerah tidak dapat dipenuhi hal ini disebabkan peraturan daerah tidak sama pada semua daerah akibatnya hal tersebut menjadi temuan administrasi dalam pemeriksaan Inspektorat Jenderal.
17. Eselon dan Status UPT menjadi salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan pelaksanaan tugas (memudahkan dalam koordinasi dengan jejaring kerja di pelabuhan laut, udara dan pemerintah daerah).
b) Faktor Eksternal Peluang :
1. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tugas pokok dan fungsi karantina pertanian .
2. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi antar instansi baik lingkup bandar udara/pelabuhan, pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
3. Adanya MoU antara Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala tentang Program Ko-Asistensi, dan kedepan akan mengadakan kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala tentang terkait Pengembangan Sumber Daya Manusia/Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bidang Karantina Hewan, Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati.
Tantangan :
1. Meningkatnya ancaman kelestarian sumber daya alam hayati, hewan dan tumbuhan
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 53 2. Implementasi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance), Sistem Pengendalian Intern dan Pelayanan publik
3. Tuntutan peningkatan terhadap kualitas pelayanan secara transparan dan efisien
4. Diperlukan sistem perkarantinaan pertanian yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
5. Tuntutan atas perbaikan budaya kerja aparatur pemerintah 6. Meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan
prima
7. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai arti pentingnya karantina pertanian.
Dalam rangka memenuhi prinsip-prinsip akuntabilitas kinerja instansi, maka Laporan Akuntabilitas Kinerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh (LAKIN) ini disusun. LAKIN ini berisikan capaian-capaian kinerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh tahun 2016 yang merupakan salah satu bentuk pertanggung jawaban atas amanah yang diemban organisasi. Disamping LAKIN ini sebagai bentuk kewajiban instansi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, juga merupakan sebagai masukan.
Dalam rangka menjalankan tupoksinya, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh tahun 2016 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh didukung dengan anggaran sebesar Rp. 12.849.127.000 dan terealisasi sebesar Rp. 12.375.351.710 atau sebesar 96.31%. Selain itu telah melakukan sertifikasi karantina hewan dengan frekuensi 2.708 kali : Import : nihil, Ekspor : 4 kali, Domestik Masuk : 1.203 kali dan Domestik Keluar 1.503 kali, sedangkan untuk karantina tumbuhan dengan frekuensi 5.142 yaitu Import : 48 kali, Ekspor : 159 kali, Domestik Masuk : 3.724 kali dan Domestik Keluar : 1.211 kali.
Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh untuk Tahun Anggaran 2016 didukung oleh anggran APBN murni. Dana yang
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 54 berasal dari DIPA Nomor : SP DIPA-018.12.2.412141/2016 tanggal 07 Desember 2015 sebesar,- yang terdiri dari :
a. Belanja Pegawai (AKUN 51) : Rp. 3.855.015.000,- b. Belanja Barang (AKUN 52) : Rp. 3.693.154.000,- c. Belanja Modal (AKUN 53) : Rp. 5.300.958.000,-
Bila dibandingkan dengan tahun 2015, anggaran Stasiun Kelas I Banda Aceh sejumlah Rp. 11.626.409.000,-, hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
PERBANDINGAN ANGGARAN BELANJA ANTARA DIPA 2015 DAN 2016 STASIUN KARANTINA PERTANIAN KELAS I BANDA ACEH
NO JENIS BELANJA DIPA 2015 DIPA 2016
1 Belanja Pegawai 3.340.755.000 3.855.015.000
2 Belanja Barang 3.867.954.000 3.693.154.000
3 Belanja Modal 4.417.700.000 5.300.958.000
Jumlah 11.626.409.000 12.849.127.000
Realisasi 11.117.372.089 12.375.351.710
Persentase 95,62% 96,31 %
Dari anggaran yang tersedia dalam DIPA Stasiun Karantina Pertanian
Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 yang terealisasi sebesar Rp. 12.375.351.710,- atau sebesar 96.31%.
Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh tahun 2016 yang dipungut berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 35 Tahun 2016 tanggal 12 Agustus 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Pertanian tahun 2016 adalah sebesar Rp. 64.431.421, sedangkan realisasi penerimaan PNBP tahun 2015 sebesar Rp. 44.345.148. Hal ini terjadi peningkatan dari tahun 2015 sebesar RP. 20.086.273 atau 31 %. PNBP yang diperoleh meliputi kegiatan tindak karantina hewan dan tindak karantina tumbuhan.
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 55 Dukungan Sarana Tindakan Karantina Kondisi Terkini
No Nama Sarana Jmlh
3 Wilker Sultan Iskandar Muda
2 Wilker Meulaboh 2 Pintu PP Labuhanhaji 2 Wilker Sinabang
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 56
9 Kenderaan R-4 1
Wilker Sultan Iskandar Muda
Dukungan Prasarana Tindakan karantina Kondisi Terkini
No Nama
Sarana Jml
(Unit) LokasiWilker Luas
(M2) Kapasitas
Wilker Sabang 140 Tanah BPKS
Wilker Kantor
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 57 Mewujudkan terselenggaranya perkarantinaan yang handal, cepat, akurat dan efesien merupakan amanah yang diberikan oleh Badan Karantina Pertanian. Beberapa capaian kinerja penting Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun Anggaran 2016 secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Realisasi Penyerapan Anggaran Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh sebesar 96,31 %.
2. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2016 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh sebesar Rp.
64.431.421,- (peningkatan 31 %) dari tahun sebelumnya.
3. Sertifikat Akreditasi Laboratorium SNI ISO/IEC 17025:2008 (ISO/IEC 17025:2005) sebagai Laboratorium Penguji dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan Nomor :LP-953-IDN yang ditetapkan pada tanggal 17 Desember 2015, Adapun ruang lingkup untuk Karantina Hewan dengan Bidang Pengujian Serologi, Bahan atau produk yang diuji berupa serum darah ayam, Jenis Pengujian atau sifat-sifat yang diukur Titer anti body Avian Influenza, Spesifikasi, metode pengujian, teknis yang digunakan HA/HI, sedangkan ruang lingkup untuk Karantina Tumbuhan dengan bidang pengujian Entomologi, bahan atau produk yang diuji yaitu beras, jenis pengujian atau sifat-sifat yang diukur serangga (sitophilus oryzae), spesifikasi, metode pengujian, teknik yang digunakan Direct Inspection dengan mikroskop stereobinokuler)
4. Hasil dari pengolahan data kuisioner terhadap pegawai Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh maka telah didapatkan hasil bahwa nilai Indeks Pengukuran Nilai Budaya Kerja (IPNBK) pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 adalah 89,06 dengan klasifikasi A (Sangat Baik).
Sesuai dengan rencana strategis dari Penetapan Kinerja UPT Tahun Anggaran 2016 yaitu Peningkatan Kualitas Pelayanan Karantina Pertanian dan Pengawasan Keamanan Hayati. Untuk mencapai tujuan
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 58 tersebut, maka dapat diketahui indikator dan target tahun 2016 sebagai berikut :
Unit Pelaksana Teknis : Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh
Tahun Anggaran : 2016
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Target Meningkatnya tindakan
karantina Persentase sertifikasi media pembawa yang dilalulintaskan melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah
ditetapkan.
100%
Persentase deteksi HPHK dan OPTK pada media pembawa yang dilalulintaskan melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan
100%
Tersedianya sarana dan prasarana perkarantinaan yang memadai
Persentase sarana dan prasarana yang sesuai kebutuhan dan memadai
100%
Jumlah Anggaran : Rp.11.581.326.000,-
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 59
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Pengukuran Kinerja kegiatan pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 dilakukan dengan cara membandingkan antara target dengan realisasi masing-masing indikator kinerja sasaran. Rincian tingkat capaian kinerja masing-masing indikator sasaran tersebut dapat diilustrasikan dalam lampiran.
Keberhasilan dan ketidakberhasilan setiap sasaran ditentukan berdasarkan persentase pencapaian target yang telah ditetapkan oleh Badan Karantina Pertanian, adapun kisarannya sebagai berikut :
a. Sangat Berhasil : ≥ 100%
b. Berhasil : 80 – 100%
c. Cukup Berhasil : 60 – 80 ≤ % d. Belum Berhasil : ≤ - 60 %
Bahwa sasaran strategis yang telah ditetapkan oleh Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh untuk tahun 2016 adalah Peningkatan Kualitas Pelayanan Karantina Pertanian dan Pengawasan Keamanan Hayati, dengan indikator kinerja :
A. Meningkatnya tindakan karantina
1. Persentase sertifikat media pembawa yang dilalulintaskan melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan (100%);
2. Persentase deteksi dan OPTK pada media pembawa yang dilalulintas melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan(100%);
B. Tersedianya sarana dan prasarana perkarantinaan yang memadai 1. Persentase Sarana dan Prasarana yang sesuai kebutuhan dan
memadai(100%).
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 60 Berikut akan diuraikan realisasi pencapaian sasaran Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016, yang diukur menggunakan indikator kinerja sebagai berikut :
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Target Realisasi Meningkatnya tindakan
karantina 1. Persentase sertifikat
media pembawa
1. Domestik Masuk: 1.203x 2. Domestik Keluar : 1.503 x 3. Import : 0 x
4. Eksport: 4 x Karantina Tumbuhan
1. Domestik Masuk: 3.724x 2. Domestik Keluar : 1.211x 3. Import : 48x
4. Eksport: 159x 1. Persentase deteksi
dan OPTK pada
100% 1. Pemantauan Daerah Sebar Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK)
2. Pemantauan Daerah Sebar
Organisme Pengan ggu Tumbuhan Karantina
(OPTK)
3.1 Evaluasi dan Analisis Kinerja 3.1.1 Uraian Sasaran
Meningkatnya tindakan karantina.
Indikator Kinerja
Persentase sertifikat media pembawa yang dilalulintaskan melalui tempat pemasukan dan pengeluaranyang telah ditetapkan.
Pengukuran dengan menggunakan indikator ini dengan cara melihat frekuensi sertifikasi ekspor, Import, Domestik Masuk dan Domestik Keluar baik karantina hewan maupun karantina tumbuhan.
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 61 dihasilkan Stasiun karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh melalui meningkatnya tindakan karantina yaitu sertifikasi karantina hewan dan karantina tumbuhan, yaitu :Sertifikasi untuk karantina hewan dengan frekuensi : Import : nihil, Ekspor : 4 kali, Domestik Masuk : 1.203 kali dan Domestik Keluar : 1.503 kali. Sedangkan untuk karantina tumbuhan yaitu Import : 48 kali, Ekspor : 159 kali, Domestik Masuk : 3.724 kali dan Domestik Keluar : 1.211 kali.
3.1.2 Uraian Sasaran 2
Meningkatnya tindakan karantina Indikator Kinerja
Persentase deteksi dan OPTK pada media pembawa yang dilalulintas melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan
No. Indikator Kinerja
Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di Propinsi Aceh berperan aktif dalam
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 62 upaya mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). Berdasarkan pasal 11 PP No. 82 tahun 2000 bahwa selain pengamatan dilakukan di tempat pemasukan selama media pembawa di asingkan untuk mengamati timbulnya gejala hama penyakit hewan karantina (HPHK), pengamatan juga memiliki makna mengamati situasi hama penyakit hewan karantina pada suatu negara, area atau tempat. Pengamatan terhadap situasi HPHK dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu: secara langsung dan/atau secara tidak langsung. Pengamatan secara langsung dilakukan ditempat pemasukan, tempat pengeluaran, instalasi karantina, tempat transit, dan di atas alat angkut. Pengamatan secara tidak langsung dilakukan ditempat lainnya dengan melibatkan atau memperoleh informasi dari pihak yang berwenang dalam kegiatan tersebut.
Pemantauan Daerah Sebar HPHK
Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di Propinsi Aceh berperan aktif dalam upaya mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). Berdasarkan pasal 11 PP No. 82 tahun 2000 bahwa selain pengamatan dilakukan di tempat pemasukan selama media pembawa di asingkan untuk mengamati timbulnya gejala hama penyakit hewan karantina (HPHK), pengamatan juga memiliki makna mengamati situasi hama penyakit hewan karantina pada suatu Negara, area atau tempat.
Berdasarkan keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No.
144/Kpts/KR.110/L/01/2016 tanggal 29 Januari 2016, tentang Pedoman Pemantauan Daerah Sebar HPHK tahun 2016, bahwa pemantauan daerah sebar HPHK yang dilakukan melalui kegiatan pengamatan status dan situasi HPHK tahun 2015 difokuskan pada seluruh hama Penyakit Hewan Karantina Golongan II. Pemetaan sebaran penyakit dan informasi situasi penyakit hewan dipandang perlu guna menentukan kebijakan pengendalian penyakit hewan, yang menyangkut tindakan pemberantasan dan pencegahan penyebarannya,
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 63 melalui pengobatan, depopulasi, pemusnahan terbatas, pengendalian populasi, vaksinasi, maupun pengawasan lalu lintas hewan antar area.
Situasi penyakit hewan dapat bersifat dinamis berdasarkan tingkat prevalensi maupun distribusi.
Pengambilan data dilakukan di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Provinsi Aceh, Kabupaten Kota yang membidangi Bidang Kesehatan Hewan dan Peternakan, Balai Veteriner Medan, dan laporan Hasil Penilitian di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang dilakukan pada bulan Februari-Maret 2016.
Kegiatan pengumpulan informasi dilakukan melalui kegiatan perjalanan dinas. Apabila anggaran perjalanan dinas terbatas, maka dapat dilakukan dengan surat-menyurat kepada instansi yang bersangkutan. Pengamatan status dan situasi penyakit HPHK golongan II dengan metode pengumpulan informasi menggunakan kuesioner dan Participatory Epidemiology (PE) dengan metode In Depth Interview (IDI).
Pengambilan data meliputi data Temuan Gejala Klinis, data hasil Uji Laboratorium Pasif, data Surveilan dan data Hasil Penelitian dengan durasi waktu data 1 (Satu) tahun terakhir.
Metode yang dipakai dalam mengolah data yaitu data yang diperoleh baik data Temuan gejala Klinis, data Hasil Uji Lab Pasif, data Hasil Uji Lab Aktif, data Hasil Surveilans dan data-data Hasil Penelitian selanjutnya dilakukan Tabulasi, Verifikasi, dan analisis kualitatif terhadap status dan situasi HPHK yang telah diperoleh. Selanjutnya hasil tersebut diuraikan dalam bentuk table, grafik serta peta status dan situasi HPHK.
Pemantauan daerah sebar Hama Penyakit Hewan Karantina tahun 2016 oleh Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh dilakukan melalui kegiatan pengambilan data Sekunder darilaporan gejala klinis, hasil pengujian Laboratorium Pasif, hasil pengujian Laboratorium aktif, hasil surveilans baik yang dilakukan oleh dinas Kesehatan Hewan dan
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 64 Peternakan provinsi Aceh maupun Balai Veteriner Medan serta hasil dari penelitian oleh perguruan tinggi setempat.
Pengamatan status dan situasi HPHK tahun 2016 difokuskan pada Hama Penyakit Hewan Karantina golongan II. Kegiatan pengamatan status dan situasi HPHK tahun 2016 di wilayah Provinsi Aceh dilaksanakan dengan metode pengumpulan informasi menggunakan kuesioner dan Participatory Epidemiology (PE) dengan metode In Depth Interview (IDI).
Dari hasil pemantauan terhadap sebaran Hama Penyakit Hewan Karantina golongan II di Provinsi Aceh, dimana terdapat HPHK Golongan II berdasarkan Permentan 3238/Kpts/PD.630/9/2009 antara lain :
A. HPHK Golongan II pada Ruminansia 1. Bovine Viral Diarrhea (BVD)
2. Brucellosis
3. Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) 4. Septichamia Epizootica (SE)
5. Theleriosis 6. Anaplasmosis 7. Babesiosis 8. Tripanosomiasis 9. ORF
10. Scabies
B. HPHK Golongan II pada Unggas 1. Newcastle Disease
2. LPAI
3. Avian Infectious Bronchitis 4. Fowl Cholera
5. ILT Gumboro 6. Mareks Disease
C. HPHK Golongan II pada HPR 1. Rabies
2. Caninen Parvovirus Infectious
Penyakit BVD, ditemukan di 3 (tiga) kabupaten/kota, Penyakit Brucellosis ditemukan di 10 (sepuluh) kabupaten/kota, Penyakit IBR ditemukan di 4 (empat) kabupaten/kota, Penyakit Rabies ditemukan
LAKIP Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh Tahun 2016 65 di 6 (enam) kabupaten/ kota, Penyakit SE, ditemukan di 1 (satu) Kabupaten/kota, Penyakit Theleriosis ditemukan di 15 (lima belas) kabupaten/Kota, Penyakit ND ditemukan di 12 (dua belas) kabupaten/kota, Penyakit LPAI ditemukan di 7 (tujuh) kabupaten/kota, Penyakit Anaplasmosis ditemukan di 12 (dua belas) kabupaten/kota, Penyakit Babesiosis ditemukan di 10 (sepuluh) kabupaten/kota, Penyakit Trypanosomiasis ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit Scabies ditemukan di 1 (satu) kabupaten/Kota, Penyakit Avian Infectious Bronchitis ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit Fowl Cholera ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit Infectious Laryngo Tracheitis ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit Gumboro ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit Mareks Disease ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit Canine Parvovirus Infectious ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota, Penyakit ORF ditemukan di 1 (satu) kabupaten/kota
Berdasarkan hasil Pemantauan daerah sebar HPHK Tahun 2016 wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh:
1. Potensi penyebaran penyakit hewan bukan hanya akibat lalu lintas antar Propinsi, tetapi antar wilayah kabupaten/kota dalam suatu propinsi;
2. Potensi penyebaran penyakit antar kabupaten/kota dan provinsi yang berbatasan darat membuat peran cek point menjadi sangat penting
3. Lalu lintas MP HPHK dari daerah endemis ke daerah yang masih bebas memerlukan tindakan karantina yang lebih ketat dan Pemasukan hewan /produk hewan berdasarkan analisi resiko.
3. Lalu lintas MP HPHK dari daerah endemis ke daerah yang masih bebas memerlukan tindakan karantina yang lebih ketat dan Pemasukan hewan /produk hewan berdasarkan analisi resiko.