• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Program Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial adalah usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tujuan dalam pencapaian kesejahteraan sosial. Pelayanan sosial merupakan usaha pendorong, penawar, pengganti bagi keluarga yang institusi pendidikan; serta merupakan bagian dari mekanisme sosialisasi dan kontrol sosial keluarga, sekolah, dan pelayanan-pelayanan yang dirangkai untuk menyediakan sumber-sumber pribadi dan sosial yang esensial guna pelaksanaan peranan-peranan sosial yang efektif ( Sekarningsih, 1983:77)

Pelayanan sosial untuk penyembuhan, perlindungan dan rehabilitasi mempunyai tujuan untuk melaksanakan pertolongan kepada seseorang, baik

secara individu, maupun di dalam kelompok atau keluarga dan masyarakat agar mampu mengatasi masalah-masalahnya.

Pelayanan sosial meliputi kegiatan-kegiatan atau intervensi-intervensi terhadap kasus yang muncul dan dilaksanakan secara diindividualisasikan, langsung dan terorganisasi serta memiliki tujuan untuk membantu individu, kelompok, dan lingkungan sosial dalam upaya mencapai penyesuaian dan keberfungsian yang baik dalam segala bidang kehidupan di masyarakat, yang terkandung dalam pelayanan dapat dikatakan adanya kegiatan-kegiatan yang memberikan jasa kepada klien dan membantu mewujudkan tujuan-tujuan mereka.

Suatu lembaga lokal yang dibentuk oleh pihak swasta nirlaba dengan tujuan untuk membantu pemerintah dan berada langsung di tengah masyarakat yang berfungsi dalam memberikan pelayanan sosial dapat dikategorikan sebagai suatu lembaga pelayanan sosial.

Pelayanan sosial itu sendiri merupakan suatu bentuk aktivitas yang bertujuan untuk membantu individu, kelompok, ataupun kesatuan masyarakat agar mereka mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, yang pada akhirnya mereka diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang ada melalui tindakan-tindakan kerjasama ataupun melalui pemanfaatan sumber-sumber yang ada di masyarakat untuk memperbaiki kondisi kehidupannya. Adapun pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan Alfred J. Khan sebagai berikut :

“Program-program yang dilaksanakan tanpa mempertimbangkan kriteria pasar untuk menjamin suatu tingkat dasar dalam penyediaan fasilitas pemenuhan kebutuhan kehidupan bermasyarakat serta kemampuan perorangan untuk melaksanakan fungsi-fungsinya untuk memperlancar

kemampuan menjangkau dan menggunakan pelayanan serta lembaga-lembaga yang telah ada dan membantu warga masyarakat yang mengalami kesulitan dan keterlantaran”(Soetarso, 1993:26)

Konsepsi mengenai pelayanan sosial memiliki arti yang luas dan bergantung kepada bagaimana konsep pelayanan sosial tersebut di pandang dari berbagai aspek, bahwa pelayanan sosial bukan hanya sebagai usaha memulihkan, memelihara, dan meningkatkan kemampuan berfungsi sosial individu dan keluarga melainkan juga sebagai usaha untuk menjamin berfungsinya kolektivitas seperti kelompok-kelompok sosial, organisasi-organisasi serta masyarakat (Romanyshyn dalam Nurdin, 1986:50)

Menurut Alfred J.Khan Pelayanan Sosial dibedakan dalam dua golongan, yakni :

1. Pelayanan–pelayanan sosial yang sangat rumit dan komprehensif sehingga sulit ditentukan identitasnya. Pelayanan ini antara lain pendidikan, bantuan sosial dalam bentuk uang oleh pemerintah, perawatan medis dan perumahan rakyat. 2. Pelayanan sosial yang jelas ruang lingkupnya dan pelayanan-pelayanannya walaupun selalu mengalami perubahan. Pelayanan ini dapat berdiri sendiri, misalnya kesejahteraan anak dan kesejahteraan keluarga, tetapi juga dapat merupakan suatu bagian dari lembaga-lembaga lainnya, misalnya pekerjaan sosial di sekolah, pekerjaan sosial medis, pekerjaan sosial dalam perumahan rakyat dan pekerjaan sosial dalam industri (Soetarso, 1993:32-33)

Secara umum kualitas maupun kuantitas pelayanan sosial berbeda menurut tingkat perkembangan suatu negara yang disesuaikan dengan faktor sosio-kultural dan juga politik yang menentukan prioritas masalah dalam pelayanan sosial.

Berdasarkan hal tersebut, maka pelayanan sosial di antara negara maju dengan negara berkembang akan berbeda, bahkan di antara negara negara berkembang juga akan berbeda-beda.

Motif utama dalam pelayanan sosial adalah masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk membantu masyarakat yang lebih lemah dan kurang beruntung serta memberikan perlindungan dengan pelayanan-pelayanan yang tidak mungkin dipenuhi oleh mereka sendiri secara perorangan. Motif inilah yang kemudian mendorong terbentuknya lembaga-lembaga pelayanan sosial seperti Yayasan yang berusaha membantu, menghibur dan memberikan kepada kliennya dengan berbagai aktivitas kegiatannya.

PBB mengemukakan bahwa fungsi-fungsi pelayanan sosial adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan kondisi hidup masyarakat 2. Pengembangan sumber-sumber manusiawi

3. Orientasi masyarakat terhadap perubahan-perubahan sosial dan penyesuaian sosial

4. Mobilitas dan pencipta sumber-sumber masyarakat untuk tujuan pembangunan

5. Penyediaan dan penyelenggaraan struktur kelembagaan dengan tujuan agar pelayanan-pelayanan yang terorganisasi dapat berfungsi dengan baik (Muhidin, 1992:42-43)

Untuk dapat dikatakan sebagai sebuah lembaga pelayanan sosial, menurut Alfred J. Khan, maka lembaga tersebut memiliki tugas-tugas untuk :

1. Memperkuat dan memperbaiki fungsi-fungsi keluarga dan perorangan selaras dengan peranan-peranan yang selalu berkembang

2. Menyediakan saluran-saluran kelembagaan baru untuk keperluan sosialisasi, pengembangan dan pemberian bantuan, yaiu peranan-peranan yang di masa lampau dilakukan oleh keluarga

3. Mengembangkan bentuk-bentuk lembaga baru untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan baru yang sangat diperlukan oleh perorangan, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat industri dan kota yang kompleks.

Tugas-tugas tersebut dilakukan oleh lembaga pelayanan sosial dalam rangka membantu masyarakat yang lemah dan kurang beruntung serta memberikan pelayanan dengan serangkaian kegiatan dalam bidang tertentu yang ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat untuk mencapai kesejahteraannya (Soetarso, 1993 :38)

2.3.2 Ciri-Ciri Pelayanan Sosial

Kegiatan-kegiatan pelayanan kesejahteraan sosial mempunyai ciri-ciri tertentu yang berbeda dengan kegiatan lainnya, ciri-ciri itu adalah :

a. Organisasi Formal

Kegiatan pelayanan kesejahteraan sosial merupakan kegiatan yang terorganisir secara formal. Kegiatan gotong royong yang dilakukan secara spontan tanpa adanya organisasi yang teratur belum dapat dikatakan sebagai konsep pelayanan kesejahteraan sosial. Pertolongan dalam pelayanan sosial merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga formal yang telah

diakui oleh masyarakat, yang memberikan pelayanan secara teratur dan pelayanan tersebut merupakan fungsi utamanya.

b. Sumber Dana Sosial

Pelayanan kesejahteraan sosial mempunyai tanggung jawab sosial sebagai unsur pokoknya. Mobilisasi sumber-sumber menjadi tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan, masyarakat dapat melaksanakan mekanisme sesuai keinginannya dan hal ini merupakan bagian yang penting bagi pelayanan kesejahteraan sosial yang disponsori oleh pekerja sosial dan tujuan utama dari pelayanan kesejahteraan sosial tidak mengejar keuntungan (non profit motif). c. Ditujukan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Manusia

Pelayanan kesejahteraan sosial harus memandang kebutuhan manusia secara menyeluruh, tidak hanya memandang manusia dari satu aspek saja. Hal inilah yang membedakan pelayanan keejahteraan sosial dengan prinsip-prinsip pelayanan lainnya. (Muhidin; 1992:5)

Pernyataan diatas menjelaskan bahwa pelayanan kesejahteraan sosial merupakan suatu respon terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dialami individu, kelompok, maupun masyarakat yang mencakup usaha-usaha pemeliharaan, penyembuhan maupun pencegahan. Pelayanan kesejahteraan sosial merupakan lembaga yang terorganisir, hal ini untuk menanggulangi kompleksitas kebutuhan manusia yang dalam penanganannya diserahkan kepada lembaga-lembaga tertentu. Kompleksitas kebutuhan manusia yang harus ditangani serta luas dan banyaknya macam pekerjaan menuntut adanya pembagian kerja berdasarkan spesialisasi usaha dan keahlian dalam lembaga pelayanan kesejahteraan sosial sehingga akhirnya pelayanan sosial tersebut benar-benar tepat sasaran.

2.3.3 Ruang Lingkup Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu pelayanan sosial dalam arti luas dan pelayanan sosial dalam arti sempit yaitu :

1. Pelayanan sosial dalam arti luas adalah pelayanan sosial yang mencakup fungsi pengembangan termasuk pelayanan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, tenaga kerja dan sebagainya.

2. Pelayanan sosial dalam arti sempit disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak yang terlantar, keluarga miskin, cacat dan sebagainya. (Muhidin; 1992:3)

Bila dicermati, pelayanan sosial dalam arti luas merupakan bentuk dari pelayanan umum yang diselenggarakan pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup warga negaranya seperti program pendidikan, kesehatan, perumahan, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.

Sedangkan pelayanan sosial dalam arti sempit cenderung merupakan suatu bentuk pertolongan dan perlindungan dari berbagai pihak termasuk lembaga-lembaga sosial nirlaba yang diberikan kepada golongan yang kurang beruntung.

2.3.4 Peran Pekerja Sosial dalam Pelayanan Sosial

Pekerjaan sosial merupakan suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki atau mengembangkan interaksi-interaksi orang dengan lingkungan sosialnya melalui pelayanan-pelayanan sosial yang diberikan kepada klien sehingga mereka mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan permasalahannya dan akhirnya mereka dapat mengatasi masalah yang

dialaminya, bahkan dapat berupaya untuk mencegah agar permasalahan tersebut tidak muncul lagi. Dalam kegiatan utamanya profesi pekerjaan sosial dapat dilaksanakan dalam satu badan atau lembaga sosial untuk memberikan pelayanan sosial kepada klien, sehingga dengan adanya pelayanan sosial dapat memberikan fungsi yang maksimal bagi pengembangan kehidupan sosial individu, kelompok maupun masyarakat untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi.

Secara garis besar, Pekerjaan Sosial melibatkan intervensi atau penanganan masalah pada dua tingkatan,yakni tingkat mikro (individu, keluarga dan kelompok) dan makro (organisasi dan masyarakat). Keterkaitan antara kedua tingkatan ini merupakan jantungnya praktek Pekerjaan Sosial. Karenanya, selain dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai penanganan masalah yang dialami individu, keluarga dan kelompok. Pekerja sosial juga perlu memiliki pemahaman mengenai metode atau strategi dalam melakukan perubahan organisasi, masyarakat dan kebijakan.

Pelayanan sosial merupakan salah satu metode atau pendekatan inti yang menunjukkan keunikan pekerjaaan sosial dan membadakan profesi ini dengan profesi kemanusiaan lainnya. Banyak disiplin mengklaim memiliki keahlian dalam bekerja dengan individu, keluarga dan kelompok. Namun hanya sedikit profesi yang memfokuskan pada keberhasilan klien dalam konteks organisasi, masyarakat dan kebijakan, salah satunya adalah pekerjaan sosial.

Paradigma generalis dapat memberi petunjuk mengenai fungsi kegiatan – kegiatan pelayanan sosial serta menunjukan peranan-peranan dan strategi sesuai dengan fungsi tersebut.

Strategi tersebut disesuaikan dengan peranan pekerja sosial dalam pelaksanaan program pelayanan sosial, meliputi :

1. Fasilitator

Peranan fasilitator sering juga disebut sebagai pemungkin (enabler), definisi pemungkin atau fasilitator sebagai tanggung jawab untuk membantu klien menjadi mampu menangani tekanan situasional atau transisional.

Pengertian ini didasari oleh visi pekerjaan sosial bahwa “setiap perubahan terjadi pada dasarnya dikarenakan oleh adanya usaha – usaha klien sendiri, dan peranan pekerja sosial adalah memfasilitasi atau memungkinkan klien mampu melakukan perubahan yang ditetapkan dan disepakati bersama.

2. Broker

Dalam konteks pekerjaan sosial dengan masyarakat, peran pekerja sosial sebagai broker tidak jauh berbeda dengan peran broker di pasar modal. Seperti halnya di pasar modal, pekerjaan sosial dengan masyarakat terdapat klien atau konsumen. Namun, demikian pekerjaan sosial yang menjadi broker mengenai kualitas pelayanan sosial di lingkungannya menjadi sangat penting dalam memenuhi keinginan kliennya memperoleh keuntungan maksimal.

3. Mediator

Pekerja sosial sering melakukan peran mediator dalam berbagai kegiatan pertolongannya. Pekerja sosial dapat memerankan sebagai fungsi kekuatan ketiga untuk menjembatani antara anggota kelompok dan sistem lingkungan yang menghambatnya.

Kegiatan – kegiatan yang dilakukan dalam peran pekerja sosial sebagai mediator meliputi kontrak perilaku, negosiasi, pendamai pihak ketiga, serta berbagai macam resolusi konflik.

4. Pembela

Peran pembelaan dapat dibagi dua : advokasi kasus (case advocacy) dan advokasi kausal (cause advocacy). Apabila pekerja sosial melakukan pembelaan atas nama seorang klien secara individual, maka ia berperan sebagai pembela kasus. Pembelaan kasus terjadi manakala klien yang dibela pekerja sosial bukanlah individu melainkan sekelompok anggota masyarakat.

Beberapa contoh yang menjadi acuan dalam melakukan peran dalam pekerjaan sosial dengan masyarakat:

a. Terbuka, membiarkan berbagai pandangan untuk didengar.

b. Perwakilan Luas, mewakili semua pelaku yang memiliki kepentingan dalam pembuatan keputusan.

c. Keadilan, memiliki sebuah sistem kesetaraan atau kesamaan sehingga posisi-posisi yang berbeda dapat diketahui sebagai bahan perbandingan.

d. Pengurangan permusuhan, mengembangkan sebuah keputusan yang mampu mengurangi permusuhan dan keterasingan.

e. Informasi, menyajikan masing-masing pandangan secara bersama dengan dukungan dokumen dan analisis.

f. Pendukungan, mendukung partisipasi secara luas. 5. Pelindung

Dalam melakukan peran sebagai pelindung (guardian role), pekerja sosial bertindak berdasarkan kepentingan korban, calon korban, dan populasi yang

beresiko lainnya. Peranan sebagai pelindung mencakup penerapan berbagai kemampuan yang menyangkut: Kekuasaan, pengaruh, otoritas ,dan pengawasan sosial. (Susantyo, 2008:51).

Pelayanan sosial membentuk dan menyediakan sumber-sumber yang dibutuhkan bagi terwujudnya pemecahan masalah yang dialami individu, kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah sosial dan membutuhkan pertolongan sehingga mereka dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik. Adapun setting pelayanan sosial dari pekerjaan sosial itu berupa:

1. Pelayanan kepada orang-orang atau kelompok-kelompok yang sedang mengalami kesengsaraan, orang-orang sakit, anak-anak yatim-piatu, dan orang-orang yang sudah berumur lanjut (usia lanjut), kelompok-kelompok minoritas, serta para pendatang baru yang mencoba menyelaraskan (menyesuaikan) dirinya di dalam lingkungannya yang sekarang.

2. Pelayanan berupa perlindungan kepada individu-individu serta kelompok-kelompok yang sedang menanggung penderitaan dan kemalangan yang luar biasa, seperti misalnya para veteran yang cacat, korban bencana alam, epidemi, atau korban akibat perang, keluarga para prajurit, dan

3. Pelayanan berupa perlindungan kebudayaan, serta perkembangan bagi kanak-kanak dan para pemuda, warga masyarakat yang sudah lanjut umurnya, orang-orang Indian yang berada di tempat-tempat suaka mereka, dan kelompok-kelompok terpencil yang membutuhan bantuan agar dapat mengintegrasikan diri dengan masyarakat luas.

Adapun kegiatan-kegiatan utama di dalam lapangan pekerjaan sosial itu dapat diklasifikasikan (digolongkan) menurut jenis atau pelayan yang dibutuhkan, yaitu sebagai berikut:

1. Bantuan sosial umum (Public assistance)

Pelayanan sosial bagi orang-orang yang membutuhkan biaya, termasuk bantuan sosial atau asistensi sosial untuk menanggulangi kemiskinan; bantuan khusus menurut golongannya bagi orang-orang yang sudah lanjut umurnya, orang-orang buta, orang-orang yang cacat sama sekali, dan anak-anak yatim-piatu; pemeliharaan atas orang-orang tua yang sudah tidak lagi mampu bekerja, orang-orang tua yang melarat, dan orang-orang cacat lainnya yang tidak dapat tinggal di rumahnya sendiri.

2. Asuransi Sosial (Social insurence)

Bantuan bagi para karyawan yang memiliki asuransi; bantuan bagi para buruh serta keluarganya untuk menanggulangi hilangnya mata pencaharian mereka karena disebabkan umur yang lanjut, pengangguran, kecelakaan di dalam industri dan penyakit semasa bekerja, meninggalnya anggota keluarga yang menanggung biaya rumah tangga, serta usaha untuk mengatasi aspek-aspek tertentu dari penyakit yang lain dengan jalan memberikan bantuan pemeliharaan kesehatan, perawatan di rumah sakit, dan di tempat-tempat rehabilitasi.

3. Pelayanan Kesejahteraan keluarga (Family services)

Memberikan petunjuk dan penyuluhan tentang hubungan pribadi dan keluarga, tentang soal-soal perkawinan, kesehatan, masalah-masalah ekonomi dan anggaran belanja rumah tangga, bantuan-bantuan khusus bagi orang-orang yang jauh dari rumah, para pelancong, dan keluarga-keluarga yang berpindah tempat,

orang-orang Indian, para imigran yang baru datang di tempat yang baru, dan bantuan hukum tindakan pencegahan.

4. Pelayanan Kesejahteraan Anak (Child welfare services)

Menempatkan anak-anak yatim di rumah-rumah orang tua angkat dan rumah-rumah perawatan anak-anak (panti-panti asuhan), tempat-tempat penitipan anak-anak pada waktu siang; supervisi asuhan keluarga dan adopsi anak; pelayanan berupa perlindungan untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang salah (menyimpang) serta perilaku yang a-sosial; pemeliharaan bagi bayi serta anak-anak sebelum masa sekolah, pelayanan sosial di dalam sekolah, dan melindungi anak-anak yang bekerja sebagai buruh.

5. Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan (Health and medical services)

Pelayanan kesehatan bagi para ibu dan anak, mendirikan pusat-pusat kesehatan bagi anak-anak, konferensi-konferensi tentang anak-anak, kunjungan jururawat (perawat) ke rumah-rumah, pemberian perawatan dan pengobatan bagi orang-orang yang mendapat tunjangan dari masyarakat; memberikan bantuan finansial, pengobatan serta mengusahakan rehabilitasi untuk anak-anak cacat, buta dan tuli, para penderita penyakit seperti misalnya kanker, paru-paru, penyakit lumpuh pada anak-anak, penyakit jantung serta kelumpuhan otak, keduanya di bawah pimpinan lembaga pemerintah dan swasta.

6. Pelayanan Kesejahteraan Kesehatan Jiwa (Mental Hygiene Services)

Pelayanan di rumah-rumah sakit dan sanatorium untuk orang-orang yang sakit jiwa dan yang jiwanya lemah; latihan pekerjaan (jabatan); pengawasan dan penempatan para pasien yang menderita penyakit syaraf; usaha-usaha rehabilitasi; pengobatan preventif dan therapis melaui klinik bimbingan anak bagi anak-anak,

dan melalui bagian rumah sakit pasien luar bagi penyakit jiwa dan klinik-klinik kesehatan jiwa untuk orang dewasa.

7. Pelayanan Kesejahteraan dalam Bidang Kejahatan (Correctional Services)

Pelayanan bagi pemuda yang mendapat hukuman percobaan dan pengadilan kriminal; pelayanan-pelayanan diagnosa dan pengobatan; bimbingan sosial perorangan (casework) dan bimbingan sosial kelompok (social group work) di dalam rumah-rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan, kamp kerjapaksa, reformatory, dan kamp-kamp transisi, bantuan agar para tahanan dapat menyesuaikan serta mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah kehidupan masyarakat; pelayanan pengawasan atas para narapidana anak-anak maupun orang dewasa yang telah keluar dari lembaga-lembaga pemasyarakatan; pemberian penerangan kepada masyarakat tentang cara-cara menanggulangi kenakalan anak-anak.

8. Pelayanan Kesejahteraan Para Pemuda di dalam Pengisian Waktu Senggangnya (Youth leisure-time Services)

Mendirikan pusat-pusat kegiatan masyarakat dan pemuda, rumah-rumah penampungan, rumah-rumah rukun tetangga, serta menyediakan fasilitas-fasilitas rekreasi; memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok pemuda dan pemudi, perkumpulan YMCA, YWCA, perkumpulan 4-H, klub-klub anak-anak, kepramukaan (kepanduan) putera dan puteri, maupun organisasi-organisasi pemuda lainnya, tempat-tempat rekreasi musim panas dan waktu liburan, serta membangkitkan kegiatan kebudayaan untuk para pemuda.

9. Pelayanan Kesejahteraan bagi Veteran (Veteran’s Services)

Pelayanan Bimbingan sosial perorangan (casework) dan Bimbingan sosial kelompok (group work) bagi para veteran yang cacat dan para veteran perang yang membutukan perawatan medis atau perawatan jiwa di rumah-rumah sakit dan klinik-klinik; Bimbingan sosial perorangan bagi para keluarga veteran; usaha rehabilitasi serta bimbingan jabatan (pekerjaan); usaha bantuan pendidikan; usaha-usaha penempatan, tenaga kerja secara khusus; prioritas di dalam posisi serta promosi pada pelayanan sipil, bantuan pemberian perumahan secara umum; menyediakan kredit guna membeli tanah-tanah pertanian, rumah-rumah, dan guna mendirikan badan-badan usaha; memberikan tunjangan dan pensiun kepada para veteran yang cacat serta para veteran yang diberhentikan secara hormat.

10. Pelayanan Kesejahteraan di bidang Penempatan Tenaga Kerja (Employment Services)

Mencarikan lapangan bagi para karyawan; membantu perindustrian dan pertanian guna mendapatkan para karyawan yang cakap; memberikan bimbingan jabatan (pekerjaan); memberikan perlindungan bagi kepentingan buruh; memberikan pendidikan keselamatan kerja; memberikan bantuan untuk usaha rehabilitasi jabatan (pekerjaan).

11. Pelayanan Kesejahteraan Sosial di bidang Perumahan (Housing Services) Pelayanan para keluarga dan anak-anak untuk memperoleh tempat pada proyek-proyek perumahan bagi umum (rakyat) serta pada rumah-rumah yang baru di bangun (semacam Perumnas), khususnya yang terletak di dalam lingkungan daerah industri, maupun pada proyek-proyek yang dimaksudkan untuk melindungi golongan-golongan minoritas; memberikan bantuan perumahan bagi

para orang tua yang sudah lanjut umurnya atau orang-orang yang berpenyakit kronis, dan keluarga-keluarga yang mempunyai anak banyak, membantu para keluarga di dalam mengatur anggaran belanja serta perekonomiannya; menyediakan kredit-kredit atas jaminan pemerintahan federal guna membeli atau membangun perumahan; usaha-usaha untuk membersihkan daerah slum dan pembangunan kota kembali

12. Pelayanan-Pelayanan Sosial International (International Social Services) Pada lembaga-lembaga seperti misalnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dana Anak-anak PBB, Konferensi Internasional mengenai Pekerjaan Sosial, Uni Pan-Amerika, Komite Palang Merah Internasional, Federasi Kesehatan Mental Sedunia, Lembaga Sosial Internasional, YWCA Sedunia, Dan Persatuan Pemuda Sedunia; atau di Lembaga-lembaga Sosial yang beroperasi di negara-negara asing, seperti misalnya: Administrasi Kerjasama Internasional, Komite Bantuan bagi Sahabat Amerika, Badan Gereja Sedunia, Majelis Pelayanan Jemaat Katolik, yang membutuhkan keterampilan di dalam mengatur, merencanakan, memberikan bimbingan masyarakat dan pelaksanaan bantuan kesejahteraan sosial.

13. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Masyarakat (Community Welfare Service) Usaha-usaha untuk perencanaan, pengorganisasian, dan dana-dana sosial dan kesehatan melalui media-media, seperti misalnya : Badan Kesejahteraan Masyarakat, Badan Perencanaan, Dana Masyarakat, Pengumpulan Dana-Dana, Dewan-dewan Koordinasi dan Ketetanggaan.(Hariwoerjanto,1986:42-47)

Dokumen terkait