BAB V PEMBAHASAN
A. Format Program Kentongan
2. Bagaimana Praktik Jurnalisme Bencana pada Program Kentongan RRI Pro 3 Berdasarkan Prinsip-prinsip Jurnalisme Bencana?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Atas dasar masalah yang ditulis dalam rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui format Program Kentongan RRI Pro 3 ditinjau dari Praktik Jurnalisme Bencana.
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki beberapa manfaat, yang meliputi:
a. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan dan kontribusi ilmiah tentang Format Program Kentongan di RRI bagi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya mahasiswa program studi jurnalistik.
b. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan memberikan masukan informasi awal penelitian seputar Format Program Kentongan di RRI, menjadi kontribusi ilmiah bagi program studi jurnalistik khususnya dan studi komunikasi umumnya, serta memberikan pemikiran pada khalayak khususnya istitusi radio di Indonesia mengenai Jurnalisme Bencana.
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini mengunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deksriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Melalui penelitian kualitatif peneliti dapat mengenali subjek, merakan apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari (Rurchan, 1992: 21-22).8
2. Paradigma Penelitian
Pada penelitian ini, paradigm yang digunakan adalah paradigma konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme merupakan paradigma yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam
8 Basrowidan dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Rineka Cipta. 2008), h. 1.
menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paradigma konstruktivisme memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung terhadap pelaku sosial dalam setting yang alamiah untuk memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial itu mencipatakn dan memelihara dunia sosial mereka.9
Menurut Von Glaserfeld dalam bukunya Bettencourt, konstruktivisme adalah salah satu filsafat ilmu pengetahuan yang menekan bahwa ilmu pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.10 Paradigma konstruktivisme dalam ilmu komunikasi lebih mengkaji bagaimana pesan dikonstruksikan (dibentuk).
3. Subjek dan Objek Penelitian a. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah sumber informasi yang memperkaya data penelitian, dalam hal ini adalah orang yang bertanggung jawab atas program kentongan RRI Pro 3 ini. Sumber informasi ini didapatkan melalui pimpinan redaksi, produser, penyiar, dan news writer.
b. Objek Penelitian
9 Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif
Penedakatan (Jakarta: Kencana. 2005), h. 285.
10 Zikri Fachrul Nurhadi, Teori Komunikasi Kontemporer (Jakarta: Kencana. 2017), h. 35.
Objek dalam peneitian ini adalah hal yang akan diteliti, yaitu program kentongan di RRI Pro 3. 4. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Observasi adalah meninjau secara cermat. Dalam hal ini penulis akan meninjau secara langsung dengan mendengarkan program siaran “kentongan” dan juga datang ke studio Radio Republik Indonesia di Jakarta.
b. Wawancara
Disini Peneliti akan mewawancarai secara terstuktur Program Director dari Radio Republik Indonesia. Wawancara terstukur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Wawancara ini bertujuan untuk mencari jawaban hipotesis.11
5. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif, peneliti akan mendeskripsikan data-data yang dimiliki melalui survey, observasi, dan wawancara dengan apa adanya. menurut Sugiyono (2017), Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
11 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Rineka Cipta. 2008), h. 130.
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini tersusun dari lima bab yang teridiri dari beberapa sub bab. Secara sistematis bab-bab tersebut sebagai berikut:
BAB I PENDAULUAN : Dalam bab ini membahas
mengenai latar belakang masalah penelitian, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA : Pada bab kedua ini
menjelaskan tinjauan teoritis tentang format program siaran radio, serta menjelaskan tinjauan teoritis tentang jurnalisme bencana.
BAB III GAMBARAN UMUM RADIO REPUBLIK INDONESIA : Pada bab ini akan menguraikan gambaran
umum Radio Republik Indonesia (RRI). Pada bab ini juga akan menjelaskan sejarah berdirinya RRI, visi dan misinya, serta program-program yang ada di RRI.
BAB IV DATA DAN TEMUAN PROGRAM KENTONGAN RRI PRO 3 : Pada bab keempat ini
merupakan hasil temuan dan data seputar Program Kentongan di RRI Pro 3.
BAB V PEMBAHASAN : Pada bab kelima ini
merupakan inti dari permasalahan pada penelitian ini, yaitu membahas hasil analisis Format Program Kentongan di RRI Pro 3.
BAB VI PENUTUP : Pada bab keenam ini merupakan
akhir dari skripsi ini, berisi kesimpulan dan saran-saran. Pada bab ini merupakan jawaban tehadap pertanyaan yang termuat dalam rumusan masalah.
BAB II KAJIAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Jurnalisme Bencana
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga tahun 2005, terdapat kata jurnalisme dan jurnalistik. Jurnalisme adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar dan lainnya. Sementara itu, jurnalistik dartikan sebagai sesuatu yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.12 Dari pengertian ini, Jurnalisme bencana dapat diartikan sebagai kegiatan memberitakan kejadian bencana.
Menurut Fatih Muftih, Jurnalisme Bencana adalah bagaimana media melaporkan peristiwa bencana.13 Dalam kata “bagaimana” terkandung dua makna yaitu proses dan hasil. Makna proses ada pada proses produksi berita-berita bencana. Sementara makna hasil ada pada berita-berita bencana yang dimuat dan disiarkan pada media.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga yang mengurusi dunia penyiaran di Indonesia membuat sebuah pedoman dalam peliputan bencana.
12 Azwar, 4 Pilar Jurnalistik Pengetahuan Dasar Belajar Jurnalistik (Jakarta: Prenandamedia Group, 2018), h. 1.
13 Fatih Muftih, Mengapa Masio Menghidupkan Raja Ali haji (Depok: Orbit Indonesia, 2019), h. 65.
Dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), KPI mengatur peliputan bencana. Hal itu tertulis pada bagian ke empat tentang penyiaran bencana pasal 25 di P3SPS tahun 2012. P3SPS adalah pedoman dan standar bagi kegiatan penyelenggaraan penyiaran baik TV maupun radio di Indonesia.
Pada P3SPS pasal 49, program siaran jurnalistik tentang peliputan bencana atau musibah wajib mempertimbangkan proses pemulihan korban, keluarga, dan masyarakat yang terkena bencana atau musibah. Dalam pasal 50 P3SPS tentang larangan-larangan peliputan bencana. Larangan-larangan tersebut sebagai berikut.
a. menambah penderitaan atau trauma korban, keluarga, dan masyarakat, dengan cara memaksa, menekan, dan/atau mengintimidasi untuk diwawancarai dan/atau diambil gambarnya;
b. menampilkan gambar dan/atau suara saat-saat menjelang kematian;
c. mewawancara anak di bawah umur sebagai narasumber;
d. menampilkan gambar korban atau mayat secara detail dengan close up; dan/atau
e. menampilkan gambar luka berat, darah, dan/atau potongan organ tubuh.
Di dalam pedoman ini juga, program siaran jurnalistik tentang bencana wajib menampilkan narasumber kompeten dan tepercaya dalam menjelaskan peristiwa bencana secara ilmiah.14
Menurut Nazaruddin (2007), terdapat beberapa prinsip dalam Jurnalisme Bencana, yaitu:15
a. Prinsip Akurasi
1) Tanggungjawab pertama dari media adalah memberikan informasi yang benar dan akurat tentang apa yang tengah terjadi. Media harus menjelaskan apakah rumor yang berkembang merupakan fakta atau bukan.
2) Mengingat lingkup kejadian yang luas dan dampaknya besar, liputan bencana hendaknya dilakukan oleh tim peliput, bukan hanya satu orang.
3) Dalam peliputan, media harus selalu mengecek dan mengecek ulang pada berbagai sumber informasi yang relevan, jangan hanya mengandalkan satu sumber informasi.
4) Berbagai pakar yang dilibatkan dalam komentar mengenai bencana biasanya menganalisis berdasarkan prediski dan seknario pristiwa apa yang akan terjadi. Dalam hal ini, media
14 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran tahun 2012.
15 Muzayin Nazaruddin. “Jurnalisme Bencana: Sebuah Tinjauan Etis” Jurnal Komunikasi. Vol. 1 No. 2. 2007, Hal 173.
sebaiknya menjelaskan berbagai prediksi yang mungkin terjadi, lengkap dengan argumentasi, konteks, dan bagaimana menghadapinya.
b. Prinsip Humanuris, Khususnya Prinsip Suara Korban
1) Media harus menyediakan ruang setara bagi semua pihak, terutama perempuan, anak-anak, dan kaum difabel, untuk menyuarkan pendapat mereka. Prinsip humanis ini menuntut media meminimalisir pendapat dari para pejabat negara. Pernyataan dari pejabat hanya diberitakan dalam konteks yang memang “harus”, misalnya pernyataan-pernyataan resmi tentang bantuan dari negara.
2) Media harus menghormati peraturan mengenai akses media yang dibuat oleh rumah sakit atau institusi medis lainnya.
3) Pers tidak boleh menambah penderitaan orang yang sedang dalam kondisi gawat darurat, orang yang sedang berduka, dengan cara memaksa untuk diwawancarai. Termasuk dalam hal ini, gambar korban yang sedang menderita hanya dibolehkan dalam konteks yang mendukung tayangan. Pelanggaran etis yang begitu ketara atas prinsip ini dilakukan oleh sbuah stasiun televise swasta Indonesia yang tanpa rasa empati sedikitpun mewawancarai korban tabrakan KA
Sembari dan KA Kertajaya di dekat stasiun Gubuk, Purwodadi, yang tengah meregang nyawa.
4) Media harus menghormati mitologi yang berkembang di masyarakat tentang bencana yang terjadi. Serigkali, mitologi ini bertentangan dengan penejasan ilmiah dan para ahli. Media tidak selayaknya mem-blow up perbedaan keyakinan ini secara berlebihan sebagai sebuah pertentangan. Perjelesan objektif-ilmiah atas bencana yang terjadi sebaiknya dibandingkan dengan reportase subjektif-fenomelogis yang berusaha memahami apa adanya (verstehem) alam piker masyarakat yang mempercayai mitologi tersebut.
c. Prinsip Komitmen Menuju Rehabilitasi
1) Pascabencana, tugas media adalah mempercepat proses pemulihan psikologis, sosial, dan ekonomi masyarakat yang tertimpa bencana. Segala kecenderungan pemberitaan yang tidak sejala atau bahkan kontrapoduktif dengan visi ini harus diminalisir, termasuk kecenderungan umum pemberitaan dramatis dan traumatis. Termasuk dalam prinsip ini, peliputan korban harus dilakukan dengan
memeprtimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya.
2) Media harus menginisiasi masyarakat melupakan masa lalu yang kritis dan menyeramkan, bangkit dan menatap ke depan dengan menyuguhkan berbagai solusi praktis yang secepatnya bias dilakukan. Dalam hal ini, media perlu melibatkan akademisi ahli yang berhubungan dengan penanganan pascabencana, seperti psikolog, dan dokter, untuk berkomentar lewat media ataupun bekerjasama mengadakan program-program rehabilitasi pascabencana.
3) Media harus mampu menjadi wadah bagi proses penemuan kembali antar anggota keluarga yang terpisah (Lost and Found) d. Prinsip Kontrol dan Advokasi
1) Media seharusnya melakukan pemberitaan bencana secara konsisten dan terus menerus sepanjang masalah-masalah krusial yang ditimbulkan bencana tersebut. Misalnya masalah distribusi bantuan belum selesai. berangkat dari pendekatan oplah dam rating, normatif-etis pertama ini adalah menjadi sangat susah dilakukan, namun setidaknya media menyediakan kolom dan waktu siar yang proposional bagi perkembangan
permasalahan bencana tersebut dalam rentang waktu lebih panjang.
2) Media harus menjalankan fungsi pengawasan (surveillance) dengan menjadi watchdog bagi pihak-pihak penyalur bantuan bencana. Dalam praktiknya, prinsip etis ini tidak mudak dijalankan, karenanya media harus mempunyai strategi-strategi khusus. Beberapa strategi yang bisa dijalankan adalah, pertama, menerapkan model
investigative journalism. Kedua, jika
investigative journalism terlalu sulit
dilaksanakan karena beberbagi sebab, media harus membangun jalan atau aliansi bencana antara media, LSM, dan akademisi untuk mengkontrol penyaluran bantuan bencana ini.
3) Prinsip control penting lainnya adalah media harus berperan penting dalam early warning system bencana.
2. Format dan Program Radio
Menurut Andi Fachrudin, pengertian format program mengacu pada perencanaan penyajian suatu program yang didasari isi siarannya.16 Penentuan format
16 Andi Fachruddin, Journalism Today (Jakarta: Prenandamedia Group, 2019), h. 210.
program mengacu kepada format siaran radio itu sendiri. Format siaran radio merupakan penyusunan dari program siaran radio yang akan disiarkan. Menurut Morissan (2011), secara sederhana, format siaran dapat didefinsikan sebagai upaya pengelola stasuin radio untuk memproduksi program siaran yang dapat memenuhi kebutuhan pengengar.
Di Indonesia sendiri, format siaran menjadi hal yang wajib dimiliki oleh setiap stasiun peyiaran. Kewajiban tersebut tercantum dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran, yang menyatakan bahwa pemohon izin penyiaran wajib mencantumkan nama, visi, misi, dan format siaran yang akan diselenggarakan serta memenuhi persyaratan sesuai dengan kententuan undang-undang.17 Pencantuman format siaran ini hanya belaku di negara Indonesia saja.
Format Radio menentukan kepripadian sebuah stasiun penyiaran radio yang terwujud dalam isi, materi, jenis musik, bentuk penyajian, dan gaya penyampaian para penyiarnya. Adapun proses menetapkan format radio diantaranya:18
a. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Menentukan visi dan misi radio
17 Pasal 33 ayat (2), Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
18 Andi Fachruddin, Journalism Today (Jakarta: Prenandamedia Group, 2019), h. 212.
c. Melakukan riset kebutuhan dan prilaku sosiologis-psikologis pendengar, untuk mengetahui selera/rasa, keinginan dan kebutuhan atau target pendengar. d. Melakukan perbandingan/komparasi dengan radio
competitor dan monitoring media pesaing, apakah disusun sama atau berbeda.
e. Pengamatan/observasi media lain.
f. Berdasarkan tren yang ada di masyarakat.
g. Kemampuan modal, sumber daya (manajemen) yang dimiliki media dan kualitas penyiar (radio personality)
Adapun menurut Jalaludin Rahmat, acara yang disiarkan radio memiliki beberapa jenis dan bentuk format:19
a. Format acara musik/hiburan siaran seperti program musik atau hiburan merupakan jenis acara yang paling banyak diminati khalayak masyarakat.
b. Format acara news/informasi merupakan salah satu acara yang berfungsi sebagai alat untuk memberi berbagai macam informasi penting dan akurat kepada khalayak.
c. Format acara Talkshow yang hadir di radio semakin menjamur sebagai bentuk keingintahuan/ up to date informasi pendengar terhadap realitas yang terjadi.
19 Jalaludin Rakhmat, Dakwah dan Komunikasi Massa, Kooperasi atau
d. Format acara keagamaan merupakan salah satu bentuk kegiatan kemunikasi untuk mewujudkan ajaran agama khususnya terhadap khalayak.
Jenis format siaran yang populer di dunia menurut Michael C. Keith (1987) dibagi menjadi empat macam, yaitu:20
1. Adult Contenmporary (AC), menyasar untuk kaum muda dan dewasa yang memiliki rentang umur sangat luas antara 20 - 25 tahun, dan berdaya beli tinggi. Biasanya format AC menyiarkan music pop masa kini, berita olahraga, ekonomi politik.
2. Contenmporary Hit Radio (CHR) atau yang dikenal dengan Top 40 Radio, format ini ditujukan untuk anak muda yang berumur anatara 12 - 20 tahun. Format paling populer berisi lagu-lagu Top 40/Top 30, lagu baru, dan lagu terlaris. Format ini juga menyiarkan berita gossip idola dan tips praktis. Mike Yoseph menggambarkan CHR sebagai radio yang ketat memutar 30 rekaman terkini, bukan album lama, tidak memutar ulang sebuah lagu yang sama secara berdekatan, perpindahan antar lagu sangat cepat.
3. All News/All Talks, sama seperti Adult Contenmporary, Format ini juga menyasar kaum muda dan dewasa yang memiliki rentang umur sangat luas antara 20 - 25 tahun, dan berdaya beli tinggi. All Talks hadir lebih
20 Masduki, Menjadi Broadcaster Profesional (Yogyakarta: Pustakan Popular LKIS, 2004), h. 38.
dulu pada tahun 1960 di Los Angeles dengan konsep siaran Talk Show interaktif mengupas isu-isu lokal. Kemudian, All News hadir pada tahun 1964 dimotori Gordon McLendon di Chicago dengan konsep berita bulletin selama 20 menit berisi berita lokal, regional, dan dunia.
4. Classic/Oldies, Format ini menyasar untuk kalangan dewasa dan orang tua yang memiliki rentang umur 36 - 60 tahun. Memutar lagu-lagu klasik dan lagu-lagu lama untuk bernotalgia. Format ini juga menyiarkan berita klasik masa lalu. Oldies juga mencakup segmen beragam pada level ekonomi menengah ke bawah dengan dominasi musik dangdut dan kolaborasi.
Keempat format ini masih dinilai sangat luas. Format siaran radio biasanya mencakup banyak aspek mulai dari umur, jenis kelamin, profesi, geografi, hingga agama. Format radio beradasarkan umur meliputi radio anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Format radio berdasarkan agama seperti radio dakwah, radio agama lainnya.
Program siaran adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiencenya.21 Program siaran menjadi tulang punggung bagi semua stasiun penyiaran dimana pun, baik itu televisi ataupun radio. Kebanyakan stasiun penyiaran justru
21 Morrisan, Manajemen Media Penyiaran Strategi Mengelola Radio dan
terkenal karena dari program siarannya. Inilah yang menjadi alasan dimana radio harus mampu membuat sebuah program acara yang menarik banyak khalayak untuk disaksikan, sehingga dapat menarik keuntungan untuk media tersebut.
Stasiun radio biasanya memproduksi sendiri program siarannya, sehingga stasiun radio tidak melibatkan pihak luar saat memproduksi program siarannya sendiri. Diperlukan keterampilan tertentu dalam memproduksi program siaran sehingga menghasilkan program siaran yang menarik didengar oleh para audience. Beberapa program radio yang dibahas pada bagian ini adalah; 1) Berita Radio; 2) Musik; 3) Jingle Radio; 4) Talkshow; 5) Infotaiment Radio; 6) Drama Radio; 7) Iklan Radio.22
1. Berita Radio
Siaran radio yang tidak mengenal jarak dan waktu menjadikannya sebagai media yang lebih unggul dibandingkan dengan media lainnya. Hal ini juga yang membuat radio memiliki daya tarik sendiri. Berita yang terbaru dan paling up to date mengenai sebuah kejadian atau peristiwa penting akan menjadi hal yang menarik untuk para audience yang disiarkan oleh radio. Berita Radio adalah laporan dari sebuah peristiwa atau
22 Andi Fachruddin, Journalism Today (Jakarta: Prenandamedia Group, 2019), h. 218.
sebuah pendapat yang menarik yang diolah kembali berdasarkan kaidah jurnalistik radio.
Berita radio haruslah menyajikan informasi yang menarik mungkin menyesuaikan dengan golongan pendengarnya. Jika pendengar adalah anak muda, maka berita yang disajikan haruslah yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan anak muda, misalnya berita tentang idola mereka, dan sebagainya. Adapun informasi yang disajikan oleh radio tidak selalu dari fakta di lapangan, tetapi tetap mengikuti kaidah jurnalistik. Salah satu bentuk siaran informasi populer di radio adalah informasi aktual yang diambil dari surat kabar atau internet.23
Menurut Andi Fachruddin, setidaknya ada empat format berita radio, yaitu:24
a. Berita Langsung (hard news), disebut juga straight news atau spot news. Hard news adalah berita yang dibuat secara lugas (to the point), ringkas untuk menyampaikan informasi aktual yang secepatnya harus diketahui oleh para pendegar. Mengedepankan fakta terpenting pada awal berita. b. Berita Ringan (soft news), berita yang mengupas
suatu pokok permasalahan human interst/human touch ditinjau dari beberapa segi dan digali secara
23 Andi Fachruddin, Journalism Today (Jakarta: Prenandamedia Group, 2019), h. 218.
24 Andi Fachruddin, Journalism Today (Jakarta: Prenandamedia Group, 2019), h. 218.
mendalam, sehingga pada akhir siaran dapat diperoleh gambaran lengkap tentang topik yang dibahas. Soft news identik dengan features, termasuk tips dan berita lucu, contoh tentang pelestarian lingkungan hidup, dengan pengraian terarah pada acara-cara melestarikan lingkungan hidup yang disajikan seara bervariasi melalui perpaduan melalui beragai unsur, seperti statement, wawancara, dialog, maupun sandiwara singkat.
c. Berita mendalam (depth news), berita yang hanya tidak sekear memenuhi 5W + 1H (paparan fakta), tetapi juga pendalaman kasus.
d. Continuous news/Updating news, topik berita yang disiarkan beberapa kali dalam satu hari, bahkan dalam satu minggu. Berita ini disajikan untuk mengetahui perkembangan kasus yang terjadi secara berkelanjutan.
Dalam proses penyiaranya, berita radio tidak hanya disampaikan oleh si penyiar saja, tetapi juga bisa disiarkan langsung dan lainnya. Berikut ini adalah beberapa format penyamapain sebuah berita radio:
a. Spot News, ialah berita pendek yang disajikan secara cepat. Biasanya spot news bersumber dari media lain yang kemudian ditulis ulang oleh radio dengan menyesuaikan kaidah jurnalistik radio.
b. Phone in News, ialah penyampain berita dari reporter atau pendengar melalui jaringan telepon. Phone in news juga digunakan oleh radio untuk mendapatkan opini para pendengar mengenai sebuah peristiwa.
c. New Bulletin, gabungan dari beberapa berita yang disiarkan dalam satu waktu.
d. Live reporting, ialah penyampaian sebuah fakta dari sebuah peristiwa oleh reporter dari lokasi peristiwa secara langsung.
Radio sebagai salah satu media massa dituntut tidak hanya menyiarkan sebuah hiburan belaka saja. Radio juga harus memeberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan akurat.
2. Musik
Karena sifat radio yang auditif (hanya bisa didengar), tentu hubungan radio dan musik sangatlah erat. Radio juga menjadi sebuah media hiburan untuk masyarakat, dan menu utamanya adalah musik. Program musik radio adalah suatu pertunjukan musikus tunggal, vokalis, atau grup musik (band) diatas panggung yang dirancang khusus untuk pertunjukan musik dan disaksikan penonton di lapangan, stadion, aula, café, hotel secara outdoor ataupun indoor seperti di dalam studio yang disiarkan secara live ataupun record. Namun saat ini radio mengandalkan musik
dalam siarannya dengan pemutaran lagu yang dikombinasikan dengan adlibs25 dari penyiar.26
Hampir semua genre musik di dunia disiarkan di radio, seperti: urban, country, rock, alternative, indie, folk, pop, dance, jazz, blues, dangdut, dan lain sebagainya. Beberapa genre tersebut biasanya disiarkan dengan format top tangga lagu, seperti Top 40 di Prambors FM, atau juga bisa dengan request atau permintaan dari pendengar dengan menghubungi pihak stasiun radio melalui smartphone mereka. Ada juga porgam musik radio yang hanya fokus dengan satu gener musik saja seperti Radio Dangdut Indonesia 97.1 FM milik MNC Radio Network yang hanya memutarkan genre lagu dangdut saja, dikarenakan target pendengar mereka adalah para pecinta lagu tersebut.
3. Jingle Radio
Jingle radio atau radio air promo adalah gabungan musik dan kata yang menjadi sebuah ciri khas yang dimiliki oleh stasiun radio untuk