• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Studi Matematika Terapan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

NIM : G551070151

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, MS. Ketua

Ir. Retno Budiarti, MS. Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Matematika Terapan

Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, MS.

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS.

gxá|á |Ç| t~â ÑxÜáxÅut{~tÇ âÇàâ~M

\áàÜ|~â àxÜv|Çàt wÜzA e|àt jtÜw{tÇ|N

TÇt~@tÇt~âM a|wt? Utw|? wtÇ e|w{tN

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT atas segala karunia- Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini mengambil tema model perdagangan antarnegara dengan akumulasi modal yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2008, dengan judul Model Perdagangan Antarnegara Berdasarkan Akumulasi Modal.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, MS. Dan Ibu Ir. Retno Budiarti, MS. yang telah membimbing penulis dengan penuh kesungguhan dan kesabaran dalam penulisan tesis ini. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Wei-Bin Zhang dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang, selaku penulis buku dan jurnal yang digunakan sebagai literatur utama tesis ini. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Departemen Agama Republik Indonesia yang telah membiayai penelitian ini. Kepada Ayah, Ibu, Istri, Aanak-anak, dan Mertua yang memberikan motivasi, semangat, kasih sayang, dan do’a, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih. Juga kepada semua pihak yang turut memberikan bantuan dalam penulisan tesis ini penulis do’akan semoga Alloh SWT membelas mereka dengan kebaikan yang berlipat.

Bogor, Agustus 2009

Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 09 Juni 1971 dari ayah Sasmita dan ibu Munah. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara.

Tahun 1991 penulis lulus dari SMA Negeri Kawali, satu tahun kemudian yaitu pada tahun 1992 masuk Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Penulis memilih Program Studi Pendidikan Matematika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Setelah mengikuti kuliah selama delapan semester, bulan Desember 1996 penulis dinyatakan lulus.

Pada tahun 1999 penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai guru matematika pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cijantung Ciamis, sampai akhirnya ada kesempatan untuk mengikuti seleksi beasiswa S-2 Matematika dan alhamdulillah penulis berkesempatan mendapatkan beasiswa tersebut. Bulan Juli 2007 penulis mulai mengikuti perkuliahan S-2 pada Program Studi Matematika Terapan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan akhirnya berhasil menyelesaikan studi pada bulan Agustus tahun 2009.

Halaman DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan Penelitian... 3 TINJAUAN PUSTAKA... 4 2.1 Perdagangan Antarnegara... 4 2.2 Ekuilibrium... 13

MODEL PERDAGANGAN ANTARNEGARA BERDASARKAN

AKUMULASI MODAL... 15 3.1 Definisi dan Asumsi... 15 3.2 Produksi dan Akumulasi Modal... 16 3.3 Perilaku Sistem Dinamik pada Perekonomian Dua Negara... 18 3.4 Perilaku Sistem Dinamik pada Perekonomian Tiga Negara... 24

SIMULASI MODEL... 29 4.1 Kasus Perekonomian Dua Negara... 29 4.2 Kasus Perekonomian Tiga Negara... 36

SIMPULAN DAN SARAN... 48 5.1 Simpulan... 48 5.2 Saran... 48

DAFTAR PUSTAKA... 49

LAMPIRAN... 50  

Halaman

1. Produksi seorang pekerja dalam setahun... 10

2. Besaran parameter model... 29

3. Nilai ekuilibrium variabel sistem dinamik... 30

4. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat teknologi negara ke-1... 31 5. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat teknologi negara

ke-2... 31 6. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat kecenderungan

untuk menabung negara ke-1... 34 7. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat kecenderungan

untuk menabung negara ke-2... 34 8. Besaran parameter model... 36

9. Nilai ekuilibrium variabel sistem dinamik... 37

10. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat teknologi negara ke-1... 38 11. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat teknologi negara

ke-2... 38 12. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat teknologi negara

ke-3... 39 13. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat kecenderungan

untuk menabung negara ke-1... 43 14. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat kecenderungan

untuk menabung negara ke-2... 43 15. Perubahan beberapa variabel akibat kenaikan tingkat kecenderungan

Halaman

1 Keberadaan titik ekuilibrium dari sistem dinamik... 30

2 Hubungan tingkat teknologi negara ke-1 dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K)... 32

3 Hubungan tingkat teknologi negara ke-2 dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K)... 32 4 Hubungan tingkat teknologi negara ke-1 dengan tingkat produksi

negara ke-j ... 33 5 Hubungan tingkat teknologi negara ke-2 dengan tingkat produksi

negara ke-j ... 33 6 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-1

dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K) 35 7 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-2

dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K) 35 8 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-1

dengan penggunaan modal asing (E)... 35 9 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-2

dengan penggunaan modal asing (E)... 36 10 Keberadaan titik ekuilibrium dari sistem dinamik... 37

11 Hubungan tingkat teknologi negara ke-1 dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K)... 40 12 Hubungan tingkat teknologi negara ke-2 dengan cadangan modal

negara ke-j dan cadangan modal dunia (K)... 40 13 Hubungan tingkat teknologi negara ke-3 dengan cadangan modal

negara ke-j dan cadangan modal dunia (K)... 41 14 Hubungan tingkat teknologi negara ke-1 dengan tingkat produksi

negara ke-j ... 41 15 Hubungan tingkat teknologi negara ke-2 dengan tingkat produksi

negara ke-j ... 42 16 Hubungan tingkat teknologi negara ke-3 dengan tingkat produksi

dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K).... 45 19 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-3

dengan cadangan modal negara ke-j dan cadangan modal dunia (K).... 45 20 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-1

dengan penggunaan modal asing negara ke-j ... 46 21 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-2

dengan penggunaan modal asing negara ke-j ... 46 22 Hubungan tingkat kecenderungan untuk menabung negara ke-3

Halaman

1 Pembuktian persamaan (3.3) dan (3.4)... 51 2 Pembuktian persamaan (3.9)... 53 3 Pembuktian persamaan (3.13)... 55 4 Pembuktian persamaan (3.17)... 56 5 Pembuktian persamaan (3.20)... 58 7 Pembuktian persamaan (3.27)... 61 8 Pembuktian persamaan (3.35)... 62 9 Pembuktian persamaan (3.38)... 63 10 Perhitungan nilai ekuilibrium variabel sistem dinamik untuk nilai

parameter tertentu pada kasus dua negara dengan Mathematica 7.0... 66 11 Perhitungan nilai ekuilibrium variabel sistem dinamik untuk nilai

1.1 Latar Belakang

Kesadaran bahwa perdagangan antarnegara dapat memberi keuntungan yang besar bagi negara yang melakukannya baru dirasakan pada abad ke-16, yaitu pada masa yang disebut dengan era merkantilisme (abad ke-16 – 17). Sistem ekonomi merkantilisme percaya bahwa aktivitas perdagangan antarnegara dapat memberikan keuntungan yang sangat besar bagi negara-negara yang melakukannya, dan bahkan dianggap sebagai salah satu sumber utama kemakmuran negara.

Pada waktu itu kekayaan negara identik dengan stok uang (emas dan perak) yang bisa ditumpuk oleh pemerintah di negara bersangkutan. Dengan mengekspor lebih banyak dan membatasi impor, maka perdagangan akan menghasilkan surplus, yang harus dibayar dengan emas dan perak. Makin tinggi jumlah ekspor atas impor atau makin banyak surplus, makin banyak kekayaan berupa emas dan perak yang dapat ditumpuk, berarti makin makmur negara yang bersangkutan. Keinginan untuk menumpuk kekayaan sebesar-besarnya merupakan penyebab lahirnya praktik monopoli dalam perdagangan, terutama dilakukan dengan memonopoli sumber-sumber bahan mentah.

Seorang tokoh pencetus sistem perdagangan bebas, Adam Smith (1776) mengkritik praktik campur tangan pemerintah dengan menetapkan tarif yang tinggi dalam perdagangan antarnegara. Menurut Smith orang tidak perlu membuat sendiri barang-barang yang kalau dibeli lebih murah daripada dibuat sendiri. Jika harga barang-barang luar negeri lebih rendah daripada harga barang-barang produksi dalam negeri, lebih baik membelinya dari luar negeri daripada membeli barang buatan dalam negeri yang lebih tinggi harganya.

Sumber utama kemakmuran negara bagi Smith adalah sumber daya manusia. Alasannya, jika tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan dan teknologi untuk mengolah alam, maka sumber daya alam tidak ada artinya sama sekali. Menurut Smith lebih lanjut, produktivitas manusia bisa ditingkatkan

   

dengan melakukan spesialisasi kerja (specialization of labor) dan pembagian kerja (division of labor). Dengan adanya spesialisasi kerja dan pembagian kerja maka orang akan terdorong untuk berspesialisasi, sesuai bakat dan keterbatasan masing- masing (Sukirno 2004).

Perekonomian yang terjadi saat ini pada seluruh belahan dunia mengacu pada perekonomian terbuka di mana dalam kondisi ini setiap negara akan melakukan perdagangan antarnegara. Tujuan dari suatu negara melakukan perdagangan adalah untuk peningkatan kesejahteraan dari negara tersebut, atau dengan kata lain adanya perdagangan akan meningkatkan kesejahteraan dari negara yang berdagang tersebut.

Perdagangan antarnegara mengakibatkan terjadinya perpindahan modal antarnegara. Perpindahan modal khususnya untuk investasi langsung, diawali dengan adanya perdagangan antarnegara (Sukirno 2004). Ketika terjadi perdagangan antarnegara yang berupa ekspor dan impor, akan memunculkan kemungkinan untuk memindahkan tempat produksi. Peningkatan ukuran pasar yang semakin besar yang ditandai dengan peningkatan impor suatu jenis barang pada suatu negara, akan memunculkan kemungkinan untuk memproduksi barang tersebut di negara importir. Kemungkinan itu didasarkan dengan melihat perbandingan antara biaya produksi di negara eksportir dengan biaya yang muncul jika barang tersebut diproduksi di negara importir. Jika biaya produksi di negara eksportir lebih besar daripada biaya produksi di negara importir, maka investor akan memindahkan lokasi produksinya di negara importir (Sukirno 2004). Perpindahan lokasi produksi ini akan berkaitan dengan investasi asing langsung (foreign direct investment) yang terjadi di negara importir.

Perdagangan antarnegara, dalam hal ini adalah ekspor, impor, dan aliran dana antarnegara merupakan mesin bagi pertumbuhan ekonomi (trade as engine of growth). Jika aktivitas perdagangan antarnegara adalah ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen tersebut atau keduanya dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi.

Pengembangan model perdagangan antarnegara penting untuk mengkaji kasus yang mungkin untuk terjadinya pola perdagangan antarnegara dengan perbedaan kecenderungan (preference) dan fungsi produksi (production function)

   

serta perpindahan modal internasional secara sempurna (perfect international capital mobility).

Masalah pola perdagangan antarnegara adalah salah satu isu besar dalam perekonomian internasional. Pola perdagangan penting untuk memahami bagaimana berbagai faktor, seperti perilaku tabungan dan produktivitas bisa memengaruhi pola perdagangan antarnegara (Zhang 1994).

Penelitian ini menganalisis model dinamik satu komoditas yang diperdagangnkan antarnegara, untuk melihat bagaimana interaksi pola perdagangan antarnegara. Model ini merupakan model perdagangan dalam kerangka model pertumbuhan ekonomi makro internasional dengan perpindahan modal secara sempurna. Model perdagangan antarnegara berdasarkan akumulasi modal ini dikembangkan oleh Wei-Bin Zhang (1994).

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis model perdagangan antarnegara berdasarkan akumulasi modal.

2. Menentukan solusi ekuilibrium dari model. 3. Membuat simulasi dari model tersebut.

2.1 Perdagangan Antarnegara

Tingkat perekonomian yang paling maju ialah perekonomian terbuka, di mana dalam perekonomian terbuka ini selain sektor rumah tangga, sektor perusahaan, dan pemerintah juga sudah ada sektor luar negeri karena penduduk yang berada di negara yang bersangkutan telah melakukan perdagangan dengan penduduk negara lain. Suatu negara yang memproduksi lebih dari kebutuhan dalam negeri dapat mengekspor kelebihan produksi tersebut ke luar negeri, sedangkan yang tidak mampu memproduksi sendiri dapat mengimpornya dari luar negeri.

Perdagangan antarnegara adalah kegiatan memperdagangkan output barang dan atau jasa, yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk dari negara lain. Perdagangan yang dilakukan antara penduduk suatu negara dengan penduduk dari negara lain dilakukan atas prinsip sukarela, tanpa paksaan dari pihak manapun. Adapun pengertian penduduk di sini bisa berarti warga negara, perusahaan, dan bisa juga lembaga atau departemen pemerintah.

Perdagangan antarnegara timbul karena pada hakekatnya tidak ada satu negara pun di dunia ini yang dapat menghasilkan semua barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk. Walaupun berbagai kebutuhan penduduk bisa dihasilkan di dalam negeri, tetapi dalam banyak hal sering lebih murah mengimpor barang-barang yang diperlukan dari luar negeri daripada harus dihasilkan sendiri di dalam negeri.

Motivasi utama untuk melakukan perdagangan antarnegara adalah mendapatkan keuntungan dari perdagangan, meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya. Perdagangan antarnegara memberikan akses terhadap barang yang lebih murah bagi konsumen dan pemilik sumberdaya (resources) untuk memperoleh peningkatan pendapatan karena menurunnya biaya produksi.

Menurut Deliarnov (1995) adanya perdagangan antarnegara akan memberikan keuntungan kepada suatu negara berupa:

™ Apa saja yang tidak bisa dihasilkan di dalam negeri, sekarang bisa dinikmati dengan jalan mengimpornya dari negara lain.

™ Perdagangan antarnegara memungkinkan dilakukannya spesialisasi sehingga barang-barang bisa dihasilkan secara lebih murah karena lebih cocok dengan kondisi negara tersebut, baik dari segi bahan mentah atau cara berproduksi.

™ Negara yang melakukan perdagangan antarnegara dapat memproduksi lebih besar daripada yang dibutuhkan pasar dalam negeri, dengan demikian tingkat perekonomian dan sekaligus pendapatan nasional bisa ditingkatkan, dan angka pengangguran bisa ditekan.

™ Keinginan memproduksi barang dengan kualitas yang lebih baik, terciptanya iklim persaingan yang sehat, sarana pemasukan modal asing, meningkatkan teknologi dan sebagainya.

Perdagangan antarnegara salah satu sumber utama kemakmuran negara. Alasannya, perdagangan merupakan salah satu sumber devisa. Untuk mampu mengekspor negara tersebut harus mampu menghasilkan barang-barang dan jasa yang mampu bersaing di pasaran internasional. Kemampuan bersaing ini sangat ditentukan oleh banyak faktor, antara lain sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi, manajemen dan bahkan juga sosial budaya. Semua faktor di atas nanti akan menentukan mutu dan harga barang-barang yang dihasilkan. Kalau mutu rendah, minat orang luar negeri untuk membeli barang tersebut akan rendah pula. Begitu pula kalau harga yang ditawarkan terlalu mahal, orang akan mencari hasil produksi dari negara lain yang relatif lebih murah.

Dewasa ini perdagangan antarnegara lebih banyak didominasi oleh persaingan antarnegara penghasil produk yang sama dengan memperhatikan daya saing produk terebut. Selain keuntungan di atas, menurut Putong (2003) keuntungan spesialisasi lainnya adalah keuntungan persaingan (competitive advantage), yaitu keuntungan yang diperoleh suatu negara dibandingkan dengan negara lainnya karena kemampuan negara tersebut dalam melayani kebutuhan pasar, dalam arti meski semua negara bisa menghasilkan produk yang sama dengan tingkat efisiensi yang relatif sama namun dari segi mutu, pelayanan dan pemasaran lebih unggul dibandingkan dengan negara lainnya.

Fungsi Produksi

Fungsi produksi (production function) adalah hubungan teknis yang menghubungkan antara faktor produksi (inputs) dan hasil produksinya (outputs) (Sudarsono, 1995).

Faktor produksi adanya bersifat mutlak agar produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan produk. Fungsi produksi menggambarkan teknologi yang dipakai oleh suatu perusahaan, suatu industri atau suatu perekonomian secara keseluruhan. Dalam keadaan teknologi tertentu hubungan antara input dan outputnya tercermin dalam rumusan fungsi produksinya. Suatu fungsi produksi menggambarkan semua metode produksi yang efisien secara teknis dalam arti menggunakan kuantitas bahan mentah yang minimal, tenaga kerja yang minimal dan barang-barang modal lain yang minimal.

Dornbusch R, (2008) menyatakan fungsi produksi sebagai hubungan kuantitatif antara input dan output. Output tumbuh melalui kenaikan input dan kenaikan produktivitas yang terjadi sebagai akibat perbaikan dalam teknologi dan peningkatan kemampuan angkatan kerja.

Formula umum untuk fungsi produksi adalah :

, (2.1)

Pada formula (2.1) diasumsikan bahwa tenaga kerja dan modal adalah satu-satunya input utama. Persamaan (2.1) menunjukkan bahwa output

bergantung pada input-input dan tingkat teknologi atau produktivitas. Semakin tinggi , semakin besar output yang dihasilkan dengan input tertentu. Lebih banyak input berarti lebih banyak output. Dengan kata lain, produk marginal tenaga kerja (Marginal Product of Labor/MPL) yang merupakan kenaikan dalam output yang dihasilkan oleh kenaikan dalam tenaga kerja dan produk marginal modal (Marginal Product of Capital/MPC) yang mendefinisikan kenaikan dalam output yang dihasilkan oleh kenaikan dalam modal, keduanya adalah positif.

Dari fungsi produksi pada persaman (2.1) akan dicari perubahan output bila tenaga kerja berubah sebesar ∆ , modal berubah sebesar ∆ , dan teknologi berubah sebesar ∆ . Perubahan dalam output akan menjadi

kedua ruas dibagi dengan , dan melakukan simplikasi akan menghasilkan

∆ ∆ ∆ .

Bagian pertama di ruas kanan dikalikan dan dibagi dengan dan bagian kedua dengan :

∆ ∆ ∆ ∆

.

Dalam perekonomian kompetitif, faktor dibayar atas marginal product-nya sehingga MPL = , di mana adalah upah riil. Total pembayaran kepada tenaga kerja adalah tingkat upah dikali jumlah tenaga kerja, ; total pembayaran tenaga kerja sebagai bagian dari seluruh pembayaran adalah . (Argumen untuk modal adalah analog). Sekarang substitusi proporsi tenaga kerja untuk

dan proporsi modal untuk ke dalam persamaan di atas, sehingga menjadi persamaan penghitungan pertumbuhan (growth accounting equation) berikut

∆ ∆ ∆ ∆

. (2.2)

Persamaan (2.2) menunjukkan bahwa pertumbuhan output sama dengan proporsi tenaga kerja dikali pertumbuhan tenaga kerja, ditambah proporsi modal dikalikan pertumbuhan modal, dan ditambah tingkat perbaikan teknologi (technical progress), di mana dan adalah penimbang yang nilainya sama dengan proporsi tenaga kerja terhadap pendapatan dan proporsi modal terhadap pendapatan.

Persamaan (2.2) merangkum kontribusi input dan perbaikan produktivitas terhadap pertumbuhan output:

™ Tenaga kerja dan modal masing-masing menyumbang jumlah yang nilainya sama dengan tingkat pertumbuhan individual mereka dikali dengan proporsi input tersebut dalam pendapatan.

™ Tingkat perbaikan teknologi, disebut perkembangan teknis dalam bagian ketiga dari persamaan (2.2).

Di antara sekian banyak formula fungsi produksi, salah satunya adalah fungsi produksi Cobb-Douglas, yaitu

. Ada beberapa kemungkinan nilai dan , yaitu

™ jika , maka faktor produksi modal mempunyai kemampuan lebih besar daripada tenaga kerja (modal dominan) sehingga disebut padat modal (capital intensive);

™ jika , maka faktor produksi tenaga kerja lebih dominan daripada modal sehingga disebut padat karya (capital intensive);

™ jika , maka berlaku increasing return to scale. Artinya setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama akan memberikan tambahan pada output;

™ jika , maka berlaku decreasing return to scale. Artinya setiap penambahan faktor produksi justru akan menurunkan output;

™ jika , maka berlaku constant return to scale. Artinya setiap penambahan faktor produksi tidak memberikan dampak naik atau turun terhadap output.

Fungsi produksi Cobb-Douglas memiliki pendekatan yang amat baik pada perekonomian riil. Para ekonom banyak menggunakan bentuk fungsional Cobb- Douglas karena memberikan deskripsi perekonomian yang relatif akurat dan amat mudah dikerjakan secara aljabar, contoh marginal product of capital:

, .

Teori-Teori Perdagangan Antarnegara

Teori-teori tentang pedagangan antarnegara telah memperlihatkan bahwa perdagangan antarnegara yang bebas dapat meningkatkan kesejahteraan negara- negara yang terlibat dalam perdagangan tersebut. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teori perdagangan antarnegara menurut perkembangannya.

™ Teori Keunggulan Absolut Adam Smith

Adam Smith mengajukan teori perdagangan antarnegara yang dikenal dengan teori keunggulan absolut (absolut advantage). Ia berpendapat bahwa jika suatu negara menghendaki adanya persaingan, perdagangan bebas dan spesialisasi di dalam negeri, maka hal yang sama juga dikehendaki dalam hubungan

antarbangsa. Karena hal itu ia mengusulkan bahwa sebaiknya semua negara lebih baik berspesialisasi dalam komoditi-komoditi di mana ia mempunyai keunggulan yang absolut dan mengimpor saja komoditi-komoditi lainnya.

Menurut Adam Smith, negara yang melakukan spesialisasi dan perdagangan antarnegara akan cepat maju, apalagi kalau perdagangan tersebut memberikan keunggulan absolut. Keunggulan absolut adalah keuntungan yang diperoleh karena negara yang bersangkutan bisa menghasilkan barang atau jasa lebih efisien dibandingkan dengan negara lain, disebabkan produktivitas tenaga kerja di negara tersebut lebih tinggi dibandingkan negara lainnya (Sukirno 2004).

Kekayaan suatu negara akan bertambah searah dengan peningkatan keterampilan dan efisiensi para tenaga kerja, dan sejalan dengan persentase penduduk yang terlibat dalam proses produksi. Kesejahteraan ekonomi setiap individu bergantung pada perbandingan antara produksi total dengan jumlah penduduk. Smith juga menganjurkan adanya spesialisasi kerja dan penggunaan mesin-mesin sebagai sarana utama untuk peningkatan produksi.

Menurut Smith, dua negara yang melakukan perdagangan harus didasari dengan saling sukarela dan saling menguntungkan keduanya. Jika satu negara tidak memperoleh keuntungan, maka tidak ada perdagangan antar kedua negara tersebut. Perdagangan dilakukan berdasarkan keunggulan absolut. Suatu bangsa lebih efisien (mempunyai keunggulan absolut) daripada bangsa lain dalam menghasilkan dua komoditas, kemudian kedua bangsa memperoleh masing- masing spesialisasi dalam memproduksi barang-barang dengan keuntungan absolut dan menukarkan sebagian dari hasilnya dengan bangsa lain untuk barang dagangan yang tidak memiliki keuntungan mutlak (Zhang 2008).

Untuk menjelaskan konsep keunggulan absolut, diasumsikan bahwa dunia terdiri atas dua negara. Ada dua komoditas (kain dan beras) dan faktor produksi tunggal (buruh). Teknologi kedua negara dianggap sama. Diasumsikan pula bahwa unit biaya produksi dari tiap komoditas adalah konstan, serta semua buruh dipekerjakan. Lebih lanjut diasumsikan tidak ada hambatan dalam perdagangan luar negeri, dengan kata lain setiap negara menjalankan perdagangan bebas. Sebagai contoh, untuk dapat dengan lebih jelas memahami arti dari keunggulan, perhatikan Tabel 2.1 berikut

Tabel 2.1 Produksi seorang pekerja dalam setahun Negara Kain (meter) Beras (kg)

Negara X 500 2.000

Negara Y 750 1.800

Contoh angka yang diberikan pada Tabel 2.1 menunjukkan bahwa di negara Y seorang pekerja dapat memproduksi kain lebih banyak daripada seorang pekerja di negara X. Ini berarti pekerja di negara Y lebih efisien dari negara X dalam menghasilkan kain. Dalam keadan seperti ini dikatakan bahwa negara Y mempunyai keunggulan mutlak dalam memproduksikan kain. Gambaran di atas juga menunjukan bahwa seorang pekerja di negara X dapat menghasilkan lebih banyak beras dari seorang pekerja di negara Y. Dengan demikian negara X mempunyai keunggulan absolut dalam memproduksi beras.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa negara X dan negara Y dapat melakukan perdagangan yang saling menguntungkan. Negara X memproduksi

Dokumen terkait