BAB II PROSEDUR CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA
C. Prosedur Cerai Gugat
Tata cara penyelesaian cerai gugat diatur sebagai berikut:
1. Gugatan Cerai diajukan kepada Pengadilan Agama
a. Cerai Gugat diajukan oleh seorang isteri yang melakukan perkawinan menurut Agama Islam (penjelasan Pasal 20 PP No.9/1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan). b. Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan Agama (Pasal 40 ayat (1)
jo pasal 63 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan).30
2. Surat Gugatan Cerai
a. Surat gugatan cerai memuat :
1) Nama, umur dan tempat kediaman penggugat yaitu isteri, dan tergugat yaitu suami.
2) Alasan-alasan yang menjadi dasar perceraian 3) Petitum perceraian
29
Ibid,Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan,hal.172.
30 Mukti Arto,
Peraktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), Cet,Ke-1, hal.219.
b. Gugatan cerai dapat diajukan berdasarkan alasan atau alasan-alasan yang diatur dalam penjelasan pasal 39 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974, pasal 19 PP Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, pasal 116 dan Kompilasi Hukum Islam.31
3. Kewenangan Relatif Pengadilan Agama
a. Gugatan perceraian diajukan oleh isteri atau kuasanya kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman penggugat, kecuali dalam hal:
1) Penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin Tergugat, maka gugatan cerai diajukan kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat. 2) Penggugat bertempat kediaman diluar negeri, maka gugatan perceraian
juga diajukan kepada Pengadilan Agama daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat.
3) Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman diluar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (pasal 73 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
31 Mukti Arto,
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama).32
b. Gugatan cerai diproses di Kepaniteraan gugatan dan dicatat dalam Register Induk Perkara gugatan.33
4. Pemanggilan Pihak-pihak
a) Setiap kali diadakan sidang Pengadilan yang memeriksa gugatan perceraian, baik penggugat maupun tergugat atau kuasa mereka akan dipanggil untuk menghadiri sidang tersebut (Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Perkawinan).
b) Pemanggilan disampaikan kepada pribadi yang bersangkutan, apabila yang bersangkutan tidak dapat dijumpainya, panggilan disampaikan melalui lurah atau yang dipersamakan dengan itu.34
5. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan oleh Majlis Hakim selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya berkas surat gugatan; b. Dalam menetapkan waktu mengadakan sidang pemeriksaan gugatan
perceraian perlu diperhatikan tenggang waktu pemaggilan dan diterimanya panggilan tersebut oleh penggugat maupun tergugat atau kuasa mereka.35
32
Ibid, Peraktek Perkara Perdata Pada Pengadilan agama, h,.220.
33 Mukti Arto,
Peraktek Perkara Perdata Pada Pengadilan agama,hal.220.
34 Abdul Manan dan Fauzan,
Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan Agama, (Jakarta :PT. RajaGrafindo Persada, 2005), Cet. Ke-5, hal.63.
6. Kumulasi Perkara
a. Gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri dan harta bersama suami isteri dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian ataupun sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap (pasal 86 (1) Undang-undang Peradilan Agama);
b. Tatacara pemerikasaan kumulasi perkara ini sama dengan dalam perkara cerai talak. Apabila Tergugat mengajukan rekonpensi maka diselesaikan menurut tata cara rekonpensi.36
7. Upaya Perdamaian
a) Upaya perdamaian dalam perkara gugatan cerai dilakukan sama seperti dalam perkara cerai talak.
b) Dalam sidang pertama pemeriksaan gugatan perceraian, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak.
8. Gugat Provisionil
a. Selama berlangsungnya gugatan perceraian, atas permohonan Penggugat atau Tergugat atau berdasarkan pertimbangan berbahaya yang mungkin ditumbuhkan, Pengadilan dapat mengijinkan suami isteri tersebut untuk tidak tinggal dalam satu rumah (pasal 77 Undang-undang Peradilan
35 Abdul Manan dan Fauzan,
Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan Agama, hal. 66.
36 Mukti Arto,
Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama,(Yogyakarta, Pustaka Pelajar 1996), h.221
Agama pasal 24 Peratutan Pemerintah No.9/1975 Tentang Pelaksanaan Perkawinan);
b. Permohonan tersebut dapat diajukan dalam persidangan dicatat dalam Berita Acara Persidangan. Ijin untuk tidak tinggal dalam satu rumah diberikan oleh Hakim dalam persidangan dan dicatat dalam Berita Acara Persidangan;
c. Selama berlangsungnya gugatan perceraian, atas permohonan Penggugat, Pengadilan dapat :
1. Menentukan nafkah yang ditanggung oleh suami
2. Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak.
3. Menentukan hal-hal yang perlu menjamin terpeliharanya barang-barang yang menjadi hak bersama suami isteri atau barang-barang-barang-barang yang menjadi hak isteri (pasal 78 Undang-undang Peradilan Agama, pasal 24 PP No.9/1975 Tentang Pelaksanaan Perkawinan).
d. Gugatan tersebut diatas merupakan gugatan provisionil dan karenanya diselesaikan menurut tatacara gugatan provisionil.37
9. Pembuktian
a. Pembuktian tentang alasan-alasan cerai gugat dilakukan sama seperti dalam perkara cerai talak, kecuali dalam hal :
37 Mukti Arto,
Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama,(Yogyakarta, Pustaka Pelajar 1996), h. 222.
1) Cerai dengan alasan zina 2) Pelanggaran ta’lik talak
3) Pelanggaran terhadap perjanjian perkawinan.
b. Apabila gugatan cerai diajukan dengan alasan suami melakukan zina, sedangkan:
1. Penggugat hanya memiliki bukt-bukti permulaan; 2. Penggugat tidak dapat melengkapi bukti-bukti tersebu; 3. Tergugat menyanggah alasan tersebut;
4. Upaya peneguhan alat bukti tidak mungkin lagi diperoleh baik dari Penggugat maupun Tergugat, dan;
5. Hakim berpendapat bahwa gugatan itu bukan tiada pembuktian sama sekali, maka Hakim karena jabatannya dapat menyuruh Penggugat untuk bersumpah. Apabila telah dilakukan hal yang demikian itu, maka gugatan dapat dikabulkan (pasal 87 dan 88 Undang-undang Peradilan Agama). Dalam hal gugatan cerai karena alasan zina tidak dimungkinkan penyelesaian dengan cara li’an seperti dalam perkara cerai talak (pasal 88 ayat (2) Undang-undang Peradilan Agama). c. Alasan cerai karena suami melanggar taklik talak
Salah satu alasan perceraian adalah : ”Suami melanggar taklik talak”. Sewaktu waktu saya:
2. Atau saya tidak memberikan nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya;
3. Atau saya menyakiti badan isteri saya itu;
4. Atau saya tidak memperdulikan isteri saya enam bulan lamanya. Kemudian isteri saya tidak ridha dan mengajukan halnya ke Pengadilan Agama, dan pengaduannya dibenarkan serta diterima Pengadilan, dan isteri saya tersebut memberikan uang tebusan sebesar Rp. 1000 (seribu rupiah) sebagai iwadh (Pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak satu kepadanya.38
Apabila gugatan cerai diajukan dengan alasan tersebut maka Hakim harus membuktikan :
1) Apakah suami sesudah akad nikah mengucapkan janjitaklik talak; 2) Apakah benar suami telah melanggar janjitaklik talaknya itu; 3) Apakah benar pihak isteri tidak rela atas pelanggaran itu;
4) Apakah ia (isteri) bersedia membayar iwadh (pengganti) kepada suami;
5) Apakah Hakim dapat menerima pengaduan isteri tersebut yaitu melihat bukti-bukti yang diajukannya.
38 Abdul Manan dan Fauzan,
Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan Agama, hal. 58.
d. Apabila gugatan cerai diajukan dengan alasan suami melanggar perjanjian perkawinan sebagaimana dimaksud dalam pasal 51 Kompilasi Hukum Islam, maka Hakim harus membuktikan:
1) Ada tidaknya perjanjian perkawinan tersebut;
2) Apakah perjanjian perkawinan itu sah dan prinsipil serta sangat berpengaruh terhadap keutuhan rumah tangga;
3) Apakah suami benar telah melanggar perjanjian perkawinan tersebut. e. Untuk menghindari terjadinya kebohongan dan permainan dalam
perceraian, maka meskipun alasan-alasan cerai tidak disangkal oleh pihak lawan baik karena verstek ataupun karena ada pengakuan dari Tergugat, Hakim wajib membuktikannya lebih lanjut dengan alat-alat bukti lainnya39.
10. Putusan
a. Pengadilan Agama setelah memeriksa gugatan cerai dan berkesimpulan bahwa:
1) Istri punya alasan yang cukup untuk bercerai; 2) Alasan-alasan cerai tersebut telah tebukti;
3) Kedua belah pihak tidak mungkin lagi didamaikan, maka Pengadilan Agama memutuskan bahwa gugatan cerai dikabulkan dengan suatu
39 Mukti Arto,
Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar 1996), h. 222
”putusan”. Putusan tersebut diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum (pasal 81 (1) Undang-undang Peradilan Agama).
Dalam satu gugatan perceraian apabila ternyata :
1) Penyebab perceraian itu timbul dari suami atau tidak dapat diketahui dengan pasti maka perkawinan diputuskan dengan talak ba’in;
Tetapi apabila penyebab perceraian itu timbul dari isteri maka perkawinan diputuskan dengan khulu’ sehingga isteri diwajibkan membayar tebusan yang besarnya dipertimbangkan oleh Hakim secara adil dan bijaksana.
Dalam mempertimbangkan alasan perceraian, Hakim wajib membuktikan apakah perkawinan benar-benar telah pecah dan tidak dapat disatukan kembali dimana suami isteri sudah tidak mungkin lagi dapat menegakkan hukum-hukum Allah tentang hak dan kewajiban suami isteri dalam rumah tangga.
b. Terhadap putusan tersebut para pihak dapat mengajukan banding.40
11. Biaya Perkara
Biaya perkara tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama pasal 89 ayat (1) dan (2) yang berbunyi : 1) Biaya perkawinan dalam bidang perkawinan dibebankan pada penggugat
atau pemohon.
40 Mukti arto,
Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h.222.
2) Biaya penetapan atau perkara Pengadilan yang bukan merupakan penetapan dan putusan akhir akan diperhitungkan dalam penetapan atau putusan akhir.41
12. Saat Terjadinya Perceraian
a. Perceraian dianggap terjadi beserta akibat hukumnya terhitung sejak putusan Pengadilan yang mengabulkan gugatan cerai itu memperoleh kekuatan hukum tetap (pasal 81 (2)).
b. Keterangan tentang kekuatan hukum tetap dan terjadinya perceraian tersebut dicatat pada bagian bawah putusan cerai dan pada Register Induk Perkara yang bersangkutan.42
13. Pemberitahuan Hukum Tetap.
a. Panitera berkewajiban memberitahukan kepada Penggugat dan Tergugat bahwa putusan cerai telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan dengan demikian telah terjadi perceraian antara suami dan isteri yang bersangkutan (pasal 84 (4) Undang-undang Peradilan Agama);
b. Panitera berkewajiban untuk selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan yang memperoleh kekuatan hukum tetap itu diberitahukan kepada
41 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.
42 Mukti arto,
para pihak, memberikan akta cerai sebagai bukti cerai kepada para pihak (pasal 84 (4) Undang-undang Peradilan Agama).43
14. Pengiriman Salinan Putusan
a. Panitera atau pejabat Pengadilan Agama yang ditunjuk berkewajiban untuk selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari mengirimkan satu helai satu salinan putusan yang memperoleh kekuatan hukum tetap tersebut tanpa bermaterai kepada :
1. Pegawai Pencatat Nikah (PPN) yang tempat wilayahnya meliputi kediaman suami dan isteri tersebut, untuk mendaftarkan putusan cerai itu dalam sebuah daftar untuk itu .
2. PPN ditempat perkawinan dilangsungkan apabila perceraian dilakukan di wilayah yang berada dengan wilayah Pegawai Pencatat Nikah (PPN) tempat perkawinan dilangsungkan, untuk dicatat pada bagian pinggir daftar catatan perkawinan, atau
b. Kelalaian pengiriman salinan putusan tersebut, menjadi tanggung jawab Panitera yang bersangkutan atau pejabat yang ditunjuk, apabila yang demikian itu mengakibatkan kerugian bagi bekas suami atau isteri atau keduanya (pasal 85 Undang-undang Peradilan Agama).44