• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan operasional pembangunan pertanian meliputi peingkatan ketahanan pangan yang berbasis sumberdaya lokal dan pembangunan agribisnis pertanian. Pengembangan agribisnis dimulai dari sub sistim budidaya, sub sistim penyediaan sarana prasarana produksi, sub sistim pasca panen serta sub sistim agroindustri/ pengolahan hasil.

Peternakan dalam era reformasi lebih menekankan pada peningkatan sumberdaya manusia (SDM), pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan penataan kelembagaan yang ada serta berorientasi pada pengembangan agribisnis dengan salah satu sasarannya peningkatan mutu hasil peternakan. Dalam pengembangan agribisnis peternakan yang penting dicapai adalah

pemberian nilai tambah dari suatu produk yang dihasilkan yang dapat dicapai apabila melakukan serangkaian kegiatan pengolahan hasil.

Untuk menghasilkan komoditi ternak/ hasil ternak yang memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan tuntutan pasar perlu dikembangkan cara-cara pengolahan yang berorientasi pada penerapan teknologi. Kegiatan pengolahan hasil peternakan yang telah berkembang di Sumatera Barat masih dalam skala kecil dan penyebarannya hanya pada daerah/ lokasi tertentu dengan teknologi yang sederhana.

Dari program/kegiatan ini sasaran yang hendak dicapai adalah meningkatnya jenis dan mutu produk pasa panen dan pengolahan hasil.

Pada program/ kegiatan ini indikator hasil yang hendak dicapai adalah : 1. Peningkatan mutu pasca panen produk :

- Dadiah sebanyak 5 kelompok

- Pengolahan susu sapi perah sebanyak 4 kelompok

2. Peningkatan industri pedesaan berbasis peternakan sebanyak 3 kelompok Anggaran sebesar Rp. 513.000.000,- dengan realisasi Rp. 420.888.400,- (82,04%) dan realisasi fisik 100% terdiri dari :

1) Pengembangan Teknologi dan Usaha Pasca Panen Produk Peternakan sebesar Rp. 100.000.000,- dengan realisasi Rp. 91.876.000,- (91,88%) dan realisasi fisik 100%

2) Peningkatan Produksi dan Pengolahan Susu Sapi pada Kawasan Inkubator sebesar Rp. 338.000.000,- dengan realisasi Rp. 254.854.400,- (75,40%) dan realisasi fisik 100%

3) Sosialisasi Penerapan Good Handling Practice (HGP) dan Good Manufacturing Practice (GMP) pada Usaha Pengolahan Produk Peternakan (Daging) sebesar Rp. 75.000.000,- dengan realisasi Rp. 74.158.000,- (98,88%) dan realisasi fisik 100%

15. Program Pengamanan Sumber Daya Hewani

Peningkatan produksi ternak dan jaminan keamanan pangan, maka peran kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner perlu perhatian yang serius. Apalagi dengan maraknya penularan penyakit ternak saat ini seperti penyakit flu burung/AI, Rabies, SE, Jembrana, Brusellosis, Anthrax, Tetelo, Scabies Orf dan penyakit hewan tidak menular seperti Cacingan, Ganguan reproduksi, defisiensi mineral, Thympani dll. Penyakit-penyakit tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi, produktifitas dan reproduktifitas ternak. Melalui Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak terlihat tingkat capaian yang signifikan.

Dari program/kegiatan ini sasaran yang hendak dicapai adalah Meningkatnya angka kelahiran dan menurunnya angka kematian ternak

Pada program/kegiatan ini indikator hasil yang hendak dicapai adalah : 1. Jumlah kasus penyakit hewan menular :

- Rabies turun sebanyak 25 kasus - Flu Burung turun sebanyak 11 jorong - Ngorok/ SE sebanyak 0 kasus klinis - Jembrana sebanyak o kasus klinis - Antrax sebanyak 0 kasus klinis 2. Jumlah pelayanan kesehatan ternak

- Jumlah penyedia obat hewan sebanyak 4 distributor - Jumlah Pelayanan diagnosa sebanyak 700 ekor

3. Jumlah pemeriksaan salmonella asal hewan sebanyak 500 sampel 4. Uji banding BPAH sebanyak 96 sampel

Anggaran sebesar Rp. 2.689.000.000,- dengan realisasi Rp. 2.468.940.575,- (91,82%) dan realisasi fisik 97,69% terdiri dari :

1) Peningkatan Pelayanan Laboratorium Kesmavet sebesar Rp. 490.000.000,- dengan realisasi Rp. 461.631.700,- (94,21%) dan

realisasi fisik 100%

2) Uji Banding BPAH ke BPPV II Bukittinggi sebesar Rp. 50.000.000,- dengan realisasi Rp. 39.803.550,- (79,61%) dan realisasi fisik 100%

3) Koordinasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Rabies sebesar Rp. 150.000.000,- dengan realisasi Rp. 137.668.600,- (91,78%) dan realisasi fisik 100%

4) Pengawasan Lalulintas Hewan, BAH dan HBAH sebesar Rp. 290.000.000,- dengan realisasi Rp. 219.003.400,- (75,52%) dan realisasi fisik 85,00%

5) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Al/Flu Burung sebesar Rp. 110.000.000,- dengan realisasi Rp. 107.347.500,- (97,59%) dan

realisasi fisik 100%

6) Penanggulangan Penyakit Jembrana sebesar Rp. 115.000.000,- dengan realisasi Rp. 112.493.500,- (97,82%) dan realisasi fisik 100%

7) Peningkatan Pelayanan Labor Keswan dan Klinik Hewan sebesar Rp. 240.000.000,- dengan realisasi Rp. 236.451.850,- (98,52%) dan

realisasi fisik 100%

8) Pengawasan Obat Hewan sebesar Rp. 60.000.000,- dengan realisasi Rp. 45.565.950,- (75,94%) dan realisasi fisik 91,25%

9) Operasional Unit Pelaksana Pengendalian Avian Influenza (AI) Provinsi sebesar Rp. 589.000.000,- dengan realisasi Rp. 553.573.500,- (93,99%) dan realisasi fisik 100%

10) Sosialisasi dan Pengawasan Penyediaan Pangan Asal Hewan (PAH) yang

Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) yang Berdaya Saing sebesar Rp. 90.000.000,- dengan realisasi Rp. 70.694.900,- (78,55%) dan

realisasi fisik 85%

11) Peningkatan Pelayanan Klinik Hewan Padang sebesar Rp. 350.000.000,- dengan realisasi Rp. 336.690.025,- (96,20%) dan realisasi fisik 100% 12) Evaluasi dan Pembinaan Hygienis Sanitasi (HS) Unit Usaha Pangan Asal

Hewan untuk Memperoleh NKV sebesar Rp. 155.000.000,- dengan realisasi Rp. 148.016.100,- (95,49%) dan realisasi fisik 100%

16. Program Pengembangan Satu Petani Satu Sapi

Program Satu Petani Satu Sapi (SPSS) telah menjadi ketetapan dan satu kebijakan dalam ranah Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP) di Provinsi Sumatera Barat sejak tahun 2010. Program ini berorientasi kepada percepatan pembangunan ekonomi berbasis rumah tangga di nagari, kelurahan dan desa melalui sektor peternakan. Sebab beternak nisa memanfaatkan lahan marginal

dalam skala kecil dan limbahnya dapat kembali meyuburkan lahan secara berkelanjutan.

Dalam program ini diupayakan petani melakukan diversifikasi usaha. Mereka tidak hanya menjalan satu usaha, bertanam padi saja misalnya, tetapi melakukan usaha terintegrasi dengan peternakan, perikanan, atau perkebunan (integrated farming). Dengan melakukan system integrated farming tersebut tentu pendapatan mereka akan meningkat dan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.

Dari program/kegiatan ini sasaran yang hendak dicapai adalah Meningkatnya produktivitas ternak.

Pada program/kegiatan ini indikator hasil yang hendak dicapai adalah penyebaran ternak dikelompok tani :

- Kelompok sapi potong sebanyak 308 ekor - Kelompok sapi perah sebanyak 25 ekor - Kelompok kerbau sebanyak 5 ekor

Anggaran sebelum perubahan sebesar Rp. 4.242.100.000,- dan setelah perubahan Rp. 4.302.409.850,- dengan realisasi Rp. 3.984.127.500,- (92,60%) dan realisasi fisik 100% terdiri dari :

1) Penyebaran Ternak sapi sebelum perubahan sebesar Rp. 3.035.100.000,-

dan setelah perubahan sebesar Rp. 3.009.900.000,- dengan realisasi Rp. 2.876.742.000,- (95,58%) dan realisasi fisik 100%

2) Pelatihan Peningkatan Manajemen Kelompok pada Kawasan Satu Petani Satu Sapi sebesar Rp. 207.000.000,- dengan realisasi Rp. 196.247.000,- (94,81%) dan realisasi fisik 100%

3) Pengembangan Pembibitan Sapi sebesar Rp 1.000.000.000,- dan setelah

perubahan sebesar Rp. 1.085.509.850,- dengan realisasi Rp. 911.138.500,- (83,94%) dan realisasi fisik 100%

BAB. IV

Dokumen terkait