C. PERBAIKAN GIZI
3) Program Penelitian dan Pengembangan Gizi
Program penelitian dan pengembangan gizi diarahkan untuk meningkatkan mutu dan jenis penelitian menjadi penelitian unggulan di bidang gizi. Penelitian gizi bertujuan untuk melihat adanya (a) perubahan pola pangan dan dampaknya pada perubahan pola penyakit dan keadaan gizi masyarakat, (b) dampak lingkungan, toksin alami, dan timbulnya zat anti gizi dalam pangan terhadap kesehatan, dan (c) keamanan pemakaian bahan tambahan makanan dan kemasan produk industri pangan, jasaboga, dan makanan jajanan.
Pada tahun 1993/94 dilaksanakan 13 penelitian di bidang gizi dan selama empat tahun Repelita VI dilakukan 48 penelitian, dan 14 diantaranya merupakan bagian dari Riset Unggulan Terpadu (RUT) yang telah mendapat rekomendasi dari Dewan Riset Nasional (DRN). Ruang lingkup penelitian mencakup permasalahan penanggulangan masalah gizi ganda, gangguan akibat kurang yodium, dan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai masalah gizi.
4) Program Diversifikasi Pangan
ditingkatkan antara lain melalui kegiatan pameran berbagai jenis makanan tradisional baik di tingkat nasional maupun daerah. Peninjauan ulang terhadap pelaksanaan program diversifikasi pangan dan gizi dari sektor pertanian telah dilakukan agar kaitan program tersebut dengan kegiatan posyandu dan perbaikan ekonomi petani miskin makin nyata. Upaya tersebut antara lain berupa kaji ulang konsep pengembangan pemanfaatan lahan sebagai sumber pendapatan dan perbaikan gizi keluarga, dan mengembangkan program penyuluhan yang akan dilaksanakan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) bekerjasama dengan KTNA. Dalam rangka mendukung PMT-AS ditingkatkan kegiatan pemanfaatan kebun sekolah yang merupakan sarana pendidikan bagi anak sekolah untuk mengenal bahan pangan lokal dan menyukai makanan yang beraneka ragam.
D. PENUTUP
Dalam Repelita VI pembangunan pangan dan perbaikan gizi merupakan upaya penting untuk meningkatkan kemampuan nasional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia yang paling pokok dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pembangunan pangan selama empat tahun Repelita VI telah meningkatkan produksi berbagai komoditas pangan terpenting sehingga tersedia pangan dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan penduduk dengan tingkat harga yang terjangkau daya beli masyarakat. Upaya tersebut telah memungkinkan tercapainya ketersediaan energi dan protein per kapita per hari yang tinggi melampaui sasaran Repelita VI yang diikuti oleh peningkatan konsumsi pangan dengan mutu gizi yang
makin tinggi. Sebagai hasilnya, keadaan gizi masyarakat semakin baik yang ditunjukkan antara lain dengan menurunnya angka prevalensi penduduk yang menderita kekurangan gizi. Prevalensi anak balita yang menderita kurang energi dan protein (KEP), kekurangan vitamin A (KVA), dan anemia gizi besi (AGB) menurun cukup tajam. Pada kelompok anak sekolah, PMT-AS selain berhasil meningkatkan keadaan gizi anak juga berperan menurunkan angka ketidakhadiran (absensi) sehingga mendukung pelaksanaan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun serta meningkatkan kecintaan terhadap makanan tradisional yang memanfaatkan sumberdaya pangan setempat.
Memasuki era globalisasi dan perdagangan bebas, pembangunan pangan dan gizi akan menghadapi berbagai masalah dan kendala. Antara lain, pertama, menurunnya ketersediaan pangan yang terjadi sebagai akibat turunnya produksi pangan nabati dan hewani yang disebabkan musim kering yang berat dan berkepanjangan serta perkembangan ekonomi dan moneter. Krisis ekonomi dan moneter akhir-akhir ini menurunkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan karena melonjaknya harga pengadaan impor sebagai akibat penurunan nilai tukar rupiah. Kedua, posisi tawar petani/peternak belum sepenuhnya merangsang usaha tani sebagai kegiatan produktif. Demikian juga struktur pasar dan sistem distribusi komoditas pangan belum menghasilkan efisiensi yang maksimal. Ketiga, komposisi konsumsi pangan penduduk yang belum beranekaragam dan masih sangat tergantung kepada beras.
Berbagai masalah tadi merupakan tantangan yang harus ditangani dan diselesaikan dalam upaya pembangunan di masa yang akan datang.
TABEL VI – 1
HARGA DASAR GABAH DI TINGKAT KUD 1992, 1993, 1994 – 1997
(Rp/Kg)
TABEL VI – 1.A
HARGA DASAR GABAH DI TINGKAT KUD 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
TABEL VI - 2
HASIL PEMBELIAN GABAH DAN BERAS DALAM NEGERI MENURUT DAERAH TINGKAT I
1992/93, 1993/94, 1994/95 - 1997/98 (ton setara beras)
TABEL VI - 2.A
HASIL PEMBELIAN GABAH DAN BERAS DALAM NEGERI MENURUT DAERAH TINGKAT I
1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89 (ton setara Beras)
TABEL VI - 3
PERKEMBANGAN HARGA RATA-RATA GABAH DI PERDESAAN INDONESIA ¹) 1992/93, 1993/94, 1994/95 - 1997198
TABEL VI - 3.A
PERKEMBANGAN HARGA RATA-RATA GABAH DI PERDESAAN INDONESIA ¹)
1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89 (Rp/kg)
TABEL VI – 4
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA – RATA GABAH DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI DAERAH PERDESAAN 1)
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98 (Rp/kg)
V
I/4
TABEL VI – 4.A
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA – RATA GABAH DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI DAERAH PERDESAAN 1)
1968,1973174,1978179,1983/84,1988/89 (Rp/kg)
TABEL VI – 5
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA-RATA BERAS DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI BEBERAPA KOTA PENTING
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98 (Rp/Kg)
TABEL VI – 5.A
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA – RATA BERAS DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI BEBERAPA KOTA PENTING
1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89 (Rp/kg)
TABEL VI – 6
HARGA RATA-RATA TERTIMBANG BERAS BULANAN DI BEBERAPA KOTA PENTING
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98 (Rp/kg)
TABEL VI – 6.A
HARGA RATA-RATA TERTIMBANG BERAS BULANAN DI BEBERAPA KOTA PENTING
1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89 (Rp/Kg)
TABEL VI – 7
PERBANDINGAN ANTARA HARGA BERAS TERTINGGI DAN TERENDAH DENGAN HARGA RATA-RATA DI BEBERAPA KOTA PENTING
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98 (Rp/Kg)
TABEL VI – 7.A
PERBANDINGAN ANTARA HARGA BERAS TERTINGGI DAN TERENDAH DENGAN HARGA RATA-RATA DI BEBERAPA KOTA PENTING
1968,1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89 (Rp/Kg)
TABEL VI – 8
HARGA BATAS TERTINGGI BERAS 1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98 (Rp/kg) Akhir Repelita V Repelita VI No. Daerah 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 ¹) 1. Surplus 670,0 682,0 770,0 894,0 1.140,0 1.170,0 2. Swasembada 680,0 692,0 780,0 906,0 1.187,5 1.218,8 3. Defisit 690,0 702,0 790,0 938,0 1.235,0 1.267,5
TABEL VI – 8.A
HARGA BATAS TERTINGGI BERAS 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
TABEL VI –9
JUMLAH PENYALURAN BERAS 1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
(ribu ton)
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Sasaran Penyaluran 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97
1) 1997/98 ²) 1. Golongan Anggaran 1574 1.6 65 1.683 1.685 1.689 1.262 2. PN/PNP 62 92 86 77 77 57 3. Pasaran Umum 70 4 16 1.043 603 348 1.161 4. Ekspor/Pinjaman 131 5 96 53 .. .. .. Jumlah 1.837 2.7 69 2.865 2.365 2.114 2.480
TABEL VI – 9.A JUMLAH PENYALURAN BERAS 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
(ribu ton)
Akhir
Repelita I Repelita IIAkhir Repelita IIIAkhir Repelita Akhir IV No. Sasaran Penyaluran
1968 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89 1. Golongan Anggaran 697 660 627 1.373 1.510 2. PN / PNP 28 92 106 89 108 3. Pasaran Umum 80 418 1.043 399 144 4. Ekspor/Pinjaman - - - - -V I/6 2
TABEL VI – 10
JUMLAH GUDANG GABAH/BERAS DI JAKARTA DAN DI DAERAH-DAERAH 1) 1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
TABEL VI – 10.A
JUMLAH GUDANG GABAH/BERAS DI JAKARTA DAN DI DAERAH-DAERAH 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
TABEL VI – 11
IMPOR DAN PENYALURAN GANDUM
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
(ribu ton)
Akhir Repelita V Repelita VI No. U r a i a n 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 ¹) 1. Stok awal 290 258 362 500 450 260 2. Impor 2.332 2.782 3.423 3.472 3.786 2.926 Jumlah tersedia 2.622 3.040 3.785 3.972 4.236 3.186 3. Penyaluran 2.364 2.678 3.285 3.522 3.976 2.839 4. Stok akhir 258 362 500 450 260 347TABEL VI — 11.A
IMPOR DAN PENYALURAN GANDUM 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
(ribu ton)
Akhir
Repelita I Repelita IIAkhir
Akhir
Repelita III Repelita IVAkhir No . Uraian 1968 1973/14 1978/79 1983/84 1988/89 1. Stok awal - 61 77 1 18 310 2. Impor 367 753 1.238 1.722 1.607 Jumlah tersedia 367 814 1.315 1.840 1.917 3. Penyaluran - 712 1.164 1.648 1.679 V I/6 6
TABEL VI – 12 PENYEDIAAN BEBERAPA KOMODITAS PANGAN PENTING
1992, 1993, 1994 – 1997 (kg/kapita/tahun)
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Jenis Komoditas 1992 1993 1994 1995 1996 1) 1997 1. B e r a s 148,58 150,19 150,0 1 151,79 158,57 .. 2. J a g u n g 34,13 28,85 30,62 34,32 44,78 .. 3. U b i K a y u 58,87 57,21 55,60 53,45 61,18 .. 4. D a g i n g 6,78 7,40 7,83 7,90 8,41 .. 5. Te l u r 2,73 2,69 3,16 3,35 3,54 .. 6. S u s u 4,39 4,23 4,75 6,99 5,70
TABEL VI – 13
JUMLAH ENERGI DAN PROTEIN YANG TERSEDIA
UNTUK DIKONSUMSI BERDASARKAN KELOMPOK JENIS BAHAN MAKANAN 1992, 1993, 1994 – 1997
TABEL VI - 14
PERKEMBANGAN PENYEDIAAN PANGAN
DIUKUR DENGAN SKOR POLA PANGAN HARAPAN (PPH) 1992, 1993, 1994 - 1997 Akhir Repelita V Repelita VI No.Jenis Komoditas 1992 1993 1994 1995 1996 1) 1997 1. Padi-padian .. 31,70 32,62 31,23 32,40 .. 2. Umbi-umbian .. 3,67 3,61 3,29 3,49 ..
3. Buah biji berminyak .. 2,35 1,26 1,16 1,12 ..
4. Kacang-kacangan .. 11,45 10,99 10,52 10,10 ..
5. Pangan hewani .. 6,00 6,65 6,46 6,11 ..
TABEL VI – 15
KEGIATAN USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA 1992/93, 1993/94, 1994/95 – 19977/98
TABEL VI – 15.A
KEGIATAN USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA 1968, 1973)74, 1978/19, 1983/84, 1988/89
TABEL VI – 16
PELAKSANAAN PENCEGAHAN GONDOK ENDEMIK, ANEMIA GIZI, DAN ¹) KEKURANGAN VITAMIN A
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Uraian Satuan 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97
²) 1997/98³)
1.Pencegahan Gondok Endemik
– Kapsul Yodium penduduk 8.600.00
0 11.015.305 12.449.412 12.300.000 10.750.000 7.591.345
2.Pencegahan Anemia Gizi
– Distribusi Tablet Besi ibu hamil 1.428.30
0 2.200.000 2.490.000 2.913.902 3.500.000 2.746.445
3.
Melalui UPGK
Pencegahan Kekurangan
– Distribusi Kapsul Vitamin A Anak balita 13.730.000 11.796.293 12.500.00 13.800. 14.345.39
V
I/7
TABEL VI – 16.A
PELAKSANAAN PENCEGAHAN GONDOK ENDEMIK, ANEMIA GIZI, DAN KEKURANGAN VITAMIN A ¹)