B. Supervisi Klinis
4. Prosedur Pelaksanaan Supervisi Klinis
Yusuf A. Hasan dkk dalam buku mereka “pedoman pengawasan” merumuskan prosedur pelaksanaan supervisi klinis yaitu sebagai berikut:
a) Pertemuan pra pengamatan
Pertemuan pra pengamatan ialah pertemuan yang dilakukan oleh supervisor dengan orang yang disupervisi sebagai kegiatan pendahuluan. Dalam pertemuan pra pengamatan ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Supervisor bersama dengan orang yang disupervisi, misalkan guru, mulai membicarakan rencana mengajar pada hari itu. Apa yang akan disajikan, bagaimana cara ia menyajikan bahan, sejauh mana siswa dilibatkan dalam kegiatan belajar-mengajar, bagaimana guru mengetahui proses dan hasil belajar siswa dan seterusnya.
2) Ada kesepakatan antara supervisor dengan yang disupervisi untuk memusatkan perhatian/pengamatan pada salah satu komponen pengajaran misalnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar
3) Diadakan kesepakatan mengenai bagaimana sebaiknya supervisor merekam atau mencatat hasil pengamatannya. Dewasa ini tidak ada halangan bagi supervisor untuk membuat rekaman secara elektronik dengan menggunakan kamera video atau audio yang menggunakan kaset rekaman (tape recorder). Jika dipergunakan alat perekan elektronik sebaiknya diberikan kepada guru dan juga kepada siswa. Apalagi jika untuk rekaman kamera video digunakan juga lampu sorot. Hal ini dimaksudkan agar perhatian siswa tidak terpecahkan. Jika keadaan memungkinkan, hasil rekaman dengan video dapat dipertontonkan di depan kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi
rasa curiga dan sebaliknya akan menumbuhkan rasa bangga. Komponen pengamatan ini dibicarakan agar guru yang disupervisi mengetahui dan merasa tidak dijebak oleh supervisor. Hal yang sama hendaknya juga dilakukan pengawas terhadap seluruh guru.
4) Karena tujuan supervisi klinis ialah membantu seseorang yang disupervisi, maka supervisi klinis tersebut bersifat terbuka. Artinya orang yang akan disupervisi berhak melaksanakan tugas mengajar dikelasnya.
b) Pelaksanaan pengamatan
Dalam kegiatan fokus klinis yang ditujukan kepada guru, ada tiga kemungkinan pemusatan perhatian, yaitu guru, siswa atau interaksi guru dan siswa. Kegiatan guru yang mendapat fokus pengamatan, antara lain ialah bagaimana memulai tugasnya. Adakah kegaitan apersepsi, memancing pengetahuan siswa yang akan dipergunakan untuk memahami bahan ajaran baru? Bagaimana guru memberikan respon terhadap siswa? Adakah ia mendukung terjadinya proses belajar siswa, atau bahkan menimbulkan kecil hati siswa, membubuh inisiatif atau kreatifitas siswa, dan seterusnya.
Dalam proses belajar mengajar akan tampak apakah guru yang mendominasi kelas atau siswa yang lebih aktif? Seberapa banyak teknik bertanya yang mendorong siswa berfikir, mencari jalan untuk menyelesaikan masalah.
Para pakar pendidikan cenderung berpendapat bahwa pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak” tidak mendorong untuk belajar.
Jika pusat perhatian pengamatan ditunjukan terhadap siswa, maka supervisor dapat mencatat berapa banyak siswa yang memberikan respon terhadap pertanyaan atau pernyataan guru. Misalnya siswa bereaksi dengan bertanya mengenai hal yang sedang diajarkan guru. Respon siswa ini dapat berupa pertanyaan mengenai suatu hal yang belum dipahaminya atau pertanyaan yang mengembangkan hal yang sedang diterangkan. Tanpa diduga
seorang siswa menanyakan apakah contoh yang akan disampaikan itu cocok dengan penjelasan guru. Siswa tersebut ingin mengkaji kebenaran persepsinya mengenai bahan pelajaran yang baru diterimanya. Dalam peristiwa ini akan dijumpai seorang siswa yang kreatif. Menurut kepustakaan yang ada, kreatifitas siswa tersebut ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan karena rasa ingin tahunya yang besar, atau siswa itu ingin menyampaikan gagasannya sendiri mengenai bahan ajar baru.
Siswa semacam ini harus belajar dan sebaiknya mendapat perhatian khusus dari guru, agar guru dapat memberikan porsi belajar yang memadai. Porsi belajar tersebut antara lain berupa dorongan belajar, memberikan arah yang positif terhadap kondisi siswa semacam itu, atau siswa tersebut diberikan tugas tambahan untuk diselesaikan, dan hasilnya dilaporkan kepada guru atau kepada seluruh kelas.
Memberikan pengakuan terhadap potensi siswa yang menonjol akan merupakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya bagi siswa yang bersangkutan dan dampaknya akan membias kepada siswa-siswa lain dikelasnya.
Guru perlu memberikan perhatian kepada siswa yang banyak inisiatif, dan mendorong siswa yang lemah untuk juga melakukan sesuatu yang positif sesuai dengan kemampuannya, supaya tidak berkecil hati, iapun mendapat kesempatan yang sama untuk belajar seperti haknya yang ia lihat dan terjadi terhadap temannya yang lebih pandai.
Hal ini dapat diamati dari siswa ialah berapa banyak waktu yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas belajar, seperti membaca, berdiskusi, mencatat, membuat soal dan sebagainya. Mungkin sekali dapat diamati adanya seorang siswa di kelas yang lebih banyak tidak mengikuti pelajaran, tetapi melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, misalnya bercakap-cakap (ngobrol, bercanda) dan sebagainya. Selama pelajaran berlangsung dalam kaitan ini apakah guru memperhatikan atau asyik dengan siswa yang tekun dan rajin belajar dan tidak peduli terhadap yang lain.
Selanjutnya pengamatan yang juga sangat penting dilakukan adalah pengamatan terhadap interaksi yang terjadi antara guru dan siswa, dan siswa dengan siswa yang lainnya selama pelajaran berlangsung. Interaksi tersebut ada yang tidak direncanakan dan ada yang direncanakan. Yang dimaksud dengan interkasi yang tidak direncanakan ialah bentuk-bentuk reaksi siswa terhadap penjelasan guru atau terhadap respon seorang siswa yang lain sebagai tanggapan dari pernyataan guru. Lain halnya kalau siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendiskusikan suatu topik. Kerja kelompok semacam ini memberikan kesempatan yang besar kepada siswa untuk berinteraksi, namun ada kalanya dapat diamati bahwa satu-dua siswa tetap saja pasif dalam kelompok kerja tersebut. Dalam hal ini perlu diamati bagaimana sikap guru terhadap siswa yang demikian.
c) Pertemuan pasca pengamatan
Selesai pengamatan di ruang kelas, supervisor akan bertemu dengan guru yang sudah diamati. Pertemuan ini sangat berguna bagi kedua belah pihak, baik guru maupun supervisor itu sendiri.
Pada bagian awal disebutkan bahwa yang dicapai pada pertemuan pendahuluan (pra pengamatan) akan dijadikan titik tolak pembahasan antara supervisor dengan guru yang diamati tersebut. Pembicaraan akan berkisar pada hasil pengamatan yang terpusat pada komponen-komponen yang sudah disetujui sebelumnya.
Ada beberapa komponen yang setidak-tidaknya dapat dibahas dalam pertemuan pasca pengamatan. Komponen-komponen tersebut berkaitan dengan perencanaan dan persiapan mengajar, pendekatan yang diterapkan dalam pelaksanaan pengajaran, mempertimbangkan berbagai faktor situasional kelas pada waktu diamati, dan pengakuan terhadap kemampuan pribadi yang sempat diamati.
Perencanaan dan persiapan mengajar ditinjau bersama. Guru diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai hasil kerjanya dalam merencanakan dan mempersiapkan diri untuk mengajar. Apakah guru memahami betul bahan yang akan dikaji? Jika hal tersebut sulit dan perlu ada kesimpulan sebuah konsep, apakah akan disajikan dengan pendekatan dedukatif atau indukatif? Bagaimana kaitan antara bahan ajar yang terdahulu dengan bahan ajar yang baru. Perlukah ada kegiatan demonstrasi ataukah percobaan harus dilakukan untuk menjelaskan sebuah konsep? Alat pendidikan apa saja yang ada dan dibuat sendiri, dapatkah siswa diminta untuk membawa bahan atau benda sebenarnya sebagai alat peraga? Sudahkah dibuat pokok uji untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar? Apakah tujuan pembelajaran khusus (TPK) yang disusun sudah sesuai dengan kegiatan akan dilaksanakan di kelas? Pokok uji yang sudah dipersiapkan guru apakah cocok untuk mengukur penyerapan bahan ajar baru? pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam pertemuan awal atau pertemuan pra observasi.
Komponen lain yang dibahas bersama ialah berkaitan dengan pendekatan pengajaran yang diterapkan. Misalnya apakah tujuan pengajaran itu sudah dijabarkan secara operasional oleh guru sehingga siswa benar-benar mengalami proses belajar mengajar dalam satu hari pertemuan tersebut. Apakah gaya mengajar yang ditampilkan oleh guru dan dicatat oleh supervisor sudah memadai? Demikian pula apakah prosedur mengajr sudah sesuai dengan pendekatan, metode dan teknik yang dipilih oleh guru untuk menyajikan bahan ajaran baru? Dalam pembahasan ini guru yang akan disupervisi diminta dan diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya mengenai keberhasilan mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan proses
Mempertimbangkan kondisi sekolah dan kelas pada waktu pelajaran berlangsung akan memberikan gambaran yang lebih ralistik untuk memahami mengapa pada waktu guru mengajar gagal menyelesaikan rencana pengajarannya? Sudahkah diperhitungkan bahwa pada waktu itu ada bahan ajar yang cukup berat tapi menurut jadwal harus disajikan pada saat jam terakhir,
dan kebetulan pada hari itu suhunya tinggi? Mungkin sekali ruangan kelas yang dipergunakan ventilasi udaranya kurang baik sehingga selalu terasa panas kalau guru mengajar di kelas.
Pelaksanaan pengajaran pada waktu itu agak terganggu karena keluarga guru tersebut ada yang sakit dan sejak malam sebelumnya terpaksa dirawat di rumah sakit. Sebaliknya mungkin juga suasana dalam kelas tersebut serba menyenangkan, ada yang sedang berulang tahun, dalam pertandingan antar kelas ada yang juara, nilai rata-rata tertinggi dicapai oleh kelas tersebut dan sebagainya. Faktor-faktor situasional semacam itu perlu dipertimbangkan dalam hasil pengamatan kelas.
Adapun yang dibicarakan dalam pertemuan pasca pengamatan secara jujur harus dibahas pula unsur-unsur kekuatan yang dimiliki guru. Nampaknya tidak adil jika hanya kelemahan guru yang dicatat oleh supervisor sewaktu pengamatan berlangsung. Guru diberi kesempatan untuk memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri terlebih dahulu. Pada kesempatan ini supervisor berkewajiban membantu guru mengatasi kesulitan yang diungkapkan guru sendiri atau yang dikemukakan oleh supervisor. Unsur sportif merupakan unsur yang sangat menentukan bagi supervisor agar dapat membantu mengatasi kesulitan pribadi guru.
Berdasarkan uraian singkat di atas peranan supervisor setelah melaksanakan pengamatan kepada guru yang disupervisi sebaiknya adanya keterbukaan antara supervisor dengan guru yang diamati apabila adanya kekurangan dan kelebihan di diri guru tersebut agar dapat memberikan perbaikan kepada guru pada pengajaran selanjutnya dalam melaksanakan tugasnya dalam mengajar. Maka peranan supervisor dapat diperjelas sebagai berikut: supervisor selaku pengamat dari kegiatan fokus klinis adalah keterampilan membentuk kerangka yang komponen-komponennya ialah membahas rencana pengajaran, bersepakat mengenai fokus perhatian, menentukan sarana perekaman dan sebagainya sebagai suatu kegiatan awal atau pertemuan pra pengamatan.
Sedangkan keterampilan memfokuskan perhatian kepada guru, siswa dan interaksi merupakan kegiatan dalam pelaksanaan pengamatan yang komponen-komponennya antara lain adalah pengidentifikasian kegiatan, pentabulasian tanggapan, pencatatan waktu pelaksanaan tugas, pencatatan saling pengertian, peranan pengamatan pada komunikasi antara siswa dan pemantauan strategi.
Adapun dalam pertemuan pasca pengamatan diperlukan keterampilan mengkonsolidasikan analisis awal yang komponen-komponennya adalah penilaian terhadap perencanan dan persiapan mempertimbangkan pendekatan, metode dan teknik belajar mengajar, mempertimbangkan faktor-faktor situasional dan pengakuan terhadap potensi pribadi.
Dengan demikian jelas bahwa prosedur pelaksanaan supervisi klinis ada tahap-tahapnya, yaitu pertemuan sebelum pengamatan kemudian pada saat pelaksanaan pengamatan dan pertemuan pasca pengamatan. Mengapa harus tiga tahap pertemuan? Dikarenakan dalam mensupervisi bukan saja untuk melihat atau mengetahui kekurangan dari kelemahan para guru dalam mengajar saja, akan tetapi juga memperbaiki kemampuan mengajar guru dan mengembangkan potensi (kualitas/mutu)yang dimiliki guru.