• Tidak ada hasil yang ditemukan

R 2 jumlah kuadrat regresi

4.5 Proporsi Varians

Selanjutnya peneliti ingin mengetahui sumbangan proporsi varians dari masing-masing independent variable terhadap stres kerja. Maka dari itu, peneliti melakukan analisis regresi berganda dengan cara menambahkan satu independent variable setiap melakukan regresi. Kemudian, peneliti dapat melihat penambahan dari R2 (R Square Change) setiap melakukan analisis regresi dan dapat melihat signifikansi dari penambahan R2 tersebut. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8

Proporsi Varians Independent Variable terhadap Stres Kerja

Model Summary Change Statistics Model R R Square Adjust R Square Std. Error of the Estimates R Square F Change df1 df2 Sig. F Change 1 .368a .135 .131 8.46402 .135 33.603 1 215 .000 2 .368b .136 .128 8.48158 .000 .110 1 214 .740 3 .432c .186 .175 8.24780 .051 13.304 1 213 .000 4 .433d .188 .172 8.26067 .001 .337 1 212 .562 5 .451e .204 .185 8.19825 .016 4.241 1 211 .041 6 .459f .211 .188 8.18043 .007 1.920 1 210 .167 7 .461g .212 .186 8.19245 .001 .385 1 209 .536 8 .464h .216 .186 8.19463 .003 .889 1 208 .374 9 .464i .216 .182 8.21439 .000 .000 1 207 .984 a. Predictors: (Constant), Komitmen, Kontrol, Tantangan, Jenis Kelamin, Masa Kerja, Usia, Status

Kepegawaian

Berdasarkan data yang terdapat dalam tabel 4.8, dapat diketahui bahwa:

1. Komitmen memberikan sumbangan sebesar 13.5% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut signifikan secara statistik dengan F = 33.603, df = 1, dan sig. F change = 0.000.

2. Kontrol memberikan sumbangan sebesar 0% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan F = 0.110, df = 1, dan sig. F change = 0.740.

3. Tantangan memberikan sumbangan sebesar 5.1% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut signifikan secara statistik dengan dengan F = 13.304, df = 1, dan sig. F change = 0.000.

4. Beban kerja fisik memberikan sumbangan sebesar 0.1% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan dengan F = 0.337, df = 1, dan sig. F change = 0.562.

5. Beban kerja mental memberikan sumbangan sebesar 1.6% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan dengan F = 4.241, df = 1, dan sig. F change = 0.041.

6. Jenis kelamin memberikan sumbangan sebesar 0.7% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan dengan F = 1.920, df = 1, dan sig. F change = 0.167.

7. Masa kerja memberikan sumbangan sebesar 0.1% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan dengan F = 0.385, df = 1, dan sig. F change = 0.536.

8. Usia memberikan sumbangan sebesar 0.3% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan dengan F = 0.889, df = 1, dan sig. F change = 0.347.

9. Status kepegawaian memberikan sumbangan sebesar 0% terhadap varians stres kerja. Sumbangan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan dengan F = 0.000, df = 1, dan sig. F change = 0.984.

55

Berdasarkan hasil analisis data penelitian maka disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari variabel hardiness (komitmen, kontrol, dan tantangan), beban kerja (beban kerja mental dan beban kerja fisik), dan faktor demografi (jenis kelamin, usia, masa kerja, dan status kepegawaian) terhadap stres kerja guru SMA Negeri di Tangerang Selatan.

Hasil uji koefisien regresi masing-masing independent variable menunjukkan dari sembilan variabel yang diuji yaitu komitmen, kontrol, tantangan, beban kerja fisik, beban kerja mental, jenis kelamin, masa kerja, dan usia ada dua variabel independen yang dinyatakan signifikan memengaruhi stres kerja guru SMA Negeri di Tangerang Selatan. Dua variabel yang dinyatakan signifikan memengaruhi adalah komitmen dan tantangan.

5.2 Diskusi

Penelitian ini bertujuan untuk lebih memahami individu terkait stres yang dirasakan terkait dengan pekerjaan yang disebut stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab 4, peneliti kan membahas diskusi mengenai kesembilan independen variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu hardiness (komitmen, kontrol, dan tantangan), beban kerja (beban kerja fisik dan beban kerja mental), dan faktor demografi (jenis kelamin, masa kerja, usia, dan status kepegawaian).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan variabel hardiness (komitmen dan tantangan) terhadap stres kerja pada Guru SMA

Negeri di Tangerang Selatan. Sedangkan dua variabel lain dari beban kerja yaitu beban kerja fisik dan beban kerja mental tidak tidak signifikan mempengaruhi stres kerja. Variabel independen lain, yaitu faktor demografi tidak menunjukkan satu dimensi pun yang secara signifikan mempengaruhi stres kerja pada Guru SMA Negeri di Tangerang Selatan.

Berdasarkan penelitian ini, dari variabel hardiness, terdapat satu dimensi yang tidak mempengaruhi stres kerja secara signifikan yaitu kontrol. Jadi guru yang dapat mengontrol kehidupannya belum tentu tidak stres dalam menghadapi pekerjaannya.

Dimensi dari hardiness yang memengaruhi stres kerja secara signifikan yaitu komitmen. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wallnas & Jendle (2017) juga menemukan bahwa sifat komitmen mengacu pada kecenderungan percaya bahwa dunia dan orang-orang sekitar adalah menarik dan bermakna, sehingga individu yang memiliki sifat ini menjaga hubungan baik dengan orang sekitar dan memiliki komitmen yang kuat dengan pekerjaanya. Arah negatif pada koefisien regresi menunjukkan bahwa semakin berkomitmen individu maka akan semakin rendah stres kerja yang dirasakan karena menganggap bahwa sekitar mereka adalah menarik dan bermakna.

Dalam penelitian ini komitmen memiliki koefisien regresi yang tinggi dengan perolehan 60.4%, hal ini berarti bahwa guru memiliki komitmen yang tinggi. Guru yang memiliki komitmen tinggi ditandai dengaan melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa merasakan stres kerja, ketika guru menganggap bahwa pekerjaan dan orang-orang disekitarnya adalah bermakna dan menarik

tentu akan menjalankan tugasnya dengan komitmen yang tinggi. Maka dari itu sebagai seorang guru perlu memiliki komitmen dalam bekerja sehingga ketika bekerja pun senang dan terhindar dari stres. Dengan signifikansi komitmen ini juga berarti untuk para pemimpin diharapkan dapat menjaga komitmen yang telah ada dan meningkatkan lagi komitmen pada guru yang terlihat rendah dengan cara memberikan motivasi.

Dimensi lain dari variabel hardiness yang memengaruhi stres kerja secara signifikan adalah tantangan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wallnas & Jendle (2017) juga menemukan bahwa sifat tantangan mengacu pada individu melihat tuntutan sebagai kemungkinan keberhasilan daripada sebagai ancaman, sehingga individu yang memiliki sifat ini menganggap tekanan yang ada dalam pekerjaan sebagai tantangan yang harus diselesaikannya dan individu merasa tertantang dengan adanya tuntutan tersebut. Arah negatif pada koefisien regresi menunjukkan bahwa semakin individu yang memiliki sifat tantangan maka akan semakin rendah stres kerja yang dirasakan karena menganggap bahwa stres dalam pekerjaannya adalah hal yang harus selesai.

Dalam penelitian ini tantangan memiliki hasil yang tinggi dengan perolehan 55.8%, hal ini berarti bahwa guru memiliki sifat tertantang terhadap tuntutan. Guru yang memiliki sikap tertantang ditandai dengan motivasi yang tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan dan tuntutan. Maka dari itu sebagai seorang guru perlu memiliki sifat tertantang dalam bekerja, sehingga ketika bekerja pun termotivasi untuk menyelesaikannya dan terhindar dari stres.

Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan variabel beban kerja (beban kerja fisik dan beban kerja mental) terhadap stres kerja. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Omondi dan Kariuki (2016) menyatakan bahwa ada hubungan positif antara beban kerja dan tingkat stres kerja.

Asumsi peneliti, variabel beban kerja tidak berpengaruh secara signifikan dengan stres kerja karena dua hal adalah karena alat ukur yang di konstruk peneliti tidak menggambarkan secara spesifik mengenai beban kerja yang bersifat umum. Kedua adalah karena perbedaan jumlah sampel (jumlah, kriteria, budaya) dan kurang representatifnya dalam pengambilan sampel.

Dalam penelitian ini beban kerja fisik memiliki hasil koefisien regresi yang tinggi dengan perolehan 79.7%, hal ini berarti beban kerja fisik yang dirasakan oleh guru adalah tinggi. Beban kerja fisik berupa tugas yang menumpuk, koreksian yang banyak, dan input nilai siswa/i. Sedangkan beban kerja mental memiliki koefisien regresi yang rendah, dimana hal ini berarti beban mental yang dirasakan oleh guru adalah rendah dengan perolehan 58.3%. Beban kerja mental berupa keamanan, kepuasan, emosi yang dirasakan saat mengajar, kegiatan yang membutuhkan pemikiran keras, ingatan, dan hal yang berkaitan dengan waktu. Dapat disimpulkan bahwa pekerjaan guru lebih banyak merasakan beban kerja fisik daripada beban kerja mental.

Selain beban kerja yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja, variabel lain yaitu faktor demografi (jenis kelamin, masa kerja, usia, dan status kepegawaian) juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres

kerja. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa jenis kelamin, masa kerja, usia, dan status kepegawaian memiliki pengaruh terhadap stres kerja (Antoniou, Polychroni, & Vlachakis, 2006 Robbins & Judge, 2008; Sadeghi & Sa’adatpourvahid, 2016; Dwijayanti, 2008). Asumsi peneliti, faktor demografi tidak berpengaruh secara signifikan dengan stres kerja adalah karena perbedaan jumlah sampel (jumlah, kriteria, budaya) dan kurang representatifnya dalam pengambilan sampel.

Secara keseluruhan pada hasil penelitian ini, penulis menemukan beberapa perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya beberapa keterbatasan dan kelemahan dalam penelitian ini, keterbatasan serta kelemahan dalam penelitian ini seperti, kondisi dan situasi saat pengisian skala yang tidak dapat dikontrol oleh penulis sehingga mungkin tidak kondusif, responden yang kurang serius dalam proses pengisian skala sehingga respon menjadi tidak berpola, serta kemungkinan tidak semua item dapat dipahami dengan baik oleh responden. Selain itu, jumlah subjek yang belum teramat mewakili untuk populasi guru SMA Negeri di Tangerang Selatan juga menjadi keterbatasan dan kelemahan dalam penelitian ini.

5.3 Saran

Pada proses penulisan penelitian ini, penulis menyadari masih terdapat banyak kelemahan dalam penelitian ini, maka penulis memberikan beberapa saran sebagai bahan pertimbangan untuk menyempurnakan hasil penelitian selanjutnya.

5.3.1 Saran metodologis

1. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti stres kerja di Indonesia dengan variabel lain, misalnya variabel yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan lingkungan sehari-hari (variasi dalam kurikulum, tugas, minat siswa, administrasi, kepribadian guru) karena sesuai penelitian terdahulu variabel yang berkaitan dengan hal-hal diatas memiliki pengaruh terhadap stres kerja guru.

2. Pada penelitian ini, populasi yang digunakan hanya SMA Negeri di Tangerang Selatan yang dalam hal ini lingkupnya masing kecil. Untuk penelitian mendatang, peneliti menyarankan untuk menggunakan populasi yang lebih besar dengan membandingkan stres kerja yang dirasakan oleh guru SMA Negeri dan guru SMA Swasta sehingga.

3. Dalam penelitian ini, representasi subjek dari masing-masing tingkatan sekolah di Indonesia belum dilakukan. Untuk penelitian mendatang, peneliti menyarankan untuk menggunakan subjek yang mewakili setiap tingkatan sekolah di Indonesia atau beberapa daerah di Indonesia dengan mencantumkan nama sekolahnya agar memiliki hasil yang representatif. Hal ini dikarenakan guru tiap sekolah berbeda – beda terhadap stres kerja.

5.3.2 Saran praktis

1. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa skor stres kerja rendah lebih banyak dirasakan oleh guru dibanding stres kerja tinggi. Hal ini mengandung arti bahwa subjek dalam penelitian ini guru memiliki mekanisme penanganan stres yang baik sehingga skornya menjadi rendah. Karena stres kerja memiliki dampak negatif dalam kehidupan, peneliti menyarankan kepada pihak guru

untuk terus bisa beradaptasi dengan lingkungan tidak terduga dan mempertahankan mekanisme dari stres kerja.

2. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari komitmen dan tantangan terhadap stres kerja guru. Orang yang berkomitmen digambarkan sebagai seseorang yang mampu menjalankan tugasnya (seperti mengadakan pertemuan rapat, mengajar, piket, dan pekerjaan lainnya), berinteraksi dengan orang-orang disekitar dan lingkungan sekitarnnya meskipun pekerjaan membuat dia stres. Serta tantangan adalah seseorang yang bisa menganggap kesulitan atau hambatan sebagai jalan yang harus dilewatinya dan menganggap hal itu sebagai tantangan. Variabel yang berpengaruh signifikan memiliki skor tinggi dalam ketegorisasi yakni komitmen dan tantangan. Hal ini berarti komitmen dan tantangan yang dimiliki oleh guru sudah bagus dan diaplikasikan dalam pekerjaannya. Seperti yang telah diketahui bahwa komitmen dan tangangan merupakan karakteristik dari hardiness yang dimana melindungi individu dari negatif stres, itu berarti dengan adanya komitmen dan menganggap perubahan sebagai tantangan guru akan memiliki stres kerja yang rendah.

3. Peneliti menyarankan bahwa jika merasakan stres kerja, segera cari hal yang dapat meminimalisir terjadinya stres kerja.

Dokumen terkait