a. Gambaran Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri)
PNPM Mandiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan, dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/ meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang lebih besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai.
PNPM adalah kerangka bagi konsolidasi program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan efektivitas program dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan, meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat. Pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui tahap pembelajaran masyarakat, tahap kemandirian masyarakat, tahap keberlanjutan pembentukan kelompok masyarakat
menjadi modal sosial yang membuka secara penuh dan mendekatkan sumber daya capital atau modal ekonomi langsung kepada masyarakat.
Kemandirian masyarakat dengan menguatkan modal sosialnya didukung oleh modal ekonomi, modal SDM (fasilisator/ penggerak pemberdayaan masyarakat) perlu harmonisasi berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dan perubahan dari ”skema proyek” menjadi ”skema program”, melalui:
1. Locus kegiatan di tingkat kecamatan.
2. Prioritas pada desa/ kelurahan dan kelompok masyarakat miskin.
3. Prinsip dasar, strategi, indikator pencapaian, serta berbagai mekanisme dan prosedur.
4. PNPM
b. Dasar Kebijakan PNPM Mandiri
Perpres No. 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK), yang diketuai oleh Menkokesra dan bertugas untuk merumuskan langkah-langkah kongkrit dalam penanggulangan kemiskinan. Hasil Sidang Kabinet pada tanggal 7 September 2006: diperlukan percepatan penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Selanjutnya TKPK pada tanggal 12 September menyepakati untuk menindaklanjuti hasil sidang kabinet tersebut dengan merumuskan sebuah program yang bernama PNPM. Menkokesra kemudian menerbitkan SK Menkokesra No. 28/Kep/Menko/Kesra/XI/2006 yang diperbaharui dengan Kepmenkokesra No. 23/KEP/Menko/Kesra/VII/2007 tentang Tim Pengendali PNPM Mandiri.
c. Tujuan PNPM Mandiri 1. Tujuan Umum
Meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri.
2. Tujuan Khusus
1. Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat miskin, kelompok perempuan, komunitas adat terpencil, dan kelompok masyarakat lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.
2. Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar, representatif, dan akuntabel.
3. Meningkatnya kapasitas pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama masyarakat miskin melalui kebijakan, program dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro-poor).
4. Meningkatnya sinergi masyarakat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat, dan kelompok peduli lainnya, untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.
5. Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian masyarakat, serta kapasitas pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.
6. Meningkatnya modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal.
7. Meningkatnya inovasi dan pemanfaatan tekhnologi tepat guna, informasi dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.
d. Ciri-ciri Utama PNPM Mandiri
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri mempunyai ciri-ciri utama sebagai berikut:
1. Menggunakan pendekatan partisipasi masyarakat.
2. Melakukan penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat.
3. Kegiatan program dilaksanakan secara swakelola oleh masyarakat. e. Prinsip Dasar PNPM Mandiri
PNPM Mandiri menekankan prinsip-prinsip dasar berikut ini:
1) Bertumpu pada pembangunan manusia. Pelaksanaan PNPM Mandiri senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya.
2) Otonomi. Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri, masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri untuk berpartisipasi dalam menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola.
3) Desentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya.
4) Berorientasi pada masyarakat miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
5) Partisipasi. Masyarakat terlibat secara aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan.
6) Kesetaraan dan keadilan gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan.
7) Demokratis. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyarawah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin.
8) Transparansi dan Akuntabel. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif.
9) Prioritas. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas.
10) Kolaborasi. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.
11) Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
12) Sederhana. Semua aturan, mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan PNPM Mandiri harus sederhana, fleksibel, mudah dipahami, dan mudah dikelola, serta dapat dipertanggungjawabkan oleh masyarakat.
f. Sasaran PNPM Mandiri Pedesaan 1. Lokasi Sasaran
Pada tahun 2009, lokasi PNPM Mandiri Pedesaan meliputi seluruh kecamatan pedesaan di Indonesia yang dalam pelaksanannya dilakukan secara bertahap. Untuk tahun 2008, ketentuan pemilihan lokasi sasaran berdasrkan ketentuan:
a. Kecamatan-kecamatan yang tidak termasuk kategori “kecamatan bermasalah dalam PPK,”
b. Kecamatan-kecamatan yang diusulkan oleh pemerintahan daerah dalam skema kontribusi pendanaan.
2. Kelompok Sasaran
a. Rumah Tangga Miskin (RTM),
b. Kelembagaan masyarakat di pedesaan, b. Kelembagaan pemerintah lokal. g. Pendekatan PNPM Mandiri
Pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan program dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan program adalah pembangunan yang berbasis masyarakat dengan:
1. Menggunakan kecamatan sebagai lokus program untuk mengharmonisasikan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program.
2. Memposisikan masyarakat sebagai penentu/pengambil kebijakan dan pelaku utama pembangunan pada tingkat lokal.
3. Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya lokal dalam proses pembangunan partisipatif.
4. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya dan geografis.
5. Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas pembelajaran, kemandirian, dan keberlanjutan.
h. Pendanaan
1. Besarnya Alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM)
Alokasi BLM untuk setiap kecamatan dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu:
a. Alokasi berdasarkan keberadaan desa tertinggal
Kecamatan yang mempunyai desa tertiggal yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka BLMnya berdasrkan jumlah desa tertinggal yang ada di kecamatan tersebut. Data desa tertinggal merujuk pada data yang ditetapkan oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal. Alokasi BLM kecamatan yang mempunyai desa tertinggal, dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 2
Ketentuan Alokasi Dana BLM Kecamatan yang Mempunyai Desa Tertinggal Jumlah Desa Tertinggal Alokasi BLM (Rupiah) < 3 1.000.000.000 4 1.250.000.000 5 1.500.000.000 6 1.500.000.000
7 1.750.000.000 8 2.000.000.000 9 2.250.000.000 10 2.500.000.000 11 2.750.000.000 > 12 3.000.000.000
Sumber: PTO PNPM Mandiri Pedesaan
b. Alokasi berdasarkan ratio penduduk miskin dan jumlah penduduk di kecamatan
Untuk kecamatan-kecamatan yang tidak mempunyai desa tertinggal yang telah ditentukan pemerintah, dialokasikan dengan menggunakan rasio penduduk miskin dan jumlah penduduk dalam kecamatan, dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 3
Ketentuen Alokasi Dana BLM dengan Menggunakan Rasio Penduduk Miskin dan Jumlah Penduduk dalam Kecamatan
Lokasi Jumlah Penduduk Persen Penduduk Miskin Alokasi BLM (Rupiah) Jawa <25.000 </=40% 1.500.000.000 >40% 1.750.000.000 25.000-50.000 </=40% 1.750.000.000 >40% 2.000.000.000 >50.000 <20% 2.250.000.000 20%-40% 2.500.000.000 >40% 3.000.000.000 Luar Jawa <15.000 </=40% 1.500.000.000 >40% 1.750.000.000 15.000-25.000 </=40% 1.750.000.000 >40% 2.000.000.000 >25.000 <20% 2.250.000.000 20%-40% 2.500.000.000 >40% 3.000.000.000 Sumber: PTO PNPM Mandiri Pedesaan
2. Sumber dan Ketentuan Alokasi BLM PNPM Mandiri Pedesaan
Sumber dana berasal dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) c. Swadaya masyarakat
d. Partisipasi dunia usaha
Ketentuan tentang alokasi dana PNPM Mandiri Pedesaan adalah:
1. Berdasarkan penetapan lokasi kecamatan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Departemen Keuangan (Depkeu) menerbitkan Dokumen Anggaran yang berlaku sebagai surat keputusan otorisasi.
2. Alokasi dana PNPM Mandiri Pedesaan dicatat pada Daftar Pembukuan Administrasi APBD Kabupaten
3. Dana Operasional UPK (Unit Pengelelola Kegiatan) dan Pelaksanaan di Desa
Kebutuhan biaya operasional kegiatan TPK (Tim Pengelola Kegiatan)/ desa dan UPK bertumpu pada swadaya masyarakat . namun untuk menumbuhkan keswadayaan tersebut diberikan bantuan stimulant dana dari PNPM Mandiri Pedesaan. Dana operasional UPK sebesar maksimal dua persen (2%) dari dana bantuan PNPM Mandiri Pedesaan yang dialokasikan di kecamatan tersebut. Dana operasional TPK/ desa maksimal tiga persen (3%) dari dana PNPM Mandiri Pedesaan yang dialokasikan sesuai hasil musyawarah Antar Desa Penetapan Kegiatan menurut Surat Penetapan Camat (SPC) untuk desa yang bersangkutan.
i. Tahap Pemberdayaan Masyarakat Menuju Kemandirian
1. Tahap Pembelajaran (bagi masyarakat dan pemda untuk memahami pengelolaan pembangunan partisipatif)
Meski bersifat stimulan, BLM memiliki peran besar untuk pelaksanaan kegiatan awal pengintegrasian perencanaan partisipatif ke dalam sistem perencanaan pembangunan reguler. Peran pendamping (fasilisator/ konsultan) sangat diperlukan terutama dalam inisiatif dan prakarsa. Diperlukan waktu sekitar 2 tahun, tergantung kondisi wilayah dan kesiapan masyarakat.
2. Tahap Kemandirian
Masyarakat, pemda, konsultan dan fasilisator sudah merupakan mitra sejajar. Masyarakat dan pemda dapat mengakses berbagai sumber dana yang ada. Perencanaan partisipatif telah ditetapkan sebagai peraturan daerah. Peran fasilisator/ konsultan difokuskan pada supervisi dan penguatan kapasitas pelopor/ relawan masyarakat agar mampu memfasilitasi kegiatan masyarakat di wilayahnya, diperlukan waktu 2 tahun.
3. Tahap Keberlanjutan
Masyarakat mampu menghasilkan keputusan yang rasional dan adil, dan mampu membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Kebijakan dan penganggaran pemda lebih pro-poor . Keberadaan fasilisator/ konsultan atas permintaan masyarakat/ pemda sesuai keahlian yang dibutuhkan. Kemitraan masyarakat, pemda dan kelompok peduli berlangsung secara sinergis sebagai penggerak pembangunan, diperlukan waktu setidaknya 1 tahun. Tujuan dan strategi yaitu terbentuknya masyarakat yang mandiri dan dapat mengakses berbagai program yang diperlukan dari tahun 2007-2015.
Proses pemberdayaan masyarakat; 1. Refleksi kemiskinan
a) Identifikasi kemiskinan
b) Merumuskan persoalan kemiskinan yang dihadapi c) Merumuskan penyebabnya
d) Identifikasi potensi untuk menanggulanginya 2. Pertemuan masyarakat
a) Tahap belajar awal menggali kebersamaan b) Berdemokrasi
c) Kesadaran akan eksistensi diri 3. Sosialisasi di masyarakat
a) Pemetaan sosial b) Sosialisasi program 4. Pnyusunan Rencana
Identifikasi dan prioritasi
Penyusunan rencana/ program penanggulangan kemiskinan. Pengorganisasian masyarakat : lembaga masyarakat dibentuk/ ditetapkan, dimiliki, dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan bersama.
5. Pelaksanaan kegiatan: pembentukan/ penetapan kelompok swadaya masyarakat pelaksana kegiatan media bersama untuk meyelesaikan masalah secara mandiri.
6. pemetaan swadaya
a) Merumuskan kebutuhan dan potensi yang ada
7. Penerima manfaat: kelompok swadaya masyarakat dan masyarakat miskin lainnya .
j. Ketentuan Dasar
Ketentuan dasar PNPM Mandiri Pedesaan merepukan ketentuan-ketentuan pokok yang digunakan sebagai acuan bagi masyarakat dan pelaku lainnya dalam melaksanakan kegiatan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian. Ketentuan dasar PNPM Mandiri Pedesaan dimaksudkan untuk mencapaqi tujuan secara lebih terarah. Ketentuan dasar meliputi:
1. Desa Berpartisipasi
Seluruh desa di kecamatan penerima PNPM Mandiri Pedesaan berhak berpartisipasi dalam seluruh tahapan program. Namun, untuk kecamatan- kecamatan yang pemilihan maupun penentuan besarnya BLM didasarkan pada adanya desa tertinggal, maka kegiatan yang diusulkan oleh desa-desa tertinggal akan mendapatkan prioritas didanai.
Besarnya pendanaan kegiatan dari desa tertinggal tergantung pada besar/volume kegiatan yang diusulkan. Pembagian dana BLM secara otomatis kepada desa-desa tertinggal sama sekali tidak diinginkan, karena setiap usulan kegiatan harus dinilai kelayakannya secara teknis maupun manfaat sosial ekonominya.
Untuk dapat berpartisipasi dalam PNPM Mandiri Pedesaan, dituntut adanya kesiapan dari masyarakat dan desa dalam menyelenggarakan pertemuan- pertemuan musyawarah secara swadaya dan menyediakan kader-kader desa yang bertugas secara sukarela serta adanya kesanggupan untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan dalam PNPM Mandiri Pedesaan.
Untuk mengoptimalkan pengelolaan program, bagi kecamatan yang memiliki jumlah desa lebih dari 20 disarankan untuk menggabungkan desa-desa tersebut menjadi sekurang-kurangnya 10 satuan desa cluster. Penggabungan tersebut didasrkan atas kesepakatan desa-desa dengan mempertimbangkan kedekatan wilayah. Proses pembentukan desa cluster dilakukan dalam MAD Sosialisasi.
2. Kriteria dan Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dibiayai BLM diutamakan untuk kegiatan yang memenuhi criteria:
a. lebih bermanfaat bagi RTM, baik lokasi desa tertinggal maupun bukan desa tertinggal,
b. berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan, c. dapat dikerjakan oleh masyarakat,
d. didukung oleh sumber daya yanga ada,
e. memliki potensi berkembang dan berkelanjutan.
Jenis-jenis kegiatan yang dibiayai melalui BLM PNPM Mandiri Pedesaan adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan pembangunan atau perbaikan prasarana sarana dasar yang dapat memberikan manfaat langsung secara ekonomi bagi RTM,
b. Kegiatan peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, termasuk kegiatan pelatihan ketrampilan masyarakat (pendidikan nonformal),
c. Kegiatan peningkatan kapasitas/ketrampilan kelompok usaha ekonomi terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumber daya local (tidak termasuk penambahan modal),
d. Penambahan pemodalan simpan pinjam untuk Kelompok Perempuan (SPP).
3. Mekanisme Usulan kegiatan
Setiap desa dapat mengajukan 3 (tiga) usulan untuk dapat didanai dengan BLM PNPM Mandiri Pedesaan. Setiap usulan harus merupakan 1 (satu) jenis kegiatan/ satu paket kegiatan yang secara langsung saling berkaitan. Tiga usuloan yang dimaksud adalah:
a. Usulan kegiatan sarana prasarana dasar atau kegiatan peningkatan kualitas hidup masyarakat (kesehatan atau pendidikan) atau peningkatan kapasitas/ ketrampilan kelompok usaha ekonomi yang ditetapkan oleh musyawarah desa khusus perempuan
b. Usulan kegiatan simpan pinjam bagi Kelompok Perempuan (SPP) yang ditetapkan oleh musyawarah desa khusus perempuan. Alokasi dana kegiatan SPP ini maksimal 20% dari BLM kecamatan. Tidak ada batasan alokasi maksimal per desa namun harus mempertimbangkan hasil verifikasi kelayakan kelompok
c. Usulan kegiatan sarana prasarana dasar, kegiatan peningkatan kualitas hidup masyarakat (kesehatan atau pendidikan) dan peningkatan kapasitas/ ketrampilan kelompok usaha ekonomi yang ditetapkan oleh musyawarah desa perencanaan
Jika usulan non-SPP dari musyawarah khusus perempuan sama dengan usulan musyawarah desa campuaran, maka kaum perempuan dapat mengajukan usulan pengganti, sehingga jumlah usulan kegiatan dari musyawarah desa perencanaan tetap tiga. Usulan kegiatan pendidikan atau kesehatan harus mempertimbangkan rencana induk dari instansi pendidikan atau kesehatan di kabupaten.
4. Swadaya Masyarakat
Sawadaya adalah kemauan dan ketrampilan masyarakat yang disumbangkan sebagai bagian dari rasa ikut memiliki terhadap program. Sawadaya masyarakat merupakan salah satu wujud partisipasi dalam pelaksanaan tahap PNPM Mandiri Pedesaan. Swadaya bias diwujudkan dengan menyumbangkan tenaga, dana, maupun material pada saat pelaksanaan kegiatan.
Dasar keswadayaan adalah kerelaan masyarakat, sehingga harus dipastikan bebas dari tekanan atau paksaan. Uapah hari orang kerja (HOK) bagi tenaga kerja RTM, baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh dipotong atau diminta sebagai bentuk kontribusi swadaya masyarakat, karena upah HOK ini ditujukan untuk meningkatkan pendapatan mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan PNPM Mandiri.
5. Kesetaraan dan Keadilan Gender
Untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan pemihakan kepada perempuan. Pemihakan memberi makna berupa upaya pemberian kesempatan bagi perempuan untuk memenuhi kebutuhan dasr, ekonomi, dan politik serta mengakses asset produktif.
Sebagai salah stu wujud keberpihakan kepada perempuan, PNPM Mandiri Pedesaan mengharuskan adanya keterlibatran perempuan sebagai pengambil keputusan dan pelaku pada semua tahap perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian. Kepentingan perempuan harus terwakili secara memadai.
6. Jenis Kegiatan yang Dilarang (Negative List)
Jenis kegiatan yang tidak boleh didanai melalui PNPM Mandiri Pedesaan adalah sebagai berikut:
a. Pembiayaan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan militer atau angkatan bersenjata, pembiayaan politik praktis/ partai politik
b. Pembangunan atau rehabilitasi bangunan kantor pemerintahan dan tempat ibadah
c. Pembelian chainsaw, senjata, bahan peledak, asbes dan bahan-bahan lain yang merusak lingkungan (pestisida, herbisida, obat-obat terlarang dan lain-lain)
d. Pembelian kapal ikan yang berbobot di atas 10 ton dan perlengkapannya e. Pembiayaan gaji pegawai negeri
f. Pembiayaan kegiatan yang memperkerjakan anak-anak di bawah usia kerja g. Kegiatan yang berkaitan dengan produksi, penyimpanan, atau penjualan
barang-barang yang mengandung tembakau
h. Kehiatan apapun yang dilakukan di lokasi yang ditetapkan sebagi cagar alam, kecuali ada izin tertulis dari instansi yang mengelola lokasi tersebut i. Kegiatan pengelolaan tambang atau pengambilan dan penggunaan terumbu
j. Kegiatan yang berhubungan pengelolaan sumber daya air dari sungai yang mengalir dari atau menuju negara lain
k. Kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan jalur sungai
l. Kegiatan yang berkaitan dengan reklamasi daratan yang luasnya lebih dari 50 Ha.
m. Pembangunan jalur irigasi baru yang luasnya lebih dari 50 Ha
n. Kegiatan pembangunan bendungan atau penampungan air dengan kapasitas besar, lebih dari 10.000 meter kubik.
7. Sanksi
Sanksi adalah salah satu bentuk pemberlakuan kondisi dikarenakan adanya pelanggarana atas peraturan dan tata cara yang telah ditetapkan di dalam PNPM Mandiri Pedesaan. Sanksi bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kegiatan PNPM Mandiri Pedesaan. Sanksi dapat berupa:
a. Sanksi masyarakat, yaitu sanksi yang ditetapkan melalui kesepakatan dalam musyawarah. Semua kesepakatan sanksi dituangkan secara tertulis dan dicantumkan dalam berita acara pertemuaan
b. Sanksi hokum, yaitu sanksi yang diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Sanksi program adalah pemberhentian bantuan apabila kecamatan atau desa yang bersangkutan tidak dapat mengelola PNPM Mandiri Pedesaan dengan baik, seperti menyalahi prinsip-prinsip, menyalahgunakan dana atau wewenag, penyimpangan prosedur, hasil kegiatan tidak terpelihara atau hasil kegiatan tidak dapat dimanfaatkan. Kecamatan tersebut akan
dimasukkan sebagai kecamatan bermasalah sehingga dapat ditunda pencairan dana yang sedang berlangsung, terta tidak dialokasikan untuk tahun berikutnya.
8. Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Lembaga dan Pemerintah Lokal
Dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat, lembaga dan pemerintahan local menuju kemandirian, maka:
a. Di setiap desa, ditetapkan, dan dikembangkan: Kader pemberdayaan Masyarakat Desa/ kelurahan (KPMD/K dengan kualifikasi teknik dan pemberdayaan), Tim Penulis Usulan (TPU), Tim Pengelola Kegiatan (TPK), Tim Pemantau, Tim Pemelihara
b. Di kecamatan dibentuk dan dikembangkan: Badan Kerja sama Antar Desa (BKAD), Tim Verufikasi, UPK, Badan Pengawas UPK (BP-UPK) dan Pendamping Lokal (PL)
c. Diadakan pelatihan kepada pemerintahan desa meliputi pemerintah desa dan Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) atau bentuk kegiatan lain yang dapt menunjang pelaksaan fungsi dan tugasnya. Pelatihan yang akan diadakan diantaranya meliputi penyusunan peraturan desa, pengawasan terhadap pelaksanaan, pemerintahan, dan pembangunan, pengelolaan penanganan masalah dan perencanaan kegiatan pembangunan yang partisipatif
d. Dilakukan kategorisasi tingkat perkembangan kelembagaan hasil PPK di desa dan di kecamatan. Kategorisasi meliputi tahap pembentukan dan tahapan pengakaran. Tahap pembentukan untuk mengetahui hubungan
antara dinamika kolektivitas dan strategi pendampingan, sedangkan tahap pengakaran untuk mengetahui dinamika kolektivitas dan statuta.
e. Dilakukan penataan dan pengembangan kelembagaan desa serta antar desa Organisasi kerja yang dibangun PPK, awalnya adalah lembaga-lembaga desa dan antar desa yang dibentuk untuk kebutuhan fungsional program. Dalam PNPM Mandiri Pedesaan, organisasi tersebut diharapkan mampu mengelola secara mandiri atas hasil-hasil program, baik yang telah dikerjakan melalui PPK maupun yang deikerjakan melalui PNPM Mandiri Pedesaan. Untuk mencapai kemampuan ini perlu dilakukan kebijakan penataan kelembagaan. Kebijakan penataan menyesuaikan perkembangan yang terjadi di lapangan dan kebijakan serta peraturan perundangan yang ada.
9. Pendampingan Masyarakat dan Pemerintah Lokal
Masyarakat dan pemerintah lokal dalam melaksanakam PNPM Mandiri Pedesaan mendapatkan pendampingan dari fasilitator. Peran pendampingan ditujukan bagi pengutan atau peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah lokal dalam mengelola pembangunan secara mandiri di wilayahnya. Fasilitator yang akan mendampingi masyarakat dan pemerintah lokal adalah sebagai berikut:
a. Di setiap kecamatan disediakan Fasilitator Kecamatan (F-Kec) dan Fasilitator Teknik Kecamatan (FT-Kec)
b. Di setiap kabupaten disediakan Fasilitator Kabupaten (F-Kab) dan Fasilitator Teknik Kabupaten (FT-Kab)
c. Berdasarkan pertimbangan TK Kab PNPM Mandiri, salah seorang dari Fasilitas Kabupaten dan Fasilitator Teknik Kabupaten ditetapkan sebagai
Koordinator Fasilitator Kabupaten (KF-Kab) oleh Satker Provinsi PNPM Mandiri Pedesaan.
d. Di wilayah regional (beberapa kabupaten) disediakan Pendamping UPK. k. Pelaku PNPM Mandiri Pedesaan
Masyarakat adalah pelaku utama PNPM Mandiri Pedesaan pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian. Sedangkan, pelaku-pelaku lainnya di desa, kecamatan, kabupaten dan seterusnya berfungsi sebagai pelaksana, fasilitor, pembimbing dan Pembina agar tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur dan mekanisme PNPM Mandiri Pedesaan tercapai dan dilaksanakan secara benar dan konsisten.
Pelaku di tingkat desa adalah pelaku-pelaku yang berkedudukandan berperan dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan, yang meliputi:
1. Kepala Desa
Peran Kepala Desa adalah sebagai pembina dan pengendali kelancaran serta keberhasilan pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan di desa. Bersama BPD, kepala desa menyusun peraturan desa yang relevan dan mendukung terjadinya proses pelembagaan prinsip dan prosedur PNPM Mandiri Pedesaan sebagai pola pembangunan partisipatif, serta pengembangan dan pelestarian aset PNPM Mandiri Pedesaan yang telah ada di desa. Kepala desa juga berperan mewakili desanya dalam pembetukan forum musyawarah atau kerja sama antar desa.
2. Badan Permusyawaratan Desa (BPD atau sebutan lainnya)
Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan , BPD (atau sebutan lainya) berperan sebagai lembaga yang mengawasi proses dari setiap tahapan PNPM Mandiri Pedesaan , termasuk sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan
pelestarian di desa. Selain itu juga berperan dalam melegalisasi atau mengesahkan peraturan desa yang berkatitan dengan pelembagaan dan pelestarian PNPM Mandiri Pedesaan di desa. BPD juga bertugas mewakili masyarakat bersama Kepala Desa dalam membuat persetujuan pembetukan badan kerja sama antar desa.
3. Tim Pengelola Kegiatan (TPK)