BAB VI
PANGAN DAN PERBAIKAN GIZI
A. PENDAHULUAN
Pembangunan pangan .dan gizi merupakan upaya penting bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang paling utama, dan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dasar itu, sesuai amanat Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, pembangunan pangan dan perbaikan gizi dalam Repelita VI diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional dalam mencukupi kebutuhan pangan masyarakat secara adil dan merata baik dalam jumlah maupun mutu gizinya serta terjangkau oleh daya beli masyarakat.
pangan yang lebih efektif dan efisien. Upaya
peningkatan ketahanan pangan makin
menterpadukan rangkaian kegiatan mulai dari
kegiatan produksi sampai dengan konsumsi di
tingkat rumah tangga dan perseorangan yang
terpadu dengan upaya perbaikan gizi. Selain
itu produk-produk makanan yang dihasilkan juga
meningkat kualitasnya sehingga mendukung pola
pangan yang bermutu gizi seimbang serta
melindungi masyarakat dari bahan makanan yang
membahayakan kesehatan.
Perbaikan gizi diupayakan terutama melalui
peningkatan peranserta masyarakat dalam
memperluas cakupan dan sasaran penanggulangan
desa-desa tertinggal. Selain memperbaiki keadaan
gizi anak sekolah, PMT-AS juga telah menurunkan
angka ketidakhadiran (absensi) anak di sekolah
sehingga mendukung pelaksanaan Program Wajib
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
distribusi.
Harapan (PPH) juga meningkat dari 71,0 pada tahun terakhir Repelita V menjadi 71,6 pada tahun ketiga Repelita VI. Skor PPH tersebut sudah mendekati sasaran skor mutu pangan 72,0 yang diha-rapkan dapat tercapai pada akhir Repelita VI. Peningkatan skor kilokalori energi dan 55 gram protein per kapita per hari.
pada tahun 1992 menjadi 35 persen pada tahun 1995
menurun ketersediaannya karena dampak krisis
moneter dan turunnya produksi akibat dari musim
konsumsi pangan dan status gizi masyarakat.
B. PANGAN
1. Sasaran, Kebijaksanaan, dan Program
Repelita VI
Sasaran tersebut terkait erat dengan sasaran
diversifikasi pangan serta peningkatan
kualitas konsumsi pangan dalam rangka
Atas dasar sasaran dan kebijaksanaan pembangunan pangan seperti dikemukakan di atas, ditempuh serangkaian program pembangunan pangan yang mencakup dua kelompok program, yaitu program pokok dan penunjang. Program pokok meliputi program pemantapan swasembada pangan dan program diversifikasi pangan. Sedangkan program penunjang meliputi pendidikan, pelatihan dan penyuluhan pangan; program penelitian dan pengembangan pangan; program pengembangan kelembagaan pangan; dan program perbaikan gizi.
2. Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan sampai dengan Tahun Keempat Repelita VI
Pembelian beras oleh Pemerintah di dalam negeri dimaksudkan untuk menunjang cadangan penyangga Pemerintah dalam rangka menjaga stabilitas pasar terutama pada saat musim paceklik. Realisasi pengadaan gabah dan beras selama Repelita VI menunjukkan perkembangan yang meningkat (Tabel VI-2). Meskipun demikian, rata-rata jumlah pembelian gabah dan beras setiap tahun dalam Repelita VI lebih rendah dari jumlah pembelian yang terjadi pada tahun 1993/94, kecuali tahun 1996/97. Hal ini berkaitan dengan perkembangan produksi dan harga gabah di pasar pada tahun yang bersangkutan.
Sampai dengan Desember 1997, pulau Jawa masih memegang peran sebagai sumber utama dalam pengadaan gabah dan beras secara nasional, yaitu lebih dari 67 persen. Dengan peranannya sebesar 36,8 persen, propinsi Jawa Timur menjadi propinsi penyumbang terbesar. Sementara itu, beberapa daerah di luar pulau Jawa, terutama Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat mampu berperanan menjadi sumber pengadaan gabah dan beras nasional yang makin penting dengan kontribusi sekitar 19 persen.
di musim paceklik terhadap harga rata-rata di musim panen di daerah pedesaan pada tahun 1996/97 yang tercatat sebesar 8,24 persen masih lebih besar dari angka pada tahun 1993/94.
Harga rata-rata beras di perkotaan menunjukkan masyarakat dengan memperhitungkan perkembangan harga dasar gabah dan harga kebutuhan pokok lainnya. Penentuan harga batas tertinggi juga memperhatikan kepentingan konsumen dan memperhitungkan marjin pemasaran yang diperlukan untuk mendukung efisiensi kinerja pasar.
memungkinkan peningkatan stok beras di
masyarakat dan mendukung stabilnya harga eceran
beras. Sementara itu rata-rata perbedaan harga
beras tertinggi dan terendah dengan harga rata-rata
di kota-kota penting selama empat tahun Repelita VI
menampakkan kecenderungan yang meningkat
dibandingkan dengan tahun 1993/94 (Tabel
VI-7).
Perkembangan
yang
menunjukkan
bekerjanya mekanisme pasar itu masih berada
dalam batas kestabilan, karena umumnya harga
lebih rendah dari harga batas tertinggi yang
ditetapkan.
pergudangan, terutama di daerah pusat konsumsi, produksi dan transito di pelabuhan. Di samping itu, juga disewa beberapa gudang swasta. Sampai dengan tahun 1997/98 jumlah gudang pangan dalam pengelolaan pemerintah adalah sebanyak 1.550 buah dengan kapasitas 3.238,5 juta ton (Tabel VI-10). Jumlah tersebut termasuk gudang di daerah terpencil sebanyak 35 unit dengan kapasitas 27,5 ribu ton untuk meningkatkan pelayanan distribusi pangan bagi masyarakat di daerah terpencil. Pada tahun 1998/99 akan dikembangkan sarana pengolahan gabah terpadu termasuk pembangunan gudang gabah dan beras masing-masing dengan kapasitas 3.500 ton dalam rangka mendukung pengembangan produksi padi di lahan gambut Kalimantan Tengah.
d) Pengadaan dan Penyaluran Gandum
yang selama ini berlaku di pasar dalam negeri. Untuk sementara konsumsi tepung terigu untuk masyarakat masih harus memperoleh subsidi pemerintah.
e) Pengadaan dan Penyaluran Gula Pasir
Dengan adanya perubahan kurs yang tajam akibat gejolak moneter, perbedaan harga gula pasir impor dalam rupiah dengan harga dalam negeri menjadi sangat besar, sehingga untuk sementara waktu penjualannya di dalam negeri masih memerlukan subsidi, agar meringankan beban konsumen, terutama rakyat yang berpenghasilan rendah.
2) Program Diversifikasi Pangan
Sementara itu ketersediaan rata-rata energi dan protein per kapita per hari selama Repelita VI telah lebih baik apabila dibandingkan dengan jumlah energi dan protein yang tersedia untuk dikonsumsi pada tahun 1993 (Tabel VI-13). Jumlah energi dan yaitu 2.500 kilokalori dan 55 gram per kapita per hari.
penghasil protein menunjukkan bahwa upaya diversifikasi mulai menunjukkan hasil yang semakin baik. Pelaksanaan diversifikasi bahan pangan untuk tahun 1998/99 terus ditingkatkan melalui pengembangan bahan pangan alternatif dengan memanfaatkan potensi yang tersedia baik dalam rangka subtitusi impor maupun meningkatkan ketahanan pangan.
Penilaian ketersediaan pangan baik dalam jumlah, mutu maupun keragaman dan keseimbangan antar kelompok pangan diukur melalui PPH. Dalam kurun waktu 1993-1996, nilai skor PPH menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Skor PPH pada tahun 1996 mencapai 71,6 dibanding tahun 1993 yang mencapai mengakibatkan menurunnya kemampuan para peternak unggas untuk mengelola peternakannya secara ekonomis. Hal ini pada gilirannya akan mengakibatkan menurunnya ketersediaan pangan hewani dari jenis unggas, terutama ayam potong dan petelur sebagai sumber utama protein.
b. Program Penunjang
1) Program Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan Pangan
untuk mengembangkan kemampuan petugas pemerintah di bidang penyelenggaraan festival/demo/pameran makanan Indonesia, serta pembukaan pusat jajanan/makanan Indonesia di kawasan pertokoan dan perkantoran. Gerakan tersebut akan terus diperluas dan ditingkatkan dalam kegiatan pembangunan ketahanan pangan tahun-tahun mendatang.
dan pengkajian pemantapan swasembada pangan dari segi memberikan landasan untuk mewujudkan sistem pengaturan, pembinaan, dan pengawasan yang efektif di bidang pangan, dan memberikan perlindungan serta landasan hukum baik bagi konsumen maupun produsen. Dewasa ini sedang dilakukan pemasyarakatan terhadap undang-undang tersebut, kepada produsen pangan.
Pada tahun 1996/97 telah diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Label dan Iklan Pangan serta PP tentang Keamanan Pangan, sebagai perangkat hukum yang melengkapi undang-undang pangan. Pada tahun 1997/98 telah disusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Mutu dan Gizi Pangan serta RPP tentang Ketahanan Pangan.
Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT). PKMT terbentuk sebagai hasil kerjasama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan makanan tradisional. Dewasa ini telah terbentuk tiga PKMT, yaitu di Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada dan Universitas Brawijaya. Ketiga PKMT tersebut diharapkan dengan meningkatkan peranserta masyarakat. Khusus untuk keikutsertaan swasta (HPH/HTI) dan BUMN, pelaksanaan HCP diarahkan dengan mengintegrasikannya kedalam program yang sudah ada, misalnya program peremajaan hutan.
4) Program Perbaikan Gizi
Secara lebih terinci, pelaksanaan program perbaikan gizi ini akan diuraikan pada sub-bab perbaikan gizi.
C. PERBAIKAN GIZI
1. Sasaran, Kebijaksanaan, dan Program Repelita VI
sampai dengan akhir Repelita VI, berturut-turut yaitu GAKY menjadi 18 persen; AGB pada ibu hamil menjadi 40 persen, pada anak balita menjadi 40 persen, dan pada tenaga kerja wanita menjadi 20 persen; KVA pada anak balita menjadi 0,1 persen; sedangkan KEP total pada anak balita menjadi 30 persen.
peranserta masyarakat dalam upaya memperluas cakupan dan
Pada tahun 1993/94 penyuluhan telah dilaksanakan sebanyak 35 kali tayangan melalui televisi pemerintah dan swasta dan 46 kali siaran melalui RRI. Selama empat tahun Repelita VI penyuluhan telah dilaksanakan sebanyak 162 kali tayangan melalui televisi pemerintah dan swasta dan 199 siaran melalui RRI. Dengan demikian dalam kurun waktu 1993/94 sampai dengan 1997/98 telah dilaksanakan penyuluhan tentang penganekaragaman konsumsi pangan sebanyak 197 kali tayangan melalui televisi pemerintah dan swasta, serta sebanyak 245 kali siaran melalui RRI.
1993/94 jumlah posyandu adalah sekitar 244 ribu buah dan selama empat tahun. Repelita VI meningkat menjadi sekitar 257 ribu buah (Tabel VI-15).
Pemantauan tumbuh kembang anak dilaksanakan melalui penimbangan berat badan anak secara teratur, hasilnya dicatat setiap bulan dalam kartu menuju sehat (KMS). Pada tahun 1993/94 telah diadakan sekitar 10 juta KMS bagi bayi yang baru lahir sampai dengan anak dibawah umur lima tahun (balita).Pada tahun 1995/96 dilakukan penyempurnaan KMS agar pelayanan terhadap anak yang baru lahir sampai dengan anak balita menjadi lebih tepat dan bermutu. Pada tahun 1997/98 telah di cetak sekitar 5 juta KMS bagi bayi yang baru lahir sesuai dengan perkiraan jumlah kelahiran bayi per tahun dan pada tahun 1998/99 akan di cetak lagi sekitar 5 juta KMS bagi bayi yang baru lahir.
daerah endemik yang mencakup sekitar 11 juta orang. Selama
Penanggulangan AGB pada anak balita diberikan dalam bentuk sirop besi, dan telah mencakup sekitar 8.750 desa tertinggal di propinsi Kawasan Timur Indonesia.
Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Presiden Soeharto didistribusikan kapsul vitamin A bagi 11,3 juta anak balita.
mendapat satu paket yang berisikan benih sayuran, bibit buah-pangan di tingkat keluarga sehingga dapat meningkatkan status gizi masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan angka prevalensi KEP
c) Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)
Presiden Nomor 1 Tahun 1997 tentang AS. Sasaran PMT-AS adalah seluruh murid SD/MI yang berada di desa IDT. Dukungan dana untuk kegiatan ini dialokasikan melalui dana Inpres dan dana tersebut digunakan untuk pengadaan makanan yang bersumber dari bahan pangan setempat, peralatan masak, obat cacing, buku juklak dan juknis, bahan-bahan penyuluhan, dan biaya pelatihan bagi para pengelola/petugas PMT-AS terutama di perdesaan. Makanan kudapan diberikan 3 kali seminggu selama 108 hari meningkatkan kehadiran siswa (menurunkan absensi) sehingga diharapkan pada gilirannya jumlah anak yang putus sekolah akan menurun. Pada tahun 1996/97 PMT-AS dilaksanakan di 21 propinsi diluar Jawa dan Bali, 175 kabupaten, 14.445 desa IDT, 18.518 SD/MI, dan mencakup sekitar 2,3 juta murid. Pada tahun 1997/98 dilaksanakan di semua propinsi, 297 kabupaten, 26.421 desa IDT, 49.539 SD/MI yang mencakup sekitar 7,2 juta murid. Pada tahun 1998/99 PMT-AS direncanakan akan dilaksanakan di semua propinsi, 297 kabupaten, 28.376 desa IDT, 49.539 SD/MI dan mencakup sekitar 8,8 juta anak murid.
pelatihan olahraga, perusahaan, lembaga pemasyarakatan, jasa boga, dan pondok pesantren. Selain itu telah dilaksanakan pula pelatihan bagi pengelola gizi asrama haji di 7 embarkasi yaitu di propinsi Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
d) Upaya Fortifikasi Bahan Pangan
balita dilaksanakan diseluruh desa, kecamatan dan kabupaten setiap konsumsi energi dan protein per kapita per hari meningkat masing-masing menjadi 1.982 kilokalori dan 55,6 gram. Hal ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi pangan masyarakat yang bergeser ke bahan pangan sumber protein. Untuk meningkatkan mutu konsumsi gizi, juga dilakukan usaha-usaha menyeimbangkan konsumsi pangan sumber nabati dan hewani secara terus menerus dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan gizi yang seimbang sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).
lebih atau kegemukan pada orang dewasa. Kegiatan ini telah dilakukan di 12 kota (Medan, Padang, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, Ujung Pandang, dan Ambon). Hasilnya menunjukkan bahwa rung berlebih dalam kandungan lemak tetapi rendah serat kasar.
Kegiatan jaringan informasi pangan dan gizi (JIPG) bertujuan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan kegiatan program pangan dan gizi di tingkat nasional dan daerah. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Kantor Menteri Negara Urusan Pangan, BULOG, BPS, LIPI dan
1) Program Pendidikan dan Pelatihan Gizi
Selama Repelita VI, terdapat penambahan 9 institusi D-3 Gizi yang berasal dari peningkatan pendidikan D-1 Gizi (Sekolah Pendidikan Ahli Gizi ). Dengan demikian, sampai saat ini tercatat sebanyak 27 institusi D-3 Gizi, dengan jumlah peserta didik sekitar 4.050 orang. Selain itu, telah pula dilaksanakan kursus penyegaran ilmu gizi bagi tenaga profesional gizi di seluruh Indonesia.
2) Program Pengawasan Makanan dan Minuman
badan dunia WHO dan FAO tentang perlindungan konsumen. Pada tahun 1998/99 akan diberikan bimbingan dan dorongan agar produsen makanan dan minuman menerapkan sistem jaminan mutu. Untuk memenuhi standar-standar tersebut telah disusun berbagai lingkungan, toksin alami, dan timbulnya zat anti gizi dalam pangan terhadap kesehatan, dan (c) keamanan pemakaian bahan tambahan makanan dan kemasan produk industri pangan, jasaboga, dan makanan jajanan.
Pada tahun 1993/94 dilaksanakan 13 penelitian di bidang gizi dan selama empat tahun Repelita VI dilakukan 48 penelitian, dan 14 diantaranya merupakan bagian dari Riset Unggulan Terpadu (RUT) yang telah mendapat rekomendasi dari Dewan Riset Nasional (DRN). Ruang lingkup penelitian mencakup permasalahan penanggulangan masalah gizi ganda, gangguan akibat kurang yodium, dan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai masalah gizi.
4) Program Diversifikasi Pangan
makin tinggi. Sebagai hasilnya, keadaan gizi masyarakat semakin menurunkan angka ketidakhadiran (absensi) sehingga mendukung pelaksanaan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun serta meningkatkan kecintaan terhadap makanan tradisional yang memanfaatkan sumberdaya pangan setempat.
TABEL VI – 1
HARGA DASAR GABAH DI TINGKAT KUD 1992, 1993, 1994 – 1997
(Rp/Kg)
TABEL VI – 1.A
HARGA DASAR GABAH DI TINGKAT KUD 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
TABEL VI - 2
HASIL PEMBELIAN GABAH DAN BERAS DALAM NEGERI MENURUT DAERAH TINGKAT I
1992/93, 1993/94, 1994/95 - 1997/98 (ton setara beras)
TABEL VI - 2.A
HASIL PEMBELIAN GABAH DAN BERAS DALAM NEGERI MENURUT DAERAH TINGKAT I
TABEL VI - 3
PERKEMBANGAN HARGA RATA-RATA GABAH DI PERDESAAN INDONESIA ¹) 1992/93, 1993/94, 1994/95 - 1997198
TABEL VI - 3.A
PERKEMBANGAN HARGA RATA-RATA GABAH DI PERDESAAN INDONESIA ¹)
TABEL VI – 4
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA – RATA GABAH DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI DAERAH PERDESAAN 1)
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98 (Rp/kg)
V
I/4
TABEL VI – 4.A
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA – RATA GABAH DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI DAERAH PERDESAAN 1)
TABEL VI – 5
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA-RATA BERAS DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI BEBERAPA KOTA PENTING
TABEL VI – 5.A
PERBEDAAN ANTARA HARGA RATA – RATA BERAS DI MUSIM PANEN DAN MUSIM PACEKLIK DI BEBERAPA KOTA PENTING
TABEL VI – 6
HARGA RATA-RATA TERTIMBANG BERAS BULANAN DI BEBERAPA KOTA PENTING
TABEL VI – 6.A
HARGA RATA-RATA TERTIMBANG BERAS BULANAN DI BEBERAPA KOTA PENTING
TABEL VI – 7
PERBANDINGAN ANTARA HARGA BERAS TERTINGGI DAN TERENDAH DENGAN HARGA RATA-RATA DI BEBERAPA KOTA PENTING
TABEL VI – 7.A
PERBANDINGAN ANTARA HARGA BERAS TERTINGGI DAN TERENDAH DENGAN HARGA RATA-RATA DI BEBERAPA KOTA PENTING
TABEL VI – 8
HARGA BATAS TERTINGGI BERAS 1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
(Rp/kg)
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Daerah 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 ¹)
1. Surplus 670,0 682,0 770,0 894,0 1.140,0 1.170,0
2. Swasembada 680,0 692,0 780,0 906,0 1.187,5 1.218,8
3. Defisit 690,0 702,0 790,0 938,0 1.235,0 1.267,5
TABEL VI – 8.A
HARGA BATAS TERTINGGI BERAS 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
TABEL VI –9
JUMLAH PENYALURAN BERAS 1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
(ribu ton)
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Sasaran Penyaluran 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97
1) 1997/98²)
1. Golongan Anggaran 1574 1.6
65 1.683 1.685 1.689 1.262
2. PN/PNP 62
92 86 77 77 57
3. Pasaran Umum 70 4
16 1.043 603 348 1.161
4. Ekspor/Pinjaman 131 5
96 53 .. .. ..
Jumlah 1.837 2.7
TABEL VI – 9.A JUMLAH PENYALURAN BERAS 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
(ribu ton)
Akhir
Repelita I Repelita IIAkhir Repelita IIIAkhir Repelita Akhir IV No. Sasaran Penyaluran
1968 1973/74 1978/79 1983/84 1988/89
1. Golongan Anggaran 697 660 627 1.373 1.510
2. PN / PNP 28 92 106 89 108
3. Pasaran Umum 80 418 1.043 399 144
4. Ekspor/Pinjaman - - - -
-V
I/6
TABEL VI – 10
TABEL VI – 10.A
TABEL VI – 11
IMPOR DAN PENYALURAN GANDUM
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
(ribu ton)
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. U r a i a n 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 ¹) 1. Stok awal
290 258 362 500 450 260 2. Impor 2.332 2.782 3.423 3.472 3.786 2.926
Jumlah tersedia 2.622 3.040 3.785 3.972 4.236 3.186
3. Penyaluran 2.364 2.678 3.285 3.522 3.976 2.839
4. Stok akhir
258 362 500 450 260
TABEL VI — 11.A
IMPOR DAN PENYALURAN GANDUM 1968, 1973/74, 1978/79, 1983/84, 1988/89
(ribu ton)
Akhir
Repelita I Repelita IIAkhir
Akhir
Repelita III Repelita IVAkhir No
. Uraian 1968 1973/14 1978/79 1983/84 1988/89
1. Stok awal - 61 77 1
18 310
2. Impor 367 753 1.238 1.722 1.607
Jumlah tersedia 367 814 1.315 1.840 1.917
3. Penyaluran - 712 1.164 1.648 1.679
V
I/6
TABEL VI – 12 PENYEDIAAN BEBERAPA KOMODITAS PANGAN PENTING
1992, 1993, 1994 – 1997 (kg/kapita/tahun)
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Jenis Komoditas 1992 1993 1994 1995 1996 1) 1997
1. B e r a s 148,58 150,19 150,0
1 151,79 158,57 .. 2. J a g u n g 34,13 28,85 30,62 34,32 44,78
..
3. U b i K a y u 58,87 57,21 55,60 53,45 61,18 ..
4. D a g i n g 6,78 7,40 7,83 7,90 8,41 ..
5. Te l u r 2,73 2,69 3,16 3,35 3,54 ..
TABEL VI – 13
JUMLAH ENERGI DAN PROTEIN YANG TERSEDIA
TABEL VI - 14
PERKEMBANGAN PENYEDIAAN PANGAN
DIUKUR DENGAN SKOR POLA PANGAN HARAPAN (PPH) 1992, 1993, 1994 - 1997
Akhir
Repelita V Repelita VI No.Jenis Komoditas
1992 1993 1994 1995 1996
1) 1997
1. Padi-padian .. 31,70 32,62 31,23 32,40 ..
2. Umbi-umbian .. 3,67 3,61 3,29 3,49 ..
3. Buah biji berminyak .. 2,35 1,26 1,16 1,12 ..
4. Kacang-kacangan .. 11,45 10,99 10,52 10,10 ..
5. Pangan hewani .. 6,00 6,65 6,46 6,11 ..
TABEL VI – 15
TABEL VI – 15.A
TABEL VI – 16
PELAKSANAAN PENCEGAHAN GONDOK ENDEMIK, ANEMIA GIZI, DAN ¹) KEKURANGAN VITAMIN A
1992/93, 1993/94, 1994/95 – 1997/98
Akhir
Repelita V Repelita VI
No. Uraian Satuan 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97
²) 1997/98³)
1.Pencegahan Gondok Endemik
– Kapsul Yodium penduduk 8.600.00
0 11.015.305 12.449.412 12.300.000 10.750.000 7.591.345
2.Pencegahan Anemia Gizi
– Distribusi Tablet Besi ibu hamil 1.428.30
0 2.200.000 2.490.000 2.913.902 3.500.000 2.746.445
3.
Melalui UPGK
Pencegahan Kekurangan
– Distribusi Kapsul Vitamin A Anak balita 13.730.000 11.796.293 12.500.00 13.800. 14.345.39
V
I/7
TABEL VI – 16.A
PELAKSANAAN PENCEGAHAN GONDOK ENDEMIK, ANEMIA GIZI, DAN KEKURANGAN VITAMIN A ¹)