SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
Judul Tugas Akhir : Strategi Pengembangan Usaha ”Nila Puff” dalam Meningkatkan Pendapatan Ikm Pengolahan Hasil Perikanan
(Studi Kasus Pada C. ”X” Di Cibinong Bogor) Nama Mahasiswa : Tiurma Yosephine Nainggolan
Nomor Pokok : F.352064225
Program Studi : Industri Kecil Menengah
Disetujui
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Komar Sumantadinata, MSc Dr.Ir. Ani Suryani, DEA Ketua Anggota
Diketahui,
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Industri Kecil Menengah
Prof.Dr.Ir.H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA Prof.Dr.Ir. H. Khairil A. Notodiputro, MS
PRAKATA
Puji syukur bagi Allah Maha Kasih, yang telah menganugerahkan berkat serta penyertaanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian tesis dengan judul “Strategi Pengembangan Usaha Nila Puff dalam Meningkatkan Pendapatan IKM Pengolahan Hasil Perikanan”, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Industri Kecil dan Menengah, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Penulis Menyadari bahwa karya ilmiah ini dapat tersusun karena bantuan berbagai pihak, baik staf pengajar dan pembimbing di civitas akademika IPB, Direktur CV. “X” dan seluruh stafnya yang telah membantu kelancaran penelitian. Secara khusus penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Komar Sumantadinata, MSc selaku pembimbing utama dan Ibu Dr.Ir.Ani Suryani, DEA selaku pembimbing anggota yang telah memberikan bimbingan dan motivasinya sehingga penulis bersemangat menyelesaikan tesis ini. Tidak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Segenap Dosen pengajar mata kuliah di program MPI angkatan 9. 2. Rekan-rekan mahasiswa S2 IPB program MPI angkatan 9.
3. Rekan-rekan petugas administrasi pada program MPI.
4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Ungkapan terima kasih dan rasa sayang yang tulus kepada suami tercinta serta kedua anak tersayang yang selama ini telah memberikan doa, semangat serta pengorbanan waktu kebersamaannya yang terpakai untuk belajar, kuliah dan tugas.
Akhirnya penulis berharap penelitian ini akan berguna sebagai kontribusi pemikiran pengembangan usaha bagi para pelaku bisnis di bidang pengolahan hasil perikanan.
Bogor, Maret 2009 Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 8 Maret 1970 sebagai anak kedua dari pasangan Alm. Bapak F.B Nainggolan dan Alm. Ibu Tioria Samosir. Penulis menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di SMAN 30 Jakarta pada tahun 1989 dan menyelesaikan pendidikan Diploma III di Diklat Usaha Perikanan Jakarta pada tahun 1992. Pada tahun 2003, Penulis menyelesaikan pendidikan Diploma IV di Sekolah Tinggi Perikanan dan memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Perikanan (S.St.Pi).
Sejak Oktober 1992 hingga Juli tahun 1994 penulis bekerja sebagai staf Quality Control (QC) pada perusahaan pembekuan udang PT. Berlian Mina Sejahtera Jakarta. Kemudian pada Agustus 1994 hingga Mei 1999 penulis pindah tugas sebagai staf ekspor impor di PT. Sumber Haslindo Jakarta. Selanjutnya pada bulan Juli tahun 1999 penulis memilih bekerja di jalur birokrat sebagai pegawai negeri sipil di lingkup Departemen Kelautan dan Perikanan dalam hal ini Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan Jakarta sebagai staf bidang pengolahan hasil perikanan hingga saat ini.
Penulis menikah pada tahun 1996 dengan Antonius Bambang Subekti. Pada tahun 1997 penulis dikarunia puteri pertama yang bernama Gloria Christine Setiyowati dan pada tahun 2001 penulis kembali dikarunia putera kedua yang bernama Immanuel Parulian Setiadi.
DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ... vi DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 4 C.Tujuan ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 5
II. LANDASAN TEORI ... 6 A. Industri Kecil ... 6
1. Karakteristik Industri Kecil... 6 2. Penggolongan Industri Kecil ... 7 B. Pemasaran... 8
1. Unsur Strategi Persaingan ... 8 2. Unsur Taktik Pemasaran ... 9 3. Unsur Nilai Pemasaran ... 9 C. Preferensi Konsumen ... 9 D.Perilaku Konsumen... 11 E. Pengembangan Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi ... 11 1. Tahap Pertama ... 12 2. Tahap Kedua ... 12 F. Aplikasi Manajemen Strategi Unit Usaha Nila Puff... 13 G.Snack Puff... 14 H. Kemunduran Mutu ... 15 I. Karakteristik Pengembangan Suatu Produk... 16
III. METODE KAJIAN ... 19 A. Pengumpulan Data ... 19 B. Pengolahan dan Analisis Data ... 19 1. Analisis IPA ... 20 2. Matriks IFE dan EFE ... 24 3. Matriks SWOT... 26
4. Analisis Titik Impas dan Profit Margin... 27 C. Aspek Kajian ... 28 1. Analisa Kelayakan Usaha ... 28 2. Perumusan dan Pemilihan Strategi Pengembangan Usaha... 31
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33 A. Keadaan Umum ... 33 1. Sejarah dan Perkembangan Unit Usaha ... 33 2. Struktur Organisasi Unit Usaha ... 34 3. Karakteristik Responden yang merupakan Konsumen Produk
Nila Puff... 36 B. Hal yang dikaji... 38 1. Pengamatan Mutu Produk Nila Puff... 38 2. Respon Konsumen terhadap Dimensi Performance Produk Nila Puff 38 3. Analisis Lingkungan Internal ... 55 4. Analisis Lingkungan Eksternal ... 62 5. Analisis Matriks SWOT ... 77 6. Analisis Titik Impas dan Profit Margin... 80 7. Implementasi Strategis ... 82
V. KESIMPULAN DAN SARAN... 87 A. Kesimpulan ... 87 B. Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 89 LAMPIRAN ... 91
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Produksi perikanan menurut sub sektor perikanan... 1 2. Hasil uji organoleptik (deskripsi) produk nila puff ... 3 3. Syarat mutu makanan ringan ekstrudat ... 15 4. Skor tingkat kepentingan ... 20 5. Skor tingkat pelaksanaan... 20 6. Sebaran persentase responden berdasarkan kelompok usia... 36 7. Sebaran persentase responden berdasarkan jenis kelamin ... 37 8. Sebaran persentase responden berdasarkan pekerjaan ... 37 9. Kandungan gizi nila puff per 100 gr bahan ... 38 10. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja citarasa. 40 11. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja aroma ... 40 12. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
bentuk dan ukuran ... 41 13. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
keragaman dan variasi produk... 43 14. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut harga produk ... 44 15. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
usaha promosi ... 46 16. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
manfaat yang dirasakan... 46 17. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
kandungan gizi... 47 18. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
kemudahan untuk memperoleh produk ... 48 19. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
daya tahan produk ... 49 20. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
kemasan ... 50 21. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
22. Penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut
halal ... 51 23. Perhitungan rataan dari penilaian tingkat kepentingan dan kinerja
atribut mutu produk nila puff pada unit usaha CV. ”X” di Cibinong ... 52 24. Perkembangan harga jual produk nila puff tahun 2007-2008 ... 61 25. Faktor penyusun harga jual produk nila puff tahun 2007 ... 61 26. Pesaing kuat unit usaha CV. ”X” ... 68 27. Hasil matriks IFE ... 74 28. Hasil matriks EFE ... 74 29. Perumusan strategi unit usaha CV. ”X” dengan matriks SWOT kualitatif 78 30. Biaya tetap total pembuatan nila puff periode 2008... 80 31. Biaya tidak tetap total pembuatan nila puff periode 2008 ... 80 32. Perhitungan titik impas pada pembuatan produk nila puff... 81 33. Perbandingan penjualan aktual dan penjualan titik impas pada unit
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Nila puff... 3 2. Diagram Kartesius (Umar, 2003) ... 22 3. Matriks IE (Kotler, 2002) ... 25 4. Diagram analisa SWOT (Rangkuti, 2000)... 26 5. Struktur organisasi unit usaha CV. ”X”... 34 6. Diagram Kartesius kepuasan konsumen terhadap produk ... 53 7. Hasil matriks IE ... 75
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Kuesioner penelitian ... 92 2. Alur proses pengolahan nila puff... 103 3. Unit usaha CV. ”X” ... 105 4. Perhitungan matriks IFE-EFE ... 106
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia memiliki sumberdaya perikanan yang kaya dan potensial, baik dari perikanan laut, perairan umum maupun perikanan budidaya. Menurut data statistik perikanan dan kelautan tahun 2008 (Tabel 1) terlihat adanya peningkatan produksi perikanan yang cukup signifikan mulai dari tahun 1988, 2005 sampai tahun 2007.
Tabel 1. Produksi perikanan menurut sub sektor perikanan Satuan : Ton
Sub Sektor 1988 2005 2007
Perikanan Laut 2.169.557 4.468.010 4. 734.280 Perairan Umum 281.264 301.150 310.457 Perikanan Budidaya Sub Jumlah 430.348 2.682.596 3.193.565 Budidaya Laut - 1.365.918 1.728.475 Tambak 233.283 629.610 645.489 Kolam 104.187 381.946 391.792 Karamba 3.625 56.200 44.790 Jaring Apung - 143.251 211.322 Sawah 89.253 105.671 171.697 Jumlah 2.881.169 7.451.756 8.238.302 Sumber : Statistik Perikanan dan Kelautan Tahun 2008
Dari data di atas, bila dilakukan perbandingan jumlah produksi sub sektor perikanan laut pada tahun 1988 dan tahun 2007 terlihat jelas kenaikannya mencapai lebih dari 100%, sedangkan jumlah produksi sub sektor perikanan budidaya kenaikannya sangat fantastis yaitu mencapai sekitar 600%. Hal ini menunjukkan tingginya minat para pelaku usaha perikanan dalam mengembangkan usahanya terutama di sub sektor perikanan budidaya.
Sangat disayangkan peningkatan jumlah produksi ini belum diimbangi dengan peningkatan mutu, ditunjukkan bahwa 20% dari produksi perikanan Indonesia bermutu tinggi, 30-40% bermutu sedang dan 40-60% bermutu rendah (DKP, 2008)
Sedangkan untuk pemanfaatan produksinya yaitu 50% dijual ke pasar dalam bentuk ikan segar, 40% diolah secara tradisional dan 10% diolah secara modern (DKP, 2008). Dari data ini terlihat bahwa secara nilai ekonomi, produksi perikanan Indonesia masih sangat rendah karena sebagian besar hanya dijual dalam bentuk segar sehingga perlu dilakukan diversifikasi produk yang tentu saja didukung dengan penerapan teknik sanitasi dan higiene yang baik sehingga diperoleh produk dengan mutu yang baik dan nilai jual yang tinggi.
Pembangunan nasional yang diselenggarakan di Indonesia saat ini diprioritaskan pada sektor industri, baik industri besar, industri menengah, maupun industri kecil. Keberadaan industri kecil yang tersebar di masyarakat Indonesia telah memberikan andil yang besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Industri kecil di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem perekonomian nasional, karena berperan untuk mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan usaha dan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan ikut berperan dalam meningkatkan perolehan devisa, serta memperkokoh struktur industri nasional (Hubeis, 1997).
Salah satu jenis ikan air tawar yang berpotensi sebagai sumber protein hewani dan dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat adalah ikan nila. Ikan nila memiliki beberapa keunggulan, yaitu dagingnya putih, tebal, sedikit duri dan rasanya enak sehingga disukai konsumen (Rukmana, 1997).
Konsumsi protein penduduk Indonesia masih rendah, yakni 17,85 kg/kapita/tahun pada tahun 1994 dan diproyeksikan menjadi 19,20 kg/kapita/tahun untuk tahun 1998. Usaha peningkatan konsumsi ikan diarahkan untuk mencapai standar konsumsi protein sebesar 4,5 gr/kapita/hari. Selama pembangunan Jangka Panjang (PJP) II, konsumsi ikan penduduk Indonesia diharapkan meningkat menjadi 26 kg/kapita/tahun dengan pola konsumsi bergeser ke ikan basah atau segar (Rukmana, 1997).
Terbatasnya bentuk olahan ikan merupakan salah satu penyebab rendahnya tingkat konsumsi ikan penduduk Indonesia. Untuk meningkatkan konsumsi ikan, perlu ditempuh upaya penganekaragaman (diversifikasi) bentuk olahan ikan, terutama menuju pada produk-produk yang biasa dikonsumsi masyarakat sehingga peluang produk untuk diterima lebih besar (Subaryono, 2003).
Salah satu upaya penganekaragaman tersebut adalah pembuatan produk olahan dalam bentuk snack puff. Snack puff adalah makanan ringan yang terbuat dari serelia yang dimasak di bawah kondisi ekstrusi untuk mengubahnya dalam bentuk gembung/kering (puff/dry) (Mottur dkk,1985). Penambahan tepung ikan nila (Oreochromis niloticus
)
pada produk snack puff diberi nama ”nila puff”. Produk nila puff dalam berbagai macam bentuk dan rasa dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Nila puff
Pada produk nila puff terdapat kandungan gizi berupa protein dan mineral, hal ini ditunjukkan dari data hasil pengujian yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan (BBP2HP) terhadap produk nila puff . Adapun penilaian panelis yang ada di BBP2HP untuk uji organoleptik produk nila puff ini adalah seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji organoleptik (deskripsi) produk nila puff
Hasil Pengamatan
Penampakan Tekstur Bau Rasa Nilai
Sangat menarik, warna kuning cerah Sangat renyah dan lembut Harum flavor ayam bawang, ada sedikit bau amis
Sangat enak, gurih
8,50
Produk tersebut sudah cukup dikenal dan digemari masyarakat setempat, hal ini terlihat dari data sementara sejak produk tersebut mulai dipasarkan pada awal tahun 2007 mencapai 4,8 ton (CV ”X”, 2007). Dengan demikian diharapkan
pengembangan produk nila puff ini dapat diterima dan akhirnya dapat meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.
CV ”X” selaku satu-satunya IKM yang memproduksi produk nila puff
diharapkan tidak hanya memproduksi, tetapi juga mampu mempromosikan dan menginformasikan kepada masyarakat tentang manfaat mengkonsumsi produk nila puff ini sambil terus memperhatikan tingkat penerimaan (preferensi) konsumen. Dengan mempelajari preferensi konsumen terhadap produk yang dihasilkannya, maka produsen dapat menentukan strategi pengembangan usaha yang tepat bagi perusahaan
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan berbagai permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, pengembangan diversifikasi produk harus terus dilakukan guna meningkatkan konsumsi ikan masyarakat. Untuk itu perlu ditentukan upaya- upaya yang harus dilakukan sebagai strategi pengembangan usaha CV. “X” di Cibinong guna mengetahui prospek pengembangan usaha nila puff bukan hanya bagi CV. “X” di Cibinong tetapi juga IKM pengolahan hasil perikanan yang lain.
Secara ringkas permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh preferensi konsumen nila puff dalam pemasaran dan pengembangan unit usaha ?
2. Bentuk–bentuk pengembangan usaha apa yang dapat dilakukan unit usaha CV. “X” di Cibinong, terutama dari aspek bisnis ?
3. Bagaimana prospek usaha nila puff yang dilakukan oleh unit usaha CV. “X” di Cibinong melalui penyusunan strategi perusahaan?
C. Tujuan
Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh preferensi konsumen nila puff dalam pemasaran dan pengembangan unit usaha.
2. Menghasilkan bentuk-bentuk pengembangan unit usaha CV. “X” di Cibinong dari aspek bisnis.
3. Mengetahui prospek usaha nila puff yang dilakukan oleh unit usaha CV. “X” di Cibinong, melalui penyusunan strategi perusahaan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berikut:
1. Sumbangan pemikiran bagi pelaku bisnis produk olahan hasil perikanan pada umumnya dan pelaku bisnis produk nila puff pada khususnya dalam melakukan strategi perbaikan mutu produk, sehingga produk nila puff
semakin dikenal dan disukai oleh konsumen.
2. Sumbangan pemikiran dan bahan referensi dalam mempopulerkan dan mengoptimalkan pemanfaatan ikan air tawar berupa ikan nila.
3. Sumbangan pemikiran dan bahan evaluasi bagi IKM pengolahan hasil perikanan guna pengembangan usaha.
II. LANDASAN TEORI
A. Industri Kecil
Industri kecil menurut Biro Pusat Statistik (BPS, 1997) adalah sebuah perusahaan industri yang memiliki jumlah tenaga kerja 5-19 orang, termasuk pekerja yang dibayar, pekerja pemilik dan pekerja keluarga yang tidak dibayar. Perusahaan industri yang memiliki pekerja kurang dari lima orang diklasifikasikan sebagai industri rumah tangga atau kerajinan rakyat.
Disebutkan oleh Musa (1997) dalam Undang-Undang Usaha Kecil No. 9 tahun 1995, industri kecil sebagai bagian dari usaha kecil di Indonesia didefinisikan sebagai industri yang memiliki aset tidak lebih dari Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan) atau omzet/tahun Rp 1 milyar. Operasional di lapangan dapat dikatagorikan atas usaha menengah (Rp 700 juta ≤ omzet/tahun < Rp 1 milyar), usaha mandiri (Rp 100 juta ≤ omzet/tahun < Rp 700 juta) dan usaha tangguh (Rp 50 juta ≤ omzet/tahun < Rp 100 juta). Dalam pengertian lainnya, industri kecil dapat dikelompokkan atas dasar perusahaan sekadar hidup, perusahaan pelengkap/penunjang, perusahaan yang didasarkan pada ide dengan kemungkinan untuk timbul dan berkembang, serta perusahaan mapan yang dikatagorikan dalam batas informal dan formal (aset dan omzet).
1. Karakteristik Industri Kecil
Departemen Perindustrian dan Perdagangan (1994) menyebutkan bahwa industri kecil di Indonesia umumnya memiliki ciri-ciri berikut :
a. Pemilik adalah golongan ekonomi lemah.
b. Pemilik juga menjadi pemimpin perusahaan dan masih membutuhkan bimbingan kewirausahaan.
c. Administrasi perusahaan masih bersifat sederhana dan kurang teratur, serta belum berbentuk badan hukum.
d. Pengusaha tidak dapat memberikan jaminan guna mendapat kredit dari perbankan.
e. Hubungan kerja antara pengusaha dan karyawan tidak formal dan bersifat kekeluargaan.
f. Proses produksi masih sederhana dan sebagian besar masih bersifat tradisional.
g. Mutu produk umumnya tidak tetap dan disain kurang mengikuti selera pasar.
h. Pemasaran produk masih lemah.
Menurut Allun (1987), karakteristik dari usaha kecil adalah :
a. Tipe pemilihan atau pengusaha yang cenderung kepada perseorangan artinya pemilik merangkap manajer.
b. Jumlah tenaga kerja per unit usaha relatif tidak banyak tenaga kerja yang digunakan dan umumnya berasal dari anggota keluarga atau orang di lingkungan sekitar unit usaha tersebut.
c. Penggunaan energi mengarah pada sumber daya tradisional, yaitu dari tenaga manusia, tenaga hewan atau dengan menggunakan peralatan/mesin dengan tipe sederhana.
d. Teknologi yang digunakan biasanya sederhana dan bersifat tradisional, meskipun terbuka kemungkinan adanya penggunaan teknologi yang maju.
2. Penggolongan Industri Kecil
Industri kecil di Indonesia berkembang corak dan ragamnya, maka Departemen Perindustrian dan Perdagangan (1994) mengklasifikasikan industri kecil di Indonesia atas dua macam, yaitu :
a. Menurut sifat dan teknologinya. b. Menurut jenis industrinya.
Menurut Allun (1987), berdasarkan sifat dan teknologi, industri dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
a) Kelompok Industri Kecil Tradisional
Kelompok industri ini memiliki ciri-ciri seperti menerapkan teknologi sederhana, berlandaskan dukungan unit pelaksana teknis dan berkaitan dengan sektor ekonomi lain secara regional.
b) Kelompok Kerajinan
Industri kecil yang termasuk di dalam kelompok kerajinan memiliki ciri-ciri seperti menerapkan teknologi tepat guna tingkat madya dan sederhana, mengemban misi pelestarian budaya bangsa dan merupakan perpaduan
industri kecil yang menerapkan proses modern dengan keterampilan tradisional.
c) Kelompok Industri Kecil Modern
Ciri-ciri kelompok industri kecil modern adalah menerapkan teknologi madya hingga modern dengan skala produksi terbatas, berdasarkan dukungan penelitian dan pengembangan, serta menggunakan mesin-mesin produksi khusus.
B. Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari pengaruh berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas (Rangkuti, 2000),
Unsur-unsur utama pemasaran menurut Rangkuti (2000) dapat diklasifikasikan menjadi tiga unsur utama yaitu :
1. Unsur Strategi Persaingan
Unsur strategi persaingan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu : a. Segmentasi pasar
Segmentasi pasar adalah tindakan mengidentifikasikan dan membentuk kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah. Masing-masing segmen konsumen ini memiliki karakteristik, kebutuhan produk dan bauran pemasaran tersendiri.
b. Targeting
Targeting adalah suatu tindakan memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki.
c. Positioning
Positioning adalah penetapan posisi pasar. Tujuan positioning ini adalah untuk membangun dan mengkomunikasikan keunggulan bersaing produk yang ada di pasar ke dalam benak konsumen.
2. Unsur Taktik Pemasaran
Terdapat dua unsur taktik pemasaran, yaitu :
a. Diferensiasi, yang berkaitan dengan cara membangun strategi pemasaran dalam berbagai aspek di perusahaan. Kegiatan membangun strategi pemasaran inilah yang membedakan diferensiasi yang dilakukan suatu perusahaan dengan yang dilakukan oleh perusahaan lain.
b. Bauran pemasaran, yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan mengenai produk, harga, promosi dan tempat.
3. Unsur Nilai Pemasaran
Nilai pemasaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a. Merek atau brand, yaitu nilai yang berkaitan dengan nama atau nilai yang dimiliki dan melekat pada suatu perusahaan. Jika brand equity
ini dapat dikelola dengan baik, perusahaan yang bersangkutan setidaknya akan mendapatkan dual hal. Pertama, para konsumen akan menerima nilai produknya. Mereka dapat merasakan semua manfaat yang diperoleh dari produk yang mereka beli dan merasa puas karena produk itu sesuai dengan harapan mereka. Kedua, perusahaan itu sendiri memperoleh nilai melalui loyalitas pelanggan terhadap merek, yaitu peningkatan margin keuntungan, keunggulan bersaing dan efisiensi serta efektivitas kerja khususnya pada program pemasarannya.
b. Pelayanan atau service, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemberian jasa pelayanan kepada konsumen. Kualitas pelayanan kepada konsumen ini perlu terus-menerus ditingkatkan.
C. Preferensi Konsumen
Persepsi adalah suatu proses individu dalam memilih, merumuskan dan menafsirkan informasi dengan caranya sendiri untuk menciptakan gambaran tersendiri dalam benak pikirannya. Persepsi yang sudah melekat dalam seseorang akan menjadi suatu preferensi bagi dirinya. Preferensi yang terbentuk dari suatu produk dapat diartikan sebagai tingkat kesukaan konsumen terhadap suatu hal (Ndubisi, 2003).
Preferensi terhadap nila puff dapat didefinisikan sebagai derajat kesukaan atau ketidaksukaan konsumen terhadap nila puff atau penilaian positif maupun negatif terhadap atribut-atribut yang ditampilkan pada nila puff
tersebut dipengaruhi oleh faktor psikologi, perasaan dan sikap seseorang. Menurut Engel, dkk (1994), preferensi konsumen sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis. Faktor kebudayaan mengacu pada nilai, gagasan, artefak dan simbol-simbol lain yang bermakna yang membantu individu berkomunikasi, melakukan penafsiran dan melakukan evaluasi sebagai anggota masyarakat, yang meliputi budaya dan kelas sosial. Faktor sosial meliputi kelompok referensi, keluarga, peranan dan status, dimana faktor sosial merupakan faktor yang memberikan motivasi bagi konsumen dalam mengkonsumsi suatu produk. Keluarga merupakan unit pengambilan keputusan utama dan anggota keluarga membentuk preferensi yang paling berpengaruh dalam membentuk perilaku pembeli. Faktor pribadi meliputi usia dan tahap daur hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian, gaya hidup serta konsep diri. Kepribadian pada perilaku merupakan respon konsisten terhadap stimulasi lingkungan dan hal ini penting diketahui untuk membantu evaluasi tindakan pemasaran sebelum dilaksanakan di pasar, sehingga pihak pemasar dapat merencanakan target dan pangsa pasarnya. Faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi konsumen meliputi motivasi, persepsi, proses pembelajaran, kepercayaan dan sikap.
Pengukuran preferensi konsumen terhadap suatu produk menggunakan model pengukuran yang dapat menganalisa hubungan antara pengetahuan konsumen terhadap produk yang dimilikinya dengan sikap atas produk tersebut sesuai dengan ciri maupun atribut yang ditampilkannya. Salah satu metode yang digunakan adalah survei terhadap konsumen. Dalam metode ini diasumsikan bahwa sikap berhubungan dengan perilaku dan persepsi konsumen dapat membentuk suatu perilaku konsumen. Kepercayaan yang dimiliki konsumen mengenai obyek sikap merupakan fokus utama dalam pendekatan metode ini, sehingga untuk selanjutnya dapat dilakukan peramalan pasar berdasarkan perilaku konsumen sasarannya.
D. Perilaku Konsumen
Menurut UU Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia