• Tidak ada hasil yang ditemukan

Promoting Connectivity in The Region: para Menteri ekonomi APEC berkomitmen untuk mendukung rencana peningkatan konektivitas

The 9 th ASEAN Japan Comprehensive Economic

4. Promoting Connectivity in The Region: para Menteri ekonomi APEC berkomitmen untuk mendukung rencana peningkatan konektivitas

kawasan melalui suatu framework multi-tahun yang disahkan oleh Leaders. Framework ini dibutuhkan untuk mewujudkan keterhubungan infrastruktur fisik, kelembagaan, dan lalu-lintas manusia di kawasan Asia-Pasifik. Framework tersebut mencakup fasilitasi perdagangan, reformasi struktural, praktek-praktek regulasi yang baik dan adil, kerjasama pendidikan lintas batas, teknologi dan ilmu pengetahuan.

34

Keketuaan Indonesia dalam pelaksanaan rangkaian pertemuan APEC 2013 ini dinilai sukses sejauh ini oleh banyak pihak. APEC Summit 2013 tidak dapat dipungkiri menjadi penilaian akhir untuk menentukan kesuksesan Indonesia menggunakan forum APEC 2013 sebagai bagian dari solusi krisis ekonomi dunia. Namun begitu, sebagian pihak juga mengkhawatirkan adanya upaya untuk menggunakan APEC Summit 2013 ini sebagai katalis terbentuknya aliansi ekonomi negara maju melalui Trans-Pacific Partnership yang digagas oleh United States of America dan didukung oleh Jepang. Indonesia yang saat ini cenderung lebih fokus pada Regional Comprehensive Economic Partnership yang melibatkan Negara-negara ASEAN ditambah, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, India, Selandia Baru, dan Australia dituntut untuk dapat menjaga fokus APEC Summit 2013 agar tetap netral.

C. Forum Kerja Sama Bilateral

1.

Indonesia – Aljazair

Bilateral Meeting Negosiasi aksesi Aljazair sebagai anggota WTO

Pada pertemuan yang diadakan di Jenewa 21-23 Mei 2013 ini, Indonesia menyampaikan 10 produk untuk INR (Initial Negotiation Rights), minat Indonesia terhadap hubungan perdagangan dalam sektor jasa. Aljazair melengkapi permintaan jenis barang yang ada di Daftar Penawaran (Offer List). Indonesia mendukung aksesi Aljazair menjadi anggota WTO. Tiga poin utama terkait aksesi tersebut: Aljazair meminta penurunan tarif, dan juga meminta penerapan prinsip yang tidak sesuai dengan MFN.

2.

Indonesia – Amerika Serikat

Working Group on Trade and Investment-Joint Commission Meeting

Pertemuan Joint Commission Working Group on Trade and Investment

telah dilaksanakan pada 7-9 April 2013 di Washington D.C, AS. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan yang sangat produktif untuk membahas beberapa agenda penting dan kepentingan substansi.

Trade and Investment Framework Agreement-Trade Investment Council

(TIFA-TIC) SOM Level

Pertemuan diadakan di Amerika Serikat 7-15 Juni di mana Indonesia berkomitmen meningkatkan perdagangan: (1) membangun industri yang memiliki nilai tambah resource based products (2) upaya untuk menjadi bagian global supply chain yang memberi kontribusi bagi ekonomi (3) memenuhi kebutuhan konsumen dengan terkelola secara baik (4) perdagangan yang memberi solusi.

3.

Indonesia – Argentina

Kunjungan Presiden Argentina ke Indonesia

Kunjungan Presiden Argentina ke Indonesia pada 17-18 Januari 2013 bertujuan membahas persiapan kunjungan Presiden Argentina Christina Kirchner ke Indonesia. Pihak Argentina menyampaikan bahwa Misi Argentina adalah sebagai besar untuk menjual produk-produk ekspor di pasar Indonesia dan mengajak pelaku bisnis Indonesia untuk berinvestasi di Argentina.

4.

Indonesia – Australia

Senior Official Scorecard Meeting (SOM Scorecard)

Indonesia-Australia

Senior Official Scorecard Meeting Indonesia-Australia dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2013 di Jakarta sebagai forum untuk me-review perkembangan kerja sama Indonesia Australia sesuai arahan kedua kepala negara, sekaligus untuk mempersiapkan masukan bagi para pemimpin kedua negara dalam menentukan pengembangan arah dan

35

penguatan kerja sama kemitraan komprehensif antara Australia dalam pertemuan Annual Leaders Meeting (ALM) Indonesia-Australia ke 3.

Pada perundingan tersebut telah diselesaikannya: i) Joint Report to Trade Ministers Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement Negotiations: Conclusion of the First Round; ii) Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA): Guiding Principles, Objectives and Organisation of Negotiations; iii) Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partneship Agreement (IA-CEPA): Trade Negotiating Committee (TNC) Terms of Reference; dan iv) Tentative Meeting Schedule forthe IA-CEPA Negotiations 2013-2014.

Resumption of 1st Negotiation Round of Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA)

Perundingan lanjutan ini diselenggarakan pada tanggal 21 Februari 2014 dimaksudkan untuk membahas pending matters. Berkenaan dengan Indobeef project, oleh wakil kementerian pertanian menyampaikan posisi Indonesia berkeberatan/menolak proposal yang diajukan oleh ACIAR khususnya yang terkait dengan survei beef value chain dan cattle identification and data management yang akan menggunakan microchips/electronic tangging.

First Round of Negotiation of the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement

(IA-CEPA)

Perundingan pada 26-27 Mei di Jakarta antara kedua negara telah menyelesaikan 1) Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement Trade Negotiating Committee (TNC) Terms of Reference; 2) Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement Guiding Principles, Objectives and Oraganisation of Negotiation; (3) Tentative Meeting Schedule for the IA-CEPA Negotiation.

Second Round of Negotiation of the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA)

Perundingan Putaran 2 difokuskan pada isu kerjasama ekonomi, rencana pembentukan kelompok-kelompok runding, kontribusi pemangku kepentingan dalam proses negosiasi IA-CEPA, serta isu lainnya yang terkait. Pertemuan juga mencatat usulan PM Australia untuk membentuk Indonesia-Australia Red Meat and Cattle Forum untuk mendorong kerja dan investasi di sektor ini.

Pertemuan menetapkan 3 (tiga) klaster kerjasama yakni: a) jasa; b) pertanian dan c) investasi. Selama perundingan dilakukan pula pertemuan Ad Hoc WG on Agriculture Cooperation membahas concept paper on IA-CEPA Agricultural Cooperation and Investment Pilot Program. Sementara Ad Hoc WG on Skills Exchange membahas concept paper on Skills Exchange Pilot Project. Pertemuan juga menyepakati bahwa 15 rekomendasi IA-BPG dapat dibawa ke meja perundingan IA-CEPA, 31 rekomendasi masih memerlukan pertimbangan lebih lanjut, dan 7 rekomendasi IA-BPG lebih tepat untuk dibahas di luar kerangka IA-CEPA. Hal lain yang dihasilkan dalam pertemuan ini adalah kesepakatan untuk membentuk Negotiating Group on Trade in Goods dan Trade in Services dan Negotiating Group on Investment. Selain itu juga disepakati pula bahwa Negotiating Group on Economic Cooperation akan dibentuk pada perundingan putaran keempat IA-CEPA Maret 2014.

Intersessional atas Ad Hoc WG on Agricultural Cooperation dan Ad Hoc WG on Skills Exchange

dalam kerangka IA-CEPA

Pertemuan Ad Hoc Working Group on Agricultural Cooperation dan Ad Hoc Working Group on Skills Exchange dilaksanakan di Bali pada 11-13 November 2013 sebagai tindak lanjut atas kesepakatan kedua negara pada perundingan putaran kedua IA-CEPA. Kedua Ad Hoc Working Group dimaksud dibentuk untuk mengakomodir dua pilot project rekomendasi

36

dari Indonesia–Australia Business Partnership Group (IA-BPG). Dalam concept paper Agricultural Cooperation, terdapat 3 bidang yang dikerjasamakan yaitu; a) tropical fruits, b) beet cattle, dan c) herbal product.

5.

Indonesia – Chile

Pertemuan Bilateral RI-Chile

Pertemuan bilateral RI-Chile di Jakarta pada 16 Januari 2013 membahas implementasi beberapa kebijakan Indonesia terkait produk pertanian dari Chile, khususnya Produk-produk Pertanian dan Perikanan, termasuk makanan dan minuman. Indonesia dalam pertemuan tersebut menyampaikan bersedia membantu para pelaku bisnis Chile untuk memahami Implementasi Business Process dari kebijakan-kebijakan tersebut dan Business Process Permendag No. 60/22012.

Pra Negosiasi Indonesia-Chile

Pra Negisasi pada 11 februari 2013 Menyepakati draft Terms of Reference (TOR) IC-CEPA dengan pendekatan incremental basis, dengan menyelesaikan terlebih dahulu perdagangan barang (Trade in Goods), kemudian dilanjutkan dengan perundingan sektor lainnya; Pertemuan juga sepakat untuk menyusun work program dan timeframe untuk negosiasi IC-CEPA secara intersession untuk kemudian dilaporkan kepada Menteri Perdagangan kedua negara.

Chile bersama Kolombia, Meksiko dan Peru tergabung dalam anggota the Alianza del Pacifico (Pacific Alliance) mempunyai peranan penting dalam pencapaian integrasi regional di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Mengingat salah satu fokus kerja Pacific Alliance bertujuan untuk meningkatkan aliansi perdagangan dengan Asia, Indonesia tertarik untuk bergabung sebagai observer dalam Pacific Alliance.

6.

Indonesia – EFTA

6th Round of negotiation of Indonesia – EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE

CEPA)

Perundingan IE-CEPA ke-6 pada tanggal 5-8 Maret 2013 di Lugano Swiss membahas beberapa isu dalam working group yaitu: Trade in Goods, Trade in Services, Investment, Rule of Origin, Government Procurement, Trade and Sustainable Development, General Institutional/Final Provision dan Cooperation and Capacity Building, juga diikuti sesi Konsultasi mengenai Trade Facilitation dan Competition.

Pembahasan Kelompok Kerja Perundingan Putaran ke 6 IE-CEPA dinilai menunjukkan beberapa perkembangan yang positif. Pada putaran ke-6 ini, mulai terdapat indikasi dan kecenderungan pihak EFTA dan Indonesia akan menghasilkan kesepakatan perundingan IE-CEPA. Secara umum perundingan berjalan lancar dan tercapai beberapa peningkatan. Kemajuan terlihat di beberapa isu perdagangan.

7th Round Negotiation of Indonesia - EFTA Economic Partnership Agreement

(IE-CEPA)

Pertemuan 7th Round Negotiation of Indonesia-EFTA Economic Partnership Agreement diselenggarakan di Solo pada 12-16 Mei 2013. Dalam Trade in Goods, delegasi Indonesia telah menyerahkan counter proposal dan pihak EFTA dan Indonesia telah menyetujui bagian teks konsolidasi. Pihak Indonesia meminta agar EFTA meninjau lebih lanjut Standar Kompensasi Harga dan Tariff Concession. Sedangkan pada isu Perdagangan Jasa, pihak EFTA mengindikasikan untuk memberikan penawaran mode 4 di beberapa kategori pekerjaan.

Dalam isu ROO, Indonesia diminta untuk memberikan beberapa proposal terkait bioteknologi. Pada Trade and Sustainable Development, kedua

37

pihak saling bertukar proposal dalam hal produk kehutanan, tambang dan pertanian dan lainnya dan disepakati untuk dibahas di perundingan putaran ke-8. Pada Hukum dan Ketentuan Umum (Legal and General Provisions), disepakati perlunya meluruskan rujukan mengenai pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Dalam hal Trade Remedies, pihak menyampaikan perlunya pengaturan hal ini khususnya dalam persetujuan perdagangan barang.

Intersessional Meeting of the Working Group on Trade in Services

Pertemuan Intersessional Trade on Services bulan Agustus di Jakarta difokuskan pada dua hal yaitu pembahasan Teks Annex on Movement of Natural Person dan juga Request Offer Indoesia. Selain itu pertemuan ini juga menbahas akses pasar. Indonesia telah memberikan daftar pekerjaan/title of priority export pada pihak EFTA. Pertemuan kedua pihak juga melanjutkan pembahasan akses pasar khususnya berdasarkan permintaan Norwegia dan Swiss dalam bidang jasa keuangan, energi, konstruksi, transportasi laut dan jasa terkait, pos dan kurir dan beberapa initial offer dari Indonesia.

8th Round Negotiation of Indonesia - EFTA Economic Partnership Agreement

(IE-CEPA)

Perundingan putaran ke-8 Indonesia-EFTA CEPA di Alesund, Norwagia telah mencapai sejumlah kemajuan. Isu yang masih perlu diperhatikan yaitu belum adanya keseimbangan dalam perluasan akses pasar kedua belah pihak dalam bidang perdagangan barang. Pihak EFTA menginginkan akses pasar bidang industri sementara EFTA belum memberikan indikasi untuk perluasan akses pasar produk pertanian Indonesia. Indonesia menekankan dengan adanya defisit perdagangan dengan EFTA, dukungan untuk FTA juga menurun. dengan keadaan demikian akan sulit bagi Indonesia untuk meningkatkan penawaran akses pasar yang lebih luas dengan EFTA.

7.

Indonesia – Hongkong

Bilateral Meeting Menteri

Perdagangan RI dengan

The Secretary for Commerce and Economic Development of Hong Kong

Kunjungan The Secretary for Commerce and Economic Development of Hong Kong, Mr. Gregory So pada tanggal 26 Februari 2014 ini dalam rangka memimpin delegasi peserta pameran dari Hong Kong dan meresmikan Lifestyle Expo yang diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) dan Guandong Propince Government serta KADIN pada tanggal 14 Maret 2013 di Jakarta.

8.

Indonesia – Inggris

Inaugural Meeting Vision Group 2030

Pertemuan di Jakarta pada 4 Juni 2013 ini dimaksudkan untuk memperkuat kerjasama bilateral Indonesia dan Inggris, membahas mengenai prospek ekonomi khususnya Indonesia pada 17 tahun mendatang dan juga kemungkinan jalinan kerja sama antara pelaku bisnis kedua negara. Indonesia menyampaikan pentingnya pembangunan fasilitas infrastruktur yaitu pembangunan jalan, jembatan layang, bandara dan pelabuhan. Pihak Inggris sendiri menyampaikan perlunya pembangunan yang berorientasi pada kaum muda dimana mereka yang akan menjadi pelaku ekonomi dalam satu dekade mendatang. selain itu pihak Inggris juga mengusulkan ekspansi bisnis pengusaha Indonesia di Inggris karena hingga hari ini hal tersebut termasuk belum pernah dilakukan dan dijajaki pihak Indonesia.

9.

Indonesia – Jepang

Bilateral Meeting

Indonesia-Jepang

Indonesia mengadakan Bilateral Meeting dengan Jepang di Jakarta, 10 Januari 2013. Delegasi Jepang terdiri dari Pejabat Ministry Economi Trade, and Industry (METI), Direktur Japan Auto Mobil Manufactur and

38

Asosiation, Inc (JAMA), Japan Iron and Steel Federation, Senior Manager Nippon Steel and Sumitomo Metal. Isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah terkait pengenaan anti Dumping Duty terhadap impor product Cold Rolled Coils /Sheets (CRCS).

Kunjungan Pemerintah dan Pelaku Usaha Jepang ke Kementerian Perdagangan

Pada tanggal 10 Januari 2013, Kementerian Perdagangan bersama Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor Indoneisa (GIAMM) mengadakan pertemuan dengan pejabat Ministry Economy Trad, and Indsutry (METI), dan sejumlah perusahaan Besi Baja Jepang membahas hal-hal terkait pengenaan anti-dumping duty terhadap impor product Cold-Rolled Coils/Sheets (CRC/S) dari Jepang.

Delegasi Jepang menyampaikan permohonan agar ekspor produk CRC/S dari Jepang dikeluarkan dari tuduhan melakukan dumping. Menurut Jepang, Produk CRC/S eks Jepang tersebut memiliki standar khusus untuk digunakan oleh industri otomotif di Indonesia, dan produk dengan standar dimaksud belum/tidak diproduksi di Indonesia.

Lebih lanjut Jepang juga menyampaikan bahwa dalam kaitannya dengan IJEPA, produk CRC/S tersebut semestinya masuk dalam skema yang diberikan oleh Indonesia kepada Jepang, yaitu User Specifc Duty Free Scheme (USDFS). Hal-hal tersebut juga diperkuat pernyataan GIAMM yang mengkhawatirkan dampak pengenaan bea anti dumping tersebut akan sangat mempengaruhi daya saing industri otomotif nasional.

Jepang memandang jika produk ekspor CRC/S dari Jepang dikenakan anti-dumping duty, industri otomotif Indonesia yang sebagian besar merupakan investasi Jepang akan mengalami kerugian dan menyebabkan pengurangan lapangan kerja dan penundaan perluasan investasi sektor otomotif yang sudah/sedang direncanakan oleh manufaktur Jepang.

Issue Review IJ-EPA, Bea

Masuk Anti Dumping, dan Transposisi HS produk Otomotif dalam IJ-EPA

Selama 5 hari dari tanggal 11-16 Desemeber 2013, Indonesia mengadakan pertemuan bilateral dengan Jepang di Tokyo. Indonesia mengusulkan dimulainya General Review IJ-EPA pada tanggal 20 September 2013, Pihak Jepang menyetujui General Review melalui Nota Diplomatik pada tanggal 9 Desember 2013. Indonesia melalui PMK No. 65/PMK 011/2013 tanggal 19 Maret 2013 telah mengenakan bea masuk anti-dumping untuk perusahaan Jepang, Pihak Jepang meminta agar Indonesia dapat meninjau kembali pengenaan bea masuk anti dumping untuk produk CRC/s asal Jepang.

Menteri Perindustrian Indonesia mengusulkan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan agar meninjau kembali PMK No. 65/PMK. 011/2013 untuk tidak mengenakan BMAD terhadap spesifikasi tertentu 6 pos tarif produk CRC/s. Isu lain yang muncul yaitu Jepang yang mengusulkan agar hasil transposisi HS untuk produk otomotif yang telah diterbitkan dengan PMK No. 209/PMK.011/2012 untuk dilakukan perubahan (atas 15 pos tarif).

10.

Indonesia – Jerman

Bilateral Meeting

(kunjungan Presiden RI dan Mendag) dan Forum Bisnis ke Jerman

Presiden dan Menteri Perdagangan RI melakukan kunjungan ke Jerman pada tanggal 4 Maret 2013. Kunjungan tersebut meliputi: 1) Pertemuan one-on-one Presiden RI dengan CEO; 2) Business Networking antar kalangan bisnis; 3) Konsultasi Business clinic kalangan bisnis Jerman dengan Menteri Perindutrian, Menteri Perdagangan dan Kepala BKPM; 4) Penandatanganan Joint Venture Agreement di bidang pariwisata; dan 5) mengenai kerjasama kesehatan.

39

11.

Indonesia – Korea Inter-sessional Meeting of Indonesia - Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA)

Inter-sessional Meeting of IKCEPA telah dilaksanakan pada tanggal 9-10 April 2013 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta membahas 3 (tiga) agenda antara lain: i) overview of IKCEPA negotiation, ii) exchange views on draft text dan Hi) work program and timeframe. Pertemuan telah menyepakati Work Program for Indonesia Korea CEPA yang ditandatangani oleh Chief Negotiator dari kedua pihak.

Indonesia memaparkan konsep dan elemen Draft Text of Cooperation and

Capacity Building (CCB). Pihak Korea lalu menyetujui elemen CCB dapat

menjadi institutional basis untuk kerjasama ke depan antara Indonesia dan Korea. Sementara untuk mempercepat proses negosiasi di bidang akses pasar, Pihak Korea menyampaikan indikasi awal produk yang akan diajukan kepada Indonesia untuk diliberalisasikan, seperti otomotif, baja, besi, termasuk sekitar 230 produk yang dianggap misplacement oleh Korea dalam kerangka ASEAN Korea FTA.

Sementara di bidang investasi, Indonesia menyampaikan pentingnya investment promotion, dimana Indonesia mengharapkan adanya peningkatan investasi Korea yang masuk ke Indonesia. Indonesia juga menyampaikan agar hal-hal yang mengatur investasi terkait perdagangan jasa, khususnya Mode 3 Commercial Presence dikeluarkan dari Chapter on Services.

Putaran Ke-4 Indonesia

Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA)

Putaran ke-4 IKCEPA, yang diselenggarakan di Bali sepanjang 18-22 Juli 2013 dikatakan berhasil menyelesaikan 50-60 persen dari keseluruhan draft text kesepakatan antara Indonesia dan Korea Selatan, di mana isu utama yang dibahas adalah yang terkait dengan isu akses pasar di bidang barang, jasa, kerjasama dan peningkatan kapasitas serta investasi.

Pada Working Group (WG) on Trade in Goods, disepakati untuk mengurangi level ambition dengan cara mengurangi jumlah request dan berupaya untuk meningkatkan jumlah offer. Saat ini offer list Indonesia ke Korea hanya 151 pos tarif dari 395 pos tarif yang diajukan Korea. Sementara offer list Korea ke Indonesia hanya 242 pos tariff dari 785 pos

tariff yang diajukan Indonesia.

Pada WG on Services, negosiasi dilakukan melalui pendekatan Isu market access dipisahkan dari draft text dan akan dituangkan dalam Schedule of

Commitment. Sebelum putaran ke 5 IKCEPA, Indonesia diharapkan sudah

menyampaikan request yang lebih spesifik. IKCEPA puataran ke-4 selain itu juga membahas isu lain pada WG on Cooperation Capacity Building,

dan WG on Investment.

Chief Negotiators’ Meeting and Intersessional Working Groups on Services and investment

Chief Negotiators’ Meeting and Intersessional Working Group on Services and Investment telah dilaksanakan pada tanggal 1-5 Oktober 2013 di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, kedua delegasi telah berhasil menyusun paket kesepakatan konsesi di bidang barang sebagai dasar utama penyelesaian Perundingan IKCEPA. Pihak Korea memberikan Offer List 74 Tariff Lines (TLs) dari i55 TLs yang di-request Indonesia. Sementara pihak Indonesia memberikan 144 TLs yang di-request Korea dengan syarat Korea akan melakukan investasi di sektor otomotif, professional electronics, dan petrochemicals.

40

Bidang investasi, isu Text dan return in kind diusulkan untuk tidak dibahas. Isu ini akan diupayakan untuk dikeluarkan dari Draft Text. Sementara di bidang jasa, Indonesia menekankan interest pada market access of trade in services khusunya Mode 4 yaitu midwives, nurses, physiotherapist and para-medical personnel, social services and spa services.

Korea, pada bidang jasa juga menyampaikan focused request pada Mode 3 (commercial presence) di bidang business services, communication services, construction and related engineering services, distribution services, enviromental services, financial services, and tourism and related services.

12.

Indonesia – Myanmar

Kunjungan Mendang

Mendampingi Presiden R.I Myanmar

Tema besar yang melandasi Kunjungan Kenegaraan Mendag ke Myanmar pada 23-24 April ini antara lain adalah upaya peningkatan kerja sama ekonomi khsusunya di bidang perdagangan dan investasi. Di bidang perdagangan, kedua negara sepakat untuk mendorong peningkatan kerjasama perdagangan dengan penetapan target nilai perdagangan sebesar US$ 1 milyar pada tahun 2016. Sementara di bidang investasi, kedua Kepala Negara menyambut baik peningkatan investasi Indonesia di Myanmar yang hingga tahun 2012 telah mencapai US$ 241 juta. Kedua Kepala Negara juga mendukung keinginan BUMN dan kalangan usaha swasta Indonesia untuk berinvestasi di Myanmar di bidang telekomunikasi, pertambangan, perbankan dan infrastruktur.

13.

Indonesia – Nigeria

Business Mission dan Bilateral Meeting pada

kunjungan Presiden RI

Pertemuan Bilateral Meeting Indonesia-Nigeria di Abuja pada 30 Januari hingga 4 Februari 2013 membahas upaya peningkatan perdagangan dan investasi antar kedua negara telah sepakat untuk pembentukan PTA dan task force untuk membuat road map pengembangan perdagangan dan investasi antar kedua negara.

14.

Indonesia – Pakistan

Kunjungan Kerja Staf Ahli Menteri Bidang Diplomasi Perdagangan Internasional ke Pakistan

Pada tanggal 20-23 Maret 2013 Kementerian Perdagangan melakukan kunjungan kerja ke Pakistan guna membahas beberapa isu bilateral seperti: implementasi Indonesia-Pakistan PTA, akses jeruk kinnow Pakistan ke pasar Indonesia, dan usulan pihak Pakistan untuk menandatangani Mutual Regonition Agreement (MRA).

Pihak Pakistan meminta agar tidak diperlakukan diskriminatif dalam hal pelabuhan masuk terkait akses Kinnow Pakistan ke Indonesia. Mengenai hal tersebut, Menteri Perdagangan telah melakukan pertemuan dengan Menteri Pertanian dan menyepakati pembentukan MRA Indonesia-Pakistan untuk memberikan akses pasar kinnow ke Indonesia tanpa pembatasan pintu masuk.

Sementera terkait IP-PTA, hingga bulan Maret 2013 eksportir Indonesia yang telah memanfaatkan IP-PTA sebanyak 7 eksportir dengan nilai ekspor, US$ 1 juta lebih. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Perdagangan lalu meminta agar Pakistan dapat segera melaksanakan implementasi IP-PTA sehingga eksportir dan importir kedua negara dapat menikmati fasilitas IP-PTA.

41

Pakistan juga menyampaikan bahwa sudah tidak ada lagi masalah dengan 12 Tariff Lines HS 2012. Pakistan masih belum dapat mengeluarkan notifikasi untuk implementasi PTA sebelum adanya penandatangan MRA atau mekanisme lain yang dapat mencabut permentan No. 60/2012 terkait impor buah, khususnya akses Kinnow ke Pasar Indonesia melalui pelabuhan Priuk. Pihak Pakistan mengusulkan diadakan technical meeting dalam waktu dekat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

15.

Indonesia – Papua Nugini

Persidangan Joint Border

Committee (JBC) ke-30

antara Pemerintah Republik Indonesia (Rl) dengan Pemerintah Independen Papua Nugini (PNG)

Persidangan diselenggarakan pada tanggal 25-27 September 2013 di Hotel Salak Bogor dengan dibagi menjadi 4 Sub Committee yaitu; 1) Border Liasion Meeting (BLM); 2) Joint Sub Committee on Security Matters

Dokumen terkait