HASIL PRAKTIK KERJA LAPANG
A. Pengukuran Bidang Tanah
4. Prosedur Kerja
a. Persiapan Administrasi Pengukuran.
1) Memegang surat tugas
2) Memeriksa peta-peta dan warkah pengukuran yang tersedia
3) Memeriksa daftar koordinat untuk pengikatan
4) Menyiapkan peralatan ukur
6) Menerbitkan surat pemberitahuan ajkan dilaksanakannya
penetapan batas bidang.
b. Pelaksanaan di lapangan
1) Dirikan alat Total Station di atas patok yang telah ditentukan
2) Centering alat tersebut dengan cara memasukan gelembung pada
lingkaran di nivo kotak.
3) Pengecekan centering alat dengan memperhatikan nivo dan patok
tepat pada benang lensa centering.
4) Setelah alat centering lalu hidupkan alat tersebut guna melakukan
nol-set ke arah utara atau patok yang telah ditentukan sebelumnya.
5) Setelah itu mengambil data atau jarak di tiap-tiap batas suatu
bidang yang diukur dengan menggunakan prisma sebagai reflector
yang diletakan di atas patok yang telah ditentukan.
6) Mencatat data tersebut pada form ukur dan kemudian
menghitungnya menggunakan kalkulator.
7) Membuat sket kasar pada bidang yang diukur tersebut.
5. Hasil
Mendapatkan Data hasil pengukuran suatu bidang tanah yang didapat dari
lapangan yang akan digambar pada peta dasar.
6. Pembahasan
Dengan melakukan pengukuran, didapatlah sudut, jarak dan koordinat suatu
wilayah atau daerah yang diukur. Setelah data itu dihitung menggunakan
kalkulator, lalu hasil perhitungan dimasukan kedalam aplikasi AutoCad untuk
Secara teoritis, tata cara pengukuran yang dilakukan di Badan Pertanahan
Nasional tidak benar atau kurang tepat, terutama di bagian mendirikan prisma di
batas atau patok. Pihak Badan Pertanahan Nasional tidak menggunakan Statif
yang dilengkapi dengan Tribach dalam setiap mendirikan prisma dalam membuat
sebuah polygon pengukuran, melainkan hanya menggunakan kepala prisma
yang dipegang menggunakan tangan dan diletakan di batas tanah yang telah
diberikan paku payung, hal ini membuat tinggi prisma menjadi 0 yang bisa
berimbas dalam kesalahan elevasi suatu kawasan atau daerah yang diukur.
Elevasi atau altitude itu sendiri adalah posisi vertical (ketinggian) suatu obyek
dari suatu titik tertentu. Pihak Badan Pertanahan Nasional tidak menggunakan
Tribach dikarenakan untuk menghemat waktu sebab dalam tiap pengukuran
yang dibutuhkan hanya data sudut dan jarak lapang.
B. Digitasi dan Standarisasi 1. Tujuan
Tujuan mendigitasi ialah peta-peta yang telah terdigit tidak cepat rusak,
berbeda dengan peta analog yang memiliki kemungkinan rusak lebih banyak dari
pada peta yang telah dibuat dan disimpan dalam bentuk digital.
Tujuan dilakukannya standarisasi ialah standar struktur data yang diharapkan
dalam proses import data ke dalam sistem informasi geografis dapat berjalan
dengan baik. Selain itu dengan adanya standar inilah diharapkan peta-peta
tersebut dapat dipahami oleh semua pihak, baik di lingkungan BPN maupun
2. Dasar Teori
a. Digitasi
Digitasi merupakan usaha untuk menggambarkan kondisi bumi kedalam
sebuah bidang datar dalam komputer, atau bisa dikatakan sebagai perubahan
data peta Hardcopy menjadi softcopy. Sumber data peta untuk digitasi dibagi
menjadi beberapa bagian, antara lain sebagai berikut :
1) Data Image Raster
a) Peta Analog (Hard data) Adalah sumber data peta yang
digunakan untuk digitasi secara manual menggunakan alat
tambanhan yaitu meja digitasi. Contoh data ini adalah : atlas,
atau peta (bentuk kertas)
b) Image Remote Sensing (Soft data) Adalah data yang didapat
dari pencitraan jarak jauh seperti citra satelit scan foto udara.
c) Image Scanning (Soft data) Adalah data scan/cetak berbentuk
file raster dari atlas atau peta analog lainnya.
2) Data Tabular
a) Manual Tabel Adalah data tabular yang memliki instrumen
koordinat yang dapat digunakan sebagai acauan pembentukan
Image vector (object/feature)
b) GPS, Data yang berasal dari pengambilan data dari GPS. Setiap
GPS memiliki karakteristik dalam pengambilan data dan
penampilan data kedalam komputer.
c) Data Hasil Pengukuran Di lapangan .Contoh data hasil
kepemilikan lahan, batas persil, batas hak penguasaan hutan,
dan sebagainya.
d) Decimal Degree merupakan satuan umum dalam peta..
e) Degree Minute Second merupakan satuan koordinat yang untuk
menempatkan daerah menggunakan perbedaan waktu, bahkan
digunakan untuk menentukan perbedaan waktu dari suatu
daerah dengan daerah lain.
f) Universal Transvers Mencator (UTM) merupakan satuan
koordinat berdasarkan satuan jarak dan berhubungan dengan
proyeksi yang digunakan, yaitu konversi UTM.
b. Standarisasi
Standardisasi yang secara umum lebih banyak diucapkan standarisasi
berasal dari kata Standardize yang artinya menetapkan standar atau
menetapkan bentuk yang dijadikan ukuran. Dalam pengertian yang lain menurut
GIS Standards And Standardization, United Nation, standard dapat diartikan
sesuatu untuk menguji atau mengukur berat, panjang, kualitas atau untuk
menentukan derajat keunggulan.
Seiring dengan pesatnya perkembangan suatu wilayah, permohonan
pengukuran bidang-bidang tanah semakin bertambah banyak yang berakibat
proses kegiatan pemetaan ke dalam Peta Dasar Pendaftaran. Program-program
baru yang dikembangkan oleh Badan Pertanahan Nasional salah satunya adalah
Land Office Computerizm atau biasa disingkat LOC yang tujuannya agar
pelayanan dapat berjalan cepat dan mudah. Salah satu program baru ini
dibutuhkan standar yang jelas dalam pembuatan peta digital di lingkungan
Bidang Survei Pengukuran dan Pemetaan akan melaksanakan standar yang
benar dalam pembuatan peta digital.
Standar struktur yang digunakan adalah
1) Standar sistem proyeksi dan penomoran lembar
2) Standar satuan gambar
3) Standar penamaan file dan direktori
4) Standar penamaan Layer dan entitas.
5) Standar struktur data spasial
6) Standar jenis topografi
7) Standar penulisan teks
8) Standar format pencetakan
9) Standar legenda.
3. Alat
a. 1 Unit komputer, digunakan untuk mendigitasi sebuah peta.
b. Sofware AutoCad 2004, digunakan untuk menggambar hasil data dari
lapangan.
c. Peta hasil scan, sebuah peta yang didigitasi di dalam komputer
4. Prosedur Kerja
a. Digitasi memiliki prosedur sebagai berikut :
1) Membuka program AutoCad dari start menu All
programAutodeskAutodesk Map 2004, sehingga di layar akan muncul
Gambar 1 tampilan awal aplikasi AutoCad
2) Penyisipan image dengan memilih Pilih Insert Raster Image Select Image File Pilih image yang akan digunakan Open
Gambar 2 select image file
3) Pembuatan Layer yang akan didigitasi dengan cara Klik icon Layer
berikut :
Gambar 3 Layer pada AutoCad
b) Klik New sehingga AutoCad akan membentuk sebuah Layer baru dengan nama Layer1
c) Layer yang digunakan ialah Layer bangunan, Layer bidang, dan
Layer jalan.
d) Ganti warna Layer dengan warna lain untuk memudahkan
pembedaan antar Layer
e) Klik current untuk mengaktifkan salah satu Layer OK
4) Digitasi Peta dengan memilih Tools DrawPolyline atau dengan mengklik Kemudian memulai digitasi peta yang disesuaikan Layer
yang sudah dibuat pada langkah sebelumnya
b. Standarisasi memiliki prosedur me-klik satu per satu Layer yang telah
ditentukan dan mengubah warna jenis, dan namanya sesuai dengan
5. Hasil
Hasil dari perkerjaan digitasi dan standarisasi berupa sebuah peta
Gambar 4, peta yang telah didigitasi
6. Pembahasan
Hasil digitasi peta yang berasal dari peta hasil scanning dapat dimanfaatkan
sesuai keperluan. Seperti digunakan untuk membuat peta dasar pendaftaran
tanah, peta pendaftaran tanah, ataupun peta-peta lain yang dibuat dalam format
digital.
Meski kelihatannya mudah digunakan, tetapi peta hasil digitasi juga memiliki
kelemahan. Hasil digitasi peta yang discan tidak terhindarkan dari kesalahan
akibat skala. Tidak hanya kesalahan akibat skala , kesalahan-kesalahan teknis
sewaktu men-scan peta juga dapat mempengaruhi hasil digitasi peta tersebut.
Misalnya saja posisi peta yang akan discan miring dan itu tidak disadari oleh
petugas, kesulitan baru muncul ketika peta tersebut akan didigit. Keadaan peta
Jika keadaan peta yang akan didigit masih utuh, tentunya tidak ada masalah
tetapi akan lain apabila keadaan peta yang akan didigit tidak benar-benar utuh
atau ada sobekan di sana-sini. Hal ini cukup menyulitkan sewaktu peta didigit
karena kemudian ini akan mempengaruhi standarisasi maupun perhitungan luas.
Untuk mengatasinya, diadakan perhitungan atas bidang-bidang tanah yang
gambarnya didigit kemudian dicocokkan dengan data lapangan. Apabila terjadi
perbedaan, maka data lapangan yang dipakai.
Sedangkan untuk standarisasi Layer, dipakailah cara standarisasi Layer
dengan me-klik satu per satu Layer yang diinginkan dan mengubah warna sesuai
dengan Layernya masing-masing.
C. Penggambaran pada Peta Dasar Pendaftaran 1. Tujuan
Penggambaran pada peta dasar dengan tujuan menjelaskan atau
menentukan batas wilayah suatu daerah yang telah diukur di lapangan.
2. Dasar Teori
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1996 Tentang Pengukuran dan Pemetaan
Untuk Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah, Menteri Negara Agraria/Kepala
Badan Pertanahan Nasional, Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 8, Peta dasar
Pendaftaran adalah peta yang memuat titik dasar teknik dan semua atau
sebagian unsur-unsur geografi seperti sungai, jalan bangunan, batas fisik bidang
tanah, garis ketinggian dan batas administrasi pemerintahan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah,
Bagian Kedua, Pembuatan Peta Dasar Pendaftaran.
a. Pasal 13
1) Peta dasar pendaftaran dibuat dengan skala 1:1.000 atau lebih
besar untuk daerah pemukiman, 1:2.500 atau lebih besar untuk
daerah pertanian dan 1:10.000 untuk daerah perkebunan besar
2) Peta dasar pendaftaran dapat berupa peta garis atau peta foto.
3) Pembuatan peta dasar pendaftaran dilaksanakan dengan
mengikatkan ke titik dasar teknik nasional.
4) Peta dasar pendaftaran yang masih berada dalam sistem koordinat
lokal harus ditransformasikan ke dalam sistem koordinat nasional.
b. Pasal 14
Detail yang diukur dalam pembuatan peta dasar pendaftaran meliputi semua
atau sebagian unsur geografi seperti sungai, jalan, bangunan, batas fisik
bidang tanah dan ketinggian.
c. Pasal 15
1) Peta dasar pendaftaran tanah yang berupa peta garis dibuat diatas
drafting film, sedangkan peta dasar pendaftaran yang berupa peta
foto dibuat di atas kertas bromide
2) Peta dasar pendaftaran atau berupa peta garis dibuat dengan
ketentuan :
a) Ukuran muka peta 50cm x 50 cm dan ukuran bidang gambar
70cm x 70cm untuk skala 1:1.000
b) Ukuran muka peta 60cm x 60cm dan ukuran bidang gambar
c) Ukuran muka peta 60cm x 60cm dan ukuran bidang gambar
60cm x 60cm untuk peta skala 1:10.000
3) Peta dasar pendaftaran yang berupa peta foto dibuat dengan
ketentuan :
a) Ukuran muka peta pada bidang gambar 50cm x 50cm untuk
peta skala 1:1.000
b) Ukuran muka peta dan bidang gambar 60cm x 60cm untuk peta
skala 1:10.000.
4) Simbol - simbol kartografi yang digunakan untuk pembuatan peta
dasar pendaftaran.
5) Pada bagian kanan lembar peta, disediakan ruang untuk penulisan
judul, skala peta, arah utara, petunjuk letak lembar peta, lagenda
kartografi, keterangan pembuatan peta, nama desa/kelurahan dan
kecamatan, serta nama pihak ketiga yang melaksanakan jika ada.
6) Pada bagian kiri sebelah atas bidang gambar ditulis nama provinsi.
7) Pada bagian kiri sebelah atas bidang gambar ditulis nama
kotamadya/kabupaten.
8) Pada bagian kanan sebelah atas lagenda ditulis nomor peta dasar
pendaftaran.
d. Pasal 17
1) Peta dasar pendaftaran dapat dibuat dengan menggunkan peta lain
yang memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Peta tersebut mempunyai skala 1:1.000 atau lebih besar untuk
pertanian dan 1:10.000 atau lebih kecil untuk daerah
perkebunan.
b) Peta tersebut sebagaimana yang dimaksud pada huruf a
mempunyai ketelitian planimetris lebih besar atau sama dengan
0.3 mm pada skala peta.
c) Untuk mengetahui ketelitian planimetris sebagai mana yang
dimaksud pada ayat 1 huruf b, dilakukan dengan pengecekkan
jarak pada titik-titik yang mudah diidentifikasi di lapangan pada
peta.
2) Apabila peta sebagaimana dimaksud pada ayat 1 tidak berada
dalam sistem koordinat nasional, maka dilakukan transformasi ke
dalam koordinat nasional.
e. Pasal 18
1) Pembuatan peta dasar pendaftaran dapat juga dilakukan
bersamaan dengan pengukuran atau bidang-bidang tanah termasuk
didalamnya.
2) Dalam hal pembuatan peta dasar pendaftaran bersamaan dengan
pengukuran bidang atau bidang-bidang tanah, maka pengukuran
bidang tersebut didahului dengan pengukuran titik dasar teknik orde
4 nasional yang diikatkan ketitik-titik dasar teknik nasional orde 3
atau orde 2 terdekat di sekitar wilayah tersebut.
3) Apabila disekitar lokasi tanah yang bersangkutan terdapat titik dasat
teknik nasional orde 3 atau orde 2, maka pembuatan peta dasar
pendaftaran harus dimulai dengan pembuatan titik dasar teknik
secara sistematik harus mencakup minimal wilayah ynag ditunjuk
sebagian wilayah pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik
tersebut.
4) Apabila di kemudian hari di wilayah tersebut tersedia titik dasar
teknik orde 4, peta pendaftaran pada wilayah tersebut
ditransformasikan menjadi peta pendaftaran dalam sistem koordinat
nasional.
5) Dalam pengukuran yang dilakukan untuk pembuatan peta dasar
pendaftaran dimaksud pada ayat 1, selain batas-batas bidang
tanahnya juga dimasukan situasi/detail yang ada di sekitarnya dan
jika diperlukan bangunan yang ada di atasnya.
3. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Penggaris, digunakan untuk menggaris sebuah bidang di peta
dasar
2) Jarum, digunakan sebagai pengganti pulpen atau pensil dalam
menggambar.
3) Kertas Karbon dan Kertas Kalkir
4) Pulpen 3 warna (Merah, Hijau, Biru) digunakan sebagai ciri
informasi sebuah bidang peta dalam sebuah peta dasar
b. Bahan
1) Peta (Gambar) hasil print dari sofware AutoCad
2) Peta Dasar
4. Prosedur Kerja
b. Setelah gambar tersebut selesai, lalu di print pada kertas kalkir
c. Menyiapkan peta dasar pendaftaran, kertas karbon, jarum, penggaris,
dan pulpen 3 warna (Merah, Hijau, Biru)
d. Meletakkan peta dasar sebagai alas, lalu kertas karbon di atas peta
dasar, lalu kertas kalkir hasil print gambar dari AutoCad diatas kertas
karbon.
e. Menjiplak gambar diatas kertas kalkir dengan menggunakan jarum
sebagai media pengganti alat tulis (pensil), dan kertas karbon sebagai
pengganti pensil untuk memberikan bentuk gambar yang diprint dari
AutoCad.
5. Hasil
Hasil pekerjaan penggambaran pada peta dasar berupa sebuah bentuk
bidang yang tergambar pada peta dasar pendaftaran.
Gambar 6, gambar hasil jiplakan dari kertas kalkir ke peta dasar 6. Pembahasan
Penggambaran pada peta dasar ini merupakan proses penjiplakan yang
digambar pada kertas kalkir ke peta dasar pendaftaran dengan tujuan untuk
menentukan bidang yang ada didalam peta tersebut dengan melakukan
pengukuran terlebih dahulu di lokasi tersebut untuk menentukan batas bidang
tersebut pada peta dasar.
D. Pengisian NIB (Nomor Induk Bidang) 1. Tujuan.
Dalam sistem pendaftaran tanah terdapat 2 jenis informasi, yaitu informasi
mengenal bidang tanah yang diuraikan dalam peta pendaftaran tanah dan
informasi mengenai hal-hal yang melekat pada bidang tanah tersebut seperti
dan sebagainya. Untuk mengidentifikasi satu bidang tanah dan membedakan
dengan bidang tanah lainnya, diperlukan tanda pengenal bidang yang bersifat
unik , sehingga dengan mudah mencari dan membedakan bidang tanah yang
dimaksud dengan bidang tanah lainnya.