• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Lampiran 1 Prosedur analisis Rendemen produk

Bobot yoghurt kering (g)

Rendemen produk (%) = --- x 100% Bobot yoghurt (g)

Kadar air (AOAC 2005)

Cawan logam dan tutupnya dikeringkan dalam oven pada suhu 100C selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam desikator sampai mencapai suhu ruang, kemudian ditimbang (A). Sampel kering giling sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam cawan yang telah dikeringkan, kemudian dilakukan penimbangan sampel dan cawan (B). Cawan yang berisi sampel dikeringkan sampai mencapai bobot konstan (semalam atau  16 jam dengan suhu 100C dan dengan tekanan vakum  25 mmHg (3.3 kPa). Setelah mencapai bobot konstan, cawan berisi sampel diletakkan dalam desikator sampai mencapai suhu ruang (sekitar 30 menit), kemudian dilakukan penimbangan kembali (C).

(B - C)

Perhitungan kadar air (%) = --- x 100% (B - A)

Kadar abu (AOAC 2005)

Cawan porselin dikeringkan dalam oven bersuhu 105 - 110C, kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Sebanyak 5 gram sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam cawan porselin. Selanjutnya sampel dipijarkan di atas nyala pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi, kemudian dilakukan pengabuan di dalam tanur listrik pada suhu 400-600C selama 4-6 jam atau sampai terbentuk abu berwarna putih. Kemudian sampel didinginkan dalam desikator, selanjutnya ditimbang.

Bobot abu (g)

Perhitungan kadar abu (%) = --- x 100% Bobot sampel (g)

Kadar protein kasar dengan metode Mikro Kjeldahl (AOAC 2005)

Sampel sebanyak 0.02 gram ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl 30 ml. Selanjutnya ditambahkan 2 ml H2SO4 pekat dan katalisator

K2SO4-CuSO4 (1 : 3) sebanyak 0.5–1 gram.

Sampel dididihkan selama 1–1.5 jam sampai cairan menjadi jernih. Setelah dingin, ditambahkan sejumlah kecil air secara perlahan-lahan (hati-hati tabung menjadi panas), kemudian didinginkan. Isi labu dipindahkan ke dalam alat destilasi, labu dicuci dan dibilas 5–6 kali dengan air destilata dan air cucian ini dipindahkan ke dalam alat destilasi dengan ditambahkan 8-10 ml larutan NaOH–Na2S2O3.

63 Erlenmeyer 125 ml yang berisi 5 ml larutan H3BO3 dan 2-4 tetes indikator

(campuran 2 bagian metil merah 0.2% dalam alkohol dengan 1 bagian metilen blue 0.2% dalam alkohol, yaitu (2 : 1) diletakkan di bawah kondensor, dimana ujung tabung kondensor harus terendam di bawah larutan H3BO3.

Destilasi dilakukan sampai tertampung kira-kira 50 ml destilat dalam erlenmeyer. Tabung kondensor dibilas dengan air dan bilasannya ditampung dalam erlenmeyer yang sama. Selanjutnya dititrasi dengan HCl 0.02 N sampai terjadi perubahan warna dari hijau menjadi ungu dan dilakukan juga titrasi blanko.

(ml HCl – ml blanko) x N x 14.007

Perhitungan kadar nitrogen (%) = --- x 100% mg sampel

Perhitungan kadar protein (%) = % N x 5.83 (faktor konversi untuk protein susu) Kadar lemak kasar (AOAC 2005)

Labu lemak dikeringkan dalam oven bersuhu 105C-110C selama 1 jam dan ditimbang. Kira-kira 5 g sampel kering dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi soxhlet yang berisi dietil eter.

Reflux dilakukan selama 5 jam dan selanjutnya pelarut yang ada di dalam labu lemak didestilasi. Tahap berikutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan pada oven suhu 105C hingga beratnya konstan dan ditimbang.

Bobot lemak (g)

Perhitungan kadar lemak (%) = --- x 100% Bobot sampel (g)

Kadar karbohidrat (AOAC 2005)

Kadar karbohidrat total ditentukan dengan metode carbohydrate by difference yaitu: 100% - (kadar air + abu + protein + lemak). Kadar karbohidrat N-free menunjukkan besarnya kandungan karbohidrat yang dapat dicerna dari suatu bahan pangan. Ditentukan dengan cara 100% - (kadar air + abu + protein + lemak + serat kasar).

Derajat asam (AOAC 2005)

Prinsip metode ini adalah bahwa asam dapat dinetralkan dengan basa, di mana banyaknya asam yang dapat ditentukan dengan titrasi menggunakan basa.

Sebanyak 5 gram sampel dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml dan dituangi 100 ml alkohol yang terlebih dahulu dinetralkan dengan fenolftalein. Dibiarkan tertutup selama 24 jam sambil kadang-kadang digoyangkan. Setelah disaring dengan kertas saring, diambil 50 ml dan dititar dengan NaOH 0.1 N memakai indikator fenolftalein. Derajat asam adalah banyaknya ml NaOH 0.1 N yang diperlukan untuk menitar 100 gram sampel.

ml NaOH x N NaOH x faktor pengenceran

Perhitungan derajat asam = --- x 100 Bobot sampel (g)

64

Total asam tertitrasi (AOAC 2005)

Sebanyak 5 ml sampel dimasukan ke dalam labu takar 100 ml lalu diencerkan dengan aquades sampai tanda tera. Kemudian, sebanyak 10 ml sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 3 tetes indikator phenolphtalein 1%. Sampel dititrasi dengan larutan NaOH 0.1 N yang telah distandardisasi sampai terbentuk warna merah muda. Perhitungan total asam tertitrasi (TAT) ditentukan dengan rumus:

V x N x 90 x FP

TAT (%) asam laktat = --- x 100% W x 1000

Keterangan : W = bobot cuplikan NaOH (ml) V = volume larutan NaOH (ml) N = normalitas larutan NaOH Viabilitas bakteri asam laktat (BSN 2009)

Sebanyak 1 ml sampel diencerkan dalam 9 ml larutan fisiologis (NaCl 0.85%) hingga pengenceran 10-9. Pemupukan dilakukan duplo dari tingkat pengenceran 10-7 dengan cara memipet 1 ml atau 0.1 ml sampel yang telah diencerkan ke dalam cawan petri steril, kemudian ditambahkan 15-20 ml MRSA cair steril. Cawan petri digoyangkan secara mendatar agar sampel menyebar rata. Segera setelah agar membeku dilakukan inkubasi dengan posisi terbalik pada suhu 37°C selama 2-3 hari. Jumlah koloni yang tumbuh dihitung dengan satuan cfu ml-1.

Konsumsi bahan kering

Konsumsi bahan kering dihitung setiap hari dengan cara menimbang ransum yang diberikan dikurangi sisa ransum (g ekor-1 hari-1) dikali dengan bahan kering ransum.

Konsumsi kalsium

Konsumsi kalsium dihitung setiap hari dengan cara menimbang ransum yang diberikan dikurangi sisa ransum (g ekor-1 hari-1) dikali dengan kadar kalsium ransum hasil analisis proksimat.

Absorpsi kalsium

Absorpsi kalsium dihitung dengan mengurangi jumlah kalsium yang dikonsumsi dengan jumlah kalsium yang dikeluarkan bersama dalam feses dibagi jumlah konsumsi kalsium dan dikali 100%.

Pertambahan bobot badan harian

Pertambahan bobot badan harian (PBBH) dihitung dengan cara penimbangan bobot badan awal dan akhir penelitian, kemudian dikali dengan waktu pemeliharaan (hari). Bobot badan tikus ditimbang menggunakan timbangan (Triple Beam Balance, OHAUS).

65 Prosedur preparasi sampel untuk analisa mineral, metode wet ashing

 Ditimbang ± 1 g sampel, dimasukkan ke dalam erlenmeyer ukuran 125 ml 100 ml-1.

 Ditambahkan 5 ml HNO3 (p) didiamkan selama 1 jam pada suhu ruang di ruang

asam.

 Dipanaskan diatas hot plate dengan temperatur rendah selama 4-6 jam (dalam ruang asam).

 Dibiarkan semalam (sampel ditutup).

 Ditambahkan 0.4 ml H2SO4 (p), lalu dipanaskan di atas hot plate sampai larutan

berkurang (lebih pekat), biasanya ± 1 jam.

 Ditambahkan 2-3 tetes larutan campuran HClO4: HNO3 (2:1). Sampel masih

tetap di atas hot plate, karena pemanasan terus dilanjutkan sampai ada perubahan warna dari coklat kuning tua kuning muda (biasanya ± 1 jam)

 Setelah ada perubahan warna, pemanasan masih dilanjutkan selama 10-15 menit.

 Sampel dipindahkan, didinginkan dan ditambahkan 2 ml aquades dan 0.6 ml HCl (p).

 Dipanaskan kembali agar sampel larut (±15 menit) kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml.

 Apabila ada endapan disaring dengan glass wool

 Hasil pengabuan basah bisa dianalisis menggunakan AAS atau spektrofotometer untuk analisa berbagai mineral.

 Sebelumnya dipreparasi dulu dengan faktor pengenceran yang dibutuhkan dan penambahan bahan kimia untuk menghilangkan ion-ion pengganggu (Cl3La.7H2O).

Preparasi Sampel dan Analisis Kadar Kalsium

Pakan dan Feses

Cawan Porselin dipanaskan dengan menggunakan tanur 7000C selama ± 6 jam. Cawan porselin didinginkan menggunakan eksikator kemudian direndam menggunakan HCl 25% selama ±6 jam. Sampel ditimbang sebanyak 0.5 g kemudian diabukan menggunakan tanur selama ± 3 jam. Sampel ditimbang kembali dan didinginkan lalu ditimbang bobotnya. Ditambahkan 2 ml HNO3

pekat 65%. Sisa sampel di dalam cawan dibilas menggunakan aquades. Dimasukkan kedalam labu tekar. Sampel diencerkan sampai dengan 100 ml atau sampai tanda tera. Sampel disaring menggunakan kertas whatman 42 lalu dimasukkan kedalam botol plastik. Sampel dibaca menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer untuk dibaca konsentrasi kalsiumnya.

Tulang

Tulang femur yang sudah dipreparasi dari tubuh tikus dibersihkan dari sisa daging yang masih melekat menggunakan pisau bedah. Tulang yang sudah bersih direndam dengan larutan hydraziniumhydroxid (etwa 100% N2H5OH) selama

enam hari, kemudian tulang direndam dalam larutan alkohol 30% selama 1 jam, lalu dibilas menggunakan aquades sebanyak dua kali dan dikeringkan pada

66

cabinet dryer dengan suhu 60◦C selama 12 jam. Tulang dipotong secara melintang untuk memastikan sudah tidak ada bahan organik yang terdapat di dalam rongga tulang, kemudian hasil preparasi tersebut dianalisis menggunakan metode Energy Dispersive X-ray Analysis.

Prosedur asai kit hormon progesteron

Bahan Blank Zero Standard 25-1000 g ml-1 Sampel

Blank - - - -

Standar 0 - 25 µl - -

Standar 25-1000pg ml-1 - - 25 µl -

Sampel - - - 25 µl

Enzim conjugat - 200 µl 200 µl 200 µl

 Menghomogenkan secara perlahan (digoyangkan) selama 10 detik

 Menginkubasi 120 menit pada temperatur ruang (18-25°C)

 Mencuci setiap wells (3-4 kali) masing-masing 400 µ l dengan wash solution

 Menghentak-hentakan secara perlahan pada kertas

Substrat 100 µl 100 µl 100 µl 100 µl

Menginkubasikan 15 menit pada temperatur ruang (18-25°C)

Stop Solution 0.5 M H2SO4

50 µl 50 µl 50 µl 50 µl

67 Lampiran 2 Format uji organoleptik untuk yoghurt kering

Nama :………

No :………...

Tanggal :………

Petunjuk : Berilah tanda cek (V) pada kotak yang disediakan sesuai dengan penilaian anda. Setelah menguji rasa yoghurt dari satu sampel segera minum air putih, sebelum menguji rasa sampel yang lainnya.

Sifat indrawi : Aroma

Penilaian Kode sampel

554 398 465 627 Amat sangat suka

Sangat suka Suka Agak suka Kurang suka Tidak suka

Sifat indrawi : Tekstur

Penilaian Kode sampel

554 398 465 627 Amat sangat suka

Sangat suka Suka Agak suka Kurang suka Tidak suka

Sifat indrawi : Rasa

Penilaian Kode sampel

554 398 465 627 Amat sangat suka

Sangat suka Suka Agak suka Kurang suka Tidak suka

Sifat indrawi : Warna

Penilaian Kode sampel

554 398 465 627 Amat sangat suka

Sangat suka Suka Agak suka Kurang suka Tidak suka

68

Lampiran 3 Studi yang terkait DFA III untuk meningkatkan penyerapan

Dokumen terkait