URAIAN TEORITIS 2.1Kerangka Teori
2.2.5 Televisi Sebagai Media Massa .3Pengertian Televisi
2.2.5.6 Program Siaran Pada Televisi
Kata “Program” berasal dari bahasa Inggris programme atau program yang berarti acara atau rencana. Undang-undang Penyiaran Indonesia tidak mengguanakan kata program untuk acara tetapi mengunakan istilah “siaran” yang didefinisikan sebagai pesan atau rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Program adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiensnya. (Morissan, 2008: 200).
Program acara pada televisi merupakan suatu hal yang penting untuk mendapatkan dukungan dari publik melalui program yang ditayangkan. Meraih audiens sebanyak-banyaknya merupakan suatu hal yang penting dan utama. Program yang dikemas dalam televisi harus beragam serta di kembangkan agar tidak menoton, hal ini dapat mempengaruhi kurangnya minat audiens dalam menontonya. Variasi yang ditampilkan akan lebih menarik perhatian publik.
Jumlah audiens yang besar akan menjadikan stasiun televisi menjadi daya tarik para pemasang iklan. Apa lagi Jika karakteristik audiens yang dicari sesuai dengan produk yang inggin di publikasikan. Hal ini akan memberi keuntungan dan pendapatan yang besar bagi stasiun televisi. Program pada media televisi dapat dibagi dua (Morissan, 2008: 208) yaitu:
1) Program Informasi (berita), seperti berita keras (hard news) laporan berita terkini yang harus segera disiarkan dan berita lunak (soft news) yang merupakan kombinasi dari fakta, gossip, serta opini.
2) Program Hiburan (entertainment), seperti acara music, drama permainan dan pertunjukan.
Dari hal diatas dapat kita lihat bahwa, keuntungan dan pendapatan stasiun televisi berasal dari audiens, melalui program yang mereka produksi. Keberadaan suatu stasiun televisi serta pendapatanya dipengaruhi oleh programnya. Besar atau kecilnya audiens tergantung pada kualitas program acara yang diproduksi atau yang ditampilkan kepada khalayak. Program yang ditampilkan oleh media televisi beragam dengan jumlah yang tidak sedikit. Penting diperhatikan, program tersebut tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku serta dapat diterima oleh khalayak umum. Maka pada stasiun televisi sangat membutuhkan tenaga kerja tim kreatif yang memiliki kreativitas seluas mungkin untuk menghasilkan berbagai program yang menarik untuk ditayangkan.
Program yang ditayangkan pada stasiun televisi pada umunya memiliki dua bentuk (Morissa, 2008: 321), yaitu:
b) Dominasi bintang (star-dominant)
Dominasi format biasanya banyak kita temukan pada program sinetron yang sudah ditentukan bagaimana jalan ceritanya, reality show yang diformat dengan memaikan aktor yang bukan berasal dari kalangan artis namun masyarakat yang memiliki nelai human interst. Pemain dari program dipilih yang sesuai dengan format acara yang sudah ditentukan. Format merupakan hal yang paling utama dalam program tersebut, maka para actor harus melaksanakan perannya sesuai format yang sudah ditentukan.
Dominasi bintang, dimana keberhasilan suatu program tergantung dari pada pemain utamanya, daya tarik aktor utama sangat penting dalam hal ini. Biasanya kita temukan pada program acara talk show, seperti “Sarah Sehan” pada NET.TV, “Mata Najwa” pada metro TV dan lain sebagainya.
Salah satu program yang menarik perhatian publik adalah program hiburan. Sesuai dengan fungsinya yang merupakan menghibur, televisi sering digunakan oleh khalayak untuk melepaskan kepenatan dari rutinitas kegiatan sehari-hari dengan mencari program hiburan yang mampu membuat mereka tertawa dan melupakan sejenak kepenatan tersebut.
Hiburan menjadi kebutuhan dasar pada manusia, setiap hari manusia bekerja dan melakukan aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran. salah satu cara manusia mendapatkan hiburan yaitu melalui televisi. Dengan harapan televisi mampu mengurangi rasa bosan, memberi rasa nyaman dan santai sebagai bentuk pelarian dari tekanan dan masalah, serta dapat menjadi pelepasan emosi dari perasaan dan energi terpendam.
Dalam buku media massa dan masyarakat modern William L. Rivers, Jay W. Jensen,Theodore Peterson (2003: 282-283) menuliskan:
Salah satu cara untuk membedakan tayangan hiburan dengan tayangan yang lain adalah dengan menyinak isi dan memperkirakan dapaknya. Ada pendapat bahwa sesuatu bersifat menghibur jika hal itu menjadikan kita gembira dan melupakan sejenak berbagai kesulitan dan masalah. Joseph T. Klepper dalam bukunya yang berjudul The Effects of the Mass Media setuju dengan definisi itu, namun ia mengingatkan bahwa definisi hiburan memang tidak tunggal, dan bisa membingungkan. Makna hiburan juga tergantung pada motivasi orang per orang. Jika kita menjadikan televisi sebagai media hiburan, maka apa saja acaranya akan kita anggap sebagai hiburan. Seorang pengusaha bisa jadi terhibur dengan
membaca artikel ekonomi yang bagi orang lain sangat rumit. Dalam pengertian ini, semua isi media berpotensi menjadi hiburan, karena penentunya terserah pada audiensnya.
Berbagai macam program hiburan dikemas dengan menarik saat ini. Ada yang dalam bentuk drama, sinetron, film, quiz show, ketangkasan, reality show, music, dan pertunjukan. Semua bentuk program hiburan tersebut dikemas dengan menarik oleh para tim kreatif dari masing-masing televisi.
Tidak dapat dipungkiri persaingan dalam pengemasan program hiburan sering terjadi. Beberapa stasiun televisi menampilkan acara program yang sama dengan pengemasan dan nama program yang berbeda. seperti acar hiburan talk show opera van java pada Trans7, facebooker pada antv dan lain sebagainya. hal ini bukan suatu hal yang baru lagi pada stasiun televisi, program yang baru pada stasiun televisi yang satu sudah ada sebelumnya pada stasiun televisi lainnya atau langsung diikuti oleh stasiun televisi swasta lainnya. sulit membedakan siapa yang terlebih dahulu dan siapa yang mengikuti program tersebut.
Dapak isi hiburan dalam media massa dewasa ini sulit untuk diukur. Dengan rata-rata TV di setiap rumah menyala selama 7 jam setiap harinya di AS, yang kebanyakan menyetel saluran hiburan, dan hal ini tidak tertutup kemungkinan juga di Indonesia, maka jelas bahwa orang kini lebih banyak dihibur ketimbang orang zaman dahulu (Vivian, 2008: 398). Zaman dahulu yang masi jarang mengunakan media massa khususnya televisi.
Tentunya hiburan tidak hanya membuahkan damapak positif, namun juga mengandung unsur negatif. Charlene Brown dari Universitas Stanford (William L, Dkk. 2003:282) berkata:
Hiburan memang diperlukan setiap orang agar dapat rileks dan tahan menghadapi tekanan kehidupan modern. Namun banyak orang dalam berusaha santai acapkali tidak sadar bahwa dalam acara-acara hiburan bisa terkandung pesan atau pelajaran yang membahayakan. Misalnya pada adegan-adegan konyol yang memperlihatkan kemalangan seseorang malah disuguhkan sebagai bahan tertawaan.
Karakteristik utama media massa yang bersifat satu arah berusaha untuk menyajikan hiburan yang memenuhi selera khalayak pada umumnya. Media lebih fokus pada selera khalayak yang dominan untuk menjangkau khalayak penonton yang banyak. Namun disisi lain Media berusaha senetral mungkin, tidak menonjolkan dan meremehkan nilai-nilai tertentu dalam menampilkan produk hiburan yang disajikan. Akhirnya produk hiburan yang ditampilkan mengandung makna yang cenderung dangkal, tetapi mampu mengundang tawa penontonya.