• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Global Environment Monitoring System/Food Contamination Monitoring and Assessment Programme, atau lebih dikenal dengan GEMS/FOOD dibentuk pada tahun 1976. GEMS/FOOD memulai proyek kerjasama dengan FAO, UNEP dan WHO dengan WHO sebagai agen pelaksananya. Sampai akhir tahun 1994, WHO telah melaksanakan program GEMS/FOOD di lebih dari 70 negara di dunia. GEMS/FOOD memberikan informasi yang telah dikumpulkan kepada pemerintah, lembaga internasional dan lembaga antar pemerintahan seperti Codex Alimentarius Commission tentang tingkat dan kecenderungan kontaminan dalam pangan, kontribusinya terhadap paparan pada manusia serta signifikansinya terhadap kesehatan publik dan perdagangan (WHO, 1999; WHO, 2002; WHO, 2003a).

Beberapa tujuan utama GEMS/FOOD antara lain :

• mengumpulkan data kontaminan dalam pangan dan mengevaluasinya serta meninjau kembali kecenderungan kontaminan dalam pangan dan memberikan ulasannya,

• menghasilkan suatu perkiraan asupan bahan kimia dengan mengkombinasikan data konsumsi pangan dengan tingkat kontaminan pada kelompok pangan tertentu,

• membuka kerjasama dengan negara-negara yang ingin memprakarsai program monitoring kontaminan pangan,

Tabel 3. Peta pelaksanaan kajian paparan di Indonesia

Komponen Sumber Data Kondisi di Indonesia

Data konsumsi Data survei konsumsi pangan berskala nasional

Data tersedia dalam bentuk Food Balance Sheet. Data ini digunakan untuk menghitung rata-rata ketersediaan energi per kapita, makronutrien dan paparan bahan kimia dalam komoditi segar dan pangan semi olahan sehingga hanya bisa diaplikasikan untuk kontaminan pangan. Data yang ada belum diaplikasikan untuk kajian paparan di Indonesia *

Data survei konsumsi

pangan berbasis rumah tangga

Data telah tersedia di Indonesia dan digunakan untuk memperkirakan rata-rata paparan kontaminan dalam pangan. Sumber informasi diperoleh dari data hasil survei oleh HKI (Hellen Keller Indonesia), Perguruan Tinggi, Puslitbang Gizi dan Makanan, serta data hasil survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS). Akan tetapi untuk BTP belum tersedia, salah satu peluangnya adalah melakukan analisis dari data SUSENASΨ

Data survei konsumsi

pangan berbasis individu

Masih dalam skala pilot project yakni survei konsumsi pangan individu terpadu untuk kajian paparan dan gizi yang dilaksanakan di 10 kecamatan di kota Bogor. Survei dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut dengan menggunakan metode mengingat-ingat konsumsi pangan (24 h food dietary recall) dan buku harian konsumsi pangan (food diary methods). Hasil survei menunjukkan bahwa pengkonsumsi tinggi benzoat (95th) berdasarkan GSFA: 13.48mg/kgbb (270% JECFA ADI) dan kelompok pasta dan mie, roti dan minuman tidak beralkohol memberikan kontribusi besar terhadap paparan. Pengkonsumsi tinggi siklamat (95th) berdasarkan standar nasional max: 33 mg/kgbb (304% JECFA ADI) dan kelompok minuman tidak beralkohol memberikan kontribusi besar terhadap paparan¶

Tabel 3. Peta pelaksanaan kajian paparan di Indonesia (lanjutan)

Komponen Sumber Data Kondisi di Indonesia

Data konsentrasi Asumsi maksimum level yang diijinkan

Telah dilakukan pengembangan metode kajian paparan berdasarkan batas maksimum yang diijinkan. Proyek ini telah dilaksanakan pada Oktober-Desember 2002 dengan menggunakan 192 responden di 15 propinsi di Indonesia. Hasil kajian paparan menunjukkan asupan benzoat rata-rata 0.96mg/kgbb (19.2% JECFA ADI) dengan pengkonsumsi tinggi 95th: 3.08 mg/kg bb (61.6% JECFA ADI). Rata-rata asupan pengkonsumsi tinggi benzoat untuk anak-anak (2-12) hampir melebihi JECFA ADI (5mg/kgbb)§

Data hasil monitoring

keamanan pangan

Database belum tersedia di Indonesia, akan dibahas dalam skripsi ini Ψ

Studi diet total Pilot project kajian paparan BTP pada murid SD dengan metode TDS (Desember 2002- Desember 2003). Jumlah responden yang terlibat sebanyak 72 orang usia 6-12 tahun dan dipilih secara random dari 3 SD di kota Malang. Hasil kajian menunjukkan bahwa pangan siap saji mempunyai kontribusi tertinggi terhadap pangan yang dikonsumsi murid SD (70% dari berat total). Paparan siklamat rerata tertinggi berasal dari minuman dan kudapan terutama dari serealia dan kelompok lain-lain (total paparan 240% ADI), sedangkan paparan rerata benzoat dan sakarin total masih dibawah nilai ADIΦ

Sumber: * Sparringa et al. (2004)

Ψ Sparringa, personal communication. (2005)

¶ Syarifudin (2004)

Φ Slamet (2004)

• mempersiapkan perkiraan pola konsumsi pangan regional, dan

• mendukung dan memfasilitasi penyusunan Standar Internasional untuk pangan yang dilakukan oleh Codex Alimentarius Commission dengan memberikan informasi tingkat kontaminan dalam pangan.

Salah satu aktivitas GEMS/FOOD adalah melakukan monitoring keamanan pangan dengan cara mengumpulkan, menganalisis dan menyebarluaskan data kontaminan dalam pangan dan total diet. Untuk membantu kegiatan monitoring tersebut, maka dikembangkan daftar prioritas pangan dan kontaminan. Daftar GEMS/FOOD tersebut digunakan dalam rangka harmonisasi untuk mendukung pelaksanaan program Total Diet Study (TDS). Terdapat tiga daftar prioritas pangan dan kontaminan menurut GEMS/FOOD yakni core list, intermediate list dan comprehensive list. Core list direkomendasikan untuk digunakan di negara berkembang seperti Indonesia, intermediate list digunakan di negara yang industrinya sedang berkembang dan untuk negara maju atau negara yang telah berkembang direkomendasikan untuk menggunakan comprehensive list (WHO, 1999). Selain itu untuk memudahkan dalam proses pengklasifikasian data maka dikembangkan sistem kategori pangan (GEMS/FOOD Regional diets) (WHO, 2003b). Terdapat 15 kategori pangan segar dan semi olahan berdasarkan GEMS/FOOD Regional Diets. Kategori pangan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Sistem dan prosedur juga telah dikembangkan untuk memungkinkan pengumpulan data elektronik dari berbagai negara yang terlibat. Bagi negara- negara yang memiliki sistem monitoring yang canggih, data-data akan ditransfer ke WHO/HQ sebagai sentral database secara otomatis (electronic reporting). Sedangkan bagi negara yang belum memiliki sistem monitoring yang canggih, untuk membantu pengumpulan data kontaminan dalam pangan ini maka dikembangkan OPAL (Operational Programs for Analytical Laboratories). OPAL adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang dikembangkan oleh WHO untuk membantu program GEMS/FOOD. Terdapat dua komponen OPAL yakni OPAL I yang digunakan untuk data kontaminan

Tabel 4. Kategori pangan untuk pangan segar dan semi olahan menurut GEMS/FOOD Regional Diets

No. Komoditi

1. Serealia

2. Akar-akaran dan Umbi-umbian 3. Kacang-kacangan/Pulses 4. Gula dan Madu

5. Kacang-kacangan dan Minyak Biji-bijian 6. Minyak dan Lemak Nabati

7. Stimulan 8. Spices/Rempah-rempah 9. Sayur-sayuran 10. Ikan dan Seafood 11. Telur

12. Buah-buahan 13. Susu dan Produk Susu 14. Daging dan Jerohan 15. Minyak dan Lemak Hewani Sumber: Diadaptasi dari WHO (2003b)

dalam pangan dan OPAL II yang digunakan untuk hasil TDS (Total Diet Study) (WHO, 1999).

Data dalam bentuk database hasil olahan software OPAL tersebut akan sangat berguna untuk mengkaji risiko kontaminan pangan bagi kesehatan manusia. Database kontaminan GEMS/FOOD ini dapat diakses secara mudah melalui internet yakni di Website WHO SIGHT (http://sight.who.int). Akan tetapi untuk data yang bersifat rahasia tidak dipublikasikan tanpa seijin submitter. Untuk kasus ini WHO SIGHT hanya akan menampilkan nama negara, nama kontaminan dan jumlah data yang dimasukkan (WHO, 2003a).

Dokumen terkait